Anda di halaman 1dari 9

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penekanan terhadap pendidikan nilai merupakan bagian penting yang sering
terlupakan dalam proses pendidikan selama ini. Patut disayangkan selama ini
pemahaman tentang nilai-nilai dalam pembelajaran matematika yang disampaikan
para guru belum menyentuh ke seluruh aspek yang mungkin. Matematika hanya
dikenal sebagai tools untuk memecahkan masalah-masalah praktis dalam dunia sains,
baik eksakta maupun non eksakta. Memang matematika adalah bahasa artifisial yang
berbeda dengan bahasa verbal biasa. Tuntutan agar siswa mampu menguasainya dan
menjadi syarat kelulusan ujian nasional menjadikan matematika adalah beban bagi
banyak siswa di sekolah-sekolah, bahkan sampai ke tingkat momok/ketakutan
(anxiety) yang serius terhadap subyek ini. Banyak akhirnya yang sampai terbentuk
suatu konsep diri dalam siswa itu bahwa dia tidak mungkin bisa matematika, tidak
berbakat, dan sebagainya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah pengertian dari nilai-nilai pendidikan Matematika?
2. Apakah manfaat nilai pendidikan Matematika dalam kehidupan?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai yaitu:
1. Mengetahui pengertian dari nilai-nilai pendidikan Matematika.
2. Mengetahui manfaat nilai pendidikan Matematika dalam kehidupan.
2

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Nilai-nilai dalam Pendidikan Matematika


Sebelum membahas nilai dalam pendidikan matematika terlebih dahulu kita
akan membahas defenisi dari ‘nilai’ itu sendiri. Menurut beberapa ahli,
mendefinisikan nilai sebagai berikut; a) Pepper (dalam Soelaeman, 2005:35)
mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu tentang yang baik atau yang buruk, b)
Soelaeman (2005) menyatakan bahwa nilai adalah sesuatu yang dipentingkan
manusia sebagai subjek, menyangkut segala sesuatu yang baik atau yang buruk,
sebagai abstraksi, pandangan atau maksud dari berbagai pengalaman dalam seleksi
perilaku yang ketat, c) Darmodiharjo (dalam Setiadi, 2006:117) mengungkapkan
nilai merupakan sesuatu yang berguna bagi manusia baik jasmani maupun rohani.
Dari beberapa defenisi para ahli tentang nilai di atas maka dapat disimpulkan bahwa:
Nilai sebagai sesuatu yang positif dan bermanfaat dalam kehidupan manusia
dan harus dimiliki setiap manusia untuk dipandang dalam kehidupan
bermasyarakat. Nilai di sini dalam konteks etika (baik dan buruk), logika
(benar dan salah), estetika (indah dan jelek).
Nilai jika kita kaitkan dengan pendidikan merupakan batasan segala sesuatu
yang mendidik ke arah kedewasaan, bersifat baik maupun buruk sehingga berguna
bagi kehidupan yang diperoleh melalui proses pendidikan dan dari proses pendidikan
inilah kita akan mencapai tujuan dari pendidikan.
Pembahasan diatas akan membawa kita pada pemahaman mengenai nilai
dalam pendidikan matematika. Matematika merupakan wahana untuk menuju tujuan
pendidikan. Oleh karena itu, nilai pendidikan dalam pembelajaran matematika tidak
hanya mengandung nilai edukasi yang bersifat mencerdaskan peserta didik tetapi
juga nilai edukasi yang membantu membentuk pribadi peserta didik.
Nilai pendidikan matematika meliputi: pandangan formalistik dan pandangan
aktivis, pemahaman instrumental dan pemahaman relasional, teoritis dan relevansi,
aksesibilitas, evaluasi dan penalaran. Clarkson, Bishop, FitzSimons, & Seah (2000)
nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan matematika meliputi: kejelasan,
3

fleksibilitas, konsistensi, berpikir terbuka, kegigihan, akurat, bekerja efisien, bekerja


