Anda di halaman 1dari 22

Tugas Kelompok

HIGIENE INDUSTRI “TEKANAN PANAS”

KELOMPOK 3:

 NAMA: CINDY APRILLA (J1A117191)


 DEWI AMINAH (J1A117193)
 ERICK APRIANSYAH FAUZI (J1A117200)
 NUR AFIYAT WAHYUNI (J1A117095)
 NURCAHYATI (J1A117100)
 NUUR RAHMATUL ASMA (J1A117326)
 OVI QUNUTYANINGSIH R (J1A117108)
 WAODE NANI ASTUTI (J1A117154)

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2019
Kata Pengantar
Segala puji dan syukur kami panjatkan kekhadirat Tuhan Yang Maha Esa atas Rahmat
dan Kasih Karunia-Nya, sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
judul Higiene Industri “Tekanan Panas” tepat pada waktunya. Makalah ini disusun dalam rangka
memenuhi salah satu tugas mata kuliah “Higiene Industri”. Dalam penulisan makalah ini kami
mendapat banyak bantuan dan arahan baim berupa materi maupun nasihat dari berbagai pihak,
oleh karena pada kesempatan ini kami mengucapkan Terima Kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah terlibat. Kelompok kami menyadari dalam penulisan makalah ini
masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kelompok kami
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dengan harapan makalah ini dapat
bermanfaat bagi pembaca umumnya dan kita sebagai mahasiswa Kesehatan Masyarakat untuk
lebih memahami keadaan ditempat kerja utamanya tentang “Tekanan Panas” untuk lebih
menjaga Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Tempat Kerja.

Kendari, 19 Februari 2019

Kelompok 3

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ............................................................................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. Error! Bookmark not defined.
BAB I ............................................................................................................................................................ 1
PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................................................ 2
BAB II........................................................................................................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................................................... 3
2.1 Pengertian Higiene Industri .......................................................................................................... 3
2.2 Pengertian Tekanan Panas ............................................................................................................ 4
2.3 Nilai Ambang Tekanan Panas ....................................................................................................... 5
2.4 Pengertian Kelelahan Kerja .......................................................................................................... 5
BAB III ......................................................................................................................................................... 7
PEMBAHASAN ........................................................................................................................................... 7
3.1 Faktor Yang Mempengaruhi Tekanan Panas ................................................................................ 7
3.2 Metode Pengukuran Tekanan Panas ............................................................................................. 9
3.3 Dampak Tekanan Panas Industri................................................................................................. 10
3.4 Pencegahan Efek Buruk Dari Tekanan Panas ............................................................................. 12
3.5 Pengendalian Panas ..................................................................................................................... 13
BAB IV ....................................................................................................................................................... 16
KESIMPULAN DAN SARAN................................................................................................................... 16
4.1 Kesimpulan ................................................................................................................................. 16
4.2 Saran ........................................................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 19

ii
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Keselamatan dan Kesehatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat dan
aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan lingkungan sekitar
pabrik atau tempat kerja tersebut. Kondisi lingkungan kerja yang tidak nyaman dapat disebabkan
antara lain oleh adanya paparan panas di lingkungan kerja. Paparan panas terjadi ketika tubuh
menyerap atau memproduksi panas lebih besar daripada yang diterima melalui proses regulasi
termal. Indonesia mempunyai iklim tropis dengan karakteristik kelembaban udara yang tinggi
(dapat mencapai 80%), temperatur udara relatif tinggi (dapat mencapai ± 350C), serta radiasi
matahari yang panas dan mengganggu.

Kondisi termal tersebut dapat mempengaruhi kinerja pekerja baik yang bekerja di luar
maupun di dalam bangunan.Efektivitas kinerja para pekerja di dua lokasi kerja tersebut sangat
dipengaruhi oleh kenyamanan lingkungan kerja tempatnya berada terutama bagi para pekerja
yang berada di dalam bangunan atau gedung.

Pada suatu lingkungan kerja, pekerja akan menghadapi tekanan lingkungan. Tekanan
lingkungan tersebut berasal dari faktor kimia, fisika, psikis dan biologis. Tekanan fisik yang
sering terjadi dalam suatu lingkungan kerja salah satunya adalah keadaan iklim yang sangat
mempengaruhi kondisi kerja bagi tenaga kerja.
Suasana atau kondisi pada tempat kerja harus didesain senyaman mungkin untuk tenaga
kerja.Hal itu dikarenakan pada dasarnya suatu iklim kerja dapat berpengaruh terhadap
produktifitas kerja.
Suatu kondisi tempat kerja yang tidak sesuai akan berdampak buruk terhadap akitivitas
tenaga kerja. Selain itu, iklim kerja yang terlalu tinggi atau rendah juga sangat berpotensi
terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.Oleh karena itu, untuk meminimalisai kecelakaan
kerja dalam suatu tempat kerja maka iklim kerja harus cocok dan harus sesuai dengan standard
yang ada.

