Anda di halaman 1dari 31

REFERAT

ADENOMIOSIS

Disusun Oleh :

Nur Rahmadina

Konsulen Pengampu :

Dr. dr. Semuel, SpOG, MH

KEPANITERAAN KLINIK ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI

RUMAH SAKIT BHAYANGKARA Tk. I R.S. SUKANTO

PERIODE 28 JANUARI 2019 – 5 APRIL 2019


BAB I

PENDAHULUAN

Pada awalnya, kondisi ini dideskripsikan sebagai “Adenomioma” pada tahun 1860
oleh seorang ahli patologi berkebangsaan Jerman, Carl von Rokitansky, yang menemukan
kelenjar endometrium di miometrium dan kemudian menyebutkan penemuannya ini sebagai
“cystosarcoma adenoids uterinum”. Dewasa ini, hal seperti ini disebut sebagai “adenomiosis”
pertama kali oleh Bird pada tahun 1972. Bird mengatakan: “Adenomiosis dapat didefinisikan
sebagai invasi jinak endometrium ke dalam miometrium, menghasilkan uterus yang
membesar difus yang secara mikroskopis menunjukkan ektopik non-neoplastik, kelenjar

endometrium dan stroma yang dikelilingi oleh miometrium hipertrofik dan hiperplastik”.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

DEFINISI

Adenomiosis adalah suatu kondisi dimana terdapat jaringan mukosa endometrium


(kelenjar-kelenjar dan stroma) pada miometrium yang hipertrofi dan reaktif. Terdapat
jaringan endometrium di lapisan miometrium tersebut dapat menyebabkan pembesaran
uterus.
Adenomiosis didefinisikan sebagai invasi jinak jaringan endometrium ke dalam
lapisan miometrium yang menyebabkan pembesaran uterus difus dengan gambaran
mikroskopis kelenjar dan stroma endometrium ektopik non neoplastik dikelilingi oleh
jaringan miometrium hipertrofik dan hiperplastik. Definisi tersebut masih berlaku hingga
sekarang dengan modifikasi. Adenomiosis adalah keberadaan kelenjar dan stroma
endometrium pada sembarang lokasi di kedalaman miometrium.

Adenomiosis secara relatif sering ditemukan pada spesimen histerektomi dari


perempuan yang mengalami menorrhagia yang tidak berkaitan denggan mioma uterus atau
patoligi endometrium. Hipertrofi dan hiperplasia disekitar miometrium umumnya terjadi pada
pembesaran uterus difus. Pada adenomioma, terjadi proliderasi miometrium yang berlebihan
di sekitar fkus endometrium ektopik yang menyerupai leiomioma secara klinis.

Patogenesis pasti adenomiosis masih belum diketahui. Lesi adenomiosis dapat berasal
dari proses invaginasi lapisan endometrium ke miometrium atau berkembang secara de novo
dari sisa mullerian.

EPIDEMIOLOGI

Karena diagnosis adeniomiosis ditegakkann secara histologis, angka insidensi yang


pasti tidaklah dapat ditentukan. Dalam berbagai penelitian, prevalensinya berkisar antara 5
hingga 70%. Besarnya rentang ini mungkin dikarenakan oleh banyak faktor termasuk
klasifikasi diagnostik yang beragam, perbedaan jumlah jaringan yang diambil sebagai sampel
biopsi dan bias yang mungkin ntimbul dari hali patologinya sendiri karena
mempertimbangkan perjalanan penyakity pasien. Secara umum, rata rata frekluensi kejadian
adenomiosis pada histerektomi adalah sekitar 20 hingga 30%.
Penelitian klinis berkala telah menunjukkan peningkatan frekuensi kejadian
adenomiosis pada pasien multipara. Kehamilan mungkin akan meningkatkan resiko kejadian
adenomiosis karena terjadi invasi alamiah trofoblas ke miometrioum saat implantasi. Sebagai
tambahan, jika dibandingkan dengan jaringan eutpik, jaringan adenomiosis memiliki rasio
jumlah reseptor estrogen yang lebih banyak, yang mana peningatan hormon selama
kehamilan mungkinn akan mengiduksi adenomiosis. Vercellini dkk mengamati bahwa
kejadian adenomiosis memang secara langsuing sangat berkaitan dengan kehamilan. Selain
itu Levgur dkk melaporkan pasien yang telah menjalani terminasi kehamilan melalui diatasi
dan kuretase mengalami angka kejadian yang tinggi dalam hal adenomiosis jika
dibanmdingkan dengan wanita yang tidak pernah menjalani terminasi kehamilan. Penelitian
ini membuka kemungkinan bahwa efek dari kehamilan terdahulu dalam hal patogenesis
penyakit ini tidak adapat diabaikan, namun angka pastinya masih belum dapat ditentukan.
Beberapa studi menyatakan bahwa trauma akibat operasi di pelvis dapat memicu invaginasi
jaringan adenomiosis. Parazzini dkk juga mengamati tingginya angka kejadian adenomiosis
pada mereka yang telah menjalani dilatasi dan kuretase. Meski demikian, masih terdapat bias
dalam penelitian tersebut, apakah memang peningkatan resiko adenomiosis itu disebabkan
oleh prosedur dilatasi kuretasenya ataukah adenomiosisnya disebabkan oleh fakta bahwa
wanita yang menjalani dilatasi kuretase biasanya mengalami hiperplasia jaringan nakiobat
keadaan hipoestrogen, yang pada akhirnya menyebabkan adenoimiosis. Studi lain
mentebuitkan tidak ada hubungan antara adenomiosis dengan riwayat operasi transpelvic
sebelumnya, ataupun Seksio Sesarea. Oleh karena itu, masih belum jelas apakah riwayat
operasi terdahulu merupakan faktor resiko signifikan untuk adenoimiosis.

Tujuh puluh persen hingga 80% adenomiosis dilaporkan pada wanita umur 40 tahuna
atau 50 tahunan. Karena diagnosis adenomiosis ditegakkan secara histologis, pervalensi akan
meningkat pada wanitya yang lebih tua, mungkin karena tingginya riwayat prosedur
histerektomi pada kelompok wanita tersebut. Mungkin juga hal ini dikarenakan paparan
estrogen yang semakin meningkat seiring dengan pertmabhan usia. Lima hingga 25 persen
kasus adenomiosis dijumpai pada pasien berumur kurangt dari 39 tahun dan hanya 5 persen
hiungga 10% saja yang dijumpai pada wanita usia lebih dari 60 tahun.

FKTOR RESIKO
Usia
70 hingga 80% wanita yang menjalani histerektomi untuk adenomiosis berada pada dekade
keempat dan kelima kehidupan mereka dan multipara; beberapa penelitian telah melaporkan
usia rata-rata di atas 50 tahun untuk wanita yang menjalani histerektomi untuk adenomiosis.
Namun, laporan yang lebih baru menggunakan kriteria MRI untuk diagnosis, menunjukkan
bahwa penyakit ini mungkin menyebabkan dismenore dan nyeri panggul kronis pada remaja
dan wanita usia reproduksi yang lebih muda dari yang sebelumnya. Laporan-laporan ini
menunjukkan bahwa usia klinis pada presentasi adenomiosis mungkin jauh lebih awal
daripada yang diperkirakan sebelumnya dan bahwa adenomiosis tahap awal mungkin
menghadirkan klinis yang berbeda fenotip dibandingkan dengan penyakit stadium akhir.

