Anda di halaman 1dari 27

REFERAT

KETUBAN PECAH DINI

Disusun Oleh :
MUSA BARANA LANDE
0120840191

Pembimbing :

dr. Fitri Ria Dini Prajawidyawati, Sp.OG

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI RSUD JAYAPURA


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS CENDERAWASIH
JAYAPURA
2018
HALAMAN PENGESAHAN

Telah dipresentasikan, diterima dan disetujui oleh penguji, Referat dengan


judul “KETUBAN PECAH DINI”, sebagai salah satu syarat untuk mengikuti
Ujian Akhir Kepaniteraan Klinik Madya SMF Obstetri dan Ginekologi Rumah
Sakit Umum Daerah Jayapura.

Yang dilaksanakan pada:


Hari :
Tanggal :
Tempat : Ruang Pertemuan SMF Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit
Umum Daerah Jayapura

Menyetujui,
Dosen Penguji/Pembimbing:

dr. Fitria Ria Dini Prajawidyawati, Sp.OG


HALAMAN PENILAIAN PRESENTASI
Nama : Musa B. Lande
Moderator :
Nim : 20180811018114
Penilai : dr. Fitri Ria Dini Prajawidyawati, Sp.OG
Semester : Co – Ass

Presentasi ke :

Tgl Presentasi :
Tanda tangan
JUDUL :
“KETUBAN PECAH DINI”
No. Variabel Yang Dinilai Nilai dalam SKS
Ketepatan penentuan masalah dan judul, data
1.
kepustakaan, diskusi.
Kelengkapan data:
2.  Kunjungan Rumah
 Kepustakaan
Analisa data:
3.  Logika kejadian
 Hubungan kejadian dengan teori
Penyampaian data:
4.  Cara penulisan
 Cara berbicara dan audiovisual
Cara diskusi:
5.
Aktif/mampu menjawab pertanyaan secara logis
Kesimpulan dan saran (harus berkaitan dengan
6.
diskusi)

7. Daftar Pustaka

8. Total Angka

9. Rata-rata

Catatan untuk perbaikan dilihat dari segi :


- Pengetahuan :
- Keterampilan :
- Sikap :
DAFTAR ISI

BAB I .................................................................................................................................. 1

PENDAHULUAN ............................................................................................................. 1

BAB II ................................................................................................................................ 3

TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................................... 3

Definisi ............................................................................................................................ 3

Epidemiologi ................................................................................................................... 5

Etiologi ............................................................................................................................ 5

Patofisiologi..................................................................................................................... 9

Patogenesis ................................................................................................................... 13

Diagnosis ....................................................................................................................... 15

Penatalaksanaan ........................................................................................................... 17

Komplikasi ..................................................................................................................... 19

Pencegahan ................................................................................................................... 21

Prognosis ....................................................................................................................... 21

BAB III............................................................................................................................. 22

KESIMPULAN ............................................................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................................... 23


BAB I

PENDAHULUAN

Pengelolaan Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah yang masih

kontroversial dalam ilmu kebidanan. Pengelolaan yang optimal dan yang baku

masih belum ada, selalu berubah. KPD sering kali menimbulkan konsekuensi

yang dapat menimbulkan morbiditas dan mortalitas pada ibu maupun bayi

terutama kematian perinatal yang cukup tinggi. Kematian perinatal yang cukup

tinggi ini antara lain disebabkan karena kematian akibat kurang bulan, dan

kejadian infeksi yang meningkat karena partus tak maju, partus lama, dan partus

buatan yang sering dijumpai pada pengelolaan kasus KPD terutama pada

pengelolaan konservatif. 1,2

Dilema sering terjadi pada pengelolaan KPD dimana harus segera bersikap

aktif terutama pada kehamilan yang cukup bulan, atau harus menunggu sampai

terjadinya proses persalinan, sehingga masa tunggu akan memanjang berikutnya

akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi. Sedangkan sikap konservatif

