Anda di halaman 1dari 12

“Analisa Konfigurasi Hubungan Primer dan Sekunder Transformator 3 Fasa 380/24 V

Terhadap Beban Non Linier”

*Mohd Yogi Yusuf, Firdaus**, Feranita**


*Alumni Teknik Elektro Universitas Riau **Jurusan Teknik Elektro Universitas Riau
Kampus Binawidya Km 12,5Simpang Baru Panam, Pekanbaru 28293
Jurusan Teknik Elektro Universitas Riau
Email: yogi.te.ur@gmail.com

ABSTRACT

The use of non-linear loads are increasingly widespread. The non-linear load can cause
distortion of the voltage wave and current wave. This waveform distortion commonly called
harmonics. The problems that can be caused by harmonics include increased energy losses,
overheating and low work factor. In practice the presence of harmonics is carrying losses on a
variety of tools, one of which is the distribution transformer. In this research designed to
determine the harmonic simulation in every winding connection. Software used in this research
was ETAP 11.0. Results from this research indicate a winding connection most good to be used
in transformer based on the value of THD.

Keywords: Harmonic current, Transformer, THD, ETAP, Winding Connection

I. PENDAHULUAN gelombang aslinya sedangkan bilangan bulat


pengali frekuensi dasar disebut angka urutan
Penggunaan beban-beban non linier harmonisa. (Syahruddin, 2012)
kini semakin luas. Beban non linier tersebut Transformator adalah suatu alat yang dapat
dapat menyebabkan distorsi bentuk memindahkan dan mengubah besar energi
gelombang arus maupun tegangan. Distorsi listrik dari satu atau lebih rangkaian listrik
gelombang ini biasa disebut harmonisa. ke rangkaian listrik yang lain dengan
Masalah-masalah yang dapat ditimbulkan frekuensi yang sama. Pada transformator
oleh harmonisa antara lain adalah tiga phasa terdapat dua hubungan belitan
meningkatnya rugi-rugi energi, overheating utama yaitu hubungan delta dan hubungan
dan faktor kerja yang rendah. Dalam bintang. Dan ada empat kemungkinan lain
prakteknya keberadaan harmonisa ini hubungan transformator tiga phasa yaitu
membawa kerugian pada berbagai alat, salah Hubungan Wye-Delta (Y-Δ), Hubungan
satunya adalah transformator distribusi. Delta-Wye (Δ-Y), Hubungan Wye-Wye (Y-
Dampak dari harmonisa ini dapat juga Y), Hubungan Delta-Delta (Δ-Δ).
menyebabkan biaya operasi yang tinggi dan
keandalan sistem yang rendah. Harmonisa II. LANDASAN TEORI
adalah munculnya gelombang-gelombang
dengan frekuensi berbeda yang merupakan 2.1 Transformator
perkalian bilangan bulat dengan frekuensi
dasarnya. Hal ini disebut frekuensi Transformator merupakan suatu alat
harmonisa yang timbul pada bentuk listrik yang mengubah tegangan arus bolak

