Anda di halaman 1dari 4

No.

Peserta : 19081384010118
Nama : RISMA HALIM, S.Pd.
Asal Sekolah : SMK Negeri 1 Kinali – Sumatera Barat
TUGAS AKHIR M4. KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

Instructions:

Di suatu kelas terdapat 30 siswa dengan rincian :

1. Jumlah laki-laki 20 orang, jumlah perempuan 10 orang


2. Status sosial 60% adalah anak dari pekerja buruh pabrik, 20 % PNS, dan 10 % adalah
pedagang, 20% adalah pegawai swasta/BUMN
3. Minat siswa 50% pada kegiatan olahraga, 10% pada aspek akademis, 20% pada kegiatan
seni, dan 20% pada aspek ketrampilan
4. Kemampuan siswa 40% pada batas bawah, 40% pada batas menengah, dan 20% pada
batas tinggi
5. Preferensi belajar 40% kinestetik, 30% visual, 30% auditory

Pertanyaan:

1. Bagaimana cara mengelola kelas dan mengakomodasi pembelajaran dengan karakteristik


tersebut diatas (ambil 1sub tema pembelajaran/ 1 mapel)
2. Bagaimana mengembangkan kecerdasan majemuk dengan karakteristik diatas (ambil 1 sub
tema pembelajaran/ 1 mapel)

Jawaban Penyelesaian:

IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK UMUM PESERTA DIDIK

Mapel : Perencanaan dan Instalasi Sistem Audio Video

Jumlah Peserta Didik : 30 Orang

Aspek Karakteristik Umum Rincian Karakteristik Jumlah Peserta Didik


Gender Laki- laki 20
Perempuan 10
Status Sosial/Pekerjaan Buruh Pabrik 18
orang tua
PNS 6
Pedagang 3
Pegawai Swasta/ BUMN 3
Minat Olahraga 15
Akademis 3
Seni 6
Keterampilan 6

Kemampuan Peserta Didik Batas bawah 12

Batas menengah 12

Batas atas 6

Preferensi Belajar Kinestetik 12

Visual 9
Auditory 9

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa kelas XI TAV cukup Heterogen baik dari segi
pekerjaan orang tua, minat, kemampuan dan preferensi belajar. Hal ini harus menjadi
pertimbangan guru dalam menyelenggarakan pembelajaran di kelas ini. Data tersebut, akan
menjadi landasan guru dalam mendesain pembelajaran di kelas. Untuk menjawab bagaimana
cara mengelola kelas dan mengakomodasi pembelajaran dan bagaimana mengembangkan
kecerdasan majemuk dengan karakteristik peserta didik seperti pada sajian table di atas?
Berikut penulis coba uraikan secara sederhana dengan contohnya:

Untuk tingkat smk/sma/ma, aspek gender sangat perlu menjadi bahan pertimbangan guru,
karena pada masa ini peserta didik sudah mempunyai ketertarikan pada lawan jenisnya dan
untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik laki-laki yang cenderung lebih rendah maka
guru harus bijak dalam membagi kelompok diskusi. Guru sebaiknya membagi kelompok secara
heterogen, dalam setiap kelompok harus ada laki-laki dan perempuan. misalnya guru membagi
peserta didik menjadi 5 kelompok, berarti dalam tiap kelompok ada 4 orang laki-laki dan 2
perempuan. Hal ini senada dengan apa yang sampaikan oleh Suprayekti dan Agustyarini (2015:
24) menjelaskan bahwa anak laki-laki dan perempuan pada dasarnya memiliki pesamaan dan
perbedaan. Perbedaannya pada fisiologis dan biologis, peran, perilaku, kegiatan dan atribut di
masyarakat. Sedangkan kesamaan peran dalam hak dan kewajiban sesuai dengan adat
istiadat, budaya masyarakat. Seperti kesetaraan dalam memperoleh pekerjaan, peningkatan
ilmu dan takwa, mencapai cita-cita menjadi guru, dokter, dan lain-lain.
Guru juga harus membagi kelompok berdasarkan kemampuan peserta didik, dalam tiap
kelompok harus ada yang memiliki kemampuan rendah, menengah dan tinggi. Yang memiliki
kemampuan rendah dapat belajar dari teman yang memiliki kemampuan tinggi dan yang
memiliki kemampuan tinggi dapat membantu dan memotivasi teman satu kelompoknya. Namun
demikian, pada siswa dengan 15-17 tahun telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan dua
ragam kemampuan kognitif secara serentak maupun berurutan. Misalnya kapasitas
merumuskan hipotesis dan menggunakan prinsip-prinsip abstrak. Dengan kapasitas
merumuskan hipotesis peserta didik mampu berfikir memecahkan masalah dengan
menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan. Sedang dengan kapasitas
menggunakan prinsip-prinsip abstrak, peserta didik akan mampu mempelajari materi pelajaran
yang abstrak, seperti agama, matematika, dan lainnya.

