Anda di halaman 1dari 10

NAMA : Waode Gustia Ulfa

NPM : 0227 1611 086

KELAS : VI A - AKUNTANSI

INVESTIGASI TEKNIK AUDIT DAN TEKNIK PERPAJAKAN

Tuanakotta (2016) menyatakan teknik audit adalah cara-cara yang


dipakai dalam mengaudit kewajaran penyajian laporan keuangan. Sedangkan
menurut Subaweh (2016) teknik audit adalah cara-cara yang ditempuh auditor
untuk memperoleh pembuktian dalam membandingkan keadaan yang
sebenarnya dengan keadaan yang seharusnya.
Pada dasarnya seorang investigator dalam proses membandingkan
apa yang sebenarnya dengan apa yang seharusnya, harus mengumpulkan
bukti-bukti, baik bukti mengenai keadaan yang sebenarnya maupun bukti-
bukti mengenai keadaan yang seharusnya. baik bukti mengenai keadaan
yang sebenarnya maupun bukti-bukti mengenai keadaan yang seharusnya.
Oleh karena itu, ada penulis yang menggunakan istilah teknik audit dan
jenis bukti audit (types of audit evidence) dalam makna yang sama. Ada tujuh
teknik, yang dirinci dalam bentuk kata kerja bahasa Indonesia, dengan jenis bukti
auditnya dalam kurung (kata benda bahasa Inggris), yakni:
1. Memeriksa fisik (physical examination)
2. Meminta konfirmasi (confirmation)
3. Memeriksa dokumen (documentation)
4. Review analitikal (analytic review atau analytical review)
5. Meminta informasi lisan atau tertulis dari auditor (inquiries of the auditee)
6. Menghitung kembali (reperformance)
7. Mangamati (observation).

Kalau teknik-teknik itu diterapkan dalam audit umum, maka bukti audit
yang berhasil dihimpun akan mendukung pendapat auditor independen. Dalam
audit investigatif, teknik-teknik audit tersebut bersifat eksploratif, mencari wilayah
garapan ‖, atau probing (misalnya, dalam review analitikal) maupun
pengalaman (misalnya dalam confirmation dan documentation).

Teknik-Teknik Audit
Ada teknik audit yang lebih dekat kepada praktek investigasi
perpajakan dan organized crime (seperti Net Worth Method dan Expenditure
Method); Ada juga tehnik audit seperti Follow the Money, yang mempunyai
unsure pencucian uang dalam tindak pidananya yang berkaitan erat dengan
naluri penjahat dan sangat dipengaruhi oleh teknologi informasi dalam
pengungkapannya. Meskipun semua (tujuh) tehnik audit yang disebutkan
pembahasan akan berfokuspada reviu analitikal.

A. Memeriksa dan Mengamati


Memeriksa fisik atau physical examination lazimnya diartikan sebagai
penghitungan uang tunai (baik dalam mata uang rupiah atau mata uang asing),
kertas berharga, persediaan barang, aktiva tetap, dan barang berwujud (tangible
assets) lainnya.
Mengamati sering diartikan sebagai pemanfaatan indera kita untuk
mengetahuisesuatu. Kalau kita melakukan kunjungan pabrik, kita melihat luasnya
pabrik, peralatan yangada, kegiatan yang dilakukan, banyaknya dan beragamnya
tenaga kerja. Kita juga mendengar sesuatu, mungkin sesuatu yang wangi
(seperti di pabrik parfum, aromatic, obat, dan lain-lain) atau bahkan bau yang
menyengat (misalnya ditempat penyamakan kulit atau tempat pengolahan
sampah). Kita bisa mencicipi misalnya dipabrik yang menghasilkan makanan.
Kita merasa suhu panas atau dingin ditempat kerja. Singkatnya,
mengamati adalah menggunakan indera, bisa salah satu atau beberapa indera
sekaligus.
Dalam kedua teknik ini investigator menggunakan inderanya, untuk
mengetahui atau memahami sesuatu. Dari beberapa contoh dibawah, kita
melihat berbagai tingkat pemahaman yang bisa diperoleh dari pengamatan dan
pemeriksaan fisik:
 Dari kunjungan ke lokasi yang terkena dampak semburan Lumpur panas
di Porong, Sidoarjo tahun 2006, investigator menyaksikan sendiri apa
yang terjadi dan luasnya musibah. Ini salah satu pemahaman.
Investigator mempunyai “bayangan”. Pemahaman ini penting
ketika nantinya ia membaca laporan para ahli secara rinci tentang
luasnya kerusakan dan besarnya kerugian.
 Dari kunjungan ke wilayah yang terkena gempa, para relawan dan
petugas dari dinas Sosial dapat menentukan jumlah kilometer jalan,
rumah, sekolah, rumah ibadah, kantor, pabrik, dan lain-lain yang rusak.
Pemahaman ini lebih dalam dari “bayangan” mengenai intensitas
kerugian akibat semburan Lumpur panas tadi. Disini ada data kuantitatif.

