Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sapi perah merupakan golongan hewan ternak ruminansia yang
menghasilkan susu melebihi kebutuhan konsumsi susu anak-anaknya.
Produksi susu tersebut dapat dipertahankan sampai waktu tertentu atau selama
masa hidupnya walaupun anak-anaknya sudah disapih atau sudah tidak disusui
lagi. Dengan demikian susu yang dihasilkan dapat dimanfaatkan oleh manusia.
Ternak perah mempunyai kemampuan khusus untuk menghasilkan air susu
dari bahan baku berupa hijauan yang mempunyai kandungan energi atau
protein tinggi. Kemampuan ini dapat ditunjukkan pada saat laktasi yaitu
setelah ternak tersebut beranak. Susu yang dihasilkan oleh ternak perah
merupakan salah satu bahan makanan alami yang sempurna.
Susu merupakan sumber makanan utama bagi semua hewan mamalia
yang terlahir dan bagian penting dalam makanan manusia. Komposisinya yang
mudah tercerna dengan kandungan protein, mineral dan vitamin yang tinggi,
menjadikan susu sebagai sumber bahan makanan yang fleksibel. Oleh karena
itu susu merupakan kebutuhan yang sangat di perlukan dan berperan penting
dalam pertumbuhan makhluk hidup, sehingga menjadikan peternak harus
mengetahui bagaimana menentukan produksi susu yang memiliki kualitas
yang baik agar dapat di manfaatkan oleh makhluk hidup terutama manusia
sebagai pemenuhan zat gizinya . maka dari itu di perlukan adanya cara
penilaian yang baik yang memenuhi standar agar dapat menentukan ternak
perah yang baik produksi susunya. Selain itu juga agar para peternak dapat
mengetahui ternak perah yang dapat di jadikan sebagai bibit atau ternak
bakalan yang mempunyai produksi susu yang berkualitas tinggi.
Adapun cara penilaian ternak perah tersebut dapat dilakukan dengan
cara seleksi, judging, memberikan score, plucing, recording dan lain-lain.
Adapun seleksi ternak merupakan suatu usaha untuk menilai ternak dengan
menyeleksi ternak. Agar dapat menyeleksi ternak perah yang memiliki
kualitas produksi susu yang tinggi ataupun bertujuan untuk menyeleksi ternak

1
perah yang di jadikan sebagai bibit atau ternak bakalan dapat dilakukan
dengan menggunakan beberapa macam cara seperti seleksi individu, keluarga
dan dalam keluarga. Judging merupakan suatu suatu usaha penilaian ternak
untuk menilai tingkatan ternak yang memiliki karakteristik penting untuk
tujuan tertentu. Scoring merupakan suatu usaha menilai ternak dengan
menghasilkan urutan atau rangking tertinggi berdasarkan nilai rekor
performanya, juga baik dalam memenuhi persyaratan secara fisik. Plucing
merupakan suatu kegiatan pengurutan ternak perah terutama sapi dari urutan
ternak yang memiliki kualitas produksi susu sapi hingga urutan sapi yang
memiliki kualitas produksi susu yang rendah. Sehingga dengan adanya
kegiatan penilaian sapi perah ini dapat memudahkan para peternak untuk
menilai ternaknya berdasarkan kualitasnya agar dari penilaian ternak perah ini
dapat meningkatkan kualitas atau mutu yang di hasilkan oleh sapi ataupun
ternak perah yang lainnya. Sedangkan recording adalah suatu kegiatan yang
meliputi identifikasi, pencatatan silsilah, pencatatan produksi dan reproduksi,
pencatatan manajemen pemeliharaan dan kesehatan ternak dalam populasi
terpilih.
Untuk mendapatkan ternak perah yang berkualitas merupakan salah
satu aspek utama penentu keberhasilan dalam usaha petenakan ternak perah
oleh karena itu perlu adanya penilaian ternak perah baik itu melui seleksi,
judging, scoring, plucing, maupun recording ternak agar dapat memisahkan
ternak perah yang berkualitas atau tidak sehingga memudahkan peternak
dalam hal mendapatkan ternak perah yang di inginkan yang mampu
memberikan manfaat yang besar bagi para peternak.

