Anda di halaman 1dari 35

TRAUMATIK ULSER

MAKALAH
Laporan kasus bagian Ilmu Penyakit Mulut

Disusun oleh:

Atikah Mawardhani Putri


160112160057

Dosen Pembimbing

drg. Erna Herawati, M. Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.................................................................................................................i

DAFTAR GAMBAR..................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................1

BAB II LAPORAN KASUS...................................................................................3

2.1 Status Klinik IPM...........................................................................................3

2.1.1 Status Umum Pasien................................................................................3

2.1.2 Anamnesa................................................................................................3

2.1.3 Riwayat Penyakit Sistemik......................................................................4

2.1.4 Riwayat Penyakit Terdahulu....................................................................4

2.1.5 Kondisi Umum........................................................................................4

2.1.6 Pemeriksaan Ekstra Oral.........................................................................5

2.1.7 Pemeriksaan Intra Oral............................................................................6

2.1.8 Odontogram.............................................................................................7

2.1.9 Pemeriksaan Penunjang...........................................................................7

2.1.10 Diagnosis.................................................................................................7

2.1.11 Rencana Perawatan dan Perawatan.........................................................8

2.2 Laporan Kontrol I...........................................................................................9

2.2.1 Anamnesis.............................................................................................10

2.2.2 Pemeriksaan Ekstra Oral.......................................................................10

2.2.3 Pemeriksaan Intra Oral..........................................................................11

2.2.4 Hasil Pemeriksaan Penunjang................................................................11

1
2.2.5 Diagnosis...............................................................................................12

2.2.6 Rencana Perawatan dan Perawatan.......................................................12

BAB III TINJAUAN PUSTAKA..........................................................................13

3.1 Definisi..........................................................................................................13

3.2 Etiologi..........................................................................................................13

3.3 Gambaran Klinis...........................................................................................15

3.4 Patofisiologis.................................................................................................16

3.5 Histopatologi.................................................................................................17

3.6 Diagnosis.......................................................................................................18

3.7 Diagnosis Banding........................................................................................19

3.8 Perawatan......................................................................................................23

BAB IV PEMBAHASAN......................................................................................24

BAB V SIMPULAN..............................................................................................29

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................30

2
DAFTAR GAMBAR

No. Halama
Teks
Gambar n
2.1 Lesi traumatik pada gingiva rahang bawah
(Gambar a) dan muccobuccofold kanan rahang
atas (Gambar
b)............................................................................ 9
2.2 Lesi traumatik pada gingiva anterior rahang
bawah (Gambar a) dan muccobuccofold rahang
atas kanan (Gambar b) sudah
sembuh………............................. 12
3.1 Ulser akut (kiri), ulser kronis (kanan), dan
granuloma traumatik (bawah) (Regezi, 2003;
Soames, 2005)
……………………............................ 16
3.2 Gambaran histologis menunjukkan hilangnya
lapisan epitelium, infiltrasi sel-sel inflamatori
pada dasar ulser, dan kapiler yang berdilatasi
(Regezi, 2003)
……………………………………………....... 17
3.3 Ulser kronis menunjukkan fibrin yang melapisi
dasar jaringan granulasi yang terinflamasi
(Regezi, 2003)………...….......
…………………………….… 18
3.4 Ulser eosinofilik (Laskaris,
2006).............................. 21
3.5 Ulser awal pada squamous cell carcinoma
(Laskaris, 2006)
…………………………………….….............. 22

3
4
BAB I

PENDAHULUAN

Ulser adalah suatu lesi yang berbatas tegas dan dalam hingga berefek pada

epitel yang diselimuti gumpalan fibrin sehingga menghasilkan tampilan berwarna

putih kekuningan (Glick, 2015). Ulserasi pada rongga mulut merupakan keluhan

umum pada pasien yang datang ke klinik dokter gigi (Field, 2013). Penyebab ulser

pada rongga mulut antara lain faktor lokal, yaitu trauma, kimiawi, panas, dingin,

radiasi, dan elektrik; recurrent aphtous stomatitis, neoplasma ganas, obat-obata,

infeksi bakteri, virus, dan fungal, serta faktor sistemik (Babu, et a.l, 2017).

Penyebab ulserasi pada rongga mulut tersering adalah trauma (Ghom, 2010).

Ulser yang disebabkan trauma disebut ulser traumatik. Ulser traumatik pada rongga

mulut biasanya disebabkan gigi yang tajam, gigi tiruan yang tidak pas dan iritasi,

tambalan yang kasar, restorasi yang fraktur, pemakaian alat ortodontik, dan tergigit

(Babu, et a.l, 2017). Ulser traumatik biasanya muncul dengan lesi yang single, terasa

sakit, cenderung memiliki batas yang ireguler dengan margin eritema dan dasar putih

kekuningan, dan biasanya sembuh spontan atau dengan menghilangkan penyebabnya

dalam waktu 6 sampai 10 hari. Ulser traumatik ini dapat terjadi pada berbagai

tingkatan usia dan jenis kelamin. Lokasi terjadi umumnya pada lidah, bibir, dan juga

mukosa bukal (Glick, 2015)

Lesi traumatik dibedakan menjadi ulser akut dan kronis. Ulser akut biasanya

disertai rasa sakit dan memberikan gambaran klinis berupa lesi berwarna putih

1
2

kekuningan yang dikelilingi permukaan eritem. Sedangkan ulser kronis biasanya

tidak disertai rasa sakit yang hebat bahkan tidak menimbulkan rasa sakit serta

memberikan gambaran klinis berupa lesi berwarna putih kekuningan dengan batas

yang lebih tinggi dari permukaan di sekitarnya (Regezi, 2003).