B. Meminta informasi dan konfirmasi


Meminta informasi baik lisan maupun tertulis kepada auditan, merupakan
prosedur yang biasa dilakukan auditor. Pertanyaannya, apakah dalam
investigasi hal itu perlu dilakukan? Apakah sebaiknya kita tidak meminta
informasi, supaya yang diperiksa tidak mengetahui apa yang kita cari?
Yang bersangkutan juga mempunyai kepentingan dan peluang untuk
berbohong. Seperti dalam audit juga dalam investigatif, permintaan informasi
harus dibarengi, diperkuat, atau dikolaborasi dengan informasi dari sumber lain
atau diperkuat (substantiated) dengan cara lain.
Permintaan informasi sangat penting, dan juga merupakan prosedur yang
normal dalam suatu investigatif. Meminta konfirmasi adalah meminta pihak
lain (dari yang diinvestigasi) untuk menegaskan kebenaran atau tidak
keebenaran suatu informasi. Dalam audit, tehnik ini umumnya
diterapkan untuk mendapat kepastian mengenai saldo utang-piutang.
Tapi sebenarnya ia dapat diterapkan untuk berbagai informasi, keuangan
maupun non keuangan.

C. Reviu analitikal
Dalam reviu analitikal yang penting bukannya perangkat lunaknya,
tetapi semangatnya, Pada dasarnya seorang investigator secara intuitif terobsesi
dengan “sesuatu yang melenceng” dan bahwa “something must be wrong
because it appears so”. Karena itu ia memerlukan patokan atau benchmark
untuk membandingkannya dengan apa yang dihadapinya. Patokan inilah
yang dirumuskan Stringer dan Stewart sebagai results that may reasonably be
expected.
Misalnya kita sedang menginvestigasi suatu bank yang berkewajiban
memungut pajak penghasilan atas bunga yang diperoleh nasabahnya.
Apakah bank menyetorkan pajak penghasilan ini sesuai ketentuan, baik
dalam jumlah maupun waktu penyetoran? Apakah investigasi ini harus dimulai di
cabang-cabang atau kantor-kantor perwakilan? Menurut reviu analitikal,tidak.
Kita mulai dengan mencocokkan angka-angka agregat. Pertama, kita
tentukan jumlah pajak penghasilan yang sudah disetorkan untuk bank secara
keseluruhan (Kantor Pusat dan Cabang-cabang), menurut pembukuan bank itu.
Selanjutnya, ini adalah hasil perkalian antar tarif pajak (misal 10 %) dengan
jumlah bunga yang dibayarkan bank itu kepada kepada parana sabahnya.
Perbedaan antara data A dengan data B bisa merupakan perbedaan
waktu (timming difference) saja. Yakni, perbedaan antara saat memotong dan
saat menyetor pajak penghasilan. Timming difference ini juga mudah dialokasi.
Tetapi mungkin juga ada perbedaan yang bersifat tetap
(permanent difference) misalnya dalam hal deposan dalam negeri yang
mendapat pembebasan pajak penghasilan dan deposan di cabang-cabang luar
negeri dimana bank tidak berkewajiban memungut pajak penghasilannya.
Perbedaan ini mudah diketahui karena umumnya jumlah deposan dalam negeri
yang dibebaskan, tidak banyak. Sedangkan untuk deposan di cabang-cabang
diluar negeri, kita mengabaikan seluruh data bunga luar negeri (bagian dari data
B semula).
Dengan contoh ini, mari kita saji definisi reviu analitikal diatas: a form of
deductive reasoning in which the propriety of the individual details is inferred from
evidence of the reasonableness of the aggregate results. Kita harus memulai dari
belakang. Pertama evidence of the reasonbleness of the aggregate of the
results; ini diperoleh dari data B yang diadjust untuk deposan dalam negeri yang
dikecualikan pemungutan pajak penghasilannya dan bunga di cabang-cabang
luar negeri. Kedua, a form of deductive reasoning. Di sini kita membuat
deduksi dari data agregat, data global, data menyeluruh, yang dalam hal ini
adalah data A dan data B. Deduksi ini berkenaan dengan the proprierty of the
individual details. Individual details disini adalah pemungutan dan penyetoran
pajak penghasilan oleh bank secara transaksi demi transaksi, cabang demi
cabang, atau mungkin per pejabat bank sesuai dengan kewenangannya.Kita
“think ananlytical first”, dan tidak langsung terjun dan menyibukkan diri dengan
detailed substantive test.
Ada bermacam-macam variasi dari tehnik reviu analitical, namun
semuanya didasarkan atas perbandingan antara apa yang dihadapi dengan apa
yang layaknya harus terjadi, dan berusaha menjawab sebabnya terjadi
kesenjangan. Apakah ada kesalahan (error), fraud, atau salah merumuskan
patokannya.