sistematis, enjoyment, pengaturan efektif, kreativitas, dan konjektur.
Nilai pandangan formalistik menunjukkan deduktif dan nilai belajar
matematika yang reseptif, sementara nilai pandangan aktivis menunjukkan intuisi
dan pembelajaran penemuannya, artinya sisi induktifnya. Pembelajaran instrumental
menunjukkan aturan pembelajaran, operasi dan formulasi dalam pendidikan
matematika dan aplikasinya. Pembelajaran relasional menunjukkan menampilkan
hubungan antar konsep dan membentuk grafik yang tepat. Nilai relevansi
menunjukkan pentingnya pengetahuan matematika dalam memecahkan masalah
sehari-hari. Masalah dan tuntutan sehari-hari menunjukkan perbedaan di masyarakat
dan budaya. Dengan demikian, matematika dapat memberikan solusi khusus untuk
kebutuhan dan tuntutan budaya. Nilai teoritis pendidikan matematika menunjukkan
pengajaran matematika secara teori dan jauh dari peristiwa sehari-hari.
Nilai aksesibilitas menunjukkan mengerjakan dan mempersiapkan kegiatan
matematika oleh setiap orang atau hanya oleh orang-orang yang memiliki bakat di
dalamnya. Nilai evaluasi-penalaran artinya siswa diminta untuk menyadari langkah-
langkah mengetahui, menerapkan operasi rutin, mencari pemecahan masalah,
penalaran, dan komunikasi untuk memecahkan masalah. Tiga pertama dari lima
langkah ini menunjukkan menggunakan pengetahuan matematika tentang
mengevaluasi jawaban; sedangkan dua terakhir menunjukkan kemampuan
menggunakan pengetahuan matematika, lebih banyak penalaran, dan kemampuan
menyebarkan pengetahuan (Seah & Bishop, 2000).
Legner (2013) mengkategorikan nilai dalam pendidikan matematika menjadi
tiga, yaitu nilai praktis, nilai disipliner, dan nilai kultural. Nilai praktis mengacu pada
pembelajaran metode dan algoritma tertentu untuk memecahkan masalah tertentu
atau menafsirkan data. Ini mungkin berguna atau tidak berguna dalam kehidupan
sehari-hari. Nilai disipliner akan mengacu pada cara berpikir matematis (pemecahan
masalah, penalaran, logika, dan bukti) dengan disiplin yang berarti bidang studi,
bukan perilaku. Keterampilan ini bisa diajarkan dalam matematika, namun bisa
bermanfaat di mata pelajaran lainnya. Nilai kultural mengacu pada bagaimana
matematika memberi nilai tambah pada budaya.
4

Nilai-nilai berkaitan dengan karakteristik dan sifat alami dari mata pelajaran.
Siswono (2012) mata pelajaran bahasa Indonesia mengajarkan nilai etika berbahasa
yang baik, matematika mengajarkan penalaran. Soedjadi (2000) matematika sebagai
ilmu mempunyai ciri: objeknya abstrak, berdasar pada kesepakatan, pola pikir
deduktif, mengandung simbol kosong, mempunyai semesta pembicaraan, dan
konsisten pada sistemnya. Matematika memiliki objek abstrak melatih siswa
merepresentasikan hal yang abstrak. Matematika berdasar pada kesepakatan
mengajarkan siswa untuk mematuhi kesepakatan dalam kehidupan sehari-hari. Pola
pikir deduktif melatih siswa membuat keputusan yang tepat. Memiliki simbol
bermakna kosong dapat diartikan siswa harus terbuka. Memiliki semesta
pembicaraan dapat diinterpretasikan baik buruk suatu nilai tergantung pada tempat
dan budaya.
Nilai-nilai dapat diintegrasikan dalam pembelajaran matematika secara
eksplisit maupun implisit. Pengintegrasian secara eksplisit disusun dengan sengaja
tercantum dalam silabus, RPP, dan bahan ajar. Contoh pengintegrasian nilai secara
eksplisit adalah nilai ketelitian, logis dan rasional, sistematis, dan konsisten.
Pengintegrasian secara eksplisit tidak tercantum dalam silabus, rpp, dan
bahan ajar. Misalnya pengintegrasian nilai pantang menyerah. Guru memberi tugas
yang menantang, hal tersebut terkandung maksud agar siswa berusaha sungguh-
sungguh dan pantang menyerah untuk menyelesaikannya.
Nilai Logis dan Rasional
Argumen sangat penting bagi alasan-alasan yang kita anggap benar, logika
sangat penting bagi rasionalitas. Argumen dapat logis jika argumen dilakukan atau
dinilai sesuai dengan prinsip-prinsip validitas yang ketat, sementara rasional sesuai
dengan persyaratan yang lebih luas bahwa rasional didasarkan pada alasan dan
pengetahuan. Matematika erat dengan nilai logis dan rasional. Dalam matematika
terdapat persoalan yang menuntut kita untuk membuktikan suatu teorema. Proses
membuktikan memerlukan langkah-langkah yang berdasar dan logis.
Nilai Teliti
Teliti dalam kamus besar Indonesia diartikan sebagai cermat, seksama, hati-
hati. Ketelitian dapat diajarkan melalui pembelajaran matematika. Ketika kita
5

