Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

SECTIO CAESARIA DENGAN INDIKASI FETAL DISTRESS PREEKLAMSI

A. KONSEP SECTIO CAESAR


1. Definisi
Istilah sectio caesaria berasal dari bahasa latin caedere yang berarti memotong atau
menyayat. Dalam ilmu obstetri, istilah tersebut mengacu pada tindakan pembedahan yang
bertujuan melahirkan bayi dengan membuka dinding perut dan rahim ibu (Fauziyah Y, 2012)
Sectio sesarea adalah pengeluaran janin melalui insisi abdomen. Teknik ini digunakan
jika kondisi ibu menimbulkan distres pada janin atau jika telah terjadi distres janin. Sebagian
kelainan yang sering memicu tindakan ini adalah malposisi janin, plasenta previa, diabetes
ibu, dan disproporsi sefalopelvis janin dan ibu. Sectio sesarea dapat merupakan prosedur
elektif atau darurat . Untuk sectio caesarea biasanya dilakukan anestesi spinal atau epidural.
Apabila dipilih anestesi umum, maka persiapan dan pemasangan duk dilakukan sebelum
induksi untuk mengurangi efek depresif obat anestesi pada bayi (Arif Muttaqin, 2013).

2. Klasifikasi
Menurut Green, J. C., (2012) klasifikasi atau tipe sectio caesaria terdiri atas :
a. Abdomen (sectio caesarea abdominalis)
1) SC klasik atau corporal
2) SC ismika atau profundal
3) SC ekstra peritonealis
b. Vagina (sectio caesarea vaginalis)

3. Indikasi
a. Indikasi ibu
1) Panggul sempit dan dystocia mekanis
a) Disproporsi fetopelvik
Disproporsi fetopelvik mencakup panggul sempit (contracted pelvis), fetus
yang tumbuhnya terlampau besar, atau adanya ketidak-imbangan relative antara
ukuran bayi dan ukuran pelvis. Yang ikut menimbulkan masalah disproporsi
adalah bentuk pelvis, presentasi fetus serta kemampuannya untuk moulage dan
masuk panggul, kemampuan berdilatasi pada cervix, dan keefektifan kontraksi
uterus
b) Malposisi dan malpresentasi
Abnormalitas ini dapat menyebabkan perlunya sectio caesarea pada bayi
yang dalam posisi normal dapat dilahirkan pervaginam. Bagian terbesar dari
peningkatan insidensi sectio caesarea dalam kelompok ini berkaitan dengan
presentasi bokong. Barangkali sepertiga dari presentasi bokong harus dilahirkan
lewat abdomen. Bukan saja akibat langsung kelahiran vaginal terhadap janin lebih
buruk pada presentasi bokong disbanding pada presentasi kepala, tetapi juga
terbukti adanya pengaruh jangka panjang sekalipun kelahiran tersebut tanpa
abnormalitas. Ada perkiraan bahwa persalinan kaki dan bokong bayi premature
yang viable paling baik dilakukan melalui sectio caesarea
c) Disfungsi uterus
Disfungsi uterus mencakup kerja uterus yang tidak terkoordinasikan, inertia,
cincin konstriksi dan ketidakmampuan dilatasi cervix. Partus menjadi lama dan
kemajuannya mungkin terhenti sama sekali. Keadaan ini sering disertai
disproporsi dan malpresentasi.
d) Distosia jaringan lunak
Distosia jaringan lunak (soft tissue dystocia) dapat menghalangi atau
mempersulit kelahiran yang normal. Ini mencakup keadaan seperti cicatrix pada
saluran genitalia, kekakuan cervix akibat cedera atau pembedahan, dan atresia
atau stenosis vagina. Kelahiran vaginal yang dipaksa akan mengakibatkan laserasi
yang luas dan perdarahan
e) Neoplasma
Neoplasma yang menyumbat pelvis menyebabkan persalinan normal tidak
mungkin terlaksana. Kanker invasive cervix yang didiagnosis pada trimester
ketiga kehamilan dapat diatasi dengan sectio caesarea yang dilanjutkan dengan
terapi radiasi, pembedahan radikal ataupun keduanya
f) Persalinan yang tidak dapat maju
Dalam kelompok ini termasuk keadaan – keadaan seperti disproporsi
cephalopelvik, kontraksi uterus yang tidak efektif, pelvis yang jelek, bayi yang
besar dan defleksi kepala bayi. Sering diagnosis tepat tidak dapat dibuat dan pada
setiap kasus merupakan diagnosis akademik. Keputusan ke arah sectio caesarea
dibuat berdasarkan kegagalan persalinan untuk mencapai dilatasi cervix dan atau
turunnya fetus, tanpa mempertimbangkan etiologinya.

