Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM

GENETIKA MIKROBA

“GEL ELEKTROFORESIS”

NAMA MAHASISWA : NUR AZIZAH KAHARUDDIN


NIM : 181051301043
KELOMPOK : I (SATU)
ASISTEN : ANDI BIDA PURNAMASARI, S.Si., M. Kes.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2019
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikum Genetika Mikroba dengan judul “Gel


Elektroforesis”, yang disusun oleh:
Nama : Nur Azizah Kaharuddin
NIM : 181051301043
Kelas : Biologi C
Kelompok : I (Satu)
telah diperiksa dan dikonsultasikan pada Asisten dan Koordinator Asisten, maka
laporan ini dapat diterima.

Makassar, Mei 2019


Koordinator Asisten, Asisten

(Djumarirmanto, S. Pd) Andi Bida Purnamasari, S.Si., M. Kes.


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Semua makhluk hidup di bumi ini memiliki komponen-komponen
penyusun tubuh yang mendukung setiap aktivitas dan metabolisme dalam
tubuhnya. Komponen-komponen penyusun tersebut didasari dari komponen-
komponen terkecil dari makhluk hidup yang disebut sel. Bahasan tentang sel
merupakan hal mendasar untuk memahami organisme, karena sel
merupakan struktur dan fungsi terkecil dari organisme, dan hampir semua
organisme tersusun atas sel. Di dalam sel terdapat komponen-komponen
yang menyusun sel. Diantaranya yaitu terdapat asam nukleat yang
merupakan elemen penting pada seluruh organisme yang berperan
mengatur seluruh aktivitas hidup.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi juga tidak bisa lepas
dari analisis tingkat molekuler yang melibatkan asam nukleat (DNA). Analisis
tingkat molekuler dengan DNA sebagai objeknya diawali dengan proses
ektraksi DNA untuk mendapatkan DNA yang murni dengan konsentrasi
tinggi sehingga dapat digunakan untuk analisis molekuler.
Dalam melakukan analisis molekuler dapat dilakukan beberapa
metode. Salah satu contohnya adalah elektroforesis gel agarosa yang
merupakan metode standar untuk memisahkan, mengidentifikasi, dan
memurnikan fragmen DNA. Elektroforesis gel agarosa termasuk teknik yang
sederhana, mudah penanganannya, cepat dikerjakan dan mempunyai
kemampuan memisahkan campuran fragmen-fragmen DNA, RNA maupun
protein, serta hanya memerlukan sedikit sampel.
Pada percobaan kali ini, akan dilakukan pengamatan tentang gel
elektroforesis. Pada praktikum ini praktikan harus membuat terlebih dahulu
gel agarose yang akan digunakan sebagai wadah tempat cetakan sampel,
setelah itu sampel dimasukkan di masing-masing cetakan kemudian
dilakukan analisis elektroforetik. Pada pengamatan kali ini digunakan dua
sampel darah yang akan dianalisis melalui gel elektroforesis. Perlu adanya
ketelitian dan ketekunan dalam melakukan percobaan ini, terutama pada
kegiatan memasukkan sampel ke dalam cetakan gel agarose.

B. Tujuan Praktikum
Adapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah agar
mahasiswa memahami prinsip dasar gel elektroforesis dan untuk
mengetahui visualisasi pita-pita DNA yang tampak pada setiap sampel
dengan intesitas yang berbeda-beda sesuai dengan besarnya masing-
masing konsentrasi DNA.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pada elektroforesis media pemisahnya berupa gel Agarosa atau lainnya


yang memiliki tingkat viskositas tinggi. Dengan demikian dapat dihitung laju
molekulnya adalah sebagai berikut:

