Anda di halaman 1dari 38

BAB 8

PERMASALAHAN KESEHATAN KOMUNITAS

8.1. Tinjauan Teori Kesehatan


Berdasarkan teori Lalonde M (1974) bahwa bidang kesehatan dapat

dipecah menjadi empat elemen besar: Human Biology, Environment,

Lifestyle, dan Health Care Organization. Keempat elemen ini diidentifikasi

melalui pemeriksaan penyebab dan faktor yang mendasari penyakit dan

kematian di Kanada, dan dari penilaian bagian-bagian yang dimainkan

unsur-unsur tersebut dalam mempengaruhi tingkat kesehatan di Kanada.

1) Human Biology

Elemen human biology mencakup semua aspek kesehatan, baik fisik

maupun mental, yang dikembangkan dalam tubuh manusia sebagai

konsekuensi dari biologi dasar manusia dan susunan organik individu.

Elemen ini termasuk warisan genetik individu, proses pematangan dan

penuaan, dan banyak sistem internal yang kompleks dalam tubuh, seperti

kerangka, saraf, otot, kardiovaskular, endokrin, pencernaan dan sebagainya.

Tubuh manusia adalah organisme yang sangat rumit, implikasi kesehatan

dari biologi manusia sangat banyak, beragam dan serius, dan hal-hal yang

dapat salah dengannya sangat banyak. Elemen ini berkontribusi pada semua

jenis kesehatan yang buruk dan kematian, termasuk banyak penyakit kronis

(seperti radang sendi, diabetes, athero-sclerosis, kanker) dan lainnya

(kelainan genetik, kelainan bentuk bawaan, keterbelakangan mental).

Masalah kesehatan yang berasal dari biologi manusia menyebabkan

kesengsaraan yang tak terhitung dan menelan biaya miliaran dolar dalam

layanan perawatan (Lalonde M, 1974).

156
2) Environment

Kategori environment atau lingkungan mencakup semua hal yang

berhubungan dengan kesehatan yang berada di luar tubuh manusia dan di

mana individu memiliki sedikit atau tidak ada kontrol. Individu tidak dapat,

dengan sendirinya, memastikan bahwa makanan, obat-obatan, kosmetik,

peralatan, persediaan air, dan lain- lain. Aman dan tidak terkontaminasi;

bahwa bahaya kesehatan dari polusi udara, air dan kebisingan dikendalikan;

bahwa penyebaran penyakit menular dapat dicegah; bahwa pembuangan

sampah dan limbah yang efektif dilakukan; dan bahwa lingkungan sosial,

termasuk perubahan yang cepat di dalamnya, tidak memiliki efek berbahaya

pada kesehatan (Lalonde M, 1974).

3) Lifestyle

Kategori lifestyle, dalam Konsep Bidang Kesehatan, terdiri dari

agregasi keputusan oleh individu yang melindungi kesehatan mereka dan

bahkan lebih banyak yang memiliki kendali. Pentingnya kategori

LIFESTYLE telah diuraikan pada bagian tentang Keterbatasan Pandangan

Tradisional. Keputusan dan kebiasaan pribadi yang buruk, dari sudut

pandang kesehatan, menciptakan risiko yang dibebankan sendiri. Ketika

risiko-risiko itu berakibat pada penyakit atau kematian, gaya hidup korban

dapat dikatakan telah berkontribusi pada, atau menyebabkan, penyakit atau

kematiannya sendiri (Lalonde M, 1974).

4) Health Care Organization

Kategori keempat adalah Konsep health care organization, yang

terdiri dari kuantitas, kualitas, pengaturan, sifat dan hubungan orang-orang

157
dan sumber daya dalam penyediaan perawatan kesehatan. Ini termasuk

praktik medis, keperawatan, rumah sakit, panti jompo, obat-obatan medis,

layanan kesehatan masyarakat dan masyarakat, ambulans, perawatan gigi

dan layanan kesehatan lainnya seperti optometri, chiropraktik dan podiatri.

Elemen keempat ini adalah apa yang secara umum didefinisikan sebagai

sistem perawatan kesehatan. (Lalonde M, 1974)

Menurut Hendrik L Blum (1981) ada 4 faktor yang mempengaruhi

status derajat kesehatan masyarakat atau perorangan (Duarsa A B S, 2009).

Faktor-faktor penentu adalah:

• Faktor lingkungan

• Gaya hidup atau cara hidup individu

• Faktor genetik

• Sistem perawatan kesehatan

Diperkirakan bahwa 50% status kesehatan kita ditentukan oleh gaya

hidup, 20% oleh faktor lingkungan, 20% oleh kecenderungan genetik dan

10% oleh sistem perawatan medis (Follér M, 1992). Faktor-faktor tersebut

dapat digambarkan sebagai berikut:

1. Lingkungan

Lingkungan memiliki pengaruh yang dan peranan terbesar diikuti

perilaku, fasilitas kesehatan dan keturunan. Lingkungan sangat bervariasi,

umumnya digolongkan menjadi tiga kategori, yaitu yang berhubungan

dengan aspek fisik dan sosiokultural. Lingkungan yang berhubungan

dengan aspek fisik contohnya sampah, air, udara, tanah, ilkim, perumahan,

dan sebagainya. Sedangkan lingkungan sosiokultural merupakan hasil

158
interaksi antar manusia seperti kebudayaan, pendidikan, ekonomi, dan

sebagainya (H.L Blum, 1981).

2. Perilaku

Perilaku merupakan faktor kedua yang mempengaruhi derajat

kesehatan masyarakat karena sehat atau tidak sehatnya lingkungan

kesehatan individu, keluarga dan masyarakat sangat tergantung pada

perilaku manusia itu sendiri, seperti sikap dan gaya hidup (H.L Blum,

1981).

8. Pelayanan kesehatan

Pelayanan kesehatan merupakan faktor ketiga yang mempengaruhi

derajat kesehatan masyarakat karena keberadaan fasilitas kesehatan sangat

menentukan dalam pelayanan pemulihan kesehatan, pencegahan terhadap

penyakit, pengobatan dan keperawatan serta kelompok dan masyarakat

yang memerlukan pelayanan kesehatan. Ketersediaan fasilitas dipengaruhi

oleh lokasi, apakah dapat dijangkau atau tidak. Yang kedua adalah tenaga

kesehatan pemberi pelayanan, informasi dan motivasi masyarakat untuk

mendatangi fasilitas dalam memperoleh pelayanan serta program pelayanan

kesehatan itu sendiri apakah sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang

memerlukan (H.L Blum, 1981).

4. Keturunan

Keturunan (genetik) merupakan faktor yang telah ada dalam diri

manusia yang dibawa sejak lahir, misalnya dari golongan penyakit

keturunan seperti diabetes melitus dan asma bronchial (H.L Blum, 1981).

159
Gambar 8.1 Diagram Status Kesehatan (Duarsa A B S, 2009)

Hendrik L Blum juga menyebutkan 12 indikator yang berhubungan

dengan derajat kesehatan, yaitu :

1. Life span: yaitu lamanya usia harapan untuk hidup dari masyarakat,

atau dapat juga dipandang sebagai derajat kematian masyarakat yang

bukan karena mati tua.

2. Disease or infirmity: yaitu keadaan sakit atau cacat secara fisiologis

dan anatomis dari masyarakat.

3. Discomfort or ilness: yaitu keluhan sakit dari masyarakat tentang

keadaan somatik, kejiwaan maupun sosial dari dirinya.

4. Disability or incapacity: yaitu ketidakmampuan seseorang dalam

masyarakat untuk melakukan pekerjaan dan menjalankan peranan

sosialnya karena sakit.

160
5. Participation in health care: yaitu kemampuan dan kemauan

masyarakat untuk berpartisipasi dalam menjaga dirinya untuk selalu

dalam keadaan sehat.

