Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada zaman sekarang ini dikehidupan kita begitu banyak penyakit
yang berada disekitar kita,baik itu dari yang ringan hingga pada yang
berat.tetapi dimasyarakat Iuka tetap menjadi primadona daIam sakit terhadap
kehidupan manusia.
Iuka teIah menjadi penyakit yang menghantui kita,biIa tidak berhati-
hati maka kita dapat mengaIami Iuka pada tubuh kita. Luka merupakan suatu
kerusakan integritas kulit yang dapat terjadi ketika kulit terpapar suhu atau
pH, zat kimia, gesekan, trauma tekanan dan radiasi. Respon tubuh terhadap
berbagai cedera dengan proses pemulihan yang kompleks dan dinamis yang
menghasilkan pemulihan anatomi dan fungsi secara terus menerus disebut
dengan penyembuhan luka (Joyce M. Black, 2001). Penyembuhan luka terkait
dengan regenerasi sel sampai fungsi organ tubuh kembali pulih, ditunjukkan
dengan tanda-tanda dan respon yang berurutan dimana sel secara bersama-
sama berinteraksi, melakukan tugas dan berfungsi secara normal. Idealnya
luka yang sembuh kembali normal secara struktur anatomi, fungsi dan
penampilan.

Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen jaringan, dimana secara


spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang.
Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul akibat dari Iuka adaIah :
1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ
2. Respon stres simpatis
3. Perdarahan dan pembekuan darah

1
4. Kontaminasi bakteri
5. Kematian sel

Meihat kenyataan diataIuka bukanIah haI yang dapat


disepeIekan,maka kita juga harus mengetahui apa pengobtan dan perawatan
terhadap Iuka agar cepat daIam proses penyembuhan. Metode perawatan luka
berkembang cepat dalam 20 tahun terakhir, jika tenaga kesehatan dan
pasiennya memanfaatkan terapi canggih yang sesuai dengan perkembangan,
akan memberikan dasar pemahaman yang lebih besar terhadap pentingnya
perawatan luka. Semua tujuan manajemen luka adalah untuk membuat luka
stabil dengan perkembangan granulasi jaringan yang baik dan suplai darah
yang adekuat., hanya cara tersebut yang membuat penyembuhan luka bisa
sempurna.
Meihat dari kenyaatan yang ada diatas maka jeIasIah bahwa penting
bagi kita untuk mengetahui apa itu Iuka dan perawtan serta pengobatannya
maka kami mengankat maka dari itu kami membuat makaIah tentang Iuka ini
untuk membantu daIam pengetahuan dan membantu daIam pemuasan
kesembuhan pasien terhadap penyakit Iuka.

B. Masalah
a. Apakah pengertian Iuka?
b. Apa saja jenis–jenis Iuka?
c. Bagaimana perawatan terhadap Iuka,?
d. Apa saja bentuk dan pengobatan dari Iuka?
C. Tujuan
a. Untuk mengetahui pengertian Iuka
b. Untuk mengetahui apa saja jenis Iuka
c. Menjelaskan apa saja pengobatan dan perwatan dari Iuka

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. pengertian
Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh yang
disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia,
ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan[ R. Sjamsu Hidayat, 1997]. Menurut
Koiner dan Taylan luka adalah terganggunya (disruption) integritas normal dari
kulit dan jaringan di bawahnya yang terjadi secara tiba-tiba atau disengaja,
tertutup atau terbuka, bersih atau terkontaminasi, superficial atau dalam.
Mekanisme terjadinya luka :
1. Luka insisi (Incised wounds), terjadi karena teriris oleh instrumen yang
tajam. Misal yang terjadi akibat pembedahan. Luka bersih (aseptik)
biasanya tertutup oleh sutura seterah seluruh pembuluh darah yang luka
diikat (Ligasi)
2. Luka memar (Contusion Wound), terjadi akibat benturan oleh suatu
tekanan dan dikarakteristikkan oleh cedera pada jaringan lunak,
perdarahan dan bengkak.
3. Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan
benda lain yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.
4. Luka tusuk (Punctured Wound), terjadi akibat adanya benda, seperti
peluru atau pisau yang masuk kedalam kulit dengan diameter yang kecil.
5. Luka gores (Lacerated Wound), terjadi akibat benda yang tajam seperti
oleh kaca atau oleh kawat.
6. Luka tembus (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ
tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi
pada bagian ujung biasanya lukanya akan melebar.
7. LukaBakar(Combustio)

3
Menurut tingkat Kontaminasi terhadap luka:
1. Clean Wounds (Luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak
terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan,
pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya
menghasilkan luka yang tertutup; jika diperlukan dimasukkan drainase
tertutup (misal; Jackson – Pratt). Kemungkinan terjadinya infeksi luka sekitar
1% - 5%.
2. Clean-contamined Wounds (Luka bersih terkontaminasi), merupakan luka
pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan
dalam kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan
timbulnya infeksi luka adalah 3% - 11%.
3. Contamined Wounds (Luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh,
luka akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik
aseptik atau kontaminasi dari saluran cerna; pada kategori ini juga termasuk
insisi akut, inflamasi nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka10%17%.
4. Dirty or Infected Wounds (Luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya
mikroorganismepadaluka.

Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka, dibagi menjadi :

Stadium I : Luka Superfisial (“Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi


pada Lapisan epidermis kulit.
Stadium II : Luka “Partial Thickness” : yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan
epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya
tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.
Stadium III : Luka “Full Thickness” : yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi
kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah
tetapi tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada lapisan

4
epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara klinis
sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.
Stadium IV : Luka “Full Thickness” yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan
tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.

Menurut waktu penyembuhan luka dibagi menjadi:


1. Luka akut : yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep
penyembuhan yang telah disepakati.
• Respon terhadap gangguan sifatnya cepat dan langsung
• Radang terjadi selama 2-3 hari
• Gejala lain :
– Demam
– Pulsus meningkat
– Peningkatan jumlah sel darah putih dalam sirkulasi terutama
polymorphonuclear
Treatment yang dapat diIakukan pada Iuka akut:
o pencucian : antibiotik, antiseptika
o Kompres dingin
o Corticosteroid/ preparat sejenis.
2. Luka kronis yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses
penyembuhan, dapat karena faktor eksogen dan endogen.
• Kejadian lama
• Hitungan minggu-bulan
• Perubahan jaringan mengarah ke ireversibel
• Sel mayoritas mononuclear, bersama-sama proliferasi fibroblast
Treatment yang dapat diakukan padaIuka kronis :
o Menghilangkan jaringan mati dan benda asing
o Membersihkan hasil respon radang

5
o Regenerasi jaringan yang rusak jika mungkin
o Penempatan kembali komponen jaringan oleh jaringan konektivus

Iuka kronik
B. Penyebab Luka
Secara alamiah penyebab kerusakan harus diidentifikasi dan
dihentikan sebelum memulai perawatan luka, serta mengidentifikasi,
mengontrol penyebab dan faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan
sebelum mulai proses penyembuhan. Berikut ini akan dijelaskan penyebab
dan faktor-faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka :
• Trauma
• Panas dan terbakar baik fisik maupun kimia
• Gigitan binatang atau serangga
• Tekanan
• Gangguan vaskular, arterial, vena atau gabungan arterial dan vena
• Immunodefisiensi
• Malignansi
• Kerusakan jaringan ikat
• Penyakit metabolik, seperti diabetes
• Defisiensi nutrisi
• Kerusakan psikososial
• Efek obat-obatan

6
Pada banyak kasus ditemukan penyebab dan faktor yang
mempengaruhi penyembuhan luka dengan multifaktor.

C. Merawat Iuka
Merawat luka untuk mencegah trauma (injury) pada kulit, membran mukosa
atau jaringan lain yang disebabkan oleh adanya trauma, fraktur, luka operasi yang
dapat merusak permukaan kulit.

1. Luka bersih
a. Persiapan alat :

Alat steril :

1) Duk steril
2) Instrumen set ( 2 set)
3) Sarung tangan
4) Bethadin 10 %
5) Sofratul
6) Kain kasa
7) Alkohol

Alat tidak steril :

1) Bengkok
2) Tempat kotoran
3) Tempat larutan lysol / saflon
4) Pembalut
5) Gunting perban
6) Plester / Hepafik
7) Perlak pengalas

7
Semua ditempat pada troli perawatan

b. CARA KERJA :

1) Perawat cuci tangan, alat-alat disiapkan


2) Pasien diberitahu, atur posisi pasien senyaman dan semudah mungkin
3) Penutup & kasa diangkat / digunting dimasukan dalam bengkok
tempat sampah ( pincet diletakan pada tempat on direndam larutan
lisol / saflon)
4) Luka dibersihkan dengan kasa bethadin memakai alat steril, searah
dari dalam keluar
5) Kasa kotor dibuang pada tempatnya
6) Observasi keadaan luka
7) Luka diberi obat (Sofratul) tutup kasa memakai alat steril(jaga kasa
tidak melekat langsung pada luka tutup rapat dengan hepafik
8) Alat-alat dibereskan, pasien dirapikan.
9) Perawat cuci tangan
10) Dokumentasi

2. Luka basah
a. Persiapan alat
Set steril yang terdiri atas :
1) Pembungkus
2) Kapas atau kasa untuk membersihkan luka
3) Tempat untuk larutan
4) Larutan anti septic
5) 2 pasang pinset
6) Gaas untuk menutup luka.