Jom FTEKNIK Volume 3 No. 1 Februari 2016 1


balik dari satu tingkat ke tingkat yang lain transformator adalah untuk mengurangi
melalui suatu gandengan magnet dan reluktansi (tahanan magnetis) dari rangkaian
berdasarkan prinsip-prinsip induksi magnetis (common magnetic circuit).
elektromagnet. Transformator terdiri atas (Peranginangin, 2011)
sebuah inti, yang terbuat dari besi berlapis
dan dua buah kumparan, yaitu kumparan 2.3 Konstruksi Transformator
primer dan kumparan sekunder
(Lumbanraja, 2009) Pada dasarnya transformator terdiri
dari kumparan primer dan sekunder yang
2.2 Prinsip Kerja Transformator dibelitkan pada inti ferromagnetik.
Berdasarkan letak kumparan terhadap inti,
Transformator terdiri atas dua buah transformator terdiri dari dua macam
kumparan (primer dan sekunder) yang kontruksi yaitu tipe inti (core type) dan tipe
bersifat induktif. Kedua kumparan ini cangkang (shell type). Kedua tipe ini
terpisah secara elektris namun berhubungan menggunakan inti yang berlaminasi yang
secara magnetis melalui jalur yang memiliki terisolasi satu sama lainnya dengan tujuan
reluktansi (reluctance) rendah. Apabila untuk mengurangi rugi-rugi dan arus eddy
kumparan primer dihubungkan dengan umum transformator dapat dibedakan dua
sumber tegangan bolak-balik maka fluks jenis menurut konstruksinya, yaitu:
bolak-balik akan muncul di dalam inti yang (Peranginangin, 2011)
dilaminasi, karena kumparan tersebut
membentuk jaringan tertutup maka 2.3.1 Tipe Inti (core type)
mengalirlah arus primer. Akibat adanya
fluks di kumparan primer maka di kumparan Pada transformator tipe inti, kumparan
primer terjadi induksi (self induction) dan mengelilingi inti dan kontruksi dari intinya
terjadi pula induksi di kumparan sekunder berbentuk huruf L atau huruf U.
karena pengaruh induksi dari kumparan
primer atau disebut sebagai induksi bersama
(mutual induction) yang menyebabkan
timbulnya fluks magnet di kumparan
sekunder, maka mengalirlah arus sekunder
jika rangkaian sekunder di bebani, sehingga
energi listrik dapat ditransfer keseluruhan
(secara magnetisasi) Gambar 1. Konstruksi transformator tipe inti
d (Peranginangin, 2011)
(Volt) (1)
dt
2.3.2 Tipe Cangkang (shell type)
Perlu diingat bahwa hanya tegangan
Pada transformator tipe cangkang,
listrik arus bolak-balik yang dapat
kumparan atau belitan transformator
ditransformasikan oleh transformator,
dikelilingi oleh inti dan kontruksi intnya
sedangkan dalam bidang elektronika,
berbentuk huruf E, huruf I, dan huruf F.
transformator digunakan sebagai gandengan
impedansi antara sumber dan beban untuk
menghambat arus searah sambil tetap
melakukan arus bolak-balik antara
rangkaian.
Tujuan utama menggunakan inti pada

Jom FTEKNIK Volume 3 No. 1 Februari 2016 2


lilitan fasa pertama disambung dengan ujung
mula lilitan fasa kedua, akhir fasa kedua
dengan ujung mula fasa ketiga dan akhir
fasa ketiga dengan ujung mula fasa pertama.
Tegangan transformator tiga phasa dengan
kumparan yang dihubungkan segitiga yaitu;
masing-masing berbeda 120°.
Gambar 2. Konstruksi Transformator tipe (Nainggolan, 2010)
cangkang (Peranginangin, 2011)

2.4 Hubungan Transformator Tiga fasa

Secara umum ada 3 macam jenis


hubungan pada transformator tiga fasa yaitu:

2.4.1 Hubungan Bintang (Y) Gambar 4. Transformator tiga fasa


hubungan segitiga/delta (Nainggolan, 2010)
Hubungan bintang ialah hubungan
transformator tiga fasa, dimana ujung-ujung Dari gambar 2.11 diperoleh bahwa :
awal atau akhir lilitan disatukan. Titik (6)
dimana tempat penyatuan dari ujung-ujung (7)
lilitan merupakan titik netral. Arus (8)
transformator tiga phasa dengan kumparan (9)
yang dihubungkan bintang yaitu;
masing-masing berbeda 120°. (Nainggolan, 2.5 Jenis-Jenis Hubungan Transformator
2010) Tiga Fasa