6. Health behaviour: yaitu perilaku manusia yang nyata dari anggota

masyarakat secara langsung berkaitan dengan masalah kesehatan.

7. Ecologic behaviour: yaitu perilaku masyarakat terhadap lingkungan,

spesies lain, sumber daya alam, dan ekosistem.

8. Social behaviour: yaitu perilaku anggota masyarakat terhadap

sesamanya, keluarga, komunitas dan bangsanya.

9. Interpersonal relationship: yaitu kualitas komunikasi anggota

masyarakat terhadap sesamanya.

10. Reserve or positive health: yaitu daya tahan anggota masyarakat

terhadap penyakit atau kapasitas anggota masyarakat dalam

menghadapi tekanan-tekanan somatik, kejiwaan, dan sosial.

11. External satisfaction: yaitu rasa kepuasan anggota masyarakat

terhadap lingkungan sosialnya meliputi rumah, sekolah, pekerjaan,

rekreasi, transportasi.

12. Internal satisfaction: yaitu kepuasan anggota masyarakat terhadap

seluruh aspek kehidupan dirinya sendiri

161
Contoh :

Tabel 8.1 Lembar Kerja 2

KESEHATAN IBU
NO. PERMASALAHAN KOMENTAR
1. K1, K4 (Kesenjangan 1. Faktor Psikobiologi
 - 5,88%, -13,73%)  Mayoritas ibu hamil yang mendekati waktu
persalinan lebih memilih tinggal dengan orang tua
dan ANC berpindah tempat sehingga cakupan data
di Puskesmas menjadi berkurang.
 Mayoritas ibu memiliki pengetahuan dan sikap
yang kurang mengenai ANC sehingga perilaku dan
kesadaran dalam melakukan ANC menjadi kurang.
2. Faktor Lingkungan / Environtment
 Mayoritas keluarga / suami dari ibu hamil bekerja
saat pagi hari sehingga tidak ada waktu mengantar
untuk kunjungan ANC saat pagi hari di puskesmas
atau puskesmas pembantu sehingga lebih ke dokter
spesialis saat malam hari.
3. Faktor Tenaga Kesehatan
 Rendahnya komunikasi dari tenaga kesehatan
tentang pentingnya ANC terutama trimester
pertama dan ketiga sehingga rendahnya cakupan
ANC.
 Banyak tenaga kesehatan yang baru sehingga
pengalaman untuk melakukan ANC pada ibu hamil
kurang.
4. Faktor Perilaku/Life style
 Mayoritas ibu hamil bekerja saat pagi hari dan
memilih kontrol atau ANC ke dokter atau bidan
praktek pribadi saat sore atau malam hari sehingga
tidak tercatat dalam Puskesmas.
Sumber : Laporan Diakom Kelurahan X 2018

8.2. Faktor Pendukung dan Penghambat

Faktor-faktor yang mendukung kemungkinan adanya suatu

perubahan yang signifikan terjadi (PMK No. 44 tahun 2016).

1. Faktor yang dapat mendorong perubahan yang signifikan kearah

yang lebih baik :

162
• Penerapan kepemimpinan yang mampu membangun kerja sama

dalam tim, mendorong partisipasi serta mengembangkan

kemampuan bekerja profesional yang penuh tanggung jawab

(intellectual happiness / bekerja bukan karena mengharapkan

sesuatu atau karena takut terkena konsekuensi/sanksi) dalam diri

masingmasing petugas.

• Kemampuan memanfaatkan data dan informasi, untuk pengambilan

keputusan dan melakukan tindakan tepat dan koreksinya.

• Kemampuan untuk melihat hubungan masalah antara satu program

dengan program lainnya, atau antara masalah utama dengan faktor

penyebab dan latar belakangnya masing-masing, agar strategi dan

langkah penyelesaiannya dapat dirumuskan secara tepat, berurutan

sesuai dengan prioritas secara terpadu dalam Tim kerja (Team

Work). Permasalahan di suatu program bisa saja terjadi

akibat/dampak dari program lainnya, sehingga yang harus

diselesaikan masalahnya lebih dahulu adalah program sebagai

penyebab.

• Kemampuan merumuskan strategi dan langkahlangkah

mewujudkannya dengan baik dan berkualitas.

• Kemampuan mengelola sumber daya dan mengembangkan

potensinya sehingga dapat dimanfaatkan secara optimal, termasuk

tenaga kesehatan yang tersedia.

• Dukungan yang diperoleh dari dinas kesehatan kabupaten/kota, dan

lintas sektor.

163
• Ketepatan membuat pemetaan masyarakat untuk mendapat dan

memilih mitra masyarakat yang dapat difungsikan dalam

penggerakan peran serta.

• Kemampuan menghadapi kondisi dan situasi matra yang dihadapi

masyarakat, yaitu kondisi dimana seseorang/individu dan/atau

masyarakat berada dalam lingkungan kehidupan yang

berubah/berbeda secara bermakna dari kondisi lingkungan

kesehariannya, seperti pada saat bencana, situasi konflik dan

sebagainya. Puskesmas harus dapat mengupayakan agar individu

dan atau masyarakat tahu mengenali, mau dan mampu

mempersiapkan dan menyesuaikan dirinya terhadap kondisi/situasi

lingkungan matra dan yang berdampak terhadap kesehatan.

2. Faktor yang dapat menyebabkan perubahan signifikan kearah yang

buruk, seperti (PMK No. 44 tahun 2016):

• Kurang mampunya kepala Puskesmas dalam menggerakkan staf

untuk menjalankan peran, tugas dan fungsinya masing-masing.

• Kurang mampu memanfaatkan data/informasi untuk mengantisipasi

risiko, yang dapat berdampak buruk kesehatan masyarakat.

• Kurang memperhatikan atau “melalaikan” temuan masalah

kesehatan ataupun kesenjangan pencapaian kinerja dan tidak

melakukan tindakan koreksi (corrective action). Hal ini

mengakibatkan sewaktu-waktu dapat terjadi Outbreak/Kejadian

Luar Biasa, yang akan berpengaruh signifikan terhadap kesehatan

masyarakat.

164
• Ketidakmampuan mengatasi kondisi matra sehingga dapat

berdampak buruk pada masyarakat.

Kemampuan Puskesmas di dalam mengidentifikasi adanya

perubahan-perubahan signifikan yang dapat diketahui penyebab dan latar

belakangnya, membuat Puskesmas dapat:

• Memanfaatkan pengalaman untuk perubahan signifikan kearah yang

baik, dalam memperluas perbaikan-perbaikan pelayanan kesehatan

lainnya yang dinilai masih perlu untuk ditingkatkan.

• Melakukan langkah-langkah perbaikannya dan mewaspadai temuan

berikutnya, agar perubahan menuju kearah yang buruk, dapat

dicegah sedini mungkin (PMK No. 44 tahun 2016).

Analisis masalah dari sisi pandang masyarakat, yang dilakukan

melalui Survey Mawas Diri/Community Self Survey (SMD/CSS), Survei

Mawas Diri adalah kegiatan untuk mengenali keadaan dan masalah yang

dihadapi masyarakat, serta potensi yang dimiliki masyarakat untuk

mengatasi masalah tersebut. Potensi yang dimiliki antara lain ketersediaan

sumber daya, serta peluang-peluang yang dapat dimobilisasi. Hal ini

penting untuk diidentifikasi oleh masyarakat sendiri, agar selanjutnya

masyarakat dapat digerakkan untuk berperan serta aktif memperkuat upaya-

upaya perbaikannya, sesuai batas kewenangannya (PMK No. 44 tahun

2016).

Tahapannya dimulai dari pengumpulan data primer dan data

sekunder, pengolahan dan penyajian data masalah dan potensi yang ada dan

membangun kesepakatan bersama masyarakat dan kepala desa/kelurahan,

165
untuk bersama-sama mengatasi masalah kesehatan di masyarakat(PMK No.