Perawatan utama untuk ulser traumatik yaitu menghilangkan sumber trauma.

Pemberian multivitamin, antiseptik lokal, antibiotik lokal, dan obat anti-inflamasi

kortikosteroid topikal dapat dilakukan terutama untuk menghilangkan rasa sakit dan

mempercepat penyembuhan lesi.

Makalah laporan kasus ini akan membahas secara rinci mengenai lesi traumatik

pada seorang pasien yang datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas

Padjadjaran pada tahun 2017.


BAB II

LAPORAN KASUS

II.1 Status Klinik IPM

II.1.1 Status Umum Pasien

Nama : Tn. M

Nomor Rekam Medik : 2017-0xxxx

Usia : 55 tahun

Status Perkawinan : Menikah

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Pekerjaan : Buruh

Alamat Rumah : Bandung

Tanggal Pemeriksaan : 18 Juli 2017

II.1.2 Anamnesa

Pasien laki-laki usia 55 tahun datang dengan keluhan terdapat sariawan di

bagian gusi depan bawah dan dekat gusi belakang kanan atas. Sariawan tersebut

muncul secara bersamaan sekitar 3 hari yang lalu. Pasien mengaku bahwa luka

tersebut muncul saat pasien mencoba gigi tiruan dan bagian tersebut tertekan pada 4

hari yang lalu. Awalnya sariawan tersebut tidak terasa sakit, tetapi sekarang terasa

sakit saat disentuh. Tidak terdapat gejala lain yang menyertai. Pasien belum pernah

mengobati keluhannya. Pasien sedang jarang mengkonsumsi sayur dan buah-buahan.


3
4

Pasien mengaku tidak ada riwayat sering mengalami sariawan. Pasien ingin sariawan

tersebut diobati karena menganggu ketika makan dan menyikat gigi.

II.1.3 Riwayat Penyakit Sistemik

Penyakit jantung : YA/TIDAK

Hipertensi : YA/TIDAK

Diabetes Melitus : YA/TIDAK

Asma/Alergi : YA/TIDAK

Penyakit Hepar : YA/TIDAK

Kelainan GIT : YA/TIDAK

Penyakit Ginjal : YA/TIDAK

Kelainan Darah : YA/TIDAK

Hamil : YA/TIDAK

Kontrasepsi : YA/TIDAK

Lain-lain : Thyroid

II.1.4 Riwayat Penyakit Terdahulu

Disangkal

II.1.5 Kondisi Umum

Keadaan Umum : Baik

Kesadaran : Compos Mentis


5

Suhu : Afebris

Tensi : 110/80 mmHg

Pernafasan : 20 x / menit

Nadi : 70 x / menit

II.1.6 Pemeriksaan Ekstra Oral

Kelenjar Limfe

Submandibula : kiri : teraba +/- lunak/kenyal/keras sakit +/-

kanan : teraba +/- lunak/kenyal/keras sakit +/-

Submental : kiri : teraba +/- lunak/kenyal/keras sakit +/-

kanan : teraba +/- lunak/kenyal/keras sakit +/-

Servikal : kiri : teraba +/- lunak/kenyal/keras sakit +/-

kanan : teraba +/- lunak/kenyal/keras sakit +/-

Mata :Pupil: isokhorik, Sklera: non ikterik, Konjungtiva: non

anemis, (-) eksoptalmus

TMJ : Deviasi ke kiri

Wajah : Simetri/Asimetri

Sirkum Oral : Tidak ada kelainan

Lain-lain : Tidak ada kelainan


6

II.1.7 Pemeriksaan Intra Oral

Kebersihan Mulut : baik/sedang/buruk plak +/-

Kalkulus +/- stain +/-


Bibir : Normal dan kompeten
Gingiva : Regio anterior rahang bawah terdapat lesi

berwarna putih kekuningan, irregular, tepi

kemerahan, diameter 1,5 – 2 mm, dasar cekung

Mukosa Bukal : Regio mucobucofold posterior rahang atas terdapat

lesi berwarna putih kekuningan, berbentuk

irrregular, tepi kemerahan, diameter 1,5 – 2 mm,

dasar cekung
Mukosa Labial : Normal
Palatum Durum : Normal
Palatum Mole : Normal
Frenulum : Normal
Lidah : Terdapat garis-garis yang dalam di regio lidah tengah
Dasar Mulut : Normal, kekentalan saliva: kental, jumlah saliva:

normal

II.1.8 Odontogram
7

II.1.9 Pemeriksaan Penunjang

Radiologi : tidak dilakukan

Darah : tidak dilakukan

Patologi Anatomi : tidak dilakukan

Mikrobiologi : tidak dilakukan

II.1.10 Diagnosis

Traumatik ulser et causa trauma fisik gigi tiruan a.r gingiva anterior rahang bawah