Membandingkan anggaran dengan realisasi


Membandingkan data anggaran dan realisasi dapat mengindikasikan
adanya fraud. Yang perlu dipahami di sini adalah mekanisme
pelaksanaan anggaran, evaluasi atas pelaksanaan anggaran, dan insentif
(keuangan maupun non keuangan) yang terkandung dalam sistem
anggarannya.
Dalam entitas yang merupakan profit center atau revenue center, pejabat
tertentu menerima insentif (bonus) sesuai dengan “keberhasilan” yang diukur
dengan pelampauan anggaran. Investigator perlu mengantisipasi
kecenderungan realisasi penjualannya dibuat tinggi (overstated). Penjualan
kredit dan pengiriman barang secara besar-besaran pada akhir tahun
merupakan indikasi mengenai hal itu. Pengembalian barang sesudah
akhir tahun memperkuat indikasi adanya fraud.

Hubungan antara satu data keungan dengan data keuangan lain


Beberapa akun, baik dalam suatu maupun beberapa laporan
keuangan, bisa mempunyai keterkaitan yang dapat dimanfaatkan untuk
reviu analitikal. Contoh: angka penjualan dengan piutang dan persediaan
rata-rata, angka penjualan dengan bonus bagian penjualan, penghasilan bunga
dengan saldo rata-rata tabungan dan seterusnya.

Menggunakan data non keuangan


Inti dari reviu analitikal adalah mengenal pola hubungan, relationship
pattern. Pola hubungan ini tidak mesti hanya antara satu data keuangan dengan
data keuangan lain. Pola hubungan non keuanganpun bisa bermacam-macam
bentuknya.
Dalam bisnis perkebunan ada hubungan antara jumlah pupuk yang
dipergunakan dengan hasil produksi atau panen; angka masukan maupun
keluaran dinyatakan dalam satuan non keuangan, seperti jumlah ton untuk pupuk
dan sawit.
Di pabrik gula ada ukuran antara jumlah ton tebu yang masuk ke pabrik
dan jumlah ton gula yang dihasilkan. Pola hubungan antara masukan dan
keluaran ini dinyatakan dalam suatu ratio yang dalam industri gula dikenal
sebagai rendemen. Perhitungan serupa kita lihat di industri kayu lapis atau
blackboard, dengan nama recovery.
Bermacam ratio kita gunakan untuk berbagai industri. Bahkan industri-
industri atau perusahaan pemeringkat mengembangkan dan menyebarkan
industry ratios. Perusahaan penerbangan Garuda mendapatkan hasil yang
sangat signifikan dari perjalanan haji. Data yang penting, jumlah calon haji
yang diterbangkan, dapat diperoleh dari sumber intern maupun ekstern Garuda.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di konsulat-konsulat kita diluar
negeri, mempunyai hubungan linier dengan banyaknya visa yang
diterbitkan.Reviu analitikal sering dilakukan dengan hitungan cepat
untuk menunjukkan keganjilan. Seorang bankir mencatat informasi yang
diterimanya dari calon nasabah kreditnya. Dengan cepat ia menetukan
bahwa pabrik pulp berkapasitas besar dilokasi yang terisolasi, tidak akan bisa
beroperasi karena bahan bakunya tidak akan cukup. Semua data untuk
membuat kesimpulan itu ia peroleh selama makan siang dengan calon
debiturnya.