2) Pembedahan sebelumnya pada uterus


a) Sectio caesaria
Pada sebagian besar Negara ada kebiasaan yang dipraktekkan akhir-akhir ini,
yaitu setelah prosedur pembedahan caesaria dikerjakan, maka semua kehamilan
yang mendatang harus diakhiri dengan cara yang sama. Bahaya rupture lewat
tempat insisi sebelumnya dirasakan terlalu besar. Akan tetapi, pada kondisi
tertentu ternyata bisa dilakukan trial of labor dengan kemungkinan persalinan
lewat vagina. Kalau upaya ini berhasil, baik morbiditas maternal maupun lamanya
rawat inapakan berkurang.
b) Histerotomi
Kehamilan dalam uterus akan disertai bahaya rupture uteri bila kehamilan
sebelumnya diakhiri dengan histerotomi. Resikonya sama seperti resiko sectio
caesarea klasik. Histerotomi kalau mungkin harus dihindari dengan pertimbangan
bahwa kehamilan berikutnya akan mengharuskan sectio caesaria.
3) Pendarahan
a) Placenta previa
Sectio caesarea untuk placenta previa centralis dan lateralis telah menurunkan
mortalitas fetal dan maternal. Keputusan akhir diambil melalui pemeriksaan
vaginal dalam kamar operasi dengan menggunakan double setup. Darah sudah
tersedia dan sudah dicocokkan (cross-matching). Team dokter bedah harus sudah
siap sedia. Jika pada pemeriksaan vaginal ditemukan placenta previa centralis atau
partialis, sectio caesarea segera dikerjakan.
b) Abruptio placentae
Abruptio placentae yang terjadi sebelum atau selama persalinan awal dapat
diatasi dengan pemecahan ketuban dan pemberian tetesan oxytocin. Kalau
perdarahannya hebat, cervix mengeras dan menutup atau kalau ada kecurigaan
apoplexia uteroplacental, maka diperlukan sectio caesarea untuk menyelamatkan
bayi, mengendalikan perdarahan, mencegah afibrinogenemia dan untuk
mengamati keadaan uterus serta kemampuannya berkontraksi dan mengendalikan
perdarahan. Pada sebagian kasus diperlukan tindakan histeroktomi.

4) Toxemia gravidarum
Toxemia gravidarum dapat menyebabkan pengakhiran kehamilan sebelum
waktunya. Pada sebagian besar kasus, pilihan metodenya adalah induksi
persalinan. Kalau cervix belum matang dan induksi sukar terlaksana, sebaiknya
dikerjakan sectio caesarea.

5) Lain – lain
a) Primigraviditas usia
b) lanjut
c) Bekas jahitan pada vagina
d) Anomali uteri congenital
e) Riwayat obstetric yang jelek
f) Forceps yang gagal
g) PEB (Pre Eklamsi Berat)
h) KPD ( Ketuban Pecah Dini)
b. Indikasi fetal
1) Gawat janin
2) Cacat atau kematian janin sebelumnya
3) Prolapsus funiculus umbilicalis
4) Insufisiensi plasenta
5) Diabetes maternal
6) Inkompatibilitas rhesus
7) Postmortem caesarean
8) Infeksi virus herpes pada traktus genitalis
9) Kelainan Letak Janin
Kelainan-kelainan janin menurut Mochtar (2014) antara lain :
a) Kelainan pada letak kepala
 Letak kepala tengadah
Bagian terbawah adalah puncak kepala, pada pemeriksaan dalam teraba
UUB yang paling rendah.Etiologinya kelainan panggul, kepala bentuknya
bundar, anaknya kecil atau mati, kerusakan dasar panggul.
 Presentasi muka
Letak kepala tengadah (defleksi), sehingga bagian kepala yang terletak
paling rendah ialah muka. Hal ini jarang terjadi, kira-kira 0,27-0,5%
 Presentasi dahi
Posisi kepala antara fleksi dan defleksi, dahi berada pada posisi terendah dan
tetap paling depan. Pada penempatan dagu, biasanya dengan sendirinya akan
berubah menjadi letak muka atau letak belakang kepala.
 Letak Sungsang
Janin yang letaknya memanjang (membujur) dalam rahim, kepala berada di
fundus dan bokong di bawah). Letak sungsang merupakan keadaan dimana
janin terletak memanjang dengan kepala difundus uteri dan bokong berada di
bagian bawah kavum uteri.Dikenal beberapa jenis letak sungsang, yakni
presentasi bokong, presentasi bokong kaki, sempurna, presentasi bokong
kaki tidak sempurna dan presentasi kaki.
10) Bayi kembar
11) Faktor hambatan jalan lahir

(Green, J. C., 2012)


4. Kontra Indikasi
a. Bila janin sudah mati atau keadaan buruk dalam uterus sehingga kemungkinan hidup kecil,
dalam hal ini tidak ada alasan untuk melakukan operasi
b. Bila ibu dalam keadaan syok, anemia berat yang belum teratasi
c. Bila jalan lahir ibu mengalami infeksi luas
d. Adanya kelainan kongenital berat

B. KONSEP FETAL DISTRESS PREEKLAMSI


1. Definisi
Fetal Distres (Gawat Janin) adalah kondisi hipoksia yang bila tidak dilakukan penyelamatan
akan berakibat buruk.Hipoksia adalah keada jaringan yang kurang oksigen,sedangkan hipoksemia
adalah kadar oksigen dalam darah yang kurang (A.Samik Wahab, (dalam Purwaningsih, 2010)
Preeklampsia adalah kelainan multiorgan spesifik pada kehamilan yang ditandai dengan
terjadinya hipertensi, edema, dan proteinuria tetapi tidak menunjukkan tanda-tanda kelainan
vaskuler atau hipertensi sebelumnya, sedangkan gejalanya muncul setelah kehamilan berumur 20
minggu (Obgynacea (dalam Green, J. C., 2012).