dan muccobuccofold rahang atas kanan belakang

DD/ Reccurent Aphtous Stomatitis, ulser eosinofilik, squamous cell carcinoma

II.1.11 Rencana Perawatan dan Perawatan

Non farmakologis : KIE, OHI

1. Menjelaskan hasil kontrol dan keadaan mulut pasien


8

2. Menjelaskan kepada pasien untuk lebih sering minum air putih dan

mengonsumsi makanan yang mengandung vit. B12, asam folat, dan zat besi

3. Menjelaskan pada pasien tentang cara membersihkan rongga mulut yang

benar dan menyikat gigi 2 kali sehari, 30 menit setelah sarapan dan sebelum

tidur.

Farmakologis

R/ Chlorhexidine Gluconate 0,2% Fl No I 60 ml

∫ 2 dd 1 garg

Cara pakai:

1. Bersihkan rongga mulut

2. Gunakan obat tersebut dengan cara berkumur-kumur selama 15-20 detik

3. Tidak diperkenankan berkumur kembali dengan air

4. Dan tidak boleh mengkonsumsi minum dan makanan 45-60 menit

a b

Gambar 2.1 Lesi traumatik pada gingiva rahang bawah (Gambar a) dan
muccobuccofold kanan rahang atas (Gambar b)
9

II.2 Laporan Kontrol I

Nama : Tn. M

Nomor Rekam Medik : 2017-0xxxx

Usia : 55 tahun

Status Perkawinan : Menikah

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Pekerjaan : Buruh

Alamat Rumah : Bandung

Tanggal Pemeriksaan : 18 Juli 2017

II.2.1 Anamnesis

Pasien datang untuk kontrol 7 hari setelah sariawan dirawat. Pasien telah

menggunakan obat kumur antiseptik (chlorhexidine gluconate 0,2%) selama 5 hari.

Pasien mengaku sariawan telah menghilang setelah 4 hari menggunakan obat kumur

tersebut. Tidak ada lagi mengeluhkan rasa sakit pada tempat bekas sariawan. Pasien

tidak mengeluhkan adanya sariawan baru.

II.2.2 Pemeriksaan Ekstra Oral

Kelenjar Limfe

Submandibula : kiri : teraba +/- lunak/kenyal/keras sakit +/-


10

kanan : teraba +/- lunak/kenyal/keras sakit +/-

Submental : kiri : teraba +/- lunak/kenyal/keras sakit +/-

kanan : teraba +/- lunak/kenyal/keras sakit +/-

Servikal : kiri : teraba +/- lunak/kenyal/keras sakit +/-

kanan : teraba +/- lunak/kenyal/keras sakit +/-

Mata :Pupil: isokhorik, Sklera: non ikterik, Konjungtiva: non

anemis, (-) eksoptalmus

TMJ : Deviasi ke kiri

Wajah : Simetri/Asimetri

Sirkum Oral : Tidak ada kelainan

Lain-lain : Tidak ada kelainan

II.2.3 Pemeriksaan Intra Oral

Kebersihan Mulut

OHI–S = DI + CI = 0,5 (baik)


Stain (+)

Gingiva : Regio anterior rahang bawah terdapar bercak kemerahan di

tempat bekas sariawan


11

Mukosa bukal : Tidak ada kelainan

Mukosa labial : Tidak ada kelainan

Palatum durum : Tidak ada kelainan

Palatum mole : Tidak ada kelainan

Frenulum : Normal

Lidah : Terdapat garis-garis yang dalam di regio lidah tengah

Dasar mulut : Normal

II.2.4 Hasil Pemeriksaan Penunjang

Radiologi : tidak dilakukan

Darah : tidak dilakukan

Patologi Anatomi : tidak dilakukan

Mikrobiologi : tidak dilakukan

II.2.5 Diagnosis

D/ Post traumatik ulser (sudah sembuh)

II.2.6 Rencana Perawatan dan Perawatan

Non Farmakologis : KIE, OHI

1. Menjelaskan hasil kontrol dan keadaan mulut pasien

2. Menjelaskan kepada pasien untuk lebih sering minum air putih dan

mengonsumsi makanan yang mengandung vit. B12, asam folat, dan zat besi
12

3. Menjelaskan pada pasien tentang cara membersihkan rongga mulut yang

benar dan menyikat gigi 2 kali sehari, 30 menit setelah sarapan dan sebelum

tidur.

a b

Gambar 2.2 Lesi traumatik pada gingiva anterior rahang bawah (Gambar a) dan
muccobuccofold rahang atas kanan (Gambar b) sudah sembuh.
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

III.1 Definisi

Ulser merupakan defek pada lapisan epitelium, lesi ini ditandai dengan adanya

depresi (cekung) dan batas pinggir lesi jelas, serta terdapat kehilangan lapisan

epidermal (Glick, 2015). Ulser pada rongga mulut merupakan lesi yang paling

banyak dikeluhkan pada mukosa oral. Terdapat berbagai penyebab terjadinya ulserasi

pada rongga mulut, salah satu penyebab ulser yaitu trauma (mekanis, kimia, dan

termal) (Babu, et al, 2017). Ulser yang disebebkan karena adanya trauma disebut

ulser traumatik (Soames, 2005).