1
2

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa saja faktor yang mempengaruhi tekanan panas?
1.2.2 Apa saja metode pengukuran tekanan panas?
1.2.3 Apa dampak dari tekanan panas industri?
1.2.4 Bagaimana cara mencegah pengaruh tekanan panas?
1.2.5 Apa saja metode untuk mengendalikan tekanan panas?
1.2.6 Apakah ada hubungan tekanan panas dengan kelelahan kerja?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah agar kita mengetahui segala hal
yang berkaitan dengan Tekanan Panas (Heat Stress)

1.3.2 Tujuan Khusus


 Dapat menjabarkan faktor yang mempangaruhi tekanan panas.
 Agar kita mengetahui apa saja metode untuk mengukur tekanan panas.
 Untuk mengetahui dampak dampak dari tekanan panas
 Dapat mengetahui cara mencegah pengaruh dari tekanan panas.
 Untuk mengetahui metode untuk mengendalikan panas.
 Agar kita bisa mengetahui hubungan antara tekanan panas dengan kelelahan kerja
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Higiene Industri


Menurut Occupational Safety and Health Administration (OSHA) (1998), hygiene
industri adalah ilmu tentang antisipiasi, rekognisi/pengenalan, evaluasi dan pengendalian kondisi
tempat kerja yang dapat menyebabkan tenaga kerja mengalami kecelakaan kerja dan atau
penyakit akibat kerja.Higene industri menggunakan metode pemantauan dan analisis lingkungan
untuk mendeteksi luasnya tenaga kerja yang terpapar. Higene industri juga menggunakan
pendekatan teknik, pendekatan administratif dan metode lain seperti penggunaan alat pelindung
diri, desain cara kerja yang aman untuk mencegah paparan berbagai bahaya di tempat kerja.(Di
& Rakabu, 2011)

Di Indonesia, Higene industri didefinisikan sebagai spesialisasi dalam ilmu


higienebeserta prakteknya yang dengan mengadakan penilaian kepada faktor-faktor penyebab
penyakit kualitatif dan kuantitatif dalam lingkungan kerja dan perusahaan melalui pengukuran
yang hasilnya dipergunakan untuk dasar tindakan korektif kepada lingkungan tersebut serta bila
perlu pencegahan, agar pekerja dan masyarakat sekitar suatu perusahaan terhindar dari bahaya
akibat kerja (Suma’mur, 1999). Sedangkan menurut UU no. 14 tahun 1969, Higiene perusahaan
adalah Lapangan kesehatan yang ditunjukan kepada pemeliharaan dan mempertinggi derajat
kesehatan tenaga kerja, dilakukan dengan mengatur pemberian pengobatan, perawatan tenaga
kerja yang sakit, mengatur persediaan tempat, cara dan syarat untuk pencegahan penyakit baik
akibat kerja maupun umum serta menetapkan syarat-syarat kesehatan perumahan tenaga kerja.

Pendapat lain mengatakan :“Industrial Higene is the applied sciene concerned


withidentification, measurment, appraisal of risk and control acceptable standards of physical,
chemical and biological factors arising in from the work place which may effect the health
orwell being of those at work in the community”.

3
4

Higene Industri juga didefinisikan sebagai :“encompasses the anticipation, recognition,


evaluation and control of chemical, physical or biological stresses arising in or from the
workplace that may cause sickness, impaired health or significant discomfort and inefficiency
among workers.”

The British Occupational Hygiene Society (BOHS) mendefinisikan "occupationalhygiene


is about the prevention of ill-health from work, through recognizing, evaluating and controlling
the risks".

Sedangkan The International Occupational Hygiene Association(IOHA) mendefinisikan


higene industri sebagai the discipline of anticipating, recognizing, evaluating and controlling
health hazards in the working environment with the objective of protecting worker health and
well-being and safeguarding the community at large.

Dari berbagai definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa higene industri adalah
disiplin ilmu kesehatan yang bertujuan untuk melindungi tenaga kerja dan masyarakat
sekitarperusahaan agar terhindar dari penyakit akibat kerja dan atau kecelakaan kerja melalui
upayapengenalan, berbagai pengukuran lingkungan kerja serta manusianya dan serangkaian
upaya pengendalian.

2.2 Pengertian Tekanan Panas


Menurut Suma’mur (2009) cuaca kerja adalah kombinasi dari suhu udara, kelembaban
udara, kecepatan gerakan dan suhu radiasi.Kombinasi keempat faktor itu dihubungkan dengan
produksi panas oleh tubuh disebut tekanan panas.