Laju dalam elektroforesis sangat bergantung pada kekentalan medium (n),


ukuran atau bentuk (r), dan muatan molekul (q). Kekuatan asam pada medium
juga mempengaruhi besar muatan pada saat ionisasi berlangsung sehingga
diperlukan larutan buffer untuk mengatasi masalah ini. Dan juga perlu dilakukan
analisis terhadap kemampuan media untuk memisahkan molekul- molekul agar
lebih efektif dan maksimal. Alat elektroforesis terdiri dari medium pemisah yang
terhubung dengan dua elektroda dan kertas saring. Media pemisah dapat berupa
gel Agarosa, pati atau poliakrilamida. Media terdiri dari dua bagian yang
dihubungkan dengan sumbu asbes; satu bagian berisi elektroda platina dan yang
lain kontak dengan medium elektroforesis. Alat elektroforesis terdiri dari medium
pemisah yang terhubung dengan dua elektroda dan kertas saring. Media
pemisah dapat berupa gel Agarosa, pati atau poliakrilamida. Media terdiri dari
dua bagian yang dihubungkan dengan sumbu asbes; satu bagian berisi elektroda
platina dan yang lain kontak dengan medium elektroforesis (Harahap, 2018).
Uji DNA secara kualitatif untuk mengetahui kualitas DNA yang diisolasi
dilakukan dengan elektroforesis gel agarosa. Elektroforesis memiliki prinsip kerja
memanfaatkan muatan listrik yang ada pada DNA yang bermuatan negatif. DNA
yang dialiri arus listrik dari satu kutub ke kutub yang berlawanan muatannya,
maka molekul tersebut akan bergerak dari kutub negatif ke kutub positif. Hasil uji
DNA yang baik dengan elektroforesis ditunjukkan dengan pita DNA yang tebal
dan tampak sedikit atau tidak ada smear jika divisualisasikan di atas sinar UV
(Hikmatyar et al, 2015).
Sifat agarosa yang tidak bermuatan, membuat agarosa banyak
diaplikasikan dalam bidang bioteknologi, baik sebagai media kultur ataupun
media elektroforesis. Dalam elektroforesis, agarosa digunakan untuk
mendeteksi kompleks-kompleks antigen-antibodi, dan untuk analisis molekul
DNA, RNA dan molekul protein. Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi dalam analisis molekul DNA cukup pesat. Salah satu contohnya
adalah analisis molekul DNA, RNA dan molekul protein dengan metode
PCR. Metode PCR digunakan untuk melipat gandakan suatu molekul DNA
secara cepat dan mudah. Analisis molekul DNA dengan PCR ini, akan
dilanjutkan dengan pemisahan fragmen DNA menggunakan gel elektroforesis
untuk memisahkan molekul DNA, RNA dan molekul protein menggunakan
arus listrik di permukaan gel matriks (agarosa) (Aslinda, 2016).
Mekanisme dasar pemrosesan gambar gel biasanya terdiri dari tiga
langkah dasar: 1. deteksi pita, 2. pencocokan pita, dan 3. kuantifikasi dan
perbandingan. Ketiga langkah ini sangat tergantung pada metode elektroforesis.
Otomasi terpadu mereka untuk berbagai metode elektroforesis gel (protein,
fragmen DNA PCR / RNA, DGGE, TGGE, dll.) yang merupakan hal yang sulit.
Informasi tentang posisi pita saja tidak memberikan deskripsi yang cukup tentang
nilai intensitas, lebar pita atau pergeseran vertikal antar pita. Properti ini memiliki
karakter individu untuk setiap gambar dan membuat perbandingan gambar
menjadi sulit. Karakter individu diberikan oleh ketidakseragaman pemisahan
elektroforesis. Masalah yang paling umum adalah distorsi geometris (fokus
berlebihan sampel), kontaminasi sampel (latar belakang sampel), gradien parasit
(lajur fleksi), paparan citra gel yang buruk (kontras rendah), dll. Sebagian besar
distorsi gambar ini disebabkan oleh operasi yang tidak sempurna dan pengaturan
elektroforesis yang salah. Namun, analisis gambar elektroforesis otomatis harus
mempertimbangkan opsi ini. Distorsi gambar memengaruhi deteksi jalur (sampel
tidak bergerak lurus lurus), deteksi pita (tingkat latar belakang lebih tinggi dari
tingkat pita), evaluasi kecepatan berbagai sampel (sampel dari sumur marjinal
bergerak melalui gel secara perlahan daripada yang di tengah)
(Skutkova et al, 2013).
Elektroforesis gel agarosa adalah salah satu teknik paling penting dan