III.2 Etiologi

Ulser traumatik dapat disebabkan oleh trauma mekanis, kimia, termal, atau

radiasi. Ulser traumatik akibat trauma mekanis merupakan lesi oral yang paling

sering ditemukan. Penyebab ulser taumatik akibat mekanis gesekan pada bagian gigi,

restorasi, dan makhota yang tajam, gigi tiruan yang tidak baik, penggunaan kawat

ortodonti, tergigitnya mukosa mulut. Ulser traumatik akibat gigi tiruan yang tidak

baik biasanya terdapat di sulkus lingual atau bukal. Ulser yang disebabkan gigi patah

yang tajam biasanya terdapat pada lidah atau mukosa bukal. Anestesi lokal pada

perawatan dental juga merupakan penyebab ulserasi yang disebabkan rasa kebal yang

ditimbulkan sehingga pasien menggigit mukosa pipi atau bibir terus-menerus. Ulser
13
14

traumatik pada anak-anak yang memiliki kebiasaan menghisap ibu jari dan terdapat

pada palatum lunak disebut Bednar’s aphthae. (Cawson, 2008).

Trauma termal biasanya disebabkan dari makan makanan yang panas. Sensasi

sakit yang normal tidak ada, yang ada hanya rasa terbakar. Rasa terbakar ini biasanya

muncul pada bagian palatum atau mukosa bukal posterior dan terlihat zona eritem

serta terdapat ulserasi dengan epitelium yang nekrotik dipinggirnya.

Trauma kimia dapat disebabkan oleh keasaman atau kebasaan suatu substansi

yang bertindak sebagai iritan atau alergen kontak. Substansi ini memliki konsentrasi

yang cukup kuat dan berkontak pada mukosa mulut dalam jangka waktu yang

panjang. Contohnya yaitu aspirin burns, yang terjadi ketika aspirin berkontak dengan

mukosa. Perluasan lesi bergantung pada durasi dan banyaknya aspirin yang

menyentuh mukosa. Medikasi yang diletakkan dalam kavitas gigi, terutama yang

mengandung fenol, dapat menyebabkan ulser iatrogenik. Agen pengetsa juga dapat

menyebabkan lesi luka bakar pada mukosa. Prosedur bleaching endodontic maupun

vital, yang menggunakan agen pengoksidasi seperti hidrogen peroksida 30%, juga

dapat menyebabkan burning sensation (Soames, 2005; Regezi, 2003)

Ulser traumatik juga dapat berupa ulserasi faksisius yang merupakan trauma

self-inflicted (disebabkan diri sendiri) dan manifestasi dari stres, kecemasan, atau

gangguan emosional yang lebih parah. Penampakan dan distribusinya bermacam-

macam tergantung pada penyebabnya. Penyebab yang paling sering terjadi yaitu

karena menggigit bibir, pipi atau lidah, dan kerusakan pada mukosa (misalnya

gingiva) yang disebabkan trauma oleh kuku yang tajam. Gangguan emosional yang
15

berkaitan biasanya terlihat dengan mudah. Diagnosis dapat ditegakkan dengn

observasi setelah rujukan ke rumah sakit dan diperlukan penilaian khusus dari bagian

psikiatri (Soames, 2005; Cawson, 2008).

III.3 Gambaran Klinis

Gambaran klinis ulser traumatik beragam tergantung intensitas dan ukuran agen

traumatik. Ulser akut menunjukkan gejala klinis berupa rasa sakit, memiliki dasar

yang agak cekung dan berbentuk oval. Tepi ulser pada awalnya eritem yang akan

semakin memudar karena adanya proses keratinisasi. Bagian tengah ulser biasanya

berwarna abu-abu kekuningan karena dilapisi oleh membran fibrin yang berwarna

kekuningan (Regezi, 2003)

Ulser kronis tidak begitu menyebabkan rasa sakit atau bahkan tidak

menimbulkan rasa sakit. Ulser berwarna kuning dan dikelilingi oleh batas dengan

permukaan lebih tinggi yang menunjukkan adanya hiperkeratosis. Indurasi terjadi

karena pembentukan jaringan parut dan infiltrasi sel kronis inflammatori. (Regezi,

2003)

Bentuk ulser yang tidak biasa yaitu granuloma traumatik (traumatic ulcerative

granuloma with stromal eosinophilia) biasanya dikaitkan dengan luka mukosa yang

dalam (pada otot). Ulser berbentuk kawah ini berdiameter 1-2 cm, dan sembuh dalam

beberapa minggu. Ulser ini biasanya terjadi pada lidah dan merupakan lesi kronis,

dengan batas jelas dan mirip seperti karsinoma sel squamosa. (Regezi, 2003; Soames,

2005)
16

Gambar 3.1 Ulser akut (kiri), ulser kronis (kanan), dan granuloma traumatik (bawah)
(Regezi, 2003; Soames, 2005)