8
Alat-alat yang diperlukan lainnya seperti :
1) extra balutan dan zalf
2) Gunting
3) Kantong tahan air untuk tempat balutan lama
4) Plester atau alat pengaman balutan
5) Selimut mandi jika perlu, untuk menutup pasien
6) Bensin untuk mengeluarkan bekas plester

b. Prosedur Kerja
1) Jelaskan kepada pasien tentang apa yang akan dilakukan. Jawab
pertanyaan pasien.
2) Minta bantuan untuk mengganti balutan pada bayi dan anak kecil
3) Jaga privasi dan tutup jendela/pintu kamar
4) Bantu pasien untuk mendapatkan posisi yang menyenangkan. Bukan
hanya pada daerah luka, gunakan selimut mandi untuk menutup pasien
jika perlu.
5) Tempatkan tempat sampah pada tempat yang dapat dijangkau. Bisa
dipasang pada sisi tempat tidur.
6) Angkat plester atau pembalut.
7) Jika menggunakan plester angkat dengan cara menarik dari kulit
dengan hati-hati kearah luka. Gunakan bensin untuk melepaskan jika
perlu.
8) gunakan sarung tangan jika balutan lembab. Angkat balutan menjauhi
pasien.
9) Tempatkan balutan yang kotor dalam kantong plastik.
10) Buka set steril
11) Tempatkan pembungkus steril di samping luka
12) Angkat balutan paling dalam dengan pinset dan perhatikan jangan
sampai mengeluarkan drain atau mengenai luka insisi. Jika gaas

9
dililitkan pada drain gunakan 2 pasang pinset, satu untuk mengangkat
gaas dan satu untuk memegang drain.
13) Catat jenis drainnya bila ada, banyaknya jahitan dan keadaan luka.
14) Buang kantong plastik. Untuk menghindari dari kontaminasi ujung
pinset dimasukkan dalam kantong kertas, sesudah memasang balutan
pinset dijauhkan dari daerah steril.
15) Membersihkan luka menggunakan pinset jaringan atau arteri dan kapas
dilembabkan dengan anti septik, lalu letakkan pinset ujungnya labih
rendah daripada pegangannya. Gunakan satu kapas satu kali mengoles,
bersihkan dari insisi kearah drain :
• Bersihkan dari atas ke bawah daripada insisi dan dari tengah
keluar
• Jika ada drain bersihkan sesudah insisi
• Untuk luka yang tidak teratur seperti dekubitus ulcer,
bersihkan dari tengah luka kearah luar, gunakan pergerakan
melingkar.
16) Ulangi pembersihan sampai semua drainage terangkat.
17) Olesi zalf atau powder. Ratakan powder diatas luka dan gunakan alat
steril.
18) Gunakan satu balutan dengan plester atau pembalut
19) Amankan balutan dengan plester atau pembalut
20) Bantu pasien dalam pemberian posisi yang menyenangkan.
21) Angkat peralatan dan kantong plastik yang berisi balutan kotor.
22) Bersihkan alat dan buang sampah dengan baik.
23) Cuci tangan
24) Laporkan adanya perubahan pada luka atau drainage kepada perawat
yang bertanggung jawab. Catat penggantian balutan, kaji keadaan
luka dan respon pasien.

10
3. Membersihkan Daerah Drain
Daerah drain dibersihkan sesudah insisi. Prinsip membersihkan dari
daerah bersih ke daerah yang terkontaminasi karena drainnya yang basah
memudahkan pertumbuhan bakteri dan daerah daerah drain paling banyak
mengalami kontaminasi. Jika letak drain ditengah luka insisi dapat
dibersihkan dari daerah ujung ke daerah pangkal kearah drain. Gunakan kapas
yang lain. Kulit sekitar drain harus dibersihkan dengan antiseptik.

11
D. Penyembuhan Luka
Tubuh yang sehat mempunyai kemampuan alami untuk melindungi
dan memulihkan dirinya. Peningkatan aliran darah ke daerah yang rusak,
membersihkan sel dan benda asing dan perkembangan awal seluler bagian
dari proses penyembuhan.
Proses penyembuhan terjadi secara normal tanpa bantuan, walaupun
beberapa bahan perawatan dapat membantu untuk mendukung proses
penyembuhan. Sebagai contoh, melindungi area yang luka bebas dari kotoran
dengan menjaga kebersihan membantu untuk meningkatkan penyembuhan
jaringan (Taylor, 1997).

1. Prinsip Penyembuhan Luka


Ada beberapa prinsip dalam penyembuhan luka menurut Taylor (1997)
yaitu:
a. Kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi
oleh luasnya kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang.
b. Respon tubuh pada luka lebih efektif jika nutrisi yang tepat tetap
dijaga.
c. Respon tubuh secara sistemik pada trauma
d. Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka

12
e. Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis
pertama untuk mempertahankan diri dari mikroorganisme
f. Penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas dari benda
asing tubuh termasuk bakteri.

