Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KEMAJUAN

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA


PEMBUATAN BERAS ANALOG BERBAHAN DASAR TEPUNG AMPAS
TAHU DAN TEPUNG UBI KAYU DENGAN VARIASI PENAMBAHAN
TEPUNG TULANG IKAN LELE DAN CMC (Carboxy Methyl Cellulose)

BIDANG KEGIATAN
PKM PENELITIAN

Diusulkan oleh :

WAHYUNINGTYAS PUJI NUGROHO Ketua; 17601043; 2017


TANTO BEKTIYADI Anggota 1; 16600022; 2016
ZULFA NUR ZAENI Anggota 2; 17601044; 2017

UNIVERSITAS SLAMET RIYADI


SURAKARTA
2018

i
PENGESAHAN LAPORAN KEMAJUAN PKM PENELITIAN EKSAKTA
.
.

1. Judul Kegiatan : PEMBUATAN BERAS ANALOG BERBAHAN DASAR


TEPUNG AMPAS TAHU DAN TEPUNG UBI KAYU
DENGAN VARIASI PENAMBAHAN TEPUNG
TULANG IKAN LELE DAN CMC (Carboxy Methyl
Cellulose)
2. Bidang Kegiatan : PKMPE - Teknologi dan Rekayasa
3. Ketua Pelaksana Kegiatan
a. Nama Lengkap : Wahyuningtyas Puji Nugroho
b. NIM : 17601043
c. Jurusan : S1 Teknologi Hasil Pertanian
d. Perguruan Tinggi : Universitas Slamet Riyadi
e. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Ngargosari RT 01 RW 03 Ngargosari Ampel Boyolali, telp.
, hp. 085726850556
f. Alamat email : wahyuningtyasnugroho@gmail.com
4. Anggota Pelaksana Kegiatan/Penulis : 2 orang
5. Dosen Pendamping
a. Nama Lengkap dan Gelar : Akhmad Mustofa STP.MSi
b. NIDN : 0605057001
c. Alamat Rumah dan No Tel./HP : Perum Griya Wonorejo Blok F Nomor 27, Gondangrejo,
Karanganyar, telp. , hp. 087712362590
6. Biaya Kegiatan Total
a. Dikti : Rp 8.000.000
b. Sumber lain (sebutkan...) : Rp 0; Sumber lain:
7. Jangka Waktu Pelaksanaan : 3 bulan.
. .
. .
Surakarta, 7 - 7 - 2018
. .
Menyetujui Ketua Pelaksana Kegiatan,
Dosen Pendamping

(Akhmad Mustofa, STP.Msi) (Wahyuningtyas Puji Nugroho)


NIDN. 0605057001 NIM 17601043

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan/

(Dr. Sutoyo, M.Pd.)


NIP/NIK 0601026302

ii
PEMBUATAN BERAS ANALOG BERBAHAN DASAR TEPUNG AMPAS TAHU
DAN TEPUNG UBI KAYU DENGAN VARIASI PENAMBAHAN TEPUNG
TULANG IKAN LELE DAN CMC (Carboxy Methyl Cellulose)
Wahyuningtyas Puji Nugroho1), Tanto Bektiyadi2), Zulfa Nur Zaeni3)
1)
Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi dan Industri Pangan, Universitas Slamet
Riyadi Surakarta
Email : wahyuningtyasnugroho@gmail.com
2)
Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi dan Industri Pangan, Universitas Slamet
Riyadi Surakarta
Email : tantobektiyadi@gmail.com
3)
Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi dan Industri Pangan, Universitas Slamet
Riyadi Surakarta
Email : zulfanz@gmail.com