III.4 Patofisiologis

Pada awal lesi terdapat infiltrasi limfosit yang diikuti oleh kerusakan epitel dan

infiltrasi neutrofil ke dalam jaringan. Sel mononuclear juga mengelilingi pembuluh

darah (perivaskular), tetapi vaskulitis tidak terlihat. Namun, secara keseluruhan

terlihat tidak spesifik. (Cawson, 2008)

Perjalanan ulser traumatik dimulai mukosa berubah menjadi makula berwarna

merah, yang dalam waktu singkat bagian tengahnya berubah menjadi jaringan

nekrotik dengan epitelnya hilang sehingga terjadi lekukan dangkal. Ulser akan

ditutupi oleh eksudat fibrin kekuningan yang dapat bertahan selama 10-14 hari. Bila
17

dasar ulser berubah warna menjadi merah muda tanpa eksudat fibrin, menandakan

lesi sedang memasuki tahap penyembuhan. (Glick, 2015)

III.5 Histopatologi

Ulser akut menunjukkan adanya kehilangan epithelium permukaan yang

digantikan dengan jaringan fibrin yang mengandung neutrofil. Dasar ulser

mengandung kapiler yang berdilatasi dan jaringan granulasi. Regenerasi epithelium

dimulai dari tepi ulser, dengan sel-sel yang berproliferasi bergerak sepanjang dasar

jaringan granulasi dan di bawah lapisan fibrin.(Regezi, 2003)

Gambar 3.2 Gambaran histologis menunjukkan hilangnya lapisan epitelium,


infiltrasi sel-sel inflamatori pada dasar ulser, dan kapiler yang berdilatasi
(Regezi, 2003).

Ulser kronik memiliki dasar jaringan granulasi, dengan jaringan parut pada

lapisan yang lebih dalam. Infiltasi sel inflamatori campuran terlihat pada jaringan

tersebut.Regenerasi epithelial biasanya tidak terjadi karena trauma yang berkelanjutan

atau karena faktor jaringan lokal. (Regezi, 2003).


18

Gambar 3.3 Ulser kronis menunjukkan fibrin yang melapisi dasar jaringan granulasi
yang terinflamasi (Regezi, 2003).

Granuloma traumatik menunjukkan luka dan inflamasi yang meluas sampai ke

otot skeletal yang terdekat, dan terdapat infiltrasi makrofag yang tebal serta

didominasi oleh eosinofil. Istilah granuma menunjukkan adanya infiltrasi yang

didominasi oleh makrofag, tetapi bukan merupakan granuloma yang terjadi pada

proses infeksius seperti pada tuberkulosis (Regezi, 2003).

III.6 Diagnosis

Diagnosis didasarkan pada latar belakang dan pemeriksaan klinis. Ada

beberapa kriteria yang menentukan diagnosis ulser traumatik, yaitu: penyebab trauma

dapat diidentifikasi; penyebabnya harus sesuai dengan tempat, ukuran, dan bentuk

ulser; dan setelah penyebabnya dihilangkan, ulser menunjukkan penyembuhan dalam

waktu kurang lebih 3 hari. Ulser akut akan dengan mudah dicari hubungan sebab-

akibatnya melalui pemeriksaan klinis dan anamnesa. Penyebab ulser kronis tidak bisa
19

ditentukan semudah itu, dan penting untuk mempertimbangkan berbagai diagnosis

banding. Kondisi lain yang perlu dipertimbangkan adalah infeksi (sifilis, tuberkulosis,

infeksi jamur) dan keganasan. Jika lesi tersebut disebabkan karena trauma, maka

penyebabnya harus dicari dan dihilangkan. Jika ulser tidak menunjukkan adanya

penyembuhan dalam 10 hari, maka indikasi untuk dilakukan biopsi. (Soames, 2005)

III.7 Diagnosis Banding

Beberapa kelainan yang dapat dijadikan diagnosis banding untuk traumatik

ulser adalah Recurrent Apthous Stomatitis, Ulser Eosinofilik, dan Squamous Cell

Carcinoma.

1. Recurrent Apthous Stomatis

Recurrent apthous stomatitis (RAS) merupakan kerusakan pada mukosa mulut

dengan karakteristik ulser yang timbul berulang pada pasien yang tidak

memiliki tanda-tanda penyakit lain. Implikasi dari recurrent apthous stomatitis

ini adalah kelainan imunologi, defisiensi hematologi, dan kelainan psikologi.

RAS diklasifikasikan berdasarkan karakteristik klinis: ulser minor, ulser mayor,

dan ulser herpetiform. Ulser minor terjadi pada 80% kasus RAS, karakteristik

ulser minor adalah berdiameter 1 cm, dan sembuh tanpa ada scars. Ulser mayor

mempunyai karakteristik ulser dengan diameter lebih dari 1 cm, penyembuhan

lama, dan sering meninggalkan scars pada penyembuhan. Ulser herpetiform

memiliki karakteristik terdapat lusinan ulser pada mukosa oral (Greenberg dan

Glick, 2015). Etiologi dari RAS adalah herediter, defisiensi hematologi,


20

abnormalita immunologi, dan penyebab lain seperti trauma, stress psikologis,

rasa cemas, serta alergi makanan. Manifestasi klinis dari RAS adalah pada 2-48

jam awal sebelum munculnya ulser, pasien merasakan rasa terbakar, selama

periode inisial area lokal eritema, kemudian dalam beberapa jam muncul papula

kecil berwarna putih dan dalam aktu 48-72 jam akan membentuk ulser dan

membesar.