Dalam pelaksanaanya, tiga buah


lilitan phasa pada sisi primer dan sisi
sekunder dapat dihubungkan dalam
bermacam-macam hubungan, seperti bintang
dan segitiga, dengan kombinasi Y-Y, Y-Δ,
Δ-Y, Δ-Δ. Di bawah ini pembahasan
Gambar 3. Transformator tiga fasa hubungan transformator tiga phasa secara
hubungan bintang (Nainggolan, 2010) umum : (Nainggolan, 2010)
Dari gambar 1.3 diperoleh bahwa: 2.5.1 Hubungan Wye-Wye (Y-Y)
(2) Pada hubungan bintang-bintang,
(3) rasio tegangan fasa-fasa (L-L) pada primer
(4) dan sekunder adalah sama dengan rasio
(5) setiap trafo. Sehingga, tejadi pergeseran fasa
sebesar 30° antara tegangan fasa-netral (L-
2.4.2 Hubungan Segitiga/Delta (∆) N) dan tegangan fasa-fasa (L-L) pada sisi
primer dan sekundernya.
Hubungan segitiga adalah suatu Hubungan Y-Y pada transformator tiga
hubungan transformator tiga fasa, dimana phasa dapat dilihat pada Gambar 1.5 Pada
cara penyambungannya ialah ujung akhir hubungan Y-Y, tegangan masing-masing

Jom FTEKNIK Volume 3 No. 1 Februari 2016 3


primer fasa adalah :
V LP
3
Tegangan phasa primer sebanding
dengan tegangan phasa sekunder dan
perbandingan belitan transformator maka,
perbandingan antara tegangan primer Gambar 6. Transformator tiga fasa
dengan tegangan sekunder pada hubungan Y-∆ (Nainggolan, 2010)
transformator hubungan Y-Y adalah :
2.5.3 Hubungan Delta-Wye (∆-Y)
(10)
Transformator hubungan Δ-Y,
digunakan untuk menurunkan tegangan dari
tegangan transmisi ke tegangan rendah.
Transformator hubungan Δ-Y dapat dilihat
pada Gambar 1.7 Pada hubungan Δ-Y,
tegangan kawat ke kawat primer sama
dengan tegangan phasa primer (
Gambar 5. Transformator tiga fasa ), dan tegangan sisi sekundernya
hubungan Y-Y (Nainggolan, 2010) ( ), maka perbandingan
tegangan pada hubungan Δ-Y adalah :
2.5.2 Hubungan Wye-Delta (Y-∆)
(12)
Transformator hubungan Y-Δ,
digunakan pada saluran transmisi sebagai
penaik tegangan. Rasio antara sekunder dan
primer tegangan fasa-fasa adalah 1/√3 kali
rasio setiap trafo. Terjadi sudut 30° antara
tegangan fasa-fasa antara primer dan
sekunder yang berarti bahwa trafo Y-Δ tidak
bisa diparalelkan dengan trafo Y-Y atau
trafo Δ-Δ. Hubungan transformator Y-Δ Gambar 7. Transformator tiga fasa
dapat dilihat pada Gambar 1.6 Pada hubungan ∆-Y (Nainggolan, 2010)
hubungan ini tegangan kawat ke kawat
primer sebanding dengan tegangan phasa 2.5.4 Hubungan Delta-Delta (∆-∆)
primer ( ) dan tegangan kawat
Pada transformator hubungan Δ-Δ,
ke kawat sekunder sama dengan tegangan
tegangan kawat ke kawat dan tegangan
phasa ( ), sehingga diperoleh
phasa sama untuk sisi primer dan sekunder
perbandingan tegangan pada hubungan Y-Δ transformator ( ),
adalah : maka perbandingan tegangannya adalah :
(11) (13)
Sedangkan arus pada transformator
hubungan Δ-Δ adalah :
(14)