Multiparitas
Persentase tinggi wanita dengan adenomiosis adalah multipara. Kehamilan dapat
memfasilitasi pembentukan adenomiosis dengan memungkinkan fokus adenomiotik
dimasukkan dalam miometrium karena sifat invasif trofoblas pada ekstensi serat miometrium.
Selain itu, jaringan adenomiotik mungkin memiliki rasio reseptor estrogen yang lebih tinggi
dan lingkungan hormonal kehamilan dapat mendukung perkembangan pulau endometrium
ektopik.

Operasi Uterus Sebelumnya


Bukti mengenai peningkatan risiko yang signifikan dari operasi rahim sebelumnya
pada wanita dengan adenomiosis tidak konsisten. Data klinis telah mendukung hipotesis
bahwa adenomiosis terjadi ketika kelenjar endometrium menyerang lapisan miometrium,
dengan gangguan bedah pada batas endometrium-miometrium meningkatkan risiko
adenomiosis dalam beberapa penelitian.
Levgur et al. dan Parazzini et al. melaporkan bahwa pasien yang telah menjalani
penghentian kehamilan melalui pelebaran dan kuretase menunjukkan tingkat adenomiosis
yang lebih tinggi daripada wanita tanpa penghentian kehamilan. Selanjutnya, Parazzini et al.
dan Taran et al. juga mengamati tingkat yang lebih tinggi dari adenomiosis pada pasien yang
tidak hamil yang telah mengalami pelebaran dan kuretase. Whitted et al. mengamati
peningkatan prevalensi adenomiosis pada subjek yang pernah menjalani operasi caesar
sebelumnya. Namun, penelitian lain melaporkan tidak ada peningkatan tingkat operasi caesar
atau prosedur bedah uterus lainnya pada wanita dengan adenomiosis.
Dengan demikian, tidak jelas apakah riwayat operasi rahim sebelumnya merupakan
faktor risiko adenomiosis. Selain itu, menempatkan hubungan antara riwayat bedah dan
kejadian adenomiosis berisiko ketika mempertimbangkan pemilihan pasien bedah. Para
pasien yang termasuk dalam mayoritas penelitian dirawat di era ketika laparotomi biasa
dilakukan; hasil dari studi ini mungkin berbeda jika dilakukan hari ini.

Merokok
Bukti mengenai hubungan antara merokok dan adenomiosis masih kontroversial. Di
satu sisi, dibandingkan dengan wanita yang tidak pernah merokok, perokok tampaknya
memiliki kemungkinan lebih kecil untuk mengalami adenomiosis. Temuan ini dapat
dijelaskan dengan mekanisme yang diinduksi hormon: penurunan kadar serum estrogen telah
dilaporkan pada perokok, dan adenomyosis telah disarankan untuk menjadi gangguan
estrogen-dependen.
Atau, ada juga bukti bahwa tidak ada hubungan antara adenomiosis dan merokok.
Selain itu, dua penelitian bahkan melaporkan tingkat yang lebih tinggi dari riwayat merokok
pada wanita dengan adenomiosis dibandingkan pada kontrol. Dengan demikian, hubungan
antara adenomiosis dan merokok. perlu diselidiki lebih lanjut.

Kehamilan ektopik
Implantasi dalam fokus adenomyosis dapat mengakibatkan kehamilan berkembang
dalam miometrium. Selain itu, merokok telah terbukti sebagai faktor risiko independen
terkait dosis untuk kehamilan ektopik. Dengan demikian, telah dihipotesiskan bahwa wanita
dengan adenomiosis lebih mungkin memiliki riwayat kehamilan ektopik, karena adenomiosis
dapat menjadi faktor risiko untuk perkembangan kehamilan ektopik intramural. Penjelasan
lain yang mungkin untuk tingkat kehamilan ektopik yang lebih tinggi pada wanita dengan
adenomiosis adalah tingkat yang lebih tinggi dari wanita dengan riwayat merokok. Namun
demikian, asumsi mengenai peningkatan kemungkinan riwayat merokok dan kehamilan
ektopik dalam hubungannya dengan adenomiosis adalah hipotesis yang membutuhkan bukti
tambahan.

Depresi dan penggunaan antidepresan


Asosiasi baru dengan adenomiosis yang ditemukan pada penelitian pada manusia dan
hewan termasuk peningkatan risiko depresi, dan penggunaan antidepresan yang lebih tinggi.
Hubungan ini mungkin disebabkan oleh kelainan dalam dinamika prolaktin. Paparan uterus
murine terhadap peningkatan prolaktin nampaknya cukup untuk menyebabkan adenomiosis
histologis dan berhubungan dengan pengaturan dari kurir reseptor prolaktin uterus RNA.
Penelitian in vitro menunjukkan bahwa prolaktin diproduksi oleh jaringan rahim
manusia termasuk endometrium, miometrium, dan leiomioma dan bahwa reseptor prolaktin
fungsional hadir di dalam rahim dan mampu bertindak sebagai mitogen sel otot polos.
Namun, dalam penelitian oleh Taran et al., terlalu sedikit wanita dengan adenomiosis
memiliki hasil prolaktin serum untuk memungkinkan analisis langsung dari hubungan ini.
Lebih lanjut, adalah mungkin bahwa depresi mungkin memiliki faktor patogenik yang umum
dengan adenomiosis (mis., Peradangan). Penelitian telah menunjukkan bahwa pertumbuhan
dan perkembangan endometriosis dan adenomiosis berlanjut bahkan pada hewan yang
mengalami ovariektomi. Ini menunjukkan bahwa, di samping hormon steroid ovarium,
pertumbuhan endometriosis dapat diatur oleh sistem imun bawaan di lingkungan pelvis.

Pengobatan Tamoxifen
Adenomyosis relatif jarang terjadi pada wanita pascamenopause tetapi insiden
adenomiosis yang lebih tinggi telah dilaporkan pada wanita yang diobati dengan tamoxifen
untuk kanker payudara. Tamoxifen adalah antagonis dari reseptor estrogen dalam jaringan
payudara melalui metabolit aktifnya, hydroxytamoxifen. Dalam jaringan, termasuk
endometrium, ia berperilaku seperti agonis, dan adenomiosis dapat berkembang atau
diaktifkan kembali. Dengan demikian, adenomiosis mungkin lebih umum daripada yang
disadari pada wanita yang memakai tamoxifen dan dapat menjelaskan perdarahan
pascamenopause pada pasien ini.

PATOFISIOLGI
Pada adenomiosis, kelenjar endometrium dan stroma muncul di jaringan otot
(miometrium) uterus. Meskipun etiologi yang pasti masih belum diketahui, setidak-tidaknya
3 teori sudah pernah diajukan.

