Anda di halaman 1dari 22

Tugas Akuntansi Perpajakan

Bab 9 Aset Tetap

Disusun oleh:
1) M. Putra Satria (01031381520128)
2) M. Rafi Al Fajar (01031381520120)
3) Widiyana Kartak (01031381520114)

Dosen Pengasuh:
Ermadiani, SE, MM, AK

Fakultas Ekonomi - Jurusan Akuntansi


Universitas Sriwijaya
Palembang
Tahun 2017/2018

1
DAFTAR ISI

Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang . ..................................................................................................... 3
1.2 Rumusan Maslah .................................................................................................... 3
1.3 Manfaat dan Tujuan ............................................................................................... 3

Bab II Pembahasan
2.1 Pengertian Aset Tetap ............................................................................................ 4
2.2 Perolehan Aset Tetap ............................................................................................. 6
2.3 Penyusutan Aset Tetap ........................................................................................... 8
2.4 Pertukaran Aset Tetap .......................................................................................... 11
2.5 Penghentian Aset Tetap........................................................................................ 11
2.6 Revaluasi Aset Tetap ........................................................................................... 15

Bab III Penutup


3.1 Kesimpulan .......................................................................................................... 22

2
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam pembelajaran akuntansi perpajakan baiknya kita mengetahui tentang apa yang
ada didalam ilmu ini. Salah satu yang terdapat didalamnya adalah tentang Aset Tetap
yang akan kami uraikan di dalam makalah kami ini yang mencakup bahasan Aset
Tetap.

Aktiva tetap sangat berarti terhadap kelayakan laporan keuangan, kesalahan dalam
menilai aktiva tetap berwujud dapat mengakibatkan kesalahan yang cukup material
karena nilai investasi yang ditanamkan pada aktiva tetap relatif besar. Mengingat
pentingnya akuntansi aktiva tetap dalam laporan keuangan tersebut, maka
perlakuannya harus berdasarkan pada Standar Akuntansi Keuangan (PSAK No.16).

Aktiva tetap tersebut dalam penyajiannya pada laporan keuangan seharusnya


membebankan biaya depresiasi yang dimiliki secara konsisten pada setiap periode
dengan menggunakan metode yang dianggap sesuai untuk diterapkan, yaitu metode
garis lurus untuk bangunan, peralatan dan inventaris, serta metode jumlah angka
tahun untuk kendaraan dan sarana transportasi lainnya, agar diketahui nilai sisanya
pada akhir periode.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana membedakan perlakuan aset tetap terhadap akuntansi dengan
perpajakan ?
2. Bagaimana pencatatan aset tetap dengan pembelian siap pakai ?

1.3 Manfaat dan Tujuan


1. Untuk Mengetahui perlakuan pajak terhadap aset Tetap
2. Untuk mempelajari aspek-aspek yang ada di dalam aset tetap, tentang cara
perlakuan serta pengukuran aset tetap.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Aset Tetap


2.1.1 Pengakuan Aset Tetap
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 16 (Revisi 2007) bertujuan untuk
mengatur perlakukan akuntansi aset tetap, agar pengguna laporan keuangan dapat
memahami informasi mengenai investasi entitas di aset tetap. Aset Tetap adalah aset
berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dibangun lebih dahulu, yang
digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka
kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
Kriteria aset tetap:
1. Mempuanyai wujud fisik
2. Tidak ditujukan untuk dijual lagi
3. Memiliki nilai yang material, harga aset tersebut cukup signifikan contohnya
tanah, bangunan, mesin, kendaraan, dan lain-lain.
4. Memiliki masa manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku dan nilai manfaatn
ekonominya bisa diukur dengan handal.
5. Aset digunakan dalam aktivitas normal perusahaan (tidak untuk dijual lagi seperti
barang dagang/persediaan atau investasi) misal, mobil bagi dealer mobil diakui
sebagai "persediaan" bukan aktiva tetap sedangkan bagi perusahaan manufakture
mobil diakui sebagai "Aktiva Tetap" bukan persediaan.

Sebuah Entitas bisnis atau perusahaan mengakui setiap aset sebagai aset tetap jika
aset yang dimiliki telah memenuhi sifat dan karakteristiknya seperti yang telah
disebut sebelumnya. Aset yang berwujud diakui dan diklasifikasikan kedalam aset
tetap jika:
1. Besar kemungkinan manfaat ekonomis di masa depan berkenaan dengan aset
tersebut akan mengalir ke entitas, dan
2. Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal
Hal yang juga tak kalah penting dalam pengakuan aset tetap adalah perusahaan
mempunyai kontrol/kendali atas manfaat ekonomis yang diharapkan akan diterima
dari aset tetap tersebut.

Suatu aset tetap yang memenuhi kualifikasi diakui sebagai aset awal harus diukur
sebesar biaya perolehan. Sebagai komponen biaya perolehan aset tetap tersebut
meliputi berikut ini (penerapan paragraph 16 PSAK no. 16 Revisi 2007).
1. Harga Perolehan

4
Dalam komponen harga perolehan termasuk bea impor dan pajak pembelian yang
tidak boleh dikreditkan setelah dikurangi diskon pembelian dan potongan-potongan
lain.
2. Biaya-biaya yang dapat diatribusikan secara langsung untuk membawa aset e
lokasi dan kondisi yang diinginkan agar aset siap digunakan sesuai dengan keinginan
dan maksud manajemen. Sebagai biaya yang diatribusikan secara langsung yaitu
meliputi:
a. Biaya imbalan kerja yang timbul secara langsung dari pembangunan atau akisisi
aset tetap;
b. Biaya penyiapan lahan pabrik;
c. Biaya handling dan penyerahan awal;
d. Biaya perakitan dan instalas;
e. Biaya pengujian aset apakah aset berfungsi dengan baik, setelah dikurangi hasil
bersih penjualan produk yang dihasilkan sehubungan dengan pengujian terserbut; dan
f. Komisi penjualan
3. Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap dan restorasi
lokasi aset. Kewajiban biaya-biaya tersebut timbul pada saat aset diperoleh atau
karena entitas menggunakan aset selama periode tertentu yang bertujuan selain
menghasilkan persediaan.