Jom FTEKNIK Volume 3 No. 1 Februari 2016 4


periode tegangan masukan. Dengan
impedansinya yang tidak konstan, maka arus
yang dihasilkan tidaklah berbanding lurus
dengan tegangan yang diberikan, sehingga
beban non linier tidaklah mematuhi hukum
Ohm yang menyatakan arus berbanding
lurus dengan tegangan.
Gambar 8. Transformator tiga fasa
Gelombang arus yang dihasilkan
hubungan ∆-∆ (Nainggolan, 2010)
oleh beban non linier tidak sama dengan
bentuk gelombang tegangan sehingga terjadi
2.6 Beban Linier
cacat (distorsi). Dengan meluasnya
pemakaian beban non linier, gelombang
Beban linier adalah beban yang
sinusoidal ini dapat mengalami distorsi
impedansinya selalu konstan sehingga arus
(Warman, 2013).
selalu berbanding lurus dengan tegangan
Gambar 1.10 berikut adalah contoh
setiap waktu. Beban linier ini mematuhi
bentuk gelombang tegangan dan arus
hukum Ohm yang menyatakan bahwa arus
dengan beban non linier.
berbanding lurus dengan tegangan. Tegangan
Gelombang arus yang dihasilkan oleh beban V, I
Arus
linier akan sama dengan bentuk gelombang
tegangan. Apabila diberi tegangan
sinusoidal, maka arus yang mengalir ke ωt
beban linier juga merupakan sinusoidal
sehingga tidak terjadi distorsi dan tidak
menimbulkan harmonisa. Beban ini berupa
elemen pasif seperti resistor, computer dan Gambar 10. Gelombang tegangan dan arus
kapasitor. Beberapa contoh beban linier beban non linier (Warman, 2013)
adalah lampu pijar, pemanas, resistor, dan
lain-lain (Warman, 2013). Gambar 1.9 Kecendrungan penggunaan beban-
berikut adalah contoh bentuk gelombang beban elektronika dalam jumlah besar akan
arus dan tegangan dengan beban linier. menimbulkan masalah yang tidak terelakkan
sebelumnya. Berbeda dengan beban-beban
V, I listrik yang menarik arus sinusoidal
(sebentuk dengan tegangan yang
ωt mensuplainya), beban-beban elektronik
menarik arus dengan bentuk non sinusoidal
walaupun disupalai oleh tegangan
sinusoidal. Beban yang memiliki sifat ini
disebut sebagai beban non linier.
Gambar 9. Bentuk gelombang arus dan Beban non linier adalah peralatan
tegangan dengan beban linier (Warman, yang menghasilkan gelombang-gelombang
2013) arus yang berbentuk sinusoidal berfrekuensi
tinggi yang disebut dengan arus harmonisa.
2.7 Beban Non Linier Arus harmonisa ini menimbulkan banyak
implikasi pada peralatan sistem tenaga
Beban non linier adalah beban yang listrik. Misal rugi-rugi jaringan akan
impedansinya tidak konstan dalam setiap meningkat, pemanasan yang tinggi pada

Jom FTEKNIK Volume 3 No. 1 Februari 2016 5


kapasitor, transformator, dan pada mesin-
mesin listrik yang berputar serta kesalahan
pada pembacaan alat ukur RMS. (Warman,
2013)

2.8 Harmonisa

Harmonisa adalah pembentukan


gelombang-gelombang dengan frekuensi
berbeda yang merupakan perkalian bilangan Gambar 11. Spektrum Harmonisa Arus
bulat dengan frekuensi dasarnya. Hal ini (Syahruddin, 2012)
disebut frekuensi harmonisa yang timbul
pada bentuk gelombang aslinya sedangkan 2.11 Harga RMS Tegangan dan Arus
bilangan bulat pengali frekuensi dasar
disebut angka urutan harmonisa. Misalnya, Harga RMS tegangan:
frekuensi dasar suatu sistem tenaga listrik 

adalah 50 Hz, maka harmonisa keduanya Vrms  V


h 1
h
2
(16)
adalah gelombang dengan frekuensi sebesar
100 Hz, harmonisa ketiga adalah gelombang Harga RMS arus:

dengan frekuensi sebesar 150 Hz dan
seterusnya. (Syahruddin, 2012)
I rms  I
h 1
2
h (17)