2. Ulser Eosinofilik

Ulser eosinofilik merupakan lesi kronis pada mukosa oral yang dapat sembuh

tanpa pemberian terapi obat. Etiologi ulser eosinofilik masih belum dapat

ditentukan secara spesifik namun trauma dapat menjadi penyebab utama. Ulser

ini dapat terjadi pada pasien yang berusia 30 – 50 tahun. Lokasi ulser lebih

sering timbul pada lidah, tetapi dapat timbul di bibir, mukosa bukal, palatum,

gusi, maupun dasar mulut (Chandra, et al, 2014).

Secara klinis gambaran ulser eosinofilik tampak permukaan yang tidak teratur,

berbentuk seperti kawah dengan peninggian epitel pada tepi ulser dan terdapat

lapisan pseudomembran berwana putih-kekuningan (Laskaris, 2006). Ulser ini

dikelilingi eritema dan keratosis (Glick, 2015). Bentuk ulser biasanya soliter

dengan batas yang indurasi dan bersifat asimtomatik (Chandra, et al, 2014).

Ulser sering dihubungkan dengan cedera mukosa yang dalam. Ukuran lesi ulser

biasanya berdiameter 1 – 2 cm dan penyembuhan dapat berlangsung selama

beberapa minggu. Gambaran histopatologis terdapat jaringan granuloma dengan


21

lesi yang cukup dalam, serta inflamasi meluas sampai ke bawah otot skeletal

disertai gambaran makrofag dan infiltrasi eosinophil (Regezi, 2008).

Perawatan pada ulser eosinofilik sama dengan perawatan yang diberikan pada

ulser traumatik yaitu dengan mengeliminasi faktor penyebab lesi apabila pasien

menyadari bahwa lesi muncul akibat trauma tertentu. Selain itu penggunaan

steroid dalam dosis rendah juga dapat diberikan untuk mempercepat

penyembuhan lesi tersebut (Laskaris, 2006 ; Cawson dan Odell, 2008).

Gambar 3.4 Ulser eosinofilik (Laskaris, 2006)

3. Squamous Cell Carcinoma

Karsinoma sel squamosa merupakan salah satu kanker rongga mulut yang

timbul dari lesi yang berpotensi menjadi malignan atau dari epitel pre kanker

yang berasal dari genetik (Feller dan Lemmer, 2012). Kebiasaan seperti

merokok, konsumsi alkohol, paparan sinar matahari, oral hygiene yang buruk,

defisiensi gizi, defisiensi zat besi, sirosis hepar juga dapat menjadi faktor

predisposisi. Karsinoma oral ini lebih sering terjadi pada pria dibandingkan
22

wanita (ratio 2:1) dan biasanya pada usia diatas 40 tahun. Terdapat beberapa

variasi gambaran klinis karsinoma yang dapat menyerupai beberapa penyakit

(Laskaris, 2006).

Secara klinis ulser biasanya timbul di postero-lateral lidah dengan gambaran

sebagai lesi putih (leukoplakia), lesi merah (eritroplakia), atau keduanya, ulser

bergranulasi disertai fissure, peninggian tepi dengan dasar yang indurasi, terasa

keras saat di palpasi dan lesi bersifat kronis (Scully dan Felix, 2010 ; Laskaris,

2006). Ulser ini biasanya asimptomatik pada fase awal dan lokasinya biasanya

pada lidah atau mukosa oral (Chandra, et al, 2014). Pada lesi yang yang cukup

luas dapat mengganggu fungsi bicara, menelan, dan makan apabila lesinya

melibatkan lidah (Greenberg dan Glick, 2008). Perawatan yang dapat dilakukan

pada karsinoma sel squamosa yaitu dengan pengangkatan jaringan lesi secara

bedah eksisi, radiotherapy atau dapat juga dilakukan chemotherapy (Laskaris,

2006).

Gambar 3.5 Ulser awal pada squamous cell carcinoma (Laskaris, 2006)
23

III.8 Perawatan

Perawatan utama untuk ulser traumatik yaitu menghilangkan sumber trauma.

Pemberian multivitamin, antiseptik lokal, antibiotik lokal, dan obat anti-inflamasi

kortikosteroid topikal dapat dilakukan terutama untuk menghilangkan rasa sakit dan

mempercepat penyembuhan lesi. Umumnya ulser traumatik dapat hilang dalam waktu

2 minggu, tetapi jika dalam waktu tersebut ulser belum hilang, maka perlu dilakukan

pemeriksaan lebih lanjut. (Regezi, 2003;Langlais, 2000).


BAB IV

PEMBAHASAN

Pasien pria usia 55 tahun telah didiagnosis menderita traumatik ulser et causa

trauma mekanis gigi tiruan a.r gingiva anterior rahang bawah dan muccobuccofold

rahang atas kanan belakang berdasarkan anamnesis terdapat sariawan di bagian gusi

depan rahang bawah dan dekat gusi rahang kanan atas. Sariawan tersebut muncul

secara bersamaan sekitar 3 hari sebelum pasien datang ke rumah sakit karena pasien

mencoba gigi tiruan dan bagian tersebut tertekan. Terdapat rasa sakit bila sariawan

tersebut disentuh.

