Anda di halaman 1dari 8

JURNAL MKMI, Vol. 14 No.

2, Juni 2018

Analisis Response Time Penatalaksanaan Rujukan Kegawatdaruratan


Obstetri Ibu Hamil

Response Time Analysis of Management Obstetric Maternal


Emergency Referral
Dwi Ayu Tirtaningrum*, Ayun Sriatmi, Antono Suryoputro
Bagian Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Diponegoro
(*dwiayutirtaningrum261@gmail.com)

ABSTRAK
Pemerintah Kota Semarang membentuk puskesmas PONED dan rumah sakit PONEK untuk sistem ruju-
kan dalam pengelolaan kasus obstetri. Faktanya, response time rujukan masih dirasakan lama oleh pasien untuk
mendapatkan pelayanan. Tujuan penelitian menganalisis response time penatalaksanaan rujukan kegawatdaru-
ratan obstetri ibu hamil di Kota Semarang. Jenis penelitian survei dengan pendekatan deskriptif kualitatif dan
teknik purposive. Pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, dokumentasi, dan triangulasi sumber.
Hasilnya response time pelaksanaan dan penerimaan rujukan belum optimal seperti harapan pasien. Lama waktu
dari pasien datang di IGD Puskesmas PONED hingga siap dirujuk ke RS PONEK rata-rata 1-2 jam. Lama waktu
penerimaan pasien datang di IGD RS PONEK hingga mendapatkan kamar perawatan 2 -3 jam. Lama waktu dise-
babkan kesiapsiagaan tim medis yang kurang tanggap merespon pasien, ibu hamil tidak membawa buku KIA dan
tidak melengkapi persyaratan administrasi, sopir ambulans sulit dihubungi, konfirmasi pemberian informasi dari
RS rujukan dan lamanya proses pemindahan pasien dari ruang bersalin ke kamar perawatan.
Kata kunci : Response time, proses kegawatdaruratan obstetri

ABSTRACT
Semarang government established PONED Health Center and PONEK Hospital for referral in manag-
ing obstetric cases. In fact, response time referral is still long to get the service by patients. Research purposes,
analyze of response time in the management obstetric maternal emergency referral in Semarang. Type of survey
research with qualitative descriptive approach and purposive technique. Data collection using indepth interviews,
documentation, and source triangulation.The results, response time implementation and acceptance of referral has
not been optimal as patient expectation. Length of time the patient came to the emergency room of Health Center
until ready referred to the PONEK Hospital 1-2 hours. Length of time the patient receives at the emergency room
of PONEK Hospital until get treatment room 2 -3 hours. The problem because responsiveness of the medical team
responding to patients, maternal not carrying MCH books and not completing administrative, ambulance driver
difficult to contact, confirmation of information from referral hospital and duration of patients transfer process
from delivery room to treatment room.
Keywords : Response time, obstetrics emergency process

Copyright © 2018 Universitas Hasanuddin. This is an open access article under the CC BY-NC-SA license
(https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/).
DOI : http://dx.doi.org/10.30597/mkmi.v14i2.2866

