Anda di halaman 1dari 27

The 1st Accounting Conference 

Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

MEWUJUDKAN GOOD GOVERNANCE DI ERA OTONOMI DAERAH:

PERSPEKTIF UU NO. 22 TAHUN 1999 DAN UU NO. 32 TAHUN 2004

TEGUH KURNIAWAN

Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI

Abstract

Administrasi Publik telah bergeser dari model Administrasi Publik Tradisional dan
New Public Management menuju ke model Citizen-Centered Governance.
Pergeseran paradigma Administrasi Publik tersebut tentu saja akan membawa
implikasi terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah di Indonesia yang juga
merupakan bagian dari Administrasi Publik untuk dapat menyesuaikan dirinya.
Masyarakat dalam paradigma Citizen-Centered Governance akan memainkan
peranan penting dalam penyelenggaraan kepemerintahan di Daerah dimana
masyarakat sipil merupakan penentu strategi dari kebijakan publik; serta
penyelenggaraan kepemerintahan yang dilakukan dengan mengoptimalkan jejaring
dan kemitraan. Karenanya, seiring dengan pergeseran paradigma dari Administrasi
Publik tersebut, Pemerintahan Daerah di Indonesia pada satu sisi dituntut untuk
dapat mentransformasikan dirinya menjadi sebuah institusi yang mampu dan dapat
mengoptimalkan peran dari masyarakat sipil dalam menjalankan roda
kepemerintahan di Daerahnya. Pada sisi lainnya, Pemerintahan Daerah dalam
konteks NKRI adalah merupakan bentukan dari Pemerintah Pusat melalui UU.
Sehingga dalam hal ini, upaya dalam mentransformasi diri Pemerintahan Daerah di
Indonesia akan turut pula ditentukan oleh karakter dari UU yang terkait dengan
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah, diantaranya UU tentang Pemerintahan
Daerah. Paper ini berusaha untuk memberikan penggambaran dan analisis terhadap
konstruksi dari UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan
penggantinya UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dalam
mewujudkan good governance di Indonesia. Penekanan analisis terhadap konstruksi
dari kedua UU tersebut akan difokuskan pada sejauhmana kemungkinan peranan
organisasi masyarakat sipil dalam proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan
Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  1
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

yang sesuai dengan prinsip-prinsip good governance serta dalam konteks


pelaksanaan dan pengawasan penyelenggaraan Keuangan Daerah.

Kata Kunci: good governance, pemerintahan daerah, masyarakat sipil, UU 22/1999,


UU 32/2004

A. Pendahuluan

Pergeseran paradigma Administrasi Publik sebagaimana diungkapkan oleh


Benington dan Hartley yang dikutip oleh Wilson (2002) dalam Meehan (2003), serta
Denhardt dan Denhardt (2000 dan 2003) tentu saja akan membawa implikasi
terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Daerah di Indonesia. Administrasi Publik
sebagaimana dikemukakan Benington dan Hartley, telah bergeser dari model
Administrasi Publik Tradisional dan New Public Management menuju ke model
Citizen-Centered Governance atau oleh Denhardt dan Denhardt (2000 dan 2003)
disebut sebagai the New Public Service. Penulis sendiri lebih senang menyebutnya
dengan good governance.

Pergeseran tersebut akan membawa Pemerintahan Daerah di Indonesia yang


juga merupakan bagian dari Administrasi Publik untuk dapat menyesuaikan dirinya
dengan paradigma terkini dari Administrasi Publik tersebut. Masyarakat dalam
paradigma Citizen-Centered Governance ataupun the New Public Service akan
memainkan peranan penting dalam penyelenggaraan kepemerintahan di Daerah.
Karena sebagaimana dikemukakan oleh Benington dan Hartley, model Citizen-
Centered Governance menempatkan masyarakat sipil sebagai penentu strategi dari
kebijakan publik; serta penyelenggaraan kepemerintahan yang dilakukan dengan
mengoptimalkan jejaring dan kemitraan. Sejalan dengan itu, Denhardt dan Denhardt
mengemukakan bahwa model the New Public Service mendasarkan kepada teori
demokratis dimana kepentingan publik merupakan hasil dialog diantara para
pemangku kepentingan; pemerintahan yang melayani masyarakat; serta pencapaian
sasaran kebijakan melalui pembangunan koalisi antara publik, non profit dan
lembaga swasta.

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  2
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Karenanya, seiring dengan pergeseran paradigma dari Administrasi Publik


tersebut, Pemerintahan Daerah di Indonesia pada satu sisi dituntut untuk dapat
mentransformasikan dirinya menjadi sebuah institusi yang mampu dan dapat
mengoptimalkan peran dari masyarakat sipil dalam menjalankan roda
kepemerintahan di Daerahnya. Pada sisi lainnya, Pemerintahan Daerah dalam
konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah merupakan bentukan
dari Pemerintah Pusat melalui Undang-Undang (UU). Sehingga dalam hal ini, upaya
dalam mentransformasi diri Pemerintahan Daerah di Indonesia akan turut pula
ditentukan oleh karakter dari UU yang terkait dengan penyelenggaraan Pemerintahan
Daerah, diantaranya UU tentang Pemerintahan Daerah.

Berangkat dari pemahaman di atas, paper ini berusaha untuk memberikan


penggambaran dan analisis terhadap konstruksi dari UU No. 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah dan penggantinya UU No. 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dalam mewujudkan good governance di Indonesia. Seperti
diketahui, kedua UU tersebut dianggap membawa semangat penyelenggaraan
pemerintahan daerah yang partisipatif sebagaimana dapat dilihat dalam konsiderans
dan penjelasan umumnya. Penekanan analisis terhadap konstruksi dari kedua UU
tersebut akan difokuskan pada sejauhmana kemungkinan peranan organisasi
masyarakat sipil dalam proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan yang sesuai
dengan prinsip-prinsip good governance. Pada akhirnya, paper ini diharapkan dapat
memberikan sumbang saran guna mewujudkan good governance dalam
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah di Indonesia.

Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, paper ini dibagi kedalam empat
bagian pembahasan. Bagian pertama adalah bagian pendahuluan yang berisikan
urgensi dari permasalahan yang diangkat. Bagian kedua merupakan bagian yang
mengkaji kerangka teori good governance, otonomi daerah dan peranan masyarakat
sipil. Bagian ketiga membahas dan menganalis konstruksi dari UU No. 22 Tahun
1999 dan UU No. 32 Tahun 2004 dalam mewujudkan good governance. Serta bagian
keempat berisikan penutup yang merupakan kesimpulan dan saran dari permasalahan
yang diangkat.