2.1.2 Pengukuran Biaya Perolehan


Sebagaimana telah dijelaskan dalam pengukuran awal bahwa aset tetap pada awalnya
harus diukur sebesar biaya perolehan. Pengertian biaya perolehan aset tetap adalah
setara dengan nilai tunainya dan diakui pada saat terjadinya.Jika pembayaran untuk
suatu aset ditangguhkan hingga melampaui jangka waktu kredit normal,perbedaan
antara nilai tunai dengan pembayaran total diakui sebagai beban bunga selamaperiode
kredit, kecuali dikapitalisasi sesuai dengan perlakuan alternatif yang diizinkan dalam
PSAK 26 tentang Biaya Pinjaman.

Aset yang diperoleh melalui pertukaran non moneter atau kombinasi aset moneter dan
non moneter diukur sebesar nilai wajar, kecuali:
a. Transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial; atau
b. Nilai wajar aset yang diterima dan diserahkan tidak dapat diukur secara andal
Biaya perolehan aset tetap yang dicatat oleh lessee dalam sewa pembiayaan
ditentukan sesuai dengan PSAK 30 (Revisi 2011): Sewa. Nilai tercatat aset tetap
dapat dikurangi dengan hibah pemerintah sesuai dengan PSAK 61: Akuntansi Hibah
Pemerintah dan Pengungkapan Bantuan Pemerintah.
Pengukuran aset tetap selain dilakukan pada awal perolehan juga dilakukan pada
periode setelah aset tetap tersebut diperoleh. Di dalam PSAK 16 Revisi 2007 terdapat

5
perubahan yang signifikan mengenai perlakuan akuntansi aset tetap terutama tentang
pengukuran nilai aset tetap setelah perolehan. PSAK 16 Revisi 2007 mengakui
adanya dua metode dalam perlakuan akuntansi aset tetap tersebut. Kedua metode itu
adalah:
a. Metode Biaya
Dengan metode ini setelah aset tetap diakui sebagai aset tetap, aset tetap tersebut
dicatat pada harga perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan akumulasi
rugi penurunan nilai aset.
b. Metode Revaluasi
Dengan metode ini setelah aset tetap diakui sebagai aset tetap, suatu aset tetap yang
nilai wajarnya dapat diukur secara andal harus dicatat pada jumlah revaluasian, yaitu
nilai wajar pada tanggal revaluasi dikurangi akumulasi penyusutan dan akumulasi
rugi penurunan nilai yang terjadi setelah tanggal revaluasi. Revaluasi atas aset tetap
harus dilakukan dengan keteraturan yang cukup reguler untuk memastikan bahwa
jumlah tercatat tidak berbeda secara material dari jumlah yang ditentukan dengan
menggunakan nilai wajar pada tanggal neraca.

2.2 Perolehan Aset Tetap


Aset tetap dapat diperoleh dengan berbagai cara yang akan mempengaruhi harga
perolehan, antara lain:
1. Perolehan Aset Tetap dengan Pembelian Tunai
Aset yang diperoleh dengan cara pembelian tunai dicatat sebesar uang yang
dikeluarkan, yaitu terdiri dari harga belinya termasuk bea import dan PPN masukan,
atau biaya pembangunan ditambah biaya-biaya yang dapat didistribusikan secara
langsung seperti biaya angkut, biaya pemasangan, biaya balik nama, biaya simpan
dan bongkar muat, juga biaya professional seperti arsitek.
2. Perolehan Aset Tetap secara Gabungan
Apabila aset tetap diperoleh secara gabungan, maka harga perolehan aset masing-
masing aset tetap ditentukan dengan mengalokasikan harga gabungan berdasarkan
perbandingan nilai wajar masing-masing aset yang bersangkutan.
Contoh soal:
Harga bangunan termasuk tanah seharga Rp. 300.000.000,- (termasuk biaya notaries,
bea balik nama, bea perolehan hak atas tanah dan/atau bangunan, dan lain-lain).
Alokasi harga perolehannya dapat dihitung sebagai berikut:
No. Jenis Aset Harga wajar Alokasi harga perolehan
1 Tanah Rp. 150.000.000,- 15/25 x Rp. 300.000.000 = Rp. 180.000.000
2 Bangunan Rp. 100.000.000,- 10/25 x Rp. 300.000.000 = Rp. 120.000.000
Jumlah Rp. 250.000.000,- Rp. 300.000.000,-

6
Jurnal:
Tanah Rp. 180.000.000,-
Bangunan Rp. 120.000.000,-
Kas dan Bank Rp. 300.000.000,-

3. Perolehan Aset Tetap secara Angsuran


Harga perolehan aktiva tetap yang didapat dari transaksi pembelian angsuran diukur
dengan jumlah uang (harga) yang dibayarkan apabila aktiva itu dibeli secara tunai
(cash equivalent price). Unsur bunga dan financing cost yang terdapat di dalamnya
harus dikeluarkan dan diperlakukan sebagai biaya dalam periode di mana
pembayaran itu terjadi. Jika di dalam harga kontrak pembelian tidak secara spesifik
dinyatakan adanya bunga yang dibebankan, maka pada dasarnya unsur bunga itu
harus diperhitungkan dan dikurangkan dari harga kontrak di dalam menentukan harga
perolehan aktiva tetap yang bersangkutan.

