Anda di halaman 1dari 31

UNIVERSITAS INDONESIA

PERUBAHAN FISIOLOGIS SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA


LANSIA

KELAS A
Focus Group 1

Anggun Laellatul 1506689811


Kartika 1506690151
Nurma Rizqiana 1506690164
Nurul Fatimah 1506689856
Shafa Dwi Anzani 1506690063
Verawati Dewi Susanti 1506690050
(Kontribusi setiap anggota kelompok sama)

Tugas Makalah Ketiga Focus Group 1 pada Mata Kuliah Keperawatan Gerontik

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN


UNIVERSITAS INDONESIA
DEPOK
2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-
Nya sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan makalah yang berjudul ”Perubahan
Fisiologis Sistem Muskuloskeletal pada Lansia”. Sebagai seorang perawat yang profesional
kita harus mengetahui bahwa pada usia lanjut fisiologis seluruh sistem tubuh akan mengalami
perubahan salah satunya yaitu perubahan fisiologis pada sistem muskuloskeletal dimana pada
sistem ini membahas terkait tulang, otot, sendi, dan saraf. Makalah ini akan membahas lebih
rinci mengenai perubahan yang terjadi pada sistem muskuloskeletal lansia, perubahan
pemenuhan kebutuhan mobilisasi, faktor yang memengaruhi fungsi sistem muskuloskeletal,
patologis, dan pengkajian umum muskuloskeletal serta jatuh pada lansia. Diharapkan setelah
mempelajari materi tersebut kita dapat mengetahui bagaimana melakukan pengkajian
kebutuhan mobilisasi pada lansia dengan benar dan memberikan asuhan keperawatan yang
sesuai.

Tidak lupa pula kami mengucapkan terima kasih kepada Ns. Dwi Nurviyandari
Kusuma Wati, S.Kep., M.N. selaku fasilitator Keperawatan Gerontik kelas A yang telah
membimbing kami dalam menyusun makalah ini. Kami menyadari bahwa masih terdapat
banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, bimbingan dari fasilitator masih
sangat kami perlukan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembacanya. Kritik dan
saran tetap kami harapkan guna perbaikan dan penyempurnaan makalah ini untuk tahap
selanjutnya.

Depok, 26 April 2018

Tim Penyusun

Focus Group 1

ii
ABSTRAK

Pada lansia, perkembangan dari semua sistem tubuh yang ada akan mengalami penurunan.
Salah satunya adalah penurunan pada sistem muskuloskeletal. Hal ini dapat terjadi karena
perubahan-perubahan fisiologis normal yang akan terjadi pada lansia. Dalam makalah ini
akan dijelaskan mengenai perubahan struktur yang memengaruhi fisiologis tubuh pada sistem
muskuloskeletal lansia, faktor yang dapat memengaruhi perubahan tersebut, patologis yang
dapat terjadi, serta pengkajian yang tepat untuk dilakukan dalam melihat setiap perubahan
normal yang terjadi diantaranya yaitu pengkajian umum muskuloskeletal dan jatuh. Maka
dari itu, tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membantu mahasiswa dalam memahami
perubahan-perubahan normal yang terjadi pada sistem muskuloskeletal pada lansia. Metode
yang digunakan adalah menggunakan studi literatur baik dari e-book, jurnal, dan internet
serta melalui diskusi kelompok. Berdasarkan hasil analisis kelompok, perubahan yang terjadi
adalah perubahan yang normal yang pasti akan terjadi karena perkembangan sistem di dalam
tubuh yang mengalami penurunan.

Kata kunci: fisiologis; muskuloskeletal; lansia; patologis; nyeri; jatuh

iii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………...ii
ABSTRAK ............................................................................................................................... iii
DAFTAR ISI............................................................................................................................. iv
1. PENDAHULUAN ................................................................................................................ 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................ 2
1.3 Tujuan Penulisan .............................................................................................................. 2
1.3.1 Tujuan umum ............................................................................................................. 2
1.3.2 Tujuan khusus ............................................................................................................ 2
1.4 Metode Penulisan ............................................................................................................. 2
1.5 Sistematika Penulisan....................................................................................................... 2
2.TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................................ 3
2.1 Sistem Muskuloskeletal dan Perubahannya ..................................................................... 3
2.1.1 Perubahan Fisiologis Tulang ..................................................................................... 3
2.1.2 Perubahan Fisiologis Otot ......................................................................................... 4
2.1.3 Perubahan pada Sendi dan Jaringan Ikat ................................................................... 5
2.1.4 Perubahan pada Saraf ................................................................................................ 6
2.2 Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Sistem Muskuloskeletal .................................... 7
2.3 Patologis pada Sistem Muskuloskeletal ........................................................................... 8
2.3.1 Osteoporosis .............................................................................................................. 8
2.3.2 Arthritis .................................................................................................................... 10
2.3.2.1 Osteoarthritis…………………………………………………………………10
2.3.2.2 Rheumatoid Arthritis……………...………………………………………….12
2.3.2.3 Gout…………………………….…...………………………………………..12
2.4 Pengkajian Umum pada Sistem Muskuloskeletal .......................................................... 15
2.5 Pengkajian Risiko Jatuh pada Lansia ............................................................................. 19
3. PENUTUP ........................................................................................................................... 21
3.1 Kesimpulan..................................................................................................................... 21
3.2 Saran ............................................................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 22
LAMPIRAN............................................................................................................................ 24

iv
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Penuaan merupakan proses yang wajar terjadi pada manusia seiring dengan
bertambahnya usia. Proses penuaan tersebut berpengaruh pada perubahan semua sistem
dalam tubuh termasuk pada sistem muskuloskeletal. Sistem muskuloskeletal terdiri dari
sistem muskulus dan skeletal. Beberapa perubahan yang terjadi pada sistem muskuloskeletal
lansia mencakup perubahan anatomi dan fisiologis. Perubahan tersebut berdampak pada
penurunan fungsi tubuh yang akan berlanjut pada penurunan fungsi tubuh secara keseluruhan
sehingga kegiatan sehari-hari dapat terganggu.

Perubahan umum yang terjadi pada sistem muskuloskeletal berupa sarkopenia


(kehilangan massa dan fungsi otot) dan osteopenia atau osteoporosis (kehilangan massa
tulang) pada usia lanjut ketika tidak diobati akan menjadi masalah kesehatan masyarakat
yang besar untuk populasi lansia dan dapat mengakibatkan hilangnya kemandirian di
kemudian hari ( Colón, et al., 2018). Selain itu, beberapa kondisi patologis dapat muncul
seperti artritis yang mencakup osteoarthritis (OA), polymyalgia rheumatica (PMR),
rheumatoid arthritis (RA), dan gout serta osteoporosis (Tabloski, 2014; Touhy & Jett, 2014).
Penyakit-penyakit di atas dapat memperburuk kondisi lansia bahkan sampai mengganggu
aktivitas fisik rutin yang biasa dilakukan oleh lansia.