menyelesaikan persoalan matematika sangat memerlukan ketelitian. Ketika kita tidak


teliti pada tahap awal penyelesaian, akan berakibat kesalahan untuk langkah
selanjutnya. Dalam menyelesaikan soal matematika juga diperlukan pengecekan
kembali sampai yakin bahwa jawaban benar. Guru dapat menekankan dalam
menyelesaikan soal matematika tidak boleh terburu-buru, diperlukan ketelitian dari
awal sampai akhir, dari memahami soal, penggunaan konsep, rumus, pengerjaan, dan
pengecekan ulang. Guru dapat membuat soal yang dengan sengaja menguji ketelitian
siswa.
Nilai Konsisten
Konsisten adalah tetap (tidak berubah-ubah), taat asas, ajek, selaras, sesuai
(Kamus Besar Bahasa Indonesia). Nilai konsisten dapat diajarkan melalui
matematika. Matematika konsisten dalam sistemnya. Jajaran genjang adalah
segiempat yang memiliki dua pasang sisi berhadapan sama dan sejajar. Siswa diberi
beberapa gambar dan diminta untuk menentukan apakah gambar tersebut jajaran
genjang atau bukan. Siswa yang konsisten memahami pengertian jajaran genjang
dapat menjawab dengan tepat.
Nilai Sistematis
Matematika adalah pembelajaran yang tersusun secara sistematis. Materi
matematika disusun secara sistematis berdasarkan materi prasyarat. Misalnya siswa
sebelum mempelajari materi bangun ruang terlebih dahulu mempelajari materi
bangun datar. Menyelesaikan persoalan matematika memerlukan langkah sistematis.
Pantang Menyerah
Matematika sering dianggap sebagai pelajaran yang tidak mudah.
Menyelesaikan soal matematika memerlukan beberapa langkah. Ketika menemui
soal yang menantang, diperlukan kegigihan dan pantang menyerah untuk
menemukan jawaban yang tepat. Guru mendorong siswa untuk lebih giat belajar
matematika, mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh.

Nilai praktis dan nilai guna


Siswa dengan mudah dapat diajak berpikir tentang nilai-nilai praktis dan nilai
guna matematika. Misalnya, orang awam yang bekerja kasar dapat menaikkan
6

muatan dengan ‘sangat’ baik tanpa belajar bagaimana membaca dan menulis, tetapi
dia tak akan bisa bekerja dengan baik tanpa mempelajari hitungan dan berhitung.
Orang yang tidak berpengetahuan tentang matematika akan di kasihani orang lain
dan akan mudah diperdaya. Atau dengan bahasa yang lebih tinggi, seperti:
pengetahuan tentang proses dasar matematika dan keterampilan menggunakannya
adalah persyaratan awal bagi manusia. Kebanyakan individu seperti halnya
kelompok, sama saja merancang kegagalan dalam hidup karena kurangnya kepekaan
berhitung (sense of calculation). Seseorang dengan perhitungan yang sesuai dapat
mengantisipasi seluruh penghalang yang mungkin ditemui dan oleh karena itu, dia
mampu mengikuti langkah pencegahan. Individu adalah satuan terkecil dari
masyarakat sipil. Masyarakat dapat makmur hanya bila unit terkecilnya juga
makmur. Dalam profesi secara langsung atau tidak, penggunaan matematika terjadi.
Banyak proyek tergantung pada matematika untuk keberhasilan fungsinya.
Matematika telah menjadi dasar seluruh sistem bisnis dan perdagangan dunia.
Ketidakmampuan massal dalam menguasai matematika adalah penghalang kemajuan
suatu negara yang tak dapat dihindari.