4. Perolehan Aset Tetap secara Pertukaran


Aset tetap dapat diperoleh dengan cara pertukaran dengan aset tetap lainnya. Harga
perolehan atas aset yang didapat diukur dengan harga pasar (fair market value) dari
aset yang diserahkan (dilepaskan) sebagai alat penukarnya. Rugi-laba pertukaran
harus diakui, apabila terdapat perbedaan antara nilai buku dengan harga pasar aset
tetap yang diserahkan di dalam transaksi tersebut.
Apabila penentuan harga pasar aset tetap yang diserahkan dalam transaksi ini sulit
ditentukan, maka harga perolehan aset tetap yang didapat diukur dengan harga pasar
aset itu sendiri. Apabila dalam transaksi pertukaran itu disertai dengan pembayaran
uang tunai disamping penyerahan aset tetap (lama) maka harga perolehan aset tetap
yang didapat, adalah jumlah harga pasar aset lama ditambah dengan jumlah uang
yang dibayarkan.
Pertukaran dengan aktiva tetap lainnya dapat dibagi dua jenis, antara lain:
a. Pertukaran aktiva tetap yang sejenis
Yang dimaksud dengan pertukaran aktiva tetap yang sejenis adalah pertukaran aktiva
tetap yang fungsi dan sifatnya sama, seperti mesin produksi X dengan mesin produksi
Y. Pencatatan atas transaksi ini didasarkan pada harga pasar aktiva tetap yang
dilepaskan.
b. Pertukaran aktiva tetap yang tidak sejenis
Yang dimaksud dengan pertukaran aktiva tetap yang tidak sejenis adalah pertukaran
aktiva tetap yang sifat dan fungsinya tidak sama, seperti pertukaran tanah dengan
mesin-mesin, tanah dengan gedung, dan lain-lain. Dalam hal pertukaran terjadi

7
antaraktiva yanag sejenis, maka yang dipakai sebagai dasar pencatatannya adalah
“nilai buku” dari aktiva yang bersangkutan.

5. Perolehan Aset Tetap dengan cara Membangun Sendiri


Harga perolehan aktiva tetap yang dibangun sendiri oleh perusahaan (tidak dibeli dari
pihak luar) meliputi (i) biaya bahan bangunan yang dipakai, (ii) upah tenaga kerja
langsung, dan (iii) biaya-biaya pemakaian lain seperti pemakaian listrik dan
depresiasi asset tetap perusahaan yang digunakan untuk membangun. Kadang-kadang
untuk membiayai pembangunan asset tetap digunakan dana dari pinjaman. Bunga
yang menjadi tanggungan perusahaan atas penggunaan dana dari pinjaman dapat
dimasukkan sebagai unsur biaya perolehan. Namun besarnya bunga yang dimasukkan
sebagai unsur biaya perolehan hanyalah bunga selama masa konstruksi. Jika setelah
masa konstruksi pinjaman belum lunas, maka biaya bunganya dibebankan sebagai
biaya periodik dalam laporan laba-rugi di kelompok biaya di luar usaha.
Jumlah pengorbanan untuk membangun sendiri aktiva tetap boleh jadi lebih kecil
ketimbang jumlah harga apabila aktiva tetap itu dibeli dari luar. Penghematan yang
diperoleh karena membangun sendiri tidak boleh diakui sebagai keuntungan.

2.3 Penyusutan Aset Tetap


PSAK No. 17 (2007), yang dimaksudkan penyusutan adalah alokasi jumlah suatu aset
yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi. Penyusutan untuk
periode akuntansi dibebankan ke pendapatan, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Penyusutan dilakukan terhadap aset tetap berwujud dengan syarat aset tetap
berwujud tersebut:
a. Diharapkan digunakan selama lebih dari satu periode akuntansi;
b. Memiliki suatu masa manfaat yang terbatas; dan
c. Ditahan oleh suatu perusahaan untuk digunakan dalam produksi atau memasok
barang dan jasa untuk disewakan, atau untuk tujuan administrasi
Penyusutan atau jumlah disusutkan (depreciable amount) adalah biaya perolehan
suatu aset atau jumlah lain yang disubstitusikan untuk biaya dalam laporan keuangan
dikurangi nilai sisa.

Dalam pengaturan penyusutan tersebut, persyaratan aset yang dapat disusutkan


menurut ketentuan perpajakan meliputi:
a. Harta yang dapat disusutkan adalah harta berwujud,
b. Harta tersebut mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun,
c. Harta tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan.

8
2.3.1 Metode Penyusutan Sesuai Komersial
Dalam praktik akuntansi komersial metode penyusutan dapat digunakan sesuai
pengelompokan menurut kriteria:
1. Dasar Waktu
a. Metode Garis Lurus (Straight Line Method)
Dalam metode ini, biaya penyusutan dialokasikan berdasar berjalannya waktu, dalam
jumlah-jumlah yang sama selama masa manfaat asset tetap berwujud tersebut.
Biaya Penyusutan = Tarif Penyusutan x Dasar Perhitungan

b. Metode Jumlah Angka Tahun


Metode ini sering disebut metode jumlah angka tahun yang akan menghasilkan
jumlah penyusutan yang semakin menurun dari tahun ke tahun.
Dengan rumusan:
Biaya Penyusutan = Tarif Penyusutan x Dasar Penghitungan Penyusutan
Dasar Penghitungan Penyusutan = Harga Perolehan -/- Nilai Residu
Tarif penyusutan ditetapkan dengan pecahan, yaitu pembilang adalah angka tahun
yang ada selama masa manfaat aset tetap, sebagai contoh 1, 2, 3, 4, 5 dan seterusnya,
sedangkan pembilang untuk tahun pertama adalah penjumlahan angka tahun sampai
dengan angka tahun terakhir. Sebagai contoh, apabila masa manfaat hanya 5 tahun,
maka penjumlahannya (1 + 2 + 3 + 4 + 5) = 15.

c. Metode Saldo Menurun Ganda


Dalam metode ini, besarnya biaya penyusutan semakin lama menjadi lebih kecil dari
tahun ke tahun, dengan dasar pemikiran bahwa kapasitas asset tetap dalam
memberikan jasanya dari tahun ke tahun semakin menurun.
Penghitungan biaya penyusutan dapat dirumuskan:
Biaya Penyusutan = Tarif Penyusutan x Dasar Penghitungan Penyusutan
Dasar Penghitungan Penyusutan = Harga Sisa Buku Awal Periode
Pada umumnya, tarif penyusutan adalah dua kali tarif penyusutan apabila
menggunakan metode ganis lurus tanpa memerhatikan nilai residu (recidual value).