Perubahan fisiologis dan patolgis pada sistem muskuloskeletal lansia seharusnya


dapat diantisipasi sedari dini agar proses penuansaan yang berakibat pada perubahan
fisiologiss dan patologis tidak menimbulkan dampak yang lebih besar Dengan bertambahnya
jumlah lansia muncul juga peningkatan penyakit dan kondisi ini umumnya mempengaruhi
populasi tersebut. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas perubahan fisiologis dan
patologis pada lansia khususnya pada sistem muskuloskeletal yang dikaji dari berbagai
sumber literatur.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah perubahan yang terjadi pada sistem muskuloskeletal yang meliputi tulang,
otot, sendi, dan syaraf pada lansia?
2. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi sistem muskuloskletal pada lansia?
3. Apakah gangguan yang sering terjadi pada sistem muskuloskeletal lansia?
4. Apakah pengkajian yang perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi sistem
muskuloskeletal pada lansia?
5. Apakah pengkajian yang diperlukan untuk menilai risiko jatuh pada lansia?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan umum
Menguraikan perubahan fisiologis sistem muskuloskeletal pada lansia
1.3.2 Tujuan khusus
1. Menguraikan perubahan yang terjadi pada sistem muskuloskeletal yang meliputi
tulang, otot, sendi, dan syaraf pada lansia
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi sistem muskuloskeletal pada
lansia
3. Mengetahui gangguan yang sering terjadi pada sistem muskuloskeletal lansia
4. Menguraikan pengkajian yang dilakukan untuk mengetahui kondisi sistem
muskuloskeletal pada lansia
5. Menguraikan pengkajian yang diperlukan untuk menilai risiko jantuh pada lansia
1.4 Metode Penulisan
Penulisan makalah ini menggunakan metode Question Based Learning dengan studi
literature dan kajian pustaka seperti buku, jurnal dan sumber informasi lain terkait pengertian,
perkembangan dan hubungan geriatrik, gerontologi dan gerontik serta peran perawat
gerontik.

1.5 Sistematika Penulisan


Bab I Pendahuluan terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan,
metode penulisan, dan sistematika penulisan. Bab 2 terdiri dari perubahan fisiologis sistem
muskuloskeletal berupa perubahan pada oto, tulang, sendi, dan syaraf pada lansia. Selain itu
pada Bab 2 juga diuraikan mengenai faktor-faktor yang mempengarhui fungsi sistem
musculoskeletal, menguraikan gangguan yang sering terjadi pada sistem musculoskeletal
lansia, menguraikan pengkajian sistem muskuloskeketal dan risiko jatuh pada lansia. Bab 3
Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran.

2
BAB 2
ISI

2.1 Sistem Muskuloskeletal dan Perubahannya


Sistem muskuloskeletal merupakan sistem yang terdiri dari tulang, sendi, dan otot.
Sistem tersebut paling erat kaitannya dengan mobilitas fisik individu. Seiring
bertambahnya usia, terdapat berbagai perubahan yang terjadi pada sistem
musculoskeletal yang terdiri dari tulang, otot, sendi, dan saraf.
2.1.1 Perubahan Fisiologis Tulang
Sistem skeletal pada manusia tersusun dari 206 tulang termasuk dengan sendi
yang menghubungkan antar keduanya. Kerangka yang dibentuk dari susunan tulang
tersebut sangat kuat namun relatif ringan. Fungsi utama sistem skeletal ini adalah
memberikan bentuk dan dukungan pada tubuh manusia. Selain itu, sistem ini juga
berperan untuk melindungi tubuh, misalnya tulang tengkorak yang melindungi otak
dan mata, tulang rusuk yang melindungi jantung, serta tulang belakang yang
melindungi sumsum tulang belakang. Struktur pada kerangka ini juga terdapat tendon
otot yang mendukung adanya pergerakan (Mauk, 2006).
Tulang mencapai kematangan pada saat waktu dewasa awal tetapi terus
melakukan remodeling sepanjang kehidupan. Menurut Colón, et al. (2018) secara
umum, perubahan fisiologis pada tulang lansia adalah kehilangan kandungan mineral
tulang. keadaan tersebut bedampak pada meningkatnya risiko fraktur dan kejadian
terjatuh. Selain itu, terjadi juga penurunan massa tulang atau disebut dengan
osteopenia. Jika tidak ditangani segara osteopenia bisa berlanjut menjadi osteoporosis
yang ditandai dengan karakteristik berkuranganya kepadatan tulang dan
meningkatkan laju kehilangan tulang.
Perubahan-perubahan lain yang terjadi menurut Miller (2012) antara lain:
1. Meningkatnya resorbsi tulang (misalnya, pemecahan tulang diperlukan untuk
remodeling)
2. Arbsorbsi kalsium berkurang
3. Meningkatnya hormon serum paratiroid;
4. Gangguan regulasi dari aktivitas osteoblast;
5. Gangguan formasi tulang sekunder untuk mengurangi produksi osteoblastik dari
matriks tulang; dan
6. Menurunnya estrogen pada wanita dan testosterone pada laki-laki.

3
2.1.2 Perubahan Fisiologis Otot
Selain tulang, otot yang dikontrol oleh neuron motorik secara langsung
berdampak pada kehidupan sehari-hari. Perubahan fisilogis pada otot yang terjadi
pada lansia disajikan dalam tabel berikut ( Colón, et al., 2018).
Perubahan Efek Fungsional
Peningkatan variabilitas dalam ukuran Peningkatan heterogenitas jarak kapiler,
serat otot karena kapiler dapat hanya terletak di tepi
serat berdampak negatif terhadap
oksigenasi jaringan
Kehilangan massa otot Penurunan kekuatan dan tenaga
Serabut otot (fiber) tipe II menurun Terjatuh
Infiltrasi lemak Kerapuhan atau otot melemah
Secara keseluruhan akibat dari perubahan kondisi otot yang berhubungan
dengan bertambahnya usia disebut sarkopenia. Sarkopenia adalah kehilangan masa,
kekuatan dan ketahanan otot (Miller, 2012). Berikut penampang mikroskoping tulang
dan otot dalam keadaan normal dan dalam kondisi patologis
Gambar 1 Penampang mikroskoping tulang dan otot

Sumber: Colón, et al., (2018)

4
2.1.3 Perubahan pada Sendi dan Jaringan Ikat
Proses degeneratif memengaruhi tendon, ligamen, cairan synovial. Perubahan-
perubahan yang terjadi pada sendi meliputi :
Organ/Jaringan Perubahan Fisiologis Efek
Sendi Menurunnya viskositas cairan Menurunnya perlindungan ketika
synovial bergerak (Miller, 2012).
 Erosi tulang (Miller, Menghambat pertumbuhan tulang
2012). (Miller, 2012).
 Mengecilnya kartilago
 Degenerasi gen dan sel Penurunan elastisitas, fleksibilitas,
elastin. stabilitas, dan imobilitas (Kurnianto,
 Ligamen memendek 2015).
 Fragmentasi struktur
fibrosa di jaringan ikat.
 Pembentukan jaringan
parut di kapsul sendi dan
jaringan ikat (Miller,
2012).
Penurunan kapasitas gerakan, Gangguan fleksi dan ekstensi
seperti: penurunan rentang sehingga kegiatan sehari-hari menjadi
gerak pada lengan atas, fleksi
punggung bawah, rotasi
eksternal pinggul, fleksi lutut,
dan dorsofleksi kaki (Miller,
2012).

terhambat.
Komponen-komponen kapsul sendi pecah dan kolagen pada jaringan
penyambung meningkat secara progresif (Stanley, et. al., 2007). Efek perubahan pada
sendi ini adalah gangguan fleksi dan ekstensi, penurunan fleksibilitas struktur berserat,
berkurang perlindungan dari kekuatan gerakan, erosi tulang, berkurangnya kemampuan
jaringan ikat (Miller, 2012), inflamasi, nyeri, penurunan mobilitas sendi, dan deformitas
(Stanley, et. al., 2007).