ABSTRAK

Setiap tahunnya jumlah kebutuhan beras selalu meningkat seiring dengan


meningkatnya jumlah penduduk. Hal ini akan menjadi masalah baru apabila ketersediaan
beras tidak tercukupi. Guna mengurangi impor beras maka dibutuhkan inovasi baru yaitu
pembuatan beras analog. Beras analog adalah suatu produk olahan dengan kandungan
karbohidrat mendekati atau melebihi beras dan dibuat mirip dengan beras. Dalam hal ini
dibutuhkan suatu inovasi beras analog yang kaya nutrisi yaitu beras analog berbahan
dasar tepung ampas tahu dan tepung ubi kayu dengan variasi penambahan tepung tulang
ikan lele dan CMC. Tujuan umum penelitian ini adalah mendapatkan formulasi beras
analog yang dapat diterima konsumen secara sensori dan tujuan khusus untuk mengetahui
sifat fisik dan kandungan gizi beras analog formula terbaik. Penelitian ini diharapkan
dapat memberikan informasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di
bidang pangan khususnya mengenai pembuatan beras analog yang berbasis bahan limbah
dan pangan lokal yang dapat menjadi alternatif makanan pokok. Rancangan percobaan
pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua
faktor yaitu subtitusi penambahan tepung tulang ikan lele dan CMC. Beras analog yang
telah diolah atau siap konsumsi dianlisis secara sensoris, analisis kimia (kadar air, kadar
abu, serat kasar, dan kalsium), dan analisis fisik (bobot seribu butir). Dalam penelitian ini
telah dilakukan pembuatan beras analog tetapi masih dalam bentuk yang sederhana belum
menyerupai bentuk beras pada umunya.

Kata Kunci : Beras analog, ampas tahu, ubi kayu, tulang ikan lele, CMC.

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ ii
ABSTRAK .......................................................................................................... iii
DAFTAR ISI ...................................................................................................... iv
BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................. 1
A. Latar Belakang .......................................................................................... 2
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
C. Tujuan Penelitian ...................................................................................... 3
D. Manfaat Penelitian .................................................................................... 3
BAB 2 TARGET LUARAN ............................................................................... 3
BAB 3 METODE ................................................................................................. 4
A. Rancangan Percobaan ............................................................................... 4
B. Cara Penelitian .......................................................................................... 5
C. Parameter Penelitian.................................................................................. 5
BAB 4 HASIL YANG DICAPAI ....................................................................... 7
BAB 5 POTENSI HASIL ................................................................................... 7
BAB 6 RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA.............................................. 8
LAMPIRAN ......................................................................................................... 9

iv
1

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagian besar masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras sebagai
makanan pokok (Badan Pusat Satistik Nasional, 2009). Setiap tahunnya jumlah
kebutuhan akan beras selalu meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah
penduduk. Hal ini akan menjadi masalah baru apabila ketersediaan beras sudah
tidak dapat tercukupi sehingga pemerintah harus mengimpor beras dari negara lain
untuk mencukupi kebutuhan masyarakat. Guna mengurangi impor beras dari negara
lain maka dibutuhkan inovasi baru salah satunya adalah pembuatan beras analog
atau beras tiruan. Menurut Noviasari dkk (2013), beras analog adalah suatu produk
olahan dengan kandungan karbohidrat mendekati atau melebihi beras dan dibuat
mirip dengan beras. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Noviasari dkk (2013),
tentang Pengembangan Beras Analog Dengan Memanfaatkan Jagung Putih
dihasilkan beras analog dengan bentuk mendekati beras, dan nasi berwarna putih
agak krem serta tekstur yang pas (tidak pera dan tidak pulen). Terdapat aneka
tanaman sumber karbohidrat yang dapat dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan
beras analog antara lain adalah serealia (padi, jagung, sorgum, hotong), umbi-
umbian (ubi kayu, ubi jalar, kentang, garut, ganyong dan umbi lainnya) dan
tanaman pohon (sagu dan sukun). Sementara itu limbah sisa pengolahan seperti
ampas tahu bisa juga digunakan sebagai bahan dasar pembuatan beras analog.
Sebelumnya ampas tahu belum pernah digunakan sebagai bahan dasar dalam
pembuatan beras analog.
Ampas tahu merupakan salah satu limbah hasil pengolahan tahu yang
mempunyai kadar air tinggi sehingga apabila tidak diolah atau ditangani dengan
tepat akan membusuk dan menyebabkan sumber bau yang tidak enak. Menurut
Direktorat Gizi Depkes (1995), di dalam ampas tahu mengandung protein 5,0 g,
dan serat kasar 4,1 g ada kadar air 84,1 g. Berdasarkan kandungan dalam ampas
tahu tersebut maka salah satu cara yang dapat dilakukan untuk penanganan ampas
tahu yaitu dengan mengubahnya menjadi tepung ampas tahu.
Ubi kayu atau singkong merupakan salah satu produk hasil pertanian
pangan terbesar kedua di Indonesia setelah padi, sehingga ubi kayu mempunyai
potensi sebagai alternatif bahan pangan pengganti beras dan berbagai produk
pangan lainnya. Ubi kayu dalam keadaan segar tidak akan bertahan lama meskipun
disimpan di lemari pendingin. Di sisi lain ubi kayu mudah sekali rusak. Guna
pemasaran dan pengolahan yang lebih efektif oleh konsumen, ubi kayu dapat diolah
terlebih dahulu menjadi bentuk lain seperti gaplek, tapioka (tepung ubi kayu),
peuyeum, keripik, dan lain-lain (Koswara, 2009).
Beras analog yang terbuat dari bahan dasar ampas tahu dan ubi kayu hanya
bisa memenuhi kebutuhan akan karbohidrat, protein, dan serat. Sementara itu pada
2