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  3
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

B. Good Governance, Otonomi Daerah, dan Peranan Masyarakat Sipil

B.1. Konsep dan prinsip dasar good governance

Konsep governance menurut Stoker (1998) merujuk kepada pengembangan


dari gaya memerintah dimana batas-batas antara dan diantara sektor publik dan
sektor privat menjadi kabur (Ewalt, 2001). Pengaburan batas-batas ini sejalan dengan
kebutuhan dari negara modern untuk lebih melibatkan mekanisme politik dan
pengakuan akan pentingnya isu-isu menyangkut empati dan perasaan dari publik
untuk terlibat sehingga memberikan kesempatan bagi adanya mobilisasi baik secara
sosial maupun politik (Stoker, 2004). Hal ini yang kemudian membuat partisipasi
melalui pembangunan jejaring antara pemerintah dan masyarakat menjadi aspek
yang sangat penting bagi keberlanjutan sebuah legitimasi kebijakan (Stoker, 2004).

Konsep governance kemudian berkembang menjadi good governance—


seperti yang kita kenal sekarang—dalam rangka membedakan implementasinya
antara yang “baik” (good) dengan yang “buruk” (bad) (lihat misalnya dalam Prasojo,
2003). Good governance menurut Plumptre and Graham (1999), merupakan model
dari governance yang mengarahkan kepada hasil ekonomi dan sosial sebagaimana
dicari oleh masyarakat.

Untuk dapat memahami governance dan juga good governance, terlebih


dahulu kita harus dapat membedakannya dengan konsep government yang selama ini
kita kenal dalam era klasik dan NPM.

Governance vs government

Dalam memahami perbedaan antara governance dan government, Schwab


dan Kubler (2001) melihatnya dari 5 (lima) fitur dimensi berdasarkan pengamatan
mereka terhadap interaksi pada sebuah kontinuum pengaturan kebijakan antara
governance dan government sebagai berikut:

” Dimensi aktor;

” Dimensi fungsi;

” Dimensi struktur;

” Dimensi konvensi dari interaksi; dan

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  4
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

” Dimensi distribusi dari kekuasaan.

Tabel 1.: Fitur yang membedakan governance dari government

Government Dimensi Governance

Peserta sangat terbatas jumlahnya Aktor Jumlah peserta yang besar


Umumnya adalah lembaga- Terdiri atas aktor publik dan
lembaga pemerintah privat

Sedikit/jarangnya konsultasi Fungsi Lebih banyak konsultasi


Tidak ada kerjasama dalam Adanya kemungkinan
pembuatan/pelaksanaan kebijakan kerjasama dalam
Issue kebijakan menjadi luas pembuatan/pelaksanaan
kebijakan
Issue kebijakan menjadi sempit

Batas-batas yang tertutup Struktur Batas-batas yang sangat


Batas berdasarkan kewilayahan terbuka
(teritori) Batas berdasarkan fungsi
Keanggotaan yang tidak sukarela (fungsional)
Keanggotaan secara sukarela

Kewenangan yang hirarkhis, Konvensi dari Konsultansi horisontal,


kepemimpinan yang terkunci Interaksi intermobilitas
Interaksi yang saling berlawanan / Konsensus atas nilai-nilai
hubungan yang cenderung konflik teknokratik / hubungan
Kontak-kontak informal kerjasama
Kerahasiaan Kontak-kontak yang sangat
informal
Keterbukaan

Otonomi yang besar dari Negara Distribusi Otonomi yang rendah dari
terhadap masyarakat (organisasi dari negara terhadap masyarakat
yang dikendalikan/steered Kekuasaan (organisasi mandiri/self-
organising) / dominasi Negara organising) / dominasi negara

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  5
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Government Dimensi Governance

Tidak ada akomodasi terhadap yang tersebar


kepentingan masyarakat oleh Kepentingan masyarakat
Negara diakomodir oleh Negara
Tidak adanya Adanya keseimbangan atau
keseimbangan/simbiosis antar simbiosis antar aktor
aktor

Tabel diatas dibuat mengacu kepada elemen analisis dari van Waarden dan
menunjukan kategori dimana 'statism' (government) memiliki karakteristik yang
berbeda dengan 'issue networks' (governance).
Sumber: Schwab and Kubler, 2001

Senada dengan pandangan Schwab and Kubler diatas, Stoker (1998)


mengemukakan 5 (lima) proposisi mengenai governance sebagai berikut (Ewalt,
2001):

” Governance merujuk kepada institusi dan aktor yang tidak hanya pemerintah

” Governance mengidentifikasikan kaburnya batas-batas dan tanggungjawab dalam


mengatasi isu sosial dan ekonomi

” Governance mengidentifikasikan adanya ketergantungan dalam hubungan antara


institusi yang terlibat dalam aksi kolektif

” Governance adalah mengenai self-governing yang otonom dari aktor-aktor

” Governance menyadari untuk memperbaiki sesuatu tidak perlu bergantung


kepada kekuasaan pemerintah melalui perintah dan kewenangannya

Sejalan dengan itu, dalam konteks perkembangan Administrasi Publik dari


bentuknya yang tradisional kemudian NPM dan pada akhirnya memusatkan kepada
masyarakat, maka Benington dan Hartley serta Denhardt dan Denhardt
membandingkannya sebagaimana dua tabel berikut ini:

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  6
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Tabel 2.: Model Kompetisi Paradigma Governance

Administrasi New Public Citizen-centered


Publik Management governance
Tradisional

Konteks Stabil Kompetisi Perubahan yang


terus menerus

Populasi Homogen Atomized Berbeda-beda


(terfragmentasi)

Kebutuhan/masalah Secara langsung, Keinginan Kompleks,


ditentukan oleh diekspresikan berubah-ubah dan
profesional melalui pasar cenderung
beresiko

Strategi Memfokuskan pada Memfokuskan pada Ditentukan oleh


negara dan pasar dan masyarakat sipil
produsen konsumen

Governance Hirarkhi Pasar Jejaring dan


melalui ... kemitraan

Aktor Aparat pemerintah Pembeli dan Kepemimpinan


penyedia; klien dan masyarakat
kontraktor

Sumber: Benington dan Hartley sebagaimana dikutip dalam Meehan (2003)

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  7
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Tabel 3.: Membandingkan perspektif: Administrasi Publik Lama, New Public