139
Dwi Ayu Tirtaningrum : Analisis Response Time Penatalaksanaan Rujukan Kegawatdaruratan Obstetri Ibu Hamil

PENDAHULUAN an jarak dan kemudahan jangkauan. Alur rujukan


Masalah kesehatan di Indonesia yang ma- selama ini belum sepenuhnya memperhatikan as-
sih menjadi perhatian khusus, yaitu tingginya pek ketersediaan dan kelengkapan jenis layanan
Angka Kematian Ibu (AKI). Tingkat kematian pada fasilitas kesehatan yang dituju. Selain itu,
ibu yang tinggi dapat menyangkut kehormatan masih ada stigma bahwa jika puskesmas tidak
dan harga diri bangsa Indonesia. Kota Semarang bisa menangani masalah pasien maka rumah sakit
menduduki rangking ke-3 dengan kasus kema- menjadi pihak yang dianggap bisa menyelesaikan
tian ibu yang tinggi di Jawa Tengah tahun 2016 masalah tersebut. Sementara lainnya, rumah sakit
setelah Kabupaten Brebes dan Pemalang, dengan di daerah belum tentu memiliki kapasitas dalam
121,50/100.000 kelahiran hidup.1 Hal tersebut se- menangani masalah tersebut. Adapun implementa-
dikit menurun dibanding AKI tahun 2015 sebesar si suatu sistem tidak akan berjalan baik jika pelak-
128,05/100.000 kelahiran hidup, dan belum men- sanaannya tidak sesuai dengan ketentuan kebija-
capai target MDGs.2 kan atau pedomannya. Salah satu problem dalam
Kasus kematian ibu di Kota Semarang ta- implementasi sistem rujukan adalah keterbatasan
hun 2016 disebabkan oleh komplikasi penyakit sumber daya dan infrastuktur yang esensial dalam
penyerta diantaranya tumor otak, kanker tulang, institusi kesehatan untuk menyediakan layanan
kanker getah bening, TB, kanker mamae dan AIDS kesehatan yang minimal.5
sebesar 51%, pre-eklampsia berat 21%, perdar- Keterbatasan sumberdaya yang dimiliki
ahan 12%, sepsis 6% dan penyebab lain-lain di- puskesmas dan adanya berbagai permasalahan
antaranya syok, neurogenik, unidentified factors yang harus dihadapi oleh puskesmas, diperlukan
(9,4%). Berdasarkan tempat terjadinya, kematian keterpaduan dengan berbagai sektor untuk menun-
ibu terbanyak meninggal di rumah sakit sebesar jang dan memaksimalkan pelaksanaan puskesmas
84,37%, meninggal dalam perjalanan (death of ar- salah satunya, yaitu melakukan rujukan ke PPK
rival) sebesar 9,3%, dan di rumah 6,25%.1 lain untuk membantu menyelesaikan permasalah-
Dalam Permenkes No.1 Tahun 2012 tentang an yang dialami oleh masyarakat serta meningkat-
Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perora- kan efisiensi.6
ngan, dijelaskan layanan rujukan mengacu prinsip Alasan utama memilih kedua RS tersebut
kecepatan dan ketepatan tindakan, efisien, efektif karena lokasi yang lebih dekat dan faktor biaya
sesuai dengan kemampuan dan kewenangan petu- yang lebih terjangkau. Dengan banyaknya pasien
gas kesehatan serta fasilitas pelayanan kesehatan.3 rujukan obstetri yang datang di kedua rumah sakit
Dengan demikian, dalam layanan rujukan obstet- tersebut menjadikan pelayanan kurang maksimal.
ric emergency harus memenuhi kriteria tersebut. Hasil observasi diketahui bahwa kesiapsiagaan tim
Informasi dari Puskesmas PONED di Kota medis di puskesmas maupun di rumah sakit be-
Semarang diketahui total pasien yang berkunjung lum berjalan optimal dalam memberikan layanan
dalam layanan obstetri di Puskesmas PONED di (tindakan) kepada pasien, kesiapan sumber daya
Kota Semarang tahun 2014 s/d Maret 2017 seba- yang masih kurang dan lama waktu proses ruju-
nyak 2.630 orang. Dari jumlah tersebut yang diru- kan yang dirasakan masih lama oleh ibu hamil
juk karena mengalami kegawatdaruratan obstetri kagawatdaruratan obstetri, yaitu seperti ibu hamil
sebanyak 1.127 orang (42,8%). Rujukan Pus- yang tidak membawa buku KIA yang dapat mem-
kesmas PONED untuk area Semarang Timur ke perlambat waktu pemeriksaan klinis, sopir ambu-
RSUD K.R.M.T Wongsonegoro sedangkan untuk lance yang tidak ada di tempat saat proses rujukan,
area Semarang Barat ke RSUD Tugurejo. Jenis lama waktu observasi di Instalasi Gawat Darurat
komplikasi persalinan terbanyak dirujuk, yaitu (IGD) dan kelambanan pemberian informasi ka-
Ketuban Pecah Dini (KPD) dan Pre-Eklampsia mar kosong untuk rawat inap rujukan. Response
(PE).4 time dalam pelaksanaan rujukan yang cenderung
Penelitian Ignasius menjelaskan bahwa lamban ditakutkan berpotensi dapat membahaya-
pertimbangan utama memilih tempat rujukan kan keselamatan ibu hamil.Response time dalam
dari puskesmas ke rumah sakit sebagai penyedia proses rujukan harus berdasarkan SOP (Standard
layanan kesehatan sekunder adalah faktor kedekat- Operate Procedure) yang beraku di puskesmas