penelitian ini akan dilakukan inovasi untuk membuat beras analog yang mempunyai
keunggulan lain yaitu mengandung sumber kalsium. Menurut Ferazuma dkk
(2011), kalsium adalah salah satu mineral makro yang memiliki peran penting
dalam tubuh. Kekurangan konsumsi kalsium pada anak dan remaja dapat
mengakibatkani gangguan pertumbuhan, proses pengerasan tulang menjadi
terhambat dan menyebabkan rickets. Kekurangan kalsium oleh orang dewasa dapat
menyebabkan osteoporosis. Osteoporosis di Indonesia cukup tinggi, yaitu mencapai
53.6% pada kelompok wanita dan 38% pada kelompok pria di atas 70 tahun, dan
18-36% pada wanita dan 20-27% pada pria di bawah usia 70 tahun. Osteoporosis
tidak lepas dari kebiasaan masyarakat yang masih rendah dalam mengkonsumsi
pangan sumber kalsium. Dalam pembuatan beras analog ini ditambahkan bahan
sumber kalsium yaitu dengan penambahan tepung tulang ikan lele guna menambah
nilai gizi dalam .
Salah satu jenis ikan air tawar yang disukai masyarakat adalah ikan lele.
Ikan lele apabila diolah akan memiliki rasa daging enak dan gurih. Konsumsi ikan
lele inilah yang menyebabkan meningkatnya limbah ikan lele terutama bagian
tulangnya. Menurut Ferazuma dkk (2011), diduga di dalam tulang ikan lele kaya
akan kalsium dan dapat diolah salah satunya menjadi tepung. Tepung tulang ikan
lele dapat menjadi suatu bentuk alternatif bahan pangan yang menjanjikan terutama
dari segi kualitas gizi yang dihasilkan karena kandungan kalsiumnya.
Salah satu kelemahan dari beras analog adalah tekstur dari beras analog
yang kurang kokoh sehingga perlu ditambahkan bahan tambahan pangan agar
dihasilkan beras analog yang dapat diterima oleh konsumen. Salah satu zat yang
bisa ditambahkan adalah CMC (Carboxy Methyl Cellulose). Menurut Yuwono dan
Zulfiah (2015), CMC merupakan senyawa hidrokoloid yang berbentuk serbuk,
berwarna putih, dan tidak beraroma yang secara khusus digunakan untuk
membentuk tekstur yang kokoh dan berkontribusi dalam pembuatan adonan beras
analog. CMC sering dipakai dalam makanan untuk mencegah retrogradasi yaitu
proses kristalisasi kembali pati yang telah mengalami gelatinisasi.
Dalam penelitian ini akan dilakukan pembuatan beras analog dengan
menggunakan bahan dasar ampas tahu dan ubi kayu dengan inovasi penambahan
tulang ikan lele dan CMC (Carboxy Methyl Cellulose) yang diharapkan dapat
menjadi produk yang diterima oleh konsumen dan dapat membantu upaya
diversifikasi makanan pokok di Indonesia..

B. Perumusan Masalah
Dari uraian di atas dapat diambil perumusan masalah yaitu manakah
formulasi terbaik dari berbagai variasi penambahan tepung tulang ikan dan CMC
(Carboxy Methyl Cellulose) pada beras analog yang dibuat dari tepung ampas tahu
dan tepung ubi kayu secara sensori oleh konsumen, sifat fisik dan kandungan
gizinya
3

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah mendapatkan formulasi beras
analog berbahan dasar tepung ampas tahu dan tepung ubi kayu dengan variasi
penambahan tepung tulang ikan lele dan CMC (Carboxy Methyl Cellulose)
terbaik yang dapat diterima konsumen secara sensori.
2. Tujuan Khusus
Tujuan Khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat fisik dan
kandungan gizi beras analog berbahan tepung ampas tahu dan tepung ubi
kayu dengan variasi penambahan tepung tulang ikan lele dan CMC (Carboxy
Methyl Cellulose) formula terbaik

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang
bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pangan
khususnya mengenai pembuatan beras analog yang berbasis bahan limbah dan
pangan lokal yang dapat menjadi alternatif makanan pokok.