2. Fase Penyembuhan Luka


Penyembuhan luka adalah suatu kualitas dari kehidupan jaringan
hal ini juga berhubungan dengan regenerasi jaringan. Fase penyembuhan
luka digambarkan seperti yang terjadi pada luka pembedahan
(Kozier,1995). Menurut Kozier, 1995:
a. Fase Inflamatori
Fase ini terjadi segera setelah luka dan berakhir 3 – 4 hari. Dua proses
utama terjadi pada fase ini yaitu hemostasis dan pagositosis.
Hemostasis (penghentian perdarahan) akibat fase konstriksi pembuluh
darah besar di daerah luka, retraksi pembuluh darah, endapan fibrin
(menghubungkan jaringan) dan pembentukan bekuan darah di daerah
luka. Bekuan darah dibentuk oleh platelet yang menyiapkan matrik
fibrin yang menjadi kerangka bagi pengambilan sel. Scab (keropeng)
juga dibentuk dipermukaan luka. Bekuan dan jaringan mati, scab
membantu hemostasis dan mencegah kontaminasi luka oleh
mikroorganisme. Dibawah scab epithelial sel berpindah dari luka ke
tepi. Epitelial sel membantu sebagai barier antara tubuh dengan
lingkungan dan mencegah masuknya mikroorganisme.
Fase inflamatori juga memerlukan pembuluh darah dan respon
seluler digunakan untuk mengangkat benda-benda asing dan jaringan
mati. Suplai darah yang meningkat ke jaringan membawa bahan-bahan
dan nutrisi yang diperlukan pada proses penyembuhan. Pada akhirnya
daerah luka tampak merah dan sedikit bengkak. Selama sel berpindah
lekosit (terutama neutropil) berpindah ke daerah interstitial. Tempat ini

13
ditempati oleh makrofag yang keluar dari monosit selama lebih kurang
24 jam setelah cidera/luka. Makrofag ini menelan mikroorganisme dan
sel debris melalui proses yang disebut pagositosis. Makrofag juga
mengeluarkan faktor angiogenesis (AGF) yang merangsang
pembentukan ujung epitel diakhir pembuluh darah. Makrofag dan AGF
bersama-sama mempercepat proses penyembuhan. Respon inflamatori
ini sangat penting bagi proses penyembuhan
b. Fase Proliferatif
Fase kedua ini berlangsung dari hari ke-3 atau 4 sampai hari
ke-21 setelah pembedahan. Fibroblast (menghubungkan sel-sel
jaringan) yang berpindah ke daerah luka mulai 24 jam pertama setelah
pembedahan. Diawali dengan mensintesis kolagen dan substansi dasar
yang disebut proteoglikan kira-kira 5 hari setelah terjadi luka. Kolagen
adalah substansi protein yang menambah tegangan permukaan dari
luka. Jumlah kolagen yang meningkat menambah kekuatan permukaan
luka sehingga kecil kemungkinan luka terbuka. Selama waktu itu
sebuah lapisan penyembuhan nampak dibawah garis irisan luka.
Kapilarisasi tumbuh melintasi luka, meningkatkan aliran darah
yang memberikan oksigen dan nutrisi yang diperlukan bagi
penyembuhan.
Fibroblast berpindah dari pembuluh darah ke luka membawa
fibrin. Seiring perkembangan kapilarisasi jaringan perlahan berwarna
merah. Jaringan ini disebut granulasi jaringan yang lunak dan mudah
pecah.

c. Fase Maturasi
Fase maturasi dimulai hari ke-21 dan berakhir 1-2 tahun setelah
pembedahan. Fibroblast terus mensintesis kolagen. Kolagen menjalin

14
dirinya , menyatukan dalam struktur yang lebih kuat. Bekas luka menjadi
kecil, kehilangan elastisitas dan meninggalkan garis putih.

3. Faktor yang Mempengaruhi Luka

a. Usia
Anak dan dewasa penyembuhannya lebih cepat daripada orang tua.
Orang tua lebih sering terkena penyakit kronis, penurunan fungsi hati dapat
mengganggu sintesis dari faktor pembekuan darah.
b. Nutrisi
Penyembuhan menempatkan penambahan pemakaian pada tubuh.
Klien memerlukan diit kaya protein, karbohidrat, lemak, vitamin C dan A,
dan mineral seperti Fe, Zn. Klien kurang nutrisi memerlukan waktu untuk
memperbaiki status nutrisi mereka setelah pembedahan jika mungkin.
Klien yang gemuk meningkatkan resiko infeksi luka dan penyembuhan
lama karena supply darah jaringan adipose tidak adekuat.
c. Infeksi
Infeksi luka menghambat penyembuhan. Bakteri sumber penyebab
infeksi.
d. Sirkulasi (hipovolemia) dan Oksigenasi
Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka.
Adanya sejumlah besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang memiliki
sedikit pembuluh darah). Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan luka
lambat karena jaringan lemak lebih sulit menyatu, lebih mudah infeksi, dan
lama untuk sembuh. Aliran darah dapat terganggu pada orang dewasa dan
pada orang yang menderita gangguan pembuluh darah perifer, hipertensi
atau diabetes millitus. Oksigenasi jaringan menurun pada orang yang
menderita anemia atau gangguan pernapasan kronik pada perokok.