ini sebaiknya dilakukan pada KPD kehamilan kurang bulan dengan harapan

tercapainya pematangan paru dan berat badan janin yang cukup. 1

Ada 2 komplikasi yang sering terjadi pada KPD, yaitu : pertama, infeksi,

karena ketuban yang utuh merupakan barier atau penghalang terhadap masuknya

penyebab infeksi. Dengan tidak adanya selaput ketuban seperti pada KPD, flora

vagina yang normal ada bisa menjadi patogen yang akan membahayakan baik

pada ibu maupun pada janinnya. Oleh karena itu membutuhkan pengelolaan yang

agresif seperti diinduksi untuk mempercepat persalinan dengan maksud untuk

1
mengurangi kemungkinan resiko terjadinya infeksi ; kedua, adalah kurang bulan
1
atau prematuritas, karena KPD sering terjadi pada kehamilan kurang bulan.

Masalah yang sering timbul pada bayi yang kurang bulan adalah gejala sesak

nafas atau Respiratory Distress Syndrom (RDS) yang disebabkan karena belum

matangnya paru. 1,2

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Ketuban Pecah Dini ( amniorrhexis – premature rupture of the membrane

PROM ) adalah pecahnya selaput korioamniotik sebelum terjadi proses

persalinan. Secara klinis diagnosa KPD ditegakkan bila seorang ibu hamil

mengalami pecah selaput ketuban dan dalam waktu satu jam kemudian tidak

terdapat tanda awal persalinan, dengan demikian untuk kepentingan klinis waktu

1 jam tersebut merupakan waktu yang disediakan untuk melakukan pengamatan

adanya tanda-tanda awal persalinan. Bila terjadi pada kehamilan < 37 minggu

maka peristiwa tersebut disebut KPD Preterm (PPROM = preterm premature

rupture of the membrane - preterm amniorrhexis. 1

Pengertian KPD menurut WHO yaitu Rupture of the membranes before the

onset of labour. Hacker (2001) mendefinisikan KPD sebagai amnioreksis sebelum

permulaan persalinan pada setiap tahap kehamilan. Sedangkan Mochtar (1998)

mengatakan bahwa KPD adalah pecahnya ketuban sebelum in partu, yaitu bila

pembukaan pada primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm.

Hakimi (2003) mendefinisikan KPD sebagai ketuban yang pecah spontan 1 jam

atau lebih sebelum dimulainya persalinan.Sedangkan menurut Yulaikah (2009)

ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda persalinan,

dan setelah ditunggu satu jam belum terdapat tanda persalinan. Waktu sejak

ketuban pecah sampai terjadi kontraksi rahim disebut ketuban pecah dini (periode

3
laten). Kondisi ini merupakan penyebab persalinan premature dengan segala

komplikasinya. 3

Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu, yaitu bila

pembukaan pada primi kurang dari 3 dan pada multipara kurang dari 5cm. 1

Ada juga yang disebut ketuban pecah dini preterm yakni ketuban pecah saat usia

kehamilan belum masa aterm atau kehamilan dibawah 38 – 42 minggu. Arti klinis

ketuban pecah dini :

1. Bila bagian terendah janin masih belum masuk pintu atas panggul maka

kemungkinan terjadinya prolapsus tali pusat atau kompresi tali pusat

menjadi besar

2. Peristiwa KPD yang terjadi pada primigravida hamil aterm dengan bagian

terendah yang masih belum masuk pintu atas panggul sering kali

merupakan tanda adanya keseimbangan foto pelvik.

3. KPD sering diikuti dengan adanya tanda – tanda persalinan sehingga dapat

memicu terjadinya persalinan preterm.

4. Peristiwa KPD yang berlangsung lebih dari 24 jam (prolonged rupture of

membrane) seringkali disertai dengan infeksSi intrauterin.

5. Peristiwa KPD dapat menyebabkan oligohidramnion dan dalam jangka

panjang kejadian ini akan dapat menyebabkan hilangnya fungsi amnion

bagi pertumbuhan dan perkembangan janin.