Tekanan panas (Heat Stress) adalah batasan kemampuan penerimaan panas yang diterima
pekerja dari kontribusi kombinasi metabolisme tubuh akibat melakukan pekerjaan dan faktor
lingkungan (temperatur udara, kelembaban, pergerakan udara, dan radiasi perpindahan panas)
dan pakaian yang digunakan. Pada saat heat stress mendekati batas toleransi tubuh, risiko
terjadinya kelainan kesehatan menyangkut panas akan meningkat (ACGIH, 2005).
5

Menurut Santoso (2005), tekanan panas (heat stress) adalah beban iklim kerja yang
diterima oleh tubuh manusia. Menurut Suma’mur (2009) suhu udara dapat diukur dengan
termometer biasa (termometer suhu kering).Kelembaban udara diukur dengan menggunakan
hygrometer. Adapun suhu dan kelembaban dapat diukur bersama-sama dengan misalnya
menggunakan alat pengukur sling psychrometer atau arsman psychrometer yang juga
menunjukkan suhu basah sekaligus. Suhu basah adalah suhu yang ditunjukkan suatu termometer
yang dibasahi dan ditiupkan udara kepadanya, dengan demikian suhu tersebut menunjukkan
kelembaban relatif udara.Kecepatan aliran udara yang besar dapat diukur dengan anemometer,
sedangkan kecepatan udara yang kecil dengan suatu kata termometer.Suhu radiasi diukur dengan
suatu termometer bola (globe thermometer).Panas radiasi adalah energi atau gelombang
elektromagnetis yang panjang gelombangnya lebih dari sinar matahari dan mata tidak peka
terhadapnya atau mata tidak dapat melihatnya.

2.3 Nilai Ambang Tekanan Panas


Menurut keputusan Menteri Tenaga Kerja nomor 51 tahun 1999, nilai ambang batas
iklim kerja adalah sebagai berikut :

2.4 Pengertian Kelelahan Kerja


Kelelahan kerja menurut Suma’mur (1996), merupakan proses menurunnyaefisiensi,
performans kerja dan berkurangnya kekuatan/ ketahanan fisik tubuh untuk terus melanjutkan
kegiatan yang harus dilakukan. Menurut Nurmianto (2003), kelelahan kerja akan menurunkan
kinerja dan menambah tingkat kesalahan kerja. Meningkatnya kesalahan kerja akan memberikan
peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri. Menurut Tarwaka (2004), kelelahan kerja
merupakan suatumekanisme perlindungan tubuh agar terhindar dari kerusakan lebih lanjut,
6

sehingga dengan demikian terjadilah pemulihan setelah istirahat. Sementara itu menurut Budiono
(2003), kelelahan kerja adalah suatu kondisi yang disertai penurunan efisiensi dan kebutuhan
dalam bekerja.Menurut Tim Balai Hiperkes Surabaya (2004), berdasarkan pengukuran dengan
menggunakan waktu rekasi terhadap rangsangan, kelelahan kerja dikategorikan sebagai berikut :

1. Normal : waktu reaksi 150,0 – 240, milidetik


2. Kelelahan Kerja Ringan (KKR) : waktu reaksi >240,0 - <410,0 mili detik
3. Kelelahan Kerja Sedang (KKS) : waktu reaksi >410,0 – <580,0mili detik
4. Kelelahan Kerja Berat KKB) : waktu reaksi ≥ 580,0 mili detik
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Faktor Yang Mempengaruhi Tekanan Panas


Menurut Worksafe BC (2007), faktor-faktor yang berkontribusi terhadap tekanan panas
di tempat kerja adalah : faktor lingkungan yang terdiri atas temperatur udara, pergerakan udara,
kelembaban dan radiasi panas; faktor tenaga kerja seperti kemampuan beraklimatisasi, jumlah
cairan tubuh, pakaian dan kondisi kesehatan; Pekerjaan berupa beban kerja, dan waktu
kerja.(Ramdan, n.d.)

Faktor-faktor yang
mempengaruhi tekanan panas
menurut sumber lain meliputi
:aklimatisasi, umur, jenis
kelamin, perbedaan suku
bangsa, ukuran tubuh dan
gizi (NIOSH, 1986;WHO,
1996; Siswanto, 1987) :

 Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah suatu proses adaptasi fisiologis yang ditandai dengan
pengeluaran keringat yang meningkat, penurunan denyut nadi dan suhu tubuh sebagai
akibat pembentukan keringat. Aklimatisasi terhadap suhu tinggi merupakan hasil
penyesuaian diri seseorang terhadap lingkungannya.Untuk aklimatisasi terhadap panas
ditandai dengan penurunan frekuensi denyut nadi dan suhu tubuh sebagai akibat
pembentukan keringat.Aklimatisasi ini ditujukan kepada suatu pekerjaan dan suhu tinggi
untuk beberapa waktu misalnya dua jam.Mengingat pembentukan keringat tergantung

7
8

pada kenaikan suhu dalam tubuh.Aklimatisasi panas biasanya tercapai sesudah dua
minggu.

