Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

‘ANATOMI DAN FISIOLOGI’

PENGATURAN METABOLISME,

NUTRISI, DAN SUHU TUBUH

OLEH :

NI PUTU NISA OKTAVIANI (18071005)

I D. A. A. DIAH PURNAMA DEWI (18071013)

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK

INSTITUT ILMU KESEHATAN MEDIKA PERSADA BALI

DENPASAR

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengaturan Metabolisme,
Nutrisi, dan Suhu Tubuh” tepat pada waktunya.

Makalah ini disusun dengan mengerahkan segala pemikiran dan upaya yang ada, serta
bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk
itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak I K. Putra Juliantara, S.Pd.,M.Si. selaku
dosen pengampu mata kuliah Anatomi dan Fisiologi yang telah banyak memberikan materi
pendukung, masukan, serta bimbingan kepada kami dalam penyusunan makalah ini. Penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan kelompok Anatomi dan Fisiologi 4 pada Prodi
Teknologi Labolatorium Medik atas kerja samanya yang baik dalam menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, yang dikarenakan
oleh keterbatasan penulis dalam pengetahuan, pengalaman, kemampuan menulis, serta
keterbatasan dalam mencari sumber untuk makalah. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang
sifatnya membangun guna memperbaiki sangat penulis harapkan. Semoga tulisan ini dapat
menambah wawasan, pengetahuan, serta bermanfaat bagi para pembaca.

Denpasar, Desember 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

Kata Pengantar ………….…………………………………………...……………………...… ii

Daftar Isi……………..…………………………………………………………………..….… iii

BAB I PENDAHULUAN …...……….………………….………………………………....… 1

1.1 Latar Belakang ……………………………………..……...……………...…….… 1


1.2 Rumusan Masalah …………………………………..............……...……............... 2
1.3 Tujuan Penulisan ....................................................………....…………………...... 2

BAB II PEMBAHASAN ......….......................…...………………………………………….. 3

2.1 Pengertian Metabolisme …………………………............……….….……………. 3


2.2 Lintas/Jalur Metabolisme ..........................................................………………...… 3
2.3 Proses Metabolisme …......................................................…….………………….. 4
2.4 Nutrisi .................................................................................................…….…...…. 7
2.5 Regulasi Suhu ….....................................................……………………..……...… 9
2.6 Suhu Internal secara Homeostasis .......................................................................... 10
2.7 Variasi Normal Suhu Inti ........................................................................................ 10

BAB III PENUTUP …………………………………………………..................……….…. 14

3.1 Kesimpulan…………………………………………….…………….................... 14
3.2 Saran……………………………………….………………………..................… 14

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Anatomi adalah ilmu yang mempelajari tentang susunan tubuh dan hubungan bagian-
bagiannya satu sama lain. Sedangkan fisiologi berkaitan dengan fungsi atau kerja tubuh
manusia dalam keadaan normal. Saat struktur tubuh manusia dan fungsinya berkoordinasi,
tubuh mendapatkan keseimbangan dari lingkungan di dalam tubuh yang disebut homeostasis
(keseimbangan). Pada kondisi yang normal, homeostatsis didukung oleh mekanisme adaptif
dari otak ke bahan kimia yang disebut dengan hormon yang disekresikan oleh berbagai organ
yang langsung masuk ke dalam aliran darah. Homeostatis mengatur mekanisme seperti
tekanan darah, suhu tubuh, pernafasan, dan nadi (Mason, 1983).
Tiap tubuh manusia membutuhkan oksigen, nutrisi, suhu tubuh yang normal, dan
tekanan atmosfer yang normal, sehingga tubuh manusia harus memiliki homeostasis yang
mampu dipertahankan agar dapat mempertahankan keseimbangan tubuh dalam jangka yang
normal. Sehingga untuk mendukung keseimbangan tersebut, terdapat berbagai macam sistem
organ, antara lain : sistem integument, sistem skeletal, sistem muskulo, sistem saraf, sistem
endokrin, sistem kardiovaskular, sistem respirasi, sistem lymphatic, sistem urinary, sistem
reproduksi, dan sistem pencernaan. Masing-masing dari sistem orgam memiliki organ
masing-masing yang bekerja sama dalam menstabilkan keadaan tubuh secara bersamaan.
Fungsi dari tiap sistem organ yaitu metabolisme, organization, kemampuan dalam bereaksi,
pergerakan tubuh, perkembangan, dan reproduksi (Brown, 2008).
Salah satu yang dibutuhkan oleh tubuh adalah nutrisi. Nutrisi yang diperoleh dari luar
akan masuk ke dalam tubuh dan disebarkan ke dalam tubuh agar nutrisi yang diperoleh
mampu mempertahankan homeostasis tersebut. Sistem organ yang mampu mencernaa nutrisi
tersebut adalah sistem pencernaan (digestive system), dimana dengan bantuan sistem
sirkulasi, bekerja seperti “gigantic meals on wheels” yang memberikan makanan pada
miliaran sel di dalam tubuh. Sistem ini menyediakan air , elektrolit, dan nutrisi yang lain
(Mason, 1983).