1.2 Tujuan dan Kegunaan Penulisan


1. Sebagai salah satu syarat nilai mata kuliah Ilmu Produksi Ternak Perah
2. Menambah wawasan penulis mengenai kiat-kiat dalam pemilihan ternak
perah yang baik dan benar

2
BAB II
PEMBAHASAN DAN PUSTAKA

2.1 Seleksi
Seleksi dari segi genetik diartikan sebagai suatu tindakan untuk
membiarkan ternak-ternak tertentu berproduksi, sedangkan ternak lainnya
tidak diberi kesempatan berproduksi. Ternak-ternak pada generasi tertentu
bisa menjadi tetua pada generasi selanjutnya jika terdapat dua kekuatan.
Kedua kekuatan itu adalah seleksi alam dan seleksi buatan (Noor, 2004).

Dasar pemilihan dan penyingkiran yang digunakan dalam seleksi adalah


mutu genetik seekor ternak. Mutu genetik ternak tidak tampak dari luar, yang
tampak dan dapat diukur dari luar adalah performanya. Performa ini sangat
ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor genetik dan lingkungan. Oleh karena
itu, harus dilakukan suatu pendugaan atau penaksiran terlebih dahulu terhadap
mutu genetiknya atas dasar performansnya. Metode seleksi dibagi menjadi
tiga metode yang sederhana, yaitu:

1. Seleksi individu (individual selection) adalah seleksi per ternak sesuai


dengan nilai fenotipe yang dimilikinya. Metode ini adalah yang paling
sederhana daripada umumnya dan menghasilkan respon seleksi yang
cepat.
2. Seleksi keluarga (family selection) adalah seleksi keluarga per keluarga
sebagai kesatuan unit sesuai dengan fenotip yang dimiliki oleh keluarga
yang bersangkutan. Individu tidak berperan dalam metode seleksi ini.
3. Seleksi dalam keluarga (within-family selection) adalah seleksi tiap
individu di dalam keluarga berdasarkan nilai rata-rata fenotip dari
keluarga asal individu bersangkutan (Hardjosubroto, 1994).
Ternak yang mempunyai performa di atas dari performa yang telah
ditentukan terlebih dahulu akan dipilih pada saat melakukan seleksi,
sedangkan yang lebih rendah dari performa tadi akan disingkirkan. Ternak
yang terpilih akan memiliki nilai rerata performa yang lebih tinggi dari
performa keseluruhan sebelum seleksi. Perbedaan antara rerata performa dari

3
ternak yang terseleksi dengan rerata performa populasi sebelum seleksi
disebut sebagai diferensial seleksi (selection differential). Proporsi dari
diferensial seleksi yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya adalah
hanya yang bersifat genetik saja yaitu sebesar angka pewarisannya
(heritability). Jadi, besarnya differensial seleksi yang diwariskan adalah
sebesar h2S dan ini disebut sebagai tanggapan (respon) seleksi yang akan
muncul pada generasi berikutnya (Widodo dan Hakim, 1981).

Gambar 2.1.1 Penampilan Sapi Perah Yang Bagus

2.2 Judging

Memilih ternak berdasarkan visual berarti kita memilih ternak


berdasarkan sifat-sifat yang tampak. Memilih bibit hampir sama dengan
seleksi untuk tujuan produksi. Seleksi berdasarkan visual ini biasa disebut
dengan judging. Judging pada ternak dalam arti yang luas adalah usaha yang
dilakukan untuk menilai tingkatan ternak yang memiliki karakteristik penting
untuk tujuan-tujuan tertentu. Judging dalam arti sempit adalah referensi untuk
pemberian penghargaan tertentu dalam suatu kontes.

Judging maupun seleksi sapi perah dalam pengamatan berguna untuk


menghubungkan antara tipenya sebagai sapi perah yang baik dengan fungsi
produksi susunya. Pemberian deskripsi dalam penampilan sapi perah yang
ideal biasanya menggunakan semacam kartu skor yang disebut The Dairy
Cow Unified Score Card. Kartu skor tersebut dibagi menjadi 4 bagian utama
yaitu: penampilan umum (30 nilai), sifat sapi perah (20 nilai), kapasitas badan
(20 nilai), sistem mammae (30 nilai) (Blakely dan Blade, 1995).

4
Gambar 2.2.1 Dairy Cow Unfied Scored Card

2.3 Body Condition Score

Body Condition Score (BCS) merupakan suatu teknik penilaian yang


membantu peternak dalam menilai kualitas dan performa ternak sapi perah.
Penilaian kondisi tubuh dilakukan dengan cara pengamatan dan perabaan
terhadap deposit lemak pada bagian tubuh ternak, yaitu pada bagian punggung
dan seperempat bagian belakang, seperti pada bagian processus spinosus,
processus spinosus ke processus transversus, processus transversus, legok
lapar, tuber coxae (hooks), antara tuber coxae dan tuber ischiadicus (pins),
antara tuber coxae kanan dan kiri, dan pangkal ekor ke tuber ischiadicus
dengan skor 1-5 (skor 1=sangat kurus,skor 3= sedang, dan skor 5= sangat
gemuk) skala 0,25 (Widianatias , 2015).