BAB 2
TARGET LUARAN

Target luaran yang diharapkan dari program ini adalah


1. Publikasi hasil penelitian dalam jurnal ilmiah nasional terakreditasi atau ISSN
dengan tujuan memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pangan khususnya mengenai
pembuatan beras analog yang berbasis bahan limbah dan pangan lokal yang
dapat menjadi alternatif makanan pokok.
2. Beras analog yang dihasilkan dari penelitian dapat dijadikan salah satu produk
inovasi baru yang diterima oleh konsumen dan dapat membantu upaya
diversifikasi makanan pokok di Indonesia.
4

BAB 3
METODE

Pembuatan aneka
Pembuatan beras analog
tepung

Pengujian Organoleptik Analisis fisik dan kimia

Pengolahan data Penentuan kemasan

Gambar 3.1 Tahap Pelaksanaan

A. Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah
Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang terdiri dari dua faktor yaitu
subtitusi penambahan tepung tulang ikan lele dan CMC (Carboxy Methyl
Cellulose) sebagai berikut :
a. Faktor I (tepung tulang ikan lele)
L1 = (tepung lele : tepung ampas tahu + tepung tulang ikan lele) = 5 : 95
L2 = (tepung lele : tepung ampas tahu + tepung tulang ikan lele) = 10 : 90
L3 = (tepung lele : tepung ampas tahu + tepung tulang ikan lele) = 15 : 85
b. Faktor II (Carboxy Methyl Cellulose)
C1 = 1.5 % (1,5 gram CMC diencerkan dengan air hingga 100 ml)
C2 = 1.75 % (1,75 gram CMC diencerkan dengan air hingga 100 ml)
C3 = 2.0 % (1,5 gram CMC diencerkan dengan air hingga 100 ml)
Dari kedua faktor tersebut didapatkan 9 kombinasi perlakuan. Setiap
kombinasi perlakuan dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali sehingga diperoleh
27 satuan percobaan. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji sidik ragam pada
5

jenjang nyata 0,05. Jika ada beda nyata dilanjutkan uji tukey untuk mengetahui
beda nyata antar perlakuan pada tingkat signifikasi 5%.
Tabe 3.1. Rancangan Percobaan
Kadar Tepung Kadar Carboxy Methyl Cellulose
Tulang Ikan Lele C1 (1.5%) C2 (1.75%) C3 (2.0%)
LI = 5 : 95 L1C1 LIC2 L1C3
L2 = 10 : 90 L2C1 L2C2 L2C3
L3 = 15 : 85 L3C1 L3C2 L3C3