1
2

Untuk itu kita harus memahami tentang struktur, fungsi dan mekanisme pengaturan
metabolisme, pengaturan nutrisi dan pengaturan suhu tubuh. Semoga setelah kita membahas
tentang pengaturan system metabolisme, pengaturan nutrisi, dan pengaturan suhu tubuh ini.
Kita bisa memahami dan mengerti apa dari tujuan adanya system pengaturan metabolisme,
nutrisi dan suhu tubuh.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, didapatkan rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apakah yang dimaksud dengan metabolisme?
2. Apa sajakah jalur dan proses yang terdapat pada metabolisme?
3. Bagaimanakah cara menyalurkan nutrisi ke seluruh sel tubuh?
4. Bagaimanakah tanda dan gejala kecukupan nutrisi tubuh?
5. Bagaimanakah regulasi dan suhu internal pada tubuh manusia?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan
makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan metabolisme
2. Untuk mengetahui apa saja jalur dan proses yang terdapat pada metabolisme
3. Agar dapat mengetahui bagaimana cara menyalurkan nutrisi ke seluruh sel tubuh
4. Agar dapat mengetahui bagaimana tanda dan gejala kecukupan nutrisi tubuh
5. Agar dapat mengetahui bagaimana regulasi dan suhu internal pada tubuh manusia
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Metabolisme


Metabolisme merupakan reaksi dalam sel yang dikatalisis oleh enzim-enzim. Lebih
jauh, metabolisme bukanlah suatu proses acak malainkan sangat terintegrasi dan
terkoordinasi. Mempunyai tujuan dan mencakup berbagai kerjasama banyak sistem multi
enzim.
Metabolisme memiliki empat fungsi spesifik (Lehninger, 2000). Fungsi-fungsi
tersebut meliputi :
1. Untuk memperoleh energi kimia dari degradasi sari makanan yang kaya energi dari
lingkungan atau dari energi solar.
2. Untuk mengubah molekul nutrien menjadi prekusor unit pembangun bagi makro
molekul nutrien menjadi prekusor unit pembangun makro molekul sel.
3. Untuk menggabungkan unit-unit pembangun ini menjadi protein, asam nukleat, lipid,
polisakarida, dan komponen sel lainnya.
4. Untuk membentuk dan mendegradasi biomolekul yang diperlukan di dalam fungsi khusus
sel (Lehninger, 2000)
2.2 Lintas/Jalur Metabolisme
Walaupun melibatkan ratusan reaksi enzimatik yang berbeda, lintas metabolisme yang
utama hanya sedikit. Lintas-lintas tersebut meliputi lintasan katabolik (penguraian) dan
lintasan anabolik (pembentukkan). Jalur metabolik (metabolic pathway) diawali dengan satu
molekul spesifik, yang kemudian diubah dalam serangkaian langkah yang jelas dan
menghasilkan produk tertentu. Metabolisme secara keseluruhan mengelola sumber daya
materi dan energi bagi sel (Campbell and Reece, 2008).
2.2.1 Katabolisme
Beberapa jalur metabolik melepaskan energi melalui penguraian molekul
kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Proses degradasi ini disebut jalur
katabolik (catabolic pathway), atau jalur penguraian Salah satu jalur utama katabolisme
adalah respirasi selular, ketika gula glukosa dan bahan bakar organik lain diuraikan