140
JURNAL MKMI, Vol. 14 No. 2, Juni 2018

PONED dan rumah sakit PONEK. Berdasarkan kut kutipan yang diungkapkan oleh ibu hamil ka-
latar belakang tersebut peneliti tertarik mengana- suspersalinan macet:
lisis response time penatalaksanaan rujukan ke-
gawatdaruratan obstetri ibu hamil dari puskesmas “kira-kira jam 1 malam, jadi pintu IGDn-
PONED ke rumah sakit PONEK di Kota Sema- ya dikunci terus bapak saya panggil-pang-
rang dilihat dari kesiapan tim medis, sumberdaya gil bidannya gaknyautin ternyata tidur. Ya
dan lama waktunya. kira-kira kurang lebih 10 menitan lah baru
dibukain pintunya terus setelah dibangun-
kan bidannya marah berkelahi dengan ba-
BAHAN DAN METODE pak saya karena tidurnya diganggu”.
Jenis penelitian survei dengan pendekatan
deskriptif kualitatif. Subyek penelitian yang diam-
Pada kesediaan sumberdaya rata-rata petu-
bil menggunakan teknik purposive berdasarkan
gas kesehatan dan sopir ambulans yang dibutuh-
kasus rujukan. Informan utama sebanyak 8 orang
kan masih belum sesuai yang diharapkan. Namun,
dengan kasus Ketuban Pecah Dini, Persalinan
hal tersebut beberapa bisa diupayakan agar pengi-
Macet, Pre-eklampsia Berat, Partus Tak Maju, Se-
riman pasien rujukan tepat waktu dengan sumber
rotinus, Partus Prematurus Imminens, Anemia dan
daya yang terbatas. Pada proses rujukan rata-rata
Perdarahan. Informan triangulasi sebanyak 8 orang
sopir dan mobil ambulans sudah standby di tem-
meliputi Bidan Puskesmas PONED (6 orang) dan
pat. Namun demikian, kasus persalinan macet dan
Ketua Tim PONEK Rumah Sakit (2 orang). Peng-
anemia, sopir ambulans sulit dihubungi saat pro-
umpulan data dengan wawancara mendalam, do-
ses rujukan serta pada kasus partus tak maju masih
kumentasi, triangulasi, yang hasilnya dianalisis
menunggu Ambulans Hebat dan sopirnya. Lama
menggunakan analisis isi (content analysis).
waktu yang dibutuhkan untuk menunggu sopir
dan Ambulans Hebat di ketiga puskesmas tersebut
HASIL kurang lebih 30 menit untuk bisa segera dikirim
Penelitian dilakukan pada ibu hamil kasus
ke rumah sakit rujukan.
obstetri sebanyak 8 orang. Usia ibu hamil berki-
Menurut informasi dari bidan di puskes-
sar 17 s/d 38 tahun dengan latar belakang pendi-
mas PONED rata-rata lama waktu pasien datang
dikan terakhir SD sebanyak 4 orang dan 4 orang
di puskesmas PONED hingga pasien siap dirujuk
SMA/SMK. Mayoritas pekerjaan yaitu ibu rumah
ke RS sesuai dengan SOP yang berlaku membu-
tangga dan 2 orang karyawan swasta. Pengeluaran
tuhkan waktu kurang dari 1 jam untuk kasus ke-
rata-rata ± Rp 71.000 per keluarga per hari. Ri-
gawatdaruratan obstetri. Namun faktanya, lama
wayat penyakit ada 2 orang ibu hamil kasus KPD
waktu yang dibutuhkan berkisar 1-2 jam hingga
dengan hepatitis dan Pre-Eklampsia Berat dengan
pasien siap dirujuk. Kendalanya, dikarenakan tim
hipertensi tinggi. Paritas berkisar 1-3 orang anak.
medis tidak merespon cepat pasien yang datang,
Usia kehamilan dari umur 24-42 minggu. Seluruh
ibu hamil tidak membawa buku KIA sehingga pe-
informan utama tidak memiliki riwayat persalinan
meriksaan klinis menjadi lama dan tidak memba-
seperti sectio caecar.
wa persyaratan administrasi, sopir ambulans sulit
Menurut UU No.4 Tahun 2009 kesiapsia-
dihubungi dan konfirmasi pemberian informasi
gaan tim medis di Puskesmas PONED sesuai
dari RS cenderung masih lama.
dengan standar waktu yang dibutuhkan untuk
Lama waktu pemberian informasi rujukan
memberikan penanganan pada ibu hamil di IGD
sesuai SOP adalah 10-15 menit. Namun, faktanya
PONED adalah sekitar ≤5 menit.7 Namun demiki-
dibutuhkan waktu rata-rata lebih dari 10-15 menit
an, ada kasus persalinan macet ibu hamil menga-
bahkan pernah hingga sampai 1 jam dan keesokan
takan response time yang diterima cukup lama
harinya melalui Jejaring Rujukan Maternal dan
yaitu >10 menit dikarenakan pintu ruang IGD
Neonatal (SIJARIEMAS). Dengan demikian,
dikunci malam hari. Itu pun ditambah ada perde-
bidan mengungkapkan sudah jarang menggu-
batan antara bidan dengan keluarga pasien karena
nakan SIJARIEMAS karena responnya dianggap
marah dibangunkan dan membutuhkan waktu lagi
lamban dalam pemberian konfirmasi sehingga
untuk ibu hamil mendapatkan penanganan. Beri-