44 tahun 2016).

Instrumen SMD/CSS disusun Puskesmas sesuai masalah yang

dihadapi dan masalah yang akan ditanggulangi Puskesmas. Instrumen yang

disusun mencakup format pendataan yang dilakukan wakil masyarakat yang

dapat mengidentifikasi masalah kesehatan masyarakat dan dapat memberi

informasi tentang (PMK No. 44 tahun 2016) :

• Kepemilikan Kartu Menuju Sehat (KMS) balita

• Status imunisasi dan status gizi balita

• Kondisi lingkungan permukiman/rumah tempat tinggal

• Kondisi rumah, ketersediaan air bersih layak konsumsi, cakupan

jamban sehat, Sarana Pembuangan Air Limbah (SPAL) di rumah

tangga

• Perawatan balita sehat dan sakit

• Upaya pemenuhan kebutuhan kesehatan balita (tumbuh kembang,

gizi seimbang, imunisasi, Manajemen Terpadu Balita Sakit

(MTBS), dll)

• Peranan keluarga dalam pemanfaatan pelayanan kesehatan di Upaya

Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM)

• Peranan keluarga pada kegiatan UKBM

• Pertanyaan lain yang dianggap perlu untuk mengetahui

permasalahan yang dihadapi masyarakat.

166
METODE MANUSIA
PELAYANAN NIFAS
DIBAWAH TARGET

2Rendahnya cakupan KB post partum

3 Kurang kerjasama lintas sektor dalam


pendataan
Kurangnya kerjasama dengan jejaring di
wilayah kerja Puskesmas
1

Ada kelp masyarakat yg sulit


Tablet Vit A dosis tinggi dijangkau
tidak tersedia di BPM dan 4
RS
6
Jml persalinan di Puskesmas dari
Penduduk wily relatif sedikit

5
ALAT
BAHAN
LINGKUNGAN

Gambar 8.2 Fishbone Analisis Capaian Kinerja UKM Program Kesehatan


Ibu dan Anak (KIA)
Sumber : Analisis Capaian Kinerja UKM Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Puskesmas X Tahun 2017

Dalam literature (Jane, 1997) Pemeriksaan komite tentang masalah

yang berkaitan dengan peningkatan kesehatan masyarakat dan pemantauan

kinerja mencerminkan asumsi yang mendasarinya pada beberapa masalah.

Didapatkan beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu :

• Penggunaan sumber daya terbatas secara efektif

167
Sumber daya terbatas, lama menjadi faktor di sebagian besar sektor

publik dan semakin menjadi perhatian di sektor swasta, membuatnya perlu

untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya

tersebut. Artinya, sumber daya harus digunakan untuk tujuan yang sesuai

dan dengan cara yang secara efisien mempromosikan hasil yang diinginkan.

Proses peningkatan kesehatan yang digariskan oleh komite akan

memberikan perspektif yang luas untuk memandu dan menilai penggunaan

sumber daya di masyarakat. Proses ini dan elemen-elemen pemantauan

kinerjanya dapat berkontribusi pada efisiensi dan efektivitas dengan

memberikan informasi tentang apa yang sedang dilakukan di masyarakat,

sektor apa yang diambil masyarakat, dan apa dampaknya pada status

kesehatan masyarakat. (Jane, 1997)

• Model konseptual dari faktor penentu kesehatan

Komite percaya bahwa proses peningkatan kesehatan dan

komponen pemantauan kinerjanya akan lebih efektif jika didasarkan pada

model konseptual yang dapat membingkai faktor-faktor yang saling

berinteraksi yang berkontribusi pada kesehatan masyarakat dan dapat

mengarahkan perhatian untuk berbagai tindakan yang dapat diharapkan

untuk meningkatkan kesehatan.

• Tanggung jawab bersama di antara para pemangku kepentingan

yang beragam

Yang mendasar dari pekerjaan komite adalah pengakuan bahwa

sejumlah besar individu dan organisasi harus mengakui dan menerima

bahwa mereka memiliki peran bersama dan saling bergantung dalam

168
kesehatan masyarakat. Tindakan di banyak sektor masyarakat, tidak hanya

perbaikan dalam kesehatan masyarakat atau sistem pemberian layanan

kesehatan, akan diperlukan, dan tidak ada satu kelompok pun yang dapat

berhasil mengatasi masalah kesehatan di seluruh masyarakat saja.

Inklusivitas luas di antara para pemangku kepentingan harus menjadi titik

awal dalam pendekatan masyarakat terhadap proses peningkatan kesehatan,

tetapi mungkin harus diseimbangkan dengan harapan untuk keterlibatan

yang lebih selektif dengan masalah kesehatan tertentu. Meskipun

penerimaan tanggung jawab bersama merupakan elemen penting dari

kerangka kerja komite, banyak komunitas mungkin merasa sulit untuk

membangun lingkungan kolaboratif yang cukup. Pasti juga ada kemauan

untuk bertindak. Motivasi untuk bertindak dapat berasal dari sumber-

sumber seperti niat baik, kepentingan pribadi, regulasi, atau kombinasi dari

semuanya. (Jane, 1997)

• Kepercayaan dan kesetaraan

Dengan mendokumentasikan tindakan dan hasil, pemantauan

kinerja dapat mendukung peningkatan kepercayaan publik bahwa "sistem"

berfungsi. Hal ini juga dapat, sebagai bagian dari proses peningkatan

kesehatan yang lebih luas, memandu tindakan masyarakat menuju

meminimalkan perbedaan besar dalam status kesehatan di antara

subpopulasi untuk mempromosikan kesetaraan yang lebih besar dalam

kesehatan di seluruh masyarakat. (Jane, 1997)

Pada dasarnya faktor pendukung dan penghambat yang dijabarkan

dinilai pada tiap permasalahan yang diangkat. Sebagai contoh pada

169
pembuatan diagnose komunitas yang kami angkat sebagai faktor pendukung

dan penghambat kami ambil dari faktor yang mempengaruhi terjadinya

permasalahan tersebut.

Contoh :

Tabel 8.2 Lembar Kerja 3


NO FAKTOR PENDUKUNG KOMENTAR
Kesehatan Ibu
1.  Jumlah bidan 4 orang - Tenaga kesehatan dan kader kesehatan
 Kader kesehatan aktif 75 orang aktif disertai jumlah posyandu dalam
 Jumlah posyandu 15 buah pemberian informasi mengenai pemberian
 Puskesmas induk adalah tablet Fe pada kehamilan
puskesmas PONED (Pelayanan - Puskesmas induk sebagai puskesmas
Obastetric Neonatus Emergency PONED yang berada d wilayah
Dasar) yang dilengkapi rawat Kelurahan X ini sangat mendukung
inap dan ambulans terhadap program kesehatan ibu dan anak
 Lokasi puskesmas induk berada sehingga mempermudah pemberian
di wailayah kelurahan X informasi mengenai pentingnya
 Sarana transportasi mudah pemberian tablet Fe pada saat kehamilan.
menjangkau puskesmas - Letak dari Puskesmas induk yang berada
di wilayah Kelurahan X mendukung
pemberian informasi mengenai pemberian
tablet Fe serta sarana transportasi yang
mudah dijangkau
Sumber : Laporan Diagnosis Komunitas Kelurahan X 2018

Tabel 8.3 Faktor Penghambat

NO FAKTOR PENGHAMBAT KOMENTAR


Kesehatan Ibu
1.  Tingkat dari pendidikan ibu  Kurangnya pengetahuan dan kesadaran ibu
yang rendah. hamil tentang kunjungan ke pelayanan
 Tingkat pengetahuan dan kesehatan sehingga mengakibatkan angka
pemahaman ibu hamil yang kunjungan ibu hamil yang rendah.
rendah  Kurangnya penyuluhan tenaga kesehatan
 Kurangnya para tenaga tentang pentingnya memantau kehamilan
kesehatan. dengan melakukan pemeriksaan ANC
 Masih kurangnya tenaga secara rutin minimal 4 kali selama
kesehatan dan kader yang secara kehamilan.
aktif dalam melakukan upaya  Kurangnya pengetahuan ibu tentang faktor
resiko yang dapat terjadi saat hamil