2. Klasifikasi
Klasifikasi pre eklamsia dibagi menjadi 2 yaitu sebagai berikut:
a. Pre eklamsia ringan
Pre eklamsia ringan ditandai dengan:
1) Tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih yang diukur pada posisi berbaring terlentang;
kenaikan diastolik 15 mmHg atau lebih dari tensi baseline (tensi sebelum kehamilan 20
minggu); dan kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih. Cara pengukuran sekurang-kurangnya
pada 2 kali pemeriksaan dengan jarak periksa 1 jam, atau berada dalam interval 4-6 jam.
2) Edema umum, kaki, jari tangan, dan muka; kenaikan berat badan 1 kg atau lebih dalam
seminggu.
3) Proteinuria kuantatif 0,3 gr atau lebih per liter; kualitatif 1 + atau 2 + pada urin kateter atau
midstream (aliran tengah).
b. Pre eklamsia berat
Pre eklamsia berat ditandai dengan:
1) Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih.
2) Proteinuria 5 gr atau lebih per liter.
3) Oliguria, yaitu jumlah urin kurang dari 500 cc per 24 jam .
4) Adanya gangguan serebral atau kesadaran, gangguan visus atau penglihatan, dan rasa nyeri
pada epigastrium.
5) Terdapat edema paru dan sianosis
6) Kadar enzim hati (SGOT, SGPT) meningkat disertai ikterik.
7) Perdarahan pada retina.
8) Trombosit kurang dari 100.000/mm.

Preeklampsia berat dibagi menjadi:


a) Preeklampsia berat tanpa impending eclampsia
b) Preeklampsia berat dengan impending eclampsia.
Disebut impending eclampsia bila preeklampsia berat disertai gejala-gejala subjektif
berupa :
 Muntah-muntah
 Sakit kepala yang keras karena vasospasm atau oedema otak
 Nyeri epigastrium karena regangan selaput hati oleh haemorrhagia atau oedema, atau sakit
karena perubahan pada lambung
Gangguan penglihatan: penglihatan menjadi kabur sampai terkadang buta. Hal ini
disebabkan karena vasospasm, oedema atau ablation retinae. Perubahan – perubahan ini dapat
dilihat dengan ophtalmoskop
(Angsar, (dalam Green, J. C., 2012).

3. Etiologi
Penyebab potensial terjadinya preeklamsia pada ibu hamil adalah sebagai berikut:
1. Invasi trofoblas abnormal pada pembuluh darah rahim.
2. Intoleransi imunologi antara jaringan ibu dan fetoplacental.
3. Maladaptasi ibu terhadap perubahan kardiovaskular atau perubahan respon inflamasi dari
kehamilan normal.
4. Faktor defisiensi nutrisi.
5. Faktor genetic
(Fauziyah Y, 2012)
4. Manifestasi Klinik
Digolongkan preeclampsia berat bila ditemukan satu atau lebih gejala sebagai berikut:
 Tekanan darah sistolik ≥160 mmHg dan tekanan darah diastolic ≥ 110 mmHg. Tekanan
darah tidak turun meskipun ibu hamil sudah dirawat di rumah sakit dan sudah menjalani
tirah baring.
 Proteinuria lebih 5 g/24 jam atau 4+ dalam pemeriksaan kualitatif.
 Oliguria, yaitu produksi urin <500 cc/24 jam.
 Peningkatan kreatinin plasma (>1.2 mg/dL).
 Gangguan visus dan serebral: penurunan kesadaran, nyeri kepala, skotoma, dan
pandangan kabur.
 Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen (akibat teregangnya
kapsula Glisson oleh karena nekrosis hepatoseluler, iskemia, dan edema).
 Gangguan fungsi hepar (peningkatan kadar AST dan ALT)
 Edema paru-paru dan sianosis.
 Hemolisis mikroangiopati (ditandai dengan peningkatan LDH)
 Trombositopenia (<100.000/mm3)
 Pertumbuhan janin intra uterin yang terlambat.
 Sindrom HELLP.
(Fauziyah Y, 2012)
5. Patofisiologi

Adanya beberapa kelainan/hambatan pada prosespersalinan yang menyebabkan bayi tidak dapat
lahirsecara normal / spontan, misalnya plasenta previasentralis dan lateralis, panggul sempit,
disproporsicephalo pelvic, rupture uteri mengancam, partuslama, partus tidak maju, pre-eklamsia,
distosiaserviks, dan malpresentasi janin. Kondisi tersebutmenyebabkan perlu adanya suatu
tindakan pembedahanyaitu Sectio Caesarea (SC). Dalam proses operasinya dilakukan tindakananestesi
yang akan menyebabkan pasien mengalamiimobilisasi sehingga akan menimbulkan
masalahintoleransi aktivitas. Adanya kelumpuhan sementaradan kelemahan fisik akan menyebabkan
pasien tidakmampu melakukan aktivitas perawatan diri pasien secara mandiri sehingga timbul
masalah defisitperawatan diri.Kurangnya informasi mengenai prosespembedahan, penyembuhan,
dan perawatan post operasiakan menimbulkan masalah ansietas pada pasien.