 Umur
Daya tahan seseorang terhadap panas akan menurun pada umur yang lebih tua.
Orang yang lebih tua akan lebih lambat keluar keringatnya dibandingkan dengan orang
yang lebih muda. Orang yang lebih tua memerlukan waktu yang lama untuk
mengembalikan suhu tubuh menjadi normal setelah terpapar panas.Suatu studi
menemukan bahwa 70% dari seluruh penderita stroke akibat paparan panas (heat stroke)
mereka yang berusia lebih dari 60 tahun.Denyut nadi maksimal dari kapasitas kerja yang
maksimal berangsur-angsur menurun sesuai dengan bertambahnya umur.

 Jenis Kelamin
Dikarenakan secara anatomis kapasitas kardiovaskuler laki-laki lebih besar dari
wanita, maka laki-laki dianggapmempunyai kemampuan beraklimatisasi sedikit lebih
baik dari wanita.

 Perbedaan Suku Bangsa


Perbedaan aklimatisasi yang ada diantara kelompok suku bangsa ada tetapi
kecil.Perbedaan ini sering dikaitkan dengan perbedaan ukuran tubuh. Adanya perbedaan
ukuran tubuh akan mempengaruhi reaksi fisiologis tubuh terhadap panas. Laki-laki
dengan ukuran tubuh yang lebih kecil dapat mengalami tekanan panas yang lebih besar,
hal ini dikarenakan mereka mempunyai kapasitas kerja maksimal yang lebih kecil.Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pekerja yang berat badannya kurang dari 50 Kg selain
mempunyai maximal oxygen intake yang rendah tetapi juga kurang toleran terhadap
panas dari pada mereka yang mempunyai berat badan rata-rata.
 Gizi (Nutrition)
Seorang yang status gizinya jelek akan menunjukkan respon yang berlebihan
terhadap tekanan panas, hal ini disebabkan karena sistem kardiovaskuler yang tidak
stabil.
9

3.2 Metode Pengukuran Tekanan Panas


Untuk mengetahui besarnya pengaruh panas lingkungan pada tubuh, paraahli telah
berusaha untuk mencari metode pengukuran sederhana yang dinyatakan dalam bentuk indeks
(Depkes RI, 2003). Indikator tekanan panas dalam industri dimaksudkan sebagai cara
pengukuran dengan menyatukan efek sebagai faktor yang mempengaruhi pertukaran panas
manusia dan lingkungannya dalam satu indeks tunggal. Ada empat indikator tekanan panas
(Suma’mur, 1999) yaitu:
1. Suhu efektif (CorectedEffectif Temperature)
Yaitu indeks sensoris dari tingkat panas yang dialami oleh seseorang tanpa baju
dan kerja ringan dalam berbagai kombinasi suhu, kelembaban dan kecepatan aliran
udara.Cara ini mempunyai kelemahan yaitu tidak memperhitungkan panas radiasi dan
panas metabolisme tubuh.Untuk penyempurnaannya pemakaian suhu efektif dengan
memperhatikan panas radiasi, maka dibuatlah skala suhu efektif yang dikoreksi
(Corected Effectife Temperature Scale).
2. Indeks kecepatan keluar keringat selama 4 jam /Predicted-4 Hour Sweetrate
Yaitu keringat keluar selama 4 jam, sebagai akibat kombinasi suhu kelembaban
dan kecepatan udara serta radiasi,dapat pula dikoreksi dengan pakaian dan tingkat
kegiatan pekerja.
3. Indeks Belding-Heacth (Heat Stress Index )
Dihubungkan dengan kemampuan berkeringat dari orang normal yang dijadikan
standar, yaitu seseorang dengan tinggi badan 170 cm dan berat 154 pond dalam
keadaan sehat dan memiliki kesegaran jasmani, serta telah beraklimatisasi terhadap
panas.
4. ISBB (Indeks Suhu Bola Basah)
Merupakan cara pengukuran yang paling sederhana karena tidak banyak
membutuhkan keterampilan, cara atau metode yang sulit dan besarnya tekanan panas
dapat dilihat dengan cepat. Perkembangan teknologi saat ini telah menghasilkan
beberapa instrument pengukur panas dengan indicator ISBB yangdengan mudah bisa
dapat divisualisasikan padalayar monitor.
10

 Untuk pekerjaan yang mengalami kontak dengan sinar matahari (outdoor) adalah :

ISBB = (0,7 x suhu basah) + (0,2 x suhu radiasi ) + (0,1 x suhu kering)