Management, dan New Public Service

Administrasi Publik New Public New Public


Lama Management Service

Dasar epistemologi Teori politik, Teori ekonomi, Teori demokratis,


dan teori utama komentar sosial dan dialog yang lebih berbagai
politik yang lebih canggih pendekatan
besar dari ilmu berdasarkan ilmu pengetahuan
sosial naif sosial positif termasuk, positif,
interpretif dan
kritik

Pandangan Rasionalitas Sipnotis Rasionalitas Rasionalitas


terhadap “manusia ekonomi dan strategik atau
rasionalitas dan administrasi” teknis, “manusia formal, tes
model terkait ekonomi” atau berganda terhadap
lainnya dari pembuat kebijakan rasionalitas
perilaku manusia yang berorientasi (politik, ekonomi
pada kepentingan dan organisasi)
pribadi

Konsepsi mengenai Kepentingan publik Kepentingan Kepentingan


kepentingan publik didefiniskan secara publik mewakili publik adalah
politik dan agregasi dari hasil dialog
diekspresikan kepentingan mengenai nilai-
kedalam hukum individu nilai bersama

Kepada siapa Klien dan konstituen Konsumen Masyarakat


pelayan publik
harus tanggap

Peranan Mendayung Menyetir Melayani


pemerintah (mendesain dan (bertindak sebagai (negosiasi

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  8
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Administrasi Publik New Public New Public


Lama Management Service

melaksanakan katalis untuk perantara


kebijakan dengan menjaga dari kepentingan
memfokuskan pada kekuatan pasar) masyarakat dan
sasaran tunggal dan kelompok-
didefinisikan secara kelompok
politik) masyarakat,
menciptakan
nilai-nilai
bersama

Mekanisme untuk Mengadministrasikan Menciptakan Membangun


mencapai sasaran program melalui mekanisme dan koalisi badan
dari kebijakan badan-badan struktur insentif publik, non publik
pemerintah yang ada untuk mencapai dan privat untuk
sasaran kebijakan memenuhi
melalui badan- kesepakatan yang
badan swasta dan paling
non profit menguntungkan
kebutuhan
bersama

Pendekatan Hirarkis— Dorongan pasar— Berbagai sisi—


akuntabilitas administrator akumulasi dari pelayan publik
bertanggungjawab kepentingan harus memenuhi
kepada pemimpin pribadi akan hukum, nilai-nilai
politik yang dipilih menghasilkan masyarakat,
secara demokratis keluaran yang norma-norma
diinginkan oleh politik, standar
kelompok dominan profesional dan
masyarakat (atau kepentingan

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  9
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Administrasi Publik New Public New Public


Lama Management Service

konsumen) masyarakat luas

Diskresi Diskresi terbatas Kebebasan yang Diskresi


administratif dapat dilakukan oleh luas untuk dibutuhkan tetapi
pejabat administratif memenuhi tujuan ada pengawasan
kewirausahaan dan akuntabilitas

Asumsi struktur Organisasi birokratis Desentralisasi Struktur


organisasi ditandai dengan organisasi publik kolaborasi dengan
otoritas top-down dengan kepemimpinan
didalam lembaga dan pengawasan utama yang terbagi
pengawasan atau dilakukan dalam secara internal
regulasi dari klien lembaga dan eksternal

Asumsi dasar Gaji dan keuntungan, Semangat Pelayanan publik,


terhadap motivasi perlindungan kewirausahaan, ingin
dari pelayan publik terhadap pegawai keinginan berkontribusi
dan administrator negeri ideologis untuk kepada
mengurangi masyarakat
ukuran pemerintah

Sumber: Denhardt dan Denhardt (2002 dan 2003)

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa konsep


governance merujuk kepada sebuah proses pembuatan kebijakan dan proses dimana
kebijakan tersebut dilaksanakan yang melibatkan baik negara (pemerintah), sektor
privat, maupun masyarakat madani dalam proses pembuatan dan pelaksanaan
kebijakan tersebut. Disini dapat terlihat adanya interaksi antar ketiga aktor tersebut
dalam proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan sebagaimana terdapat dalam
gambar berikut:

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  10
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Gambar 1.: Interaksi antar Aktor dalam Governance

Governance melibatkan tidak hanya negara (pemerintah) tetapi juga sektor


privat dan masyarakat madani. Kesemuanya merupakan aktor yang memiliki peran
sama penting dalam sebuah penyelenggaraan pemerintahan. Negara (pemerintah)
berperan dalam menciptakan situasi politik dan hukum yang kondusif; sektor privat
berperan dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan pendapatan; dan masyarakat
madani berperan dalam memfasilitasi interaksi secara sosial dan politik yang
memadai bagi mobilisasi individu atau kelompok-kelompok masyarakat untuk
berpartisipasi dalam aktivitas, ekonomi, politik dan sosial (lihat dalam Tamin, 2002).
Dengan kata lain menurut Salomo (2002), birokrasi dituntut agar mempunyai
karakter bersih, terbuka, akuntabel responsif, berorientasi pada kepentingan
masyarakat, dan mendorong partisipasi masyarakat bagi keterlibatan dalam proses
pembuatan, pelaksanaan dan kontrol kebijakan; dunia usaha dituntut adanya
keterbukaan, akuntabilitas, moralitas tinggi, social responsibility dan patuh pada
perundang-undangan yang berlaku serta; masyarakat dituntut agar kuat, selalu
menyatakan pendapatnya, berkualitas tinggi serta partisipatif terhadap berbagai
proses yang dilakukan baik oleh birokrasi maupun oleh dunia usaha. Setiap aktor
tersebut memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Karenanya melalui good
governance diharapkan terciptanya interaksi yang konstruktif dan memadai diantara
para aktor tersebut.

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  11
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Good governance

Pengertian dari good governance dapat dilihat dari pemahaman yang dimiliki
baik oleh IMF maupun World Bank yang melihat Good Governance sebagai sebuah
cara untuk memperkuat “kerangka kerja institusional dari pemerintah” (Bappenas,
2002). Hal ini menurut mereka berarti bagaimana memperkuat aturan hukum dan
prediktibilitas serta imparsialitas dari penegakannya (Bappenas, 2002). Ini juga
berarti mencabut akar dari korupsi dan aktivitas-aktivitas rent seeking, yang dapat
dilakukan melalui transparansi dan aliran informasi serta menjamin bahwa informasi
mengenai kebijakan dan kinerja dari institusi pemerintah dikumpulkan dan diberikan
kepada masyarakat secara memadai sehingga masyarakat dapat memonitor dan
mengawasi manajemen dari dana yang berasal dari masyarakat (Bappenas, 2002).
Pengertian ini sejalan dengan pendapat Bovaird and Loffler (2003) yang mengatakan
bahwa good governance mengusung sejumlah isu seperti: keterlibatan stakeholder;
transparansi; agenda kesetaraan (gender, etnik, usia, agama, dan lainnya); etika dan
perilaku jujur; akuntabilitas; serta keberlanjutan.

