Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN TUTORIAL

BLOK BIOETIKA DAN HUMANIORA SKENARIO 1

ETIKA DOKTER SAAT MENGOBATI PASIEN

Kelompok A3
Agya Ghilman Faza G0012009
Aniki Puspita G0012017
Berlian Maya Dewi G0012043
Emma Ayu Lirani G0012071
Kenny Adhitya G0012105
Nadita Gita Oktaviani G0012145
Niluh Ayu Anissa Hanum G0012149
Resti Nurfadillah G0012177
Salsha Amalia G0012203
Yunindra Ken Shaufika G0012237

Tutor :

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN 2012
BAB I
PENDAHULUAN

SKENARIO 1

ETIKA DOKTER SAAT MENGOBATI PASIEN

Sebagai seorang dokter yang baru dan sudah lulus UKDI serta telah
menyelesaikan praktik internship, dr. Bambang sangat senang memperoleh ijin
praktik swasta di rumahnya. Ijin itu diperolehnya, setelah memenuhi persyaratan
penerbitan SIP. dr. Bambang mempunyai waktu praktik sebanyak 2 kali dalam sehari,
pagi : pukul 06.00-07.00 WIB dan sore : pukul 17.00-20.00 WIB. Pada suatu sore
datang seorang pasien wanita yang akan melakukan kontrasepsi dengan suntik KB.
dr. Bambang akan memberikan obat suntikan pada pantat pasien tersebut. Sebagai
seorang dokter, dr. Bambang sesuai SOP harus membuka celana pasien. Padahal
pasien memakai gaun panjang yang harus dibuka dari atas mata kaki sampai ke
pinggang. Pasien juga malu karena biasanya yang menyuntik dokter perempuan. Ada
landasan kaidah dasar bioetika dalam mengambil keputusan etika untuk mengatasi
masalah pelayanan medis seperti ini. Lantas hal-hal lain apa yang harus dilakukan dr.
Bambang dalam membangun konsep perilaku etikanya untuk hal ini?
BAB II
DISKUSI DAN STUDI PUSTAKA

A. SEVEN JUMPS

1. Langkah 1 : Membaca skenario dan memahami pengertian beberapa istilah


dalam skenario

Dalam skenario ini, kami mengklarifikasi beberapa istilah yaitu :


a. UKDI : Uji Kompetensi Dokter Indonesia
b. Praktik Internship : Masa belajar suatu keahlian
c. Kontrasepsi : Upaya untuk mencegah kehamilan
d. SOP : Standar Operating Procedure
e. SIP : Surat Izin Praktik
f. Kaidah dasar bioetika : Aksioma (pernyataan yang dapat diterima
sebagai kebenaran tanpa pembuktian) yang
mempermudah penalaran etik

2. Langkah 2 : Menentukan/mendefinisikan permasalahan

Permasalahan dalam skenario ini yaitu sebagai berikut:


1. Apakah kontrasepsi jenis suntik harus melalui pantat?
2. Apakah SOP bersifat mutlak? Jika tidak, maka kondisi/syarat seperti apa
yang merubah itu?
3. Apa saja landasan-landasan bioetika?
4. Apa saja langkah-langkah dalam mengambil keputusan etika?
5. Apa yang harus dilakukan dr. Bambang dalam membangun konsep
perilaku etikanya?

3. Langkah 3 : Menganalisis permasalahan dan membuat pernyataan sementara


mengenai permasalahan tersebut (dalam langkah 2)

Dari berbagai macam permasalahan yang telah kami sebutkan dalam langkah
2, kami menganalisis permasalahan tersebut dan menemukan beberapa
masalah utama yang akan kami bahas lebih lanjut, yaitu:
1. Apa alasan-alasan etis dalam memilih alat kontrasepsi?
Alasan alasan yang dipertimbangkan dalam memilih alat kontrasepsi
adalah dilihat dari manfaat, efek samping, keamanan, kenyamanan serta
kemungkinan kegagalan dan biaya .
Pertimbangan lain dari alat kontrasepsi yang dipilih adalah kesesuaian
dan tingak keamanannya dilihat dari segi medic yang dibenarkan agama,
moral,dan etika. Namun hal yang paling diutamakan pasangan suami istri
dalam memilih alat kontrasepsi adalah kemungkinan kegagalan ,karena
setiap suami istri yang melakukan KB memiliki rencana tersendiri dalam
mengatur kepemilikan anak yang dilihat dari factor ekonomi keluarga
tersebut.