 Untuk pekerjaan yang tidak kontak dengan sinar matahari (indoor) digunakan
rumusan sebagai berikut :

ISBB = (0,7 x suhu basah) + (0,3 x suhu radiasi)

Dalam hubungannya dengan pekerjaan, iklim kerja sangat berpengaruh terhadap


efektifitas dan produktivitas kerja. Suatu pekerjaanakan optimal apabila dilakukan pada ruangan
yang berada pada kisaran area nikmat kerja. Terdapat hasil penelitianyang menunjukan suhu
nikmat kerja untuk orang Indinesia yaitu sekitar 24 – 260C.Apabila suhu terlalu dingin maka
akan berpengaruh terhadap penurunan efesiensi dengan keluhan kekakuan gerak atau
berkurangnya koordinasi otot. Begitu pula dengan suhu yang terlalu panas akan mengurangi
kelincahan, memperpanjang waktu reaksi dan waktu pengambilan keputusan, mengganggu
kecermatan kerja otak, mengganggu koordinasi syaraf sensoris serta meningkatkan nilai ambang
rangsang.

3.3 Dampak Tekanan Panas Industri


Menurut OSHA (2003) paparan panas pada manusia/tenagakerja dapatmenyebabkan
dehidrasi, heat rush, heat fatique, heat cramps, heat exhaustion, heatsyncope dan heat stroke.
Dehidrasi : Penguapan yang berlebihan akan mengurangivolume darah.pada tingkat awal aliran
darah akan menurun dan otak kekuranganoksigen. Orang akan mengalami kelelahan. Apabila
berlanjut akan merusak fungsi selsehingga menurunkan efesiensi otot, mengurangi sekresi air
liur, sulit menelan,gelisah,pengumpulan asam di jaringan. Suhu tubuh meningkat disertai uremia
dan dapatberakhir dengan kematian.
 Heat Rush : Yang paling umum ialah prickly heat (miliara rubra) yang terlihat sebagai
papula merah, Terjadi akibat sumbatan kelenjar keringat dan retensi keringat, Gejala bisa
berupa lecet terus menerus, panas disertai gatal yg menyengat, Bersifat akut dan
mengganggu tidur karena efesiensi fisiologis menurun.
11

 Heat Fatigue : Adalah gangguan pada kemampuan motorik dalam kondisi panas,
Gerakan tubuh menjadi lambat, kurang waspada terhadap tugas. Faktor predisposisi
gangguan ini adalah kurangnya aklimatisasi.
 Heat Cramps : Ialah kekejangan otot yg diikuti penurunansodium klorida dalam darah
sampai dibawah tingkat kritis, Dapat terjadi sendiri atau bersama dengan kelelahan panas,
Kekejangan timbul secara mendadak, Penyebab utama adalah defisiensi garam beserta
ion-ion tubuh yang lain yang dibutuhkan untuk kontraksidan relaksasi otot.
 Heat Ekhaustion : Gangguan yg lebih ringan dari heat syncope yg berhubungan dengan
kekurangan cairan tubuh dan elektrolit, Timbul akibat kolaps sirkulasi darah perifer
karena dehidrasi dan defisiensi garam, Dalam usaha menurunkan panas, darah ke periifer
bertambah yg mengakibatkan keringat bertambah , terjadi penimbunan darah perifer,
suply darah ke organ lain tidak adequat sehingga timbul gangguan.
 HeatSyncope : Ialah keadaan kolaps atau kehilangan kesadaran selama pemajanan panas
dan tanpa kenaikan suhu tubuh atau penghentian keringat. Gejala lain berupa lemah
ketika berdiri, pembuluh darah di kulit membesar dan susah bergerak dalam lingkungan
panas, Terjadi karena penyatuan darah dalam pembuluh darah kulit yang membesar
dengan bagian tubuh yang lebih rendah, Faktor penunjang adalah aklimatisasi yg tidak
sempurna dan kondisi yg tidak fit.
 Heat Stroke : Adalah kerusakan serius yang berkaitan dengan kesalahan pada pusat
pengatur suhu tubuh, Pada kondisi ini mekanisme pengatur suhu tidak berfungsi lagi
disertai hambatan proses penguapan secara tiba-tiba, Resiko ini terjadi jika kombinasi
beban kerja (produksi panas metabolisme) dan tekanan panas lingkungan cukup untuk
menghasilkan respon fisiologis yg tidak dapat diatasi oleh tubuh, Gambaran klinis berupa
kerusakan SSP, tidak berkeringat dan suhu rektum lebih dari 40°C (105,8°F). Gejala awal
hampir sama dengan kelelahan panas (sakit kepala, malaise, badan terasa panas). Secara
tiba-tiba terjadi penurunan kesadaran (delirium), kejang jika suhu terus naik, kulit
panas,kemerahan dan kering, tidak ada keringat, pernafasan cepat, nadi cepat, sistole
normal atau meninggi, diastole menurun sampai kurang dari 60 mmhg. Merupakan
dampak paparan panas yg paling serius dan sering menimbulkan kerusakan permanen
jika tidak segera diatasi.
12