Berdasarkan pengertian di atas, good governance memiliki sejumlah ciri


sebagai berikut (Bappenas, 2002):

• Akuntabel, artinya pembuatan dan pelaksanaan kebijakan harus disertai


pertanggungjawabannya;

• Transparan, artinya harus tersedia informasi yang memadai kepada masyarakat


terhadap proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan;

• Responsif, artinya dalam proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan harus


mampu melayani semua stakeholder;

• Setara dan inklusif, artinya seluruh anggota masyarakat tanpa terkecuali harus
memperoleh kesempatan dalam proses pembuatan dan pelaksanaan sebuah
kebijakan;

• Efektif dan efisien, artinya kebijakan dibuat dan dilaksanakan dengan


menggunakan sumberdaya-sumberdaya yang tersedia dengan cara yang terbaik;

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  12
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

• Mengikuti aturan hukum, artinya dalam proses pembuatan dan pelaksanaan


kebijakan membutuhkan kerangka hukum yang adil dan ditegakan;

• Partisipatif, artinya pembuatan dan pelaksanaan kebijakan harus membuka ruang


bagi keterlibatan banyak aktor;

• Berorientasi pada konsensus (kesepakatan), artinya pembuatan dan pelaksanaan


kebijakan harus merupakan hasil kesepakatan bersama diantara para aktor yang
terlibat.

B.2. Desentralisasi, otonomi daerah dan keterkaitannya dengan good


governance

Desentralisasi pada saat ini telah menjadi azas penyelenggaraan pemerintahan


yang diterima secara universal dengan berbagai macam bentuk aplikasi di setiap
negara. Penerimaan desentralisasi sebagai azas dalam penyelenggaraan pemerintahan
disebabkan oleh fakta bahwa tidak semua urusan pemerintahan dapat
diselenggarakan secara sentralisasi, mengingat kondisi geografis, kompleksitas
perkembangan masyarakat, kemajemukan struktur sosial dan budaya lokal serta
adanya tuntutan demokratisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. (Prasojo,
Maksum dan Kurniawan, 2006)

Pandangan di atas sejalan dengan pendapat dari Rondinelli (1983) yang


mengemukakan lima alasan penyebab didesentralisasikannya perencanaan
pembangunan dan administrasi di Asia sebagai berikut:

1. Desentralisasi dilaksanakan sebagai cara dalam mengatasi kegagalan akibat


perencanaan dan manajemen yang terpusat serta tidak flesibel-nya dan tidak
tanggap-nya birokrasi pusat

2. Desentralisasi dilaksanakan agar program pembangunan sesuai dengan kondisi


lokal, memperoleh dukungan dan keterlibatan dari administrator dan masyarakat
lokal serta terintegrasi dengan sejumlah layanan yang dibutuhkan untuk
menstimulasikan pembangunan ekonomi di pedesaan

3. Desentralisasi dilihat penting untuk meningkatkan efektivitas baik pemerintah


pusat, maupun kemampuan unit administratif di tingkat lokal dalam

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  13
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

menyampaikan pelayanan yang dibutuhkan dalam pembangunan, khususnya di


wilayah miskin dan pedesaan

4. Desentralisasi dilihat sebagai sebuah alternatif cara dalam mengkoordinasikan


aktivitas di tingkat provinsi atau lokal untuk menyelesaikan masalah sosial,
politik, atau ekonomi secara cepat

5. Desentralisasi sebagai tujuan politik yang diinginkan untuk membuat daerah


mandiri, partisipatif dan akuntabel

Desentralisasi memiliki berbagai macam tujuan. Secara umum tujuan tersebut


dapat diklasifikasi ke dalam dua variabel penting, yaitu peningkatan efisiensi dan
efektivitas penyelenggaraan pemerintahan (yang merupakan pendekatan structural
efficiency model) dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan dan
pembangunan (yang merupakan pendekatan local democracy model). Setiap negara
lazimnya memiliki titik berat yang berbeda dalam tujuan-tujuan desentralisasinya.
Hal itu sangat ditentukan oleh kesepakatan dalam konstitusi terhadap arah
pertumbuhan (direction of growth) yang akan dicapai melalui desentralisasi. Bahkan
dalam kurun waktu tertentu titik berat tujuan desentralisasi di setiap negara akan
mengalami perbedaan. (Prasojo, Maksum dan Kurniawan, 2006)

Dalam konteks Indonesia, Desentralisasi telah menjadi konsensus pendiri


bangsa. Pasal 18 UUD 1945 yang sudah diamandemen dan ditambahkan menjadi
pasal 18, 18A dan 18B memberikan dasar dalam penyelenggaraan desentralisasi.
Amanat dan Konsensus Konstitusi ini telah lama dipraktekkan sejak Kemerdekaan
Republik Indonesia dengan berbagai pasang naik dan pasang surut tujuan yang
hendak dicapai melalui desentralisasi tersebut. Sampai saat ini, kita telah memiliki 7
(tujuh) UU yang mengatur pemerintahan daerah yaitu UU No. 1 Tahun 1945, UU No.
22 Tahun 1948, UU No. 1 Tahun 1957, UU No. 18 Tahun 1965, UU No. 5 Tahun
1974, UU No. 22 Tahun 1999 dan terakhir UU No. 32 Tahun 2004. Melalui berbagai
UU tersebut, penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia mengalami
berbagai pertumbuhan dan juga permasalahan. (Prasojo, Maksum dan Kurniawan,
2006)

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  14
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Pertumbuhan yang paling fenomenal dalam konteks penyelenggaraan


Desentralisasi di Indonesia terjadi pada saat diberlakukannya UU No. 22 Tahun 1999
tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian digantikan oleh UU No. 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dikatakan fenomenal mengingat semenjak
diberlakukannya, UU No. 22 Tahun 1999 ini telah menciptakan struktur negara yang
sangat desentralistis dan mampu memantik euphoria otonomi Propinsi dan
Kabupaten yang luar biasa besarnya (Wibawa, 2005).

