Anda di halaman 1dari 8

“ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN ENCEPHALITIS”

Untuk memenuhi
Tugas matakuliah Keperawatan Anak
Oleh:

Doni Nurdiansyah
AOA0170847

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDEDES MALANG


PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN
TAHUN AKADEMIK
2018/2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ensefalitis adalah suatu peradangan akut dari jaringan parenkim
otak yang disebabkan oleh infeksi dari berbagai macam mikroorganisme
dan ditandai dengan gejala-gejala umum dan manifestasi neurologis.
Penyakit ini dapat ditegakkan secara pasti dengan pemeriksaan
mikroskopik dari biopsi otak, tetapi dalam prakteknya di klinik, diagnosis
ini sering dibuat berdasarkan manifestasi neurologi, dan temuan
epidemiologi, tanpa pemeriksaan histopatologi.
Apabila hanya manifestasi neurologisnya saja yang memberikan
kesan adanya ensefalitis, tetapi tidak ditemukan adanya peradangan otak
dari pemeriksaan patologi anatomi, maka keadaan ini disebut sebagai
ensefalopati.
Jika terjadi ensefalitis, biasanya tidak hanya pada daerah otak saja
yang terkena, tapi daerah susunan saraf lainnya juga dapat terkena. Hal ini
terbukti dari istilah diagnostik yang mencerminkan keadaan tersebut, seperti
meningoensefalitis.
Mengingat bahwa ensefalitis lebih melibatkan susunan saraf pusat
dibandingkan meningitis yang hanya menimbulkan rangsangan meningeal,
seperti kaku kuduk, maka penanganan penyakit ini harus diketahui secara
benar.Karena gejala sisanya pada 20-40% penderita yang hidup adalah
kelainan atau gangguan pada kecerdasan, motoris, penglihatan,
pendengaran secara menetap.
Angka kematian untuk ensefalitis masih relatif tinggi berkisar 35-
50% dari seluruh penderita.Sedangkan yang sembuh tanpa kelainan
neurologis yang nyata dalam perkembangan selanjutnya masih mungkin
menderita retardasi mental dan masalah tingkah laku.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah pengertian dari Ensefalitis?
2. Apa saja penyebab dan Klasifikasi Ensefalitis?
3. Bagaimana patofisiologi dari Ensefalitis?
4. Apa saja manifestasi klinik dari Ensefalitis?
5. Apa saja pemeriksaan penunjang dari Ensefalitis?
6. Bagaimana asuhan keperawatan pada anak dengan Ensefalitis?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui dan memahami pengertian dari Ensefalitis.
2. Untuk mengetahui dan memahami penyebab dan Klasifikasi
Ensefalitis.
3. Untuk mengetahui dan memahami patofisiologi dari Ensefalitis.
4. Untuk mengetahui dan memahami manifestasi klinik dari Ensefalitis.
5. Untuk mengetahui dan memahami pemeriksaan penunjang dari
Ensefalitis.
6. Untuk mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada anak
dengan Ensefalitis.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Ensefalitis


Ensefalitis merupakan suatu inflamasi parenkim otak yang biasanya
disebabkan oleh virus. Ensefalitis berarti jaringan otak yang terinflamasi
sehingga menyebabkan masalah pada fungsi otak. Inflamasi tersebut
mengakibatkan terjadinya perubahan kondisi neurologis anak termasuk
konfusi mental dan kejang.[1,2]

Ensefalitis terdiri dari 2 tipe yaitu: ensefalitis primer (acute viral


ensefalitis) disebabkan oleh infeksi virus langsung ke otak dan medulla
spinalis. Dan ensefalitis sekunder (post infeksi ensefalitis) dapat merupakan
hasil dari komplikasi infeksi virus saat itu.[3]

2.2 Etiologi dan Klasifikasi Ensefalitis


2.2.1 Ensefalitis Bakterial
Bakteri penyebab ensefalitis supurativa adalah :
staphylococcus aureus, streptococcus, E.coli dan M.tuberculosa. -
(2,3,4,5)