15
Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan
menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.
e. Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka
secara bertahap diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika
terdapat bekuan yang besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat
diabsorbsi tubuh, sehingga menghambat proses penyembuhan luka.
f. Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan
terbentuknya suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini
timbul dari serum, fibrin, jaringan sel mati dan lekosit (sel darah merah),
yang membentuk suatu cairan yang kental yang disebut dengan nanah
(“Pus”).
g. Iskemia
Iskemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai
darah pada bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini
dapat terjadi akibat dari balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi
akibat faktor internal yaitu adanya obstruksi pada pembuluh darah itu
sendiri.
h. Diabetes
Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan
gula darah, nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga
akan terjadi penurunan protein-kalori tubuh.
i. Keadaan Luka
Keadaan khusus dari luka mempengaruhi kecepatan dan efektifitas
penyembuhan luka. Beberapa luka dapat gagal untuk menyatu.

j. Obat

16
Obat anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin), heparin dan anti
neoplasmik mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik
yang lama dapat membuat seseorang rentan terhadap infeksi luka. Steroid :
akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap cedera.
Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan. Antibiotik : efektif diberikan
segera sebelum pembedahan untuk bakteri penyebab kontaminasi yang
spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan tertutup, tidak akan
efektif akibat koagulasi intravascular.

4. Komplikasi Penyembuhan Luka


Komplikasi penyembuhan luka meliputi infeksi, perdarahan,
dehiscence dan eviscerasi.
a. Infeksi
Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma, selama
pembedahan atau setelah pembedahan. Gejala dari infeksi sering muncul
dalam 2 – 7 hari setelah pembedahan. Gejalanya berupa infeksi termasuk
adanya purulent, peningkatan drainase, nyeri, kemerahan dan bengkak di
sekeliling luka, peningkatan suhu, dan peningkatan jumlah sel darah
putih.
b. Perdarahan
Perdarahan dapat menunjukkan suatu pelepasan jahitan, sulit
membeku pada garis jahitan, infeksi, atau erosi dari pembuluh darah oleh
benda asing (seperti drain). Hipovolemia mungkin tidak cepat ada tanda.
Sehingga balutan (dan luka di bawah balutan) jika mungkin harus sering
dilihat selama 48 jam pertama setelah pembedahan dan tiap 8 jam setelah
itu. Jika perdarahan berlebihan terjadi, penambahan tekanan balutan luka
steril mungkin diperlukan. Pemberian cairan dan intervensi pembedahan
mungkin diperlukan.
c. Dehiscence dan Eviscerasi

17
Dehiscence dan eviscerasi adalah komplikasi operasi yang paling
serius. Dehiscence adalah terbukanya lapisan luka partial atau total.
Eviscerasi adalah keluarnya pembuluh melalui daerah irisan. Sejumlah
faktor meliputi, kegemukan, kurang nutrisi, ,multiple trauma, gagal untuk
menyatu, batuk yang berlebihan, muntah, dan dehidrasi, mempertinggi
resiko klien mengalami dehiscence luka. Dehiscence luka dapat terjadi 4
– 5 hari setelah operasi sebelum kollagen meluas di daerah luka. Ketika
dehiscence dan eviscerasi terjadi luka harus segera ditutup dengan balutan
steril yang lebar, kompres dengan normal saline. Klien disiapkan untuk
segera dilakukan perbaikan pada daerah luka.

5. Perkembangan Perawatan Luka


Profesional perawat percaya bahwa penyembuhan luka yang terbaik
adalah dengan membuat lingkungan luka tetap kering (Potter.P, 1998).
Perkembangan perawatan luka sejak tahun 1940 hingga tahun 1970, tiga
peneliti telah memulai tentang perawatan luka. Hasilnya menunjukkan
bahwa lingkungan yang lembab lebih baik daripada lingkungan kering.
Winter (1962) mengatakan bahwa laju epitelisasi luka yang ditutup poly-
etylen dua kali lebih cepat daripada luka yang dibiarkan kering. Hasil
penelitian ini menyimpulkan bahwa migrasi epidermal pada luka superficial
lebih cepat pada suasana lembab daripada kering, dan ini merangsang
perkembangan balutan luka modern ( Potter. P, 1998). Perawatan luka
lembab tidak meningkatkan infeksi. Pada kenyataannya tingkat infeksi pada
semua jenis balutan le:mbab adalah 2,5 %, lebih baik dibanding 9 % pada
balutan kering (Thompson. J, 2000). Rowel (1970) menunjukkan bahwa
lingkungan lembab meningkatkan migrasi sel epitel ke pusat luka dan
melapisinya sehingga luka lebih cepat sembuh. Konsep penyembuhan luka
dengan teknik lembab ini merubah penatalaksanaan luka dan memberikan
rangsangan bagi perkembangan balutan lembab ( Potter. P, 1998).