2.9 Orde Harmonisa 2.12 Total Harmonic Distortion (THD)


Orde dari harmonisa merupakan Distorsi harmonisa total disebut
perbandingan antara frekuensi harmonisa dengan Total Harmonic Distortion (THD)
dengan frekuensi fundamental, dimana: adalah indeks yang menunjukkan total
f
h h harmonisa dari gelombang tegangan atau
f1 (15) arus yang mengandung komponen
individual harmonisa, yang dinyatakan
2.10 Spektrum Harmonisa dalam persen terhadap komponen
Spektrum harmonisa adalah fundamentalnya. (Syahruddin, 2012)
distribusi dari semua amplitudo komponen THD untuk gelombang tegangan
harmonisa sebagai fungsi dari orde adalah:

V
harmonisa, dan diilustrasikan menggunakan 2
h
histogram. Bisa dikatakan spektrum adalah h2
merupakan perbandingan arus atau tegangan THDV   100% (18)
V1
pada frekuensi harmonisa terhadap arus atau
tegangan pada frekuensi fundamental. THD untuk gelombang arus adalah:

I
Spektrum digunakan sebagai dasar 2
h
perancangan filter untuk mengurangi h2
harmonisa, terutama bila yang digunakan THDI   100% (19)
I1
adalah filter pasif. Gambar spektrum
harmonisa diperlihatkan pada Gambar 1.11
2.13 Total Demand Distortion (TDD)
Distorsi harmonisa (harmonic
distortion) paling berarti apabila dimonitor

Jom FTEKNIK Volume 3 No. 1 Februari 2016 6


pada Point of Common Coupling (PCC) transformator ketika arus beban
dimana beban dihubungkan yang jauh dari mengandung komponen harmonisa.
pembangkit. Distorsi harmonisa pada PCC a) Harmonisa arus menyebabkan
ini cenderung menunjukkan distorsi yang meningkatnya rugi-rugi tembaga yang
lebih besar jika arus beban (demand load dinyatakan dengan Persamaan 2.47.
current) besar dan sebaliknya. Oleh karena 

itu total kandungan harmonisa diukur PCU   I n2 Rn


n 1
berdasarkan arus beban I L yang disebut b) Harmonisa tegangan menyebabkan
dengan Total Demand Distortion (TDD). meningkatnya rugi-rugi besi, seperti eddy
Total Demand Distortion adalah: current dan rugi-rugi hysteresis.
 (Syahruddin, 2012)
I
h2
2
h

TDDI   100% (20)


IL III. METODOLOGI PENELITIAN

2.14 Pengaruh Negatif dari Harmonisa 3.1 Flowchart Penelitian

Pada keadaan normal, arus beban Mulai

setiap fasa dari beban linier yang seimbang


pada frekuensi dasarnya akan saling Mengumpulkan data Simulasi pada
menghapuskan sehingga arus netralnya kelistrikan beserta Transformator
menjadi nol. Sebaliknya beban non linier tipe harmonik beban hubungan Y-Δ
(Harmonic Analysis)
satu fasa akan menimbulkan harmonisa
kelipatan tiga ganjil yang disebut triplen
Rancang One Line
harmonisa (harmonisa ke-3, ke-9, ke-15 dan Diagram pada ETAP
seterusnya) yang sering disebut zero 11.0 Apakah
sequence harmonisa. simulasi
berjalan dengan
Harmonisa ini dapat menghasilkan baik?
arus netral yang lebih tinggi dari arus fasa Simulasi pada
Transformator tidak
karena saling menjumlah di tiap fasanya. hubungan Y-Y
Harmonisa pertama urutan polaritasnya ya
(Harmonic Analysis)
adalah positif, harmonisa kedua urutan
Menampilkan hasil
polaritasnya adalah negatif dan harmonisa simulasi
Simulasi pada
ketiga urutan polaritasnya adalah nol, Transformator
harmonisa keempat adalah positif (berulang hubungan Δ-Y
berurutan dan demikian seterusnya). (Harmonic Analysis) Menganalisa hasil
simulasi
2.15 Harmonisa pada Transformator Simulasi pada
Transformator
hubungan Δ-Δ Selesai
Transformator dirancang untuk
(Harmonic Analysis)
menyalurkan daya yang dibutuhkan ke
beban dengan rugi-rugi minimum pada
frekuensi fundamentalnya. Arus dan
tegangan harmonisa secara signifikan akan
menyebabkan panas lebih. Ada dua
pengaruh yang ditimbulkan panas lebih pada Gambar 12. Diagram Alir Penelitian

Jom FTEKNIK Volume 3 No. 1 Februari 2016 7


3.2 Data Transformator

Berikut ini adalah tabel data tegangan


fasa dan tegangan line transformator 3 fasa
setiap hubungan belitan.