170
promosi dan preventif  Kurangnya tenaga kesehatan yang tersedia,
kesehatan kepada ibu hamil sehingga upaya promotif dan preventif
 Kurangnya dukungan dari maupun upaya untuk meningkatkan
keluarga dalam memotivasi ibu kesehatan dan kesejahteraan ibu dengan
untuk melakukan pemeriksaan kunjungan rutin selama kehamilan tidak
kehamilannya maksimal.
 Dengan adanya kader seharusnya keluarga
dan masyarakat juga termotivasi dan selalu
memberikan dukungan kepada ibu hamil
untuk senantiasa melakukan pemeriksaan
ANC
Sumber : Laporan Diagnosis Komunitas Kelurahan X 2018

8.3. Penilaian Prioritas Permasalahan

Mengingat adanya keterbatasan kemampuan dalam mengatasi

masalah, ketidak tersediaan teknologi yang memadai atau adanya

keterkaitan satu masalah dengan masalah lainnya, maka perlu dipilih

masalah prioritas dengan jalan kesepakatan tim. Bila tidak dicapai

kesepakatan dapat ditempuh dengan menggunakan kriteria lain. Dalam

penetapan urutan prioritas masalah dapat mempergunakan berbagai macam

metode seperti metode USG (Urgency, Seriousness, Growth) dan

sebagainya. (PMK No. 44 tahun 2016)

Metode USG :

Urgency, Seriousness, Growth (USG) adalah salah satu alat untuk

menyusun urutan prioritas isu yang harus diselesaikan. Caranya dengan

menentukan tingkat urgensi, keseriusan, dan perkembangan isu dengan

menentukan skala nilai 1 – 5 atau 1 – 10. Isu yang memiliki total skor

tertinggi merupakan isu prioritas. Untuk lebih jelasnya, dapat diuraikan

sebagai berikut(PMK No. 44 tahun 2016):

(1) Urgency :

171
Seberapa mendesak isu tersebut harus dibahas dikaitkan dengan

waktu yang tersedia dan seberapa keras tekanan waktu tersebut untuk

memecahkan masalah yang menyebabkan isu tadi. Urgency dilihat dari

tersedianya waktu, mendesak atau tidak masalah tersebut diselesaikan(PMK

No. 44 tahun 2016).

(2) Seriousness :

Seberapa serius isu tersebut perlu dibahas dikaitkan dengan akibat

yang timbul dengan penundaan pemecahan masalah yang menimbulkan isu

tersebut atau akibat yang menimbulkan masalah-masalah lain kalau masalah

penyebab isu tidak dipecahkan. Perlu dimengerti bahwa dalam keadaan

yang sama, suatu masalah yang dapat menimbulkan masalah lain adalah

lebih serius bila dibandingkan dengan suatu masalah lain yang berdiri

sendiri. Seriousness dilihat dari dampak masalah tersebut terhadap

produktifitas kerja, pengaruh terhadap keberhasilan, dan membahayakan

sistem atau tidak(PMK No. 44 tahun 2016).

(3) Growth :

Seberapa kemungkinannya isu tersebut menjadi berkembang

dikaitkan kemungkinan masalah penyebab isu akan makin memburuk kalau

dibiarkan(PMK No. 44 tahun 2016).

Data atau informasi yang dibutuhkan dalam pelaksanaan metode

USG, yakni sebagai berikut(PMK No. 44 tahun 2016):

a. Hasil analisa situasi

b. Informasi tentang sumber daya yang dimiliki

172
c. Dokumen tentang perundang-undangan, peraturan, serta

kebijakan pemerintah yang berlaku.

Tabel 8.4 Contoh Matriks Pemecahan Masalah Dengan Metode USG


NO PERMASALAHAN U S G Total
1 Masalah A 5 3 3 11
2 Masalah B 4 4 4 12
3 Masalah C 3 5 5 13
Keterangan: berdasarkan skala likert 1-5 (5=sangat besar, 4=besar,
3=sedang, 2=kecil, 1=sangat kecil). Atas dasar contoh tersebut maka isu
yang merupakan prioritas adalah Isu C. (PMK No. 44 tahun 2016)

Tabel 8.5 Contoh Matriks Pemecahan Masalah Dengan Metode USG Puskesmas X.
Nilai Nilai
No Kriteria U S G Total Ranking
1 Kurangnya kerjasama linsek dalam 1 2 2 5 V
pendataan
2 Rendahnya cakupan KB post partum 5 4 5 14 II
3 Kurangnya kerjasama dengan jejaring 5 5 5 15 I
di wilayah kerja Puskesmas
4 Ada kelp masyarakat yg sulit 2 1 1 4 VI
dijangkau
5 Jml persalinan di Puskesmas dari 4 3 4 11 III
Penduduk wily relatif sedikit
6 Tablet Vit A dosis tinggi tidak tersedia 3 4 3 10 IV
di BPM dan RS
Sumber : Analisis Capaian Kinerja UKM Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Puskesmas X Tahun 2017

Berdasarkan tabel USG di atas, maka yang menjadi prioritas masalah :

1. Kurangnya kerjasama dengan jejaring

2. Rendahnya cakupan KB post partum

173
3. Jumlah persalinan di Puskesmas dari penduduk dalam wilayah relatif

sedikit

4. Tablet Vit A dosis tinggi tidak tersedia di BPM dan RS

5. Kurangnya kerjasama linsek dalam pendataan

6. Ada kelompok masyarakat yang sulit dijangkau

Rencana tindak lanjut :

1. Melakukan pembinaan dan meningkatkan kerjasama dengan jejaring

yang ada di wilayah kerja

2. Penyuluhan tentang KB post partum di Kelas Ibu Hamil

3. Meningkatkan pendampingan ibu hamil sampai masa nifas

4. Kerjasama dengan kader dalam melakukan kunjungan rumah pada ibu

bersalin

5. Meningkatkan mutu layanan

Bedasarkan Symond D dalam Junal Kesehatan Masyarakat :

Penentuan Prioritas Masalah Kesehatan dan Prioritas Jenis Intervensi

Kegiatan dalam Pelayanan Kesehatan di Suatu Wilayah tahun 2013, ada

beberapa metoda yang dapat digunakan untuk menentukan prioritas

masalah kesehatan yaitu (1) Metoda Matematik (2) Metoda Delbeque (3)

Metoda Delphi dan (4) Metoda estimasi beban kerugian akibat sakit.

1. Metoda Matematika

Metoda ini dikenal juga sebagai metoda PAHO yaitu singkatan dari

Pan American Health Organization, karena digunakan dan dikembangkan

di wilayah Amerika Latin. Dalam metoda ini dipergunakan beberapa

174
kriteria untuk menentukan prioritas masalah kesehatan disuatu wilayah

berdasarkan (Symond D, 2013):

a) Luasnya masalah (magnitude)

b) Beratnya kemgian yang timbul (Severity)

c) Tersedianya sumberdaya untuk mengatasi masalah kesehatan

tersebut (Vulnerability)

d) Kepedulian/dukungan politis dan dukungan masyarakat

(Community andpolitical concern)

e) Ketersediaan data (Affordability)

Magnitude masalah, menunjukkan berapa banvak penduduk yang

terkena masalah atau penyakit tersebut. Ini ditunjukan oleh angka prevalensi

atau insiden penyakit. Makin luas atau banyak penduduk terkena atau

semakin tinggi prevalen, maka semakin tinggi prioritas yang diberikan pada

penyakit tersebut (Symond D, 2013).