18
Penggantian balutan dilakukan sesuai kebutuhan tidak hanya
berdasarkan kebiasaan, melainkan disesuaikan terlebih dahulu dengan tipe dan
jenis luka. Penggunaan antiseptik hanya untuk yang memerlukan saja karena
efek toksinnya terhadap sel sehat. Untuk membersihkan luka hanya memakai
normal saline (Dewi, 1999). Citotoxic agent seperti povidine iodine, asam
asetat, seharusnya tidak secara sering digunakan untuk membersihkan luka
karena dapat menghambat penyembuhan dan mencegah reepitelisasi. Luka
dengan sedikit debris dipermukaannya dapat dibersihkan dengan kassa yang
dibasahi dengan sodium klorida dan tidak terlalu banyak manipulasi gerakan.
(Walker. D, 1996)
Tepi luka seharusnya bersih, berdekatan dengan lapisan sepanjang
tepi luka. Tepi luka ditandai dengan kemerahan dan sedikit bengkak dan
hilang kira-kira satu minggu. Kulit menjadi tertutup hingga normal dan tepi
luka menyatu.

6. Tujuan Perawatan Luka


a. Memberikan lingkungan yang memadai untuk penyembuhan luka
b. Absorbsi drainase
c. Menekan dan imobilisasi luka
d. Mencegah luka dan jaringan epitel baru dari cedera mekanis
e. Mencegah luka dari kontaminasi bakteri
f. Meningkatkan hemostasis dengan menekan dressing
g. Memberikan rasa nyaman mental dan fisik pada pasien

7. Bahan yang Digunakan dalam Perawatan Luka


a. Sodium Klorida 0,9 %
Sodium klorida adalah larutan fisiologis yang ada di seluruh
tubuh karena alasan ini tidak ada reaksi hipersensitivitas dari sodium

19
klorida. Normal saline aman digunakan untuk kondisi apapun (Lilley
& Aucker, 1999). Sodium klorida atau natrium klorida mempunyai Na
dan Cl yang sama seperti plasma. Larutan ini tidak mempengaruhi sel
darah merah (Handerson, 1992). Sodium klorida tersedia dalam
beberapa konsentrasi, yang paling sering adalah sodium klorida 0,9 %.
Ini adalah konsentrasi normal dari sodium klorida dan untuk alasan ini
sodium klorida disebut juga normal saline (Lilley & Aucker, 1999).
Merupakan larutan isotonis aman untuk tubuh, tidak iritan, melindungi
granulasi jaringan dari kondisi kering, menjaga kelembaban sekitar
luka dan membantu luka menjalani proses penyembuhan serta mudah
didapat dan harga relatif lebih murah
(http://rpromise.com/woundcare/)
b. Larutan povodine-iodine.
Iodine adalah element non metalik yang tersedia dalam bentuk
garam yang dikombinasi dengan bahan lain Walaupun iodine bahan
non metalik iodine berwarna hitam kebiru-biruan, kilau metalik dan
bau yang khas. Iodine hanya larut sedikit di air, tetapi dapat larut
secara keseluruhan dalam alkohol dan larutan sodium iodide encer.
Iodide tinture dan solution keduanya aktif melawan spora tergantung
konsentrasi dan waktu pelaksanaan (Lilley & Aucker, 1999). Larutan
ini akan melepaskan iodium anorganik bila kontak dengan kulit atau
selaput lendir sehingga cocok untuk luka kotor dan terinfeksi bakteri
gram positif dan negatif, spora, jamur, dan protozoa.
Bahan ini agak iritan dan alergen serta meninggalkan residu
(Sodikin, 2002). Studi menunjukan bahwa antiseptik seperti povodine
iodine toxic terhadap sel (Thompson. J, 2000). Iodine dengan
konsentrasi > 3 % dapat memberi rasa panas pada kulit. Rasa terbakar
akan nampak dengan iodine ketika daerah yang dirawat ditutup dengan

20
balutan oklusif kulit dapat ternoda dan menyebabkan iritasi dan nyeri
pada sisi luka. (Lilley & Aucker, 1999).

E. Balutan Luka
Balutan luka yang moist seperti ”foam/busa, alginate, hydrocolloid,
hydrogel, dan film transparant.” hydrocolloid merupakan balutan yang tahan
terhadap air yang membantu pencegah kontaminasi bakteri. Hydroclloid
menyerap eksudat dan melindungi lingkungan dasar luka secara alami.
Hydrogel merupakan gel hydropilik yang meningkatkan kelembaban
pada area luka. Hydrogel rehidrasi dasar luka dan melunakkan jaringan
nekrotik.
Film transparan merupakan balutan yang tahan terhadap air yang semi
oklusive, berarti air dan gas dapat melalui permukaan balutan film transparan
ini dan termasuk juga dapat mempertahankan lingkungan luka yang tetap
lembab.
Pada luka tekan balutan luka sangat berperan penting dengan fungsi
sebagai berikut:
• Membantu melindungi luka dari injuri yang berulang
• Membantu melindungi luka dari kuman penyakit dan mencegah luka
terinfeksi
• Membantu menciptakan kondisi lingkungan yang mendukung
penyembuhan luka
• Menambal bagian luka terutama bagian yang mati
Balutan luka yang tersedia sangat bervariasi. Tidak seperti balutan
atau pembalut kasa yang biasa, balutan luka khusus karena mereka membantu
menciptakan tingkat kelembaban pada luka. Pada masa kini hasil-hasil dari
penelitian menyatakan bahwa tingkat kelembaban mendukung kesehatan

21
kulit, kelembaban memberi kesempatan yang lebih baik untuk proses
penyembuhan. Konsep inilah yang disebut dengan ”moist wound healing.”