3.4 Pencegahan Efek Buruk Dari Tekanan Panas


“According to Vital Statistics in Japan, the number of fatalities classified as T67 (effects
of heat and light) of the ICD-10 Code peaks in the 50s, which is the tendency observed in males only. This
category supposedly includes many cases of heat stroke in the workplace. In recent years, global-scale
climate change might raise the average temperature in Japan. In urban areas, hot work environments
that significantly exceed the temperature observed by Japan Meteorological Agency and weather stations
are produced by the effect of anthropogenic heat from automobiles and air conditioners, heat absorption
by paved roads and concrete structures, the greenhouse effect from air pollution, and the blocking of
winds by high-rise buildings in oceanfront areas. In 2011, it became more difficult to maintain
comfortable temperatures in rooms after requests to save power due to power supply shortage resulting
from the nuclear power accident caused by the Great East Japan Earthquake. Uncomfortable
temperatures cause errors in work, deterioration of productivity and the quality of operations, and an
increase in the risk of accidents.”(Kilbom, 1998)
Menurut Depkes RI (2003), pencegahan terhadap gangguan panas meliputi
:pemberian air minum, garam, makanan, istirahat, tidur dan pakaian. Air minummerupakan unsur
pendingin tubuh yang penting dalam lingkungan panas.Air diperlukanuntuk mencegah terjadinya
dehidrasi akibat berkeringat dan pengeluaran urine.Garam (NaCl). Pada keluaran keringat yang
banyak, perlu menambah pemberian garam,akan tetapi tidak boleh berlebihan karena dapat
menimbulkan haus dan mual. Sesudah makan, sebagian besar darah mengalir ke daerah khusus
untuk menyerap hasil pencernaan.Istirahat bermanfaat untuk menghindari terjadinya efek
kelelahan komulatif. Tidur untukmenghindari efek kelelahan setelah aktivitas fisik yang berat
yang dilakukan padalingkungan kerja yang panas, tubuh memerlukan istirahat yang cukup dan
tidur sekitar 7 jam sehari. Pakaian melindungi permukaan dari radiasi sinar matahari, tetapi dapat
menghambat terjadinya konveksi kulit dengan aliran udara.Untuk itu disarankan agarmemakai
pakaian yang cukup longgar terutama bagian leher, ujung lengan, ujung celanadan terbuat dari
bahan yang mudah menyerap keringat.
Sebelumnya, NIOSH (1996) telah merekomendasikan aklimatisasi bagi tenaga
kerja.Padabatas tertentu tubuh manusia dapat beradaptasi terhadap tekanan panas, hal ini
dinamakan aklimatisasifisiologis. Setelah periode aklimatisasi, pada aktivitas yang sama beban
kerja kardiovaskuler tidak akanterlalu besar. Pembuangan panas tubuh melalui pengeluaran
keringat akan lebih efisien dan tenaga kerjaakan lebih mudah mempertahankan suhu tubuh
normal.
13

3.5 Pengendalian Panas


Rekomendasi NIOSH (1996) dan Siswanto (1987) untuk pengendalian tekanan panas
ditempat kerja adalah sebagai berikut :
1. Rekayasa teknik
 Ventilasi umum : cara ini dilakukan untuk mencampurkan udara yang panas
dengan udara yang dingin dari luar ruangan. Sistem ventilasi permanen biasanya
dipakai untuk mendinginkan seluruh ruangan. Sementara pada ruangan kerja yang
lebih kecil biasanya dipakai sistem ventilasi lokal atau portabel. Ventilasi umum
dinilai tidak dapat menanggulangi panas radiasi yang tinggi.
 Ventilasi setempat yang bertujuan mengendalikan panas konveksi yaitu dengan
menghisap keluar udara yang panas
 Isolasi terhadap benda-benda yang panas akan mencegah keluarnya panas ke
lingkungan.ini dapat dilakukan dengan membalut pipa-pipa yang panas, menutupi
tangki –tangki yang berisi air panas sehingga dapat mengurangi aliran panas yang
timbul. Cara ini adalah paling praktis untuk membatasi pemaparan seseorang
terhadap panas dan merupakan cara pengendalian yang dianjurkan bila ditempat
kerja terdapat sumber panas yang sangat tinggi.
 Tirai radiasi yang terbuat dari lempengan aluminium, baja antikarat atau dari
bahan metal yang permukaannya mengkilap.
 Pendinginan Lokal yang dilakukan dengan cara mengalirkan udara yang sejuk ke
sekitar pekerja dengan tujuan menggantikan udara yang panas dengan udara yang
sejuk dan dialirkan pada kecepatan tinggi.
2. Pengendalian secara administratif dan praktek kerja yang aman
Pelatihan adalah kunci untuk praktik kerja yang baik, NIOSH (1986)menyatakan
bahwa program pelatihan pengendalian tekanan panas di tempat kerjaharus
menyangkut beberapa komponen, antara lain :
 Pengetahuan tentang potensi bahaya tekanan panas di tempat kerja
 Pengenalan faktor penyebab, tanda-tanda bahaya serta gejala-gejala yang
akantimbul pada tenaga kerja jika terpapar panas berlebihan
 Keterampilan prosedur tindakan pertama (first aid), dan potensial efek terhadap
kesehatan
14