2.2.2 Ensefalitis Viral


Virus yang dapat menyebabkan radang otak pada manusia :
1. Virus RNA
Paramikso virus : virus parotitis, irus morbili
Rabdovirus : virus rabies
Togavirus : virus rubella flavivirus (virus ensefalitis Jepang
B, virusdengue)

Picornavirus : enterovirus (virus polio, coxsackie


A,B,echovirus)
Arenavirus : virus koriomeningitis limfositoria
2. Virus DNA

Herpes virus : herpes zoster-varisella, herpes simpleks,


sitomegalivirus,virus Epstein-barr
Poxvirus : variola, vaksinia
Retrovirus : AIDS
(1,2,3,4,5)

2.3 Patofisiologi
2.3.1 Ensefalitis Bakterial
Organisme piogenik masuk ke dalam otak melalui peredaran
darah, penyebaran langsung, komplikasi luka tembus dan kelainan
kardoipulmonal. Melalui pembuluh darah dalam bentuk sepsis atau
berasal dari radang fokal di bagian yang lain dekat otak. Penyebaran
langsung terjadi melalui tromboflebitis, osteomielitis, infeksi telinga
bagian tengah, dan sinus paranasalis.

Mula-mula terjadi peradangan supuratif pada jaringan otak


(cerebritis purulenta, ensefalitis septik) biasa terdapat di bagian alba
substansi karena bagian ini kurang mendapat suplai darah . proses
perandangan ini membentuk eksudat, trombolitik septik pada
pembuluh darah, dan agregasi lekosit yang sudah mati

Daerah yang mengalami perandangan timbul edema,


perlunakan, dan kongesti jaringan otak disertai perdarahan kecil di
kelilingi abses, dan inflitrasi leukosit. Bagian tengah melunak,
membentuk ruang abses yang pada mulanya tidak begitu kuat,
kemudian membentuk dinding yang kuat sehingga terbentuk kapsul
yang konsentris. Disekeliling abses terjadi infiltrasi leukosit
polimolfonuklear, sel plasma, dan limfosit.
Abses dapat membesar, pecah dan masuk ke
ventrikulus/ruang sub araknoid yang lebih lanjut menyebabkan
meningitis.

2.3.2 Ensefalitis Viral


Virus bisa masuk melalui saluran nafas, mulut, mukosa
kelamin, inokulasi gigitan binatang, infeksi melalui plasenta (bayi
dalam kandungan).

Di dalam tubuh manusia, virus memperbanyak diri secara


lokal, kemudian terjadi viremia yang menyerang susunan saraf pusat
melalui kapilaris di pleksus koroideus atau melalui saraf perifer atau
retrograde axoplasmic spread, misal oleh virus herpes dan rabies
Pertumbuhan virus mulai di jaringan ekstraneural (usus,
saluran getah bening, saluran nafas bagian atas, dan dalam susunan
saraf pusat menyebabkan terjadinya meningitis.

Pada ensefalitis terdapat kerusakan neuron dan glia. Terjadi


intraseluler inclusion bodies, peradangan otak, medula spinalis,
edema otak. Juga terdapat peradangan pada pembuluh darah kecil,
trombosit, dan proliferasi astrosit dan mikroglia. Neuron yang rusak
dimakan oleh makrofag (mikroglia) yang disebut sebagai
Neurofagia ( merupakan ciri ensefalitis primer)

Dalam medula spinalis, virus menyebar melalui


endoneurium dalam ruang intersisial. Sel neuron dan glia
mengalami kerusakan di kelilingi sel.

2.4 Manifestasi Klinik


2.4.1 Ensefalitis Bakterial
Pada awalnya sesuai dengan gejala umum peradangan otak,
disertai gejala peningkatan tekanan intrakranial, nyeri kepala makin
lama makin hebat, muntah, tidak nafsu makan, demam, penglihatan
kabur, kejang dan penurunan kesadaran.

Gejala defisit neurologis tergantung lokasi dan luas abses.


