Anda di halaman 1dari 2

1. Apakah yang dimaksud dengan Tax Avoidance?

Tax Avoidance (penghindaran pajak) berciri fraus legis yaitu kawasan grey area yang
posisinya berada di antara tax compliance dan tax evasion. Beberapa pihak mencoba
mendefinisikan tax avoidance.
Justice Reddy (dalam kasus McDowell & Co Versus CTO di US) merumuskan tax
avoidance sebagai seni menghindari pajak tanpa melanggar hukum.
Black’s Law Dictionary menjelaskan, tax avoidance adalah upaya meminimalkan beban
pajak dengan memanfaatkan peluang penghindaran pajak (loopholes) dengan tidak
melanggar hukum pajak.
Lebih lanjut, OECD mendeskripsikan bahwa tax avoidance adalah usaha wajib pajak
mengurangi pajak terutang, meskipun upaya ini bisa jadi tidak melanggar hukum (the
letter of the law), namun sebenarnya bertentangan dengan tujuan dibuatnya peraturan
perundang-undangan perpajakan (the spirit of the law).
Ronen Palan (2008) menyebutkan suatu transaksi diindikasikan sebagai tax avoidance
apabila melakukan salah satu tindakan berikut :
(a) Wajib Pajak (WP) berusaha untuk membayar pajak lebih sedikit dari yang seharusnya
terutang dengan memanfaatkan kewajaran interpretasi hukum pajak.
(b) WP berusaha agar pajak dikenakan atas keuntungan yang di declare dan bukan atas
keuntungan yang sebenarnya diperoleh;
(c) WP mengusahakan penundaan pembayaran pajak.

Lalu, apakah yang dimaksud dengan Tax Evasion?


Tax Evasion (Tax Fraud) atau penggelapan pajak adalah tindakan yang dilakukan oleh
wajib pajak untuk mengurangi jumlah pajak terutang atau sama sekali tidak
membayarkan pajaknya melalui cara-cara ilegal.
Rohatgi (2007) menyatakan bahwa tax evasion adalah niat untuk menghindari
pembayaran pajak terutang, dengan cara menyembunyikan data dan fakta secara sengaja
dari otoritas pajak, dan ini merupakan tindakan ilegal.
Selain itu, Russo (2007) mendefinisikan tax evasion sebagai kondisi di mana wajib pajak
menghindar untuk membayar pajak terutang tanpa menghindar dari kewajiban pajak
sehingga hal ini melanggar ketentuan perpajakan.
Contoh umum penggelapan pajak misalnya wajib pajak tidak melaporkan sebagian atau
seluruh penghasilannya dalam SPT atau membebankan biaya-biaya yang tidak
seharusnya dijadikan pengurang penghasilan untuk tujuan meminimalkan beban pajak.
Tindakan illegal ini menyebabkan kerugian negara. Sebagian besar negara mengenakan
sanksi administrasi dan sanksi pidana terhadap wajib pajak yang melakukan penggelapan
pajak.

2. A. Jika harga tdk termasuk PPN.


Harga sebelum PPN = 100/110 x 110.000.000 = 100.000.000
PPN yg dipungut = 10% x 100.000.000 = 10.000.000

b. Jika harga termasuk PPN.

1,5% x 110.000.000 = 1.650.000

3. A. 5.000.000 – 2.500.000 = 2.500.000


b. 15.000.000 – 1.000.000 = 14.000.000
c. 5.000.000 – 800.000 = 4.200.000

4. A. Pjk keluaran = 10% x 3.500.000 = 350.000


Pjk masukan = 80% x 350.000 = 280.000
PPN KB = 70.000

B. Pjk keluaran = 10% x 10.000.000 = 1.000.000


Pjk masukan= 80% x 1.000.000 = 800.000
PPN KB = 200.000

c. Pajak masukan = 10%x 1.100.000 = 110.000

d. 10% x 7.000.000 = 700.000


80% x 700.000 = 560.000
PPN KB 140.000
50% x 140.000 = 70.000

e. sisa dari cv. Setia = 70.000

Beri Nilai