Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Farmasi & Sains Indonesia, April 2018 Vol. 1 No.

1
ISSN 2621-9360 http://journal.akfarnusaputera.ac.id/

OPTIMASI FORMULA KOMBINASI GEL MADU DAN LIDAH BUAYA (Aloe Vera) PADA
PENYEMBUHAN LUKA GANGREN DIABETIK

Dwi Hadi Setya Palupi, Ririn Suharsanti


Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Yayasan Pharmasi Semarang
dwi.palupi@ymail.com

ABSTRAK
Luka gangren adalah komplikasi serius pada diabetes mellitus yang berpotensi menimbulkan
kematian. Madu dan Lidah buaya (Aloe vera) adalah bahan alam yang masing-masing telah
terbukti memiliki aktivitas dalam penyembuhan luka Riset ini bertujuan untuk mendapatkan
formula polyherbal topikal madu dan lidah buaya yang terbaik sebagai sediaan topikal untuk
terapi luka gangren diabetik. Formulasi gel kombinasi madu dan lidah buaya menggunakan
carbophol 934, propilenglikol dan TEA dalam berbagai perbandingan. Evaluasi sediaan krim
yang meliputi uji organoleptis, uji homogenitas fisik, uji pH, uji daya lekat, uji daya sebar, dan
uji viskositas. Pengujian efektivitas sediaan dilakukan terhadap penyembuhan luka gangren
diabetik pada mencit jantan galur swiss webster. Penentuan formula optimum gel dengan
metode simplex lattice design menggunakan software Design Expert, yang diverifikasi secara
statistik dengan uji T berpasangan taraf kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan
Formula optimum sediaan gel kombinasi lidah buaya 4,8% dan madu 15,2% menghasilkan
sediaan yang baik dalam hal karakteristik fisik, dengan efektivitas penyembuhan luka gangren
diabetik lebih maksimal.
Kata kunci: Gel poliherbal, madu, lidah buaya, luka gangren diabetik, simplex lattice design

PENDAHULUAN
Diabetes melitus dengan durasi yang meningkatkan sirkulasi dan menghilangkan
lama dan kontrol metabolik yang buruk, trombus darah, serta meningkatkan
diketahui menyebabkan komplikasi penyembuhan luka (Wang dan Jue, 2004).
mikrovaskuler (microangiopathy) maupun Penelitian oleh Viswanathan (2011)
makrovaskuler (macroangiopathy). membuktikan bahwa aplikasi harian krim
Mikroangiopati terdiri dari perubahan yang poliherbal (kombinasi beberapa tanaman)
merugikan baik pada struktur maupun dapat mengurangi ukuran luka secara
fungsi mikrosirkulasi, dan berdasar signifikan dalam waktu sekitar satu bulan
penelitian klinis terdahulu, pasien diabetes, setengah, dan tidak memberikan efek
mengalami kelainan histologis terutama samping. Krim poliherbal diperkirakan
pada arteriol dan kapiler kaki (Sharma dan memiliki efektifitas dalam mengobati
Rayman, 2014). Cacat pada mikrosirkulasi, gangren diabetik bersamaan dengan terapi
yang sering disertai dengan neuropati diabetes standar.
perifer dan penyakit arteri perifer, Madu dan lidah buaya (Aloe vera),
berkontribusi pada perkembangan masalah merupakan bahan-bahan alam yang telah
kaki diabetes. Trombosis dan insensitivitas terbukti memiliki aktivitas dalam
kaki pada penderita diabetes berakibat penyembuhan luka. Berbagai penelitian
pada kematian jaringan dan seringkali ilmiah membuktikan bahwa kandungan
memicu terjadinya gangren. Adanya fiskal dan kimiawi dalam madu, seperti
masalah vaskuler di perifer pada akhirnya kadar keasaman dan pengaruh osmotik,
akan menyebabkan suatu tindakan berperan besar membunuh kuman-kuman
amputasi. Kompleksitas permasalahan kaki dan anti inflamasinya dapat mengurangi
diabetes, mulai dari risiko terjadi amputasi nyeri serta meningkatkan sirkulasi yang
sampai kematian karena gangren diabetes berpengaruh pada proses penyembuhan
memerlukan terapi yang tepat. (Bogdanov dkk., 2008). Kandungan vitamin
Penggunaan herbal medicine dalam A dan E, serta zat aktif manosa,
pengobatan luka sudah banyak digunakan, glukomannan, asam krisofan dan
termasuk gangren diabetik, eliminasi toksin, Acetylated mannose (acemannan) dalam