1. Teori yang pertama dan yang paling populer adalah bahwa adenomiosis dapat
berkembang dari invaginasi jaringan endometrium di miometrium.
Pendapat yang paling lazim diterima adalah adenomiosis terjadi sebagai akibat
invaginasi dari endometrioum basal ke miometrium. Invaginasi dapat terjadi karena
lapisan miometrium mengalami perlunakan akibat riwayat trauma misalnya pada
riwayat operasi pelvis sebelumnya yang memungkinkan jaringan endometrium aktif
untuk tumbuh subur di tempat sel-sel yang sudah mengalami cedera.
Invaginasi sendiri juga dapat terjadi akibat adanya fenomena immun
menyimpang pada jaringan yang terlibat. Prosedur imunohistokimia menunjukkan
bahwa peningkatan jumlah makrofag akan mengaktivasi sel T dan sel B yang kemudian
akan meghasilkan antibodi dan menstimulasi keluarnya sitokin, yang pada akhirnya
sitokin ini akan merubah struktur endomiometrial junction. Pencetus yang pasti dari
proses invaginasi itu sendiri tidaklah diketahui, meski demikian, diperkirakan pengaruh
dari hormon yang mungkin terlibat dalam menstimulasi terjadinya migrasi dari lapisan
basal endometrium tersebut. Studi mengenai reseptor steroid berkaitan dengan hal ini
ternyata menunjukkan hasil yang beragam, namun begitu, beberapa penelitian
menunjukkan bahwa jaringan adenomiosis memiliki ekspresi reseptor estradiol yang
lebih tinggi dibandingkan endometrium yang memang berada di endometrium
sebenarnya. Peningkatan respons terhadap estrogen ini mempermudah terjaidnya proses
invaginasi dan perluasan adenomiosis. Sebagai tambahan, jaringan adenomiosis juga
mengandung enzim aromatase dan enzim estrogen sulfat yang menghasilkan estrogen
untuk menstimulasi pertumbuhan dan ekspansi jaringan endometrium abnormal dan
stromanya ke miometrium.

2. Teori kedua menyebutkan bahwa adenomiosis dapat berkembang secara de novo akibat
sisa sisa dari jaringan mullerian pluripotent.

Teori kedua menyatakan bahwa adenomiosis terbentuk dari jalur perubahan de


novo sisa sisa jaringan mullerian. Titik titik adenomiosis ekstrauterine sebagaimana
yang dijumpai di septum rektovaginal mendukung teori tersebut. Terlebih lagi
penelitian mengenai properti biologik dan proliveratif dari endometrium ektopik dan
eutopik, masing masing memiliki karakteristik tersendiri. Matsumoto dkk mengamati
bahwa endometrium ektopik yang dijumpai pada kasus adenomiosis tidak memberikan
respon terhadap perubahan hormonal sebagaimana endomnterium eutopik. Perubahan
sekretorik sangat jarang dijumpai, bahkan sekalipun lapisan basalis dari endometrium
yang sebenarnya tengah berada di fase sekretorik. Jika dibandingkan dengan
endometrium eutopik, jaringan ektopik tidak menunjukkan adanya properti perubahan
siklik yang menginduksi regulasi apopotosis protein seperti ekspresi bel-2. Temuan ini
menunjukkan adanya proliferasi konstan dari jaringan ektopik di dalam miometrium,
dan juga menunjukkan karakteristik biologik yang berbeda dibandingkan endometrium
eutopik. Penelitian lain juga membandingkan beragam faktor pertrumbuhan dan sitokin
seperti misalnya angiogenik growth factor, basic fibroblast growth factor, yang mana
mungkin memiliki kontribusi dalam patogenesis perdaraha uteris abnormal pada kasus
adenomiosis. Hasil penelitian menunjukkan ekspresi yang berbeda beda pada jaringan
adenomiosis dibandingkan dengan jaringan endometrium eutopik, dan hal ini berarti
sejalan dengan teori bahwa adenomiosis bukanlah berasal dari endopmetrium lapisan
basala, melainkan dari jalur de novo sendiri.

3. Teori ketiga menyebutkan bahwa adenomyosis terjadi karena invaginasi dari lapisan
basalis pada sistem limfatik intreamiometrium.

Teori ketiga, teori stem cell, didukung oleh fakta bahwa regenerasi
endometrium dapat diinduksi oleh stem cell yang berasal dari sumsum tulang. Temuan
ini memiliki implikasi yang potensial dalam hal menentukan etiologi endmetriosis dan
adenomiosis. Studi imunohistokimia terkini mengungkapkan adanya jaringan
endometrium tambahan di 4 wanita yang menjalani prosedur transplantasi sumusm
tulang dengan ketidaksesuaian antigen HLA tunggal. Data ini menunjukkan stem sel
yang berasal dari sumsum tulang memiliki peranan daklam pertumbuhan jaringan
endometrium yang baru. Maka dari itu, mungkin saja stem cell tadi juga dapat
menginduksi pertumbuhan endometrium di jarinagn otot miometrium, dan
menyebabkan adenomiosis dengan proliferasi lokal kelenjar endmetrium dan stroma
nya di miometrium.

Teori yang diterima secara luas terkait dengan perkembangan adenomiosis adalah
invaginasi lapisan basal endometrium ke dalam lapisan miometrium. Daerah perbatasan
antara lapisan endometrium dan miometrium bersifat unik dibandingkan dengan daerah
perbatasan mukosa-muskular lainnya. Pada daerah perbatasan lapisan endometrium dan
miometrium hanya terdapat sedikit jaringan submukosa di antaranya. Kondisi ini
menyebabkan pada uterus yang normal pun lapisan endometrium umumnya mampu
menginvasi lapisan miometrium secara superfisial. Perluasan jaringan endometrium ke dalam
lapisan miometrium kadang dapat mencapai ke lapisan serosa uterus. Adenomiosis subserosa
sering dikaitkan dengan kejadian endometriosis pelvik dan penyebaran secara limfogen.

Mekanisme apa yang akan memicu kedalaman invasi ke lapisan miometrium hingga
saat ini belum diketahui. Kondisi kehamilan sebelumnya atau tindakan pembedahan pada
uterus dapat memicu kelemahan pada daerah perbatasan antara endometrium dan
miometrium. Adenomiosis layaknya lesi endometriosis ternyata dipengaruhi pula oleh
keberadaan hormon esterogen dan progesteron yang berperan dalam perkembangan
adenomiosis. Hal tersebut mengakibatkan adenomiosis umumnya berkembang di masa
reproduksi dan akan mengalami regresi di masa pasca menopause.

Multiparitas dan usia merupakan faktor resiko terjadinya adenomiosis. Secara spesifik,
hampir 90% kasus terjadi pada perempuan yang pernah melahirkan dan hampir 80%
adenomiosis berkembang pada usia 40 dan 50 tahun ke atas.

Jaringan adenomiosis ternyata terbukti pula memiliki ekspresi enzim aromatase dan
memiliki kadar esterogen jaringan yang lebih tinggi. Meski demikian penggunaan kontrasepsi
oral tidak berkaitan dengan kejadian adenomiosis. Akan tetapi, adenomiosis ditemukan lebih
banyak pada perempuan yang mengkonsumsi modulator reseptor esterogen selektif,
tamoxifen. Dikaitkan dengan ketergantungannya terhadap hormon esterogen, maka
adenomiosis, endometriosis dan leiomioma uterus dapat ditemukan secara bersamaan.

HISTOLOGI

Lesi endometriosis umumnya memiliki penampakan histologi yang serupa dengan


lapisan basal endometrium dan menunjukkan respon terhadap stimulasi esterogen berupa
proliferasi atau gambaran hiperplastik, kistik. Gambaran atipia seluler amat jaang ditemukan.
Tidak seperti endometriosis, lesi adenomiosis tidak ditandai dengan tendensi hemoragik atau
respon inflamasi. Tanpa adanya stimulasi hormonal, lesi adenomiosis dapat mengalami atrofi.
Ditemukannya kejadian adenokarsinoma pada adenomiosis umumnya didasarkan pada
penemuan histologis dari spesimen pembedahan, meskipun dapat pula ditemykan gejala
klinik terkait endometriosis.
Apabila dilakukan potongan pada miometrium maka akan tampak pola trabekular
kasar pada daerah pertemuan antara jaringan muskular dan jaringan fibrosa dengan pulau-
pulau kecil endometrium yang berwarna gelap dan hemoragik. Lesi tersebut bisa menyebar di
lapisan miometrium sehingga tidak memiliki batas yang tegas (adenomiosis difus) atau
membentuk suatu lesi yang berbatas tegas (nodular) dengan pseudokapsul (adenomiosis fokal
/ adenomioma). Lesi adenomioma umumnya tumbuh ke dalam rongga uterus dan selanjutnya
menjadi adenomioma submukosa. Jenis ini menyerupai leiomioma. Adenomiosis difus dapat
terlokalisir secara relatif namun tidak berkapsul.