Pada pemeriksaan ekstraoral tidak ditemukan kelainan. Pemeriksaan klinis

menunjukkan terdapat 2 buah lesi ulser, yaitu pada 1 buah lesi ulser pada gingiva

regio anterior rahang bawah sebelah kanan bawah berwarna putih kekuningan,

irregular, tepi kemerahan, diameter 1,5 – 2 mm, dasar cekung dan 1 buah lesi ulser

lain pada regio mucobucofold posterior rahang atas kanan berwarna putih

kekuningan, berbentuk irregular, tepi kemerahan, diameter 1,5 – 2 mm, dasar cekung.

Traumatik ulser merupakan ulser yang paling sering menjadi keluhan pasien

yang datang ke klinik. Ulser ini dapat timbul disebabkan oleh trauma mekanis,

termal, elektrikal dan kimia. Trauma mekanis dapat dipicu karena tergigit, iritasi

akibat restorasi atau gigi yang fraktur, serta penggunaan gigi tiruan dan alat

ortodontik (Langlais, et al., 2009). Gambaran lesi ulser traumatik tampak sebagai 1

atau 2 buah lesi ulser dengan permukaan berwarna putih-kekuningan dan tepi eritem
24
25

(Glick, 2015). Selain itu ulser terlihat memiliki dasar yang cekung dengan lesi

berbentuk oval dan sering menimbulkan rasa sakit pada pasien (Langlais, et al, 2009).

Diagnosis banding traumatik ulser adalah recurrent apthous stomatitis (RAS),

ulser eosinofilik, dan karsinoma sel skuamosa. Gambaran klinis ulser traumatik

memiliki kesamaan dengan lesi ulser pada recurrent apthous stomatitis (RAS). Hal

yang membedakan antara lesi traumatik dengan RAS adalah faktor penyebab,

rekurensi kejadian, serta bentuk lesi. Gambaran klinis ulser traumatik terkadang sulit

dibedakan dengan lesi ulser pada RAS minor. Lesi ulser pada RAS minor cenderung

berbentuk lebih simetris dan bersifat rekuren atau berulang umumnya setiap bulan

sehingga dapat dibedakan dengan ulser traumatik ditinjau dari riwayat penyakit

pasien (Langlais, et al, 2009). Selain itu gambaran klinis dari traumatik ulser hampir

mirip dengan ulser eosinofilik dan karsinoma sel skuamosa. Ulser eosinofilik

dikelilingi keratosis dan tepinya sedikit meninggi, sedangkan gambaran klinis dari

karsinoma sel skuamosa yaitu ulser bergranulasi disertai fissure, peninggian tepi

dengan dasar yang indurasi. Berdasarkan kasus ini, tidak dipenuhi kriteria pada

pasien tersebut karena pasien hanya mengalami ulser oral yang disebabkan oleh

trauma, ulser terasa sakit, dan tidak terasa keras saat di palpasi (Glick, 2015).

Faktor etiologi ulser traumatik dapat disebabkan oleh beberapa jenis trauma.

Trauma mekanis/fisik dapat terjadi karena tergigit, iritasi akibat restorasi atau gigi

yang fraktur, penggunaan protesa atau alat orthodonti dapat menyebabkan lesi ulser

traumatik (Langlais, et al., 2009). Selain trauma mekanis, trauma termal dapat terjadi

akibat mengonsumsi makanan dan minuman yang panas atau berkontak dengan
26

instrumen dental yang terlalu panas pada mukosa. Trauma kimia akibat menghisap

atau mengunyah obat yang seharusnya ditelan seperti aspirin, dapat menyebabkan lesi

ulser yang parah (Glick, 2015). Berdasarkan kasus ini, faktor penyebab terjadinya

ulser disebabkan oleh trauma mekanis yaitu karena penggunaan gigi tiruan lepasan.

Pada pasien ini diberikan vitamin B12, obat kumur Clorhexidine Gluconate

0,2%, dan Oral Hygiene Instruction (OHI). Pasien juga diberi instruksi untuk banyak

makan makanan yang banyak mengandung zat besi dan vitamin B12, seperti daging,

telur, ikan, sereal, dan susu. Konsumsi sayur dan kacang-kacangan juga dibutuhkan

sebagai sumber asam folat. Fungsi utama vitamin B12 adalah bekerja sebagai

koenzim untuk mereduksi ribonukleotida menjadi deoksiribonukleotida, satu langkah

yang dibutuhkan dalam replikasi gen. Hal ini dapat menjelaskan fungsi utama vitamin