5
2.1.4 Perubahan pada Saraf
Proses degeneratif memengaruhi gerak refleks, sensasi, dan posisi sendi.
Perubahan-perubahan yang terjadi pada saraf meliputi:
Organ/Jaringan Perubahan Fisiologis Efek
Saraf  Penurunan gerakan  Berjalan lebih lambat.
refleks.  Berkurangnya respon terhadap
 Gangguan proprioception rangsangan lingkungan (Miller,
terutama pada wanita. 2012).
 Berkurangnya rasa sensasi
getaran dan posisi sendi
pada ektremitas bagian
bawah (Miller, 2012).
Perubahan kemampuan visual Perubahan pemeliharaan dalam posisi
tegak
Perubahan kontrol postural Peningkatan goyangan tubuh yang
merupakan tolak ukur dari gerakan
tubuh saat berdiri (Miller, 2012).

Adapun ringkasan perubahan fisiologis pada sistem muskuloskeletal digambarkan


dalam gambar berikut.

Gambar 2 Perubahan Fisiologis pada Sistem Muskuloskeletal

Sumber: Tabloski (2014)

6
2.2 Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Sistem Muskuloskeletal
Berdasarkan rilis Joint Essential pada tahun 2013 berjudul ‘What Are The
Effects Of Aging On The Musculoskeletal System?’
 Gangguan hormon. Riwayat gangguan hormon yang tidak teratasi dengan baik
dapat menyebabkan metabolisme ke tulang maupun otot tidak optimal. Sebagai
contoh, hipertiroidisme berhubungan erat dengan kelemahan otot dan meningkatkan
risiko fraktur akibat demineralisasi tulang.
 Penyakit sistemik. Penyakit sistemik dapat berupa gangguan vaskuler atau
metabolik. Sebagai contoh, lansia dengan diabetes akan mengalami gangguan laju
atau volume pengiriman nutrisi yang dibutuhkan untuk remodeling jaringan. Oleh
karena itu, sangat penting untuk mengontrol proses patologis untuk mengoptimalkan
penyembuhan dan potensi perbaikan sistem muskuloskeletal.
 Faktor diet. Kekurangan nutrisi vitamin esensial (seperti vitamin D dan vitamin C
yang memainkan peran penting dalam pertumbuhan fungsional otot dan tulang),
kurangnya mineral tertentu (seperti kalsium, fosfor dan kromium dll) dapat menjadi
hasil dari masalah pencernaan yang berkaitan dengan usia. Dengan demikian, terjadi
penurunan penyerapan dari usus atau ketidakseimbangan dalam produksi hormon
tertentu yang mengatur konsentrasi serum vitamin dan mineral seperti kalsitonin,
vitamin D, hormon paratiroid (karena tumor yang sangat lazim di usia lanjut). Diet
yang sangat baik ialah diet yang kaya akan mikro-nutrisi dalam kualitas tinggi
sehingga mampu menurunkan risiko pengembangan cacat tulang dan kelemahan otot
sebagai bagian dari proses penuaan.
 Minimnya aktivitas fisik. Perubahan sistem muskuloskeletal dapat diperlambat
dengan melakukan olahraga karena dapat meningkatkan kemampuan untuk
mempertahankan kekuatan dan fleksibilitas sistem muskuloskeletal. Normalnya
dalam satu hari, setidaknya 30 menit aktivitas lansia diisi dengan olahraga ringan
(Miller, 2012). Beberapa olahraga yang terkenal dikalangan lansia yaitu Tai chi,
yoga, dan pilates (Arenson, 2009). Selain itu, berjalan juga merupakan olahraga
yang mudah dan tidak membutuhkan banyak peralatan sehingga dapat dilakukan
oleh lansia.
Jika faktor-faktor tersebut di atas tidak tertangani dengan baik, dapat berubah
menjadi penurunan fungsi muskuloskeletal pada lansia. Penurunan fungsi
muskuloskeletal dipicu oleh tiga faktor (Fillit, Rockwood & Young, 2017) yaitu :

7
1. Efek penuaan pada komponen sistem muskuloskeletal, misalnya tulang rawan
artikular, kerangka, jaringan lunak, memberikan kontribusi untuk pengembangan
osteoporosis dan osteoarthritis serta penurunan gerakan sendi, kekakuan, dan
kesulitan dalam memulai gerakan.
2. Gangguan muskuloskeletal berhubungan dengan penuaan yang mulai terjadi pada
masa dewasa muda menyebabkan peningkatan rasa sakit dan cacat tanpa
memperpendek rentang hidupnya, misalnya seronegatif spondyloarthritis, trauma
muskuloskeletal.
3. Tingginya angka kejadian gangguan muskuloskeletal tertentu pada lansia,
misalnya polymyalgia rheumatica, penyakit Paget tulang, arthropathies terkait
kristal.
2.3 Patologis pada Sistem Muskuloskeletal
2.3.1 Osteoporosis
Osteoporosis merupakan penyakit skeletal istemik yang ditandai dengan
berkurangnya kepadatan tulang dan kerusakan jaringan tulang yang berakibat pada
menurunnya kekuatan tulang (Tabloski, 2014). Kekuatan tulang mencerminkan
kepadatan dan kualitas tulang. Kepadatan dan kualitas tulang merupakan kedua hal yang
berbeda. Kepadatan tulang dipengaruhi oleh gram mineral yang terdapat di dalam tulang.
Sementara, kualitas tulang dipengaruhi oleh mikroarsitektur tulang, bone turnover, dan
akumulasi kerusakan pada tulang (Tabloski, 2014). Sehingga, apabila individu menderita
osteoporosis dimana hal tersebut dapat menurunkan kekuatan tulangnya, maka individu
tersebut akan memiliki risiko tinggi terjadinya fraktur atau patah tulang (Amelio & Isaia,
2015). Individu yang mengalami osteoporosis umumnya tidak menimbulkan tanda dan
gejala apapun selain adanya patah tulang (Tabloski, 2014).
Faktor risiko utama terjadinya osteoporosis adalah usia yang sering terjadi
pada lansia, jenis kelamin yang sering terjadi pada wanita, ras kulit putih atau asia,
riwayat keluarga yang memiliki osteoporosis, dan gaya hidup seperti aktivitas fisik yang
kurang dan atau kurangnya konsumsi vitamin D (Tabloski, 2014). Osteoporosis dapat
juga diakibatkan karna konsumsi alkohol berlebih, rokok, stress, dan penggunaan
kortikosteroid jangka panjang. Wanita memiliki risiko tinggi terjadi osteoporosis. Hal ini
diakibatkan oleh tulang pada wanita memiliki lebih sedikit massa tulang dibanding laki-
laki, penurunan kadar estrogen saat menopause secara cepat mengakibatkan kerapuhan
tulang secara cepat pula, dan wanita mungkin juga kehilangan massa tulang saat masa