1. Perlindungan untuk Luka


Meskipun kita berfikir sebaliknya, membiarkan balutan tidak
dibuka/diganti dalam beberapa hari sangat membantu dalam proses
penyembuhan awal karena luka tidak terganggu. Hal ini sangat penting karena
situasi kelembaban lingkungan luka dapat dipertahankan dengan baik sesuai
dengan suhu tubuh, kondisi ini akan mendukung penyembuhan luka. Untuk
penjelasan lebih lanjut, penggantian balutan yang lebih sering mengakibatkan
suhu luka menurun/dingin akibat terpapar dengan udara. Hal ini akan
mengakibatkan perlambatan proses penyembuhan hingga suhu luka menjadi
hangat kembali. Jadi, penggantian balutan duka yang tidak terlalu sering
sudah sangat jelas dapat membantu proses penyembuhan.
Sebagai ilustrasi untuk menunjukkan bagaimana kelembaban dapat
menyembuhkan lebih ceat adalah dengan melidungi/membalut luka akan
tercipta lingkungan yang lembab yang diikuti oleh pergerakan sel-sel
epidermal dengan mudah menyebrangi permukaan luka, untuk
menyembuhkan luka. Pada lingkungan luka yang kering, sel-sel epidermal
harus menyusup melalui terowongan yang lembab dan mensekresi enzym
untuk kemudian mengangkat keropeng dari permukaan luka sebelum sel-sel
bermigrasi dan selanjutnya baru memulai proses penyembuhan.

2. Berbagai tipe ”moist wound dressing” (balutan luka yang mampu


mempertahankan kelembaban)
Ada beberapa tipe balutan luka dan lebih dari satu dapat
direkomendasikan untuk dipakai merawat luka hingga sembuh. Untuk hal ini,
kita perlu memahami tentang tipe balutan luka yang dapat kita pilih dan
gunakan, yang akan dijelaskan berikut ini.

22
a. Foam/Busa
Balutan foam/busa dapat menyerap banyak cairan, sehingga digunakan pada
tahap awal masa pertumbuhan luka, bila luka tersebut banyak mengeluarkan
drainase. Balutan busa nyaman dan lembut bagi kulit dan dapat digunakan
untuk pemakaian beberapa hari. Bentuk, ukuran, dan ketebalan dari busa
tersebut sangat bervariassi, dengan atau tanpa perekat pada permukaannya.
Contoh :

b. Foam silikon lunak/balutan yang menyerap


Balutan jenis ini menggunakan bahan silikon yang direkatkan, pada
permukaan yang kontak dengan luka. Silikon membantu mencegah balutan
foam melekap pada permukaan luka atau sekitar kulit pada pinggir luka.
Hasilnya menghindarkan luka dari trauma akibat balutan saat mengganti
balutan, dan membantu proses penyembuhan. Balutan luka silikon lunak ini
dirancang untuk luka dengan drainase dan luas.
Contoh :

c. Balutan wafer berperekat/ balutan hydrocolloid


Balutan hidrokoloid ”water-loving” dirancanga elastis, merekat, dan dari
agen-agen gell (seperti pectin atau gelatin) dan bahan-bahan

23
absorben/penyerap lainnya. Bila dikenakan pada luka, drainase dari luka
berinteraksi dengan komponen-komponen dari balutan untuk membentuk
seperti gel yang menciptakan lingkungan yang lembab untuk penyembuhan
luka. Balutan hidrokoloid ada dalam bermacam bentuk, ukuran, dan
ketebalan, dan digunakan pada luka dengan jumlah drainase sedikit atau
sedang. Balutan jenis ini biasanya diganti satu kali selama 5-7 hari, tergantung
pada metode aplikasinya, lokasi luka, derajad paparan kerutan-kerutan dan
potongan-potongan, dan inkontinensia. Balutan hidrokoloid tidak biasa
digunakan pada luka yang terinfeksi.
Contoh :

d. Hydrogels
Hidrogel tersedia dalam bentuk lembaran, seperti serat kasa, atau gel. Gel
akan memberi rasa sejuk dan dingin pada luka, yang akan meningkatkan rasa
nyaman pasien. Gel sangat baik menciptakan dan mempertahankan
lingkungan penyembuhan luka yang moist/lembab dan digunakan pada jenis
luka dengan drainase yang sedikit. Gel diletakkan langsung diatas permukaan
luka, dan biasanya dibalut dengan balutan sekunder (foam atau kasa) untuk
mempertahankan kelembaban sesuai level yang dibutuhkan untuk mendukung
penyembuhan luka.
Contoh :