3
4

menjadi karbon dioksida dan air dengan kehadiran oksigen. (Jalur metabolik bisa
memiliki lebih dari satu molekul awal atau produk.) Energi yang tersimpan dalam
molekul organik kemudian tersedia bagi sel untuk melakukan kerja, misalnya leta
denyut silia atau transpor membran (Campbell and Reece, 2008).
2.2.2 Anabolisme
Jalur anabolik (anabolic pathway) mengonsumsi energi untuk membangun
molekul kompleks dari molekul-molekul yang lebih sederhana. Jalur anabolik
terkadang disebut jalur biosintetik. Salah satu contoh anabolisme adalah sintesis
protein dari asam-asam amino. Jalur katabolilk merupakan jalan 'menuruni bukit:
sedangkan jalur anabolik merupakan jalan 'mendaki bukit' dalam peta metabolik.
Energi yang dilepaskan dari reaksi 'menuruni bukit’ pada jalur katabolik dapat
disimpan dan kemudian digunakan untuk menggerakkan reaksi ‘mendaki bukit’ pada
jalur anabolik (Campbell & Reece, 2008).
2.3 Proses Metabolisme
Berdasarkan prosesnya, metabolisme dibagi menjadi 3 proses, antara lain metabolisme
karbohidrat, metabolisme protein, dan metabolisme lemak.

Gambar 2.1 Skema Metabolisme Karbohidrat, Protein, dan Lemak (Solomon, 2009)
5

2.3.1 Metabolisme Karbohidrat


Karbohidrat adalah senyawa organik yang terbentuk dari 3 unsur yaitu Karbon(C),
Oksigen (O) dan Hidrogen (H). Terdapat tiga golongan utama karbohidrat:
monosakarida, oligosakarida, dan polisakarida. Monosakarida adalah gula sederhana
yang memiliki satu unit aldehide atau keton. Oligosakarida yaitu karbohidrat yang
terbentuk dari 2-10 monosakarida saling berikatan. Monosakarida yaitu karbohidrat
yang terbentuk lebih dari 10 molekul monosakarida (Hutahalung, 2004).
Fungsi karbohidrat adalah sebagai sumber energi utama, sebagai bahan pembentuk
senyawa kimia lain, sebagai komponen penyusun gen, dan sebagai senyawa yang
membantu proses berlangsungnya BAB (Irianto, 2014)
Metabolisme Karbohidrat adalah mengubah karbohidrat menjadi glukosa,
fruktosa, dan galaktosa yang merupakan produk pencernaan untuk memberi pada
jaringan melalui proses glikolis, glikogenesis, glikogenosis, dan glukoneogenesis
melalui asetil- KoA proses lanjut ke siklus krebs untuk melayani jaring ekstrahepatik
(Murray, 2002).
Tabel 2..1 Fase yang terjadi dalam Metabolisme Karbohidrat (K. Murray, 2002)
No Tahapan Bahan Tempat Terjadi Hasil
1 Glikolisis Glukosa Sitoplasma 2 ATP, 2 NADH,
2 Asam Piruvat
2 Dekarboksilasi Asam Mariks 2 NADH, 2 CO2,
Oksidatif Piruvat Mitokondria 2 Asetil Co-A
3 Silus Krebs Asetil Co-A Matriks 2 ATP, 2 FADH2,
Mitokondria 6 NADH, 4 CO2
4 Forforilasi NADH dan Membran dalam
34 ATP, 6 H2O
Oksidatif FADH2 Mitokondria