Junctional zone (JZ) pada lapisan terdalam miometrium atau disebut juga archimetra
memiliki karakter khas yang membedakannya dengan tautan lain, berperan sebagai membran
protektif lemah dan memungkinkan kelenjar endometrium berkontak langsung dengan
miometrium. MRI T2- weighted menunjukkan tiga lapisan berbeda pada uterus wanita usia
produktif : (1) lapisan dalam, mukosa endometrium, intensitas tinggi (2) lapisan intermediet,
JZ (3) dan lapisan serosa.
Penelitian terkini berhasil mengungkap sifat dan fungsi JZ. Zona tersebut bersifat
hormone-dependent sehingga mengalami perubahan ketebalan secara siklis menyerupai
endometrium. Karakter itu pula yang memicu timbulnya peristaltik uterus di luar kehamilan.
Lapisan miometrium pasca menopause tampak kabur pada MRI akibat supresi aktivitas
ovarium atau pemberian analog GnRH.

KLASIFIKASI
Sathyanarayana (1991) membagi adenomiosis kedalam 3 kategori berdasarkan kedalaman
lokasi lesi yaitu lesi terbatas pada lapisan basal, lapisan dalam dan lapisan permukaan. Gordts
et al. (2008) mengusulkan sistem klasifikasi adenomiosis sederhana berdasarkan analisis MRI
pada JZ uterus. Pertama, hiperplasia JZ sederhana, ketebalan JZ ≥8 mm tetapi 12 mm pada ˂
wanita berusia ≤35 tahun. Kedua, adenomiosis parsial atau difus, ketebalan JZ ≥12 mm,
fokus miometrial berintensitas sinyal tinggi, dan melibatkan komponen di luar miometrium
⅔. Dan ketiga, adenomioma, massa miometrial berbatas tidak jelas dengan intensitas sinyal
rendah pada semua sekuens MRI.

DIAGNOSIS

Adenomiosis adalah merupakan diagnosis klinis dan hanya dapat dipastikan dengan
pemeriksaan histopatologis. Untuk menegakkan diagnosis adenomiosis, dilakukan dengan
anamnesis yang mengarah kecurigaan terhadap adenomiosi, meskipun tidak ada gejala yang
patognomonik. Selanjutnya dapat dilakukan pemeriksaan penunjang seperti USG
transvaginal atau MRI dan dikonfirmasi dengan pemeriksaan histopatologi setelah
pembedahan sebagai diagnosis definitif.
Angka kejadian adenomiosis bervariasi antara 8% - 62%, tergantung pada kriteria
yang digunakan untuk diagnosis, derajat pembedahan dan ketelitian yang dilakukan dalam
mengeksisi jaringan uterus yang akan diperiksa. Kriteria yang digunakan untuk menegakkan
diagnosis adalah ekstensi glandular di bawah daerah pertemuan antara lapisan endometrial-
miometrial. Adenomiosis subbasalis didefinisikan sebagai lesi adenomiosis yang minimal
invasif dengan ekstensi kurang dari 2 mm di bawah lapisan basal endometrium. Insidens
adenomiosis mulai meningkat pada usia pertengahan 30-an dan memuncak pada dekade
kelima kehidupan. Sekitar 12% adenomiosis terjadi bersama dengan endometriosis eksternal.
Adenomiosis sering ditemukan secara tidak sengaja pada pasien yang mengalami
pembedahan untuk leiomioma uterus.

Data yang didapatkan dari 1,851 histerektomi pada studi-studi prospektif, multisenter
Collaborative Review of Sterilization mengindikasikan bahwa adenomiosis yang terjadi pada
histerektomi karena prolaps dan asimptomatik (19%) sama seringnya dengan histerektomi
karena perdarahan uterus abnormal (22%) atau nyeri panggul (15%). Adenomiosis secara
signifikan berhubungan dengan endometriosis pelvik, dengan prevalensi dapat mencapai
90%.

Anamnesis

Tidak ada gejala yang bersifat patognomonik pada adenomiosis. Bahkan adenomiosis sering
bersifat asimptomatik. Sekitar sepertiga perempuan dengan adenomiosis memiliki gejala.
Beratnya gejala berkolerasi dengan peningkatan jumlah fokus ektopik dan eksistensi invasi.
Manifestasi klinis adenomiosis lainnya dapat berupa:

 Perdarahan uterus abnormal (PUA) dapat berupa perdarahan yang banyak atau
memanjang (menoragia). Menoragia mungkin disebabkan karena peningkatkan dan
abnormal vaskularisasi dari lapisan endometium. Menoragia dapat terjadi karena
konsekuensi peningkatan area permukaan rongga uterus yang membesar karena
terdapatnya lesi adenomiosis. Selain itu, keberadaan lesi adenomiosis di lapisan
miometrium dapat mempengaruhi kontraktilitas normal uterus dan menyebabkan
perdarahan yang berlebihan.
 Disminore sekunder
Disminore sekunder merupakan nyeri menstruasi yang siklik dan berhubungan
dengan patologi pelvis, nyeri sering muncul 1-2 minggu sebelum menstruasi dan
bertahan sampai beberapa hari setelah perdarahan berhenti. Adenomiosis merupakan
penyebab kedua tersering disminore sekunder setelah endometriosis. Dismenore
disebabkan oleh peningkatan produksi prostaglandin yang ditemukan pada jaringan
adenomiosis dibandingkan dengan miometrium normal. Dismenore lebih sering
terjadi bila invasi landular melebihi >80%. Nyeri dapat bersifat berat, kram, seperti
ditusuk-tusuk
 Infertilitas
Karena adenomiosis umumnya berkembang pada perempuan yang pernah melahirkan
dan berusia 40-an dan 50-an, infeltilitas bukan merupakan keluhan yang umum.
Meskipun demikian, infertilitas dapat terjadi karena gangguan transport sperma pada
uterus akibat hiperperistaltik miometrium yang disfungsional dan penigkatan tekanan
intrauterus.

Invasion of basal endometrial glands and stroma

Destruction of the normal architecture of the underlying

 Dysfunctional myometrial hyperperistalsis


 Incerased intrauterine pressure

Dislocation endometrial
Impairment sperm
cells in the peritoneal cavity
transport

Gambar 1.1. Infertilitas pada Adenomiosis


 Gejala lain: dispareunia, diskhezia.

Pada subendometrial-miometrium yang normal, peristaltik uterus yang aktif secara


kontinu selama siklus menstruasi disebabkan oleh kontraksi yang terkoordinir dari serat-serat
muskular tersebut. Transportasi sperma yang mengarah pada tuba falopi dimungkinkan
terjadi karena aktivasi yang berbeda dari serat-serat ini. Pada adenomiosis terjadi gangguan
pada pola ini.