Penyelenggaraan desentralisasi melalui UU No. 22 Tahun 1999 menurut


Prasojo (2003) diharapkan dapat memberikan sejumlah efek positif terhadap fungsi
pelayanan birokrasi di Daerah dengan sejumlah alasan: pertama, melalui
desentralisasi jalur birokrasi Pusat ke Daerah menjadi lebih singkat; kedua, proses
debirokratisasi negara melalui desentralisasi akan memperkuat basis participatory
democracy; ketiga, debirokratisasi negara akan meningkatkan kompetisi antar
Daerah; keempat, melalui kompetisi akan meningkatkan kesadaran dan
tanggungjawab birokrasi dalam pelayanan publik untuk mempercepat proses
pembangunan di daerah; serta kelima, desentralisasi akan menjadi struktur direktif
(pengarah) dalam penciptaan local good governance yaitu Pemerintahan Daerah
yang berbasis pada transparansi, akuntabilitas, participatory democracy dan rule of
law (Prasojo, 2003). Dengan kata lain menurut Prasojo (2003), implementasi elemen-
elemen dari good governance tersebut dapat dilakukan dengan efektif jika unit-unit
Desentralisasi menjadi motor dan katalisator pembangunan dan perubahan di Daerah.
Dengan demikian, desentralisasi politik dan dukungan Administrasi Publik lokal
menjadi salah satu instrumen penting dalam pengimplementasian good governance.
Hanya saja menurut Prasojo (2003), kondisi ini hanya dapat terjadi apabila
desentralisasi politik dapat dipahami sebagai instrumen demokrasi lokal dan
partisipasi masyarakat dan tidak hanya sekedar sebagai instrumen maksimalisasi
efisiensi pelayanan publik. Selain itu, upaya mewujudkan good governance tidak
bisa dilepaskan dari usaha mereformasi birokrasi (Prasojo, 2003). Dalam artian
menurut hemat penulis bagaimana mempersiapkan birokrasi yang telah ada untuk
dapat mendukung impelementasi dari prinsip-prinsip good governance tersebut.

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  15
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Efek positif dari desentralisasi politik dan reformasi birokrasi sebagai basis
penciptaan local good governance sebagaimana disebutkan di atas bukan tanpa
masalah. Ketidakmampuan Daerah secara personal dan finansial dapat menjadi
hambatan keberhasilan proses tersebut. Hal ini dapat terjadi jika proses transformasi
dari sistem yang sentralistis-hirarkhis menjadi desentralistis-partisipatif tidak
memiliki kejelasan peraturan pelaksanaan di lapangan. Sehingga dalam hal ini,
hukum harus menjadi dasar proses reformasi birokrasi untuk menuju good
governance. (Prasojo, 2003)

Faktor lainnya yang akan mempengaruhi implementasi desentralisasi menurut


Rondinelli (1983) adalah: (1) kuatnya dukungan politik dan administratif dari
Pemerintah Pusat; (2) pengaruh perilaku, tingkah laku dan budaya; (3) faktor-faktor
organisasi; (4) sumberdaya keuangan, manusia, dan fisik yang cukup dan memadai.

B.3. Masyarakat sipil dan peranannya dalam mendukung good governance

Masyarakat sipil dalam pandangan Thoha (2004) identik dengan masyarakat


madani dan dapat diartikan sebagai suatu lembaga yang ingin mendudukkan
supremasi sipil dalam tata kenegaraan. Dalam pengertian ini menurut Thoha,
masyarakat sipil merupakan suatu masyarakat yang citranya dapat digambarkan
sebagai praktik demokrasi yang nyata, dimana rakyat benar-benar hidup dalam
masyarakat demokratis dalam suasana dan iklim yang demokratis dan taat hukum.

Pandangan Thoha mengenai masyarakat sipil di atas, sejalan dengan


pandangan O’Connell (1999) yang menyatakan bahwa istilah masyarakat sipil lebih
luas daripada hanya sekedar sektor independen atau sukarela maupun beradab
(civility). Istilah masyarakat sipil merepresentasikan keseimbangan antara hak yang
diberikan kepada seorang individu dalam masyarakat yang bebas dengan
kewajibannya sebagai warga masyarakat untuk menjaga hak-hak tersebut.
Masyarakat sipil sendiri menurut O’Connell (1999) terdiri atas sejumlah komponen,
yakni: individu; komunitas; pemerintah; kelompok bisnis; dan organisasi sukarela.

Untuk dapat melaksanakan hak dan kewajibannya secara memadai, O’Connel


(1999) berpendapat bahwa masyarakat harus diyakinkan akan kebutuhan untuk
melaksanakan hak dan kewajibannya secara seimbang. Dalam konteks ini yang harus

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  16
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

dilakukan adalah membangunkan kesadaran masyarakat mengenai hal-hal yang


dapat dilakukannya untuk kebaikan bersama. Dalam bahasa yang lain, Thoha (2004)
mengatakan sebagai diperlukannya peletakan masyarakat madani pada posisi baik
secara konsepsual maupun operasional bisa berperan untuk memberdayakan
masyarakat.

Terkait dengan pemberdayaan masyarakat ini, Yang (2005) mengangkat isu


mengenai diperlukannya rasa saling percaya antara administrator publik dengan
warga masyarakat guna meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam
penyelenggaraan Administrasi Publik. Merujuk kepada pendapat Offe (1999),
kepercayaan memiliki 4 (empat) dimensi, yakni: (1) kepercayaan warga masyarakat
kepada sesama warga masyarakat; (2) kepercayaan masyarakat terhadap elit; (3)
kepercayaan elit politik terhadap sesama elit; serta (4) kepercayaan elit politik
terhadap warga masyarakat (Yang, 2005).

Selain daripada kepercayaan yang harus dibangun antara Administrator


Publik dengan masyarakat dan sebaliknya, terdapat sejumlah hal yang harus
diperhatikan dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mau
berpartisipasi dalam kegiatan pemerintahan. Hal ini menurut Mitchell (2005) terkait
dengan diperlukannya visi bersama dan sejumlah atribut lainnya guna terwujudnya
kemitraan yang efektif antara pemerintah dan masyarakat. Atribut tersebut adalah: (1)
kompatibilitas antar peserta berdasarkan kepercayaan dan penghargaan yang saling
menguntungkan; (2) keuntungan bagi semua mitra; (3) kesetaraan kekuatan dengan
mitra; (4) saluran komunikasi; (5) kemampuan beradaptasi; serta (6) keberadaan
integritas, kesabaran dan kemauan untuk menyelesaikan permasalahan.