141
Dwi Ayu Tirtaningrum : Analisis Response Time Penatalaksanaan Rujukan Kegawatdaruratan Obstetri Ibu Hamil

alternatifnya langsung menghubungi rumah sakit Selain itu, ibu hamil kasus partus tidak maju
rujukan. Namun, hal tersebut juga pernah direspon juga tidak dilayani oleh Dokter Spesialis Obgyn se-
lama oleh rumah sakit rujukan selama 1 jam da- harusnya dikertas form dilakukan tindakan medis
lam memberikan konfirmasi. oleh Dokter X, tetapi faktanya tidak berkunjung ke
Berikut kutipan yang diungkapkan oleh pasien yang bersangkutan dari awal pemeriksaan
Tim IGD PONED: hingga akhir dirawat inap di RS. Setelah dikon-
firmasi, bahwa mungkin saat itu Dokter X tidak
“..biasanya konfirmasi dari rumah sakit mengenakan jas putih kedokteran sehingga pasien
menunggu 15 menit terus menelpon lagi mengira Dokter X bukan seorang dokter.
tetapi kadang sudah gitu penuh tetapi per- Informasi dari Tim PONEK rata-rata lama
nah sampai lama 1 jam nunggunya kon-
waktu penerimaan ibu hamil dari datang di IGD
firmasi dari RS. Kadang kita masih pakai
SIJARIEMAS kadang juga tidak jadi kita PONEK hingga mendapatkan kamar rawat inap
kerjain dua-duanya biar sama-sama jalan. bersalin sesuai standar SOP adalah 1 jam 30 menit
Karena SIJARIEMAS pernah hingga ke- untuk pasien rujukan kegawatdaruratan osbtetri.
esokan harinya baru konfirmasi jadi kami Namun, faktanya di lapangan membutuhkan lama
takut kalau hanya mengandalkan sistem waktu hingga 2–3 jam. Kendalanya, pada ke-
SIJARIEMAS...”(IT-3) siapsiagaan tim medis belum merespon cepat keti-
ka pasien datang dan persiapan kamar rawat inap
Lama waktu di perjalanan juga menentu- yang masih lama. Lama waktu yang dibutuhkan
kan keselamatan dan keamanan ibu dan bayi baru untuk pasien di pindahkan ke kamar perawatan
lahir. Pada kelompok puskesmas area Semarang membutuhkan waktu ± 30 menit - 1 jam. Hal ini
Timur umumnya merujuk ke RSUD K.R.M.T pun membuat ibu hamil menjadi gelisah dan ku-
Wongsonegoro. Sedangkan, puskesmas PONED rang nyaman. Setelah dikonfirmasi, adanya lama
area Semarang Barat ke RSUD Tugurejo. Lama waktu tersebut dikarenakan petugas rawat inap ha-
waktu yang dibutuhkan proses rujukan di per- rus mempersiapkan terlebih dahulu kamar, kasur,
jalanan berkisar ± 20-30 menit meskipun dalam perlengkapan ibu dan bayinya serta obat-obatan
kondisi macet. yang dibutuhkan untuk ibu dan bayi di ruang per-
Pada kesiapsiagaan tim medis di rumah awatan.
sakit PONEK beberapa sudah direspon cepat ke- Berikut kutipan yang diungkapkan oleh
tika pasien datang di IGD PONEK yaitu ≤5 menit. TimIGD PONEK :
Namun, beberapa pasien kasus persalinan macet
dan serotinus yang tidak didahulukan dan menung- “...jadi bisa 1 jam atau 2 jam dan tergan-
gu hingga 30 menit baru ditangani oleh petugas tung kamar juga kosong atau tidak. Jadi
kesehatan. Setelah dikonfirmasi, bahwa pasien ti- memang tidak segampang itu untuk cari
dak didahulukan dikarenakan belum terlalu kritis kamar kosongnya. Jadi harus dipersiapkan
kondisinya dan saat itu terjadi lonjakan pasien se- terlebih dahulu kasur dan perlengkapan
yang dibutuhkan ibu hamil dan bayinya..”
hingga belum menangani secara maksimal karena
(ITRS-1)
kuantitas sumberdayanya juga masih terbatas.
Ketersediaan Dokter Spesialis Obgyn rata- PEMBAHASAN
rata ketika pasien datang sudah cepat mendapat- Kecepatan dan ketepatan proses rujukan
kan penanganan. Namun, beberapa ibu hamil pasien dari puskesmas PONED menuju ke rumah
kasus persalinan macet, pre-eklampsia berat, dan sakit PONEK harus sesuai dengan kompetensi
anemia harus menunggu sekitar 30 menit-1 jam. dan standar pelayanan sehingga penanganan yang
Penyebabnya dikarenakan ruang jaganya tidak diberikan berdasarkan SOP yang berlaku dapat
di ruang IGD melainkan di ruang khusus di Very cepat dan ditindak dengan tepat. Ada beberapa
Important Person (VIP). Pasien juga mengatakan hal yang harus diperhatikan dalam rujukan, yaitu
bahwa perilaku dari Dokter Spesialis Obgyn juga salah satunya kesiapsiagaan tim medis yang jaga
cenderung kurang tanggap dan empatik dalam di IGD kepada pasien yang datang di puskesmas
menindaklanjuti pasien.