B. Cara Penelitian
1. Pembuatan Tepung Ampas Tahu
Proses pembuatan tepung ampas tahu yang dilakukan pada penelitian
ini adalah sebagai berikut, tahap pertama ampas tahu diperas sampai tidak ada
air yang menetes denga mengunakan hidrolic press dengan tujuan
menurunkan kadar air bahan awal, sehingga mempercepat proses
pengeringan. Kemudian dilakukan pengukusan dilakukan pada suhu 90oC
selama 30 menit dengan tujuan menonaktifkan enzim lipase (tahap I).
Selanjutnya dilakukan pemerasan untuk kedua kalinya dengan tujuan untuk
menurunkan kadar air karena pada saat pengukusan terjadi penambahan kadar
air. Tahap selanjunya dilakukan penyangraian pada suhu 90oC selama 15
menit dengan tujuan menurunkan kadar air dan menonaktifkan enzim (tahap
II) sehingga mencegah warna tepung kurang putih dan bau dan dilakukan
pengeringan dengan cabinet dryer 60oC selama 24 jam dengan tujuan
mengurangi kadar air dalam tepung. Setelah kering dilakukan penghancuran
dengan mengunakan blender dan kemudian diayak dengan mesin ayak ukuran
80 mesh untuk mendapatkan ukuran tepung yang seragam (Yuwono dan
Zulfiah, 2015).
2. Pembuatan Tepung Ubi Kayu
Cara pembuatan tepung ubi kayu dalam skala rumah tangga terdiri dari
dua tahap yaitu pembuatan ubi kayu potong kering dan tahapan pembuatan
tepung ubi kayu. Tahap pertama ubi kayu dikupas, kemudian dicuci bersih.
Setelah dicuci bersih kemudian dipotong tipis dengan ketebalan kurang lebih
1-3 mm dan kemudian dikeringkan dibawah sinar matahari atau dengan mesin
pengering. Ubi kayu yang telah kering kemudian dihaluskan secara manual
atau dengan penghalus elektris dan tahap terakhir diayak agar ukurannya
seragam (Koswara, 2009).
3. Pembuatan Tepung Tulang Ikan lele
Pembuatan tepung tulang ikan lele dilakukan dengan tahap-tahap antara
lain sortasi tulang ikan lele kemudian dicuci bersih dengan air mengalir.
Setelah itu, tulang ikan lele dipresto dengan autoklaf pada suhu 121oC selama
2 jam agar tulang ikan lele menjadi lebih lunak. Tulang ikan lele yang telah
matang dibungkus dengan kain saring dan ditekan dengan hidrolic press
untuk menurunkan kandungan air dari tulang ikan lele sehingga memudahkan
6

dalam proses pengeringan. tulang ikan lele dikeringkan kembali dengan


cabinet dryer pada suhu 80oC selama 6 jam. Serpihan tulang ikan lele yang
telah kering digiling dengan blender sehingga menghasilkan tepung tulang
ikan lele yang merupakan bahan baku pembuatan beras analog dan sebelum
digunakan diayak terlebih dahulu dengan mesin pengayak ukuran 80 mesh
(Ferazuma dkk, 2011).
4. Pembuatan Beras Analog
Tepung ampas tahu dan tepung ubi kayu ditimbang pada proporsi yang
telah ditentukan lalu dicampur hingga merata. Selanjutnya ditambahkan air,
tepung tulang ikan lele dan CMC sesuai variasi yang telah ditentukan lalu
diuleni hingga merata. Adonan yang telah selesai diuleni dicetak menjadi
beras. Lalu dilakukan pengukusan pada suhu 90 ± 5 °C selama 10 menit.
Kemudian dikeringkan dengan pengering kabinet dryer pada suhu 50 ± 5 °C
selama 5 jam. Setelah itu beras analog disimpan (Yuwono dan Zulfiah, 2015
yang dimodifikasi).

C. Parameter Penelitian
Beras analog yang telah diolah atau siap konsumsi kemudian dianlisis secara
sensoris, analisis kimia (kadar air, kadar abu, serat kasar, dan protein), dan
analisis fisik (bobot seribu butir). Masing – masing analisis dapat dijelakan
sebagai berikut :
Tabel 3.2 Metode Analisis
NO Macam Uji Metode
1 Uji sensori Hedonik (Widara, 2012)
2 Kadar Air Thermogravimetri (Sudarmadji dkk, 2010)
3 Kadar Abu Kering (langsung) (Sudarmadji dkk, 2010)
4 Serat kasar (Sudarmadji dkk, 2010)
5 Kalsium Spectro Direct (Vanny dkk, 2016).
6 Bobot seribu butir (Widara, 2012)
7

BAB 4
HASIL YANG DICAPAI
.
Hasil yang telah dicapai adalah beberapa rangkaian program yang telah
dijalankan. Diantaranya, yaitu
1. Telah dilakukannya pembuatan tepung ampas tahu yang akan digunakan sebagai
bahan baku pembuatan beras analog
2. Telah dilakukan pembuatan tepung ubi kayu yang akan digunakan sebagai bahan
baku pembuatan beras analog
3. Dilakukan percobaan beberapa formulasi yang nantinya menghasilkan beras
analog yang sesuai dengan target. Dari hasil percobaan dihasilkan beras analog
yang sudah sesuai dengan beras analog yang ada di pasaran pada umumnya yaitu
beras analog yang masih bisa mempertahankan bentuknya setelah direndam
dalam air atau tidak menjadi bubur tetapi masih dalam bentuk yang sederhana
belum berbentuk beras pada umumnya
4. Mendesain kemasan yang akan digunakan untuk mengemas beras analog yang
dihasilkan.
5. Artikel yang sudah dalam tahap pengerjaan sampai 60%.
6. Draf poster untuk produk beras analog yang dihasilkan.