4
Epidemiologi

Ketuban pecah dini prematur terjadi pada 1% kehamilan. Pecahnya selaput

ketuban berkaitan dengan perubahan proses biokimia yangterjadi dalam kolagen

matriks ekstra seluler amnion, korion, dan apoptosis membran janin. Membran

janin dan desidua bereaksi terhadap stimuli seperti infeksi dan peregangan selaput

ketuban dengan membran pereduksi mediator seperti prostaglandin, sitokinin, dan

protein hormon yang merangsang aktivitas “matrix degrading enzym”. 1,2

Ketuban pecah dini dapat terjadi pada kehamilan aterm, dan preterm.

Secara umum insidensi KPD terjadi sekitar 7 – 12 %. Risiko terjadinya

korioamnionitis karena ketuban pecah dini < 10% dan meningkat sampai 40%

setelah 24 jam terjadinya KPD. 2

Etiologi

Penyebab KPD menurut Manuaba 2009 dan Morgan 2009 meliputi : 2

1. Serviks inkopeten menyebabkan dinding ketuban yang paling bawah

mendapatkan tekanan yang semakin tinggi.

2. Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, dan kelainan

genetik)

3. Pengaruh dari luar yang melemahkan ketuban seperti infeksi genitalia dan

meningkatnya enzim proteolitik. Masa interval sejak ketuban pecah

sampai terjadinya kontraksi disebut fase laten. Makin panjang fase laten

makin tinggi kemungkinan infeksi. Makin muda usia kehamilan, makin

5
sulit upaya pemecahannya tanpa menimbulkan morbiditas janin dan

komplikasi ketuban pecah dini meningkat.

4. Multipara, grandemultipara, pada kehamilan yang terlalu sering akan

mempengaruhi proses embriogenesis sehingga selaput ketuban yang

terbentuk akan lebih tipis dan yang akan menyebabkan selaput ketuban

pecah sebelum tanda – tanda inpartu.

5. Overdistensi uterus pada hidramnion, kehamilan ganda, dan sevalopelvik

disproporsi. Hidramnion atau sering disebut polihidramnion adalah

banyaknya air ketuban melebihi 2000 cc. Hidramnion dapat terjadi pada

kasus anensefalus, atresia esophagus, gemeli, dan ibu yang mengalami

diabetes melitus gestasional. Ibu dengan diabetes melitus gestasional akan

melahirkan bayi dengan berat badan berlebihan pada semua usia

kehamilan sehingga kadar cairan amnion juga akan berlebih. Kehamilan

ganda adalah kehamilan dengan dua janin atau lebih sehingga

kemungkinan terjadinya hidramnion bertambah 10 kali lebih besar.

6. Kelainan letak yaitu letak lintang.

7. Usia ibu yang lebih tua

8. Riwayat KPD sebelumnya

9. Merokok selama kehamilan

1. Inkompetensia serviks

Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada

otot-otot leher atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga

sedikit membuka ditengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan

6
desakan janin yang semakin besar. Serviks smemiliki suatu kelainan anatomi yang

nyata, yang bisa disebabkan laserasi sebelumnya melalui ostium uteri atau

merupakan suatu kelainan congenital pada serviks sehingga memungkinkan

terjadinya dilatasi berlebihan tanpa perasaan nyeri dan mules dalam masa

kehamilan trimester kedua atau awal trimester ketiga yang diikuti dengan

penonjolan dan robekan selaput janin serta keluarnya hasil konsepsi. 2

2. Peninggian tekanan intrauterin

Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat

menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini. Misalnya :

a. Trauma : hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis

b. Gemelli

Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada

kehamilan gemelli terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga

menimbulkan adanya ketegangan rahim secara berlebihan. Hal ini

terjadikarena jumlahnya berlebih, isi rahim yang lebih besar dan

kantung (selaput ketuban ) relative kecil sedangkan dibagian bawah

tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan selaput ketuban tipis

dan mudah pecah.6

7
3. Makrosomia

Makrosomia adalah berat badan neonatus >4000 gram kehamilan dengan

makrosomia menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over distensi dan

menyebabkan tekanan pada intra uterin bertambah sehingga menekan selaput

ketuban, manyebabkan selaput ketuban menjadi teregang, tipis, dan kekuatan

membrane menjadi berkurang, menimbulkan selaput ketuban mudah pecah.6

4. Hidramnion

Hidramnion atau polihidramnion adalah jumlah cairan amnion >2000 mL. uterus

dapat mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak. Hidramnion kronis

adalah peningaktan jumlah cairan amnion terjadi secara berangsur-angsur.