Registrasi atau analisis ternd


Dengan data historikal yang memadai(makin banyak makin baik, ceteris
paribus), reviu analitikal dapat mengungkapkan trend. Berbagai
perangkat lunak mempermudah hitungan dan grafiknya, misalnya STAR.

Menggunakan indicator ekonomi makro


Ada hubungan antara besarnya pajak penghasilan yang diperoleh dalam
suatu tahun dengan indikator-indikator ekonomi seperti inflasi, tingkat
pengangguran, cadangan devisa, indikator ekonomi negara-negara yang menjadi
partner perdagangan Indonesia, harga minyak mentah dan komoditi lain, dan
lain-lain. Ini merupakan bidang studi yang ditekuni para ahli ekonomi makro dan
ekonometri.
Menghitung kembali
Menghitung kembali atau repeform tidak lain dari mencek kebenaran
perhitungan (kali, bagi, tambah, kurang, dan lain-lain). Ini prosedur yang sangat
lazim dalam audit. Biasanya tugas ini diberikan kepada seseorang yang baru
mulai bekerja sebagai auditor; seorang junior auditor di kantor akuntan.
Dalam investigatif, perhitungan yang dihadapi umumnya sangat
kompleks, didasarkan atas kontrak atau perjanjian yang rumit, mungkin sudah
terjadi perubahan dan renegoisasi berkali-kali dengan pejabat(atau kabinet)
yang berbeda. Perhitungan ini dilakukan atau disupervisi oleh investigator
yang berpengalaman. or bagi hasil (Production Sharing Contractor). Cost
recovery ini sangat besar jumlahnya. Kalau tidak dihitung kembali oleh
counterpart PSC atau lembaga pemeriksa independen, cost recovery rawan
penyalahgunaan. Biaya yang dikeluarkan BUMN yang mempunyai kewajiban
memberikan pelayanan umum (public Service Obligation). Keterlambatan
pembayaran PSO mempunyai dampak yang besar terhadap likuiditas BUMN
yang bersangkutan.

Investigasi dengan teknik perpajakan


Investigatif dengan teknik perpajakan menggunakan dua tehnik yang
secara luas dipraktekkan oleh IRS (Internal Revenue Services) di
Amerika Serikat. Kedua teknik investigasi ini digunakan untuk menentukan
panghasilan kena pajak (PKP) yang belum dilaporkan oleh wajib pajak dalam
SPT-nya. Penerapan tehnik-tehnik ini terus berkembang, sehingga menjadi
umum digunakan dalam memerangi organized crime.
Kedua tehnik investigatif ini adalah Net Worth Method dan Expenditure
Method. Keduanya menggunakan logika pembukuan atau akuntansi yang
sederhana. IRS menggunakannya sebagai bukti tidak langsung
(circumstantial evidence). Teknik ini menggeser beban pembuktian dari
negara/fiskus kepada wajib pajak. Perlindungan hak wajib pajak diperlukan
karena pergeseran beban pembuktian tersebut diatas.

