Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum ke : 8 Hari/Tanggal : Senin / 25 Maret 2019

Teknik Laboratorium Nutrisi dan Tempat Praktikum: Laboratorium


Teknologi Pakan Terpadu
Nama Asisten : Putri D. (D24150031)

ANALISIS VFA TOTAL

Cut Mutia Dwi P


D24160126
Kelompok 1 / G1

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2019
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pencernaan adalah rangkaian proses perubahan fisik dan kimia yang


dialami bahan makanan di dalam saluran pencernaan ternak ruminansia. Ternak
pemamah biak atau ruminansia memiliki 4 bagian perut, yaitu retikulum, rumen,
omasum dan abomasum. Retikulum, rumen dan omasum disebut perut depan (fore
stomach). Abomasum dikenal dengan lambung sejati karena secara anatomis
maupun fisiologis berfungsi sama dengan lambung non-ruminansia. Proses
pencernaan ruminansia dibagi menjadi tiga tahap, yaitu pencernaan secara
mekanis (di dalam mulut), fermentatif (oleh mikroba di dalam rumen) dan
kimiawi (oleh enzim-enzim pencernaan di abomasum dan usus) (Rianto dan
Purbowati 2009). Hewan ternak tersebut mampu menampung jumlah bahan
makanan lebih besar serta mampu mencerna bahan makanan yang kandungan
serat kasarnya tinggi. Mulut dan komponennya (gigi, lidah, pipi dan kelenjar
saliva) memiliki tingkat kepentingan yang berbeda pada setiap spesies (Frandson
2010). Esofagus merupakan saluran yang menghubungkan kavum oris dengan
ventrikulus. Hasil mastikasi berupa bolus-bolus pakan akan melalui esofagus
melalui ventrikulus. Rumen merupakan suatu maskular yang besar dan terentang
dari diafragma menuju pelvis dan hampir menempati sisi kiri dari rongga
abdominal. Retikulum adalah bagian perut (kompartemen) yang paling kranial
seperti yang tercemin dari namanya. Kompartemen ini bagian dalamnya diseliputi
oleh membran mukosa yang mengandung intersekting ridge yng membagi
permukaan itu menjadi permukaan yang menyerupai permukaan sarang lebah.
Omasum merupakan organ yang berisi lamina muskuler yang turun dari alam
dorsum atau bagian atap. Omasum terletak di sebelah kanan rumen dan retikulum
persis pada kaudal hati (Campbell 2003).
Pencernaan fermentatif pada ruminansia terjadi di dalam rumen (retikulo
rumen) berupa perubahan senyawa-senyawa tertentu menjadi senyawa lain, yang
sama sekali berbeda dari molekul zat makanan asalnya. Rumen merupakan bagian
perut yang paling depan dengan kapasitas paling besar. Rumen berfungsi sebagai
tempat penampungan makanan yang dikonsumsi untuk sementara waktu. Di
dalam rumen makanan bercampur dengan saliva. Setelah beberapa saat
ditampung, makanan dikembalikan ke mulut untuk dikunyah kembali, proses ini
disebut regurgitasi. Pengunyahan kembali makanan yang berasal dari rumen biasa
dilakukan ternak pada saat istirahat dan sering kali dilakukan pada kondisi
berbaring Kemudian makanan ditelan kembali, dicerna oleh mikroba rumen
membentuk digesta halus dan masuk ke dalam saluran pencernaan selanjutnya
untuk mengalami pencernaan hidrolitik. Proses pencernaan fermentatif di dalam
rumen terjadi sangat intensif. Di dalam rumen terkandung berjuta-juta
mikroorganisme bersel tunggal (bakteri dan protozoa) yang menggunakan
campuran makanan dan air sebagai media hidupnya. Bakteri tersebut
memproduksi enzim pencerna serat kasar dan protein, serta mensintesis vitamin B
yang digunakan untuk berkembang biak dan membentuk sel-sel baru. Sel-sel
inilah yang akhirnya dicerna sebagai protein hewani yang dikenal dengan sebutan
protein mikroba. Dalam rumen, pakan akan mengalami degradasi oleh aktivitas
mikroorganisme sekitar 20 jam sejak pertama didegradasi, yang selanjutnya
produk dari degradasi ini akan difermentasikan. Produk akhir dari fermentasi
karbohidrat di dalam rumen adalah asam lemak terbang/volatile fatty acids (VFA)
dengan komponen utama terdiri atas asam asetat, propionat dan butirat, yang
merupakan sumber energi bagi ternak ruminansia (Usman 2013). Produksi
amonia dan VFA pada rumen dapat menunjukkan nilai kecernaan bahan organik
ransum yang dikonsumsi, sehingga penting dilakukan analisis untuk mengetahui
jumlah VFA total, semakin tinggi produksi amonia dan VFA dalam rumen
menunjukkan bahwa kecernaan bahan organik semakin tinggi pula.