142
JURNAL MKMI, Vol. 14 No. 2, Juni 2018

PONED. Pada kesiapsiagaan di IGD PONED dan persiapan administrasinya serta pihak pus-
diketahui belum sesuai standar yaitu ≤5 menit dan kesmas harus mempersiapkan segala sesuatunya
tidak menanggapi serius atas kasus yang dialami yang dibutuhkan untuk rujukan dengan cepat dan
oleh ibu hamil yang mengalami kritis dan butuh tepat. Seperti yang dikatakan oleh Maatilu, V, bah-
pertolongan pertama. Menurut penelitian Asmawi wa persiapan dalam proses rujukan menentukan
dan Amiruddin, pentingnya kompetensi (pengeta- keberhasilan keselamatan pada pasien.10 Menurut
huan, sikap dan keterampilan) untuk menunjang penelitian Umaternate T, mengemukakan bahwa
kinerja dalam melakukan triase gawat darurat, ibu hamil yang mengalami sakit persalinan psiko-
tetapi nyatanya tidak ada hubungan pengetahuan logisnya mudah berubah menjadi, cemas, kesaki-
dan sikap terhadap kinerja tim medis di IGD se- tan, takut dan sensitif sehingga ingin mendapatkan
dangkan keterampilan memiliki hubungan dengan penanganan intensif segera.11
kinerja tim medis.8 Sehingga dalam hal ini perlu- Proses rujukan di perjalanan diupayakan
nya keterampilan tim medis dalam menjalankan harus cepat dan aman untuk mencapai tempat ru-
tugas profesinya dengan baik karena sebagai orang jukan. Agar nantinya ibu hamil pada kondisi ga-
yang dianggap berperan penting dalam menolong wat darurat cepat mendapatkan penanganan yang
nyawa pasien, tetapi tidak hanya keterampilan saja intensif. Lama waktu di perjalanan menentukan
seharusnya tim medis mempunyai sifat empati, keselamatan dan keamanan ibu dan bayi baru la-
cepat tanggap dan serius dalam menangani kasus hir. Lama waktu yang dibutuhkan di perjalanan
pada pasien. Agar nyawa pasien dapat tertangani berkisar ±20-30 menit. Jika kondisi perjalanan
dengan optimal. macet masih dalam kisaran waktu tersebut karena
Selain dari kinerja petugas medis proses ambulans menggunakan sirene sehingga perjala-
rujukan juga tidak akan berlangsung lancar tan- nannya masih tetap lancar. Ketepatan lama waktu
pa adanya petugas sopir ambulans. Dalam pene- perjalanan proses rujukan masih aman karena se-
litian ini beberapa petugas sopir ambulans sulit suai standar proses rujukan, yaitu paling lama 1
dihubungi dan terlambat datang sehingga dapat jam di perjalanan.
menghambat proses rujukan, seperti yang dika- Penanganan gawat darurat di Instalasi Ga-
takan oleh Zaharudin dkk dalam Nasution (2013), wat Daurat (IGD) rumah sakit mempunyai filoso-
bahwa tingkat risiko kematian seorang pasien sa- fi, yaitu Time Saving it’s Live Saving bisa diartikan
ngat bergantung pada waktu respon ambulans ter- waktu adalah nyawa atau seluruh tindakan yang
hadap permintaan layanan ambulans.9 Hal ini sebi- dilakukan pada saat kondisi gawat darurat haruslah
sa mungkin perlu dilakukan evaluasi terhadap ki- benar-benar efektif dan efisien. Hal ini mengingat-
nerja petugas medis dan petugas sopir puskesmas kan pada kondisi tersebut pasien dapat kehilangan
serta perlunya penjelasan tentang kontrak kerja nyawa hanya dalam hitungan menit saja. Berhenti
yang sudah ada karena sudah menjadi tanggung nafas 2-3 menit pada manusia dapat mengakibat-
jawab pekerjaannya. Puskesmas pun jika merasa kan kematian yang fatal.8
masih kekurangan sopir ambulans perlu penam- Pada pasal 1 UU RI No. 44 tahun 2009 ten-
bahan sopir untuk bisa pergantian jam kerja. Jika tang Rumah Sakit bahwa pasien yang masuk ke
tidak ditindaklanjuti secara cermat ditakutkan ber- IGD butuh pertolongan cepat dan tepat. Oleh kare-
potensi membahayakan keselamatan pasien kare- na itu, perlu adanya standar dalam memberikan
na tidak segera dikirim ke rumah sakit rujukan. pelayanan gawat darurat sesuai dengan kompeten-
Lama waktu rujukan akan menentukan ke- si dan kemampuannya. Semua itu dapat dicapai
selamatan pasien. Lama waktu dari pasien datang dengan meningkatkan sarana, prasarana, sumber-
di puskesmas PONED hingga pasien siap dirujuk daya manusia dan manajemen IGD yang ada di ru-
ke rumah sakit membutuhkan waktu rata-rata 1-2 mah sakit. Pelayanan pasien gawat darurat adalah
jam. Dalam hal ini, lama waktu yang dibutuhkan pelayanan yang memerlukan pertolongan segera
masih cenderung lama hingga 2 jam yang seha- dimana memegang peranan penting (time saving
rusnya bisa diminimalisasi menjadi kurang dari 1 is life saving) bahwa waktu adalah nyawa. Ca-
jam. Hal ini perlu dievaluasi pada ibu hamil yang paian response time pelayanan IGD ≤5 menit se-
datang ke puskesmas harus membawa buku KIA suai dalam Standar Pelayanan Minimal.7