rutin untuk analisis DNA. Menggabungkan dengan pewarna organik (ethidium
bromide (EB)), fragmen DNA dapat dipisahkan dengan baik sesuai dengan
jumlah nukleobase dan diamati di bawah sinar UV. Resolusi elektroforesis gel
agarosa untuk pemisahan DNA terutama didominasi oleh konsentrasi gel
agarosa dan tegangan kerja elektroforesis. Dalam kebanyakan kasus, pita DNA
terdispersi dan berekor diperoleh setelah elektroforesis, disertai dengan sinyal
latar belakang yang serius yang berasal dari pewarna EB (Li et al, 2016).
Elektroforesis gel polyacrylamide diterapkan pada kondisi kondisi yang
memungkinkan pemisahan produk produk ekstensi yang panjangnya berbeda-
beda sebanyak 1 nukleotida, dalam sebuah kolom atau jalur tunggal pada gel.
Karena molekul-molekul DNA umumnya bermuatan negatif migrasinya
berlangsung ke arah anoda (elektroda positif) saat elektroforesis. Dengan
demikian, semakin kecil produk ekstensinya, semakin cepat migrasinya melalui
gel. Nukleotida terakhir pada produk ekstensi (diindikasikan oleh pewarna
fluorescent spesifik) dalam pita yang paling cepat bermigrasi dengan demikian
mempresentasikan nukleotida 5' dari salah satu untai DNA target dan nukleotida
terakhir pada produk ekstensi dalam pita yang paling lambat bermigrasi
merepresentasikan nukleotida 3' untai tersebut. Ketika masing-masing populasi
produk ekstensi dengan panjang yang identik telah melewati pemindai fluorescens
sebagai satu pita, sinar fluoresens yang dipancarkan kemudian direkam dan
dianalisis oleh komputer. Hasilnya adalah keseluruhan rentangan sekuens DNA
target tersebut (elektoferogma) (Elrod, 2007).
Elektroforesis gel polyacrylamide adalah salah satu teknik yang paling sering
digunakan untuk memisahkan makromolekul DNA, RNA, dan protein). Banyak
digunakan untuk menampilkan dan untuk memisahkan protein maupun asam nukleat
yang berbeda panjangnya. Untuk memperoleh hasil pemisahan makromolekul
khususnya polipeptida atau protein diperlukan kondisi yang tepat meliputi konsentrasi
poliakrilamid, ketebalan gel dan sebagainya. Elektroforesis secara umum merupakan
proses pemisahan makromolekul yang didasarkan pada muatan molekul tersebut
dalam suatu larutan dan resistensinya. Pada gel poliakrilamid atau agarosa resistansi
yang diberikan oleh matriks berkaitan dengan ukuran molekul dan bentuk molekul
saat melewatinya. Untuk ukuranpori tertentu, molekul yang besar akan mengalami
hambatan yang lebih besar sehingga bergerak lebih lambat saat melewati matriks
daripada molekul kecil (Puspitaningrum, 2018).
Analisis fragmen restriksi secara tidak langsung mendeteksi perbedaan
tertentu dalam urutan nukleotida molekul-molekul DNA. Dalam metode ini kita
menggunakan elektroforesis gel untuk memilah berdasarkan ukuran fragmen DNA,
yang dihasilkan dari perlakuan molekul DNA yang panjang dengan suatu enzim
retriksi. Dengan melihat pola pita yang berwarna pada gel akan didapatkan informasi
yang bermanfaat secara ilmiah. Ketika campuran fragmen matriks dari molekul DNA
tertentu mengalami elektroforesis, campuran itu akan menghasilkan pada pita yang
khas, yang menunjukkan molekul awal dan enzim retriksi yang digunakan.
Sebenarnya, molekul DNA yang relatif kecil dari suatu virus dan plasmid dapat
diidentifikasi hanya berdasarkan pola-pola fragmen retriksinya. (molekul DNA yang
lebih besar seperti DNA suatu kromosom, menghasilkan begitu banyak fragmen
yang terlihat sebagai pita mencolok). Karena DNA dapat diambil kembali dari gel
tanpa mengalami kehancuran, prosedur ini juga memberikan suatu cara untuk
mempersiapkan sampel murni dari masing-masing fragmen (campbell, 1999).
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Alat
Adapun alat yang digunakan dalam praktikum genetika mikroba adalah
pipet mikro 0,5-10ul dan tip putih, 1 set alat elektroforesis, cetakan dan sisir,
UV iluminator (lampu UV), timbangan digital, erlemeyer 250 ml, gelas ukur
200 ml, oven microwave/hot plate, kamera digital, stabilizer.

B. Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini larutan TAE
1x,agarose, sampel DNA, DNA marker, BPB ( bromophenol blue), parafilm,
aquades (DH2O), etidium bromida 0,01 %
C. Prosedur kerja
1. Pembuatan gel agarose
a. Menimbang 0,7 gram agarose menungkan pada tabung elemeyer 250
ml
b. Menambahakan 100 ml larytan TAE 1X campur dengan baik
c. Mendiamkan pada suhu kamar selama 1 menit
d. Larutkan dengan memanaskannya pada oven mirowave selama
kurang lebih 3 menit sampai agarrse terlarut sempurna
e. Mendiamkan pada suhu kamar samapi larutan agarose menjadi tidak
terlalu panas
f. Menuangkan larutan agarose pada cetakan yang telah disediakan
kemudian pasang sisir untuk membuat sumur pada gel
g. Menunggu kurang lebih 15 menit gel akan memadat
h. Menambahkan larutan 1 x TAE pada permukaan gel yang telah padat
angkat sisir dengan hati – hati maka akan terlihat sumuran-sumuran
pada gel untuk aplikasi DNA sampel
i. Dengan menggunakan sped injeksi yang disii dengan larutan 1x TAE
bersihkan sumuran dari sisa-sisa gel yang menganggu
j. Meletakkan cetakan berisi gel agarose ada tangki mesin
elektroforensis gel terendam dalam larutan 1x TAE. Gel siap
digunakan.

2. Gel elektroforesis
a. Membuat campuran gel agarose konsentrasi 1,5 % dengan cara
mencampurkan 200 ml TAE 1X dan bubuk agarose 3 miligram
didalam erlemeyer
b. Memanaskan camuran tersebut diatas hot plate stirre hingga
campuran gel berwarna bening
c. Biarkan camuran gel mendingin hingga suhu kurang lebih 60 oc,
d. Menuangkan campuran gel kedalam casting gel tray dengan hati-hati
hindari adanya gelembung udara lalu memasang comb, tunggu hingga
gel mengeras (30-40 menit) dan selanjutnya meletakkan didalam
chamber
e. Menuangkan TAE 1X kedalam chamber berisi gel hingga merendam
keseluruhan gel
f. Membuat camuran( loading mixture) yang terdiri atas DNA yang telahh
diaplikasikan sebnyak 7 ul dan loading Dye 6 X 2ul diatas kertas
parafilm
g. Membuat campuran DNA ladder 2 ul dan loading Dye 6X iul diatas
kertas arafilm
h. Memasukkan masing-masing DNA sampel dan DNA ladder kedalam
well (buat catatan mengenai nomor well dan jenis sampel DNA yang
dimasukkan).
i. Menutup chamber dan hubungan dengan power supply (kutu negatif
disisi well)
j. Menyalakan power supply dan mengatur voltase 100 v dan waktu
running selama 30-50 menit,
k. Membiarkan elektroforesis berjalan hingga migrasi DNA mencapai 80
% dari panjang gel
l. Saat menunggu elektroforensis beralan siapkan campuran etBr dan
akuades dengan konsentrasi akhir 10 ug/ml untuk merendam gel di
dalam baki
m. Setelah ekeltroforensis selesai matikan ower suy mengambil gel dan
rendam dalam EtBr selama 25-30 menit
n. Gel sia untuk di visualisasi dalam gel documentatation system.