Hidramnion akut, volume tersebut meningkat tiba-tiba dan uterus akan mengalami

distensi nyata dalam waktu beberapa hari saja.2

5. Kelainan letak

Kelainan letak misalnya lintang, sehingga tidak ada bagian terendah yang

menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap

membran bagian bawah.2

6. Penyakit infeksi

.Infeksi yang terjadi secara langsung pada selaput ketuban maupun ascenden dari

vagina atau infeksi pada cairan ketuban bisa menyebabkan terjadinya KPD.

Penelitian menunjukkan infeksi sebagai penyebab utama ketuban pecah

dini.Membrana khorioamniotik terdiri dari jaringan viskoelastik. Apabila jaringan

8
ini dipacu oleh persalinan atau infeksi maka jaringan akan menipis dan sangat

rentan untuk pecah disebabkan adanya aktivitas enzim kolagenolitik.Infeksi

merupakan faktor yang cukup berperan pada persalinan preterm denganketuban

pecah dini. Grup B streptococcus mikroorganisme yang sering menyebabkan

amnionitis. 3

Patofisiologi

Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh kontraksi

uterus dan peregangan berulang. Selaput ketuban pecah karena pada daerah

tertentu terjadi perubahan biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior

rapuh, bukan karena seluruh selaput ketuban rapuh. Terdapat keseimbangan antara

sintesis dan degenerasi ekstraseluler matriks. Perubahan struktur, jumlah sel, dan

9
katabolisme kolagen menyebabkan aktivasi kolagen berubah dan menyebabkan

selaput ketuban pecah. 3

Dua belas hari setelah ovum dibuahi , terrbentuk suatu celah yang

dikelilingi amnion primitif yang terbentuk dekat embryonic plate. Celah tersebut

melebar dan amnion disekelilingnya menyatu dengan mula-mula dengan body

stalk kemudian dengan korion yang akhirnya menbentuk kantung amnion yang

berisi cairan amnion. Cairan amnion , normalnya berwarna putih , agak keruh

serta mempunyai bau yang khas agak amis dan manis. Cairan ini mempunyai

berat jenis 1,008 yang seiring dengan tuannya kehamilan akan menurun dari 1,025

menjadi 1,010. Asal dari cairan amnion belum diketahui dengan pasti , dan masih

membutuhkan penelitian lebih lanjut. Diduga cairan ini berasal dari lapisan

amnion sementara teori lain menyebutkan berasal dari plasenta.Dalam satu jam

didapatkan perputaran cairan lebih kurang 500 ml. 3

Amnion atau selaput ketuban merupakan membran internal yang

membungkus janin dan cairan ketuban. Selaput ini licin, tipis, dan transparan.

Selaput amnion melekat erat pada korion (sekalipun dapat dikupas dengan

mudah). Selaput ini menutupi permukaan fetal pada plasenta sampai pada insertio

tali pusat dan kemudian berlanjut sebagai pembungkus tali pusat yang tegak lurus

hingga umbilikus janin. Sedangkan korion merupakan membran eksternal

berwarna putih dan terbentuk dari vili – vili sel telur yang berhubungan dengan

desidua kapsularis. Selaput ini berlanjut dengan tepi plasenta dan melekat pada

lapisan uterus. 3

10
Dalam keadaan normal jumlah cairan amnion pada kehamilan cukup bulan

sekitar 1000 – 1500 cc, keadaan jernih agak keruh, steril, bau khas, agak manis,

terdiri dari 98% - 99% air, 1- 2 % garam anorganik dan bahan organik (protein

terutama albumin), runtuhan rambut lanugo, verniks kaseosa, dan sel – sel epitel

dan sirkulasi sekitar 500cc/jam. 3

11
Minggu Janin Plasenta Cairan amnion Persen Cairan

gestasi

16 100 100 200 50

28 1000 200 1000 45

36 2500 400 900 24

40 3300 500 800 17

2
Fungsi cairan amnion :

1. Proteksi : Melindungi janin terhadap trauma dari luar

2. Mobilisasi : Memungkinkan ruang gerak bagi bayi

3. Hemostatis : Menjaga keseimbangan suhu dan lingkungan asam basa (Ph)

4. Mekanik : Menjaga keseimbangan tekanan dalam seluruh ruang intrauteri

5. Pada persalinan, membersihkan atau melicinkan jalan lahir dengan cairan

steril sehingga melindungi bayi dari kemungkinan infeksi jalan lahir

Mekanisme KPD menurut Manuaba 2009 antara lain :