Jurnal Farmasi dan Sains Indonesia Vol 1 No 1


Jurnal Farmasi & Sains Indonesia, April 2018 Vol. 1 No. 1
ISSN 2621-9360 http://journal.akfarnusaputera.ac.id/

lidah buaya dapat dimanfaatkan untuk serta uji farmakologi poliherbal topikal.
penyembuhan luka. Acemannan terbukti Penelitian ini adalah penelitian
meningkatkan respon imun Th1 sebagai eksperimental murni di laboratorium yang
pertahanan terhadap patogen intraseluler juga menggunakan hewan percobaan
seperti virus, bakteri maupun parasit mencit jantan galur swiss usia 2-3 bulan.
(Habeeb dkk., 2007) dan dapat memicu
pengeluaran faktor pertumbuhan Alat
Keratinocyte Growth Factor (KGF) Alat-alat gelas, pH meter (HANNA
sehingga sangat berperan dalam memicu Instruments pH 210), kaca pembesar, alat
proses reepitelisasi serta menghambat uji daya sebar, alat uji daya lekat,
terjadinya proses infeksi Viskosimeter Brookfield. alat ukur gula
(Jettanacheawchankit dkk., 2009). darah, sonde oral tikus, restrainer, jangka
Peningkatan acceptabilitas sorong, alat bedah, Spektrofotometer UV-
penggunaan polyherbal topikal dalam Vis
pengobatan luka gangren diabetik
merupakan pertimbangan yang kuat Bahan
dilakukannya optimasi formula dalam Bahan utama yang digunakan adalah madu
sediaan gel. Tujuan umum penggunaan dan lidah buaya yang dibuat menjadi serbuk
obat pada terapi dermatologi adalah untuk dengan proses frezee drying (dengan
menghasilkan efek terapetik pada tempat- penambahan dekstrin 15%). Tanaman lidah
tempat spesifik di jaringan epidermis. Gel buaya (Aloe vera) diperoleh dari daerah
mempunyai sifat yang menyejukkan, Gunung Pati, sedangkan madu yang
melembabkan, mudah penggunaannya, digunakan ini merupakan madu hutan, yang
mudah berpenetrasi pada kulit sehingga didapatkan dari daerah Jombang. Bahan
diharapkan meningkatkan efektivitas untuk formulasi sediaan krim meliputi
pengobatan luka gangren diabetes. carbophol 934, propilenglikol, TEA, nipagin,
dan air. Komposisi formula gel dapt dilihat
METODE PENELITIAN pada tabel 1
Penelitian ini terbagi menjadi 2 tahapan
yaitu, pembuatan dan optimasi sediaan gel

Tabel 1. Formula Gel Kombinasi Madu dan Lidah Buaya (Aloe vera)
KOMPOSISI FORMULA FORMULA FORMULA FORMULA FORMULA
FORMULA 1 2 3 4 5
Aloe vera 20 % 15 % 10 % 5% 0%
Madu 0% 5% 10 % 15 % 20 %
Carbophol 1,5 % 1,5 % 1,5 % 1,5 % 1,5 %
Propilenglikol 5% 5% 5% 5% 5%
TEA 1% 1% 1% 1% 1%
Nipagin 0,3 % 0,3 % 0,3 % 0,3 % 0,3 %
Aquadest ad 100 g ad 100 g ad 100 g ad 100 g ad 100 g