Selain itu, dalam proses pembedahan juga akandilakukan tindakan insisi pada dinding abdomensehingga
menyebabkan terputusnya inkontinuitasjaringan, pembuluh darah, dan saraf - saraf disekitar daerah
insisi. Hal ini akan merangsangpengeluaran histamin dan prostaglandin yang akanmenimbulkan rasa
nyeri (nyeri akut). Setelah prosespembedahan berakhir, daerah insisi akan ditutup
danmenimbulkan luka post op, yang bila tidak dirawatdengan baik akan menimbulkan masalah
risiko infeksi.

.
PATHWAY
Kelainan / hambatan proses Aliran darah tersumbat
Faktor Ibu Hipertensi Fetal Distress
persalinan

Tindakan Pembedahan
Sectio Caesar

Pre Op Intra Post Op

Tindakan Invasif Anastesi Pemasangan Plat Efek anastesi


Kurangnya terpapar informasi Pemaparan suhu
Diartermi
mengenai prosedur pembedahan ruangan rendah

Perdarahan
Risiko Cidera
Ansietas Resiko
Risiko Syok Hipotermi

Luka Post Op
GA
SAB
Resiko Infeksi Nyeri akut
Penurunan
Penurunan Motorik /
kesadaran
Kelemahan anggota
gerak
Apnea

Resiko bersihan jalan


Resiko Jatuh napas tidak efektif
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan pada pasien dengan pre eklamsia yaitu sebagai
berikut:
a. Pemeriksaan Laboratorium
1) Pemeriksaan Darah Lengkap dan Apusan Darah
a) Penurunan hemoglobin (nilai rujukan atau kadar normal hemoglobin untuk wanita hamil
adalah 12-14 gr%).
b) Hematokrit meningkat (nilai rujukan 37-43 vol%).
c) Trombosit menurun (nilai rujukan 150.000-450.000/mm3)
2) Urinalisis
Ditemukan protein dalam urine.
3) Pemeriksaan Fungsi Hati
a) Bilirubin meningkat (N= < 1 mg/dL).
b) LDH (laktat dehidrogenase) meningkat.
c) Aspartat aminomtransferase (AST) > 60 uL.
d) Serum Glutamat Pirufat Transaminase (SGPT) meningkat (N= 15-45 u/ml)
e) Serum Glutamat Oxaloacetic transaminase (SGOT) meningkat (N= < 31 u/ml)
f) Total protein serum menurun (N= 6,7 – 8,7 g/dL)
4) Tes Kimia Darah
Asam urat meningkat > 2,7 mg/dL, dimana nilai normalnya yaitu 2,4 – 2,7 mg/dL
b. Pemeriksaan Radiologi
1) Ultrasonografi (USG).
Hasil USG menunjukan bahwa ditemukan retardasi perteumbuhan janin intra uterus.
Pernafasan intrauterus lambat, aktivitas janin lambat, dan volume cairan ketuban sedikit.
2) Kardiotografi
Hasil pemeriksaan dengan menggunakan kardiotografi menunjukan bahwa denyut jantung
janin lemah

7. Penatalaksanaan
Dasar pengelolaan PEB terbagi menjadi dua. Pertama adalah pengelolaan terhadap
penyulit yang terjadi, kedua adalah sikap terhadap kehamilannya.
Penanganan penyulit pada PEB meliputi :
a. Pencegahan Kejang
• Tirah baring, tidur miring kiri
• Infus RL atau RD5
• Pemberian anti kejang MgSO4 yang terbagi menjadi dua tahap, yaitu :
- Loading / initial dose : dosis awal
- Maintenance dose : dosis rumatan
 Pasang Foley catheter untuk monitor produksi urin

Tabel 1. Tatacara Pemberian SM pada PEB


Loading dose Maintenance dose
SM 20 % 4 g iv pelan-pelan - SM 40 % 10 g im, terbagi pada
selama 5 menit glutea kiri dan kanan
- SM 40 % 5 g per 500 cc RD5 30
tts/m
1. SM rumatan diberikan sampai
24 jam pada perawatan
konservatif dan 24 jam setelah
persalinan pada perawatan aktif
Syarat pemberian SM :
- Reflex patella harus positif
- Respiration rate > 16 /m
- Produksi urine dalam 4 jam 100cc
- Tersedia calcium glukonas 10 %
Antidotum :
Bila timbul gejala intoksikasi SM dapat diberikan injeksi Calcium
gluconas 10 %, iv pelan-pelan dalam waktu 3 menit
Bila refrakter terhadap SM dapat diberikan preparat berikut :
1. Sodium thiopental 100 mg iv
2. Diazepam 10 mg iv
3. Sodium amobarbital 250 mg iv
4. Phenytoin dengan dosis :
- Dosis awal 100 mg iv
- 16,7 mg/menit/1 jam
500 g oral setelah 10 jam dosis awal diberikan selama 14 jam
b. Antihipertensi
• Hanya diberikan bila tensi ≥ 180/110 mmHg atau MAP ≥ 126
• Bisa diberikan nifedipin 10 – 20 mg peroral, diulang setelah 30 menit, maksimum 120
mg dalam 24 jam
• Penurunan darah dilakukan secara bertahap :
- Penurunan awal 25 % dari tekanan sistolik
- Target selanjutnya adalah menurunkan tekanan darah < 160/105 mmHg atau MAP <
125
c. Diuretikum
Tidak diberikan secara rutin karena menimbulkan efek :
• Memperberat penurunan perfusi plasenta
• Memperberat hipovolemia
• Meningkatkan hemokonsentrasi
Indikasi pemberian diuretikum :
1. Edema paru
2. Payah jantung kongestif
3. Edema anasarka