Pada akhirnya, upaya penguatan terhadap kapasitas dari masyarakat untuk


dapat berpartisipasi sebagaimana diungkapkan di atas sejalan dengan modeal
CLEAR yang dikembangkan oleh Lowndes, Pratchett, and Stoker (2006)
sebagaimana dapat dilihat dalam tabel berikut:

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  17
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Tabel 4.: Faktor yang Mempromosikan Partisipasi: CLEAR

Faktor yang Cara bekerjanya Target kebijakan yang


mempengaruhi diinginkan
partisipasi

Can do (dapat Sumberdaya individual yang Peningkatan Kapasitas:


melakukan) dimiliki masyarakat untuk ukuran dukungan khusus
memobilisasi dan atau pengembangan target
mengorganisasikan (berbicara,
menulis, dan kemampuan teknis
lainnya, serta kepercayaan diri
untuk menggunakan kemampuan
tersebut) akan membuat kapasitas
yang berbeda dalam melakukan
partisipasi

Like to (ingin Agar berkomitmen untuk Kesadaran komunitas;


melakukan) berpartisipasi membutuhkan pelibatan masyarakat, modal
kesadaran untuk terlibat dalam sosial, dan citizenship
entitas publik yang menjadi fokus
keinginannya

Enabled to Infrastruktur kemasyarakatan dari Membangun infrastruktur


(mungkin untuk kelompok-kelompok dan kemasyarakatan sehingga
melakukan) organisasi payung dapat kelompok-kelompok dan
membuat perbedaan dalam organisasi di sekitarnya
berpartisipasi dikaitkan dengan dapat memfasilitasi
struktur kesempatan yang dibuat partisipasi
agar masyarakat dapat
berpartisipasi

Asked to (diminta Memobilisasi masyarakat untuk Skema bagi partisipasi


untuk melakukan) berpartisipasi dengan publik yang beragam,

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  18
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Faktor yang Cara bekerjanya Target kebijakan yang


mempengaruhi diinginkan
partisipasi

menanyakan input kepada menarik, dan refleksif


mereka dapat membuat
perbedaan besar dalam partisipasi

Responded to Ketika masyarakat yang ditanya Sistem pembuatan kebijakan


(tanggap untuk) menyatakan akan terlibat jika yang dapat menunjukkan
mereka didengar, tidak kapasitas untuk menanggapi
sepenuhnya setuju, tetapi mampu
melihat tanggapan

Sumber: Stoker (2004)

C. Konstruksi UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 32 Tahun 2004 dalam


Mewujudkan Good Governance melalui Peningkatan Peran Masyarakat Sipil

Merujuk kepada kerangka teori mengenai good governance, otonomi daerah,


dan peranan dari masyarakat sipil sebagaimana diungkapkan di atas, maka
perwujudan good governance dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah di
Indonesia akan sangat ditentukan oleh sejauhmana UU No. 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah yang kemudian digantikan oleh UU No. 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah memberikan akomodasi dan penjaminan bagi
terlaksananya prinsip-prinsip good governance seperti akuntabilitas, transparansi,
responsivitas, kesetaraan, efektivitas, aturan hukum, partisipasi, serta konsensus.

Dalam konteks tersebut, dari hasil penelusuran yang penulis lakukan terhadap
isi dari kedua UU tentang Pemerintahan Daerah tersebut ditemukan sejumlah
informasi sebagai berikut:

1. Konstruksi UU No. 22 Tahun 1999 dalam mewujudkan good governance

Apabila kita melihatnya dari dasar pertimbangan dikeluarkannya UU ini,


maka dapat dilihat adanya dukungan dari UU ini terhadap pelaksanaan dari good

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  19
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

governance sebagaimana dapat dilihat dalam konsideran huruf (b) dan huruf (c)
dimana prinsip-prinsip demokrasi dan peran serta masyarakat lebih ditekankan dalam
penyelenggaraan otonomi daerah. Hal ini ditegaskan kembali apabila kita melihat
penjelasan umum dari UU No. 22 Tahun 1999.

Namun demikian, apabila kita melihatnya dari isi pasal-pasalnya dan juga
penjelasan terhadap pasal-pasal tersebut, maka dapat dilihat betapa miskinnya
pengaturan yang ada dalam UU No. 22 Tahun 1999 dalam upaya mewujudkan good
governance dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah di Indonesia. Meskipun
ditegaskan dalam Pasal 1 huruf (h) dan (i) serta Pasal 4 ayat (1) bahwa aspirasi
masyarakat merupakan aspek yang harus dipertimbangkan dalam melaksanakan
otonomi daerah, pada kenyataannya hanya 1 pasal saja menurut hemat penulis yang
secara signifikan mengakomodir kepentingan ini, yakni Pasal 92 dan penjelasannya
yang mengatur mengenai kawasan perkotaan. Dalam pasal ini dengan tegas
dinyatakan bahwa Pemerintah Daerah perlu mengikutsertakan masyarakat dan pihak
swasta dalam penyelenggaraan pembangunan kawasan perkotaan. Pasal-pasal
lainnya tidak ada yang memberikan pengaturan yang signifikan terhadap pelaksanaan
prinsip-prinsip good governance tersebut.

2. Konstruksi UU No. 32 Tahun 2004 dalam mewujudkan good governance

Dibandingkan dengan UU sebelumnya, maka dapat dikatakan bahwa UU 32


Tahun 2004 memberikan peluang yang lebih besar dalam upaya mewujudkan good
governance dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah di Indonesia. Hal ini dapat
dilihat dari lebih banyaknya isi pada konsideran, pasal dan penjelasan yang ada
dalam UU tersebut yang dapat mengakomodir bagi penerapan prinsip-prinsip good
governance.

Dalam konsideran (a) misalnya ditegaskan bahwa Pemerintahan Daerah


diarahkan untuk mempercepat terwujudnya pemberdayaan dan peran serta
masyarakat dengan memperhatikan prinsip demokrasi.

Aturan lainnya yang dirasakan mendukung bagi penerapan good governance


adalah sebagaimana diatur dalam Pasal 20 mengenai Asas Umum Penyelenggaraan
Negara yang memasukkan sejumlah prinsip-prinsip good governance. Namun

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  20
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

demikian, yang dirasakan agak mengganggu dalam pengaturan ini adalah terlihat
kesan bahwa sejumlah asas penting seperti akuntabilitas hanya merujuk kepada
akuntabilitas internal yang berdasarkan hirarkhi dan bukan akuntabilitas kepada
masyarakat.