1. Terjadinya premature serviks.

2. Membran terkait dengan pembukaan terjadi

a. Devaskularisasi

b. Nekrosis dan dapat diikuti pecah spontan

c. Jaringan ikat yang menyangga membran ketuban makin berkurang

d. Melemahnya daya tahan ketuban dipercepat dengan adanya infeksi

yang mencegah enzim proteolitik dan enzim kolagenase. 2

12
Patogenesis

Penelitian terbaru mengatakan KPD terjadi karena meningkatnya

apoptosis dari komponen sel dari membran fetal dan juga peningkatan dari enzim

protease tertentu. Kekuatan membran fetal adalah dari matriks ekstraselular

amnion. Kolagen interstitial terutama tipe I dan tipe III yang dihasilan dari sel

mesenkim juga penting dalam mempertahankan kekuatan membran fetal. 3

Matriks metalloprotease (MMP) adalah kumpulan proteinase yang terlibat

dalam remodeling tissue dan degenerasi kolagen. MMP – 2, MMP – 3, dan MMP

– 9 ditemukan dengan konsentrasi tinggi pada kehamilan dengan ketuban pecah

dini. Aktivasi protease ini diregulasi oleh tissue inhibitor of matrix

13
metalloprotease (TIMPs). TIMPs ini pula rendah dalam cairan amnion pada

wanita dengan ketuban pecah dini. Peningkatan enzim protease dan penurunan

inhibitor mendukung bahwa enzim ini mempengaruhi kekuatan membran fetal. 3

Selain itu terdapat teori yang mengatakan meningkatnya marker – marker

apoptosis dimembran fetal pada ketuban pecah dini berbanding dengan membran

pada kehamilan normal. Banyak penelitian yang mengatakan aktivasi aktivitas

degenerasi kolagen dan kematian sel yang membawa kelemahan pada dinding

membran fetal. 3

14
Faktor Ibu

Faktor Janin  Serviks Inkopeten


 Multipara
 Gemeli  Hidramnion
 Malposisi
 CPD, usia
 Riwayat KPD
 Merokok

KELEMAHAN
DINDING
MEMBRAN JANIN

RUPTURNYA MEMBRAN
AMNION DAN KHORION
SEBELUM TANDA – TANDA
PERSALINAN

KETUBAN
PECAH DINI

INFEKSI PADA
IBU

Diagnosis

Diagnosis dapat ditegakan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan

penunjang.

1. Anamnesis

Dari anamnesis dapat menegakkan 90% dari diagnosis. Kadang kala cairan seperti

urin dan vaginal discharge bisa dianggap cairan amnion. Penderita merasa basah

dari vaginanya atau mengeluarkan cairan banyak dari jalan lahir. 3

15
2. Inspeksi

Pengamatan biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina, bila ketuban baru
3
pecah, dan jumlah airnya masih banyak, pemeriksaan ini akan makin jelas.

3. Pemeriksaan Inspekulo

Merupakan langkah pertama untuk mendiagnosis KPD karena pemeriksaan dalam

seperti vaginal toucher dapat meningkatkan resiko infeksi, cairan yang keluar dari
3
vagina perlu diperiksa : warna, bau, dan PH nya, yang dinilai adalah :

 Keadaan umum dari serviks, juga dinilai dilatasi dan perdarahan dari

serviks. Dilihat juga prolapsus tali pusat atau ekstremitas janin. Bau
3
dari amnion yang khas juga harus diperhatikan.