Tujuan

Praktikum kali ini bertujuan menganalisis VFA total dalam cairan rumen
yang sudah diberi perlakuan berupa larutan H2SO4, HgCl2 dan formaldehyde.

MATERI DAN METODE

Materi

Alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu tabung, erlenmeyer, tabung
destilasi, kompor gas, dan panci presscooker. Bahan yang digunakan pada
praktikum ini yaitu NaOH, cairan rumen, H2SO4, indikator PP, HCl dan aquadest.

Metode

Alat dan bahan dipersiapkan. Presscooker diisi dengan aquadest dan keran
air dan kompor dinyalakan, 5 ml NaOH di labu erlenmeyer diletakkan dibawah
tampungan kondensor 250 ml. Sebelum digunakan, kondensor dan wadah
destilasi dibilas terlebih dahulu dengan aquadest, kemudian sampel sebanyak 5 ml
dimasukkan ke tabung destilasi, 1 ml , H2SO4 ditambahkan pada tabung destilasi
dan penutup tabung diangkat dan kemudian dibilas dengan aquadest. Hasil
kondensasi ditampung hingga 250 ml, indikator PP sebanyak 2-3 tetes dititrasi
dengan larutan HCl 0.5 N hingga waktunya berubah menjadi warna merah muda
seulas. Hasil titrasi dicatat dan dilakukan perhitungan VFA total.

VFA Total = (a-b) x N HCl x 1000 ml


5
Keterangan: a = volume titrasi blanko
b = volume titrasi sampel
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Produksi amonia dan VFA pada rumen dapat menunjukkan nilai


kecernaan bahan organik ransum yang dikonsumsi, semakin tinggi produksi
amonia dan VFA dalam rumen menunjukkan bahwa kecernaan bahan organik
semakin tinggi pula. Hasil dari pengukuran VFA Total terhadap cairan rumen
yang telah dicampur dengan formaldehyde, H2SO4, dan HgCl2 dapat dilihat pada
tabel berikut.
Tabel 1 Nilai VFA total dengan berbagai perlakuan
Sampel Volume Titrasi (mL) VFA (mM)
Blanko 4.05 -
Formaldehid 3.075 97.5
HgCl2 3.3 75
H2SO4 3.65 40