8
reproduksi atau laktasi (Tabloski, 2014). Selain itu, risiko tinggi osteoporosis terjadi pula
pada lansia.
Menurut Amelio & Isaia (2015), lansia memiliki risiko tinggi terjadinya
osteoporosis diakibatkan oleh penuaan yang membuat berkurangnya massa tulang
melalui perubahan hormon dan disfungsi osteoblast terkait usia. Pada lansia perempuan,
perubahan hormon terjadi saat setelah menopause yang mengakibatkan menurunnya
kadar estrogen (Sihombing et al, 2012). Padahal, estrogen memiliki peran penting untuk
remodelling tulang dan menghambat terjadinya resorpsi tulang oleh osteoblast sehingga,
menghambat kerapuhan tulang (Sihombing et al, 2012). Sementara itu, pada lansia laki-
laki terjadi juga perubahan hormon yaitu menurunnya kadar steroid seksual yang
mengakibatkan peningkatan pada kortisol oleh kelenjar adrenal. Efek yang terjadi
apabila terdapat peningkatan sekresi kortisol ialah akan terjadinya kelebihan hormon
glukokortikoid. Hal ini akan memicu kerusakan tulang, karena hormon glukokortiokoid
yang berlebih dapat mengganggu fungsi dari osteoblast (Amelio & Isaiya, 2015).
Namun, walaupun begitu pada lansia dapat terjadi pula disfungsi dari osteoblast. Amelio
dan Isaiya (2015) menjelaskan bahwa disfungsi osteoblast diakibatkan oleh menurunnya
kemampuan sel mesenchymal stem untuk berdiferensiasi menjadi osteoblast.
Kemampuan sel mesenchymal stem yang menurun merupakan efek dari penuaan yang
terjadi pada lansia.
Pengkajian untuk osteoporosis dapat diukur melalui kepadatan mineral tulang.
Hal ini dikarenakan kekuatan tulang tidak dapat diukur secara langsung. Menurut
Tabloski (2014) pengukuran kepadatan mineral tulang dapat memberikan informasi
sebanyak 70% mengenai kekuatan tulang. Pengkajian ini dinamakan pengkajian
densinometri tulang dengan menggunakan energi x-ray absorptiometry (DXA, DEXA)
yang perhitungan scorenya dinamakan T-score (Miller, 2012). Jika nilai T-score berada
di rentang -1 sampai -2,5 Standar Deviasi (SD) hal ini menandakan osteopenia. Namun,
jika T-score lebih rendah dari -2,5 SD maka kondisi tersebut dinamakan osteoporosis
(Miller, 2012). Pengkajian lain yang dapat perawat lakukan ialah assessment faktor
risiko osteoporosis seperti gaya hidup, diet, dan aktivitas fisik (Miller, 2012).
Penatalaksanaan pada lansia dengan osteoporosis dapat melalui terapi
farmakologi dan non farmakologi. Pada terapi farmakologi dapat diberikan suplemen
vitamin D untuk membantu menambahkan asupan kalsium. Namun, suplemen kalsium
dapat memperburuk kondisi konstipasi pada lansia (Touhy & Jett, 2014). Oleh karena
itu, perawat perlu memberikan cairan tambahan jika tidak ada kontraindikasi, atau
9
pelunak feses. Terapi lain yang dapat diberikan ialah terapi Selective Estrogen Receptor
Modulators (SERMs) yang merupakan pengganti terapi estrogen (Touhy & Jett, 2014).
Hal ini dikarenakan terapi estrogen walaupun dapat meingkatkan massa tulang namun
juga dapat meningkatkan risiko kanker payudara, kanker usus besar, dan penyakit
jantung. Pada terapi SERMs dinilai memiliki risiko kanker yang kecil. Terapi medis lain
ialah kalsitonin yang berfungsi untuk memperlambat pengeroposan tulang dan
meningkatkan mineral tulang pada wanita setelah menopause (Touhy & Jett, 2014).
Terapi selanjutnya ialah nonfarmakologi diantaranya mengurangi konsumsi
alkohol, kurangi konsumsi rokok, dan melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit seperti
berjalan, aerobik, menari (Touhy & Jett, 2014). Selain itu, lansia juga disarankan untuk
diet tinggi kalsium dengan mengonsumsi dairy product, tofu, jus jeruk, roti, dan sayuran
hijau. Bagi wanita yang di atas 50 tahun dan pria yang di atas 70 tahun, asupan kalsium
yang disarankan setiap harinya ialah 1200 mg/day (Touhy & Jett, 2014). Perawat juga
perlu melakukan edukasi kepada lansia terkait medikasi osteoporosis dan risiko jatuh.
Perawat dapat memberikan informasi tentang penggunaan sepatu yang ukurannya sesuai,
penggunaan handrails, menghindari berjalan di tempat yang kurang terang, dan
menghindari mengangkat beban berat. Pada keluarga pun perawat dapat memberikan
edukasi terkait home safety, pastikan karpet tidak longgar dan tidak ada kabel listrik
(Touhy & Jett, 2014).

2.3.2 Arthritis
Arthritis secara harfiah berarti peradangan sendi. Arthritis merupakan sekelompok
kondisi yang mempengaruhi sendi. Kondisi ini menyebabkan kerusakan sendi, biasanya
mengakibatkan rasa sakit dan kekakuan. Arthritis dapat mempengaruhi banyak bagian
yang berbeda dari sendi dan hampir setiap sendi di dalam tubuh (Arthritis Care, 2016).
Secara umum, arthritis dikenal dengan rematik.

2.3.2.1 Osteoarthritis
Osteoarthritis merupakan penyakit radang degenerative yang menyerang
sendi dan otot, tendon dan ligament yang melekat, hal ini ditandai dengan rasa
sakit, bengkak dan gerakan terbatas di persendian (Touhy & Jett, 2014). Faktor
resiko yang dapat menyebabkan terjadinya osteoarthritis yaitu penambahan usia,
obesitas, riwayat keluarga, dan memiliki trauma sendi.
Osteoarthritis terjadi dimana lapisan kartilago normal yang lembut dan ulet
menjadi tipis dan rusak, berlubang, kasar dan rapuh. Hal ini menyebabkan ruang

10
sendi menyempit dan akhirnya tulang-tulang sendi bergesekan, menyebabkan
kerusakan, rasa sakit, bengkak dan kesulitan bergerak. Tulang dibawah kartilago
menebal dan melebar keluar. Dalam beberapa kasus, osteofit dapat terbentuk di
tepi luar sendi, dan menyebabkan sendi terlihat menonjol. Membran sinoval dan
kapsul sendi menebal, dan ruang sendi menyempit yang dapat menyebabkan
peningkatakan jumlah cairan dalam sendi dan dapat membengkak (Arthritis Care,
2016). Untuk lebih jelas, perhatikan gambar perbandingan antara sendi normal
dan sendi dengan gangguan.
Gambar 3 Perbandingan antara sendi normal dengan sendi yang mengalami gangguan

Sumber: Arthritis Research UK (2011)

Osteoarthritis biasanya terjadi secara bertahap selama beberapa tahun dan


mempengaruhi beberapa sendi. Sendi-sendi yang sering terkena osteoarthritis
yaitu tangan, lutut, pinggul, kaki dan tulang belakang. Kekakuan yang terjadi
pada masalah ini biasanya akan hilang dengan aktivitas, dan pada saat yang sama
aktivitas dapat menyebabkan rasa sakit yang hilang dengan istirahat. Kekakuan
yang paling tinggi terjadi pada pagi hari, karena tidak digunakan selama tidur dan
bisa diselesaikan selama 30 menit. Ketika gangguan ini sedang berkembang,
maka akan muncul sakit saat istirahat dan melibatkan banyak sendi atau mungkin
akan terjadi ketidakstabilan dan krepitasi yang dapat dirasakan dan merupakan
indikasi kerusakan sendi (Touhy & Jett, 2014).
Osteoarthritis tidak bisa disembuhkan, kecuali dengan penggantian
sambungan (artroplasi). Kebanyakan perawatan yang dilakukan hanya paliatif
yang ditujukan untuk kenyamanan. Beberapa intervensi pengobatan yang

11
dilakukan yaitu bertujuan untuk meminimalkan efek dari radang sendi dan untuk
mengurangi gejala, terutama rasa sakit. Banyak obat yang digunakan untuk
membantu mengelola nyeri sendi seperti analgesic, obat anti-inflamasi non-
steroid, steroid. Selain menggunakan obat-obatan, ada beberapa cara yang sering
digunakan untuk mengurangi rasa sakit yaitu dengan teknik relaksasi, memijat,
olahraga juga dapat membantu meredakan rasa tidak nyaman dan rasa sakit bagi
banyak orang (Touhy & Jett, 2014). Mencapai dan memepertahankan berat badan
ideal juga dapat meringankan ketegangan pada sendi yang menahan berat badan.