 Pooling pada cairan amnion dari forniks posterior mendukung

diangnosis KPD. Melakukan perasat valsava atau menyuruh pasien

untuk batuk untuk memudahkan melihat pooling 3

 Cairan amnion di konfirmasikan dengan menggunakan nitrazine test.

Kertas lakmus akan berubah menjadi biru jika PH 6 – 6,5. Sekret

vagina ibu memiliki PH 4 – 5, dengan kerta nitrazin ini tidak terjadi

perubahan warna. Kertas nitrazin ini dapat memberikan positif palsu


3
jika tersamarkan dengan darah, semen atau vaginisis trichomiasis.

4. Mikroskopis (tes pakis). Jika terdapat pooling dan tes nitrazin masih samar

dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis dari cairan yang diambil dari

forniks posterior. Cairan diswab dan dikeringkan diatas gelas objek dan

dilihat dengan mikroskop. 3

16
5. Pemeriksaan USG

Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam

kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban sedikit

(Oligohidramnion atau anhidramnion). Oligohidramnion ditambah dengan hasil

anamnesis dapat membantu diagnosis tetapi bukan untuk menegakkan diagnosis

rupturnya membran fetal. Selain itu dinilai amniotic fluid index (AFI), presentasi
3
janin, berat janin, dan usia janin.

Penatalaksanaan

1. Konservatif

Rawat di rumah sakit, berikan antibiotik (ampisilin 4x500mg atau eritromisin bila

tidak tahan dengan ampisilin dan metronidazol 2 x 500mg selama 7 hari). Jika

umur kehamilan kurang dari 32 – 34 minggu, dirawat selama air ketuban masih

keluar. Jika usia kehamilan 32 – 37 minggu belum inpartu, tidak ada infeksi, tes

busa negatif berikan dexametason, observasi tanda – tanda infeksi, dan

kesejahteraan janin. Terminasi pada usia kehamilan 37 minggu. Jika usia

kehamilan 32 – 37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi, berikan tokolitik

(salbutamol), deksametason, dan induksi setelah 24 jam. Jika usia kehamilan 32 –

37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan induksi, nilai tanda – tanda

infeksi (suhu, leukosit, tanda – tanda infeksi intrauterin). Pada usia kehamilan 32

– 37 minggu berikan steroid untuk kematangan paru janin, dan bila

memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomietin tiap minggu. Dosis

betametason 12mg sehari dosis tunggal selama 2 hari, deksametason IM 5 mg


4
setiap 6 jam selama 4 kali.

17
2. Aktif

Kehamilan > 37 minggu, induksi dengan oksitoksin. Bila gagal seksio sesarea.

Bila tanda – tanda infeksi berikan antibiotik dosis tinggi dan terminasi persalinan.

Bila skor pelvik < 5, lakukan pematangan pelviks, kemudian induksi. Jika tidak

berhasil lakukan seksio sesarea. Bila skor pelviks > 5 lakukan induksi persalinan.
4

18
Komplikasi

Persalinan Prematur

Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode

laten tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24

jam setelah ketuban pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu persalinan dalam

24 jam.Pada kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.


5

Infeksi

Resiko infeksi ibu dan anak meningkat pada Ketuban Pecah Dini.Pada ibu

terjadi korioamnionitis.Pada bayi dapat terjadi septicemia, pneumonia,

omfalitis.Umumnya terjadi korioamnionitis sebelum janin terinfeksi.Pada

Ketuban Pecah Dini prematur, infeksi lebih sering daripada aterm. Secara umum

insiden infeksi sekunder pada Ketuban Pecah Dini meningkat sebanding dengan

lamanya periode laten. 5

 Komplikasi Ibu:

- Endometritis

- Penurunan aktifitas miometrium (distonia, atonia)

- Sepsis (daerah uterus dan intramnion memiliki vaskularisasi sangat

banyak)

- Syok septik sampai kematian ibu.

 Komplikasi Janin

- Asfiksia janin

- Sepsis perinatal sampai kematian janin.

19
Gambar.Infeksi intrauterin progresif pasca ketuban pecah dini pada kehamilan

prematur

Hipoksia dan Asfiksia

Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali

pusat hingga terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya

gawat janin dan oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin
5
gawat.