Nilai kedisiplinan
Kebiasaan siswa menganalisis dengan teliti suatu situasi sebelum
pengambilan keputusan sangat membantu dalam situasi hidup yang kompleks, di
mana pengambilan keputusan menjadi makin sulit. Ketika matematika menangani
fakta-fakta yang akurat dan presisi, maka tidak ada lingkup untuk ketidakpastian atau
ketidakjelasan. Ini membuat pikiran para pelajar makin luas dan terbuka. Ia
menikmati suatu penerimaan universal tanpa penghalang negara, bahasa, iklim, dan
sebagainya. Pengetahuan matematika membantu anggota masyarakat untuk
mengorganisasi idenya lebih logis dan mengungkapkan pemikirannya secara lebih
akurat dan eksplisit. Matematika melatih anggota masyarakat tidak take for
granted (langsung membenarkan) terhadap suatu hal, atau bergantung pada tradisi
atau otoritas, tetapi menyandarkan pada pemberian alasan.
7

2.2 Manfaat Nilai Pendidikan Matematika dalam Kehidupan


Selama ini masih banyak orang yang menganggap bahwa matematika tidak
lebih dari sekedar berhitung dan bermain dengan rumus dan angka-angka yang bikin
pusing siswa. Permasalahan belum diterimanya matematika dengan sukarela atau
senang hati oleh siswa menjadi pekerjaan atau tugas khusus bagi guru sebagai
pendidik hususnya guru matematika. Hal ini dapat diminimalisir dengan memberikan
wawasandan arahan serta pendekatan yang tepat kepada siswa. Khususnya tentang
penggunaanatau aplikasi matematika dalam bidang ilmu lain dalam kehidupan
sehari-hari. Secara sengaja atau tidak sengaja maupun langsung atau tidak langsung,
masyarakat atau siswa menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Soal-
soal matematika yang ditulis dalam beberapa buku paket matematika sekolah tidak
hanya berupa bilangan (hitung-hitungan) langsung tapi juga banyak yang berupa soal
cerita. Tingkatan soal juga tidak hanya menuntut cara berpikir yang rutin tetapi
banyak juga soal-soal cerita yang menuntut cara berpikir yang tidak rutin. Saat ini
mulai banyak metode pembelajaran yang diterapkan di sekolah tidak hanya sekedar
ceramah sehingga pengetahuan matematika tidak berpusat pada guru saja tetapi
siswa juga dituntut untuk membangun suatu konsep. Soal matematika yang disajikan
dalam soal cerita (tidak hanya bilangan) dan metode pembelajarannya dapat
memberikanmakna tertentu.

Guru dapat membantu siswanya mengembangkan diri mereka sendiri, yang


biasa diberikan dalam membantu anak menyelesaikan soal matematika seperti
beberapa soalmatematika berikut ini yang dikutip dari buku paket Matematika
Sekolah Dasar kelas 1,2 dan 3 (Handoko,2006) :1) Pak Fernandes mempunyai 5 dus
mi. Ada 5 tetangganya yang fakir miskin kemudianmi tersebut seluruhnya dibagikan.
Coba berapa sisa mi yang dimiliki pak Fernandes? (Handoko (1), 2006 : 49). 2)
Ratna dan Linda akan menyumbangkan majalah bekas ke perpustakaan
sekolah.Majalah milik Ratna sebanyak 65 dan majalah Linda sebanyak 75. Berapa
jumlah majalah yang akan disumbangkan Ratna dan Linda? (Handoko (2), 2006: 51)
3) Untuk membantu korban bencana alam, siswa kelas 1 dan kelas 2 mengumpulkan
mi. Mi yang terkumpul dari kelas 1 sebanyak 125, dari kelas 2 sebanyak 80 danyang
rusak sebanyak 9. Berapa mi yang tidak rusak? (Handoko (2), 2006: 67). 4)
8

Sebanyak 50 baju akan dibagikan kepada 10 anak yatim. Jika tiap anak
mendapat bagian yang sama, berapa banyak baju yang didapat tiap anak? (Handoko
(3), 2006 :34).