BAB 5
POTENSI HASIL

Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan formulasi beras analog


berbahan dasar tepung ampas tahu dan tepung ubi kayu dengan variasi penambahan
tepung tulang ikan lele dan CMC (Carboxy Methyl Cellulose) terbaik yang dapat
diterima konsumen secara sensori. Selain itu juga untuk mengetahui sifat fisik dan
kandungan gizi beras analog yang dihasilkan dari formula terbaik beras analog
sehingga dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi di bidang pangan khususnya mengenai pembuatan beras
analog yang berbasis bahan limbah dan pangan lokal yang dapat menjadi alternatif
makanan pokok.
8

BAB 6
RANCANGAN TAHAP BERIKUTNYA

Hal yang akan segera di proses adalah pembuatan beras analog berbahan
dasar tepung ampas tahu dan tepung ubi kayu dengan variasi penambahan tepung
tulang ikan lele dan CMC (Carboxy Methyl Cellulose) yaitu menyelesaikan target
yang belum terselesaikan. Rencana kedepan yang disusun oleh tim adalah:
1. Menyempurnakan bentuk beras analog sehingga menyerupai bentuk beras pada
umumnya yang dimana akan dilakukan di Fakultas FTP UGM Yogyakarta.
2. Melakukan analisis kimia dan analisis fisik terhadap kandungan dari beras
analog yang dihasilkan
3. Menyelesaikan draf artikel yang masih berjalan sekitar 60%
4. Menyempurnakan kemasan produk dan poster
5. Mengikuti seminar sebagai pemakalah sehingga hasil penelitian bisa
dipublikasikan dalam jurnal ilmiah nasional terakreditasi atau ISSN dengan
tujuan memberikan informasi yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi di bidang pangan khususnya.
9

LAMPIRAN 1

LAPORAN KEUANGAN START-UP KEGIATAN PROGRAM


KREATIVITAS MAHASISWA (PKM) UNIVERSITAS SLAMET RIYADI
SURAKARTA

NO KETERANGAN JUMLAH HARGA DEBET KREDIT


(Rp) (Rp) (Rp)
A DANA TALANGAN DARI UNISRI 2.000.000
B PENGELUARAN
Modal tetap/ Peralatan
1 Baskom 2 14.000 28.000
2 Kain saring 1 13.000 13.000
3 Panci pengukus 1 85.000 85.000
4 Blender 1 210.00 210.000
5 Spatula 1 4.000 4.000
6 Pisau 1 5.000 5.000
7 Nampan 3 18.000 18.000
Sub Total 363.000
Biaya Survey dan Riset
1 Trasportasi - 40.000
Sub Total 40.000
Biaya Produksi
1 Ampas tahu 25 kg 3.000 75.000
2 Ubi kayu 15 kg 3.500 52.500
3 Tulang lele 10 kg 6.000 60.000
4 CMC 0.5 kg 60.000 60.000
Sub Total 247.500
Biaya Administrasi
1 Buku log book 1 7.000 7.000
2 Kertas A4 1 32.000 32.000
3 FC + jilid lap kemajuan 1 5.000 5.000
4 Tinta hitam 1 23.000 23.000
5 Cetak label kemasan 1 25.000 25.000
6 Cetak poster 1 15.000 15.000
7 Kantong plastik 1 35.000 35.000
8 Meterai 3 6.000 18.000
9 Scan dokumen 10 900 9.000
Sub Total 169.000
TOTAL PENGELUARAN 819.500
Saldo = Pemasukan – Pengeluaran 1.180.500
= 2.000.000 – 819.500
10

Lampiran 2
Dokumentasi kegiatan Pembuatan Beras Analog

Gambar 1 Ampas tahu Gambar 2 Ampas tahu yang


telah diperas

Gambar 3 Ampas tahu dikuku Gambar 4 Tepung ampas tahu

Gambar 5 Ubi kayu yang telah kering Gambar 6 Tepung ubi kayu
11

Gambar 7 Tulang ikan lele Gambar 8 Tepung tulang ikan lele

Gambar 9 Beras analog Gambar 10 CMC


12

Lampiran 3 Poster
13
14