Pembuatan Serbuk Lidah Buaya dalam loyang-loyang untuk dilakukan


Lidah buaya yang sudah dikumpulkan, frezee drying.
disortasi basah selanjutnya dikupas sampai
tersisa daging buah yang berupa gel. Lidah Skrining Fitokimia
buaya yang telah dikupas langsung dicuci Skrining fitokimia dilakukan terhadap
dengan air mengalir. Gel lidah buaya serbuk lidah buaya, meliputi uji reaksi warna
dihaluskan dengan blender kemudian dan pengendapan serta penegasan dengan
ditimbang sejumlah tertentu dan ditambah KLT untuk beberapa golongan senyawa,
dengan dekstrin sebanyak 15%. Gel lidah diantaranya: flavonoid, saponin, tanin,
buaya dicampur dengan dekstrin alkaloid, terpenoid/ steroid, antrakuinon,
menggunakan mixer kemudian ditempatkan glikosida, phlobatannin, dan karbohidrat.
Pembuatan Gel

Jurnal Farmasi dan Sains Indonesia Vol 1 No 1


Jurnal Farmasi & Sains Indonesia, April 2018 Vol. 1 No. 1
ISSN 2621-9360 http://journal.akfarnusaputera.ac.id/

Carbophol 934 ditimbang dan muncul pada viskosimeter brookfield,


dikembangkan dengan air panas selama 15 dicatat.
menit. Setelah Carbophol mengembang
dimasukan Propilenglikol dan TEA, aduk Uji Farmakologi Poliherbal Topikal
hingga homogen. Ditambahkan Nipagin, Seluruh mencit diadaptasikan selama 7
aduk hingga homogen. Ditambahkan hari selanjutnya dibagi secara acak menjadi
serbuk lidah buaya, madu dan aquadest 6 kelompok masing-masing 5 ekor. Seluruh
sedikit-sedikit, aduk hingga homogen. mencit diukur kadar gula darah puasa
Dilakukan evaluasi sediaan yang meliputi uji sebagai kadar gula darah awal, dilanjutkan
organoleptis, uji daya sebar, uji daya lekat, dengan induksi diabetes melitus
uji pH dan viskositas. menggunakan aloksan dosis 150 mg/kgBB
secara intra peritonial sebanyak tiga kali
Evaluasi Sediaan berturut-turut dengan jeda 3 hari untuk
1. Organoleptis setiap penyuntikan. Tiga hari setelah
Sediaan gel diamati secara visual induksi kadar gula darah mencit diukur
menggunakan kaca pembesar. Uji untuk memastikan kondisi diabetes melitus
organoleptis meliputi bentuk, bau, dan sudah terjadi (hari ke-0) dan kemudian
warna. dilakukan pencukuran bulu di area
2. Daya Lekat punggung. Hari ke-1 dilakukan penyayatan
Sediaan gel 0,5 g diletakkan di atas pada kulit punggung sepanjang 1-1,5 cm
objek glass. Ditutup dengan objek glass dengan kedalaman 2 mm yang sebelumnya
yang lain, dan ditekan dengan beban 50 g telah dianestesi dengan etil klorida. Sehari
selama 5 menit. Objek glass dikaitkan di setelah penyayatan semua kelompok diberi
antara statif dan diberi beban. Diukur waktu pengobatan dengan gel sesuai
daya lekat sediaan (Indrayudha, 2010 : 60). pengelompokan. Kelompok kontrol negatif
3. Daya Sebar diberikan basis gel, kelompok perlakuan
Kaca penutup ditimbang, kemudian diberikan gel kombinasi lidah buaya dan
sebanyak 0,5 g sediaan gel diletakkan di madu sediaan gel formula 1-5. Pemberian
tengah kaca. Ditutup dengan kaca yang pengobatan diberikan 2 kali sehari
sudah ditimbang, dibiarkan 1 menit. sebanyak 100 mg selama 6 hari. Hari ke-1
emudian diukur diameter sediaan. sampai ke-7 dilakukan pemeriksaan
Ditambahkan beban 50 g, dibiarkan 1 menit, makroskopis dan pada hari ke-7 dilakukan
diukur kembali diameter sediaan gel. pemeriksaan mikroskopis. Pengamatan
Dilakukan penambahan beban hingga makroskopis adalah dengan mengukur
sediaan gel tidak mampu untuk menyebar panjang/luas luka dengan jangka sorong.
lagi. Dibuat hubungan grafik antara beban
terhadap luas sediaan gel yang menyebar Analisa Data
(Indrayudha, 2010 : 60). Data evaluasi sediaan yang diperoleh
4. Uji pH dianalisis dengan menggunakan soft ware
Alat pH meter dikalibrasi. Diamati pH design expert dengan parameter optimasi
sediaan gel dengan pH meter. Alat pH karakteristik fisik meliputi daya lekat, daya
meter dimasukkan ke dalam sediaan gel. sebar, pH, dan viskositas, serta panjang
Dilihat angka pada alat pH meter luka yang merupakan parameter dari
menunjukkan nilai pH pada sediaan gel efektivitas penyembuhan luka gangren
(Indrayudha, 2010 : 60). diabetik
5. Viskositas Formula optimum yang diperoleh
Dipilih spindel yang digunakan, selanjutnya diverifikasi dengan melakukan
kemudian pasangkan pada viskosimeter pengujian ulang terhadap karakteristik fisik
brookfield. Dimasukkan gel kedalam cup maupun efektivitas pengobatan luka. Data
atau wadah, atur ketinggian sampai spindel hasil pengujian kemudian dibandingkan
tercelup sempurna. Diatur rpm yang dengan kontrol basis menggunakan uji T
digunakan, kemudian lihat angka yang berpasangan untuk memastikan
perbedaannya.