D. Net word method


Net worth method diterapkan oleh kantor pajak Amerika Serikat (IRS).
Pemakaiannya bisa ditelusuri kembali ke tahun 1931 ketika IRS berhasil
menjaring Al(fonso) Capone. Sejak Congress mengundangkan RICO Act pada
tahun 1970, penggunaannya diperluas untuk menemukan indikasi illegal
income dari organized crime (kejahatan yang diorganisasi seperti Mafia,Triad,
dan lain-laain).
Net worth method untuk investigasi pajak ingin membuktikan adanya PKP
yang belum dilaporkan oleh wajib pajak. Untuk organized crime yang ingin
dibuktikan adalah terdapatnya penghasilan yang tidak sah, melawan hukum,
atau illegal income. tertentu, sebutlah Tahun-1, net worth = assets-
lialibilities. Hal yang sama dilakukan untuk menentukan net worth Tahun-2.
Selanjutnya, net worth Tahun-1 dibandingkan dengan net worth tahun-
2. perbandingan ini akan menghasilkan kenaikan net worth (net worth
increase) yang seharusnya sama dengan PKP untuk tahun-2. Karena itu
kenaikan net worth ini dibandingkan dengan penghasilan yang dilaporkan dalam
SPT PPh tahun-2.

E. Expenditure method
Sebagaimana halnya dengan Net Worth yang dijelaskan,
penerapan Expenditure Method juga dipelopori IRS. Expenditure Method yang
merupakan derivasi atau turunan darinet worth method digunakan IRS sejak
tahun 1940an. Ketika RICO Act diundangkan dalam tahun 1970, Expenditure
Method dimanfaatkan sebagai petunjuk organized crime. Expenditure
Method juga merupakan cara pembuktian tidak langsung. Tidak mengumpulkan
harta benda, tetapi mempunyai pengeluaran-pengeluaran besar (mewah).
Expenditure Method lebih populer dari Net Worth Method, karena
Expenditure Method lebih mudah dibuat atau dihitung, dan juga lebih mudah
dimengerti oleh orang awam. Mahkamah Agung di Amerika Serikat tidak
menetapkan Expenditure Method secara khusus sebagai alat pembuktian,
karena Expenditure Method dianggap derivasi atau turunan dari Net Worth
Method. Seorang akuntan harusnya mampu menghitung unreported taxable
income berdasarkan Net Worth Method akan mengkonversikannya ke
Expenditure Method. Expenditure Method harusnya digunakan untuk
kasus-kasus perpajakan apabila kondisi-kondisi berikut sangat kuat atau
dominan:
1. Wajib pajak tidak menyelenggarakan pembukuan atau catatan.
2. Pembukuan dan catatan wajib pajak tidak tersedia, misalnya karena
terbakar.
3. Wajib pajak menyelenggarakan pembukuan tetapi tidak memadai.
4. Wajib pajak menyembunyikan pembukuan.
5. Wajib pajak tidak mempunyai assets yang terlihat atau dapat
diidentifikasi.

Expenditure Method harusnya digunakan untuk kasus-kasus organized


crime apabila kondisi-kondisi berikut sangat kuat atau dominan:
1. Tersangka kelihatannya tidak membeli asset seperti rumah, tanah,
saham, perhiasan, mobil atau kapal mewah, dan seterusnya.
2. Tersangka mempunyai gaya hidup mewah dan agaknya diluar
kemampuannya.
3. Tersangka diduga mengepalai jaringan kejahatan, atau semua saksi yang
memberatkan dia adalah para penjahat yang sudah dijatuhi hukuman.
4. Illegal income harus ditentukan untuk menghitung denda (misalnya dalam
kejahatan penebangan hutan ilegal), menghitung kerugian negara
(dalam kasus korupsi), dan pungutan negara lainnya.

Expenditure Method adalah derivasi dari Net Worth Method. Namun,


perlakuan terhadap asset dan liabilities-nya berbeda. Misalnya, dalam Net Worth
Method penyidik akan mencantumkan saldo akhir kas dan bank. Dalam
Expenditure Method, hanya perubahannya yang diambil (kenaikan atau
penurunan kas dan bank). Hal yang sama juga berlaku untuk persediaan
barang, piutang, utang, dan pinjaman bank. Depresiasi, amortisasi,
deplesi, deffered gains, dan semacamnya juga diabaikan dalam Expenditure
Method ini sebenarnya merupakan hal yang elementer untuk seorang akuntan.
DAFTAR PUSTAKA

Tuanakotta, T.M. 2007. Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif, Lembaga


Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

Internet :

https://dokumen.tips/documents/audit-investigatif-dengan-teknik-audit-dan
perpajakan.html (di ambil pada tanggal 05 Mei 2019)