Gambar 2.3.1 Score Untuk Setiap Bentuk Tubuh

5
Gambar 2.3.2 Kondisi Sapi Perah Dara

2.4 Placing

Adalah suatu metode yang dilakukan dengan cara pengurutan ternak


dari ternak yang memiliki kualitas produksi susu sapi yang tinggi hingga
ternak yang memiliki kualitas produksi susu sapi yang rendah . Replacement
adalah pergantian sapi-sapi perah yang sudah tua atau tidak lagi produktif
dalam hal menghasilkan susu. Setelah melalui teknik mengurutkan sapi dari
yang memiliki kualitas susu yang tinggi kerendah kemudian hal yang
dilakukan adalah mengganti sapi tersebut dengan sapi yang memiliki kualitas
produksi susu yang baik. hal ini dikarenakan agar para peternak mendapatkan
keuntungan yang besar dari sapi yang menghasilkan produksi susu yang tinggi
hingga dapat dipasarkan secara banyak (Anonim, 2017).

Adapun tujuan secara umum replacement yaitu :

1. Mengganti ternak yang mati

2. Meremajakan sapi

3. Mengganti ternak yang produksinya menurun

2.5 Recording

Recording adalah suatu kegiatan yang meliputi identifikasi, pencatatan


silsilah, pencatatan produksi dan reproduksi, pencatatan manajemen
pemeliharaan dan kesehatan ternak dalam populasi terpilih. Hasil dari kegiatan
recording berupa kartu ternak. Di beberapa wilayah di Indonesia, kegiatan
recording sudah berjalan dengan baik. Kurangnya sosialisasi menyebabkan

6
tidak meratanya pengetahuan peternak akan pentingnya pencatatan ternak
(Anonim, 2016).

Manfaat rekording antara lain :

1. Memudahkan pengenalan terhadap ternak, dengan mengetahui identitas


dan ciri-ciri khusus ternak, serta mengetahui populasi ternak.
2. Memudahkan peternak mengingat kejadian-kejadian penting pada
ternaknya
3. Memudahkan peternak mengambil keputusan / tindakan dalam
penanganan, perawatan dan pengobatan pada ternak yang sakit
berdasarkan catatan riwayat kesehatannya.
4. Memudahkan peternak melakukan seleksi ternak dan mencegah
terjadinya inbreeding.

Tabel 2.5.1 Data Produksi Susu Sapi Perah

Grafik 2.5.1 Persentency Produksi Susu Dari Satu Masa Laktasi

7
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari resume ini adalah dengan dikerjakannya tugas


resume ini pengetahuan penulis menjadi bertambah, terutama dalam hal
bagaimana pemilihan sapi perah yang baik dan benar. Pemilihan sapi perah yang
baik dapat dilakukan dengan cara seleksi, judging, scoring, placing, dan recording.

3.2 Saran

Adapun saran pada resume kali ini, alangkah baiknya bila materi dari
resume ini dapat dimasukkan ke acara praktikum mata kuliah Ilmu Produksi
Ternak Perah. Agar kami para mahasiswa lebih mantap dalam memahami materi
yang dimaksudkan.

8
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2017. https://www.ngenolz.com/2017/12/tugas-ilmu-produksi-ternak-


perah-fakultas- peternakan.html

Anonim, 2016. https://pertanian.pontianakkota.go.id/artikel/36-manfaat-


recording-pencatatan-ternak.html

Blakely, J dan Bade, DH. 1995. Ilmu Peternakan Edisi ke 5. Gadjah Mada
University Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh Bambang
Srigandono).
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT.
Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.
Widianatias, 2015. http://widianatias.blogspot.co.id/2015/06/makalah-judging-
sapi-perah.html
Widodo, 1981. Pemuliaan Ternak. Unibraw. Malang.
Noor R.R, 2004. Seminar Nasional Pengembangan Peternakan Berwawasan
lingkungan. IPB. Bogor.

9
LAMPIRAN

Physical Parameter Penilaian Judging

Ear Tagging Penilaian BCS

Sapi FH Indukan Dan Pedet Sapi FH

10

Anda mungkin juga menyukai