Temuan Klinis Pada Rongga Panggul


Tanda yang dapat ditemukan adalah pembesaran uterus secara difus, biasanya < 14
cm, lunak dan lembut (lebih tipikal pada adenomiosis, dibandingkan sebab lain), khususnya
pada saat menstruasi. Mobilitas uterus tidak terganggu, dan tidak berhubungan dengan
patologi adneksa. Pada perabaan, uterus normal teraba lunak. Pembesaran adenomiosis
terjadi pada dimensi ateroposterior, sebagai refleksi dari keterlibatan dinding uterus posterior
yang lebih nyata. Pada tipe adenomiosis yang difus, uterus membesar secara simetris dengan
struktur globular. Adenomioma dapat menyebabkan pembesaran uterus yang bersifat
irregular atau asimetrik. Pada saat-saat tertentu, khususnya menstruasi, uterus yang
membesarkan tersebut akan terasa nyeri pada pemeriksaan.

Kesimpulan: adenomiosis harus selalu dicurigai pada perempuan dengan disminore dan
menorrhagia dengan keluhan yang meningkat pada dekade keempat dan kelima, khususnya
bila uterus membesar simetris, lunak dan nyeri. Diagnosis pre-operatif yang tepat sering sulit
untuk ditegakkan karena perdarahan uterus abnormal dan leiomioma kecil yang multipel
dapat muncul dengan gambaran serupa.

Pemeriksaan Imaging (USG Transvaginal atau MRI)

Pemeriksaan imaging / pencitraan bertujuan untuk:

 Menegakkan diagnosis sementara


 Menyingkirkan diferensial diagnosis
 Menilai beratnya penyakit
 Monitor pasca operasi

Sonografi dan Magnetic Resonance Imaging (MRI)

Perkembangan teknik pencitraan resolusi tinggi, khususnya pencitraan resonansi


magnetik (MR), telah meningkatkan diagnosis adenomiosis pra operasi. Pada gambaran MR
T2-uterus dari uterus, miometrium zona fungsional dapat dengan jelas dibedakan dari
endometrium dan miometrium luar, dan penebalan difus atau fokal dari zona ini sekarang
diakui sebagai salah satu ciri adenomiosis. Selanjutnya, baik MR dan transvaginal ultrasound
(TVU) berharga dalam mengkarakterisasi adenomiosis karena mereka dapat mengidentifikasi
kista miometrium, echotexture miometrium yang terdistorsi dan heterogen dan fokus yang
tidak jelas dari echotexture miometrium abnormal. Namun, temuan TVU yang paling
prediktif untuk adenomiosis adalah adanya heterogenitas miometrium yang tidak jelas.
Pencitraan MR menawarkan tingkat sensitivitas hingga 88% dan tingkat spesifisitas hingga
93%. Penelitian yang membandingkan MR dan TVU menawarkan data yang tidak
meyakinkan, dengan beberapa penelitian melaporkan hasil yang setara, dan yang lain
melaporkan keunggulan pencitraan MR.

Karena ultrasonografi transabdominal tidak mampu mengidentifikasi perubahan miometrium


pada adenoma secara konsisten, lebih dipilih penggunaan ultrasoung transvaginal (USG-TV)
dan MRI sebagai komplementer. Ditangan ahli sonografi, penemuan adenomiosis difus
meliputi :

(1) dinding miometrium anterior atau posterior tampak lebih tebal dibandingkan sisi yang
berlawanan,
(2) gambaran miometrium yang heterogen,
(3) kista kecil hipoekoik miometrium, menunjukkan kelenjar kistik di dalam fokus
ektopik endometrium, dan
(4) proyeksi linear yang berekstesi dari endometrium sampai miometrium.

Pada perempuan yang menderita gejala endometriosis, ditemukan gambaran kista di daerah
miometrium merukapan kriteria diagnosis paling spesifik.

Pemeriksaan Histopatologis

Pada perempuan dengan keluhan dismenorea dengan pembesaran uterus dan kemungkinan
kehamilan telah disingkerkan, dapat dipikirkan kemungkinan terdapatnya adenomiosis.
Meski demikian konfirmasi dari hasil pemeriksaan histopatologi hanya bisa ditegakkan pasca
tindakan pembedahan. Diagnosis pre-operatif adenomiosis diagnosis klinis hanya dapat
ditegakkan pada 48% kasus saja. Diagnosis histopatologis praoperatif hanya dapat ditegakkan
secara kebetulan jika saat dilakukan kuret secara tidak sengaja terbawa lapisan miometrium.
Tidakan biopsi miometrium dengan menggunalan alat loop elektroda per histeroskopi pada
dinding posterior uterus dapat memberikan hasil yang baik.

Antigen Kanker / Cancer Antigen (CA) 125

Selama bertahun-tahun, diagnosis adenomiosis pada sebagian besar kasus ditegakkan secara
retrospektif pasca dilakukan tindakan pembedahan. Pemeriksaan kadar serum marker tumor
CA125 dapat digunakan sebagai indikator diagnostik adenomiosis, namun sayangnya belum
bersifat sangat spesifik. Meski kadar CA125 secara tipikal kadarnya meningkat pada
penderita adenomiosis. Sayangnya kadar CA125 juga dapat meningkat pada penderita
leiomioma, endometriosis, infeksi pelvis dan keganasan pelvis. Beberapa studi juga
menunjukkan nilai negative predictive value yang rendah dari CA125, sehingga
penggunaannya untuk mendiagnosis adenomiosis amat terbatas secara klinis.

DIAGNOSIS BANDING

Tanda dan gejala adenomiosis dapat juga menyerupai gejala pada kasus leiomioa, kanker
endometriosis, dan penyakit radang panggul kronik. Gambaran USG pada kasus kanker
endometrium, hipertrofi miometrium atau kontraksi uterus dapat tampak serupa dengan
gambaran adenomiosis difusa. Sementara adenomioma dapat memperlihatkan pula gambaran
karakteristik sonografi yang mirip dengan leiomioma.

TATALAKSANA ADENOMIOSIS

Penatalaksanaan kasus adenomiosis amat tergantung pada usia pasien dan keinginan
untuk mempertahankan fungsi repoduksinya. Untuk mengatasi keluhan disminore sekunder
dapat dilakukan pendekatan medikamentosa terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan
pembedahan. Obat-obatan seperti obat antiinflamasi non-steroid dan / atau terapi hormonal
(pil kontrasepsi oral, progestin dosis tinggi, perangkat intrauterin yang melepaskan
levonorgestrel, danazol, agonis hormon pelepas gonadotropin) sering digunakan untuk
mengelola gejala adenomiosis dan untuk sementara menginduksi regresi adenomiosis.
Namun, banyak wanita membutuhkan bentuk perawatan yang lebih agresif. Tatalaksana
adenomiosis terbagi menjadi tatalaksana dengan menggunakan pendekatan medikamentosa
dan tindakan pembedahan.

Tatalaksana Medikamentosa

Saat ini sediaan medikamentosa yang umum digunakan untuk mengobati adenomiosis adalah
pil kontrasepsi kombinasi, progestin, GnRH agonis dan aromatase inhibitor. Berbagi
penelitian telah menunjukkan bahwa hasil pengobatan oleh masing-masing obat bersifat
setara. Oleh sebab itu pemilihan jenis obat harus mempertimbangkan aspek preferensi pasien,
efek samping dari obat, biaya dan ketersediaan obat tertentu. Terapi untuk mengatasi nyeri
haid akibat adenomiosis sering diawali dengan pemberian OAINS. Selain itu OAINS,
kontrasepsi estrogen – progesteron, levonorgestrel – realising intrauterine system (LNG-IUS)
dan asam traneksamat terbukti mereupakan pilihan terapi yang efektif untuk mengatasi
perdarahan menstruasi yang berlebihan pada penderita adenomiosis.