B12 dalam regenerasi sel dan meningkatkan pembentukan dan pematangan sel darah

merah. Vitamin B12 berperan penting dalam hematopoiesis. Vitamin B12 dan zat besi

dapat membentuk sel darah merah yang meningkatkan jumlah hemoglobin (Guyton

dan Hall, 2008). Hemoglobin merupakan pembawa oksigen dalam darah yang akan

mempercepat penyembuhan luka. Fungsi asam folat yang paling penting adalah

dalam sintesis purin dan timin, yang dibutuhkan untuk pembentukan DNA. Oleh

karena itu, asam folat dibutuhkan dalam replikasi gen selular. Asam folat bekerja

bersama dengan vitamin B12 untuk membantu penyembuhan dengan meregenerasi

sel baru, sehingga dapat mempercepat perbaikan jaringan epitel mukosa rongga mulut

yang rusak (Guyton dan Hall, 2008). Obat kumur yang diberikan untuk pasien ini

adalah chlorhexidine gluconate 0,2% dapat digunakan sebagai pilihan medikamentosa


27

pada pasien dengan frekuensi ulser rendah, dan kesulitan dalam akses ulser (Cawson

dan Odell, 2008; Shanbhag, et al., 2014). Obat kumur seperti chlorhexidine dapat

memberikan efek antimikrobial yang berperan sebagai pembunuh bakteri, virus, atau

jamur yang dapat menginfeksi ulser sehingga dapat mempercepat penyembuhan

(Shanbhag, et al., 2014). Chlorhexidine adalah suatu antiseptik yang termasuk

golongan bisbiguanide yang umumnya digunakan dalam bentuk glukonatnya.

Chlorhexidine pada kasus ini dalam bentuk mouthwash Chlorhexidine menyerang

bakteri Gram postif dan negatif, bakteri ragi, jamur, protozoa, alga dan virus.

Chlorhexidine merupakan antiseptik dan disinfektan yang mempunyai efek

bakterisidal dan bakteriostatik terhadap bakteri Gram (+) dan Gram (-).

Chlorhexidine akan diserap dengan sangat cepat oleh bakteri dan penyerapan ini

tergantung pada konsentrasi chlorhexidine dan pH. Chlorhexidine menyebabkan

kerusakan pada lapisan luar sel bakteri, namun kerusakan ini tidak cukup untuk

menyebabkan kematian sel atau lisisnya sel. Efek samping dari penggunaan

chlorhexidine gluconate adalah pewarnaan pada gigi, perubahan rasa, mulut kering

dan iritasi pada rongga mulut (Ghom, 2010).

Setelah pemakaian obat selama empat hari, pasien menginformasikan bahwa

sariawan sudah tidak terasa sakit lagi. Pada hari ke-7 sariawan pada gingiva anterior

rahang bawah dan muccobuccofold posterior rahang atas kanan sudah tidak terdapat

keluhan lagi. Masa penyembuhan yang dibutuhkan sariawan tergolong cepat karena

sariawan sembuh setelah 6 hari dari waktu terkena gigi tiruan. Berdasarkan literatur,

ulser traumatik akan sembuh secara spontan dalam waktu 7 – 10 hari (Cawson dan
28

Odell, 2008). Pasien tetap diinstruksikan untuk menjaga oral hygiene supaya

kesehatan rongga mulutnya dapat terjaga dengan baik sehingga dapat mencegah

terjadinya ulser dan keterlambatan penyembuhan ulser.


BAB V

SIMPULAN

Berdasarkan anamnesa dan pemeriksaan klinis, diketahui pasien mengalami

ulser traumatik pada gingiva bukal anterior dan di muccobuccofold rahang atas kanan

posterior. Pada kasus ini ulser traumatik disebabkan karena gesekan antara mukosa

dengan permukaan gigi tiruan yang tajam. Terapi yang diberikan kepada pasien

adalah pemberian resep chlorhexidine dan instruksi oral hygiene.

Pada kunjungan kontrol 7 hari kemudian, ulser sudah hilang serta tidak ada

keluhan sakit. Pasien mengikuti intruksi yang diberikan secara baik, sehingga ulser

telah mengalami proses penyembuhan dalam waktu ± 3 hari. Hal tersebut

mengindikasikan diagnosis dan terapi yang diberikan tepat, serta didukung oleh sikap

kooperatif pasien.

29
DAFTAR PUSTAKA

Babu, et al. 2017. Ulcerative lessions of the oral cavity – an overview. Biomed. &
Pharmacol. J., Vol. 10(1), 401-405 (2017)

Cawson, R.A. and Odell, E.W. 2008.Cawson’s Essentials of Oral Pathology and Oral
Medicine. The University of Michigan : Churchill Livingstone.

Ghom, A.G. 2010. Textbook of Oral Medicine 2nd ed. India : Jaypee Brothers Medical
Publishers.

Glick, M. 2015. Burket’s Oral Medicine: Diagnosis and Treatment 10th ed. Ontario :
BC Decker Inc. p.51 ; 63 – 68.

Langlais, R.P and C.S Miller. 2000. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut Yang
Lazim. Alih Bahasa oleh Budi Setyo.Jakarta : Hipokrates. hal.94.

Regezi, J.A. ; Sciubba, J.J. ; and Jordan, R.C.K. 2003. Oral Pathology : Clinical
Pathologic Correlations 4th Ed. USA : Saunders Elsevier Science.

Soames, J.V. and Sotham, J.C. 2005. Oral Pathology 4th ed. New York: Oxford
University Press Inc.

Haveles, Elena, 2000, Delmar’s Dental Drug Reference, Delmar, Virginia, hlm.156-
157.