2. Apa saja jenis-jenis kaidah dasar bioetika? Jelaskan!


- Sikap berbuat baik (beneficence) : menyediakan kemudahan dan
kesenangan pada pasien dengan mengambil langkah positif untuk
memaksimalisasi akibat baik.
- Tidak merugikan orang lain (non-malefience) : tidak melakukan
perbuatan yang memperburuk pasien dan memilih pengobatan yang
paling kecil resikonya.
- Berlaku adil (justice) : memperlakukan sama rata dan adil untuk
kebahagiaan dan kenyamanan pasien.
- Menghormati otonomi pasien (autonomy/self determination) :
menghormati martabat manusia.
(Childress & Beauchamp - The Principles of Biomedical Ethics)
3. Apa peran SOP terhadap bioetika?
- Sebagai pedoman bagi dokter dalam bertindak sehingga tindakannya
sesuai kaidah etis
- Untuk mendorong dan menggerakkan suatu tindakan untuk mencapai
tujuan
- SOP dilindungi oleh hukum sehingga etika dokter tidak bisa disalahkan
jika terjadi malpraktek.
- Untuk menghindari kegagalan dan kesalahan
4. Bagaimana konsep bioetika pada jenis-jenis tindakan medis?
Konsep bioetik harus dipegang teguh oleh para klinisi, karena dari
sinilah landasan-landasan etika maupun humaniora klinisi dapat
terbentuk. Konsep bioetika meliputi ;
-Menghormati martabat manusia (autonomy/self determination) : manusia
memiliki hak otonomi yaitu berhak menentukan nasib diri sendiri serta
memiliki hak untuk dilindungi ketika hak otonominya berkurang ataupun
hilang.
-Berbuat baik (beneficence) : dokter bersikap ramah atau menolong, lebih
dari sekedar memenuhi kewajiban sebagai klinisi.
-Tidak merugikan pasien (non-maleficence) : para klinisi haruslah
memilih pengobatan yang paling kecil tingkat resikonya dan paling besar
manfaatnya bagi pasien.
-Keadilan (justice) : tidak ada pertimbangan lain selain kesehatan pasien
yang menjadi perhatian utama dokter. Perbedaan kedudukan social,
tingkat ekonomi, pandangan politik, agama dan faham kepercayaan,
kebangsaan dan kewarganegaraan, status perkawinan, serta perbedaan
gender tidak boleh dan tidak dapat mengubah sikap dokter terhadap
pasiennya.
Selain menerapkan konsep bioetika seperti yang telah dipaparkan di atas,
klinisi juga harus melakukan perilaku :
 Altruisme : sikap mementingkan orang lain (pasien) daripada
dirinya sendiri
 Akuntabel : penuh tanggung jawab
 Menjaga mutu untuk life long learning
 Responsif menjaga kehormatan

Langkah 4 : Menginventarisasi permasalahan-permasalahan secara sistematis


dan pernyataan sementara mengenai permasalahan-permasalahan dalam
langkah 3

Dalam melakukan pemilihan alat kontrasepsi ada beberapa alasan


untuk mempertimbangkan alat tersebut yaitu dapat dilihat dari manfaat, efek
samping, keamanan, kenyamanan serta kemungkinan kegagalan dan biaya.
Pertimbangan lain dari alat kontrasepsi yang dipilih adalah kesesuaian dan
tingkat keamanannya dilihat dari segi medis yang dibenarkan agama, moral,
dan etika. Namun hal yang paling diutamakan pasangan suami istri dalam
memilih alat kontrasepsi adalah kemungkinan kegagalan, karena setiap suami
istri yang melakukan KB memiliki rencana tersendiri dalam mengatur
kepemilikan anak yang dilihat dari factor ekonomi keluarga tersebut.
Para klinisi dalam melakukan tindakan medis harus memegang teguh
konsep bioetika dengan baik dan benar, yang meliputi menghargai martabat
pasien, berbuat baik terhadap pasien, tidak merugikan keadaan pasien serta
berlaku adil terhadap pasien dalam keadaan apapun.
Konsep bioetika sangat berhubungan erat dengan SOP (Standart
Operating Procedure), yang mana SOP berfungsi sabagai pedoman dokter
dalam bertindak sehingga tindakannya dapat dipertanggungjawabkan dan
sesuai dengan kaidah etis. Kaidah bioetika pada setiap jenis tindakan medis
bersumberkan pada sikap altruisme (sikap mementingkan orang lain (pasien)
daripada dirinya sendiri), akuntabel (bertanggung jawab), memiliki prinsip
life long learning dalam diri, serta bersikap responsif menjaga kehormatan.