Berdasarkan sikap terhadap kehamilan, perawatan pada pasien PEB dibedakan menjadi
perawatan konservatif dan perawatan aktif.
a. Perawatan konservatif
1. Tujuan :
• Mempertahankan kehamilan hingga tercapai usia kehamilan yang memnuhi syarat
janin dapat hidup di luar rahim
• Meningkatkan kesejahteraan bayi baru lahir tanpa mempengaruhi keselamatan ibu
2. Indikasi :
Kehamilan < 37 minggu tanpa disertai tanda dan gejala impending eklampsia
3. Pemberian anti kejang :
Seperti Tabel 1 di atas, tapi hanya diberikan maintainance dose ( loading dose tidak
diberikan )
4. Antihipertensi
Diberikan sesuai protokol untuk PER.
5. Induksi Maturasi Paru
Diberikan injeksi glukokortikoid, dapat diberikan preparat deksametason 2 x 16 mg iv/24
jam selama 48 jam atau betametason 24 mg im/24 jam sekali pemberian.
6. Cara perawatan :
• Pengawasan tiap hari terhadap gejala impending eklampsia
• Menimbang berat badan tiap hari
• Mengukur protein urin pada saat MRS dan tiap 2 hari sesudahnya
• Mengukur tekanan darah tiap 4 jam kecuali waktu tidur
• Pemeriksaan Lab : DL, LFT, RFT, lactic acid dehydrogenase, Albumin serum dan
faktor koagulasi
• Bila pasien telah terbebas dari kriteria PEB dan telah masuk kriteria PER, pasien
tetap dirawat selama 2 – 3 hari baru diperbolehkan rawat jalan. Kunjungan rawat
jalan dilakukan 1 minggu sekali setelah KRS.
7. Terminasi kehamilan
• Bila pasien tidak inpartu, kehamilan dipertahankan sampai aterm
• Bila penderita inpartu, persalinan dilakukan sesuai dengan indikasi obstetrik
b. Perawatan aktif
1. Tujuan : Terminasi kehamilan
2. Indikasi :
(i). Indikasi Ibu :
• Kegagalan terapi medikamentosa :
- Setelah 6 jam dimulainya terapi medikamaentosa terjadi kenaikan tekanan
darah persisten
- Setelah 34 jam dimulainya terapi medikamentosa terjadi kenaikan tekanan
darah yang progresif
• Didapatkan tanda dan gejala impending preeclampsia
• Didapatkan gangguan fungsi hepar
• Didapatkan gangguan fungsi ginjal
• Terjadi solusio plasenta
• Timbul onset persalinan atau ketuban pecah
(ii). Indikasi Janin
• Usia kehamilan ≥ 37 minggu
• PJT berdasarkan pemeriksaan USG serial
• NST patologis dan Skor Biofisikal Profil < 8
• Terjadi oligohidramnion
(iii). Indikasi Laboratorium
• Timbulnya HELLP syndrome
3. Pemberian antikejang : Seperti protokol yang tercantum pada tabel 1.
4. Terminasi kehamilan :
Bila tidak ada indikasi obstetrik untuk persalinan perabdominam, mode of delivery
pilihan adalah pervaginam dengan ketentuan sebagai berikut :
(i) Pasien belum inpartu
• Dilakukan induksi persalinan bila skor pelvik ≥ 8. Bila skor pelvik < 8 bisa
dilakukan ripening dengan menggunakan misoprostol 25 μg intravaginal tiap 6
jam. Induksi persalinan harus sudah mencapai kala II sejak dimulainya induksi,
bila tidak maka dianggap induksi persalinan gagal dan terminasi kehamilan
dilakukan dengan operasi sesar.
• Indikasi operasi sesar :
- Indikasi obstetrik untuk operasi sesar
- Induksi persalinan gagal
- Terjadi maternal distress
- Terjadi fetal compromised
- Usia kehamilan < 33 minggu
(ii) Pasien sudah inpartu
• Perjalanan persalinan dilakukan dengan mengikuti partograf
• Kala II diperingan
• Bila terjadi maternal distress maupun fetal compromised, persalinan dilakukan
dengan operasi sesar
• Pada primigravida direkomendasikan terminasi dengan operasi sesar

8. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada pasien dengan pre eklamsia tergantung pada derajat pre
eklamsia yang dialami. Namun yang termasuk komplikasi pre eklamsia antara lain:
a. Komplikasi pada Ibu
1) Eklamsia, tekanan darah meningkat dan dapat menyebabkan perdarahan otak dan gagal
jantung mendadak yang berakibat pada kematian ibu.
2) Gangguan fungsi hati: Sindrom HELLP (Hemolisis, Elevated, Liver, Enzymes and Low
Plateleted). Sindrom HELLP merupakan singkatan dari hemolisis (pecahnya sel darah
merah), meningkatnya enzim hati, serta rendahnya jumlah platelet/trombosit darah. HELLP
syndrome dapat secara cepat mengancam kehamilan yang ditandai dengan terjadinya
hemolisis, peningkatan kadar enzim hati, dan hitung trombosit rendah. Gejalanya yaitu
mual, muntah, nyeri kepala, dan nyeri perut bagian kanan atas.
3) Solutio plasenta.
4) Hipofebrinogemia yang berakibat perdarahan.
5) Gangguan fungsi ginjal: oligo sampai anuria.
6) Perdarahan atau ablasio retina yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan untuk
sementara.
7) Aspirasi dan edema paru-paru yang dapat mengganggu pernafasan.
8) Cedera fisik karena lidah tergigit, terbentur atau terjatuuh dari tempat tidur saat serangan
kejang.
9) DIC (Disseminated Intravascular Coagulation) atau kelainan pembekuan darah.
b. Komplikasi pada Janin
1) Hipoksia karena solustio plasenta., terhambatnya pertumbuhan janin dalam uterus sehingga
terjadi peningkatan angka morbiditas dan mortalitas perinatal.
2) Asfiksia mendadak atau asfiksia neonatorum karena spasme pembuluh darah dan dapat
menyebabkan kematian janin (IUFD).
3) Lahir prematur dengan risiko HMD (Hyalin Membran Disease).
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1. Fase Pre Operatif


a. Pengkajian Pre Operatif
Pengkajian pre operatif meliputi:
(1). Pengkajian Umum
- Identitas pasien.
- Jenis pekerjaan.
- Persiapan umum (inform consent, formulir checklist).
(2). Riwayat Kesehatan
- Riwayat alergi.
- Kebiasaan merokok, alkohol, narkoba.
- Pengkajian nyeri.(PQRST).
(3). Pengkajian Psikososiospiritual
- Kecemasan pra operatif.
- Perasaan.
- Konsep diri, citra diri.
- Sumber koping.
- Kepercayaan spiritual.
- Pengetahuan, persepsi, dan pemahaman.
(4). Pemeriksaan Fisik
- Keadaan umum dan tanda- tanda vital.
- Pengkajian tingkat kesadaran.
(5). Pengkajian Diagnostik
- Pemeriksaan darah lengkap.
- Analisis elektrolit serum, koagulasi, kreatinin serum, dan urinalisis.
- Pemeriksaan skrining tambahan apabila usia di atas 40 tahun, atau pasien yang
mempunyai riwayat penyakit jantung, maka diperlukan pemeriksaan foto dada,
EKG atau pemeriksaan yang lainnya sesuai dengan kebutuhan diagnosis pra bedah.
b. Diagnosis Keperawatan Pre Operatif
1) Kecemasan berhubungan dengan suasana menjelang pembedahan.
2) Risiko tinggi injury berhubungan dengan transfer dan transport pasien ke branchart/
meja operasi.
3) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kondisi dan
kebutuhan pengobatan.
c. Rencana Intervensi Pre Operatif dan Kriteria Evaluasi
a) Diagnosa 1
Kecemasan berhubungan dengan suasana menjelang pembedahan
Tujuan ;
Dalam waktu 1 x 24 jam kecemasan pasien hilang/berkurang
Kriteria evaluasi:
Pasien melaporkan kecemasan menurun sampai tingkat yang dapat ditangani
Intervensi:
(1) Mandiri : saat pasien masuk ruang sementara sambut dan panggil namanya.
(2) Beri lingkungan yang tenang, jangan bicara tentang pembedahan
(3) Orientasikan pasien terhadap prosedur pra-induksi dan aktivitas yang diharapkan
(4) Beri kesempatan pasien untuk mengungkapkan kecemasannya
(5) Kolaborasi berikan obat anti cemas sesuai indikasi
b) Diagnosa 2
Resiko tinggi injury berhubungan dengan transfer dan trasport pasien ke
branchart/meja operasi
Tujuan :
Dalam waktu 1 x 24 jam tidak terjadi injury pada pasien
Kriteria Evaluasi :
Persiapan pra bedah terlaksana dengan optimal
Intervensi:
(1) Bantu pasien berpindah dari branchart ke kursi roda kamar operasi
(2) Angkat pasien dari branchart ke meja operasi dengan 3 orang
(3) Dorong pasien ke ruang tindakan dengan hati-hati
c) Diagnosa 3
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya infoemasi tentang kondisi dan
kebutuhan pengobatan
Tujuan :
Dalam waktu 1 x 24 jam pemahaman pasien terhadap informasi terpenuhi
Kriteria evaluasi :
Adanya saling pengertian tentang prosedur pembedahan dan penanganannya, pasien
berpartisipasi dalam program penanganan.
Intervensi :
(1) Dorong pasien mengekspresikan pikiran, perasaan dan pandangan dirinya
(2) Dorong pasien untuk bertanya mengenai masalah penanganan, perkembangan
dan prognosa kesehatan
(3) Berikan informasi yang dapat dipercaya dan diperkuat dengan informasi yang
diberikan
2. Fase Intra Operatif
a. Pengkajian Intra Operatif
Pengkajian keperawatan yang dilakukan selama tahap intra operatif meliputi 4 hal, yaitu:
1) Safety manajemen
2) Pengaturan posisi pasien
3) Monitoring fisiologis
a) Melakukan balance cairan (intake output).
b) Memantau kondisi cardio pulmunal (fungsi pernapasan, pulse, TD, saturasi
oksigen, perdarahan).
4) Monitoring psikologis (bila pasien dalam keadaan sadar)
a) Memberi dukungan emosional kepada pasien.
b) Mengkaji status emosional pasien dan mengkomunikasikannya kepada tim bedah
bila terjadi adanya suatu perubahan yang tidak diharapkan.