Jurnal Farmasi dan Sains Indonesia Vol 1 No 1


Jurnal Farmasi & Sains Indonesia, April 2018 Vol. 1 No. 1
ISSN 2621-9360 http://journal.akfarnusaputera.ac.id/

mempunyai kemampuan menarik air dan


HASIL DAN PEMBAHASAN berpenetrasi pada kulit serta meningkatkan
Lidah buaya dibuat sebagai serbuk derajat hidrasi stratum corneum.
dengan metode Liofilisasi atau Freeze Trietanolamin (TEA) dalam sediaan gel
Drying terhadap daging buah lidah buaya, sebagai zat pengemulsi memiliki
dimaksudkan untuk menjaga zat-zat yang kemampuan menstabilkan pH (neutralizing
mungkin rusak oleh pemanasan. agent) untuk mengoptimalkan viskositas
Penambahan dekstrin sebagai pengisi gel.
bertujuan membantu proses pengeringan Karakterisasi fisik formulasi gel dapat
lidah buaya. Rendemen serbuk kering gel dilihat pada tabel 3 dan 4 serta gambar 1.
lidah buaya yang diperoleh sebesar 7,92 %. Secara organoleptis, tampak bahwa
Hasil pengujian fitokimia terhadap serbuk besaran konsentrasi serbuk lidah buaya
lidah buaya seperti dilihat pada Tabel 2, maupun madu pada formula sediaan gel
menunjukkan adanya kandungan senyawa sangat mempengaruhi warna yang
flavonoid, saponin, alkaloid, karbohidrat, terbentuk. Bau dan tekstur gel kurang lebih
glikosida, dan antrakuinon. sama pada semua formula. Hasil
Formula gel dibuat mengandung pengamatan homogenitas pada kelima
kombinasi serbuk lidah buaya, madu dalam formula memperlihatkan bahwa kelima
berbagai perbandingan konsentrasi dan sediaan homogen. Homogenitas sediaan
basis gel (Tabel 1). Pemilihan basis sangat penting karena dengan sediaan
dilakukan dengan memperhatikan tujuan yang homogen diharapkan mendapatkan
yang diharapkan untuk perbaikan luka terapi dengan dosis yang seragam, oleh
bakar. Tingginya sensitifitas luka bakar karena zat aktif terdistribusi merata dalam
iritasi dari luar atau bahan-bahan yang basis. Hasil pengukuran pH menunjukkan
melekat pada luka menjadikan viskositas bahwa semua formulasi gel berada di
atau kekentalan gel sangat penting untuk rentang pH ideal sediaan topikal yaitu 4,5 –
diperhatikan. Basis utama yang digunakan 6,5 yang merupakan pH kulit. Nilai pH ini
pada sediaan gel kali ini adalah carbophol pun bersifat acceptable untuk kulit yang
934 sebagai basis gel hidrofilik dengan mengalami luka dan stabil dalam
stabilitas tinggi. Propilenglikol dalam penyimpanan.
formula sebagai humektan yang