Pembahasan

Ransum yang diberikan kepada ternak ruminansia sebagian besar terdiri


dari karbohidrat. Di dalam rumen, polisakarida dihidrolisa menjadi monosakarida
oleh enzim-enzim mikroba rumen. Kemudian monosakarida tersebut, seperti
glukosa difermentasi menjadi VFA (Volatile Fatty Acids) berupa asetat,
propionat, butirat, dan gas-gas CH4 dan CO2. VFA yang terbentuk akan diserap
melalui dinding rumen dan gas CH4 dan CO2 akan hilang melalui eruktasi atau
sendawa. VFA adalah bahan kimia organik dengan berbagai aplikasi sebagai
sumber karbon untuk mikroorganisme yang menghasilkan metabolit yang berguna
menghilangkan polutan organik dari air limbah, untuk pembangkit listrik atau
hidrogen dan dapat berfungsi sebagai bahan awal untuk sintesis asam lemak rantai
panjang dan polihidroksialkanoat (PHA) untuk aplikasi pengemasan. VFA dapat
dengan mudah diproduksi oleh semua jenis biomassa (darat, laut dan air) dan
dalam kerangka VFA, dapat digunakan untuk produksi biofuel dan biokimia (
Chalima 2017). Perbandingan VFA dalam rumen sapi yaitu 65% asam asetat,
24% asam propionat, 21% butirat. Komponen VFA diserap dan masuk ke dalam
sistem peredaran darah yang kemudian VFA diubah oleh hati menjadi gula darah
proses ini disebut juga glukoneogenesis. Gula darah inilah yang akan mensuplai
sebagian besar kebutuhan energi bagi ternak ruminansia. Konsentrasi VFA
tergantung pada jenis ransum yang dikonsumsi, sedangkan konsentrasi VFA yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal mikroba rumen yaitu 80-160 mM.
Konsentrasi VFA selain dipengaruhi oleh jenis ransum yang dikonsumsi,
dipengaruhi juga oleh jenis ternak ruminansia tersebut (McDonal et al. 2002).
Destilasi adalah suatu metode pemisahan campuran yang didasarkan pada
perbedaan tingkat volalitas ( kemudahan suatu zat untuk menguap ) pada suhu dan
tekanan tertentu. Destilasi merupakan proses fisika dan tidak terjadi adanya reaksi
kimia selama proses berlangsung. Destilasi uap merupakan stilah yang secara
umum digunakan untuk destilasi campuran air dengan senyawa yang tidak larut
dalam air. Cara yang dilakukan, yaitu dengan cara mengalirkan uap air kedalam
campuran sehingga bagian yang dapat menguap berubah menjadi uap pada
temperatur yang lebih rendah dari pada dengan pemanasan langsung. Labu yang
berisi senyawa yang akan dimurnikan dihubungkan dengan labu pembangkit uap.
Uap air yang dialirkan ke dalam labu yang berisi senyawa yang akan
dimurnikan,dimaksudkan untuk menurunkan titik didih senyawa tersebut
(Walangare et al. 2013). Prinsip destilasi adalah penguapan cairan dan
pengembunan kembali uap tersebut pada suhu titik didih. Titik didih suatu cairan
adalah suhu dimana tekanan uapnya sama dengan tekanan atmosfer. Cairan yang
diembunkan kembali disebut destilat. Teknik destilasi uap digunakan untuk
mendesak VFA oleh uap panas melewati tabung pendingin terkondensasi dan
ditampung dengan erlenmeyer berisi NaOH. Tabung destilai dihubungkan dengan
labu yang berisi air mendidih dan dipanaskan terus menerus selama proses
destilasi. Destilasi uap memiliki proses yang sama dan biasanya digunakan untuk
mengekstraksi minyak esensial (campuran berbagai senyawa menguap). Selama
pemanasan, uap terkondensasi dan destilat yang terpisah sebagai dua bagian yang
tidak saling bercampur, lalu ditampung dalam wadah yang terhubung dengan
kondensor (Mukhriani 2014). H2SO4 yang digunakan berfungsi untuk
mendestruksi protein menjadi unsur-unsurnya. Semua ikatan N dalam bahan akan
menjadi ammonium sulfat (NH4SO4) kecuali ikatan N=N, NO, dan NO2.
Amoniak dalam asam sulfat terdapat dalam bentuk ammonium sulfat. Pada tahap
ini juga menghasilkan CO2, H2O, dan SO2 yang terbentuk adalah hasil reduksi
dari sebagian asam sulfat dan menguap. Proses pengukuran VFA pada teknik
destilasi terdapat pemberian NaOH yang digunakan untuk menghindari terjadinya
panas berlebih. Penambahan NaOH berfungsi untuk memberikan suasana basa
karena reaksi tidak dapat berlangsung dalam keadaan asam, sedangkan HCl
berfungsi sebagai titran dalam proses titrasi. Indikator phenol ptalein (pp)
digunakan sebagai indilator pembanding saat titrasi asam kuat (HCl) dengan basa
kuat (NaOH) (Pratama et al. 2015). HgCl2 atau Raksa (II) Klorida sering
digunakan sebagai pereaksi. Penambahan larutan HgCl dalam cairan rumen dapat
menyebabkan proses fermentasi dalam rumen terhenti (Syaputra et al. 2013).
Formaldehyde merupakan senyawa tak berwarna, mudah larut dalam air, dan pada
suhu kamar dapat berupa gas yang mudah terbakar. Formaldehyde mempunyai
sifat penetrasi yang baik, tetapi gerakan penetrasinya cukup lambat (Zulham
2009).
Berdasarkan hasil analisis VFA total, diperoleh nilai VFA dari masing-
masing perlakuan H2SO4, formaldehyde, dan HgCl2 berturut-turut adalah 40 mM,
75 mM, dan 97.5 mM. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa fermentabilitas
dengan pemberian H2SO4 memiliki nilai VFA terendah, sedangkan HgCl2 dan
formaldehyde memiliki nilai di dalam rentang optimum VFA total, hasil tersebut
sesuai dengan literatur bahwa konsentrasi VFA optimum yang dibutuhkan untuk
mendukung pertumbuhan mikroba adalah 80-160 mM (Sutardi 1980). Rendahnya
nilai VFA total pada perlakuan H2SO4 disebabkan H2SO4 memengaruhi jumlah
nutrisi, kadar protein dan fermentabilitas pakan, sehingga produksi VFA yang
dihasilkan sangatlah rendah. Komposisi VFA di dalam rumen berubah dengan
adanya perbedaan bentuk fisik, komposisi pakan, taraf dan frekuensi pemberian
pakan, serta pengolahan. Produksi VFA yang tinggi merupakan kecukupan energi
bagi ternak. Konsentrasi VFA dalam cairan rumen dipengaruhi oleh kecernaan
pakan. Semakin tinggi nilai kecernaan maka VFA yang dihasilkan semakin tinggi.
Konsentrasi VFA dalam rumen juga dipengaruhi oleh laju pemanfaatan VFA oleh
mikroba rumen (Kusuma et al. 2014).