Severity adalah besar kerugian yang ditimbulkan. Pada masa lalu

yang dipakai sebagai ukuran severity adalah Case Fatality Rate (CFR)

masing-masingpenyakit. Sekarang severity tersebut bisa juga dilihat dari

jumlah disability days atau disability years atau disesase burden yang

ditimbulkan oleh penyakit bersangkutan. HAIV/AIDS misalnya akan

mendapat nilai skor tinggi dalam skala prioritas yaitu dari sudut pandang

severity ini (Symond D, 2013).

Vulnerability menunjukan sejauh mana tersedia teknologi atau obat

yang efektif untuk mengatasi masalah tersebut. Tersedianya vaksin cacar

yang sangat efektif misalnya, merupakan alasan kuat kenapa penyakit cacar

175
mendapat prioritas tinggi pada masalalu. Sebaliknyadari segi vulnerability

penyakit HIV/AIDS mempunyai nilai prioritas rendah karena sampai

sekarang belum ditemukan teknologi pencegahan maupun pengobatannya.

Vulnerability juga bisadinilai dari tersedianya infrastruktur untuk

melaksanakan program seperti misalnya ketersediaan tenaga dan peralatan

(Symond D, 2013).

Affordability menunjukkan ada tidaknya dana yangtersedia. Bagi

negara maju masalahdana tidak merupakan masalah akan tetapi di negara

berkembang seringkali pembiayaan program kesehatan tergantung pada

bantuan luar negeri. Kadang kala ada donor yang mengkhususkan diri untuk

menunjang program kesehatan atau penyakit tertentu katakanlah program

gizi, HIV/AIDS dan lainnya (Symond D, 2013).

Dalam penerapan metoda ini untuk prioritas masalah kesehatan,

maka masing-masing kriteria tersebut diberi skor dengan nilai ordinal,

misalnya antara angka 1menyatakan terendah sampai angka5 menyatakan

tertinggi, Pemberian skor ini dilakukan oleh panel expert yang memahami

masalah kesehatan dalam forum curah pendapat (brain storming). Setelah

diberi skor, masing-masing penyakit dihitung nilai skor akhirnya yaitu

perkalian antara nilai skor masing-masing kriteria untuk penyakit tersebut.

Perkalian ini dilakukan agar perbedaan nilai skor akhir antara masalah

menjadi sangat kontras, sehingga terhindar keraguan manakala perbedaan

skor tersebut terlalu tipis. Contoh simulasi untuk perbitungan menggunakan

metoda ini dijelaskan sebagai berikut (Symond D, 2013).

176
Tabel 8.6 Simulasi Penentuan Prioritas Masalah Kesehatan dengan Metoda
Matematik
Masalah M S V C A Total
Hipertensi 2 4 3 4 3 16
Kesehatan ibu 5 5 5 3 3 21
hamil (K1, K4,
resti yang ditangan
nakes)
Gizi (Cakupan D/S) 2 4 4 5 2 17
Kesehatan ibu 5 4 5 4 4 22
bersalin (ditolong
nakes, ditolong
nakes difaskes)
Imunisasi (BCG, 3 3 5 4 4 19
DPT2, DPT3,
Polio4, Hepatitis,
MR)
Kesehatan Ibu 3 4 5 4 4 20
(Tablet Fe
1)
Sumber : Laporan Diagnosis Komunitas Kelurahan X 2018
Dari angka tabel diatas didapatkan angka skor tertinggi adalah 22

maka kesehatan ibu bersalin (ditolong nakes, ditolong nakes

difaskes)menjadi prioritas 1 dan angka 21 Kesehatan ibu hamil (K1, K4,

resti yang ditangan nakes) mendapatkan prioritas masalah kesehatan nomor

2 dan begitu seterusnya (Symond D, 2013).

Ada beberapa kelemahan dan kritikan terhadap metode tersebut.

Pertama penentuan nilai skor sebetulnya didasarkan pada penilaian

kualitatif atau kelimuan oleh para pakar yang bisa saja tidak objektif, kedua

masih kurang spesifiknya kriteria penentuan pakar tersebut. Kelebihan cara

ini adalah mudah dilakukan dan bisa dilakukan dalam tempo relatife cepat.

177
Disamping itu dengan metoda ini beberapa kriteria penting sekaligus bisa

dimasukkan dalam pertimbangan penentuan prioritas (Symond D, 2013).

2. Metoda Delbeque dan Delphi

Metoda Delbeque adalah metoda kualitatif dimana prioritas masalah

penyakit ditentukan secara kualitatif oleh panel expert. Caranya

sekelompok pakar diberi informasi tentang masalah penyakit yang perlu

ditetapkan prioritasnya termasuk data kuantitatif yang ada untuk masing-

masing penyakit tersebut. Dalam penentuan prioritas masalah kesehatan

disuatu wilayah pada dasarnya kelompok pakar melalui langka-langkah (1)

Penetapan kriteria yang disepakati bersama oleh para pakar (2) memberikan

bobot masalah (3) menentukan skoring setiap masalah. Dengan demikian

dapat ditentukan masalah mana yang menduduki peringkat prioritas

tertinggi. Penetapan kriteria berdasarkan seriusnya permasalahan menurut

pendapat parapakar dengan contoh kriteria persoalan masalah kesehatan

berupa (1) Kemampuan menyebar/menular yang tinggi (2) mengenai daerah

yang luas (3) mengakibatkan penderitaan yang lama (4) mengurangi

penghasilan penduduk (5) mempunyai kecendrungan menyebar meningkat

dan lain sebagainya sesuai kesepakatan para pakar (Symond D, 2013).

Para expert kemudian menuliskan urutan prioritas masalah dalam

kertas tertutup. Kemudian dilakukan semacam perhitungan suara. Hasil

perhitungan ini disampaikan kembali kepada para expert dan setelah itu

dilakukan penilaian ulang oleh para expert dengan cara yang sama.

Diharapkan dalam penilaian ulang ini akan terjadi kesamaan/konvergensi

pendapat, sehingga akhirnya diperoleh suatu konsensus tentang penyakit

178
atau masalah mana yang perlu diprioritaskan. Jadi metoda ini sebetulnya

adalah suatu mekanisme untuk mencapai suatu consensus (Symond D,

2013).

Kelemahan cara ini adalah sifatnya yang lebih kualitatif

dibandingkan dengan metoda matematik yang disampaikan sebelumnya.

Juga diperianyakan kriteria penentuan pakar untuk terlibat dalam penilaian

tertutup tersebut. Kelebihannya adalah mudah dan dapat dilakukan dengan

cepat. Penilaian prioritas secara tertutup dilakukan untuk memberi

kebebasan kepada masing-masing pakar untuk memberi nilai, tanpa

terpengaruh oleh hirarki hubungan yang mungkin ada antara para pakar

tersebut (Symond D, 2013).

Metoda lain yang mirip dengan Delbeque adalah metoda Delphi.

Dalam metoda Delphi sejumlah pakar (panel expert) melakukan diskusi

terbuka dan mendalam tentang masalah yang dihadapi dan masing-masing

mengajukan pendapatnya tentang masalah yang perlu diberikan prioritas.

Diskusi berlanjut sampai akhirnya dicapai suatu kesepakatan (konsensus)

tentang masalah kesehatan yang menjadi prioritas. Kelemahan cara ini

adalah waktunya yang relative lebih lama dibandingkan dengan metoda

Delbeque serta kemungkinan pakar yang dominan mempengaruhi pakar

yang tidak dominan. Kelebihannya metode ini memungkinkan telahaan

yang mendalam oleh masing- masing pakar yangterlibat. (Symond D,

2013).

3. Metoda Estimasi Bebari Kerugian (Disease Burden)

179
Metoda Estimasi Beban Kerugian dari segi teknik perhitungannya

lebih canggih dan sulit, karena memerlukan data dan perhitungan hari

produktif yang hilang yang disebabkan oleh masing- masing masalah.