3. Analisis elektroforesis
a. Menyiakan DNA sampel DNA marker untuk ukuran anjang dan
konsentrasi DNA ( DNA yang diotong dengan enzim endonuklease sty
1) dan maker fisik (pewarna) untuk migrasi DNA
b. Ada sumuran pertama masukkan 1 ul sty/1 (0.1 µg)
c. Diatas plastik parafil dengan menggunakan mikropipet buatlah
campuran untuk masing – masing sampel DNA dimana DNA sampel
2µ1, BPB 2µ1, dan DH2O 1µ1, dimana jumlahnya 5 µ1
d. Memasukkan satu persatu DNA sampel yang telah disiakan pada
nomer 3 tadi dalam sumur ke 2,3 dan 4 dan seterusnya
e. Menutup mesin elektroforesis setvoltase 100 volt, arah migrasi dari ke
+ dan hidupkan mesin
f. Setelah migrasi mencaai 2/3 panjang gel yang ditunjukkan dengan
warna biru matikan mesin
g. Ambil gel dengan hati-hati kemudian direndam dalam larutan etidium
bromida 0,01% selama 15-30 menit
h. Untuk visualisasi DNA gel diamati ada UV illuminator pita-pita DNA
akan nampak sebagai singal berwarna orage dengan intensitas yang
berbeda-beda sesuai dengan besarnya masing-masing konsentrasi
DNA
i. Gel difoto dengan kamera dan diamati di komputer
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
Tahapan Pada Gel
No Keterangan
Elektroforesis
Pada praktikum ini digunakan agarose yang
sudah jadi

Mempersiapkan cetakan gel agarosa.

Menuang larutan agarose ke dalam


cetakan

Memasang sisir sebagai cetakan pada


agarose agar terdapat sumran-sumuran

4
Melepaskan gel agarosa kemudian
letakkan pada tangki mesin elektroforesis
yang sebelumnya telah dituangkan larutan
5
buffer.

Memasukkan sampel ke dalam sumur gel


agarosa.
6

Memasang tutup pengaman, kemudian set


volttase 100 volt selama 30 menit.