Tabel 1 Data Tegangan Transformator

Hubungan V ph (Volt) VL  L (Volt)


Gambar 13. Tipe harmonik beban 1 dan
Y-Y 198 22 342 38 beban 2
Y-Δ 220 23 381 23
2) Beban Adjustable Speed Drive
Δ-Y 397 43 397 74
Δ- Δ 380 43 380 43

3.3 Tipe Harmonik Beban Non Linier

Beban non linier adalah beban yang


impedansinya tidak konstan dalam setiap
periode tegangan masukan. Dengan
impedansinya yang tidak konstan, maka arus
yang dihasilkan tidaklah berbanding lurus Gambar 14. Tipe harmonik beban 3
dengan tegangan yang diberikan, sehingga
beban non linier tidaklah mematuhi hukum 3) Beban AC :
Ohm yang menyatakan arus berbanding
lurus dengan tegangan.
Gelombang arus yang dihasilkan
oleh beban nonlinier tidak sama dengan
bentuk gelombang tegangan sehingga terjadi
cacat (distorsi). Dengan meluasnya
pemakaian beban non linier, gelombang
sinusoidal ini dapat mengalami distorsi
(Warman, 2013). Berikut ini adalah bentuk
gelombang dan tipe harmonik dari beban Gambar 15 Tipe harmonik beban 4
yang akan diuji.
1) Beban lampu 3.4 Perancangan Simulasi

Pada penelitian ini akan dibuat dan


disimulasikan setiap hubungan belitan
transformator 3 fasa. Pembuatan simulasi ini
menggunakan sebuah transformator 3 fasa
yang akan diubah hubungan belitannya
sesuai dengan beberapa skenario simulasi
dengan tujuan untuk mendapatkan nilai total
harmonic distortion (THD) di setiap

Jom FTEKNIK Volume 3 No. 1 Februari 2016 8


hubungan belitannya. Dari beberapa nilai Tabel 2. Hasil pengujian transformator pada
THD tersebut, akan didapatkan hubungan berbagai hubungan belitan berdasarkan THD
belitan mana yang paling baik ketika Arus
dihubungkan dengan beban non linier.
Secara umum, simulasi yang akan Beban 1 Beban 2 Beban 3 Beban 4
dijalankan dapat dilihat pada gambar No Pengujian
(%) (%) (%) (%)
dibawah ini.
1 Y-Y 22.35 16.83 10.48 26.27
2 Y-Δ 22.42 16.88 10.50 26.37
3 Δ-Y 20.48 16.38 9.06 26.15
4 Δ-Δ 22.16 16.75 10.39 26.22

30%
25%
Beban
20% 1
THD Arus Beban
15%
2
10% Beban
Gambar 16 Simulasi transformator 3 fasa 5% 3
menggunakan ETAP 11.0 Beban
0% 4
Y-Y Y-Δ Δ-Y Δ-Δ
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
Hubungan Belitan
4.1 Hasil Pengujian Transformator
Gambar 17 Kurva perbandingan THD arus
Setelah semua prosedur simulasi pada masing-masing hubungan belitan
berhasil dijalankan, tahapan selanjutnya
adalah run harmonic load flow. Setiap Dari gambar diatas menunjukkan
hubungan belitan diuji dengan dihubung ke persentase THD arus paling kecil terjadi
masing-masing beban. Keluaran data yang pada hubungan Δ-Y. Pada hubungan Δ-Y,
didapatkan pada pengujian ini berupa nilai THD arus dapat berkurang sampai 2% pada
total harmonic distortion (dalam bentuk %) beban 1. Persentase THD paling besar
untuk setiap hubungan belitan transformator. terjadi pada hubungan Y-Δ. Dari hasil
Data selengkapnya tertera pada tabel 2 dan pengujian tersebut menunjukkan hubungan
tabel 3. belitan yang cocok untuk transformator
yaitu hubungan Δ-Y.