Langkah 5 : Merumuskan tujuan pembelajaran


Kami sependapat bahwa tujuan pembelajaran yang dapat kami ambil dari
diskusi tutorial kali ini adalah:

1. Menjelaskan aspek hukum yang berkaitan dengan UU RI tentang


praktik kedokteran
2. Menjelaskan arti, maksud dan tujuan SOP (Standar Operating
Procedure)
3. Menjelaskan aspek hukum kode etik kedokteran berkaitan dengan SOP
4. Menjelaskan definisi dan aplikasi kaidah dasar bioetik dalam praktik
dalam kehidupan sehari-hari
5. Menjelaskan aspek etis dalam mengambil keputusan etik
6. Menjelaskan cara member rasa kepercayaan dan saling menghormati
dalam hubungan dokter-pasien
7. Menjelaskan peran dokter dalam pengelolaan masalah pasien dan
menerapkan nilai profesionalisme

4. Langkah 6 : Mengumpulkan informasi baru

1. Aspek hukum yang berkaitan dengan UU RI tentang praktik kedokteran


adalah :

 Asas dan tujuan penyelenggaraan praktik kedokteran yang menjadi


landasan yang didasarkan pada nilai ilmiah, manfaat, keadilan,
kemanusiaan, keseimbangan, serta perlindungan dan keselamatan pasien.
 Pembentukan Konsil Kedokteran Indonesia yang terdiri atas Konsil
Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi disertai susunan organisasi,
fungsi, tugas, dan kewenangan.
 Registrasi dokter dan dokter gigi
 Penyusunan, penetapan, dan pengesahan standar pendidikan profesi
dokter dan dokter gigi.
 Penyelenggaraan praktik kedokteran
 Pembentukan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia
 Pembinaan dan pengawasan praktik kedokteran
 Pengaturan ketentuan pidana

2. Pengertian SOP (Standar Operating Procedure) :

 Standar Prosedur Operasional merupakan suatu perangkat


instruksi/langkah-langkah yang dibakukan untuk menyelesaikan suatu
proses kerja rutin tertentu, dimana standar prosedur operasional
memberikan langkah yang benar dan terbaik berdasarkan konsensus
bersama untuk melaksanakan berbagai kegiatan dan fungsi pelayanan
yang dibuat oleh sarana pelayanan kesehatan berdasarkan standar
profesi. (PERMENKES RI NOMOR 512/MENKES/PER/IV/2007
TENTANG IZIN PRAKTIK DAN PELAKSANAAN PRAKTIK
KEDOKTERAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK
INDONESIA)

 Suatu standar/pedoman tertulis yang dipergunakan untuk mendorong


dan menggerakkan suatu kelompok untuk mencapai tujuan organisasi.
 Protap merupakan tatacara atau tahapan yang harus dilalui dalam
suatu proses kerja tertentu, yang dapat diterima oleh seorang yang
berwenang atau yang bertanggung jawab untuk mempertahankan
tingkat penampilan atau kondisi tertentu sehingga suatu kegiatan
dapat diselesaikan secara efektif dan efisien. (Depkes RI, 1995)
 SOP merupakan tatacara atau tahapan yang dibakukan dan yang harus
dialui untuk menyelesaikan suatu proses kerja tertentu. (KARS, 2000)

Tujuan SOP adalah :

 Menjaga konsistensi dan tingkat kinerja petugas atau tim


 Mengetahui dengan jelas peran dan fungsi tiap posisi
 Memperjelas alur tugas, wewenang dan tanggung jawab
 Melindungi organisasi dan staf dari malpraktek atau kesalahan
administrasi lainnya
 Menghindari kegagalan/kesalahan, keraguan, duplikasi dan inefisiensi