Secara ringkas, manfaat non-kontrasepsi LNG – IUS antara lain:

 mengurangi jumlah perdarahan menstruasi yang banyak sehingga akan memperbaiki


kondisi anemia yang diakibatkan
 terapi disminore primer
 mengurangi prevalensi mioma serta volume dan perdarahan yang berkaitan dengan
mioma
 mengurangi volume uteus dan nyeri
 mengurangi perdarahan menstruasi
 proteksi terhadap penyakit radang panggul
 dan lain-lain.

Danazol

Danazol, yang merupakan derivat androgen 19-nortestosterone yang memiliki efek


seperti progestin, akan menginduksi inhibisi langsung enzim enzim di ovarium yang
bertanggung jawab dalam hal produksi estrogen dan sekresi kelenjkar pituitari gonadotrofin.
Pengalaman dengan penggunaan terapi sistemik pada pasien dengan adenomiosis masih
sangat terbatas. Hal ini mungkin dikarenakan profil efek samping obat, yang meliputi
penambahan berat badan, keram otot, pengecuilan ukuran payudara, akne, hisutisme, kulit
berminyak penurunan kadar HDL, peningkatan enzim hati, hot flash, perubahan mood,
depresi, dan perubahan suara. Setelah terapi sistemik dengan danazol, reseptoir estrigen akan
berkurang, dan menyebabkan pengecilan ukuran uterus dan perbaikan gejala.

Teknik baru dalam mengantarkan hormon tersebut telah memungkinkan danazol


untuk digunakan dengan lebih luas dan lebih disukai dengan efek samping yang lebih
minimal, yaitu dengan mmeberikan sedaan suntikan i.v dan AKDR. Igarashi meneliti 14
wanita yang menggunakan AKDR yang mengandung Danazol 300-400 mg. Pada wanita
weanita tersebut, diagnosis adenomiosis ditegakkan secara radiologis dengan mengguinakan
trans vaginal USG dan MRI, yang mana mereka semuamengaluhkan gejala dismenoirhea,
menorhagia maupun infertilitas. 13 orang wanita tersebut menyatakan perbaikan dalam gejala
dismenorhea sedangkan 12 di antaranya menyatakan penurunan kejadian prdarahan. Hanyha
2 pasien yang duikeluarkan dari penelitian. Konsentrasi danazol dalam serum masih tetap ada
maskipun kadarenya sudah tidak terdeteksi lagi, dan tidak dijumpai efek samping sistemik.
Pengukuran uterus tidak dilakukan pada penelitian ini. Setelah terapi AKDR danazol
dihentika, 3 dari 4 wanita yang infertil tersebut jadi memiliki keturunan. Injeksi danazol via
cervix juga berhasil dicoba. Takebayashi dkk menginjeksikan danazol 10 mg ke cervix 22
orang pasien per 2 minggu sekali selama 12 minggu. Pada studi tersebut dijumpai 60%
angtka perbaikan dalam gejala sepeerti perdarahan, nyeri, dispareunia, dengan rata-rata
pengecilan ukuran uterus dari 334,6 cm2 menjadi 243,1 cm2. Tidak dijumpai efek samping
dari penyuntikan hormon secara lokal ini.

Aromatase Inhibitor
Ekspresi enzim aromatase inhibitor P450 telah banyak dijumpai pada implan jaringan
endometriosis. Enzim ini mengkonversi androgen menjadi estrogen. Dalam berbagai laporan
kasus dan studi penelitian, disebutkan bahwa pemberian aromatase inhibitor telah digunakan
sebagai terapi pada endometriosis berat. Dan efeknya adalah rasa nyeri yang nmereda. Meski
begitu, belum ada penelitian yang menguji peranannya untuk kasus adenomiosis.

Agonis GnRH
Agonis GnRH akan berikatan dengan reseptornya yang berada di kelenjar pituitari, dan
berakibat pada terjadinya down reguklasi aktivitas GnRH. Akibatnya adalah terjadinya
keadaan meniopause secara medis yang masih reversibel. Terapi ini tidak efektif dalam
bentuk sediaan opral, dan diberikan dalam bertuk sediaan injeksi intramuskular maupun
subkutan, dapat juga diberikan sebagai nasal spray 2 kali sehari. Sediaan inibiasanya
digunakan hanya untuk periode singkat 3-6 bulan karena efek samping yang mungkin timbul
meliputi hot flashes dan penurunan densitas mineral tulang.
Kasus yang pertama kali dilaporkan menggunakan sediaan ini pada pasien yang
memang didiagnosis adenomiosis secara biopsi terjaid pada tahuun 1991. Hasilnya
menunjukkan pengecilan ukuran uterus daro 440 cm2 menjadi 150 cm2, dan terjadi
amenorhea, serta gejala dismenorhea yang mereda. Meski demikian, saat nantinya terapi
dihentikan, gejala akan kembali muncuk dan ukuran uterus kembali menjadi 420 cm2.
Senada dengan hakl tersebit, banyak penelkitian yang nenyatakan pengecilan ukuran uterus,
amenorrhea serta berkurangnya rasa dismenorhea dengan menggunakan sediaan ini selama 3-
6 bulan. Dalam penelitian lain malah dikatakan bahwa wanita yang telah mengalami
infertiltas akibat adenomiosis, setelah diterapi dengan sediaan ini, dapat menjadi hamil 6
bulan kemudian.
Kontrasepsi oral berkelanjutan
Penggunaan progestin atau kontasepsi oral kombinasi esterogen – progestin siklis dapat
mengatasi keluhan. Pemberian kontrasepsi oral kombinasi atau reginen progestin – only dapat
mengakibatkan atrofi endometrium yang amat bermanfaat untuk mengatasi keluhan
disminore dan menorrhagia. Penderita menorrhagia yang penyebabnya tidak dapat dijelaskan
dapat menggunakan kontrasepsi estrogen – progestin.

MANAJEMEN PEMBEDAHAN

Histerektomi

Jika rasa sakit parah dan menopause adalah tahun lagi, dokter mungkin menyarankan
operasi untuk mengangkat rahim (histerektomi). Menghapus ovarium Anda tidak perlu
untuk mengendalikan adenomiosis.

Histerektomi adalah operasi pengangkatan kandungan (rahim dan uterus) pada seorang
wanita, sehingga setelah menjalani operasi ini dia tidak bisa lagi hamil dan mempunyai anak.
Histerektomi biasanya disarankan oleh dokter untuk dilakukan karena berbagai alasan.
Alasan utama dilakukannya histerektomi adalah kanker mulut rahim atau kanker rahim.

Adapun penyebab lainnya adalah sebagai berikut.


1. Adanya fibroid yang merupakan tumor jinak pada rahim. Histerektomi perlu
dilakukan karena tumor ini dapat menyebabkan perdarahan berkepanjangan, nyeri
panggul, anemia, dan tekanan pada kandung kemih.
2. Endometriosis, suatu kelainan yang disebabkan dinding rahim bagian dalam yang
seharusnya tumbuh di rahim saja, juga ikut tumbuh di indung telur, tuba fallopii, atau
bagian tubuh lainnya. Hal ini bisa membahayakan bagi ibu. Oleh karena itu, biasanya
dianjurkan untuk melakukan histerektomi oleh dokter.