Sedangkan dari aspek status sosial, karena sebagian besar orang tua peserta didik di kelas ini
bekerja sebagai buruh dan bisa dikategorikan dari keluarga kurang mampu, maka guru tidak
boleh memperlihatkan tindakan diskriminasi antar peserta didik, semua diperlakukan dengan
adil dan tidak memandang status sosialnya. Aspek ini juga sangat penting dipertimbangkan
dalam memberikan tugas kepada peserta didik di kelas ini, yaitu tugas yang dapat diselesaikan
peserta didik dengan baik walaupun dengan ekonomi yang terbatas artinya tidak memberatkan
dari segi biaya.

Berdasarkan minat dan preferensi belajar dari peserta didik yang juga beragam sebaiknya guru
menerapkan model dan metode pembelajaran yang bervariasi untuk menarik minat peserta
didik dan mengatasi kebosanan. Untuk mengakomodasi pembelajaran dengan karakteristik
peserta didik yang bervariasi dan mengembangkan kecerdasan majemuknya maka model yang
tepat dalam pembelajaran adalah project based learning pada kompetensi dasar untuk
keterampilan (KD.4.4) Membuat rangkaian penguat depan audio (universal pre-amplifier).
Dalam hal ini peserta didik ditugaskan untuk penguat depan audio dan dapat dipromosikan ke
masyarakat.

Peserta didik dibagi dalam 5 kelompok, setiap kelompok heterogen, harus ada laki-laki dan
perempuan, dibagi menurut tingkat kemampuan peserta didik dan yang lebih penting dalam
satu kelompok ini adalah harus ada peserta didik yang memiliki minat yang berbeda satu sama
lainnya. Dalam pembelajaran peserta didik yang memiliki minat olahraga contohnya dapat
bertugas untuk merancang box amply, peserta didik yang memiliki minat akademis bisa
mengatur langkah-langkah untuk pembuatan amply, peserta didik yang berminat seni dan
keterampilan bisa membuat desain box, pemilihan warna dan sebagainya. Setelah pre-amplifier
tersebut selesai dikerjakan bisa dipresentasikan di depan kelas. Multiple Intelligence yang bisa
dikembangkan dalam pembelajaran ini antara lain :

1. Kecerdasan spasial, merupakan kecerdasan seseorang yang berdasar pada kemampuan

menangkap informasi visual atau spasial, mentransformasi dan memodifikasinya, dan


membentuk kembali gambaran visual tanpa stimulus fisik yang asli. Kecerdasan ini tidak
tergantung sensasi visual. Kemampuan pokoknya adalah kemampuan untuk membentuk

gambaran tiga dimensi dan untuk menggerakkan atau memutar gambaran tersebut. Individu
yang dominan memiliki kecerdasan tersebut cenderung berpikir dalam pola-pola yang
berbentuk gambar. Mereka sangat menyukai bentuk-bentuk peta, bagan, gambar, video
ataupun film sebagai media yang efektif dalam berbagai kegiatan hidup sehari-hari. Contohnya
peserta didik dapat menampilkan foto-foto rancangan box yang keren.

2. Kecerdasan bahasa, karena peserta didik juga diminta untuk membaca dan memahami
literatur yang berkaitan dengan materi (langkah-langkah pembuatan desain box) kemudian
setelah produk selesai peserta didik diminta untuk mempresentasikan di depan kelas layaknya
orang yang melakukan promosi pada masyarakat, dalam hal ini membutuhkan kemampuan
komunikasi yang baik dan bisa menarik orang.

3. Kecerdasan jasmani kinestetik, karena melatih peserta didik untuk memperoleh informasi
mengenai praktik jurusan TAV.

4. Kecerdasan interpersonal, dalam hal ini peserta didik menjalin hubungan atau relasi dengan
orang lain. Hal ini ditandai dengan bagaimana peserta didik bekerjasama dengan teman pada
kelompoknya dan bertanya/mendapatkan informasi yang jelas dan tepat dari guru atau warga
sekolah yang terkait. Terakhir, Pemetaan kelas, haruslah menjadi kunci pertama dalam desain
dan perencanaan pembelajaran, mempertimbangkan pengetahuan awal dan karakteristik
belajar peserta didik akan membantu terbangunnya pola belajar yang efektif mengantarkan
pencapaian tujuan belajar yang optimal.