2. Dasar Penggunaan
a. Metode jam jasa (service hours method)
Pada metode ini besarnya penyusutan dihitung dengan mendasarkan teori bahwa
pembelian aset tetap ditunjukkan dari jumlah jam jasa langsung dan dalam metode ini
mengakui estimasi masa manfaat asset yang diukur dalam jam jasa.
b. Metode Unit Produksi
Dalam metode unit produksi taksiran manfaat dinyatakan dalam kapasitas produksi
yang dapat dihasilkan. Kapasitas produksi ini dapat pula dinyatakan dalam bentuk

9
jam pemakaian atau urut-urut kegiatan lainnya. Perhitungan besarnya biaya
penyusutan dapat dirumuskan:
Tarif Penyusutan = Kapasitas sebenarnya
Kapasitas produksi
Biaya Penyusutan = Tarif Penyusutan X Dasar Penyusutan
Dasar Penyusutan = Harga Perolehan – Nilai Residu

2.3.2 Metode Penyusutan Sesuai Ketentuan Perpajakan


Metode penyusutan menurut ketentuan perundangan-undangan perpajakan
sebagaimana telah diatur dalam Pasal 11 Undang-undang Pajak Penghasilan.
1. Metode garis lurus (straight line method), atau metode saldo menurun (declining
balance method) untuk aset tetap berwujud bukan bangunan.
2. Metode garis lurus (straight line method) untuk aset tetap berwujud berupa
bangunan.

Penggunaan metode penyusutan aset tetap berwujud disyaratkan taat asas (konsisten).
Dalam hal Wajib Pajak menggunakan metode saldo menurun, maka sisa buku pada
akhir masa manfaat harus disusutkan sekaligus. Dengan memperhatikan pembukuan
wajib pajak, apabila ditemukan adanya alat-alat kecil atau sering disebut small tools
yang sama atau sejenis dapat disusutkan dalam satu golongan.
Harta berwujud yang bukan bangunan terdiri dari empat kelompok, yaitu:
1. Kelompok 1: kelompok harta berwujud bukan bangunan yang mempunyai masa
manfaat 4 tahun.
2. Kelompok 2: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai masa
manfaat 8 tahun.
3. Kelompok 3: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai masa
manfaat 16 tahun.
4. Kelompok 4: kelompok harta terwujud bukan bangunan yang mempunyai masa
manfaat 20 tahun.

Harta terwujud yang berupa bangunan dibagi menjadi dua, yaitu:


1. Permanen: masa manfaatnya 20 tahun.
2. Tidak permanen: bangunan yang bersifat sementara, terbuat dari bahan yang
tidak tahan lama, atau bangunan yang dapat dipindah-pindahkan. Masa manfaatnya
tidak lebih dari 10 tahun.

Tabel berikut menggambarkan kelompok harta berwujud, metode, serta tarif


penyusutannya didasarkan pada Pasal 11 Undang-undang no. 36 tahun 2008 tentang
Pajak Penghasilan:

10
2.4 Pertukaran Aset Tetap
Dalam SAK-ETAP yang diatur oleh IAI (2009: 70), apabila aset tetap diperoleh
melalui petukaran dengan aset nonmoneter atau kombinasi aset moneter dan aset
nonmoneter maka biaya perolehan diukur pada nilai wajar, kecuali:
 transaksi pertukaran tidak memiliki substansi komersial; atau
 nilai wajar aset yang diterima atau aset yang diserahkan tidak dapat diukur
secaraandal, maka biaya perolehan diukur pada jumlah tercatat aset yang
diserahkan.

Menurut penjelasan Pasal 10 UU PPh Nomor 36 Tahun 2008, nilai perolehan


atau nilai penjualan dalam hal terjadi tukar-menukar harta adalah jumlah yang
seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar. Harta yang diperoleh
berdasarkan transaksi tukar menukar dengan harta lain, maka nilai perolehan atau
nilai penjualannya adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima
berdasarkan harga pasar. Selisih antara harga pasar dengan nilai sisa buku harta yang
dipertukarkan merupakan keuntungan yang dikenakan pajak.

2.5 Penghentian Aset Tetap


2.5.1 Pelepasan AsetTetap
Dalam setian penjualan aset, dapat timbal laba atau rugi sebesar selisih antara harga
pasar dengan nilai bukp aset. Namun karena perbedaan metode penyusutan dan
estimasi masa manfaat, laba atau rugi penjualan aset dapat berbeda jumlahnya antara
akuntansi dengan perpajakan.
Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta terjadi apabila WP
menjual aset dengan harga yang lebih tinggi dari nilai sisa buku atau lebih tinggi dari
harga atau nilai perolehan. penjualan atau pengalihan harta sesuai dengan Pasal 4 ayat
(1) huruf d UU PPh Nomor 36 Tahun 2008, jumlah nilai sisa buku dibebankan
sebagai kerugian dan jumlah harga jual atau penggantian asuransi dicatat sebagai
penghasilan. Hal ini dicatat pada tahun terjadinya pengalihan harta tersebut. Apabila
terdapat kerugian sebesar nilai sisa buku harta karena penggantian asuransi yang
jumlahnya baru diketahui pada masa yang datang maka jumlah nilai sisa buku fiskal
harta yang bersangkutan dapat dicatat sebagai beban masa yang akan datang dengan
persetujuan Dirjen Pajak.
Menurut Pasal 4 ayat (3) huruf a dan b UU PPh Nomor 36 Tahun 2008,
keuntungan atas pengalihan harta berupa hibah atau warisan, bantuan atau
sumbangan, kecuali harta tersebut dialihkan kepada keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat, serta badan k atau badan pendidikan atau badan sosial
termasuk yayasan atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh

11
Menteri Keuangan, sepanjang tidak ada hubungannya dengan usaha, pekerjaan,
kepeinilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan maka jumlah
nilai sisa buku tidak boleh dibebankan sebagai biaya (kerugian) bagi pihak yang
mengalihkan dan bukan penghasilan bagi pihak yang inenerima. Sebaliknya, apabila
tidak menienuhi Pasal 4 ayat (3) huruf a dan b tersebut, maka bagi pihak yang
mengalihkan nilai sisa bukunya tidak dapat diakui sebagai biaya, dan bagi
penerimanya merupakan penghasilan.
Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan
digunakandalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan dapat dikurangkan dari penghasilan bruto. Kerugian karena
penjualan atau pengalihan harta yang diiniliki 'tetapi tidak digunakan dalam
perusahaan, atau yang dimiliki tetapi tidak digunakan untuk mendapatkan, menagih
dan memelihara penghasilan, tidak boleh dikurangkan dari penghasilan bruto. Tetapi
apabila terjadi keuntungan, maka keuntungannya merupakan objek PPh yang dihitung
dari selisih antara harga jual (harga pasar) dengan harga perolehan.
Menurut Pasal 16D UU PPN Nomor 42 Tahun 2009, pengaiihan aset oleh PKP
yang menurut tujuan semula aset tersebut tidak untuk diperjualbelikan dikenakan
PPN sebesar 10% dari DPP, kecuali atas penyerahan aset yang pajak masukannya
tidak dapatdikreditkan, yaitu: (1) aset yang tidak berhubungan langsung dengan
kegiatan usaha sesuai Pasal 9 ayat (8) huruf b; dan (2) aset kendaraan bermotor
berupa sedan dan station wagon sesuai Pasal 9 ayat (8) huruf c. DPP-nya adalah
sebesar harga jual atau harga pasar wajar dari aset yang diserahkan. PKP tidak perlu
menyetorkan sendiri secara langsun tetapi dapat dikompensasikan dengan pajak
masukannya terlebih dulu atau diperlakukai sama dengan pajak keluaran. PKP juga
melaporkan PPN atas penyerahan aset bekas dengan menggunakan SPT Masa PPN
mass pajak vang sama dengan bulan penyerahan.

2.5.2 Tidak Memiliki Masa Manfaat


Menurut SAK-ETAP yang diatur oleh IAI (2009: 74), entitas harus menghentikan
pengakuan aset tetap pada saat ketika tidak ada manfaat ekonomi masa depan yang
diekspektasikan dari penggunaannya. Entitas dapat mencataL aset tetap sebesar nilai
tercatat aset tetap (Rpl), apabila aset tetap masih dapat digunakan untuk operasional
sehari-hari. Tetapi apabila aset tetap sudah tidak dapat digunakan Magi maka entitas
harus mengakui keuntungan atau kerugian atas penghentiaii pengakuan aset tetap
dalam laporan labs rugi ketika aset tersebut dihentikan pengakuannya. Keuntungan
tersebut tidak boleh diklasifikasikan sebagai pendapatan.
Berikut ini merupakan perbedaan mendasar antara perlaktian menurut akuntansi
dengan perpajakan berkaitan dengan aset tetap:
No Uraian Akuntansi Perpajakan

12
1. Biaya perolehan a. Setara harga a. a Untuk transaksi yang
tunainya pada tidak mempunyai
tanggal pengakuan. hubungan istimewa
Jika pembayaran berdasarkan harga yang
ditangguhkan lebih sesungguhnya.
dari waktu kredit b. Untuk transaksi yang
normal, maka mempunyai hubungan
sebesar nilai tunai istimewa dihitung
semua pembayaran berdasarkan harga
masa akan datang. pasar.
b. Untuk pertukaran c. Untuk transaksi tukar
aset menggunakan menukar adalah
nilai wajar. berdasarkan harga
pasar.
d. Dalam rangka likuidasi,
peleburan, pemekaran,
pemecahan atau
penggabungan adalah
harga pasar kecuali
ditentukan lain oleh
Menteri Keuangan.
e. Revaluasi adalah
sebesar nilai setelah
revaluasi.
2. Penentuan masa Tergantung Sudah diatur dalam
manfaat padajustifikasi Peraturan Menteri
manajemen dengan Keuangan.
mempertimbangkan
faktorfaktor seperti days
pakai aset,
perkernbangan
teknologi, pembatasan
hukum.
3. Saat dimulainya Penyusutan dimulai a. Penyusutan dimulai
penyusutan ketika aset tersedia sejak bulan timbulnya
untuk digunakan. pengeluaran atas
perolehan aset.
b. Penyusutan dimulai
sejak bulan selesainya

13
pengerjaan harta. (untuk
harta yang masih dalam
proses pengerjaan).
c. Dengan persetujuan
Dirjen Pajak, WP dapat
melakukan penyusutan
mulai pada bulan harta
tersebut digunakan
untuk mendapatkan,
menagih, dan
memelihara penghasilan
atau pada bulan harta
yang bersangkutan
mulai menghasilkan.
4. Penghitungan Jumlah bulan dapat jumlah bulan selalu
jumlah dibulatkan ke atas dibulatkan ke atas,
bulan sejak atau ke bawah. walaupun dibeli di atas
dimulainya MisaInya pembelian di tanggal 15 setiap
penyusutan atas tanggal 15 bulannya.
dibulatkan ke bawah
dan
belum diakui
penyusutannya.
5. Metode a. Metode garis lurus a. Kelompok bangunan
penyusutan b. Metode saldo harus
menurun menggunakanmetode
c. Metodejumlah unit garis lurus.
produksi b. Kelompok selain
bangunan
Entitas harus memilih bolehmenggunakan
metodepenyusutan yang metode garis lurusatau
mencerminkan metode saldo menurun
ekspektasi dalam pola asalkanditerapkan
penggunaanmanfaat secara taat asas.
ekonomi masa depan
aset.
& Mai residu Nilai residu harus di- Tidak mengakui adanya
review minimum nilai residu.
setiap akhir tahun buku.