Jom FTEKNIK Volume 3 No. 1 Februari 2016 9


Tabel 3. Hasil pengujian transformator pada 16

Spektrum Harmonisa Arus (%)


berbagai hubungan belitan berdasarkan THD 14
Tegangan
12
Beban 1 Beban 2 Beban 3 Beban 4
No Pengujian 10
(%) (%) (%) (%) 8 Y-Y
1 Y-Y 0.00 0.02 0.00 0.01 6
Y-Δ
2 Y-Δ 0.00 0.00 0.00 0.01 4
2 Δ-Y
3 Δ-Y 0.00 0.01 0.01 0.02
0 Δ-Δ
4 Δ-Δ 0.01 0.01 0.00 0.00 5 6 7 11 13 17 19 23 25 29 31 35 37 41 43 47 49
Orde Harmonisa

Berdasarkan data diatas, sesuai


dengan standard IEEE 519-1992 yang ada Gambar 19 Kurva orde harmonisa
pada tabel 3 dapat dilihat bahwa THD transformator ketika dihubung ke beban 2
tegangan sudah sangat baik, maka fokus
pembahasan dan analisa hanya pada bagian Dari gambar diatas menunjukkan
THD arus. Berikut ini adalah data orde ketika transformator dihubung ke beban 2,
harmonisa dari THD arus pada masing- pada hubungan Δ-Y, orde harmonisa ke-19
masing hubungan belitan. dan seterusnya telah dihilangkan.

20 7
Spektrum Harmonisa Arus (%)

6
Spektrum Harmonisa Arus (%)

15 Y-Y 5

10 Y-Δ 4 Y-Y
3 Y-Δ
Δ-Y Δ-Y
5 2
Δ-Δ
Δ-Δ 1
0
5 6 7 11 13 17 19 23 25 29 31 35 37 41 43 47 49 0
Orde Harmonisa 5 6 7 11 13 17 19 23 25 29 31 35 37 41 43 47 49
Gambar 18 Kurva orde harmonisa Orde Harmonisa
transformator ketika dihubung ke beban 1 Gambar 20 Kurva orde harmonisa
transformator ketika dihubung ke beban 3
Dari gambar diatas menunjukkan
ketika transformator dihubung ke beban 1, Dari gambar diatas menunjukkan
pada hubungan Δ-Y, orde harmonisa ke-19 ketika transformator dihubung ke beban 3,
dan seterusnya telah dihilangkan. pada hubungan Δ-Y, orde harmonisa ke-19
dan seterusnya telah dihilangkan.

Jom FTEKNIK Volume 3 No. 1 Februari 2016 10


20 3. Hubungan Δ-Y mampu
Spektrum Haronisa Arus (%)