143
Dwi Ayu Tirtaningrum : Analisis Response Time Penatalaksanaan Rujukan Kegawatdaruratan Obstetri Ibu Hamil

Kebutuhkan akan response time (waktu cepat dan optimal.


tanggap) yang tepat dan efisien sangat berperan Pada kesediaan Dokter Spesialis Obgyn ibu
penting dalam setiap pengambilan keputusan mu- hamil menunggu berkisar 30 menit-1 jam untuk
lai sejak awal pasien datang hingga pasien dip- mendapatkan penanganan. Hal ini harus dieva-
indahkan dari Instalasi Gawat darurat. Menurut luasi dan dilakukan perubahan dalam diri se-
Haryatun, N. dan Sudaryanto, A menyatakan orang penyelamat nyawa manusia, yaitu tanggap,
bahwa response time (waktu tanggap) adalah ke- mempunyai rasa empati dan tanggung jawab ting-
cepatan dalam penanganan pasien dihitung sejak gi atas profesinya. Faktor jarak yang jauh antara
pasien datang sampai dilakukan penanganan. Res- ruang jaga Dokter Spesialis Obgyn dengan ruang
ponse time (waktu tanggap) pelayanan dapat di- IGD juga dapat mempengaruhi kecepatan dalam
hitung dengan hitungan menit dan sangat dipe- suatu tindakan medis. Oleh karena itu, jarak antara
ngaruhi oleh berbagai hal, baik mengenai jumlah IGD dan ruang jaga Dokter Spesialis Obgyn bisa
tenaga maupun komponen-komponen lain yang didekatkan karena kecepatan dan ketepatan ber-
mendukung.12 Response time juga di kategorikan dampak pada keselamatan dan keamanan pasien.
dengan prioritas P1 pasien gawat darurat dengan Kasus lain pada partus tak maju ibu hamil tidak
penanganan 0 menit, P2 pasien gawat dengan pe- dilayani Dokter Spesialis Obgyn yang seharus-
nanganan <30 menit dengan meningkatkan sarana nya dikertas form dilakukan tindakan medis oleh
dan prasarana sumber daya manusia dan manaje- Dokter X. Namun, faktanya tidak berkunjung ke
men IGD rumah sakit sesuai standar.13 pasien yang bersangkutan dari awal pemeriksaan
Kesiapsiagaan tim medis pada ibu hamil hingga akhir dirawat inap di RS. Dalam hal ini,
kasus persalinan macet dan serotinus yang tidak kegunaan jas dokter sebagai identitas kedokteran
didahulukan dan menunggu hingga 30 menit baru sehingga dokter mudah dikenali oleh pasien. Pen-
ditangani oleh petugas kesehatan. Setelah dikon- ting seorang dokter mengenakan jas putih sebagai
firmasi, alasan pasien tidak didahulukan karena identitas kedokteran sehingga pasien tidak perlu
pasien belum kritis kondisinya dan hal tersebut menanyakan apakah ia seorang dokter atau bukan.
terkait sistem triage karena ada pasien lain yang Selain itu, jas dokter bisa membuat psikologis jiwa
lebih kritis kondisinya. Selain itu, kuantitas tim pasien menjadi lebih baik karena ada rasa ketena-
medis di IGD PONEK juga masih kurang jika ter- ngan untuk diobati oleh seseorang yang dianggap
jadi lonjakan pasien. Dalam hal ini, seharusnya ke- bisa menyembuhkan masalah kesehatannya de-
tika di IGD jika kedatangan banyak pasien dalam ngan baik.
waktu bersamaan, triage dapat menentukan pasien Rata-rata lama waktu penerimaan ibu hamil
mana akan diberikan pertolongan segera. Bahkan dari datang di IGD PONEK hingga mendapatkan
saat sepi, triage tetap digunakan untuk menentu- kamar rawat inap bersalin berdasarkan SOP ada-
kan waiting time pasien sesuai kondisinya. Oleh lah 1 jam 30 menit untuk pasien rujukan kegawat-
karena itu, dengan mengetahui prinsip kerja tri- daruratan osbtetri. Namun, faktanya membutuh-
age, seorang pasien dapat memaklumi. Pasien kan lama waktu hingga 2-3 jam. Kendalanya, pada
pun tidak perlu merasa dinomor duakan. Petugas kesiapsiagaan tim medis yang belum merespon
ke- sehatan juga harus memberikan pemahaman cepat dan lama waktu persiapan kamar rawat inap.
kepada pasien dan keluarga sehingga tidak terjadi Hal ini perlu dievaluasi oleh RS agar melakukan
kesalahpahaman, seperti yang dikatakan Septiani, tugasnya dengan cepat dan mempunyai rasa em-
A bahwa petugas medis perlu memberikan infor- pati sebagai penolong keselamatan nyawa pasien.
masi dan pemahaman kepada pasien dan keluar- Lama waktu menunggu kamar rawat inap bersalin
ga agar tercapai tingkat kepuasan pada pelayanan seharusnya RS bisa mengupayakan persiapan yang
medis yag diberikan.14 Oleh karena itu, karena dibutuhkan ibu hamil dan bayinya dengan tinda-
terkadang pasien yang sedang mengalami sakit kan yang cepat karena pasien yang sakit, mengala-
psikologisnya menjadi lebih sensitif, cemburu dan mi perubahan psikologi yang terganggu, yaitu mu-
mudah marah karena tidak segera dilayani. Oleh dah marah atau sensitif dimana ingin mendapat-
karena itu, diupayakan tim medis di IGD melaku- kan pelayanan secepat mungkin dan tidak peduli
kan tindakan kepada pasien gawat darurat secara alasan apapun. Oleh karena itu, pihak rumah sakit