Sejauh ini metoda ini jarang dilakukan di tingkat kabupaten atau kota di era

desentralisasi program kesehatan. Bahkan ditingkat nasionalpun baru

Kementrian Kesehatan dengan Badan Penelitian dan Pengembangan

Kesehatan yang mencoba menghitung berapa banyak Kerugian yang

ditimbulkan dalam kehidupan tahunan penduduk (Disease Adjusted Life

Year = DALY)(Symond D, 2013).

Pada tingkat global penggunaan metoda Disease Burden dalam

penetapan prioritas masalah kesehatan, Bank Dunia telah menghitung

waktu produktif yang hilang (Desease Burden) yang disebut sebagai DALY

yang diakibatkan oleh berbagai macam penyakit. Atas dasar perhitungan

tersebut Bank Dunia menyarankan agar dalam program kesehatan prioritas

diberikan pada masalah kesehatan esensiat terdiri darai (1) TBC (2)

Pemberantasan Penytakit Menular (3) Penanganan Anak GiziKurang/Buruk

(Symond D, 2013).

4. Metoda Perbandingan antara Target dan Pencapaian Program Tahunan

Metoda penetapan prioritas masalah kesehatan beradasarkan

pencapaian program tahunan yang dilakukan adalah dengan

membandingkan antara target yang ditetapkan dari setiap program dengan

hasil pencapaian dalam suatu kurun waktu 1 tahun. Penetapan prioritas

masalah kesehatan seperti ini sering digunakan oleh pemegang atau

pelaksana program kesehatan di tingkat Puskesmas dan Tingkat

180
Kabupaten/Kota padaera desentralisasi saat ini. Simulasi dari metoda

tersebut dapat dilihat pada tabel 2(Symond D, 2013).

Tabel 8.7 Pencapaian Program KIA di Kelurahan X wilayah Puskesmas X pada


tahun 2018
Jenis Kegiatan Target Realisasi Kesenjangan Rangking
(%)
N % N % + -
1. K1 112 100% 111 99,11% - - IV
0,89%
2. K4 112 100% 105 93,75% - - I
6,25%
3. Resti yang 22 20% 21 18,75% - - III
ditangani Nakes 1,25%

4. Tablet Fe 106 95% 87 77,7% - - II


17,3%
Sumber : Laporan Diagnosis Komunitas Kelurahan X 2018
Berdasarkan tabel data diatas didapatkan perbedaan yang besar pencapaian

dibandingkan target yang ditetapkan adalah program K1 hanya dicapai target

sebesar 93,75% dan kesenjangannya sebesar 6,25% maka ini menjadi prioritas

masalah kesehatan yang harus menjadi prioritas masalah kesehatan utama (riomor

satu) dan seterusnya.

Contoh :

Tabel 8.8 Penilaian Prioritas Permasalahan di Wilayah Kerja Puskesmas X


No Permasalahan Magnitude Keseriusan Feasibility Indeks
Prioritas
1. Imunisasi 6 6 5 17
2. Ibu bersalin ditolong 5 5 5 15
NaKes
8. Neonatus Resti yang 5 5 5 15
ditangani

181
4. Bufas yang mendapat 5 4 5 14
pelayanan nifas
5. KN1, KN2 dan 5 4 5 14
kunjungan bayi
6. Gizi 5 4 4 13
7. K1, K4 dan Pemberian 4 4 5 13
Tablet Fe
8. ASI Eksklusif 4 4 4 12
9. ISPA 4 3 4 11
10. Balita sakit di MTBS 3 4 4 11
11. Keluarga Berencana 3 3 3 9
Sumber : Laporan Diagnosis Komunitas Kelurahan X 2018
Contoh :

Tabel 8.9 RUK UPTD Puskesmas Poned X 2018


No Upaya Kegiatan Tujuan Sasaran Kebutuhan Sumber Ket
Kesehata Daya
n
Dana Petugas
1 Imunisasi 1. Pelaksanaa Memberika Kelas 1 Perjadin PP
n Bias DT n kekebalan SD Petugas :23 Imunisasi,
tubuh bagi sekolah x 2 Perawat,
anak petugas x Rp Bidan
sekolah 50.000,- =
Rp
2.300.000,-
2. Pelaksanaa Memberika Kelas 2,3 Perjadin PP
n Bias TT n kekebalan SD Petugas :23 Imunisasi,
tubuh bagi sekolah x 2 Perawat,
anak petugas x Rp Bidan
sekolah 50.000,- =
Rp
2.300.000,-
3. Pelaksanaa Memberika Kelas 1 Perjadin PP
n Bias n kekebalan SD Petugas :23 Imunisasi,
Campak tubuh bagi sekolah x 2 Perawat,
anak petugas x Rp Bidan
sekolah 50.000,- =
Rp
2.300.000,-

182
4. Imunisasi Memberika Ibu hamil PP
TT n kekebalan dan Imunisasi,
WUS Perawat,
Bidan
5. Pemberian Memberika Bayi PP
IDL n kekebalan Imunisasi,
Perawat,
Bidan
6. Sweeping Menjaring Bayi, Perjadin PP
yang belum balita, Petugas : 5 Imunisasi,
imunisasi anak kelurahan x Perawat,
sekolah 2 petugas x Bidan
Rp 50.000,-
= Rp
1.000.000,-
Sumber : RUK UPTD Puskesmas Poned X 2018

Tabel 8.10 Lembar Kerja 5


IMUNISASI
No Permasalahan Faktor Resiko Potensial Sumber Daya
1. Adanya Faktor lingkungan/Environment  Petugas : PP
kesenjangan  Masih terdapat kepercayaan di Imunisasi, Perawat
pada Imunisasi masyarakat tentang efek samping yang dan Bidan.
timbul dari imunisasi  Sasaran : Bayi
 Minimnya informasi atau pengetahuan  KIE agar ibu
masyarakat tentang penyakit yang membawa anaknya
dapat dicegah bila melakukan ke pusat kesehatan
imunisasi. (Posyandu / pustu /
Faktor perilaku / Life styles. puskesmas) untuk
 Mayoritas ibu di Kelurahan X bekerja dilakukan imunisasi
sebagai karwayan pabrik dan sesuai dengan
pedagang sehingga tidak memiliki jadwal imunisasi
waktu ke pusat kesehatan untuk agar anak tersebut
imunisasi. terhindar dari
 Mayoritas ibu tidak faham dan lupa penyakit tertentu.
jadwal imunisasi yang akan diberikan  RUK UPTD
kepada anaknya. Puskesmas Poned X
 Mayoritas ibu menganggap anaknya 2018 halaman 206.
sehat dan sudah besar sehingga
beranggapan tidak perlu diimunisasi.
 Mayoritas ibu beranggapan bila
setalah dilakukan imunisasi anaknya
menjadi sakit seperti panas, nyeri

183
dibekas suntikan sehingga tidak ingin
untuk diimuniasi lagi.
Faktor pelayanan kesehatan / Medical
care services
 Minimnya tenaga medis untuk
memberikan penyuluhan tentang
pentingnya imunisasi.
Sumber : Laporan Diakom Kelurahan X 2018

8.4.Penilaian Ketepatan Intervensi

Ada 2 metoda yang lazim digunakan dalam penetapan prioritas

alternative pemecahan masalah untuk intervensi dalam penetapan pilihan

bentuk intevensi yaitu metoda Analisis Pembiayaan yang lebih dikenal cara

efektifitas dan efisiensi dan metoda Hanlon (Symond D, 2013).

1. Metoda Analisis Pembiayaan (Cost Analysis) lebih dikenal Efektifitas

Efisiensi.