Sejumlah pasal lainnya yang menurut hemat penulis cukup signifikan dan
menjanjikan bagi terwujudnya good governance adalah sebagai berikut:

9 Pasal 22 huruf (c) yang mengatur kewajiban Daerah untuk mengembangkan


kehidupan berdemokrasi

9 Pasal 23 ayat (2) yang mengatur pengelolaan keuangan daerah secara efisien,
efektif, transparan, akuntabel, tertib, adil, patut dan taat pada peraturan
perundang-undangan

9 Pasal 27 ayat (2) yang mengatur kewajiban kepala daerah untuk


menginformasikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada
masyarakat

9 Sejumlah Pasal dalam pengaturan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang


mewajibkan transparansi dan pemberian sejumlah informasi kepada masyarakat

9 Pasal 126 ayat (3) huruf (a) dan Pasal 127 ayat (3) huruf (b) yang memasukan
tugas kegiatan pemberdayaan masyarakat sebagai tugas Camat dan Lurah

9 Pasal 138 ayat (1) dan Pasal 139 ayat (1) yang mengatur mengenai muatan
Peraturan Daerah (Perda) dan hak masyarakat untuk memberikan masukan secara
lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan Perda

9 Pasal 150 ayat (3) hurud (d) dan Pasal 151 ayat (2) yang memberikan peluang
partisipasi masyarakat dalam implementasi Rencana Kerja Pembangunan Daerah
(RKPD) dan Rencana Strategi-Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD)

9 Pasal 178 ayat (3) dan (4) yang mengatur penerapan asas transparansi dalam
pengadaan dan penghapusan barang dan jasa; serta

9 Pasal 199 ayat (6) yang mengatur kewajiban mengikutsertakan masyarakat


sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan
pembangunan dan pengelolaan kawasan perkotaan

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  21
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Berdasarkan informasi temuan di atas dapat terlihat bahwa sudah terdapat


sinyalemen positif bagi upaya mewujudkan good governance dalam
penyelenggaraan Pemerintahan Daerah di Indonesia, khususnya berdasarkan
pengaturan dalam UU No. 32 tahun 2004. Namun demikian, dapat pula dikatakan
bahwa pengaturan tersebut dalam banyak hal masih belum beranjak dari apa yang
disebut oleh Thoha (2004) sebagai Sarwa Negara. Artinya etos yang digunakan
dalam banyak hal masih berpijak kepada etos dari administrative state sebagaimana
diungkapkan Kirlin (1996) yang menempatkan administrator publik sebagai pusat
pembuatan dan pelaksanakan kebijakan dalam operasi birokrasi pemerintah, serta
memberikan administrator peran pengawasan yang tidak demokratis (Kathi dan
Cooper, 2005).

Dalam model administrative state tersebut, partisipasi warga masyarakat


diasumsikan sebagai berikut (Kathi dan Cooper, 2005):

9 Masyarakat sebagai pemilih, konstituen atau klien

9 Masyarakat sebagai kepentingan pribadi

9 Masyarakat tidak dapat menentukan kepentingan publik

9 Partisipasi masyarakat mengganggu jalannya administrasi

9 Kepentingan masyarakat direfleksikan melalui pemilu, perwakilan politik dan


hukum

9 Akuntabilitas administrator kepada politisi

9 Legitimasi administrasi melalui konsultasi

Pandangan penulis terkait temuan menyangkut konstruksi dari UU No. 22


Tahun 1999 dan UU No. 32 Tahun 2004 tersebut, sejalan dengan sejumlah hasil
temuan penelitian Yappika (2006) mengenai Pelaksanaan Desentralisasi di Indonesia
yang dilaksanakan di 15 (lima belas) daerah. Dalam penelitian ini, Yappika berusaha
untuk menjawab sejumlah masalah diantaranya mengenai apakah desentralisasi telah
mendorong terciptanya mekanisme dan sistem akuntabilitas pemerintah daerah
dilihat dari hak-hak dasar masyarakat dan nilai-nilai kesetaraan politik, akuntabilitas
lokal dan responsivitas lokal. Sejumlah temuan tersebut diantaranya adalah:

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  22
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

9 Dalam hubungannya dengan efektivitas pemerintahan, hubungan antara eksekutif


dan legislatif di daerah masih diwarnai oleh dominannya eksekutif dalam
penyusunan Anggaran Pembangunan dan Belanja Daerah (APBD).

9 Hubungan antara Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam pelaksanaan otonomi


daerah dicerminkan oleh dominasi pemerintah dalam proses perencanaan
pembangunan dan penganggaran. Seringkali masyarakat hanya dilibatkan pada
tahapan paling awal dari proses perencanaan program, dan selalu sulit untuk
memantau status aspirasi mereka di tingkat berikutnya, termasuk ketika telah
menjadi dokumen anggaran

9 Hubungan pemerintah dan masyarakat dalam pemanfaatan sumber daya alam


diwarnai oleh ketidaksetaraan antar komponen masyarakat

9 Dalam hubungannya dengan akses warganegara untuk memperoleh informasi, di


daerah-daerah penelitian tidak ditemukan Perda yang mengatur tentang jaminan
hukum bagi masyarakat untuk memperoleh akses informasi terhadap dokumen-
dokumen atau data-data penyelenggaraan pemerintahan

9 Dalam hubungannya dengan Pilkada akses informasi mengenai proses


penyaringan dan penetapan calon Kepala Daerah yang dilakukan partai politik
sangat sulit diperoleh karena prosesnya berlangsung secara tertutup

9 Proses penyelenggaraan pemerintahan pada dasarnya masih dipandang sebagai


eksklusif domain pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
yang harus dirahasiakan atau ditutupi keberadaannya dari akses publik

9 Sekalipun sarat dengan keterbatasan, kalangan eksekutif di daerah-daerah masih


mengasumsikan bahwa DPRD adalah satu-satunya representasi rakyat untuk
semua hal

9 Salah satu problem implementasi otonomi daerah adalah sedikitnya akses dan
kesempatan yang dimiliki oleh masyarakat untuk mempersoalkan kinerja
pemerintah daerah

9 Pada dasarnya gagasan bahwa pemerintah daerah akuntabel kepada warga


(konstituen)-nya tidak dikenal dalam sistem pemerintahan di Indonesia.