Ada beberapa jenis histerektomi yang perlu kita ketahui. Berikut ini adalah penjelasannya.

1. Histerektomi parsial (subtotal). Pada histerektomi jenis ini, rahim diangkat, tetapi
mulut rahim (serviks) tetap dibiarkan. Oleh karena itu, penderita masih dapat terkena
kanker mulut rahim sehingga masih perlu pemeriksaan pap smear (pemeriksaan leher
rahim) secara rutin.
2. Histerektomi total. Pada histerektomi ini, rahim dan mulut rahim diangkat secara
keseluruhannya.
3. Histerektomi dan salfingo-ooforektomi bilateral. Histerektomi ini mengangkat uterus,
mulut rahim, kedua tuba fallopii, dan kedua ovarium. Pengangkatan ovarium
menyebabkan keadaan penderita seperti menopause meskipun usianya masih muda.
4. Histerektomi radikal. Histerektomi ini mengangkat bagian atas vagina, jaringan, dan
kelenjar limfe disekitar kandungan. Operasi ini biasanya dilakukan pada beberapa
jenis kanker tertentu untuk bisa menyelamatkan nyawa penderita.

Histerektomi dapat dilakukan melalui irisan pada bagian perut atau melalui vagina. Pilihan
ini bergantung pada jenis histerektomi yang akan dilakukan, jenis penyakit yang mendasari,
dan berbagai pertimbangan lainnya.

Pemulihan dari operasi histerektomi biasanya berlangsung dua hingga enam minggu.
Selama masa pemulihan, pasien dianjurkan untuk tidak banyak bergerak yang dapat
memperlambat penyembuhan bekas luka operasi. Dari segi makanan, disarankan untuk
menghindari makanan yang menimbulkan gas seperti kacang buncis, kacang panjang,
brokoli, kubis dan makanan yang terlalu pedas. Seperti setelah operasi lainnya, makan
makanan yang kaya protein dan meminum cukup air akan membantu proses pemulihan.
Histerektomi sangat bermanfaat bagi perempuan yang sudah melewati usia reproduksi
dan sebaiknya dipertimbangkan pada pasien dengan gejala yang berat akibat dari
adenomiosis. Sebelum memilih terapi histerektomi, terdapat tahapan yang direkomendasikan
pada saat berdiskusi dengan pasien yang dikenal dengan sebutan Prepare Procedure yang
dilakukan, Reason (indikasi), Expectation (harapan setelah prosedur), Probability
(kemungkina hasilnya akan tercapai), alternatives (pilihan non pembedahan), Risk (resiko yg
dapat terjadi) dan Expense (biaya yg dibutuhkan).

The American College of Obstetri and Gynacologist telah menetapkan kriteria yang
harus terpenuhi sebelum memutuskan untuk melakukan tindakan histerektomi untuk
mengatasi nyeri pelvis. Diperlukan masa 6 bulan nyeri pelvis tanpa adanya patologi lain yang
dapat dikoreksi. Saat memutuskan pendekatan pembedahan, pertimbangan harus dilakukan
apakah akan dilakukan histerektomi pervaginam, laparoskopi dibandingkan perabdominan
jika tidak ada adhesi ekstensif atau fibroid besar. Beberapa studi mengkonfirmasi kejadian
morbiditas yang lebih sedikit dan masa rawat yang mencoba membandingkan tindakan
histerektomi perabdominan vs perlaparoskopi ternyata tidak menunjukkan adanya perbedaan
yang bermakna secara statistik terhadap gangguan berkemih atau fungsi seksual setelah 6
bulan.

Pada keadaan khusus, misalnya perempuan muda yang masih ingin mempertahankan
kemampuan reproduksi, tindakan untuk melakukan eksisi adenomiosma lebih
dipertimbangkan dibandingkan histerektomi. Namun hal tersebut umumnya lebih mudah
dilakukan pada adenomiosis yang bersifat fokal dibandingkan dengan yang bersifat difus.

Pembedahan Konservatif

Pembedahan konservatif dapat menjadi tantangan secara teknis, karena tidak seperti
pseudokapsul yang biasanya mengelilingi leiomioma, tidak ada bidang yang jelas
membedakan nodul adenomioma dengan miometrium yang normal.

Ablasi atau reseksi endometrial dengan histeroskopi

Metode ini telah sukses digunakan untuk tatalaksana disminore dan menorrhagia yang
disebabkan oleh adenomiosis. Akan tetapi, eradikasi komplit dari adenomiosis yang posisinya
lebih dalam masih menjadi masalah dan berhubungan dengan kegagalan terapi yang
signifikan. Oleh karena itu diperlukan evaluasi USG dan MRI pra-operatif untuk
mengidentifikasi dalamnya lesi sehingga bisa diseleksi cara terapi yang lebih baik. Karena
beberapa endometrium tidak dapat diablasi, terdapat risiko terjadinya kanker endometrium,
sehingga perempuan pasca – menopause yang menjalani ablasi harus tetap mengonsumsi
progestin sebagai bagian dari terapi hormonal.

Kuretase

Kuretase tidak membantu dalam menegakkan diagnosis adenomiosis dan tidak efektif
sebagai terapi, meskipun dapat diperlukan dalam mengatasi perdarahan abnormal

Eksisi lesi telah dilaporkan pada adenomiosis fokal, namun terapi pembedahan selain
histerektomi masih belum banyak dijelaskan. Di bawah ini merupakan salah satu sara untuk
manajemen pembedahan konservatif pada adenomiosis difus yang dikembangkan oleh
Nishida.

Gambar 1.2 Manajemen pembedahan konservatif untuk Adenomiosis difus: Teknik Nishida.

Prosedur ini sebaiknya dipertimbangkan sebagai pilihan terapi, terutama pada perempuan
dengan gejala adenomiosis difus yang menolak untuk dilakukan histerektomi.

Eksisi dengan laparoskopi


Untuk manajemen adenomioma tampaknya lebih aman dan memiliki hasil follow up yang
baik serta angka rekurensi yang terbatas.

Pembedahan konservatif

Merupakan pilihan pada perempuan nulipara, perempuan yang masih ingin memiliki anak
ataupun karena alasan psikologis lainnya. Namun hasil penelitian belum terlalu memuaskan
karena tingginya rekurensi dan ruptur spontan pada kehamilan.

Teknik Osada, teknik0u yang terbaru dikembangkan oleh osada berupa reseksi radikal
jaringan adenomioma disertai metode tripel flap untuk rekonstruksi uterus. Pada teknik ini,
kateter folley dipasang dan berfungsi sebagai torniket untuk mencegah perdarahan. Setelah
tripel flap dipasang, torniket dapat dilepaskan karena flap kemudian akan berfungsi
mencegah perdarahan selanjutnya.

Gambar 1.3 Teknik Osada

KOMPLIKASI

Meskipun tidak berbahaya, rasa sakit dan perdarahan yang berlebihan berhubungan
dengan adenomiosis dapat memiliki efek negatif pada gaya hidup Anda. Anda mungkin
menemukan diri menghindari kegiatan yang sebelumnya dinikmati karena Anda tidak
tahu kapan atau di mana Anda mungkin mulai berdarah. periode Nyeri dapat
menyebabkan Anda kehilangan pekerjaan atau sekolah dan dapat strain hubungan.
Berulang sakit dapat menyebabkan depresi, mudah tersinggung, kemarahan kecemasan,
dan perasaan tak berdaya. Itulah mengapa penting untuk mencari evaluasi medis jika
Anda curiga Anda mungkin memiliki adenomiosis.