14
7. Sistem Penyusutan secara a. Penyusutan individual
penyusutan individual, kecuali b. Penyusutan
untuk peralatan kecil gabungan/grup
(small tools), boleh
secara golongan.
8. Aset yang boleh Semua aset tetap yang Hanya aset yang dimiliki
disusutkan dimiliki entitas,kecuali dan digunakanuntuk
tanah dan aset tetap mendapatkan, menagih, dan
yangmemenuhi definisi memelihara penghasilan
properti investasi. yang merupakanobjek pajak
tidak final.
9. Pengeluaran yang Disusutkan sesuai masa Disusutkan terpisah dari
dapat manfaat yang aset lamanya,seolah-olah
memperpanjang ditinjau ulang, dalam seperti aset dengan masa
umur masa hal inijumlah manfaat bare sehingga akan
manfaat tercatat aset tetan harus menjadi lebihlama
ditambahkan pembebanannya.
dengan pengeluaran
biaya perbaikan
tersebut.

2.6 Revaluasi Aset Tetap


Revaluasi aset tetap adalah suatu penilaian kembali atas aset tetap yang dimiliki
perusahaan sehingga sesuai dengan harga pasar saat dilakukannya revaluasi tersebut.
Dalam akuntansi, revaluasi aset tetap pada umumnya tidak diperkenankan. Hal ini
disebabkan karena SAK-ETAP menganut penilaian aset tetap berdasarkan biaya
perolehan atau harga pertukaran. Namun demikian, menurut paragraf 15.15 (2009)
penyimpangan dari ketentuan ini mungkin dilakukan berdasarkan ketentuan
pemerintah. Dengan adanya kewenangan dari pemerintah untuk mengatur
penyimpangan dari konsep biaya perolehan maka dikeluarkanlah peraturan mengenai
penilaian kembali aset tetap melalui PMK-79/ PMK.03/2008 tanggal 23 Mei 2008
yang menggantikan KMK-486/KMK.03/2002 tanggal28 November 2002.
Di dalam laporan keuangan haruslah dijelaskan mengenai penyimpangan tersebut
di dalam penyajian aset tetap Berta pengaruh dari penyimpangannya terhadap
gambaran keuangan entitas. Selisih nilai revaluasi aset tetap diakui dalam ekuitas
dengan akun "Surplus Revaluasi Aset Tetap" Akun tersebut dalam ekuitas dapat
dipindahkan langsung ke saldo laba pada aset tersebut dihentikan pengakuannya. Hal
ini meliputi pemindahan sekaligus "Surplus Revaluasi Aset Tetap" pada saat
penghentian atau pelepasan aset tersebut. Tetapi, surplus revaluasi aset tetap, dapat

15
dipindahkan sejalan dengan penggunaan aset oleh entitas.
Surplus revaluisi aset tetap yang dipindahkan ke saldo laba adalah sebesar
perbedaan antara 'jurnlah pen -usutan berdasarkannilai revaluasian aset
denganJumlah penyusutan berdasarkan biaya perolehan aset tersebut. Pemindahan
surplus revaluasi ke saldo laba tidak dilakukan melalui laporan laba rugi.
Perhitungan dapat dilakukan dengan membandingkan:
Harga pasar (penilaiar dari liasa penilai atau ahli penilai) xxx
Nilai tercatat aset tetap xxx
Surplus Revaluasi Aset Tetap xxx

Beberapa perbedaan antara KIMK-486/KMK.03/2002 dengan PMK-79/


PMK.03/2008 dijelaskan pada label berikut:
KMK-486/KMK.03/2002 PMK-79/PMK.03/2008
No Pembanding
(Peraturan Lama) (Peraturan Baru)
1 Objek revaluasi. Seluruh atau sebagian a) Seluruh aset
aset tetap termasukaset tetapberwujud, termasuk
tetap perusahaan yang tanah yang berstatus hak
sudah pernahdilakukan milik atau hak guna
penilaian kembali bangunan, atau
berdasarkan b) Seluruh aset tetap
ketentuan vang berlaku berwujud tidaktermasuk
sebelumnya. tanah, yang terletak atau
(Pasal 3 ayat (2)) berada di Indonesia,
Tidak ada ketentuan dimiliki dandipergunakan
mengenai untuk mendapatkan,
statuskepernilikan torah menagih, dan memelihara
yang dapat direvaluasi penghasilan yang
merupakan objek pajak.
(Pasal 3 ayat (1))
2 Jangka waktu. Penilaian kembali dapat Peni laian kembali aset
dilakukan palingbanyak 1 tetap perusahaantidak
kali dalam tahun buku dapat dilakukan kembali
yang sama. sebelum
(Pasal 3 ayat (3)) Lewat jangka waktu 5
tahun terhitung
sejakpenilaian kembali
aset tetap perusahaan
terakhir yang dilakukan

16
berdasarkan PMKini.
(Pasal 3 ayat (3))

3 Batas waktu Tidak ada. Peniiaian kembali aset


penilaian tetap
kembaliterhitung sejak perusahaandilakukan
laporan penilai dalam jangka waktu
diterbitkan. palinglama 1 (satu) tahun
sejak tanggal
laporanperusahaanjasa
penilai atau ahli penilai.
(Pasal 4 ayat (3))
4 Perhitungan Atas selisih lebih Atas selisih lebih
PPh Final atas penilaian kembali diatas penilaian kembali
revaluasi aset tetap nilai sisa buku fiskal asettetap perusahaan di
(penggunaan sisa semula setelah atas nilai sisa bukufiskal
rugi dikompensasikan terlebih semula dikenakan PPh
fiskalsebagaipengurang dahulu dengannilai sisa yang bersifatfinal sebesar
selisihlebih revaluasi). kerugian fiskal tahun- 10%.
tahun (Pasal 5)
sebelumnya dikenakan Tidak disebutkan lagi
PPh yang bersifatfinal adanya hak untuk
sebesar 10%. mengkompensasikan rugi
(Pasal 5 ayat (1)) fiskal tahun-tahun
sebelumnya.
5 Hak untuk WP yang k.arena kondisi perusahaan yang kondisi
mengangsur PPh keuangannyatidak keuangannya
final yang terutang. merrungkinkan untuk tidakmemungkinkan
melunasisekaligus dapat untuk melunasi
mengangsur PPh sekaligusPPh yang
yangterutang dengan terutang dapat
mengajukan mengajukanpembayaran
permohonanpembayaran secara angsuran paling
secara angsuran paling lama
lama 12 bulan sesuai ketentuan
12 bulan sesuai ketentuan dalam UU KUP
dalam UUKUP. Dalam (Pasal (6))
hal besarnya PPh lebih Tidak disebutkan adanya
dari kemudahanpembayaran