2.3.2 Metabolisme Protein


Protein merupakan suatu senyawa organik yang terususun oleh unsur-unsur
struktur karbon, hidrogen, oksigen, nitrogen dan terkadang juga mengandung fosfor
dan belerang. Komponen dasar dari senyawa protein adalah asam amino, yang
dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu : asam amino esensial, semiesensial, dan non
esensial (Irianto, 2014).
6

Protein berfungsi sebagai zat pembangun tubuh, penyusun sel-sel baru untuk
pertumbuhan dan memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak, sebagai bahan baku enzim,
antibodi, dan hormon, menjaga kestabilan tekanan osmotik cairan di dalam organ
tubuh, dan sebagai penghasil energi utama (karbohidrat dan lemak) tidak mencukupi
(Irianto, 2014).
Metabolisme protein merupakan deskripsi dari proses fisik dan juga kimia yang
menyebabkan baik pembentukan ataupun sintesis asam amino menjadi protein dan
pemecahan, atau katabolisme, protein menjadi bentuk asam amino. Sekitar 75 - 80%
dari asam amino yang dibebaskan akan digunakan kembali untuk sintesis protein yang
baru. Untuk mempertahankan kesehatan, manusia memerlukan 30- 60 g protein setiap
hari atau ekuivalen dalam bentuk asam amino bebas (K. Murray, 2002).
2.3.3 Metabolisme Lemak
Lipida adalah segolongan senyawa yang berasal dari makhluk hidup relatif tidak
larut dalam air, akan tetapi larut dalam zat-zat pelarut nonpolar. Berlainan dengan
karbohidrat atau protein, yang masing-masing memiliki struktur dasar yang sama,
lipida terdiri atas bermacam-macam senyawa heterogen dengan struktur yang berbeda
satu dengan yang lain. Tiap-tiap jenis lipida dapat mempunyai fungsi sendiri dalam
tubuh (Lehninger, 2000).
Fungsi lemak bagi tubuh adalah sebagai pelindung tubuh dari pengaruh suhu
rendah, sebagai pelarut vitamin A, vitamin D, vitamin E, dan vitamin K, sebagai
pelindung alat-alat ubuh yang vital, sebagai penghasil energi tertinggi, karena setiap
gram lemak menghasilkan 9,3 kkal, sebagai salah satu bahan penyusun membran sel,
sebagai salah satu bahan penyusun garam empedu, asam kolat (di dalam hati), dan
hormon seks (khusus untuk kolesterol) (Irianto, 2014).
Metabolisme lipid (lemak) adalah proses dimana asam lemak dicerna, dipecah
untuk energi, atau disimpan dalam tubuh manusia untuk penggunaan energi dimasa
depan. Asam lemak ini merupakan komponen trigliserida, yang membentuk sebagian
besar lemak makan dalam makanan seperti minyak nabati dan produk hewani
(Lehninger, 2000).
7

2.4 Nutrisi
Untuk pertumbuhan, perkembangan dan akiftas sel, diperlukan nutrisi yang cukup
sehingga sel tubuh dapat tunbuh dan berkembang serta dapat menjalankan fungsinya. Nutrisi
yang dibutuhkan oleh sel-sel tubuh secara garis besar meliputi : karbohidrat, lemak, protein,
vitamin, mineral dan air.