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  23
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Pemerintah Daerah hanya akuntabel terhadap pemerintah yang berada di atasnya


(Pemerintah Provinsi, Pemerintah Nasional) serta kepada DPRD

9 Tidak ada Pemerintah Daerah yang menerapkan prinsip untuk melakukan


konsultasi serta meminta persetujuan sebelumnya dari kelompok-kelompok
masyarakat, khususnya terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang secara
langsung akan terkena dampak dari proyek-proyek pembangunan yang akan
dijalankan pemerintah

D. Penutup

Sebagai penutup dari paper ini dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa dari
Perspektif UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 32 Tahun 2004, maka upaya
mewujudkan good governance dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah di
Indonesia masih harus menempuh jalan yang sangat panjang. Aturan yang ada masih
belum beranjak dari Sarwa Negara. Karenanya, diperlukan upaya dalam mereformasi
aturan-aturan yang ada terkait dengan penyelenggaraan Pemerintahan Daerah
tersebut. Upaya mereformasi aturan tersebut harus disertai dengan operasionalisasi-
nya serta penerapan sanksi tegas bagi Pemerintahan Daerah atau pihak-pihak lainnya
yang melanggar. Selain itu, perlu dilakukan upaya-upaya yang terencana dan
sistematis dalam mempersiapkan masyarakat sipil yang mampu mendorong
terwujudnya good governance di Indonesia.

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  24
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

E. Daftar Kepustakaan

BAPPENAS, 2002, Public Good Governance: Sebuah Paparan Singkat, Jakarta:


Sekretariat Pengembangan Public Good Governance BAPPENAS

Bovaird, Tony and Elke Loffler (Eds.), 2003, Public Management and Governance,
New York: Routledge

Denhardt, Robert B and Janet Vinzant Denhardt, 2000, “The New Public Service:
Serving Rather than Steering”, Public Administration Review, Vol. 60, No. 6,
pp. 549-559

Denhardt, Janet V and Robert B Denhardt, 2003, The New Public Service: Serving,
Not Steering, Armong NY: M. E. Sharpe

Ewalt, Jop Ann G, 2001, “Theories of Governance and New Public Management:
Links to Understanding Welfare Policy Implementation”, paper prepared for
presentation at the Annual Conference of the American Society for Public
Administration, Available Online:
http://unpan1.un.org/intradoc/groups/public/documents/ASPA/UNPAN00056
3.pdf [6 November 2006]

Kathi, Pradeep Chandra and Terry L. Cooper, 2005, “Democratizing the


Administrative State: Connecting Neighborhood Councils and City
Agencies”, Public Administration Review, Vol. 65, No. 5, pp 559-567

Kurniawan, Teguh, 2006, “Hambatan dan Tantangan dalam Mewujudkan Good


Governance melalui Penerapan E-Government di Indonesia”, Paper
dipresentasikan dalam Konferensi Nasional Sistem Informasi 2006, Jurusan
Teknologi Informasi Universitas Pasundan dan Departemen Teknologi
Informasi Institut Teknologi Bandung, Bandung 18 Februari 2006.
Dipublikasikan dalam Prosiding Konferensi Nasional Sistem Informasi 2006,
Bandung: Penerbit Informatika

Kurniawan, Teguh, 2006, “Pergeseran Paradigma Administrasi Publik: Dari Perilaku


Model Klasik dan NPM ke Good Governance”, Paper tidak dipublikasikan,
dibuat dalam memenuhi Tugas Mata Kuliah Good Governance dalam

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  25
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Program Doktor Ilmu Administrasi Negara, Sekolah Pascasarjana,


Universitas Gadjah Mada

Meehan, Elizabeth, 2003, “From Government to Governance, Civic Participation and


‘New Politics’; the Context of Potential Opportunities for the Better
Representation of Women”, Occasional Paper, No. 5, Centre for
Advancement of Women in Politics, School of Politics and International
Studies, Quuen’s University, Available Online:
http://www.qub.ac.uk/cawp/research/meehan.pdf [6 November 2006]

Mitchell, Bruce, 2005, “Participatory Partnerships: Engaging and Empowering to


Enhance Environmental Management and Quality of Life?”, Social
Indicators Research, Vol. 71, pp. 123-144

O’Connell, Brian, 1999, Civil Society: The Underpinnings of American Democracy,


London: Tuffs University

Plumptre, Tim and John Graham, 1999, “Governance and Good Governance:
International and Aboriginal Perspectives”, Institute on Governance,
Available Online: http://www.iog.ca/publications/govgoodgov.pdf [6
November 2006]

Prasojo, Eko, 2003, “Agenda Politik dan Pemerintahan di Indonesia: Desentralisasi


Politik, Reformasi Birokrasi dan Good Governance”, Bisnis & Birokrasi, Vol.
XI, No.1, Januari

Prasojo, Eko, Teguh Kurniawan dan Azwar Hasan, 2004, Reformasi Birokrasi dalam
Praktek: Kasus di Kabupaten Jembrana, Depok: Pusat Kajian Pembangunan
Administrasi Daerah dan Kota

Prasojo, Eko, Irfan Ridwan Maksum and Teguh Kurniawan, 2006, Desentralisasi &
Pemerintahan Daerah: Antara Model Demokrasi Lokal dan Efisiensi
Struktural, Depok: Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI

Rondinelli, Denis A, 1983, “Implementing decentralization programmes in Asia: a


comparative analysis”, Public Administration and Development, Vol. 3, pp.
181-207

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  26
The 1st Accounting Conference 
Faculty of Economics Universitas Indonesia 
Depok, 7‐9 November 2007 
 

Salomo, Roy, 2002, “E-Government: Suatu Inovasi dalam Kerangka Good


Governance”, Bisnis & Birokrasi, Vol. X, No.2, Mei

Schwab, B and D Kubler, 2001, “Metropolitan Governance and the ‘democratic


deficit’: Theoretical Issues and Empirical Findings”, Paper in Conference
Area-based initiatives in contemporary urban policy, Copenhagen, May 2001,
Available Online:
http://www.sbi.dk/eura/workshops/papers/workshop2/schwab.pdf [17
Januari 2006]

Stoker, Gerry, 2004, “New Localism, Participation and Networked Community


Governance”, Available Online: http://www.ipeg.org.uk/docs/ngcnewloc.pdf
[6 November 2006]

Tamin, Feisal, 2002, “Pengembangan SDM Aparatur dalam Meningkatkan Kinerja


Birokrasi”, Bisnis & Birokrasi, Vol. X, No.2, Mei

Thoha, Miftah, 2004, Birokrasi dan Politik di Indonesia, Jakarta: RajaGrafindo


Persada

Wibawa, Samodra, 2005, Peluang Penerapan New Public Management untuk


Kabupaten di Indonesia, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Yang, Kaifeng, 2005, “Public Administrators’ Trust in Citizens: A Missing Link in


Citizen Involvement Efforts”, Public Administration Review, Vol. 65, No. 3,
pp 273-285

Yappika, 2006, “Penelitian Pelaksanaan Desentralisasi di Indonesia”, Laporan


Penelitian, Jakarta: Yappika

Bridging the Gap between Theory, Research, and Practice  27

Beri Nilai