menghilangkan orde harmonisa yang


15 ada pada hubungan belitan
transformator lainnya, yaitu orde ke
Y-Y 19 sampai orde ke 49.
10
Y-Δ
Δ-Y 5.2 Saran
5 Δ-Δ
Penelitian yang telah dilakukan masih
0
terdapat kekurangan. Salah satu kekurangan
5 6 7 11 13 17 19 23 25 29 31 35 37 41 43 47 49
adalah nilai THD arus yang masih melebihi
Orde Harmonisa
standard. Kekurangan ini dapat dijadikan
Gambar 21. Kurva orde harmonisa
sebagai bahan penelitian lanjutan yaitu cara
transformator ketika dihubung ke beban 4
mengurangi harmonisa pada transformator.
Diharapkan dengan penelitian itu akan
Dari gambar diatas menunjukkan
didapatkan cara metode pengurangan
ketika transformator dihubung ke beban 4,
harmonisa yang lebih efektif.
pada hubungan Δ-Y, orde harmonisa ke-19
dan seterusnya telah dihilangkan.
Dari hasil pengujian tersebut,
DAFTAR PUSTAKA
menunjukkan hubungan Δ-Y dapat
menurunkan THD arus atau memiliki THD
Irianto, C.G., M. Sukmawidjaja, dan A.
arus yang paling rendah dibandingkan
Wisnu. 2008. Mengurangi
dengan hubungan belitan transformator
Harmonisa pada Transformator 3
lainnya. Dari tabel dan kurva diatas
Fasa. Jurnal JETri 7(2): 53-68.
menunjukkan bahwa hubungan Δ-Y mampu
Kadir, A. 1989. Transformator, PT Elex
menghilangkan beberapa orde harmonisa
Media Komputindo-Kelompok
yang ada pada hubungan Y-Y, hubungan Y-
Gramedia, Jakarta
Δ dan hubungan Δ-Δ.
Lumbanraja, H. 2008. Pengaruh beban tidak
seimbang terhadap efisiensi
V. KESIMPULAN DAN SARAN
transformator 3 fasa hubungan
open-delta. Skripsi. Teknik Elektro
5.1 Kesimpulan
Fakultas Teknik Universitas
Sumatera Utara (USU). Medan.
Berdasarkan pengujian pada masing-
Nainggolan, E.P. 2010. Pengaruh
masing hubungan belitan transformator,
Ketidakseimbangan Beban
maka penulis dapat menyimpulkan:
Terhadap Arus Netral Dan Losses
1. Berdasarkan hasil pengujian terhadap
Pada Transformator Distribusi
keempat beban, hubungan Δ-Y
(Studi Kasus Pada PT. PLN
mampu menurunkan THD harmonisa
(Persero) Cabang Medan, Rayon
mencapai 2% pada beban 1 bila
Medan Kota). Skripsi. Teknik
dibandingkan dengan hubungan
Elektro Fakultas Teknik
belitan transformator lainnya.
Universitas Sumatera Utara (USU).
2. Persentase THD arus pada
Medan.
transformator hubungan Y-Δ lebih
Peranginangin, R.H. 2011. Studi Analisis
besar dibandingkan hubungan belitan
Pengaruh Harmonisa Terhadap
transformator yang lainnya.

Jom FTEKNIK Volume 3 No. 1 Februari 2016 11


Transformator Distribusi (Aplikasi
Pada PT. PLN (Persero) Cabang
Medan, Rayon Medan Kota).
Skripsi. Teknik Elektro Fakultas
Teknik Universitas Sumatera Utara
(USU). Medan.
Setiawan, A. 2007. Kajian Pengaruh
Harmonisa terhadap Sistem Tenaga
Listrik. Jurnal Eltek 5(2).
Syahruddin, M. 2012. Perancangan Filter
Pasif Orde Tiga Untuk Mengurangi
Harmonisa Akibat Beban Non
Linear (Studi Kasus Pada
Transformator 400 kVA Di
Politeknik Negeri Medan). Skripsi.
Teknik Elektro Fakultas Teknik
Universitas Sumatera Utara (USU).
Medan.
Warman, Eddy. 2013. Penentuan Faktor
Pengali Sistem Pengukuran Analog
Untuk Beban Non Linear. Skripsi.
Teknik Elektro Fakultas Teknik
Universitas Sumatera Utara (USU).
Medan.
Wijanarko, R. S., O. Penangsang, dan D. F.
U. Putra. 2014. Penentuan
Peralatan Untuk Meredam
Harmonisa Berdasarkan Jenis
Sumber Harmonisa, Orde dan
Magnitude Harmonisa dengan
Memperhitungkan Biaya Investasi
di PT. Wilmar Nabati, Gresik.
Jurnal Teknik Pomits 2(1).

Jom FTEKNIK Volume 3 No. 1 Februari 2016 12