144
JURNAL MKMI, Vol. 14 No. 2, Juni 2018

mengupayakan dapat memberikan pelayanan ter- DAFTAR PUSTAKA


baiknya secara optimal dan menanggapi keluhan 1. Dinas Kesehatan Kota Semarang. Profil Kese-
pasien. Agar nantinya timbul rasa puas dan kesela- hatan Kota Semarang Tahun 2016. Semarang:
matan serta keamanan kepada pasien. Dinas Kesehatan Kota Semarang. 2017.
2. Dinas Kesehatan Kota Semarang. Profil Kese-
KESIMPULAN DAN SARAN hatan Kota Semarang Tahun 2015. Semarang:
Penelitian ini menyimpulkan bahwa res- Dinas Kesehatan Kota Semarang. 2016.
ponse time dalam proses rujukan pasien ibu ha- 3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indo-
mil dari puskesmas PONED menuju rumah sakit nesia Nomor 1 Tahun 2012 Tentang Sistem
PONEK belum memenuhi standar SOP yang ber- Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan.
laku. Hal ini dilihat dari lama waktu dari ibu hamil Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. 2012.
datang di puskesmas PONED hingga siap dirujuk 4. Puskesmas PONED Kota Semarang. Buku
membutuhkan waktu rata-rata 1-2 jam. Hal ini Register Pasien Rawat Inap Tahun 2014 Ma-
disebabkan oleh kesiapsiagaan tim medis belum ret 2017. Semarang: Puskesmas PONED Kota
merespon cepat, ibu hamil tidak membawa buku Semarang. 2017.
KIA dan kurang melengkapi persyaratan adminis- 5. Luti, I., Hasanbasri, M. dan Lazuardi, L.Ke-
trasi, sopir ambulans sulit dihubungi dan kelam- bijakan Pemerintah Daerah dalam Mening-
banan konfirmasi pemberian informasi dari rumah katkan Sistem Rujukan Kesehatan Daerah
sakit rujukan. Lama waktu proses rujukan di per- Kepulauan di Kabupaten Lingga Provinsi
jalanan ± 20-30 menit. Jika kondisi perjalanan ma- Kepulauan Riau. Jurnal Kebijakan Kesehatan
cet tetap berkisar waktu tersebut. Lama waktu dari Indonesia. 2012;1(1): 24–35.
pasien datang di rumah sakit PONEK hingga pa- 6. Chabibah, N. dan Chalidyanto, D.Analisis Ra-
sien di pindahkan ke ruang perawatan membutuh- sio Rujukan Puskesmas Berdasarkan Kemam-
kan waktu 2-3 jam. Hal ini disebabkan kesiapsia- puan Pelayanan Puskesmas. Jurnal Adminis-
gaan tim medis belum merespon cepat ketika pa- trasi Kesehatan Indonesia.2014;2:159–168.
sien datang dan persiapan kamar rawat inap. 7. Undang-Undang Republik Indonesia No. 44
Saran kepada ibu hamil yang datang ke tahun 2009 Tentang Rumah Sakit. Jakarta:
puskesmas membawa buku KIA, kartu jaminan Presiden Republik Indonesia. 2009.