Gambar 2.2 Piramida Makanan (Hutahalung, 2014)


2.4.1 Cara Menyalurkan Nutrisi ke Seluruh Sel Tubuh
Zat makanan atau nutrísi yang kita makan akan diproses oleh sistem pencernaan
makanan. Makanan yang telah diproses akan diseleksi oleh pankreas, hati dan kandung
empedu, makanan yang dibutuhkan oleh tubuh disalurkan ke seluruh sel, sedangkan
makanan yang tidak dibutuhkan akan masuk ke usus besar kemudian dikeluarkan
melalui anus (Irianto, 2014).
Makanan atau nutrisi yang telah diproses dalam sistem pencernaan akan diangkut
oleh sistem sirkulasi (yang diatur oleh sistem kardiovaskular) yang membawa nutrien
dan gas ke semua sel, jaringan, organ, dan sistem organ serta membawa produk akhir
metabolik keluar dari sel, jaringan, organ dan sistem organ. Transpor nutrisi, gas,
hormon, enzim dan zat-zat vital lainnya dibawa darah melalui pembuluh darah kapiler
ke seluruh sel tubuh, kemudian zat-zat sisa dibawa darah menuju paru-paru, ginjal atau
kulit untuk dikeluarkan oleh tubuh seluruh jaringan (kumpulan dari beberapa sel)
8

memiliki pembuluh darah kapiler kecuali kartilago, rambut, kuku, dan kornea mata
(Irianto, 2014).
2.4.2 Tanda dan Gejala Kecukupan Nutrisi
Tanda dan Gejala kecukupan nutrisi seseorang dapat dilihat melalui hal-hal
berikut.
1. Penampilan umum. Tanda dari nutrisi yang baik yang dapat dilihat dari
penampilan umumnya adalah responsif. Gejala yang dapat dilhat jka nutrisi yang
kurang baik adalah lesu.
2. Postur. Tanda nutrisi yang baik dapat lihat dan postur yang tegak, lengan dan
tungkai lurus. Gejala yang timbul jika nutrisi kurang baik adalah bahu kendur,
dada cekung, dan punggung bungkuk.
3. Otot. Tanda yang dapat dilihat jika nutrisi terpenuhi dengan baik adalah otot
berkembang dengan baik, kuat dan terdapat lemak di bawah kulit. Sedangkan
gejala yang dapat dilihat jka kecukupan nutrisi buruk adalah penampilan lemah,
sering merasa nyeri dan edema.
4. Kontrol sistem saraf. Seseorang yang memiliki nutrisi yang baik dapat dilihat
memiliki kestabilan psikologis. Gejala yang timbul jika kecukupan nutrisi kurang
baik adalah intabilitas, bingung, tangan dan kaki terasa terbakar dan kesemutan.
5. Fungsi kardiovaskuler. Tandanya laju denyut dan irama jantung normal, tekanan
darah normal. Gejalanya laju denyut jantung cepat (di atas 100 kall per menit),
Irama tidak normal dan tekanan darah meningkat.
6. Vitalitas umum. Tanda : bertenaga, penampilan kuat. Gejala: mudah lelah, kurang
energi mudah tertidur dan mudah lelah.
7. Rambut. Tanda kecukupan nutrisi baik: rambut berkilau, kuat, kult kepala sehat
Gejala jka kecukupan nutrisi capek buruk: rambut kusam, kusut, kening, tipis dan
kasar, mudah rontok.
8. Kulit. Tanda kecukupan nutrisi yang baik : kult halus dan sedikit lembap dengan
warna baik. Gejala yang dapat dilihat jika nutrisi tidak baik: kasar, kering,
bersisik, pucat.
9. Wajah dan leher. Tanda kecukupan nutrisi yang baik warna merata, halus,
penamiplan sehat. Gejala yang dapat dilihat jka nutisi buruk: wajah berminyak,
9