2.3.2.2 Rheumatoid Arthritis


Rheumatoid arthritis yaitu penyakit autoimun yang disebabkan karena
inflamasi sendi pada sendi (Arthritis Research UK, 2014). Ganguan ini
merupakan gangguan sistemik dan kronis. Diperkirakan gangguan ini terjadi
ketika tubuh menciptakan peradangan pada persendiannya sendiri yang tidak di
perlukan dan bersifat merusak dirinya sendiri. Hal ini terjadi pada selaput
synovial tipis yang melapisi kapsul sendi, selubung tendon dan bursae menjadi
meradang. Sendi yang meradang kemudian menjadi kaku, nyeri dan bengkak.
Pasien biasanya akan merasa lelah atau mengalami kekakuan di pagi hari
melebihi osteoarthritis. Menurut Arthritis Research UK (2014) rasa sakit yang
diderita oleh pasien rheumatoid arthritis karena dua hal yaitu ujung saraf yang
teriritasi oleh bahan kimia yang dihasilkan oleh peradangan dan kapsul sendi
meregang karena pembengkakan. Ketika inflamasi berkurang, kapsul sendi tetap
meregang dan tidak bisa kembali ke posisi awal, hal ini disebabkan karena sendi
menjadi tidak stabil dan dapat menyebabkan posisi yang salah.
Faktor resiko yang dapat menyebabkan rheumatoid arthritis yaitu faktor
genetik, lingkungan dan gaya hidup. Karena gangguan ini merupakan gangguan
autoimun, sesuatu yang bermasalah yaitu sistem imun. Penurunan sistem imun
juga dapat menjadi faktor risiko terjadinya rheumatoid arthritis, gaya hidup
seperti merokok, banyak konsumsi daging merah dan kopi juga menjadi salah
satu faktor risiko (Arthritis Research UK, 2014). Gejala yang sering muncul pada
pasien ini yaitu kekakuan sendi dan nyeri, lelah, depresi, anemia, merasa panas
dan berkeringat, malaise dan demam yang sesekali tidak di rasakan. Gangguan ini
dapat terjadi secara bertahap selama beberapa bulan, tahun atau bisa menjadi
kondisi kronis dengan kerusakan progresif pada sendi. Pengobatan yang diberikan

12
kepada pasien rheumatoid arthritis yaitu menggunakan obat modifikasi
antirheumatic (DMARDs), obat ini harus diberikan dengan hati-hati karena
berpotensi beracun. Perawatan yang dilakukan juga bersifat paliatif untuk
kenyamanan pasien serta diberikan dukungan khusus kepada pasien dan merubah
gaya hidup pasien (Touhy & Jett, 2014)

2.3.2.3 Gout
Gout merupakan bagian dari penyakit radang sendi yang ditandai dengan
adanya inflamasi pada sendi akibat akumulasi kristal asam urat (Touhy & Jett,
2014). Kadar asam urat dalam tubuh ditentukan dari keseimbangan antara
produksinya baik melalui asupan purin dalam diet atau produksi endogen dan
ekskresi ginjal. Menurut Ragab et al (2017), gout merupakan penyakit sistemik
yang dihasilkan dari pengendapan kristal Monosodium Urat (MSU) dalam
jaringan. MSU dapat disimpan disemua jaringan terutama di dalam sendi yang
nantinya akan membentuk tophi.
Asam urat merupakan produk sampingan dari purin yang disintesis dari
makanan yang dikonsumsi (Touhy & Jett, 2014). Purin merupakan salah satu
komponen utama dalam asam nukleat di DNA atau RNA bersama pirimidin.
Purin akan terkonversi menjadi asam urat yang normalnya dapat difiltrasi oleh
ginjal dan dikeluarkan melalui urin. Asam urat memiliki kelarutan yang terbatas
dalam cairan tubuh (Ragab et al, 2017). Namun, dalam kondisi patologis yaitu
ketika terjadi kenaikan asam urat diatas 6,8 mg/dL, maka akan terjadi deposisi
asam urat di jaringan. Asam urat tersebut akan kehilangan proton dan akan
menjadi ion urat yang kemudian mengikat natrium dan berkembang menjadi
kristal MSU (Ragab et al, 2017). Walaupun demikian, terdapat beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi kelarutan asam urat dalam sendi seperti pH cairan
sinovial, konsentrasi air, tingkat elektrolit, dan komponen sinovial lainnya seperti
proteoglikan dan kolagen (Ragab et al, 2017).
Adanya pengendapan kristal MSU akan menimbulkan manifestasi klinis
pada penderita gout. Pada tahap akut, pengendapan kristal MSU dapat
mengakibatkan nyeri akut, pembengkakan, dan hangat apabila disentuh dibagian
sendi yang nyeri (Tabloski, 2014). Hal ini diakibatkan oleh proses inflamasi dari
sel darah putih yang bermigrasi ke sendi untuk membantu menghilangkan MSU.
Sementara, pada tahap kronik atau yang biasa disebut dengan gout thopaceous

13
dimulai dari paling cepat 3 tahun atau paling lambat 40 tahun setelah serangan
akut. Individu akan mengalami nyeri sendi yang persisten dan kaku sendi pada
pagi hari (Tabloski, 2014). Hal ini dapat mengakibatkan sulitnya individu untuk
menggerakan tangan dan kakinya sehingga, Ia akan menjadi sulit untuk
melakukan mobilisasi. Pada lansia umumnya jarang terjadi serangan yang akut
namun, gout akan terlihat sebagai manifestasi arthritis yang kronik dengan
kumpulan tophi pada jari-jari kaki, jari-jari tangan, siku, dan lutut (Tabloski,
2014).
Salah satu kondisi yang mengakibatkan terjadinya gout ialah
hyperuricemia. Namun, Ragab et al (2017) mengungkapkan bahwa banyak
individu yang menderita hyperuricemia tidak berlanjut menjadi gout atau
membentuk kristal asam urat. Hanya 5% individu yang memiliki nilai asam urat
diatas 9 mg/dL yang menderita gout (Ragab et al, 2017). Faktor predisposisi lain
yang mengakibatkan gout ialah kelainan genetik metabolisme purin. Hal ini
memberikan dampak pada produksi purin yang berlebih. Pada pasien dengan
kondisi kelainan genetik, mengurangi asupan makanan purin pun tidak
mempengaruhi tingkat produksi asam urat (Ragab et al, 2017). Faktor lain yang
berkontribusi pada gout ialah konsumsi alkohol, tekanan darah tinggi, diet tinggi
purin, obesitas, gagal ginjal, dan medikasi seperti thiazid diuretic, aspirin,
cyclosporine, dan ledovopa (Touhy & Jett, 2014)
Pengkajian yang dapat digunakan pada gout ialah identifikasi kristal MSU
melalui aspirasi cairan sinovial (Ragab et al, 2017). Cairan sinovial tersebut akan
dilihat menggunakan mikroskop cahaya terpolarisasi. Sampel dapat bertahan
selama 24 jam dalam penyimpanan pada suhu 4˚C, namun hal ini dapat
memungkinkan hilangnya kristal. Sehingga, pemeriksaan sampel harus dilakukan
sedini mungkin dan waktu terbaik ialah 6 jam setelah sampel diambil (Ragab et
al, 2017). Analisis lebih lanjut mencakup jumlah leukosit, pada penderita gout
akut, leukositik cairan sinovial dapat melebihi 50.000 sel/μL. Pengkajian lain
juga dapat menggunakan urin 24 jam untuk mengidentifikasi hiperurisemia
(Ragab et al, 2017). Adanya asam urat melebihi 800m/24 jam, dapat
mengindikasikan gout. Selain itu, pengkajian lain juga dapat melalui Ultrasound,
Conventional Radiography, dan Double Countour Sign (DCT).
Penatalaksanaan medis untuk gout bertujuan untuk mencegah serangan,
mencegah penyebaran penyakit, dan mencegah perkembangan gout menjadi
14
kronis. Obat-obatan yang diberikan untuk menurunkan produksi asam urat
misalnya allopurinol, colchicine (Touhy & Jett, 2014). Dapat juga diberikan obat
untuk meningkatkan ekskresi asam urat itu sendiri misalnya probenecid. Peran
perawat untuk pengobatan individu dengan gout ialah memastikan intake cairan
adekuat yaitu 2L/hari (jika tidak ada kontraindikasi) agar asam urat dapat di
ekskresi melalui ginjal (Touhy & Jett, 2014). Perawat juga perlu memberikan
edukasi terkait efek samping obat, tidak terjadi serangan berulang dengan edukasi
untuk menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam urat seperti jeroan,
daging merah, sarden, jamur, kacang-kacangan, dan kerang (Touhy & Jett, 2014).