3. Aspek hukum kode etik kedokteran


Di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan aspek hukum yang
sangat luas, yang sering tumpang-tindih pada suatu issue tertentu, seperti
pada informed consent, wajib simpan rahasia kedokteran,
profesionalisme, dll. Bahkan di dalam praktek kedokteran, aspek etik
seringkali tidak dapat dipisahkan dari aspek hukumnya, oleh karena
banyaknya norma etik yang telah diangkat menjadi norma hukum, atau
sebaliknya norma hukum yang mengandung nilai-nilai etika. Aspek etik
kedokteran yang mencantumkan juga kewajiban memenuhi standar
profesi mengakibatkan penilaian perilaku etik seseorang dokter yang
diadukan tidak dapat dipisahkan dengan penilaian perilaku profesinya.
Etik yang memiliki sanksi moral dipaksa berbaur dengan keprofesian
yang memiliki sanksi disiplin profesi yang bersifat administratif. Keadaan
menjadi semakin sulit sejak para ahli hukum menganggap bahwa standar
prosedur dan standar pelayanan medis dianggap sebagai domain hukum,
padahal selama ini profesi menganggap bahwa memenuhi standar profesi
adalah bagian dari sikap etis dan sikap profesional. Dengan demikian
pelanggaran standar profesi dapat dinilai sebagai pelanggaran etik dan
juga sekaligus pelanggaran hukum. Kemungkinan terjadinya peningkatan
ketidakpuasan pasien terhadap layanan dokter atau rumah sakit atau
tenaga kesehatan lainnya dapat terjadi sebagai akibat dari (a) semakin
tinggi pendidikan rata-rata masyarakat sehingga membuat mereka lebih
tahu tentang haknya dan lebih asertif, (b) semakin tingginya harapan
masyarakat kepada layanan kedokteran sebagai hasil dari luasnya arus
informasi, (c) komersialisasi dan tingginya biaya layanan kedokteran dan
kesehatan sehingga masyarakat semakin tidak toleran terhadap layanan
yang tidak sempurna, dan (d) provokasi oleh ahli hukum dan oleh tenaga
kesehatan sendiri.

Dalam hal seorang dokter diduga melakukan pelanggaran etika


kedokteran (tanpa melanggar norma hukum), maka ia akan dipanggil dan
disidang oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI untuk
dimintai pertanggung-jawaban (etik dan disiplin profesi)nya. Persidangan
MKEK bertujuan untuk mempertahankan akuntabilitas, profesionalisme dan
keluhuran profesi. Saat ini MKEK menjadi satu-satunya majelis profesi yang
menyidangkan kasus dugaan pelanggaran etik dan/atau disiplin profesi di
kalangan kedokteran. Di kemudian hari Majelis Kehormatan Disiplin
Kedokteran Indonesia (MKDKI), lembaga yang dimandatkan untuk didirikan
oleh UU No 29 / 2004, akan menjadi majelis yang menyidangkan dugaan
pelanggaran disiplin profesi kedokteran.

4. Definisi serta kaidah dasar bioetika. Bioetika berasal dari kata bios yang
berarti kehidupan dan ethos yang berarti norma-norma atau nilai-nilai moral.
Menurut F. Abel, bioetika adalah studi interdisipliner tentang masalah-
masalah yang ditimbulkan oleh perkembangan biologi dan kedokteran, tidak
hanya memperhatikan masalah-masalah yang terjadi pada masa sekarang,
tetapi juga memperhitungkan timbulnya masalah pada masa yang akan
datang. Bioetika mencakup isu sosial, agama, ekonomi, hukum bahkan
politik. Filsuf Amerika, Samuel Gorovitz mendefenisikan bioetik sebagai
penyelidikan kritis tentang dimensi-dimensi moral dari pengambilan
keputusan dalam konteks yang berkaitan dengan kesehatan dan dalam
konteks yang melibatkan ilmu-ilmu biologis. Memiliki informasi
perkembangan dalam bidang tersebut menimbulkan dampak yang mendalam
atas kehidupan kita, terutama yang erat terkait dengan dilemma etik dalam
bioetik.