Tabel 2. Hasil uji Hasil Uji Kualitatif Senyawa Aktif Serbuk Lidah Buaya (Aloe vera)
JENIS UJI HASIL PERCOBAAN
Senyawa flavonoid +
Senyawa saponin +
Senyawa tannin -
Senyawa alkaloid +
Senyawa kuinon -
Senyawa karbohodrat +
Senyawa glikosida +
Senyawa antrakuinon +
Senyawa steroid -
Senyawa triterpenoid -
Keterangan : (+) menunjukkan adanya senyawa uji
(-) menunjukkan tidak terdapat senyawa

Tabel 3. Hasil Pengamatan Organoleptis dan Homogenitas Gel Lidah Buaya, Madu serta
Kombinasinya
FORMULA WARNA BAU TEKSTUR HOMOGENITAS
Formula 1 coklat muda khas aloe lengket, agak kental homogen
Formula 2 coklat tua khas aloe sedikit lengket dan homogen
dan madu agak kental
Formula 3 coklat tua khas aloe sedikit lengket, kental homogen
dan madu

Jurnal Farmasi dan Sains Indonesia Vol 1 No 1


Jurnal Farmasi & Sains Indonesia, April 2018 Vol. 1 No. 1
ISSN 2621-9360 http://journal.akfarnusaputera.ac.id/

Formula 4 coklat khas aloe tidak lengket, kental homogen


kehijauan dan madu
Formula 5 kuning khas madu sedikit lengket, kental homogen
transparan
Basis bening tidak berbau lengket, agak kental homogen
transparan

Tabel 4. Hasil Pengujian Daya Lekat, pH, dan Viskositas Gel Lidah Buaya, Madu, serta
Kombinasinya
FORMULA DAYA LEKAT pH VISKOSITAS (poise)
(detik)
Formula 1 1,27 ± 0,16 4,81 ± 0,11 1028 ± 29,50
Formula 2 1,39 ± 0,31 4,67 ± 0,17 811 ± 72,62
Formula 3 1,04 ± 0,03 4,66 ± 0,16 439,2 ± 58,76
Formula 4 4,05 ± 0,39 4,93 ± 0,26 1084 ± 69,50
Formula 5 2,26 ± 0,17 5,34 ± 0,13 1066 ± 49,30
Basis 4,06 ± 0,48 5,37 ± 0,47 1112 ± 44,38

Gambar 1. Kurva Hubungan Penambahan Berat Beban Terhadap Diameter Sebar Gel Lidah
Buaya, Madu, serta Kombinasinya

Hasil uji daya lekat menunjukkan kombinasi lidah buaya dan madu, seperti
bahwa kemampuan daya lekat gel berubah pada gambar 1 menunjukkan bahwa
dengan penambahan serbuk lidah buaya kemampuan penyebaran gel berubah
dan madu. Daya lekat gel lebih kecil dengan penambahan lidah buaya dan
dibanding basis dan nilai ini sedikit jauh dari madu.
standar daya lekat sediaan topikal yang Viskositas berkaitan langsung dengan
baik. Waktu lekat gel yang singkat akan konsistensi gel yang dibuat, dalam hal ini
memperkecil efek pengobatan karena adalah konsistensi gel kombinasi lidah
adsorbsi obat pada kulit semakin kecil. buaya dan madu. Berdasarkan pengukuran
Selain daya lekat, daya sebar juga tampak bahwa nilai viskositas gel berubah
diperhitungkan untuk meningkatkan dengan adanya penambahan serbuk lidah
acceptability sediaan topikal. Daya sebar buaya maupun madu. Kombinasi lidah
yang baik menjamin pemerataan gel saat buaya dan madu pada formula 3
diaplikasikan pada kulit. Gel harus mampu mempunyai viskositas yang paling kecil
tersebar dengan sedikit tekanan sehingga yaitu 439,2 poise. Kombinasi dengan
tidak memberikan rasa sakit saat dioleskan. persentase yang sama (10%) ternyata
Hasil pengukuran daya sebar sediaan gel