SIMPULAN

Analisis VFA total dalam cairan rumen dengan perlakuan H2SO4,


formaldehyde, dan HgCl2 dapat dilakukan dengan menggunakan teknik destilasi uap.
Hasil yang didapatkan dari analisis VFA total pada perlakuan H 2SO4 memiliki nilai
VFA terendah, sedangkan perlakuan HgCl2, dan formaldehyde memiliki nilai VFA
total optimum. konsentrasi VFA optimum yang dibutuhkan untuk mendukung
pertumbuhan mikroba adalah berkisar antara 80-160 mM.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell N A. 2003. Biologi. Jakarta (ID): Erlangga.


Chalima. 2017. Utilization of volatile fatty acids from microalgae for the
production of high added value compounds. Journal MDPI. 3(4).
Frandson. 2010. Anatomi dan fisiologi ternak edisi keempat. Yogyakarta (ID):
UGM Pr: 542-552.
McDonald P, Edwards RA, Greenhalgh JFD, Morgan CA. 2002. Animal
Nutrition. 5 th Edition. New York (USA): Longman Scientific and
Technical.
Kusuma DA, Sutrisna R, Muhtarudin. 2014. Pengaruh suplementasi hidrolisat
bulu ayam dan mineral organik terhadap kadar VFA serta NH3 pada
cairan rumen sapi. Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu. 2(3):49-52.
Mukhriani. 2014. Ekstraksi, pemisahan senyawa, dan identifikasi senyawa aktif.
Jurnal Kesehatan. 7(2):361-367.
Pratama Y, Prasetya AT, Latifah. 2015. Pemanfaatan ekstrak daun jati sebagai
indikator titrasi asam-basa. Indonesian Journal of Chemical Science.
4(2):152-157.
Rianto E, Purbowati E. 2009. Panduan Lengkap Sapi Potong. Jakarta (ID):
Penebar Swadaya.
Sutardi T. 1980. Landasan Ilmu Nutrisi, Jilid I. Bogor (ID): IPB Pr.
Syaputra, Bata M, Wardhana, Pratama S. 2013. Peningkatan kualitas jerami padi
dan pengaruhnya terhadap kecernaan nutrient dan produk fermentasi
rumen kerbau dengan feses sebagai sumber inokulum. Agripet. 13(2):59-
67.
Usman Y. 2013. Pemberian pakan serat sisa tanaman pertanian (jerami kacang
tanah, jerami jagung, pucuk tebu) terhadap evolusi pH, N-NH3 dan VFA
di dalam rumen sapi. Agripet. 13(2):53-58.
Walangare KBA, Lumenta ASM, Wuwung JO, Sugiarso BA. 2013. Rancang
bangun alat konversi air laut menjadi air minum dengan proses destilasi
sederhana menggunakan pemanas elektrik. Jurnal Teknik Elektro dan
Komputer. 2(2):1-11.
Zulham M. 2009. Penuntun Praktikum Histoteknik Biomedik. Medan (ID):
Departemen Histologi FK USU.