b. Diagnosis Perawatan Intra Operatif


1) Resiko tinggi cedera intra operatif berhubungan dengan pengaturan posisi bedah dan
prosedur invasif bedah.
2) Resiko infeksi intra operatif berhubungan dengan adanya port de entree prosedur
bedah.

c. Rencana Intervensi
1) Diagnosa I
Resiko tinggi cidera intra operatif berhubungan dengan pengaturan posisi bedah dan
prosedur invansif bedah
Tujuan :
Resiko cidera intra operatif sekunder pengaturan posisi bedah tidak terjadi
Kriteria evaluasi :
- Selama intra operatif tidak terjadi gangguan hemodinamik
- Penghitungan sponges dan instrumen sesuai dengan jumlah yang dikeluarkan
- Pasca operasi tidak ditemukan cedera tekan dan cedera listrik
Intervensi :
(1) Kaji ulang identitas pasien
(2) Siapkan kamar bedah sesuai dengan jenis pembedahan pasien
(3) Siapkan sarana pendukung pembedahan
(4) Siapkan alat hemostasis dan cadangan dalam kondisi siap pakai
(5) Lakukan pemasangan katheter dengan tehnik steril
(6) Lakukan pengaturan posisi bedah
(7) Bantu ahli bedah pada saat memulai insisi, melakukan intervensi hemostasis,
membuka jaringan lapis demi lapis,lakukan penghisapan bila diperlukan, dan
bantu ahli bedah pada saat akses bedah tercapai sesuai dengan tujuan
pembedahan yang dilakukan sampai menutup jaringan
2) Diagnosa 2
Resiko infeksi intra operatif berhubungan dengan adanya port de antry prosedur
bedah.
Tujuan :
Optimalisasi tindakan asepsis dapat dilaksanakan selama prosedurbedah
Kriteria evaluasi ;
Luka pasca operasi tertutup rapi dengan kasa steril
Intervensi :
(1) Siapkan sarana scrub
(2) Siapkan instrumen sesuai dengan jenis pembedahan
(3) Lakukan manajemen asepsis pra bedah
(4) Lakukan manajemen asepsis intra operatif
(5) Lakukan penutupan luka pembedahan

3) Fase Post Operatif


a. Pengkajian
Pengkajian Implikasi dan Hasil Pengkajian
Pengkajian Pengkajian awal post operatif adalah sebagai berikut:
Awal Diagnosis medis dan jenis pembedahan yang dilakukan.
Usia dan kondisi umum pasien, kepatenan jalan napas,
TTV.
Anesthesi dan medikasi lain yang digunakan.
Semua masalah yang terjadi di ruang operasi yang
mungkin mempengaruhi perawatan post operatif (henti
jantung, perdarahan, syok).
Cairan yang diberikan, kehilangan,penggantian.
Segala selang, drain, katheter atau alat bantu pendukung
lainnya.
Informasi spesifik tentang siapa ahli bedahatau ahli
anesthesi yang akan diberitau.
Sistem Kontrol Pernapasan
Pernapasan Obat anesthesi tertentu dapat menyebabkan depresi
pernapasan. Perawat perlu waspada pernapasan yang
dangkal dan lemah.
Perawat mengkaji frekuensi, irama, kedalaman
pernapasan, kesimetrisan gerakan dinding dada, bunyi
napas, warna membran mukosa.
Kepatenan Jalan Napas
Oral airway masih dipasang untuk mempertahankan
kepatenan jalan napas sampai tercapai pernapasan yang
nyaman dengan kecepatan normal.
Salah satu kekhawatiran perawat adalah obstruksi jalan
napas akibat aspirasi muntah, akumulasi sekresi mukosa
di faring, atau spasme faring.

Sistem Sirkulasi
Pengkajian Implikasi dan Hasil Pengkajian
Respon Perdarahan post Operatif
Masalah sirkulasi yang sering terjadi adalah perdarahan.
Perdarahan dapat mengakibatkan turunnya TD,
meningkatnya denyut jantung dan pernapasan, pulse
lemah, kulit dingin, pucat dan gelisah.
Perawat harus selalu waspada dengan drainage di bawah
tubuh pasien.

Kontrol Suhu Lingkungan ruang operasi dan ruang pemulihan sangat


dingin.
Ukur suhu tubuh pasien dan berikan selimut hangat.
Menggigil mungkin disebabkan oleh pengaruh obat
anesthesi tertentu.

Status Bersamaan dengan hilangnya efek anesthesi maka


Neurologi refleks, kekuatan otot dan tingkat orientasi pasien akan
kembali normal.
Perawat mengkaji tingkat kesadaran pasien (berespon,
bingung, atau disorientasi).
Perawat dapat memeriksa pupil, reflek muntah.
Kaji tingkat respon sensibilitas dengan membandingkan
peta dermatom untuk menilai kembalinya fungsi sensasi
taktil.
Jelaskan bahwa pembedahan telah selesai dan beri
gambaran tentang prosedur dan tindakan perawatan di
ruang pulih sadar.