 Tanggungjawab tenaga kerja untuk mengurangi paparan panas


 Penggunaan alat pelindung diri
 Program perlindungan tenaga kerja dan lingkungan kerja dari paparan panas.

Pengendalian secara adminstratif yang dianjurkan NIOSH (1996) antara lain :


 Penurunan/pengurangan beban kerja fisik tenaga kerja dengan penggunaan
alatbantu pekerjaan (seperti mengangkat dan memindahkan benda yang berat)
 Menyediakan ruang recovery (seperti ruangan yang cukup luas dan ber-AC)
 Pengaturan giliran kerja untuk meminimalkan paparan
 Pengaturan waktu istirahat yang teratur disertai pemberian air minum
 Pengadaan tenaga kerja bantuan dan membatasi jumlah tenaga kerja yang berada
diruang panas.

a. Hubungan Antara Tekanan Panas dengan Kelelahan Kerja


Sebelum membahas tentang hubungan kelelahan kerja dengan tekanan panas, kita
harus mengetahui beberapa penyebab dari kelelahan kerja itu sendiri. Penyebab dari
kelelahan kerja adalah sebagai berikut :
Kelelahan mempunyai beragam penyebab yang berbeda, yaitu :
 Beban Kerja, merupakan volume pekerjaan yang dibebankan kepada tenaga kerja,
baik fisik maupun mental dan tanggung jawab. Beban kerja yang melebihi
kemampuan akan mengakibatkan kelelahan kerja (Depkes, 1991).
 Beban Tambahan, beban tambahan merupakan beban diluar beban kerja yang
harus ditanggung oleh pekerja. Beban tambahan tersebut berassal dari lingkungan
kerja yang memiliki potensi bahaya seperti lingkungan kerja. Lingkungan kerja
yang dapat mempengaruhi kelelahan adalah:
o Iklim Kerja, yaitu hasil perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan
gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari
tubuh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaannya (Kepmenaker, No: Kep-
51/MEN/1999). Suhu yang terlalu rendah dapat menimbulkan keluhan
kaku dan kurangnya koordinasi sistem tubuh, sedangkan suhu terlalu
tinggi akan menyebabkan kelelahan dengan akibat menurunnya efisiensi
15

kerja, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, aktivitas organ-organ


pencernaan menurun, suhu tubuh meningkat, dan produksi keringat
meningkat (Rasjid dkk, 1989).
o Kebisingan, yaitu suara atau bunyi yang tidak dikehendaki karena pada
tingkat atau intensitas tertentu dapat menimbulkan gangguan, terutama
merusak alat pendengaran. Kebisingan akan mempengaruhi faal tubuh
seperti gangguan pada saraf otonom yang ditandai dengan bertambahnya
metabolisme, bertambahnya tegangan otot sehingga mempercepat
kelelahan.
o Penerangan, penerangan ditempat kerja merupakan salah satu sumber
cahaya yang menerangi bendabenda ditempat kerja. Penerangan yang baik
adalah penerangan yang memungkinkan tenaga kerja melihat pekerjaan
dengan teliti, cepat dan tanpa upaya yang tidak perlu serta membantu
menciptakan lingkungan kerja yang nikmat dan menyenangkan.
Penerangan tempat kerja yang tidak adekuat juga bisa menyebabkan
kelelahan mata, akan tetapi penerangan yang terlalu kuat dapat
menyebabkan kesilauan.