Dari soal di atas, orang tua dapat menerangkan nilai-nilai yang disampaikan
dalam soal tersebut di samping membantu anak menyelesaikannya. Nilai yang biasa
ditangkap dari soal tersebut adalah nilai ‘suka memberi’ dan berbagi baik kepada
teman, saudara, tetangga maupun fakir miskin dan anak yatim. Beberapa soal
matematika yang lain tentang pengukuran waktu seperti dikutip dalam buku kelas 2
SD (Supardjo,2006 : 82), buku kelas 4 SD (Handoko (4), 2006) dan buku kelas 5 SD
(Handoko (5),2006) sebagai berikut :1. Sekolah masuk pukul berapa? Pukul 9 pagi
kamu di mana? Apakah kamu berada disekolah pukul 9 pagi? Pukul 5 pagi, apakah
kamu sudah bangun? Pukul berapa kamu mulai tidur ? 3. Pukul 6 pagi, apakah kamu
sudah makan pagi 7. Cobalah mencatat lamanya aktivitas penting yang kamu
lakukan dalam satu hari,kemudian jumlahkan berapa lama waktu yang dibutuhkan.
(Handoko (5), 2006: 65).

Soal di atas, yang dalam buku paket Matematika SD tersebut juga menyertak
an gambar jam, dapat memunculkan nilai kedisiplinan mengatur waktu dan
tanggung jawab pada diri sendiri. Juga terdapat soal tentang bagaimana anak dapat
mengatur uang dengan baik, bertanggung jawab terhadap uang yang diberikan orang
tua dan menabung agar dapatmembeli barang yang diinginkan. Seorang pakar
pendidikan matematika, Soedjadi (dalam Zulkardi, 2000) mengatakan pembelajaran
matematika tidak hanya diarahkan agar siswa dapatmemecahkan soal dan
menerapkan matematika tetapi juga dapat menumbuhkankemampuan-kemampuan
sebagai berikut : 1) Kemampuan menerapkan dan menggunakan matematika dalam
bidang lain, 2) Kemampuan berpikir analisis dan sintesis, 3) Kemampuan
membedakan yang benar dan salah dengan alasan logis, 4) Kemampuan kerja keras,
konsentrasi dan mandir,i 5) Kemampuan memecahkan masalah secara tidak
langsung, kemampuan tersebut memberikan kontribusi bagi pendidikan
nilai anak seperti dapat membedakan mana yang salah dan benar, kerjakeras, mandiri
dan sebagainya.
9

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Nilai Pendidikan Matematika merupakan suatu yang positif dan bermanfaat
dalam kehidupan manusia dan harus dimiliki setiap manusia untuk dipandang
dalam kehidupan bermasyarakat. Nilai pendidikan dalam pembelajaran
matematika tidak hanya mengandung nilai edukasi yang bersifat mencerdaskan
peserta didik tetapi juga nilai edukasi yang membantu membentuk pribadi
peserta didik. Dengan demikian, nilai-nilai yang terbentuk pada diri peserta
didik melalui pembelajaran matematika akan berfanfaat tidak hanya pada
pembelajaran matematika itu sendiri, tetapi juga dalam kehidupannya.
3.2 Saran
Setelah membahas materi tentang Nilai-nilai dalam Pendidikan Matematika
tentunya sedikit banyak ada hal-hal yang kita dapatkan dari pembahasan ini,
namun dalam memahami materi ini kita tidak hanya berhenti sampai di sini
karena akan lebih banyak lagi yang kita dapatkan (menyangkut hal ini) jika
memiliki kemauan yang besar untuk mencari tahu lagi hal-hal mengenai nilai-
nilai dalam pendidikan matematika.