Gel diamati pada UV eliminator

9 Hasil analisis elektroforesis. Tidak terlihat


visualisasi DNA pada gel yang telah dibuat.
B. Pembahasan
Pada praktikum ini dilakukan percobaan tentang gel elektroforesis untuk
memisahkan, dan mengidentifikasi molekul DNA dari sampel. Sebagaimana
prinsip kerja elektroforesis menurut Hikmatyar (2015) Elektroforesis memiliki
prinsip kerja memanfaatkan muatan listrik yang ada pada DNA yang
bermuatan negatif. DNA yang dialiri arus listrik dari satu kutub ke kutub yang
berlawanan muatannya, maka molekul tersebut akan bergerak dari kutub
negatif ke kutub positif.
Pada pengamatan kali ini terdapat 3 sampel darah yang digunakan. Pada
awal kegiatan, dilakukan terlebih dahulu pembuatan agarose, tetapi pada
praktikum kali ini praktikan menggunakan agarose yang sudah jadi. Agarose
berfungsi sebagai media cetakan untuk membuat sumuran pada gel, sumuran
ini sebagai tempat DNA sampel. Menurut Aslinda (2016), Sifat agarosa yang
tidak bermuatan, membuat agarosa banyak diaplikasikan dalam bidang
bioteknologi, baik sebagai media kultur ataupun media elektroforesis. Dalam
elektroforesis, agarosa digunakan untuk mendeteksi kompleks-kompleks
antigen-antibodi, dan untuk analisis molekul DNA, RNA dan molekul protein.
Menurut Harahap (2018) Kelebihan dari gel ini lebih mudah, sederhana
dan laju pemisahannya lebih cepat membentuk fragmen-fragmen dan
tidak bersifat toksik. Hanya saja kelemahannya gel ini memiliki sensitifitas
tinggi dan mudah rusak sehingga memerlukan ketelitian dan kehati-hatian
pada proses pengerjaannya.
Agarose yang telah memadat dipindahkan pada tangki mesin
elektroforesis yang sebelumnya telah dituangkan larutan buffer. Larutan buffer
berfungsi untuk mempertahankan pH di dalam medium pemisah, dan
berfungsi sebagai media penyedia elektrolit pada proses pergerakan
aliran listrik. Larutan buffer harus memiliki interkasi dengan molekul yang
dipisahkan, dan pH yang digunakan menjadi perhatian sehingga kumpulan
molekul dapat dipisahkan satu sama lain tetapi tidak mengalami perubahan
struktur (Harahap, 2018). Setelah itu gel siap digunakan. Pada sumuran yang
telah dibuat, dimasukkan satu persatu DNA sampel dengan campuran 2 µl
DNA sampel + 2 µl pewarna berupa BPB (bromophenol blue). BPB
(bromophenol blue) berfungsi sebagai zat warna yang digunakan untuk
menandai kemajuan proses elektroforesis dan menentukan kapan saatnya
harus menghentikan proses. Bromophenol blue bergerak serah dengan DNA,
yang ditandainya dengan pergerakan/pemisahan warna pada sampel DNA.
Setelah itu mesin elektroforesis ditutup, kemudian diset hingga voltase
100 volt dan ditunggu selama 30 menit. Berdasarkan hasil pengamatan
selama 30 menit terjadi pemisahan- pemisahan pada masing-masing DNA
sampel. Hal ini sejalan dengan teori, Harahap (2018) Elektroforesis pada
voltase tinggi mengakibatkan pemisahan yang sangat cepat. Sehingga
senyawa-senyawa dengan berat molekul rendah akan mengalami proses
difusi yang paling baik dipisahkan dalam kondisi elektroforesis tegangan
tinggi.
Untuk mengetahui visualisasi DNA, gel yang telah dielektoforesis diamati
pada UV illuminator. Berdasarkan hasil pengamatan, dapat dilihat pada
gambar berikut;

Gambar (a). Hasil Pengamatan Gambar (b) Berdasarkan Teori


(pita-pita DNA tidak tampak) (pita-pita DNA tampak)

Pada gambar (a) menunjukkan hasil praktikum yang dilakukan praktikan


dimana tidak terdapat visualisasi pita-pita DNA pada sampel yang
menyebabkan percobaan ini tidak bisa berlanjut ke tahap PCR. Sedangkan,
seharusnya yang tampak seperti pada gambar (b) yang menunjukkan
terbentuknya pita DNA pada dalam UV illuminator. Hal ini tidak seuai dengan
teori, yang mengatakan bahwa gel yang diamati di dalam UV illuminator akan
membentuk pita-pita DNA yang tampak sebagai sinyal berwarna orange
dengan intensitas yang berbeda-beda, sesuai dengan besarnya masing-
masing konsentrasi DNA.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya konsentrasi DNA
yang digunakan tidak sesuai, terjadi kontaminasi pada DNA sampel, ataupun
kesalahan praktikan dalam memasukkan sampel DNA pada sumur gel
elektrofesis. Hal ini juga diungkapkan oleh Skutkova (2013) yang mengatkan
bahwa masalah yang paling umum dalam melakukan elektroforesis adalah
distorsi geometris (fokus berlebihan sampel), kontaminasi sampel, gradien
parasit (lajur fleksi), paparan cahaya yang buruk pada gel (kontras rendah),
dll.
Oleh karena itu dalam melakukan praktikum ini perlu adanya ketelitian,
dan ketekunan dari praktikan, serta praktikan harus memahami betul tahap-
tahap dari setiap kegiatan yang dilakukan, agar dapat meminimalisir keslahan
yang dapat terjadi pada saat melakukan pengamatan.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum tentang gel elektroforesis dapat disimpulkan
bahwa prinsip kerja gel elektroforesis memanfaatkan muatan listrik yang ada
pada DNA yang bermuatan negatif. DNA yang dialiri arus listrik dari satu kutub
ke kutub yang berlawanan muatannya, maka molekul tersebut akan bergerak
dari kutub negatif ke kutub positif. Pada pengamatan gel elektroforesis ini,
Setelah diamati pada UV illuminator, tidak tampak visualisasi DNA berupa
pita-pita DNA yang akan tampak sebagai sinyal berwarna orange. Sehingga
percobaan ini kali ini tidak berhasil dan tidak dapat dilanjutkan ke tahap PCR.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya konsentrasi DNA yang
digunakan tidak sesuai, terjadi kontaminasi pada DNA sampel, ataupun
kesalahan praktikan dalam memasukkan sampel DNA pada sumur gel
elektrofesis.