DAFTAR PUSTAKA

Hall, guyton. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran edisi 11. EGC : Jakarta
Potter & Perry.2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Smeltzer, Suzanne C. dan Brenda G. Bare. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta :
EGC.

Juall, Lynda. 2008. Diagnosis Keperawatan Aplikasi Pada Praktik Klinis edisi 09. Jakarta:
EGC

LAPORAN KASUS

STATUS GINEKOLOGI
DOKTER MUDA SMF OBGIN
I. IDENTITAS
Nama : Ny. P
Umur : 36 tahun
Agama : Islam
MRS : 12 Maret 2019, pkl. 17.30 WIB
MR : 10.22.29.0

II. ANAMNESIS :
Keluhan Utama : Nyeri perut
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke Poli Kebidanan RS POLRI dengan keluhan nyeri perut bagian
bawah, sejak 2 tahun dan memberat sejak 1 bulan sebelum masuk rumah sakit. Pasien
mengatakan sudah ke bagian penyakit dalam dan dikatakan pasien kekurangan darah. Pasien
pernah dirawat di ICU karena Hb pasien rendah (pasien mengatakan Hbnya 3, dan
mendapatkan transfusi 5 kantong). Pasien mengatakan dirinya dirawat setelah beliau haid.
Selain itu, pasien juga mengeluhkan setiap haid darah yang keluar sangatlah banyak. Pasien
mengatakan bahwa setiap haid menggunakan 6-8 pembalut berukuran 29cm, dengan keadaan
pembalut penuh. Pasien mengatakan sejak 2 tahun yang lalu setiap haid darah yang keluar
sangat banyak. Pasien mengatakan sudah pernah operasi kista ovarium sebelah kiri 2 tahun
yang lalu. Keluhan pusing, mual, muntah disangkal pasien.
Pasien mengatakan bahwa sudah menikah sejak 9 tahun yang lalu, namun pasien
belum memiki anak.
Riwayat Penyakit Dahulu
 Riwayat abortus sebelumnya (-).
 Riwayat hipertensi (-), kencing manis (-), asma (-), merokok (-).
Riwayat Penyakit Keluarga:
Keluarga menderita keganasan (-), diabetes mellitus (-), hipertensi (-), hepatitis (-),
TBC (-), asma (-), suami perokok (+).
Riwayat Alergi
Tidak mempunyai alergi terhadap obat-obatan ataupun makanan.
Riwayat Menstruasi :
- Menarche : umur 14 tahun.
- Siklus : teratur 28 hari sekali.
- Banyaknya : menorrhagia
- Lamanya : 7 hari
- Dismenorea : ( +++ )
- Perdarahan di luar siklus : disangkal
- HPHT : 9 Maret 2019

Riwayat Perkawinan : perkawinan pertama, lama 9 tahun


Riwayat Kehamilan :
1. -
Riwayat Kontrasepsi :-

III. PEMERIKSAAN FISIK (12/3/19)


Status Generalis
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Kompos Mentis
GCS : 15
TD : 100/70 mmHg
Nadi : 87x/menit
Respirasi : 20x/menit
Suhu aksila : 36,3 0C

Mata : Konjungtiva anemis (+/+), ikterus (-/-)


Leher : KGB tidak teraba
Thorax :
Inspeksi : massa (-), payudara simetris
Palpasi : gerakan dinding dada simetris, massa (-).
Perkusi : sonor (+/+)
Auskultasi : Cor : S1 S2 tunggal, Reguler, Murmur (-), Gallop (-)
Pulmo : Vesikuler +/+, Ronki -/-, Whezing -/-
Abdomen :
Inspeksi : distensi (-), massa (+), scar bekas operasi (+).
Auskultasi : bising usus (+) normal.
Palpasi : supel (-), massa (+) dengan ukuran 10x7cm, konsistensi padat, keras,
imobile, permukaan rata dan tidak berbenjol-benjol, nyeri tekan (+)
Perkusi : Pekak di daerah massa, shifting dullnes (-).
Ekstremitas : hangat (+/+), edema (-/-)
Status Ginekologis
o Inspeksi : genitalia eksterna dalam batas normal,
perdarahan pervaginam (+) minimal.
o Pemeriksaan dalam (VT): Φ (-), porsio tebal kaku, nyeri goyang portio (-), cavum uteri
antefleksi.

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


 Pemeriksaan Laboratorium : Darah Rutin
12-03-2019

Indikator Hasil Normal


Hemoglobin 11,1 12 – 14 g/dL
Lekosit 5,900 5.000 – 10.000 106/µL

hematokrit 33 37,0 – 45,0 %


Trombosit 272.000 150.000 – 400.000

 Pemeriksaan Laboratorium : Darah Rutin


12-03-2019

Indikator Hasil Normal


Hemoglobin 10,5 12 – 14 g/dL
Lekosit 9.400 5.000 – 10.000 106/µL

hematokrit 31 37,0 – 45,0 %


Trombosit 264.000 150.000 – 400.000

 USG 2x :di Sp.OG


Hasil USG (8 – 2 – 2019) :
Tampak massa hipo-hiperekoik
Di korpus anterior berbatas tegas
Ukuran 6x4cm intramural
Kesan : Mioma uteri intramural

V. DIAGNOSIS
- Mioma uteri Intramural, Riwayat anemia gravis ec. PUA
- Susp. Adenomiosis

VII. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad fungsional : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam

VIII. TATALAKSANA
a. Rencana Diagnosis
 Laparatomi
 PA
b. Rencana Terapi
 Infus RL 20 tpm
 Transfusi s/d Hb ≥ 10g/dl
 Inj Ceftriaxon
 Inj ketorolac
 Pantoprazol
 Nifedipin
c. Rencana Monitoring
 Observasi keadaan umum dan vital sign
 Observasi perdarahan
KIE:
 Menjelaskan kepada pasien tentang kondisi pasien
 Menganjurkan pasien untuk beristirahat saat kembali ke rumah nanti.
 Kontrol 2 minggu lagi, atau jika ada keluhan segera rumah sakit.

IX. TINDAKAN LAPARATOMI

Nama / macam operasi:

1. Laparatomi
2. Miomektomi
3. Reseksi adenomiosis
4. Adhesiolisis

Jenis Anastesi:

Anastesi spinal

Laporan Operasi:

- Pasien terlentang diatas meja operasi dalam anestesi spinal


- Asepsis dan antisepsis pada daerah operasi dan sekitarnya
- Insisi mediana, mengitari bekas luka lama, dinding abdomen dibuka lapis demi lapis

- Setelah peritoneum dibuka, tampak uterus membesar pada korpus anterior, teraba
masa kenyal dan keras, dilakukan miomektomi dan reseksi adenomiosis.
- Keluar jaringan, miom, ukuran Φ 7cm dan jaringan adenomiosis, ukuran 4x3x2cm.
- Dinding rahim dijahit lapis demi lapis
- Diyakini tidak ada perdarahan
- Dinding abdomen ditutup lapis demi lapis

Instruksi Post Laparatomi :

 Observasi TNSP, tanda perdarahan akut

 Cek Hb, bila Hb<8gr/dl dilakukan transfusi

 Pada anestesi spinal: imobilisasi 24 jam

 Realimentasi dini

 DC cateter 24 jam

 Medikamentosa:

o Inj. Ceftriaxone 1x2gr

o Inj. Ketorolac 3x1 amp IV

o Asam Tranexamat 3x1000mg IV

o Hemobion 1x1 tab