Berdasarkan batasan pengertian tersebut, bioetik dalam penerapannya


banyak menyangkut kegiatan dalam proses pengambilan keputusan. Azaz
pengambilan keputusan dalam praktek kedokteran mengacu kepada 4 kaidah
dasar moral yang sering juga disebut kaidah dasar bioetika yaitu :

1. Autonomy
2. Beneficience
3. Non –maleficence
4. Justice

Sedangkan menurut Jonsen, Siegler dan Winslade (2002) kaidah etik yang
digunakan yakni :

1. Medical Indication

(terkait prosedur diagnostik dan terapi yang sesuai dari sisi etik kaidah
yang digunakan adalah beneficence dan nonmaleficence )

2. Patient Preferrence

(terkait nilai dan penilaian pasien tentang manfaat dan beban yang akan
diterimanya cerminan kaidah otonomi)

3. Quality of Life

(aktualisasi salah satu tujuan kedokteran :memperbaiki, menjaga atau


meningkatkan kualitas hidup insani terkait dengan beneficence,
nonmaleficence & otonomi)

4. Contextual Features

menyangkut aspek non medis yang mempengaruhi pembuatan keputusan,


seperti faktor keluarga, ekonomi, budaya kaidah terkait justice

Prinsip dalam Contextual Features adalah Loyalty and Fairness. Pada


topik ini dibahas pertanyaan etik seputar aspek non medis yang
mempengaruhi keputusan, seperti faktor keluarga, ekonomi, agama, budaya,
kerahasiaan, alokasi sumber daya dan faktor hukum.
5. Di dalam praktek kedokteran terdapat aspek etik dan aspek hukum yang
sangat luas, yang sering menimbulkan pengertian ganda pada suatu keadaan
tertentu, seperti pada informed consent, wajib simpan rahasia kedokteran,
profesionalisme, dan yang lainnya. Bahkan di dalam praktek kedokteran,
aspek etik seringkali tidak dapat dipisahkan dari aspek hukumnya, oleh
karena banyaknya norma etik yang telah diangkat menjadi norma hukum,
atau sebaliknya norma hukum yang mengandung nilai-nilai etika.

Aspek etik kedokteran yang mencantumkan juga kewajiban memenuhi


standar profesi mengakibatkan penilaian perilaku etik seseorang dokter yang
diadukan tidak dapat dipisahkan dengan penilaian perilaku profesinya. Etik
yang memiliki sanksi moral dipaksa berbaur dengan keprofesian yang
memiliki sanksi disiplin profesi yang bersifat administratif.

Keadaan menjadi semakin sulit sejak para ahli hukum menganggap bahwa
standar prosedur dan standar pelayanan medis dianggap sebagai domain
hukum, padahal selama ini profesi menganggap bahwa memenuhi standar
profesi adalah bagian dari sikap etis dan sikap profesional. Dengan demikian
pelanggaran standar profesi dapat dinilai sebagai pelanggaran etik dan juga
sekaligus pelanggaran hukum.

Kemungkinan terjadinya peningkatan ketidakpuasan pasien terhadap layanan


dokter atau rumah sakit atau tenaga kesehatan lainnya dapat terjadi sebagai
akibat dari

(a) semakin tinggi pendidikan rata-rata masyarakat sehingga membuat


mereka lebih tahu tentang haknya dan lebih asertif,

(b) semakin tingginya harapan masyarakat kepada layanan kedokteran


(c) komersialisasi dan tingginya biaya layanan kedokteran dan kesehatan
sehingga masyarakat semakin tidak toleran terhadap layanan yang tidak
sempurna, dan

(d) provokasi oleh ahli hukum dan oleh tenaga kesehatan sendiri.

Selain Kode Etik Profesi di atas, praktek kedokteran juga berpegang kepada
prinsip-prinsip moral kedokteran, prinsip-prinsip moral yang dijadikan arahan
dalam membuat keputusan dan bertindak, arahan dalam menilai baik-
buruknya atau benar-salahnya suatu keputusan atau tindakan medis dilihat
dari segi moral. Pengetahuan etika ini dalam perkembangannya kemudian
disebut sebagai etika biomedis. Etika biomedis memberi pedoman bagi para
tenaga medis dalam membuat keputusan klinis yang etis (clinical ethics) dan
pedoman dalam melakukan penelitian di bidang medis.