17
Rp2.000.000.000.000 angsuran lebih dari 1
dapat mengajukan hingga 5 tahun untuk WP
permohonan ofnibayarar, dengan PPh terutang lebih
secara angsuran dari
lebih dari 1 tahun hingga Rp2.000.000.000.000.
5 tahun kepadaDirjen
pajak.
(Pasal 6 ayat (1), ayat (2),
dan ayat (3))
6 Pengalihan aset Dalam hal WP Dalam hal perusahaan
tetap sebelum melakukan pengalihan melakukanpengalihan aset
berakhir masa asettetap perusahaan yang tetap berupa:
manfaat baru (early telah a) Aset tetap kelompok 1
divestment). memperolehpersetujuan dan kelompok2 yang telah
penilaian kembali memperoleh
sebelum persetujuanpenilaian
berakhirnya masa kembali sebelum
manfaat baru, makaatas berakhirnyamasa manfaat
pengalihan tersebut, baru; atau
dikenakantambahan PPh b) Aset tetap kelompok
yang bersifat final 3, kelompok4, bangunan,
sebesar20% dari selisih dan tanah yang
lebih penilaian kembalidi telahmemperoleh
atas nilai sisa buku fiskal persetujuan
semula penilaiankembali sebelum
tanpadikompensasikan lewatjangka waktu
dengan sisa 10tahun,
kerugianfiskal tahun- maka atas selisih lebih
tahun sebelumnya. penilaian kembali diatas
(Pasal 8 ayat (1)) nilai sisa buku fiskal
semula,
dikenakantambahan PPh
yang bersifat final
dengantarif sebesar tarif
tertingg, PPh WP
badandalam negeri yang
berlaku pada saatpenilaian
kembali dikurangi 10%.
(Pasal 8 ayat (1))

18
7 Pengalihan aset Dikecualikan dar, Tambahan PPh final
tetap dalam rangka tambahan PPh sebesar tarif tertinggiPPh
penggabungan, finalsebesar 20% (Pasal 8 WP badan dalam negeri
peleburan, atau ayat (i)) dalamhal yang berlaku
pemekaran usaha. pengalihan aset tetap pada saat penilaian
perusahaandalam rangka kembali dikurangi
memenuhi persyaratan 10%tidak berlaku bagi
penggabungan, peleburan pengalihan aset
atau pemekaranusaha tetapperusahaan dalam
untuk tujuan perpajakan. rangka
(Pasal 8 ayat (2) huruf b) penggabungan,peleburan,
atau pemekaran usaha
yangmendapat
persetujuan.
(Pasal 8 ayat (2) huruf b)

Revaluasi aset tetap juga diatur dalam PER-12/Pl/2009. WP dalam negeri dan
BUT tidak termasuk perusahaan yang memperoleh izin menyelenggarakan
pembukuan dalam masa uang Dolar Aincrika Serikat, dapat melakukan penilaian
kembali aset tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan. Dengan syarat telah
memenuhi seinua kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir sebelum
masa pajak dilakukannya penilaian kembali. Untuk dapat melakukan penilaian
kembali aset tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan, WP wajib mengajukan
permohonan kepada Kepala Kantor Wilayall Dirjen Pajak yang membawahi KPP
ternpat perusahaan terdaftar (KPP Domisili), untuk mendapatkan persetujuan Dirjen
Pajak terlebih dahulu.
Perusahaan yang karena kondisi keuangannya tidak memunckmkan untuk
melunasi sekaligus pembayaran PPh final yang terutang dalam rangka penilaian
kembali aset tetap perusahaan untuktujuan perpajakan, makadapat mengajukan
permohonan pembayaran secara angsuran palu1g llama untuk 12 bulan kepada
Kepala Kanwil Dirjen pajak dengan menggtmakan formulir. Pengajuan permohonan
tersebut dapat dilakukan bersama-sama dengan permohonan persetujuan penilaian
kembali aset tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan.
PPh final yang terutang atas selisih lebih penilaian kembali aset tetap perusahaan
untuk tujuan perpajakan wajib dibayar lungs ke Kas Negara dengan menggunakan
SSP paling lama 15 hari setelah tanggal diterbitkannya keputusan persetujuan atau
paling lama pada tanggal jatuh tempo setiap angsuran pembayaran dalam hal
perusahaan memperoleh keputusan persetujuan pembayaran secara angsuran.
Keterlambatan pelunasan PPh terutang final tersebut baik secara keseluruhan maupun

19
secara angsuran, maka akan dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sesuai
dengan UU KUP Nomor 28 Tahun 2007.
Perhitungan dapat dilakukan dengan membandingkan:

Harga pasar (penilaian dari jasa penilai atau ahli penilai) xxx
Nilai buku fiskal xxx
Selisih lebih penilaian kembali aset tetap perusahaan
untuk tujuan perpajakan xxx