B. Saran
Adapun saran dalam dalam melakukan praktikum ini perlu adanya
ketelitian, dan ketekunan dari praktikan, serta praktikan harus memahami
betul tahap-tahap dari setiap kegiatan yang dilakukan, agar dapat
meminimalisir kesalahan yang dapat terjadi pada saat melakukan
pengamatan.
DAFTAR PUSTAKA

Aslinda, Wery dan Ahmad, Ahyar. 2016. Isolasi dan Karakterikasi Agarosa dari
Makroalga Merah Euchema Cottoni untuk Pemisahaan Fragmen DNA
Isolation and Characterization of Agarose from Red Macroalgae of
Euchema Cottoni for DNA Fragments separation. Journal of Natural
Science. Vol 5(3) :307-317

Campbell, N.A.; J.B. Reece & L. G. Mitchell. 1999. biologi jilid 1 edisi kelima.
Erlangga: Jakarta

Elrod, L.S., and W. D. Stansfield. 2007. Schaum’s Outlines Teori dan Soal-soal
Genetika, Edisi Keempat (diterjemahkan dari: Schaum’s Outlines of
Theory and Problems of Genetics, Fourth Edition, penerjemah: D.
Tyas.W). Erlangga. Jakarta. 328 hal.

Harahap, Muhammad Ridwan. 2018. Elektroforesis: Analisis Elektronika


Terhadap Biokimia Genetika. Jurnal Ilmiah Pendidikan Teknik Elektro.
Vol.2, No.1: . 21-26

Hikmatyar, Mohammad Fazri; , Royani, Juwartina Ida ; Dasumiati. Isolasi Dan


Amplifikasi Dna Keladi Tikus (Thyponium flagelliform) Untuk Identifikasi
Keragaman Genetik Isolation And Amplification Of Keladi Tikus
(Thyponium flagelliform). Jurnal Bioteknologi & Biosains Indonesia. Vol
2. No. 2 : 42-48.

Li, Jialiang; Yang, Yushi; , Mao, Zhou; Huang, Wenjie; Qiu, Tong dan Wu,
Qingzhi. Enhanced Resolution of DNA Separation Using Agarose Gel
Electrophoresis Doped with Graphene Oxide. Nanoscale Research
Letters. 11:404

Puspitaningrum, Rini; Adhiyanto, Chris dan solihin. 2018. CV Budi Utama:


Yogyakarta

Skutkova, Warping Helena; Vitek, Martin; Krizkova, Sona, Kizek, Rene dan
Provasnik, Ivo. Preprocessing and Classification of Electrophoresis Gel
Images Using Dynamic Time Warping International Journal Of
Electrochemical Science. 8 (2013) 1609 – 1622
LAMPIRAN

1. Lampiran Jurnal
Jurnal Nasional I

Jurnal Nasional II
Jurnal Nasional III
Jurnal Internasiona

lI
Jurnal Internasional II
2. Lampiran Buku
BUKU I
BUKU II
BUKU III