Respon Nyeri Nyeri mulai terasa sebelum kesadaran pasien kembali


penuh. Nyeri akut akibat insisi menyebabkan pasien
gelisah TTV berubah.
Skala nyeri merupakan metode efektif untuk mengkaji
nyeri post operatif, digunakan sebagai dasar bagi
perawat untuk mengevaluasi efektivitas intervensi
selama pemulihan.

Genitourinari Dalam waktu 6-8 jam setelah anesthesi pasien akan


mendapatkan kontrol fungsi berkemih secara volunter.
Kandung kemih yang penuh menyebabkan nyeri.
Bila telah terpasang katheter sedikitnya harus
2cc/kgBB/jam untuk dewasa dan 1cc/kgBB/jam untuk
anak- anak.
Observasi warna dan bau urine.
Pembedahan yang melibatkan saluran perkemihan akan
menyebabkan urine mengandung darah ± selama 12-24
jam setelah pembedahan.
Pengkajian Implikasi dan Hasil Pengkajian

Sistem Anesthesi memperlambat motilitas usus dan


Gastrointes- menyebabkan mual.
Tinal Kaji adanya distensi abdomen yang mungkin terjadi
akibat akumulasi gas, perdarahan internal.

Keseimba-ngan Kaji status hidrasi, monitor fungsi jantung dan neurologi


cairan dan untuk melihat adanya perubahan elektrolit.
elektrolit Satu- satunya sumber asupan cairan untuk pasien segera
setelah pembedahan adalah melalui infus. Jaga
kepatenan infus IV.
Catatan intake output berguna membantu proses
pengkajian fungsi ginjal dan sirkulasi.
Integritas Kulit, Kaji kondisi kulit pasien, melihat adanya kemerahan,
Kondisi Luka, ptekie, abrasi atau luka bakar.
dan Drainage Kemerahan menunjukkan adanya sensitivitas terhadap
obat atau alergi.
Abrasi dan ptekie dapat terjadi karena posisi yang
kurang tepat atau pengikatan yang menyebabkan cedera
pada lapisan kulit.
Luka bakar menunjukkan bahwa bantalan arde couter
listrik tidak terpasang dengan benar.
Observasi jumlah, warna, bau, dan konsistensi drainage.

(Sumber: Arif Muttaqin, 2013)

b. Diagnosis Perawatan Post Operatif


1) Resiko tinggi pola napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kontrol
pernapasan efek sekunder anesthesi.
2) Nyeri berhubungan dengan cedera jaringan lunak, kerusakan neurovaskular pasca
bedah.

c. Rencana Intervensi
1) Diagnosa 1
Resiko tinggi pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kontrol
pernafasan efek sekunder anestesi
Tujuan :
Mengefektifkan jalan nafas, mempertahankan ventilasi pulmonal,mencegah
hypoksemia ( penurunan kadar oksigen dalam darah) dan hypercapnea ( kelebihan
karbondioksida dalam darah )
Kriteria Evaluasi:
- Frekwensi pernafasan dalam batas normal
- Pasien tidak menggunakan alat bantu nafas
- Tidak terdengar suara nafas tambahan
- Oral airway dapat dilepas tanpa komplikasi
Intervensi:
( 1) Atur tempat pasien dekat dengan akses oksigen dan suction
( 2) Kaji dan observasi jalan nafas
( 3) Pertahankan kepatenan jalan nafas
( 4) Atur posisi kepala untuk mempertahankan jalan nafas
( 5) Berikan oksigen 3 liter /menit atau sesuai indikasi
( 6) Bersihkan sekret pada jalan nafas

2) Diagnosa 2
Nyeri berhubungan dengan cidera jaringan lunak, kerusakan neurovaskuler pasca
bedah
Tujuan :
Dalam waktu 1 x 24 jam rasan yeri teratasi
Kriteria evaluasi :
TTV dalam batas normal
Nyeri pada tingkat 0 atau 1 dari skala 0-4
Intervensi:
(1) Kaji tanda nyeri verbal/nonverbal, catat lokasi, intensitas ( skala 0-10 dan lama
nyeri
(2) Letakan pasien dalam posisi semifowler. Sokong kepala/leher dengan bantal
pasir
(3) Ajarkan tehnik relaksasi dan dekstraksi
(4) Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat analgetik
DAFTAR PUSTAKA

Arif Muttaqin dan Kumala Sari. 2013. Asuhan Keperawatan Perioperatif : Konsep Proses dan

aplikasi. Cetakan Ketiga. Jakarta : Salemba Medika

Fauziyah Y, 2012. Obstetri Patologi. Yogyakarta : Nuha Medika.

Green, J. C. dan Wilkinson MJ, 2012. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal dan Bayi Baru Lahir :

Jakarta : EGC

Herdman, T. H. 2012. Diagnosis keperawatan: definisi dan klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC.

Nurarif .A.H. dan Kusuma. H. 2015. APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis &

NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.

Purwaningsih W dan Fatmawati S. 2010. Asuhan Keperawatan Maternitas. Yogyakarta: Nuha Medika.