bersisik, kulit gelap di pipi dan di bawah mata, wajah kasar di sekitar hidung dan
mulut.
10. Bibir. Tanda kecukupan nutrisi yang baik: halus, penampilan lembap (tidak
pecah-pecah atau bengkak). Gejala jika nutrisi buruk: kering, lesi angular pada
sudut mulut
11. Gusi. Tanda jika kecukupan nutrisi baik: warna merah muda, tidak bengkak atau
berdarah. Tanda kecukupan nutrisi buruk gusi bengkak dan mudah berdarah.
12. Lidah. Tanda jka kecukupan nutrisi baik: warna merah muda, halus. Gejala jika
kecukupan nutrisi tidak bagus, penampilan bengkak, kasar, warna daging.
13. Gigi. Tanda jika kecukupan nutrisi baik, gigi tidak berlubang dan nyeri. Gejala
jika nutrisi buruk adalah penampilan posisi salah.
14. Mata. Tanda jika kecukupan nutrisi baik: mata terang, jernih, penampilan
bersinar. Gejala jika kecukupan nutrisi buruk: kekeringan membran mata,
kemerahan, kering.
15. Kuku. Tanda jika kecukupan nutrisi baik penampilan keras, merah muda. Gejala
jika kecukupan nutrisi buruk: kuku mudah patah.
16. Kaki atau Tungkai. Tanda jka kecukupan nutris baik: tidak nyeri, lemah, dan
bengkak. Gejała jika kecukupan nutrisi buruk nutrisi tidak baik: edema betis,
kesemutan dan lemah (Irianto, 2014).
2.5 Regulasi Suhu Tubuh
Manusia biasanya tinggal di lingkungan yang lebih dingin daripada suhu tubuh
mereka, tetapi mereka terus menerus menghasilkan panas secara internal, yang membantu
mempertahankan suhu tubuh. Produksi panas akhirnya bergantung pada oksidasi bahan bakar
metabolik yang berasal dari makanan. Perubahan suhu tubuh di kedua arah mengubah
aktivitas sel. Peningkatan suhu mempercepat reaksi-reaksi kimia sel, sedangkan penurunan
suhu memperlambat reaksi-reaksi tersebut. Karena fungsi sel sensitif terhadap fluktuasi suhu
internal, manusia secara homeostasis mempertahankan suhu tubuh pada tingkat yang optimal
agar metabolisme sel berlangsung stabil (Sheerwood, 2014).
Panas berlebihan berakibat lebih serius daripada pendinginan. Bahkan peningkatan
moderat suhu tubuh mulai menyebabkan malfungsi saraf dan denaturasi protein ireversibel.
Sebagian besar orang mengalami kejang ketika suhu tubuh internal mencapai sekitar 106°F
10

(41°C); 110°F (43,3°C) dianggap sebagai batas atas yang memungkinkan kehidupan.
Sebaliknya, sebagian besar jaringan tubuh dapat menahan sementara pendinginan yang
substansial (Sheerwood, 2014).
2.6 Suhu Inti Internal secara Homeostasis
Suhu tubuh normal yang diukur di mulut (per oral) secara tradisional dianggap sebesar
98,6F (37C). Namun studi baru-baru ini menunjukkan bahwa suhu tubuh bervariasi
sepanjang hari, tidak ada suhu tunggal. Karena suhu tubuh bervariasi dari organ ke organ.
Suhu inti internal berada di bawah regulasi ketat untuk mempertahankan homeostatik.
Jaringan inti berfungsi paling baik pada suhu relatif konstan sekitar 100F (37,8C)
(Sheerwood, 2014).
2.7 Variasi Normal Suhu Inti
Meskipun suhu inti dijaga relatif konstan, beberapa faktor menyebabkan menjadi
sedikit bervariasi. Variasi tersebut antara lain :
1. Suhu inti sebagian orang normalnya bervariasi sekitar 1,8F (1C) di siang hari, dengan
suhu terendah pada pagi hari (jam 6 hingga 7 pagi) dan tertinggi pada sore hari (jam 5
hingga 7 sore). Variasi ini disebabkan oleh irama biologis bawaan atau “jam biologis”.
2. Wanita juga mengalami irama bulanan pada suhu intinya yang berkaitan dengan daur haid
mereka. Suhu inti rerata 0,9F (0,5C) lebih tinggi selama paruh terakhir daur sejak saat
evolusi hingga haid. Peningkatan ringan suhu yang menetap selama periode ini
diperkirakan disebabkan oleh peningkatan sekresi progesteron.
3. Suhu inti meningkat selama olahraga karena peningkatan mencolok produksi panas oleh
otot. Selama olahraga berat suhu inti dapat meningkat hingga 104F (40C).
4. Semakin tua maka semakin dingin. Orang lanjut usia biasanya memiliki suhu yang lebih
rendah, dengan rerata pada pertengahan hari 97,7F (36,4C).
5. Karena mekanisme pengendali suhu tidak 100% efektif, suhu inti dapat edikit bervariasi
jika tubuh terppar suhu ekstrim. Sebagai contoh, suhu inti dapat turun beberapa derajat
pada cuaca dingin, atau meningkat sekitar satu derajat pada cuaca panas (K. Murray et al,
2014) .
11