Penggunaan metoda ini dengan memperhitungkan efektifitas dan

efisiensi dalam penetapan pilihan jenis intervensi yang dilakukan dengan

menggunakan rumus penetapan prioritas kegiatan sbb(Symond D, 2013).

Prioritas (P) = M×I×V


C

Dimana :

M = Magnitude (besarnya masalah yang dihadapi)

I = Important (pentingnya jalan keluar menyelesaikanmasalah)

V = Vunerability (ketepatan jalan keluar untukmasalah)

C = Cost (biaya yang dikeluarkan) dimana kriterinya ditetapkan:

Nilai 1 = Biaya sangat murah

Nilai 2 = Biaya murah

Nilai 3 = Biaya cukup murah

184
Nilai 4 = Biaya mahal

Nilai 5 = Biaya sangat mahal

Tabel berikut ini merupakan penentuan penetapan prioritas aiternatif

pemecahan masalah melaluimetodecost analysis sebagaiberikut (Symond

D, 2013):

Tabel 8.11 Penetapan Prioritas Aternatif Pemecahan Masalah Untuk Intervensi


Penyakit TB
No. Alternatif Efektifitas Efisiensi Skor Prioritas
M I V C
1 Memberikan motivasi kepada 3 3 2 4 4,5 VI
masyarakat tentang pentingnya
hidup bersih dan sehat.
2 Memberikan penyuluhan 5 5 4 4 25 I
tentang pencegahan dan
penularan TB kepada kelompok
resiko dan penyebaran leaflet.
3 Melakukan advokasi kepada 2 2 3 5 2,4 VIII
pejabat dan instansi terkait agar
menyediakan anggaran khusus
PMT penderita dan petugas
4 Melakukan penjaringan suspect 4 3 4 3 16 IV
TB secara berkala melalui
puskel
5 Meningkatkan koordinasi 3 2 2 4 3 VII
dengan sector terkait sehingga
pemberantasan penyakit Tb
dapat dilakukan
6 Menggerakkan 3 3 4 2 18 III
penanggungjawab program
lebih aktif untuk melakukan
penjaringan suspect TB
sewaktu puskel
7 Melakukan penyuluhan tentang 3 3 3 3 9 V
rumah dan kondisi lingkungan
rumah yang sehat
8 Melakukan pemberdayaan 4 4 5 4 20 II
kader TB dan PMO dalam
pengawasan penderita TB dan
penyebaran buku saku.
(Symond D, 2013)

185
Berdasarkan formula perhitungan diatas maka nilai tertinggi (nomor

prioritas 1) skor 25 adalah memberikan penyuluhan tentang pencegahan dan

penularan TB kepada kelompok resiko melalui metode ceramah dan

penyebaran leaflet.dan prioritas kedua skor 20 adalah melakukan

Pemberdayaan PMO dan kader TB dalam pengawasan penderita TB

(Symond D, 2013).

2. Metoda Hanlon

Penggunaan metoda Hanlon dalam penetapan altematif prioritas

jenis intervensi yang akan diiakukan menggunakan 4 kriteria masing-

masing: (1) Kelompok kriteria 1 yaitu besamya masalah (magnitude) (2)

Kelompok kriteria 2 yaitu Tingkat kegawatan masalah

(emergency/seriousness (3) Kelompok kriteria 3 yaitu kemudahan

penanggulangan masalah (causability) (4) Kelompok kriteria 4 yaitu dapat

atau tidaknya program dilaksanakan menggunakan istilah PEARL

faktor(Symond D, 2013).

Seperti halnya metoda yang lain, metoda Hanlon dalam proses

awainya menggunakan pendapat anggota secara curah pendapat (brain

storming) untuk menentukan nilai dan bobot. Dari masing-masing

kelompok kriteria diperoleh nilai dengan jalan melakukan scoring dengan

skala tertentu, Kemudian kelompok kriteria tersebut dimasukkan kedalam

formula dan hasil yang didapat makin tinggi nilainya maka itulah prioritas

jenis program yang didahulukan (menjadi prioritas intervensi)(Symond D,

2013).

Langkah-langkah untuk melaksanakan metoda ini dijelaskan sbb :

186
a. Menetapkan Kriteria Kelompok 1 Besarnya masalah(magnitude)

Anggota kelompok merumuskan faktor apa saja yang digunakan

untuk menentukan besarnya masalah, misalnya (1) Besarnya persentasi/

prevalensi penduduk yang menderita langsung karena penyakit tersebut (2)

Besarnya pengeluaran biaya yang diperlukan perorang rata-rata perbulan

untuk mengatasi masalah kesehatan tersebut (3) Besarnya kerugian yang

diderita (Symond D, 2013). Simulasi penetapan kriteria kelompok 1

dijelaskan sbb :

Tabel 8.12 Nilai/Skoring Penetapan Prosentase Besat Penduduk Yang


Terkena Masalah
Nilai % Penduduk yang Prakiraan Prakiraan
menderita Pengeluaran Biaya Kerugian Lain-
penyakit (Rp) lain (Rp)
10 26-30 200.000 500.000
8 21-25 101.000-150.000 400.000
6 16-20 76.000-100.000 200.000 – 300.000
4 11-15 41.000-50.000 101.000 – 200.000
2 6-10 11.000-25.000 51.000 – 100.000
1 <5 10.000 <50.000
(Symond D, 2013)
Selanjutnya kelompok memberikan angka-angka untuk masalah

kesehatan A, B dan C sbb :

Tabel 8.13 Pemberian Angka Pada Masalah A, B, C


Masalah % Penuduk Pengeluaran Keugian Lain-
Kesehatan yang Biaya (Rp) lain (Rp)
menderita (%)
A 17 80.000 150.000
B 24 120.000 250.000
C 30 45.000 300.000

(Symond D, 2013)
Sehingga nilai masing-masing masalah kesehatan sbb:

187
Tabel 8.14 Konversi
Masalah %Penduduk Biaya Kerugian Total Rata-
Pengeluaran rata
A 6 6 4 16 5,35
B 8 8 6 22 7,33
C 10 4 6 20 6,66
(Symond D, 2013)
b. Menetapkan Kriteria kelompok II:Kegawatan (Emergensy/seriousness)

Langkah ini berbeda dengan langkah pertama dimana banyak

menggunakan data kuantitatif untuk menentukan nilai. Menentukan tingkat

kegawatan lebih bersifat subjektif. Pada langkah ini kelompok menentukan

tingkat kegawatan misalnya dengan melihat faktor-faktor berikut ini: (a)

Tingkat urgensinya (b) Kecendrungannya (c) Tingkat keganasan nya.

Berdasarkan 3 faktor ini anggota menentukan nilai sbb dengan skala 0-10.

Tabel 8.15 Pembobotan Kegawatan Program


Masalah Keganasan Tingkat Keenderungan Total Rata-
urgensinya rata
A 6 9 5 20 6,6
B 3 7 7 17 5,6
C 7 6 3 16 5,3
(Symond D, 2013)
c. Menetapkan Kriteria Kelompok III: Kemudahan Penanggulangan

Masing-masing anggota katakanlah jumlah anggota 6 orang

memberikan nilai antara 1-5 berdasarkan prakiraan kemudahan

penanggulangan masing-masing masalah. Angka 1 berarti bahwa masalah

tersebut sulit ditanggulangi dan angka 5 berarti bahwa masalah tersebut

mudah dipecahkan. Kelompok menentukan kriteria berdasarkan

kemampuan dan tersedianya sumberdaya untuk menyelesaikan masalah

tersebut dengan kriteria (Symond D, 2013) .