Atas selisih lebih penilaian kembali aset tetap perusahaan untuk tujuan
perpajakan dikenai PPh yang bersifat final sebesar 10%. Apabila perusahaan
melakukan pengalihan aset tetap yang telah direvaluasi, maka perusahaan dikenai
tambahan PPh yang bersifat final, dengan tarif sebesar tarif tertinggi PPh WP badan
dalam negeri yang berlaku pada saat penilaian kembali dikurangi 10%. Tambahan
PPh bersifat final tersebut wajib dibayar lunar ke Kas Negara paling lama 15 hari
setelah akhir bulan terjadinya pengalihan aset tetap tersebut. Keterlambatan
pelunasan tambahan PPh yang bersifat final yang terutang, akan dikenai sanksi
administrasi berupa bunga sesuai dengan UU KUP Nomor 28 Tahun 2007 dan
peraturan pelaksanaannya.
Jurnal pencatatan atas revaluasi aset tetap adalah sebagai berikut:
Tanggal Keterangan Debit Kredit
Aset tetap xxxx -
Akumulasi penyusutan aset tetap xxxx -
Surplus Revaluasi Aset Tetap - xxxx
Pph Final atas Revaluasi Aset Tetap xxxx -
Kas/Bank - xxxx

Perlakuan aset tetap setelah direvaluasi akan memiliki nilai buku yang sama
dengan nilai pasar. Nilai pasar (nilai seteiah dilakukan revaluasi aset tetap) tersebut
merupakan dasar penyusutan yang baru dan mulai berlaku pada saat dilakukannya
revaluasi. Masa manfaat aset tetap menjadi nol kembali atau seolah-olah belurn
pernah disusutkan.
Ketentuan perpajakan atas revaluasi aset tetap, sebelum PMK-79/PMK.03/2008
jo. PER-12/PJ/2009 jo. SE-56/PJ/2009, diatur dalam KMK-486/KMK.03/2002 jo.
Kep519/PJ/2002 tanggal 2 Desember 2002 dan SE-08/PJ.31/2002 tanggal 4
Desember 2002. WP badan dalam negeri dan BUT selain yang memperoleh izin
menyelenggarakan pembukuan dalam mata uang Dolar Amerika Serikat, dapat
melakukan penilaian kembali aset tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan, dengan
syarat telah memenuhi semua kewajiban pajaknya sampai dengan masa pajak terakhir

20
sebelum masa pajak dilakukannya penilaian kembali. Untuk dapat melakukan
penilaian kembali aset tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan, WP wajib
mengajukan permohonan kepada Kepala Kanwil, yang membawahi KPP tempat WP
terdaftar, untuk mendapatkan Keputusan Persetujuan Dirjen Pajak terlebih dahulu.
Aset tetap yang dilakukan penilaian kembali aset tetap perusahaan untuk tujuan
perpajakan adalah aset tetap berwujud yang terletak atau berada di Indonesia, yang
dimiliki dan dipergunakan untuk mendapatkan, menagih,dan memelihara penghasilan
yang merupakan Objek Pajak. WP orang pribadidalam negeri yang melakukan
pembukuan tidak dapat melakukan revaluasi. Hal ini disebabkan karena tidak adanya
pemisahan harta antara harta pribadi dan perusahaan.
Penilaian kembali aset tetap perusahaan harus dilakukan berdasarkan nilai pasar-
atau nilai wajar aset tetap tersebut yang berlaku pada saat penilaian kembali yang
ditetapkan oleh perusahaan jasa penilai atau ahli penilai yang diakui atau memperoleh
izin Pemerintah. Dalam hal nilai pasar atau nilai wajar yang ditetapkan oleh
perusahaan jasa penilai atau ahli penilai yang diakui oleh Pemerintah ternyata
kemudian tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya, maka Dirjen Pajak akan
menetapkan kembali nilai pasar atau nilai wajar aset yang bersangkutan.
Atas selisih lebih penilaian kembali di atas nilai sisa buku fiskal semula seteiah
dikompensasikan terlebih dahulu dengan sisa kerugian fiskal tahun-tahun sebelumnya
berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (2) UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 yaitu kerugian
tersebut dikompensasikan dengan penghasilan neto atau laba fiskal selama 5 tahun
berturut-turut dimulai sejak tahun berikutnya sesudah tahun didapatnya kerugian
tersebut, dikenakan PPh yang bersifat final sebesar 10%. Kompensasi kerugian fiskal
sebagaimana dimaksud tetap harus dilakukan terlebih dahulu, meskipun dalam tahun
pajak dilakukannya penilaian kembali terdapat PhKP dari keuntungan usaha dan/atau
sumber lainnya.

21
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Aset tetap adalah aset berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau
dibangun lebih dahulu, yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau
penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain , atau untuk tujuan
administratif; dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

Aset Tetap yang diperoleh dengan pembelian dalam bentuk siap pakai dicatat
sejumlah harga beli ditambah dengan biaya – biaya yang terjadi pada saat perolehan
atas konstruksi atau , jika dapat diterapkan, jumlah yang dapat diatribusikan ke aset
pda saat pertama kali diakui sesuai dengan persyaratn tertentu dalam PSAK 16.

Dalam penghitungan penyusutan ada berbagai metode yang harus digunakan baik
menurut akuntansi maupun menurut fiskal atau perpajaknnya. Untuk akuntansi
metode yang digunakan bisa memilih antara metode garis lurus, metode saldo
menurun, atau metode Jumlah unit. Sedangkan untuk perpajakannya bisa
menggunakan Metode garis lurus atau metode saldo menurun dan penggunaannya
harus dilakukan secara taat asas.

Akuntansi aset tetap pada lingkup pajak merupakan suatu hal yang sangat penting
dalam sebuah perusahaan atau entitas, karena pengakuan akun asset tetap dalam
laporan keuangan komesial perusahaan berbeda dengan pengakuan dalam laporan
keuangan fiskal, yang diperlukan oleh pihak fiskus. Dengan demikian adanya
perkembangan dan perbaharuan UU Perpajakan semata-mata untuk mempermudah
dan menyesuaikan kondisi objek dan subjek pajak sehingga meminimalisir terjadinya
diskriminasi masalah penetapan tarif pajak.

22