Nilai-nilai materialisme yang dianut masyarakat harus dapat dibendung


dengan memberikan latihan dan teladan yang menunjukkan sikap etis dan
profesionalitas dokter, seperti autonomy (menghormati hak pasien,
beneficence (melakukan tindakan untuk kebaikan pasien), non
maleficence (tidak melakukan perbuatan yang memperburuk dan merugikan
pasien) dan justice (bersikap adil dan jujur), serta sikap altruisme
(pengabdian profesi).

Pendidikan etik kedokteran, yang mengajarkan tentang etik profesi dan


prinsip moral kedokteran, dianjurkan dimulai dini sejak tahun pertama
pendidikan kedokteran, dengan memberikan lebih ke arah toolsdalam
membuat keputusan etik, memberikan banyak latihan, dan lebih banyak
dipaparkan dalam berbagai situasi-kondisi etik-klinik tertentu (clinical
ethics), sehingga cara berpikir etis tersebut diharapkan menjadi bagian
pertimbangan dari pembuatan keputusan medis sehari-hari.

6. Cara menumbuhkan rasa kepercayaan dan saling menghormati dalam


hubungan antara dokter dengan pasien teraplikasi pada 4 kaidah dasar bioetik,
yaitu beneficence, autonomi, non-meleficence dan justice.

7. Peran dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan, sangat erat kaitannya


dengan memahami kode etik profesi kedokteran.Suatu tugas berat bagi
seorang dokter untuk mewujudkan optimalisasi perannya dengan sikap
profesionalisme. Seorang dokter dituntut untuk selalu bisa memecahkan
setiap keluhan pasien, melakukan anamnesis serta memberikan terapi secara
tepat. Dalam memecahkan setiap keluhan pasien tidak jarang muncul
beberapa kendala moral yang terjadi antara dokter dan pasien. Pada saat itu,
seorang dokter dituntut untuk memahami kode etika profesi kedokteran.
Seorang dokter harus mampu memberi solusi secara cepat dan tepat terhadap
kendala moral yang terjadi.

Seorang dokter berperan untuk menemukan solusi yang tepat dengan


berdasar pada kode etika kedokteran. Contohnya, dalam skenario dokter
dituntut untuk mencari solusi pemberian kontrasepsi kepada pasien wanita.
Sebelumya seorang dokter diharuskan melakukan konfirmasi kepada pasien
terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan medis. Jika pasien tidak
menerima konfirmasi tersebut, maka seorang dokter diharuskan segera
mencari solusi atas kejadian tersebut. Bisa saja dokter mengusulkan agar
tindakan medis tersebut dilakukan oleh perawat ataupun dengan memberikan
alternatif pilihan tindakan medis kepada pasien.

Seorang dokter juga harus bersikap profesional dalam segala


tindakannya.Tindakannya harus disesuaikan dengan ilmu kedokteran
mutakhir, sarana yang tersedia, kemampuan pasien, etika umum, etika
kedokteran, hukum, dan agama. Etika umum dan etika kedokteran harus
diamalkan dalam melaksanakan profesi kedokteran secara professional.
Peran dokter dalam pemberian pelayanan kepada pasien hendaknya adalah
seluruh kemampuan sang dokter dalam bidang ilmu pengetahuan dan
perikemanusiaan.