Sindrom Deformitas Janin

Ketuban Pecah Dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan

janin terhambat, kelainan disebabkan oleh kompresi muka dan anggota badan

janin serta hipoplasi pulmonary. 5,6

20
Pencegahan

Pada pasien perokok, diskusikan tentang pengaruh merokok selama

kehamilan usaha untuk menghentikan, motivasi untuk menambah berat badan

yang cukup selama hamil, anjurkan pasangan agar menghentikan koitus pada

trimester akhir. 7

Prognosis
7
Prognosis pada ketuban pecah dini sangat bervariatif tergantung pada :

 Usia kehamilan

 Adanya infeksi / sepsis

 Factor resiko / penyebab

 Ketepatan Diagnosis awal dan penatalaksanaan

Prognosis dari KPD tergantung pada waktu terjadinya, lebih cepat kehamilan,

lebih sedikit bayi yang dapat bertahan. Bagaimanapun, umumnya bayi yang lahir

antara 34 dan 37 minggu mempunyai komplikasi yang tidak serius dari kelahiran

premature. 7

21
BAB III

KESIMPULAN

Ketuban pecah dini (KPD) merupakan masalah penting dalam obstetrik

berkaitan dengan penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi

korioamnionitis sampai sepsis, yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas


2
perinatal dan menyebabkan infeksi ibu.

Beberapa peneliti melaporkan insidensi KPD berkisar antara 8 – 10 % dari

semua kehamilan. Hal ini menunjukkan, KPD lebih banyak terjadi pada

kehamilan yang cukup bulan dari pada yang kurang bulan, yaitu sekitar 95 %,

sedangkan pada kehamilan tidak cukup bulan atau KPD pada kehamilan preterm

terjadi sekitar 34 % semua kelahiran prematur. 3

Pengelolaan Ketuban Pecah Dini (KPD) merupakan masalah yang masih

kontroversial dalam kebidanan. Pengelolaan yang optimal dan yang baku masih
5
belum ada, selalu berubah. Protokol pengelolaan yang optimal harus

mempertimbangkan adanya infeksi dan usia gestasi serta faktor-faktor lain seperti

fasilitas serta kemampuan untuk merawat bayi yang kurang bulan. Meskipun tidak

ada satu protokol pengelolaan yang dapat untuk semua kasus KPD, tetapi harus

ada panduan pengelolaan yang strategis, yang dapat mengurangi mortalitas

perinatal dan dapat menghilangkan komplikasi yang berat baik pada anak maupun
7
pada ibu.

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Soewarto S. Ketuban Pecah Dini. Dalam Prawirohardjo S. Ilmu

Kebidanan. Bagian Ketiga: Patologi Kehamilan, Persalinan, Nifas dan

Bayi Baru Lahir. Edisi Keempat. Cetakan Kedua. Jakarta. PT Bina Pustaka

Sarwono Prawirohardjo. 2009. hal 677-82.

2. Manuaba.I.B.G. Ketuban Pecah Dini dalam Kapita Selekta

Penatalaksanaan Obstetri Ginekologi dan KB, EGC, Jakarta, 2001, hal :

221 – 225.

3. Cunningham Gary F, Leveno J Kenneth , Bloom L Steven , Hauth C

John , III Gilstrap Larry , Wenstrom D Katharine . Williams Obstetrics

Edisi 22.2005 .

4. Saifuddin, Abdul B 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina

Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

5. Manuaba I.B.G, Chandranita Manuaba I.A, Fajar Manuaba I.B.G.(eds)

Pengantar Kuliah Obstertri. Bab 6: Komplikasi Umum Pada Kehamilan.

Ketuban Pecah Dini. Cetakan Pertama. Jakarta. Penerbit EGC. 2007. Pp

456-60.

6. Nili F., Ansaari A.A.S. Neonatal Complications Of Premature Rupture Of

Membranes. Acta Medica Iranica. Online 2003. Vol 41. No.3. Diunduh

dari http://journals.tums.ac.ir/upload_files/pdf/59.pdf.

7. Saifudin, Abdul B. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan

Maternal & Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono

Prawirohardjo.

23