2.4 Pengkajian Umum pada Sistem Muskuloskeletal


Pengkajian merupakan langkah pertama dari proses keperawatan berupa
pengumpulan informasi yang bersifat sistematis mengenai status kesehatan klien
(Potter, Perry, Stockert & Hall, 2013). Menurut Miller (2012), pengkajian pada sistem
muskuloskeletal berfokus pada mengidentifikasi risiko jatuh, patah tulang, dan
osteoporosis. Pengkajian muskuloskeletal dapat diawali dengan mengajukan
pertanyaan dan pengamatan mengenai mobilitas dan aktivitas lansia. Perawat dapat
mengawali menggunakan pertanyaan seperti “apakah Anda kesulitan melakukan
aktivitas biasa karena keterbatasan sendi?”, “apakah Anda merasa sakit atau tidak
nyaman di persendian?”, “apakah Anda pernah merasa kehilangan keseimbangan?”,
“apakah Anda kesulitan berjalan atau berkeliling?”, “apakah Anda menggunakan alat
bantu berjalan?” (Miller, 2012). Selanjutnya, mengajukan pertanyaan terkait risiko
untuk osteoporosis. Perawat dapat menggunakan pertanyaan seperti “apakah Anda
memiliki keluarga yang menderita osteoporosis atau yang mengalami patah tulang di
usia lanjut?”, “apakah Anda pernah mengalami patah tulang?”, ”apakah Anda
mengonsumsi suplemen kalsium atau vitamin D?" (Miller, 2012).
Pengkajian pada sistem muskuloskeletal lansia yang pertama dapat dimulai
dengan mengidentifikasi risiko jatuh. Kondisi seperti osteoporosis dapat
meningkatkan risiko jatuh pada lansia. Kejadian jatuh dapat menyebabkan cedera
termasuk penurunan fungsi, patah tulang, bahkan kematian (Cary & Lyder, 2011).
Dalam melakukan pengkajian risiko jatuh, pengkajian harus bersifat multidimensi dan
sebaiknya diawali dengan mengobservasi lansia di lingkungan tempat tinggalnya dan
benda-benda di sekitar tempat tinggalnya (Miller, 2012). Tempat tinggal merupakan
lokasi tersering pada lansia yang mengalami kejadian jatuh yang disebabkan oleh

15
interaksi beragam yang berkembang sepanjang waktu dan barang-barang di
lingkungan lansia (Zecevic, Salmoni, Lewko, Vandervort, & Speechley, 2009 dalam
Miller, 2012). Pertanyaan yang dapat diajukan perawat terkait risiko jatuh, seperti
“apakah Anda pernah jatuh dalam beberapa tahun terakhir?” dan “apakah Anda takut
jatuh?” (Miller, 2012).
Lansia cenderung mengalami penurunan tinggi badan dan perubahan postur
(Miller, 2012). Lansia mungkin tidak peduli atau menyadari kehilangan tinggi badan,
namun kehilangan sekitar 2 hingga 4 cm per dekade adalah normal, karena
osteoporosis dan perubahan terkait usia lainnya. Implikasi penilaian lain dari
penurunan tinggi badan adalah celana yang digunakan lansia mungkin terlalu panjang,
terutama jika orang tersebut juga telah kehilangan berat badan (Miller, 2012). Oleh
karena itu, perawat perlu mengamati apakah panjang pakaian meningkatkan risiko
jatuh karena risiko ini dapat dikurangi melalui intervensi yang relatif sederhana.
Banyak alat penilaian jatuh yang telah dikembangkan dan tersedia dalam
pengaturan yang berbeda. Tujuan dari alat tersebut yaitu untuk mengidentifikasi
pasien yang berisiko jatuh sehingga langkah-langkah pencegahan dapat
diimplementasikan (Miller, 2012). Perawat dapat menilai gaya berjalan dan
keseimbangan dengan Time Up and Go Test (TUG) (Miller, 2012; CDC, 2017).
Perawat dapat meminta pasien untuk duduk di kursi dengan sandaran tangan, berdiri
dari kursi dan berjalan beberapa langkah, kemudian berbalik dan kembali ke kursi
(Miller, 2012). Lansia dengan waktu lebih dari 12 detik untuk menyelesaikan TUG
berarti mengalami risiko jatuh (CDC, 2017).
Perawat juga dapat mengamati pola berjalan yang biasa dari lansia tersebut,
memberikan perhatian khusus pada gaya berjalan atau keseimbangan. Setelah
diobservasi, perawat dapat menanyakan kepada lansia terkait kemampuan dalam
melaksanakan aktivitas harian (Activity Daily Life) (Miller, 2012). Ketika
teridentifikasi bahwa lansia memiliki kelemahan atau terbatas dalam melakukan
aktivitas, identifikasi kembali apakah lansia menggunakan alat bantu untuk membantu
mobilitas, keseimbangan; alat bantu keselamatan, dan kemandirian (Miller, 2012).
Jika pasien tidak menggunakan alat bantu, perawat dapat mengkaji pengetahuan
lansia terkait sikap atau pendapat mereka terhadap pemakaian alat bantu. Hal ini
bertujuan agar perawat dapat merekomendasikan perawatan seperti apa yang tepat
untuk lansia.