Jurnal Farmasi dan Sains Indonesia Vol 1 No 1


Jurnal Farmasi & Sains Indonesia, April 2018 Vol. 1 No. 1
ISSN 2621-9360 http://journal.akfarnusaputera.ac.id/

memberikan konsistensi yang cenderung aureus adalah bakteri yang umumnya


lebih tidak kental. menginfeksi luka yang dialami penderita
Metode baku untuk pembentukan diabetes melitus (Trivedi dkk., 2014). Tabel
ganggren secara eksperimental sampai 5 memuat hasil pengukuran kadar gula
saat ini belum tersedia, dan dalam darah mencit selama masa induksi.
penelitian ini telah dilakukan orientasi Proses pemulihan luka selama
terhadap cara maupun waktu pembentukan pemberian gel diamati dengan panjang
gangren. Hasil orientasi memperlihatkan luka, Gambar 2 memperlihatkan kurva
bahwa pembentukan gangren dapat hubungan antara panjang luka terhadap
dilakukan dengan menginduksi mencit waktu. Pemulihan luka pada kondisi mencit
dengan aloksan dosis 120 mg/kgBB. diabetes melitus tanpa pengobatan adalah
secara berulang (3 kali dalam waktu yang selama 14 hari, sedangkan pada kelompok
berturut-turut, setiap 3 hari sekali). Setelah dengan pengobatan gel lidah buaya, madu
kadar gula darah mencit tinggi dan stabil maupun kombinasinya terjadi lebih cepat.
kemudian disayat kulit pada bagian Pada hari ke-7, panjang luka untuk
punggung untuk membuat luka. Kondisi kelompok dengan pengobatan gel teruji
luka diabetik untuk lebih mendekati luka lebih pendek dibandingkan kelompok
gangren dicapai dengan memberikan kontrol. Gel formula 5 yang berisi lidah
suspensi bakteri Staphylococcus aureus. buaya 20%, menunjukkan penyembuhan
Penelitian secara klinis terhadap penderita yang lebih baik dibandingkan formula
diabetes mellitus yang mengalami gangren lainnya.
menunjukkan bahwa Staphylococcus

1.8
1.6
Kontrol negatif
1.4
Panjang Luka (cm)

1.2 Kontrol positif

1 Normal
0.8 F1
0.6 F2
0.4
F3
0.2
F4
0
0 1 2 3 4 5 6 7 F5
Hari ke-

Gambar 2. Kurva Hubungan antara Panjang Luka dan Waktu Penyembuhan setelah Pemberian
Topikal Gel Lidah Buaya, Madu, serta Kombinasinya

Hasil pengujian fisik dan efektivitas madu mempengaruhi secara positif


penyembuhan luka gangren diabetik diolah terhadap efektivitas penyembuhan luka
menggunakan metode simplex lattice gangren diabetik. Secara keseluruhan,
design menggunakan software Design berdasarkan hasil pengolahan data dengan
Expert untuk untuk menghasilkan suatu metode design expert diperoleh simpulan
persamaan sebagai hubungan interaksi bahwa konsentrasi formula optimum untuk
antara kedua faktor seperti pada Tabel 6. lidah buaya sebesar 0,24 bagian (4,8%) dan
Berdasar persamaan diketahui bahwa lidah madu 0,76 bagian (15,29%). Hasil ini
buaya dan madu mempengaruhi secara ditetapkan sebgai formula optimum,
positif pada nilai pH, daya lekat, dan daya meskipun jika dilihat dari desirability nya
sebar, sedangkan terhadap nilai viskositas hanya 0,619.
berpengaruh negatif. Lidah buaya dan

Jurnal Farmasi dan Sains Indonesia Vol 1 No 1


Jurnal Farmasi & Sains Indonesia, April 2018 Vol. 1 No. 1
ISSN 2621-9360 http://journal.akfarnusaputera.ac.id/