1 = amat sulit

188
2 = sulit

3 = cukupsulit/cukup mudah

4 = mudah

5 = sangat mudah

Contoh simulasi hasil konsensus yang dicapai pada langkah ini

memberikan nilai rata- rata sbb (Symond D, 2013) :

Masalah A = 3+2+1+4+3+2+4 dibagi 6 = 19/6 = 3,17

Masalah B = 2+2+3+2+2+3+3 dibagi 6 = 17/6 = 2,83

Masalah C = 3+4+5+3+3+5+4 dibagi 6 = 27/6 = 4,5

d. Menetapkan Kriteria kelompok kriteria IV yaitu PEARL faktor

Kelompok kriteria IV terdiri dari beberapa faktor yang saling

menentukan dapat atau tidaknya suatu program dilaksanakan dan faktor

tersebut meliputi(Vilnius D dan Dandoy S, 1990):

P = Kesesuaian (Appropriateness)

E = Secara ekonomi murah (Economic feasibility)

A = Dapat diterima (Acceptability)

R = Tersedia sumber daya (Resourcesavailability)

L = Legalitas terjamin (Legality)

 Propriety, bertanya apakah program ini sesuai dan berada dalam lingkup

keseluruhan operasi atau misi badan kesehatan. Kadang-kadang suatu

badan menemukan dirinya mempertimbangkan prioritas yang

dipaksakan oleh sumber-sumber luar atau otoritas yang lebih tinggi tetapi

tidak konsisten dengan tujuan dan keahliannya(Vilnius D dan Dandoy S,

1990).

189
 Economics, bertanya apakah secara ekonomi disarankan untuk

mengatasi masalah tersebut. Ini adalah kesempatan untuk mengevaluasi

dan mempertimbangkan manfaat ekonomi dari setiap masalah atau

masalah, aspek kritis dalam pengambilan keputusan(Vilnius D dan

Dandoy S, 1990).

 Acceptability, mensyaratkan bahwa masyarakat mau menerima program

dan melihatnya seperlunya. Komunitas, dalam hal ini, mewakili

spektrum yang luas dan mencakup populasi sasaran, lembaga

pendukung, masyarakat umum (pembayar pajak), dan badan legislatif

Negara atau otoritas local(Vilnius D dan Dandoy S, 1990).

 Resources, bertanya apakah dana tersedia untuk membayar program.

Pengambil keputusan mungkin tergoda untuk mempertimbangkan

respons "ya" terhadap faktor ini dari tiga perspektif: (a) agensi memiliki

dana untuk mendukung program yang diantisipasi, atau (b) tanpa alokasi

komitmen untuk program, agensi mampu mendanainya dengan

mengorbankan kegiatan lain, atau (c) lembaga menganggap program

cukup penting untuk mengejar dana tambahan untuk mendukung

pelaksanaannya. Opsi ketiga mungkin tidak boleh dipertimbangkan

kecuali kerangka waktu untuk pengambilan keputusan dan implementasi

memungkinkan waktu untuk mengeksplorasi sumber daya tambahan.

Sifat penetapan prioritas secara pragmatis menentukan bahwa pembuat

keputusan siap mengorbankan beberapa program untuk yang lain dengan

prioritas lebih tinggi(Vilnius D dan Dandoy S, 1990).

190
 Legality, menyiratkan bahwa suatu agen memiliki otoritas hukum untuk

mengejar program untuk menyelesaikan masalah yang sedang

dipertimbangkan. Apakah undang-undang negara bagian atau peraturan

setempat mengizinkan suatu daerah untuk melarang merokok di restoran

atau menyediakan tes AIDS tanpa nama? Respons negatif terhadap

pertanyaan ini tidak serta merta mengurangi prioritas masalah, tetapi

intervensi mungkin harus dibingkai ulang berdasarkan otoritas hukum

atau sanksi (Vilnius D dan Dandoy S, 1990).

Masing-masing masalah harus diuji dengan faktor PEARL.

Tujuannya adalah untuk menjamin terselenggaranya program dengan baik.

Jawaban hanya dua yaitu ya atau tidak. Jawaban ya nilai 1 dan jawaban tidak

nilainya 0. Dengan cara aklamasi atau voting maka tiap faktor dapat

diperoleh angka 1 atau 0 untuk masing- masing masalah (Symond D, 2013).

Simulasi contoh faktor PEARL yang dicapai kelompok sbb ;

Tabel 8.16 Faktor PEARL


P E A R L Nilai
Masalah PEALR
A 1 1 1 1 1 1
B 1 1 1 1 1 1
C 1 0 1 0 1 0

Dengan mengalikan angka dalam kolom PEARL diperoieh nilai

PEARL masalah C bernilai 0 dari hasil perhitungan. Hal ini disebabkan

faktor tersedianya sumberdaya rnasih tanda tanya. Menetapkan Nilai

Prioritas Total Setelah nilai ratarata kelompok I, II, III dan IV ditetapkan

maka nilai rata-rata tersebut dimasukan dalam tabel berikut untuk penetapan

191
skor tertinggi. Skor tertinggi pada setiap pemecahan masalah akan menjadi

prioritas untuk intervensi program seperti tabel berikut (Symond D, 2013).

Tabel 8.17 Prioritas Intervensi Metoda Hanlon


Rata- Rata- Rata Kemudahan Faktor Prioritas
Masalah Rata Kegawatan Penaggulangan PEARL Intervensi
Besar
Masalah
A 6,6 6,6 3,17 1 138,1
B 5,6 5,6 2,83 1 87,8
C 5,3 5,3 4,5 0 0
(Symond D, 2013)
Berdasarkan rekapitulasi nilai rata-rata dari ke empat kelompok

kriteria yang ditetapkan maka rangking 1 untuk intervensi kegiatan ada pada

pemecahan masalah A dan rangking 2 pemecahan masalah B dan

pemecahan masalah C tidak dapat dilaksanakan karena dari nilai faktor

PEARL tidak layak untuk dilaksanakan (Symond D, 2013).

Contoh :

8.18 Tabel RUK UPTD PUSKESMAS PONED X 2018


No Upaya Kegiatan Tujuan Sasaran Kebutuhan Sumber Ket
Kesehatan Daya
Dana Petugas
9 Imunisasi 7. Pelaksanaan Memberikan Kelas 1 Perjadin PP
Bias DT kekebalan SD Petugas :23 Imunisasi,
tubuh bagi sekolah x 2 Perawat,
anak petugas x Bidan
sekolah Rp
50.000,- =
Rp
2.300.000,-
8. Pelaksanaan Memberikan Kelas Perjadin PP
Bias TT kekebalan 2,3 SD Petugas :23 Imunisasi,
tubuh bagi sekolah x 2 Perawat,
anak petugas x Bidan
sekolah Rp
50.000,- =

192
Rp
2.300.000,-
9. Pelaksanaan Memberikan Kelas 1 Perjadin PP
Bias kekebalan SD Petugas :23 Imunisasi,
Campak tubuh bagi sekolah x 2 Perawat,
anak petugas x Bidan
sekolah Rp
50.000,- =
Rp
2.300.000,-
10. Imunisasi Memberikan Ibu PP
TT kekebalan hamil Imunisasi,
dan Perawat,
WUS Bidan
11. Pemberian Memberikan Bayi PP
IDL kekebalan Imunisasi,
Perawat,
Bidan
12. Sweeping Menjaring Bayi, Perjadin PP
yang belum balita, Petugas : 5 Imunisasi,
imunisasi anak kelurahan Perawat,
sekolah x 2 petugas Bidan
x Rp
50.000,- =
Rp
1.000.000,-
Sumber : RUK UPTD Puskesmas Poned X 2018
Tabel 8.19 Lembar Kerja 6

Kesenjangan: Imunisasi BCG, DPT 1,3, POLIO 1, Hepatitis, Campak


Program dari Puskesmas Pembantu X
NO Strategi / Intervensi P E A R L
1 BIAS DT Y N Y Y Y
2 BIAS Campak Y N Y Y Y
3 BIAS TT Y N Y Y Y
4 Pemberian IDL Y N Y Y Y
5 Sweeping Y N Y Y Y
Sumber : Lapoan Diakom Kelurahan X 2018

193