Anda di halaman 1dari 13

TAHAPAN USAHA PERTAMBANGAN

PENYELIDIKAN UMUM
(PROSPECTING )

EKSPLORASI
(EXPLORATION )

STUDI KELAYAKAN
(FEASIBILITY STUDY )

TIDAK LAYAK LAYAK


(NOT-FEASIBLE ) (FEASIBLE )

ARSIP PENAMBANGAN
(ARCHIEVE ) (EXPLOITATION )

PENGOLAHAN BHN
GALIAN
(MINERAL DRESSING )

PEMURNIAN
(REFINERY )

PEMASARAN
(MARKETING )
POLA FIKIR AKTIFITAS PENAMBANGAN

ÂPREPARATIONS (LAND
CLEARING)
ÂMINE ACTIVITIES
ÂMETALLURGY EXTRACTIVES
ÂPROMOTION AND MARKETING
VARIABLE YANG MEMPENGARUHI
OPERASI LAND CLEARING
1. PEPOHONAN YANG TUMBUH: Faktor yang mempengaruhi produksi dan
biaya a.l: jumlah pohon, ukuran pohon, kerapatan antar pohon, struktur akar,
tanaman yang merambat di pohon, dan semak belukar. Faktor ini dinyatakan
dalam “tree count”
2. KONDISI DAN DAYA DUKUNG TANAH : Faktor yang mempengaruhi
operasi adalah kedalaman tanah pucuk, tipe tanah, kadar air dlm tanah, dan
hadir-tidaknya batuan dan krikil,
3. TOPOGRAFI: Kemiringan lembah yang curam, parit, daerah rawa, boulder,
dan sungai semuanya sangat mempengaruhi kinerja alat di atas normal
4. HUJAN DAN PERUBAHAN CUACA: Sebenarnya seluruh fase land clearing
mulai dari penebangan sampai pembakaran dipengaruhi oleh derajat
perubahan cuaca
5. SPESIFIKASI PEKERJAAN: Yang perlu dicatat adalah persentase
pekerjaan yang sudah selesai, luas area, jadwal, cara pembuangan sampah
penebangan, konservasi tanah, dan faktor lain yang mempengaruhi cara
pengerjaan land clearing maupun pemilihan alat.
SURVEY LAPANGAN (1)
™ Mempelajari jumlah dan tipe pepohonan, rawa serta tebing (bukit) di
lokasi yang akan dibuka.
™ Lakukan perhitungan pohon (tree count) secara acak minimal tiga kali
utk masing² tipe pohon.
™ Cara perhitungan pohon adalah membuat jarak lurus sekitar 100 m,
kmd ukur sepanjang 5 m ke kiri kanan garis lurus tersebut, sehingga
luas menjadi 10 x 100 = 1000m² (= 0,1 Ha = 0,25 acre)
™ Catat jumlah pohon dan kelompokan berdasarkan diameter sbb:
(diameter diukur pada ketinggian ±1,37 m atau setinggi dada)
• < 30 cm
• 31 – 60 cm
• 61 – 90 cm
• 91 – 120 cm
• 121 – 180 cm
• > 180 cm
™ Kerapatan dihitung dari pepohonan yang berdiameter <30 cm, sbb:
• “Rapat” bila terdapat ≥ 1480 pohon/Ha
• “Sedang” bila antara 990 – 1480 pohon/Ha
• “Sedikit” bila terdapat ≤ 990 pohon/Ha
SURVEY LAPANGAN (2)
‰ Catat pula kekerasan kayu, sebab akan mempengaruhi kecepatan
penebangan. Jumlahnya dinyatakan dalam persentase. Efeknya
terhadah kecepatan penebangan sbb:
ƒ 75 – 100 % kayu keras : total waktu penebangan bertambah 30%
ƒ 50 – 70 % kayu keras : tidak berpengaruh
ƒ 0 – 75 % kayu keras : total waktu penebangan berkurang 30%
‰ Catat adanya tumbuhan rambat yang diameternya bisa mencapai 20
cm dan mengikat pohon satu dengan lainnya. Bila di suatu terdpt
banyak tumbuhan rambat, maka penebangan akan sulit dan akibatnya
waktu menebang menjadi dua x lipat lebih lama dibanding normal
‰ Struktur akar juga akan memperlambat penebangan. Di Indonesia sbg
besar pohon tropis struktur akarnya menyebar ke samping mencapai 2
– 3 m. Dari pengalaman, waktu penebangan bertambah 25% bila
pencabutan tunggul dilakukan bersamaan penebangan; namun, bila
dilakukan pencabutan tunggul secara terpisah, maka waktu lebih lama
sekitar 50%.
TAHAPAN PEMBUKAAN LAHAN
1. UNDERBRUSHING: Operasi pembabatan pohon yang mempunyai
diameter sampai maks 30 cm. Tujuannya utk mempermudah
operasi penumbangan pohon yang berukuran lebih besar
2. FELLING: Operasi penumbangan pohon berdiameter >30 cm.
Dalam spesifikasi kerja biasanya disebutkan apakah pohon
ditumbangkan berikut akarnya/tunggulnya dan harus dijaga agar
kerusakan top soil sekecil mungkin
3. PILING: Pekerjaan pengumpulan pohon yang telah ditumbangkan.
Dalam spek kerja biasanya disebutkan bhw batang kayu dibiarkan
dahulu 1-2 minggu di bawah sinar matahari agar kering sebelum
ditumpuk. Operasi harus menjaga lapisan top soil tetap baik
4. BURNING: Operasi pembakaran kayu/batang pohon biasanya
digunakan bhn bakar oli bekas. Alat berat dapat digunakan utk
membalik-balikkan kayu/batang yg blm terbakar agar proses
pembakaran berlangsung sempurna.
ESTIMASI PRODUKSI PENEBANGAN
MENGGUNAKAN RUMUS DARI ROME INDUSTRIES