16
Yayasan Hartford untuk Keperawatan Geriatrik merekomendasikan
penggunaan Model Risiko Jatuh Hendrich II sebagai alat berbasis bukti untuk menilai
risiko jatuh (Hendrich, 2007, dalam Miller, 2012). Dalam form tersebut, mencakup
faktor risiko dan TUG. Faktor risiko yang tertulis dalam form yaitu
Kebingungan/Disorientasi/Impulsivitas, Depresi simtomatik, Altered elimination,
pemberian obat antiepilepsi dan obat Benzondiazapines. Untuk penilaian TUG, jika
nilai sama dengan atau lebih dari 5 maka berisiko tinggi (Miller, 2012). Selain itu,
dapat pula menggunalan alat penilaian lainnya, seperti Morse Fall Scale atau Tinetti
Gait and Balance Assessment (Cary & Lyder, 2011).
Pengkajian sistem muskuloskeletal berikutnya yaitu pengkajian keseimbangan
yang dapat dilakukan menggunakan pengkajian Berg Balance Scale (BBS). Berg
Balance Test mencakup 14 perintah yang dinilai menggunakan skala ordinal (Berg,
Wood, Williams, & Maki, 1992). BBS dikembangkan pada tahun 1990-an yang
didesain untuk membantu menentukan perubahan fungsi keseimbangan baik statis
(saat diam) maupun dinamis (saat bergerak) pada lansia. Instrumen ini mengkaji
perfomans dalam lima tingkat, dari 0 (tidak dapat melakukan perfomans) sampai 4
(perfomans normal), dengan melakukan 14 kegiatan yang berbeda (Berg, Wood,
Williams, & Maki, 1992).
Pengkajian membutuhkan waktu selama 15-20 menit untuk menyelesaikan
kegiatan. Skor 0 sampai 20 menunjukkan risiko jatuh tinggi, 21 sampai 20
menunjukkan risiko jatuh sedang, dan 41 sampai 56 menunjukkan risiko jatuh rendah
(Berg, Wood, Williams, & Maki, 1992). Berikut ini mencakup penilaian dalam BBS,
yaitu (1) duduk untuk berdiri; (2) berdiri tidak didukung; (3) duduk tidak didukung;
(4) berdiri untuk duduk (5) transfer; (6) berdiri dengan mata tertutup; (7) berdiri
dengan kedua kaki; (8) maju dengan tangan terulur; (9) mengambil objek di lantai;
(10) beralih untuk melihat ke belakang; (11) berputar 360 derajat; (12) menempatkan
salah satu kaki di bangku; (13) berdiri dengan satu kaki di depan; (14) berdiri dengan
satu kaki (Berg, Wood, Williams, & Maki, 1992).
Pengkajian sistem muskuloskeletal yang ketiga yaitu pengkajian kekuatan
otot. Metode yang paling umum digunakan untuk menilai kekuatan otot adalah skala
Medical Research Council Manual Muscle Testing (Naqvi, 2017). Metode ini
melibatkan pengujian otot-otot kunci dari ekstremitas atas dan bawah pasien untuk
melawan penahanan dari pemeriksa yang menilai kekuatan pasien pada skala 0 hingga
5. Berikut hasilnya, yaitu skala 0: tidak ada pergerakan otot; skala 1: ada pergerakan
17
otot, seperti kedutan, tanpa mencapai jangkauan gerak penuh; skala 2: pergerakan otot
dengan gravitasi dihilangkan, mencapai rentang gerak penuh; skala 3: pergerakan otot
melawan gravitasi, berbagai gerak penuh; skala 4: pergerakan otot melawan beberapa
penahan, berbagai gerak penuh; skala 5: pergerakan otot dapat melawan pemeriksa
(Naqvi, 2017). Otot-otot yang teruji meliputi fleksor siku, ekstensor siku, ekstensor
pergelangan tangan, fleksor jari, fleksor pinggul, ekstensor lutut, dorsofleksi,
instrinsik tangan, fleksor plantar (Naqvi, 2017).
Selain melakukan anamnesis, perawat pun melakukan pemeriksaan fisik untuk
menilai sistem muskuloskeletal. Pemeriksaan fisik untuk mendeteksi kelainan pada
sistem muskuloskeletal dikenal dengan “GALS” (pemeriksaan skrining) yang terdiri
dari cara berjalan, lengan, kaki, dan tulang belakang (Arthritis Research UK, 2011).
Kemudian terdapat REMS yaitu pemeriksaan regional dari sistem muskuloskeletal
yang mengacu pada pemeriksaan yang lebih rinci yang harus dilakukan setelah suatu
kelainan telah terdeteksi baik melalui riwayat kesehatan atau melalui pemeriksaan
skrining (GALS). REMS melibatkan pemeriksaan sekelompok sendi yang
dihubungkan oleh fungsi, dan mungkin memerlukan pemeriksaan neurologis dan
vaskular yang rinci. Pemeriksaan REMS terdiri dari pemeriksaan pada tangan dan
pergelangan tangan, siku, bahu, pinggul, lutut, kaki dan pergelangan kaki, serta
punggung (Arthritis Research UK, 2011). Perawat dapat memeriksa sendi dan otot
untuk menilai nyeri, bengkak, kehangatan, dan kemerahan (Touhy, & Jett, 2014).
Tangan pasien diperiksa untuk melihat ada tidaknya osteofit. Jika ditemukan cacat
jari-jari pada sendi bagian distal disebut sebagai Node Heberden dan Node Bouchard
pada sendi bagian proksimal.

Gambar 4 Node Heberden dan Node


Bouchard

18
Sumber: Touhy & Jett (2014)

2.5 Pengkajian Risiko Jatuh pada Lansia


Menurut Herdman & Kamitsuru (2014), risiko jatuh adalah kondisi dimana
terjadi peningkatan kerentanan terhadap jatuh yang dapat menyebabkan bahaya fisik.
Hal ini dapat meningkat jika klien mengalami penurunan dari fungsi
muskuloskeletalnya karena dapat mengganggu kondisi keseimbangan klien itu
sendiri. Faktor risiko yang dapat meningkatkan untuk terjadinya risiko jatuh terdiri
dari faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal seperti usia, kognitif, dan
kondisi fisiologis seperti usia yang lebih dari 65 tahun, riwayat jatuh, penyakit akut,
anemia dan faktor eksternal seperti lingkungan dan medikasi misalnya penggunaan
alat bantu, lingkungan yang berantakan, paparan tidak aman, pencahayaan tidak
memadai, dan lain-lain.
Penggunaan medikasi yang dapat memperbesar risiko jatuh seperti diuretik,
benzodiazepin, antikonvulsan, agen antiparkinson, antiaritmia, obat
penenang/hipnotik, antidepresan, analgesik opioid, dan lain-lain (Marquis, Foreman,
Milisen, & Fulmer, 2010). Namun obat antidepresan adalah obat yang paling
konsisten sebagai penyebab terjadinya risiko jatuh. Obat-obatan ini dapat membuat
klien merasa kebingungan, depresi, sedasi, aritmia, hipovolemia, hipotensi ortostatik,
fungsi kognitif berkurang, dan perubahan gaya berjalan dan keseimbangan (misalnya
ataksia, penurunan proprioception, dan meningkatkan body sway) (Marquis, Foreman,
Milisen, & Fulmer, 2010). Namun bahaya lingkungan yang meningkatkan risiko jatuh
termasuk kekacauan, pencahayaan yang buruk, dan kurangnya pegangan tangan di
tangga atau pegangan di kamar mandi. Lingkungan merupakan faktor risiko eksternal
yang dapat memengaruhi individu lansia.
Pengkajian yang dilakukan yaitu, pertama adalah dilakukan anamnesa
sekaligus melakukan pengkajian fisik seperti kaji performa dari sistem
muskuloskeletal yang dapat dilakukan dengan pengamatan mobilitas dan aktivitas
individu lansia. Tanyakan apakah ada rasa yang tidak nyaman pada sendi atau otot
dari lansia tersebut. Dapat juga perawat melakukan pengkajian mengenai keluhan
yang dialami klien. Misalnya klien memang mempunyai penyakit sendi atau tulang
tertentu. Lalu mengidentifikasi risiko osteoporosis serta mengkaji faktor-faktor risiko