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan dari makalah di atas, dapat
disimpulkan bahwa :
1. Metabolisme merupakan reaksi dalam sel yang dikatalisis oleh enzim-enzim. Lebih jauh,
metabolisme bukanlah suatu proses acak malainkan sangat terintegrasi dan terkoordinasi.
Mempunyai tujuan dan mencakup berbagai kerjasama banyak sistem multi enzim.
2. Jalur yang terdapat dalam metabolisme adalah jalur katabolisme (penguraian) dan jalur
anabolisme (pembentukan). Sedangkan proses yang terdapat dalam metabolisme adalah
metabolisme karbohidrat, metabolisme protein, dan metabolisme lemak.
3. Cara penyaluran nutrisi ke seluruh tubuh adalah makanan diangkut oleh sistem sirkulasi
(yang diatur oleh sistem kardiovaskular) yang membawa nutrien dan gas ke semua sel,
jaringan, organ, dan sistem organ serta membawa produk akhir metabolik keluar dari sel,
jaringan, organ dan sistem organ.
4. Tanda kecukupan nutrisi yang dapat dilihat melalui postur tubuh, otot, kontrol sistem
saraf, fungsi kardiovaskuler, vitalitas umum, rambut, kulit, wajah dan leher, bibir, gusi,
lidah, gigi, mata, kuku, dan kaki atau tungkai.
5. Peningkatan suhu mempercepat reaksi-reaksi kimia sel, sedangkan penurunan suhu
memperlambat reaksi-reaksi tersebut. Karena fungsi sel sensitif terhadap fluktuasi suhu
internal, manusia secara homeostasis mempertahankan suhu tubuh pada tingkat yang
optimal agar metabolisme sel berlangsung stabil. Suhu tubuh normal yang diukur di
mulut (per oral) secara tradisional dianggap sebesar 98,6F (37C).
3.2 Saran
Berdasarkan materi yang telah penulis paparkan pada pembahasan di atas, penulis
menyarankan beberapa hal untuk meningkatkan metabolisme dan nutrisi tubuh. Untuk
meningkatkan metabolisme tubuh dapat dilakukan dengan tidur teratur, tidak melewatkan
sarapan, konsumsi protein, dan tetap menjaga frekuensi makan. Dan untuk meningkatkan
nutrisi tubuh, dapat dilakukan dengan menjaga asupan makan sesuai dengan gambar piramida
makanan yang telah penulis sisipkan pada makalah.
DAFTAR PUSTAKA

Irianto, Koes. 2014. Anatomi dan Fisiologi. Edisi Revisi. Bandung : Alfabeta

Wahjuni, Sri. 2013. Metabolisme Biokimia. Denpasar : Udayana University Press

Neil A. Campbell dan Jane B. Reece. 2010. Biologi. Edisi 8, Jilid 1. Jakarta : Erlangga

Sheerwood, Lauralee. 2014. Fisiologi Manusia : dari Sel ke Sistem. Buku Terjemahan Edisi 8.
Jakarta : EGC
Murray, R. K., D. A Bender, K. M. Botham, P. J. Kenelly, V. W. Rodwell, P. A. Weil. 2014.
Biokimia Harper. Edisi 29. Jakarta : EGC
Ganong, F. William. 1983. Review of Medical Physiology. San Fransisco : Chairman Department
of Physilogy