kesehatan, KTP, KK, surat nikah, uang dan di- 8. Asmawi, Hadju, V dan Amiruddin, R. Pe-
dampingi keluarga. Kepada puskesmas menjelas- ngaruh Kompetensi terhadap Kinerja Perawat
kan kontrak kerja dengan sebaik-baiknya kepada Instalasi Gawat Darurat dalam Melakuakan
sopir ambulans dan meningkatkan koordinasi Triase di RSUD Kabupaten Majene. JST Ke-
dengan rumah sakit rujukan. Kepada rumah sakit sehatan. 2017;7(4):389–394.
jarak ruang IGD PONEK dan ruang jaga Dokter 9. Nasution M.S. Model Untuk Keberangka-
Spesialis Obgyn diharapkan bisa didekatkan serta tan dan Relokasi Fasilitas Ambulans [Tesis].
tim medis di IGD PONEK diupayakan ≤5 menit. Medan: Universitas Sumatra Utara; 2013.
Mengoptimalkan penggunaan sistem berbasis 10. Maatilu, V. Faktor-Faktor yang Berhubungan
komputer dalam pencarian kamar kosong rawat dengan Response Time Perawat pada Pena-
inap serta mempersiapkan ruang perawatan beser- nganan Pasien Gawat Darurat di IGD RSUP
ta perlengkapan yang dibutuhkan dengan cepat. Prof. DR. R.D. Kandous Manado. Jurnal Uni-
Diharapkan emergency service online 1 kali de- versitas Sumatera Barat [Online Journal] 2014
ring telpon bisa langsung diangkat dan diberi [diakses 12 Nopember 2017]. Dalam: http://
jawaban tanpa perujuk harus menunggu kepastian. ejournal.unsrat.ac.id.
Kepada Dinas Kesehatan Kota Semarang diharap- 11. Umaternate, T. Hubungan Pelaksanaan
kan SIJARIEMAS kualitasnya ditingkatkan de- Identifikasi Pasien Secara Benar dengan
ngan konfirmasi yang cepat dan lancar antara pe- Kepuasan Pasien di Instalasi Gawat Darurat
rujuk dengan penyedia layanan rujukan. (IGD) RSUP Prof. DR. R.D. Kandou Manado.
E-Jurnal Keperawatan. 2015;3(2):1–6.
12. Haryatun, N. dan Sudaryanto, A. Perbedaan

145
Dwi Ayu Tirtaningrum : Analisis Response Time Penatalaksanaan Rujukan Kegawatdaruratan Obstetri Ibu Hamil

Waktu Tanggap Tindakan Keperawatan Pasien D. Kandou Manado. Journal Keperawatan.


Darurat RSUD Dr . Moewardi. Berita Ilmu 2015;3(2):1-7.
Keperawatan. 2008;1(2):69-74. 14. Septiani, A. Pengaruh Faktor - Faktor Kual-
13. Purba Dewi Efasusanti, Kumaat Lucky T dan itas Pelayanan Terhadap Kepuasan Pasien di
Mulyadi. Hubungan Response Time dengan Instalasi Gawat Darurat RSUD Kabupaten
Kepuasan Keluarga Pasien Gawat Darurat Sumedang. Jurnal Ilmiah Manajemen. 2016;
Pada Triase Merah di IGD RSUP Prof. Dr. R. 7(1):1–21.

146