19
yang dapat dimodifikasi, seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol maupun faktor
yang tidak dapat dimodifikasi seperti kondisi penyakit (Miller, 2012)
Pengkajian selanjutnya adalah kaji risiko terjatuh dan luka. Apakah ada
kondisi tertentu yang membuat klien terjatuh atau sulit untuk bergerak. The Hartford
Foundation for Geriatric Nursing merekomendasikan penggunaan Hendrich II Fall
Risk Model dalam pengaturan kelembagaan sebagai alat berbasis bukti untuk menilai
risiko jatuh pada lansia (Miller, 2012). Selain dengan menggunakan Hendrich II Fall
Risk Model, pengkajian risiko jatuh dapat dilakukan dengan Morse Fall Scale.
Hasilnya adalah score 0-24 berarti klien tidak memiliki risiko jatuh, 25-50 berarti
memiliki risiko jatuh walaupun rendah, sedangkan lebih dari 51 memiliki risiko jatuh
yang tinggi.
Selain pengkajian fisik, pada klien dengan risiko jatuh dapat juga dilakukan
pemeriksaan penunjang seperti tes diagnostik dan laboratorium. Namun data ini
hanyalah sebagai pendukung. Pemeriksaan penunjang ini berupa tes densitas mineral
tulang (Bone mineral density test) untuk mengukur densitas mineral tulang. Lalu
terdapat Dual-energy X-ray absorptiometry (DEXA) (Phelan, Mahoney, Voit, &
Stevens, 2016). DEXA untuk memprediksikan risiko fraktur pada tulang belakang,
dan pergelangan tangan. Pemeriksaan x-ray merupakan teknik untuk mendiagnosa
dan mendeteksi semua penyakit rematik tulang dan untuk mendiagnosa adanya
keretakan. X-ray mendeteksi struktur muskuloskeletal, integritas, tekstur, dan masalah
densitas. Computerized tomography (CT scan) dan magnetic resonance imaging
(MRI) untuk mendeteksi gambaran dari area kecil jaringan/kondisi tertentu sehingga
dapat mendiagnosa dengan lebih detil dan tepat (Phelan, Mahoney, Voit, & Stevens,
2016).

20
BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sistem muskuloskeletal yang ada pada lansia akan mengalami perubahan fisiologis
tertentu yaitu perubahan pada tulang, sendi, otot, dan saraf. Perubahan ini dipengaruhi oleh
faktor-faktor seperti gangguan hormon, penyakit sistemik, faktor diet, dan aktivitas fisik yang
kurang. Faktor ini dapat memicu terjadinya gangguan pada sistem muskuloskeletal.
Gangguan ini misalnya osteoporosis dan arthritis. Perubahan pada sistem muskuloskeletal ini
dapat menimbulkan berbagai macam masalah misalnya lansia lebih rentan untuk mengalami
risiko jatuh, patah tulang, dan osteoporosis. Maka dari itu penting untuk dilakukan
pengkajian pada sistem ini. Pengkajian yang dilakukan dengan anamnesa, pemeriksaan fisik,
dan juga pemeriksaan penunjang (DEXA, X-ray, dan lain-lain)

3.2 Saran
Makalah ini memang belum sempurna, maka dari itu penulis sangat terbuka dengan
masukan yang diberikan oleh pembaca dan juga penulis berharap supaya makalah ini dapat
bermanfaat dengan baik.

21
DAFTAR PUSTAKA

Amelio, P., & Isaiya, G, C. (2015). Male osteoporosis in elderly. International Journal of
Endocrinology. Vol. 15 (9)
Arenson, C., et al. (2009). Reichel’s care of the elderly. (6th Ed). United States: Cambridge
University Press.
Arthritis Care. (2016). Understanding Arthritis. London: Arthritis Care retrieved by
https://www.arthritiscare.org.uk/assets/000/001/820/Understanding_FINAL_100516_
web_original.pdf?1502875508 on Monday, 16 April 2018.
Arthritis Research UK. (2011). Clinical assessment of the musculoskeletal system: A guide
for
medical students and healthcare professionals. Registered Charity England and Wales
No. 207711, ISBN 978 1 901815 17 7.
Berg, K., Wood-Dauphinee, S., Williams, J. L., and Maki, B. Measuring balance in the
elderly: Validation of an instrument. Can. J. Pub. Health, July/August supplement
2:S7-11, 1992
Cary, M. and Lyder, C. H. (2011). Geriatric assessment: Essential skills for nurses.
American Nurses Today [July, 2011] Vol. 6 No. 7
CDC. (2017). Assessment timed up & go (TUG). Retrieved from www.cdc.gov/steadi
Colón, C. J., Molina-Vicenty, I. L., Frontera-Rodríguez, M., García-Ferré, A., Rivera, B. P.,
Cintrón-Vélez, G., & Frontera-Rodríguez, S. (2018). Muscle and Bone Mass Loss in
the Elderly Population: Advances in diagnosis and treatment (Vol. 3). doi:
10.7150/jbm.23390

Fillit, H., Rockwood, K., & Young, J. (2017). Brocklehurst's textbook of geriatric medicine
and gerontology (8th ed., p. 120). Philadelphia: Elsevier.
Herdman, T., & Kamitsuru, S. (2014). NANDA international nursing diagnoses: Definitions
& classification, 2015–2017. Oxford: Wiley Blackwell.
Kurnianto, D. (2015). Menjaga kesehatan usia lanjut. Jurnal Olahraga Prestasi. 11 (2): 19-30
Marquis, D., Foreman, Milisen, K., & Fulmer, T. (2010). Critical care nursing of older
adults: Best Practices. New York: Springer Publishing Company, LLC
Mauk, K. L. (2006). Gerontological nursing: Competencies for care. London: Jones and
Bartlett Publishers, Inc.

22
Miller, C.A. (2012). Nursing for wellness in older adults: Theory and practice. (6th Ed).
Philadephia: Wolters Kluwer / Lippincott Williams & Wilkins.

Phelan, E., Mahoney, J., Voit, J., & Stevens A, J. (2016). Assessment and management of fall
risk in primary care settings. Diakses pada
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4707663/
Pusdatin Kemenkes RI. (2015). Data dan kondisi penyakit osteoporosis di indonesia. Jakarta:
Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Ragab, G., Elshahaly, M., & Bardin, T. (2017). Gout: An old disease in new perspective – A
review. Journal of Advanced Research. Vol. 8 (5) p. 495-511
Stanley & Beare, P G. (2007). Gerontological nursing: A health promotion or protection
Approach. Philadephia: Lippincott Williams & Wilkins.
Stanley, M. & Beare, P. G. (2007). Buku ajar keperawatan gerontik. Edisi 2. Terj. Nety
Juniarti & Sari Kurnianingsih. Jakarta: EGC.
Sihombing, I., Wangko S., & Kalanggi, S, J. (2012). Peran estrogen pada remodeling tulang.
Jurnal Biomedik. Vol 4 (3)
Tabloski, P. (2014). Gerontological nursing third edition. USA: Pearson.
Touhy, T.A., & Jett, K. (2014). Ebersole and hess: Gerontological nursing and
healthy aging. USA: Elsevier Mosby.

23
LAMPIRAN

Lampiran 1 Assessment Timed Up & Go (TUG)

24
Lampiran 2 Berg Balance Scale

25
Lampiran 3 Hendrich II Fall Risk Model

26
Lampiran 4 Morse Scale Fall

27