Berdasarkan hasil diskusi yang kami lakukan, kasus dalam scenario kali ini
bersumber pada bagaimana cara memberikan pelayanan medis yang sesuai
dengan kaidah dasar bioetika. Kami akan menguraikan langkah demi langkah
yang harus dilakukan dr.Bambang dalam scenario ini berdasarkan 4 kaidah dasar
bioetika.
- Sikap berbuat baik (beneficence) : dalam kasus ini, masalah yang
timbul berasal dari pasien, pasien merasa malu. Sebagai seorang dokter,
dr.Bambang diharapkan bisa memberi beberapa alternatif dan
mendiskusikan permasalahan dengan pasien. Misal, metode hormonal
pada kontrasepsi dengan cara injeksi, tidak hanya dapat di injeksikan
melalui pantat saja, ternyata dapat juga melalui lengan.(www.cdc.gov).
Hal seperti ini harus di diskusikan kepada pasien, sehingga tidak
membawa resiko terhadap diri sendiri. Bila pasien tetap menginginkan
injeksi dengan melalui pantat, kita bisa meminta pertolongan pada
suster atau memberikan rujukan kepada dokter perempuan, dengan
harapan pasien lebih nyaman dalam menginjeksikan obat suntikan
melalui pantat. Hal ini bisa dilakukan karena masalah pasien tidak
urgent.Sikap berbuat baik inilah yang harus ada di setiap dokter pada
saat mengambil keputusan etika dengan tingkat kerugian terhadap diri
sendiri sangat kecil.
- Tidak merugikan orang lain (non-maleficence) : seorang dokter tidak
boleh mengambil keputusan tanpa persetujuan dari pasien, apalagi
pasien merasa sangat dirugikan. Kerugian bisa dibedakan menjadi 2,
yaitu kerugian fisik dan kerugian terhadap kepentingan orang/pasien.
Dalam kasus ini, dr.Bambang harus membuat keputusan di mana pasien
tidak merasa dirugikan sehingga ada rasa kepercayaan dan saling
menghormati antara dokter dengan pasien.
- Berlaku adil (justice) :Dokter tidak boleh membeda-bedakan pasien
dari segi apapun sehingga kasus-kasus yang sejenis harus diperlakukan dengan
cara sejenis dan kasus-kasus yang tidak sejenis boleh diperlakukan dengan cara tidak
sejenis. Dengan berperilaku adil seorang dokter akan memberikan tingkat
kepercayaan yang semakin tinggi, karena ada kemungkinan, pasien bercerita dengan
orang lain tentang bagaimana cara kita( seorang dokter) menangani pasien. Bila hal
yang di ceritakan positif, maka diri kita akan mendapat kepercayaan tidak hanya dari
satu pasien saja. Hal ini yang dapat menjaga image dan pandangan seorang dokter
yang baik di mata masyarakat luas.

- Menghormati otonomi pasien : pengertian otonomi pada konteks ini


ada 2, yaitu otonomi dokter dan pasien, otonomi seorang dokter
kebebasan bertindak,di mana seseorang mengambil keputusan sesuaidengan rencana
yang ditentukan sendiri tanpa hambatan,paksaan ataucampur tangan pihak luar.
Sedangkan otonomi pasien adalah sebagai manusia yang berakal budi tidak boleh
dijadikan semata-mata alat tetapi tujuan. Sehingga tindakan medis terhadap pasien
harus mendapat persetujuan dari pasien dulu,setelah diberi informasi dan
penerangan.

Dengan menerapakan keempat kaidah dasar bioetika, seorang dokter dapat


membangun rasa kepercayaan dan saling menghormati terhadap pasien.
5. Langkah 7 : Melaporkan, membahas, dan menata kembali informasi baru
yang diperoleh
BAB III
PENUTUP

A.Kesimpulan
Dalam melakukan tindakan medis, para klinisi harus berpegang teguh terhadap
konsep bioetika untuk mengambil keputusan tindakan medis, yaitu menghormati
martabat pasien, berbuat baik terhadap pasien, tidak merugikan pasien serta berlaku
adil dalam keadaan apapun. Para klinisi dilindungi oleh SOP (Standart Operating
Procedure) yang mana SOP melindungi tindakan medis yang dilakukan oleh para
klinisi agar tetap sesuai dengan kaidah-kaidah etis.

B.Saran
Diskusi tutorial yang dilakukan pada materi ini sudah lebih baik dari kemarin
anggota tutorial sudah lebih aktif dan dalam memili LO sudah lebih baik, namun
masih diperlukan keaktifan dari anggota tutorial sehingga diskusi lebih hidup lagi
,dan untuk anggota tutorial bisa mencari refrensi –refrensi terlebih dulu yang
berkaitan dengan materi/kasus yang akan dibahas Sumber referensi
Untuk tutor baik karena memberikan kesempatan kepada kkami seluas-luasnya
untuk berdiskusi dan bertanya sehingga suasana yang tercipta lebih tenang .
DAFTAR PUSTAKA

1. UU RI No. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran


2. WHO, 2002 Materi Pelatihan StandarOperating Procedure (SOP) [online]
Tersedia : [www.kmpk.ugm.ac.id/data/SPMKK/6b-STANDAR%20dan
%20SOP(revby%20Was%20Feb’02).doc]
4. http:/med.unhas.ac.id

7. kode etik kedokteran Indonesia