Seperti yang bisa dilihat dari beberapa penyebab diatas, iklim kerja merupakan salah satu
penyebab tambahan dari kelelahan kerja. Tekanan Panas merupakan keadaan suasana udara dan
kelembapan disekitar kita menjadi tinggi dan dari pernyataan diatas bias dilihat bahwa suhu
tinggi bisa menyebabkan akan menyebabkan kelelahan dengan akibat menurunnya efisiensi
kerja, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, aktivitas organ-organ pencernaan menurun,
suhu tubuh meningkat, dan produksi keringat meningkat (Rasjid dkk, 1989). Jadi jelas terlihat
bahwa kelelahan kerja memiliki hubungan yang sangat erat dengan tekanan panas.
BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
 Faktor yang mempengaruhi tekanan panas

 Ada empat indikator tekanan panas (Suma’mur, 1999) yaitu:


1. Suhu efektif (CorectedEffectif Temperature)
2. Indeks kecepatan keluar keringat selama 4 jam /Predicted-4 Hour Sweetrate
3. Indeks Belding-Heacth (Heat Stress Index)
4. ISBB (Indeks Suhu Bola Basah)

 Menurut OSHA (2003) paparan panas pada manusia/tenagakerja dapatmenyebabkan


dehidrasi, heat rush, heat fatique, heat cramps, heat exhaustion, heatsyncope dan heat
stroke. Dehidrasi : Penguapan yang berlebihan akan mengurangivolume darah.pada
tingkat awal aliran darah akan menurun dan otak kekuranganoksigen. Orang akan
mengalami kelelahan. Apabila berlanjut akan merusak fungsi selsehingga menurunkan
efesiensi otot, mengurangi sekresi air liur, sulit menelan,gelisah,pengumpulan asam di
jaringan. Suhu tubuh meningkat disertai uremia dan dapatberakhir dengan kematian.

 Rekayasa teknik

16
17

 Ventilasi umum
 Ventilasi setempat
 Isolasi terhadap benda-benda yang panas akan mencegah keluarnya panas ke
lingkungan.
 Tirai radiasi yang terbuat dari lempengan aluminium, baja antikarat atau dari
bahan metal yang permukaannya mengkilap.
 Pendinginan Lokal yang dilakukan dengan cara mengalirkan udara yang sejuk ke
sekitar pekerja dengan tujuan menggantikan udara yang panas dengan udara yang
sejuk dan dialirkan pada kecepatan tinggi.
 Pengendalian secara administratif dan praktek kerja yang aman
o Pengetahuan tentang potensi bahaya tekanan panas di tempat kerja
o Pengenalan faktor penyebab, tanda-tanda bahaya serta gejala-gejala yang
akantimbul pada tenaga kerja jika terpapar panas berlebihan
o Keterampilan prosedur tindakan pertama (first aid), dan potensial efek terhadap
kesehatan
o Tanggungjawab tenaga kerja untuk mengurangi paparan panas
o Penggunaan alat pelindung diri
o Program perlindungan tenaga kerja dan lingkungan kerja dari paparan panas.
 Pengendalian secara adminstratif yang dianjurkan NIOSH (1996) antara lain :
o Penurunan/pengurangan beban kerja fisik tenaga kerja dengan penggunaan
alatbantu pekerjaan (seperti mengangkat dan memindahkan benda yang berat)
o Menyediakan ruang recovery (seperti ruangan yang cukup luas dan ber-AC)
o Pengaturan giliran kerja untuk meminimalkan paparan
o Pengaturan waktu istirahat yang teratur disertai pemberian air minum
o Pengadaan tenaga kerja bantuan dan membatasi jumlah tenaga kerja yang berada
di ruang panas.
 Tekanan Panas merupakan keadaan suasana udara dan kelembapan disekitar kita menjadi
tinggi dan dari pernyataan diatas bisa dilihat bahwa suhu tinggi bisa menyebabkan akan
menyebabkan kelelahan dengan akibat menurunnya efisiensi kerja, denyut jantung dan
tekanan darah meningkat, aktivitas organ-organ pencernaan menurun, suhu tubuh
18

meningkat, dan produksi keringat meningkat (Rasjid dkk, 1989). Jadi jelas terlihat bahwa
kelelahan kerja memiliki hubungan yang sangat erat dengan tekanan panas.

4.2 Saran
Menurut kami, heat stress merupakan salah satu gangguan dalam kerja yang sangat fatal
akibatnya sebab tekanan panas dapat menganggu psikologi, kondisi fisik, bahkan menyebabkan
kematian seseorang.
Jadi hendaklah kita tidak overwork dalam bekerja sebab kondisi kita yang tidak fit saat
bekerja bisa menyebabkan kita makin mudah terkena dampak – dampak dari heat stress.
DAFTAR PUSTAKA

Di, P., & Rakabu, C. V. (2011). Kelelahan Kerja Pada Tenaga Kerja Bagian.

Kilbom, Å. (1998). Prevention of work-related musculoskeletal disorders in the


workplace. International Journal of Industrial Ergonomics, 21(1), 1–3.
https://doi.org/10.1016/S0169-8141(97)00019-X

Ramdan, Iwan Ramdan. Higiene Industri. Yogyakarta: Bimotry

19