Verifikasi hasil dilakukan dengan yang mengalami luka. Uji efektivitas


membuat gel formula optimum, kemudian penyembuhan luka diabetik formula
diuji karakteristik fisik maupun efektivitas optimum pada mencit menunjukkan bahwa
terhadap penyembuhan luka gangren lama waktu penyembuhan luka oleh gel
diabetik. Pengujian dilakukan dengan kombinasi lebih cepat secara bermakna
pembanding kontrol negatif, yaitu gel yang dibandingkan dengan kontrol negatif. Hal
hanya berisi basis saja. Hasil pengujian tersebut berarti bahwa dengan formula
dapat dilihat pada Tabel 7. Karakteristik fisik optimum (lidah buaya 4,8% dan madu
formula optimum memperlihatkan nilai 15,2%) ini menghasilkan efektivitas
berada di rentang standar sediaan topikal penyembuhan luka yang lebih maksimal.
dan meningkatkan acceptability untuk kulit

Tabel 6. Persamaan Hasil Pengolahan dengan Design Expert Kombinasi Lidah Buaya (Aloe
Vera) dan Madu
UJI PERSAMAAN
pH y = 4,81A + 5,35B – 1,61AB
Daya Lekat y = 1,01A + 2,86B + 0,52AB
Daya Sebar y = 4,42A + 3,29B + 2,59AB
Viskositas y = -1,018A + 1,158B – 1,62AB
Efektivitas Penyembuhan Luka y = 0,44A + 0,32 + 0,07AB

Tabel 7. Hasil Uji T Karakteristik Fisik dan Efektivitas Penyembuhan Luka Gangren Diabetik Gel
Kombinasi Lidah Buaya dan Madu Formula Optimum terhadap Kontrol
HASIL VERIFIKASI
PENGUJIAN FORMULA
KONTROL
OPTIMUM
Organoleptis
• Bentuk Gel Gel
• Warna Coklat muda Bening
• Bau Khas aromatic Tidak berbau
• Tekstur Agak kental Agak kental
Homogenitas Homogen Homogen
pH 4,87* 5,37
Daya Lekat 2,212* 4,062
Daya Sebar 4,135* 3,450
Viskositas 841, 4* 1390
Efektivitas Penyembuhan Luka 1,116 ± 0,12* 0,757 ± 0,03
Keterangan : (*) terdapat perbedaan

KESIMPULAN American Journal of the College of


Hasil penelitian menunjukkan Formula Nutrition, 27, 677-689
optimum sediaan gel kombinasi lidah buaya Habeeb F, Stables G, Bradbury F, (2007):
4,8% dan madu 15,2% menghasilkan The inner gel component of Aloe vera
sediaan yang baik dalam hal karakteristik suppresses bacterial-induced pro-
fisik, dengan efektivitas penyembuhan luka inflammatory cytokines from human
gangren diabetik lebih maksimal. immune cells. Methods, 42, 388-393
Jettanacheawchankit, S., Sasithanasate,
DAFTAR PUSTAKA S., Sangvanich, P., Banlunara, W.,
Bogdanov, S., Jurendic, T., Sieber, R., dan Thunyakitpisal, P., (2009),
Gallmann, P., (2008) Honey for Acemannan Stimulates Gingival
Nutrition and Health : a Review, Fibroblast Proliferation; Expressions

Jurnal Farmasi dan Sains Indonesia Vol 1 No 1


Jurnal Farmasi & Sains Indonesia, April 2018 Vol. 1 No. 1
ISSN 2621-9360 http://journal.akfarnusaputera.ac.id/

of Keratinocyte Growth Factor-1,


Vascular Endothelial Growth Factor,
and Type I Collagen; and Wound
Healing, J Pharmacol Sci., 109, 525 –
531
Sharma S, Rayman G (2014) Microvascular
disease. In: Hinchliffe RJ, Schaper
NC, Thompson MM, Tripathi RK,
Timaran CH (eds) The diabetic foot,
1st edn. JP Medical Publishers,
London, 101– 110
Viswanathan, V., Kesavan, R., Kavitha K.V.,
dan Kumpatla S., (2011) A pilot study
on the effects of a polyherbal
formulation cream on diabetic foot
ulcers, Indian J Med Res, 134, August
2011, 168-173.

Jurnal Farmasi dan Sains Indonesia Vol 1 No 1