T = X [A( B ) + M 1 N1 + M 2 N 2 + M 3 N 3 + M 4 N 4 + DF ]

Di mana: T = Waktu tebang per Ha, menit


X = Faktor densitas kekerasan, sbb:
¾ 25 – 75% pohon keras; X = 1,0
¾ 0 – 25% pohon 75 - 100% pohon keras; X = 1,3
¾ keras; X = 0,7
A = Faktor densitas pohon rambat, %
B = Waktu dasar kerja traktor per Ha
M = Waktu tebang per pohon utk tiap diameter, menit
N = Jumlah pohon per Ha utk tiap kelas diameter (diperoleh dari survey)
D = Jumlah kelipatan setiap 30 cm utk diameter pohon ≥180 cm per Ha.
Contoh bila hasil survey ditemukan diameter pohon 180 cm ada 2 pohon per Ha,
maka D = (180/30) x 2 = 12
F = Waktu tebang setiap 30 cm utk kelas diameter pohon ≥180 cm
FAKTOR PRODUKSI UTK FELLING

Kelas diameter
TRAC- B 30-60 cm, 60-90 cm, 90-120 cm, 120-180 cm,
F
TOR M1 M2 M3 M4

165 HP 85 0,7 3,4 6,8 - -


215 HP 58 0,5 1,7 3,3 10,2 3,3
335 HP 45 0,2 1,3 2,2 6 1,8
480 HP 39 0,1 0,4 1,3 3 1,0
GEOMETRI PELEDAKAN
BEBERAPA CARA ESTIMASI
GEOMETRI PELEDAKAN (1)

1. R.L. ASH (1963)


KB = KBstd x AF1 x AF2

KB standar = 30
1/ 3
 Energy potensial handak yang dipakai 
AF1 =  
 Energy potensial handak standar 
1/ 3
 Densitas batuan standar 
AF1 =  
 Densitas batuan yang diledakkan 
Handak standar: adalah yang mempunyai SG 1,20 dan VOD 12.000 fps
(4.000 m/det)
Batuan standar: adalah yang mempunyai densitas 160 lb/cuft (2,00 ton/m³)
BEBERAPA CARA ESTIMASI
GEOMETRI PELEDAKAN (2)
2. Konya (1972)
1/3
 SGe 
B = 3,15 De  
 SGr 
Di mana : B = burden, ft
De = diameter lubang ledak, inci
SGe = densitas handak
SGr = densitas batuan
BEBERAPA CARA ESTIMASI
GEOMETRI PELEDAKAN (3)
3. ICI EXPLOSIVE Co. AUSTRALIA

• Bench height (H): chosen on a basis of local ground conditions


and regulations and size type of loading equipment
• Blasthole diamt (D): Generally dictated by available equipment.
(H = 60-140 D)
• Burden between rows (B)= 25D-40D
• Spacing between blastholes along rows (S)= 1B-1,5B
• Subgrade (J)= 8D-12D
• Stemming (T)= 20D-30D
Mass of explosives (Mass/m)x(charge length)
Powder Factor = =
Volume of rock (B x S x H)
Stifness Ratio
Stifness Fragmentasi Airblast Flyrock Vibrasi Keterangan
Ratio
1 Jelek Berpotensi Berpotensi Berpotensi •Terjadi backbreak dan toe
•Rancang ulang
2 Sedang Sedang Sedang Sedang Sebaiknya dirancang ulang

3 Baik Baik Baik Baik Terkontrol dan fragmentasi


memuaskan
4 Sempurna Sempurna Sempurna Sempurna Tdk menguntungkan bagi SR >4