Gejala yang tampak adalah ataksia, defisit nervi kranialis,
hemiparese, kaku kuduk, reflek tendon meningkat, afasia, nistagmus
dan lain-lain.

2.4.2 Ensefalitis Viral


Dimulai dengan demam, nyeri kepala, vertigo, nyeri badan,
nausea, Kesadaran menurun, timbul serangan kejang-kejang, kaku
kuduk,hemiparesis dan paralysis bulbaris. (1,2,3,4,5)

2.5 Pemeriksaan Penunjang


o Lumbal fungsi
o CT Scan
o MRI

Pencitraan diperlukan untuk menyingkirkan patologi lain sebelum


melakukan LP (lumbal punksi) atau ditemukan tanda neurologis fokal.
Pencitraan mungkin berguna untuk memeriksa adanya abses, efusi subdural,
atau hidrosefalus.[9]

Pada CT-scan dapat ditemukan edema otak dan hemoragik setelah


satu minggu.Pada virus Herpes didapatkan lesi berdensitas rendah pada
lobus temporal, namun gambaran tidak tampak tiga hingga empat hari
setelah onset.CT-scan tidak membantu dalam membedakan berbagai
ensefalitis virus. [5]

MRI (magnetic resonance imaging) kepala dengan peningkatan


gadolinium merupakan pencitraan yang baik pada kecurigaan ensefalitis.
Temuan khas yaitu peningkatan sinyal T2-weighted pada substansia grisea
dan alba. Pada daerah yang terinfeksi dan meninges biasanya meningkat
dengan gadolinium.Pada infeksi herpes virus memperlihatkan lesi lobus
temporal dimana terjadi hemoragik pada unilateral dan bilateral.[8]

2.6 Asuhan Keperawatan


2.6.1 Pengkajian
Fokus pengkajian bagi anak dengan meningitis adalah riwayat
keperawatan meliputi kelahiran, penyakit kronis, neoplasma, riwayat
pembedahan otak, cedera kepala.

a. Data Subyektif :
 Ibu/kelaurga mengatakan bayinya sering muntah, reflek mengisap
berkurang.
 Jika anak sudah mampu mengkomunikasikan perasaan anak
mengatakan kepalanya sering pusing.
b. Data obyektif :
 Neonatus : menolak untuk makan, reflek mengisap kurang, muntah,
atau diare, tonus otot kurang, kurang gerak, dan menangis lemah.
 Anak dan remaja : demam tinggi, sakit kepala, muntah yang diikuti
dgn perubahan sensori,kejang, mudah terstimulasi dan teragitasi,
fotofobia, delirium, halusinasi, perilaku agresif atau maniak, stupor,
koma,kaku kuduk, opistotonus. Tanda kernig dan brudzinski positif,
reflek fisiologis hiperaktif, petechiae atau pruritis (menunjukan
adanya infeksi meningococcal).
 Bayi dan anak-anak (usia 3 bulan hingga 2 tahun) : demam, malas
makan,muntah, mudah terstimulasi, kejang, menangis merintih,
ubun-ubun menonjol, kaku kuduk, dan tanda kernig serta brudzinski
positif.
2.6.2 Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan perfusi serebral b.d proses inflamasi.
2. gangguan pertukaran gas b.d meningkatnya tekanan intrakranial.
3. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas b.d kelemahan otot
pernafasan, ketidakmampuan untuk batuk, dan penurunan
kesadaran.
4. Tidak sefektifnya pola nafas b.d menurunnya kemampuan utk
bernafas.
5. Resiko injuri b.d disorientasi, kejang, gelisah.
6. Perubahan proses fikir b.d perubahan tingkat kesadaran.
7. Kurangnya volume cairan b.d menurunnya intake cairan,
kehilangan cairan abnormal.
8. Kelebihan volume cairan b.d tidak adekuatnya sekresi hormon
anti diuretik.
9. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia, lemah,
mual, dan muntah.
10. Kecemasan b.d proses penyakit yang berlangsung (situasi yg
mengancam)