24
e. Hydrofibers
Hidrofiber merupakan balutan yang sangat lunak dan bukan tenunan atau
balutan pita yang terbuat dari serat sodium carboxymethylcellusole, beberapa
bahan penyerap sama dengan yang digunakan pada balutan hidrokoloid.
Komponen-komponen balutan akan berinteraksi dengan drainase dari luka
untuk membentuk gel yang lunak yang sangat mudah dieliminir dari
permukaan luka. Hidrofiber digunakan pada luka dengan drainase yang
sedang atau banyak, dan luka yang dalam dan membutuhkan balutan
sekunder. Hidrofiber dapat juga digunakan pada luka yang kering sepanjang
kelembaban balutan tetap dipertahankan (dengan menambahkan larutan
normal salin). Balutan hidrofiber dapat dipakai selama 7 hari, tergantung pada
jumlah drainase pada luka.
Contoh :

f. Alginates
Alginat lunak dan bukan tenunan yang dibentuk dari bahan dasar ganggang
laut. Alginate tersedai dalam bentuk ”pad” atau sumbu. Alginate dan
hidrofiber merupakan tipe produk yang sama. Paa kasus ini, alginate akan
menjadi lunak, tidak lengket dengan luka. Alginate juga digunakan pada luka
dengan drainase sedang hingga berat dan tidak dapat digunakan pada luka
yang kering. Balutan dapat dipotong sesuai kebutuhan, bentuk luka yang akan
dibalut, atau dapat dilapisi untuk menambah penyerapan.

25
Contoh :

g. Gauze
Balutan kasa terbuat dari tenunan dan serat non tenunan, rayon, poliester, atau
kombinasi dari serat lainnya. Berbagai produk tenunan ada yang kasar dan
berlubang, tergantung pada benangnya. Kasa berlubang yang baik sering
digunakan untuk membungkus, seperti balutan basah lembab normal saline.
Kasa katun kasar, seperti balutan basah lembab normal saline, digunakan
untuk debridement non selektif (mengangkat debris dan atau jaringan yang
mati). Banyak kasa yang bukan tenunan dibuat dari poliester, rayon, atau
campuran bermacam serat yang ditenun seperti kasa katun tetapi lebih kuat,
besar, lunak, dan lebih menyerap. Beberapa balutan, seperti kasa saline
hipertonik kering digunakan untuk debridemen, berisi bahan-bahan yang
mendukung penyembuhan. Produk lainnya berisi petrolatum atau elemen
penyembuh luka lainnya dengan indikasi yang sesuai dengan tipe lukanya.
Dengan memahami hal tersebut diatas maka perawat dapat memilih balutan
yang tepat untuk digunakan saat merawat luka.

Transparan Film
Contoh:

26
3. Memilih Balutan yang ideal
Pada tahun 1979 Tumer menggambarkan balutan yang ideal dengan
karakteristik sebagai berikut:
• Dapat mengangkat eksudat yang berlebihan dan toksin
• Kelembaban tinggi pada permukaan luka
• Memungkinkan pertukaran gas
• Memberikan insulasi termal
• Melindungi terhadap infeksi sekunder
• Bebas dari partikel-partikel dan komponen toksik
• Tidak menimbulkan trauma saat mengangkat/mengganti balutan
Walau bagaimanapun tidak ada suatu balutan yang dapat berfungsi
magis ”one-size-fits-all”. Sebagai praktisi klinis sangat penting untuk
memahami karakteristik dari perbedaan balutan dan penggunaannya sesuai
dengan perkembangan fase penyembuhan luka, karakteristik luka, dan faktor
risiko dari pasien yang mempengaruhi penyembuhan dan ketrampilan dari
perawat itu sendiri.

27
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh yang


disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia,
ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan. Tubuh yang sehat mempunyai
kemampuan alami untuk melindungi dan memulihkan dirinya. Peningkatan
aliran darah ke daerah yang rusak, membersihkan sel dan benda asing dan
perkembangan awal seluler bagian dari proses penyembuhan. Proses
penyembuhan terjadi secara normal tanpa bantuan, walaupun beberapa bahan
perawatan dapat membantu untuk mendukung proses penyembuhan. Sebagai
contoh, melindungi area yang luka bebas dari kotoran dengan menjaga
kebersihan membantu untuk meningkatkan penyembuhan jaringan.

B. Saran

Seorang perawat yang baik adalah seorang perawat yang tau, mengerti
dan professional dalam melakukan tugasnya demi kesembuhan pasien. Maka
dari itu pengetahuan tentang luka dan cara penanganannya harus dapat benar-
benar dikuasai oleh perawat.

28