Anda di halaman 1dari 29

Desain Pembelajaran Matematika

ASASMENT KEMAMPUAN KOMUNIKASI


MATEMATIKA

OLEH:

KELOMPOK 2

1. Faizah Ibrahim Bakoban (8186171003)


2. Permata Sari Manurung (8186171007)
3. Ria Purnama Sari (8186171012)

KELAS A

PENDIDIKAN MATEMATIKA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-NYA lah kami dapat menyelesaikan Makalah
Disain Pembelajaran Matematika yang berjudul “Asasment Kemampuan
Komunikasi”. Makalah ini dibuat guna memenuhi penyelesaian tugas pada mata
kuliah DisainPembelajaran Matematika.
Kami mengucapan terimakasih kepada Ibu Dr. Izwita Dewi, M.Pd selaku
dosen mata kuliah Disain Pembelajaran Matematika yang telah membimbing
kami dalam menyelesaikan tugas makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalahini masih jauh dari kata sempurna karena
masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran,
dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada
sesuatu yang sempurna tanpa kritik dan saran yang membangun.

Medan, April 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... i


DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................. 1


1.1 Latar Belakang ........................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................... 2
1.3 Tujuan Penelitian .................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................... 3


2.2 Pengertian Komunikasi ........................................................................... 3
2.2 Aspek-Aspek Komunikasi ...................................................................... 5
2.3 Kemampuan Komunikasi Matematika .................................................... 6
2.4 Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Komunikasi
Matematika.............................................................................................. 9
2.5 Tes Kemampuan Komunikasi ................................................................. 10
2.6 Model Asassement Kemampuan Komunikasi Matematika ................... 11

BAB III PENUTUP ........................................................................................... 21


3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 15

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 16


LAMPIRAN ...................................................................................................... 17

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Belajar adalah sebuah proses dimana siswa berusaha menyempurnakan
pemahaman yang telah dimiliki dengan mengaitkannya dengan informasi yang
baru diperolehnya. Belajar yaitu siswa mencoba untuk memahami informasi baru
dan mengintegrasikannya ke dalam apa yang mereka sudah ketahui. Akan tetapi
belajar tidak hanya berhenti pada tahap memperoleh informasi, dalam
pelaksanaan kurikulum 2013 sebagaimana diatur dalam Permendikbud 81 A tahun
2013 bahwa pengalaman belajar yang dituntut kepada siswa yaitu mengamati,
menanya, mengumpulkan informasi, mengasosiasi dan mengkomunikasikan.
Artinya kemampuan siswa untuk mengkomunikasikan apa yang ketahuinya
menjadi salah satu hal yang penting untuk dimiliki. Dalam matematika
kemampuan komunikasi dikenal dengan sebutan komunikasi matematik, yaitu
kemampuan siswa dalam menyelesaikan suatu algoritma dan cara unik untuk
pemecahan masalah, kemampuan siswa mengkonstruksikan dan menjelaskan
sajian fenomena dunia nyata dalam bentuk grafik, kata-kata/kalimat, persamaan,
table dan sajian secara fisik atau kemampuan siswa memberikan dugaan tentang
gambar-gambar geometri. Kemampuan komunikasi matematik merupakan
kemampuan matematik esensial yang tercantum dalam kurikulum matematika
sekolah menengah, akan tetapi kenyataan dilapangan menunjukkan bahwa
kemampuan komunikasi matematik siswa sekolah menengah masih pada kategori
rendah. Tak hanya proses pembelajaran, penilaian atau asesmen juga memiliki
peranan dalam menentukan tinggi rendahnya kualitas siswa.Mengacu apa yang
dikemukakan penilaian merupakan serangkaian aktivitas untuk memperoleh
informasi kualitatif dan kuantitatif baik ketika awal, sedang berlangsungnya
proses, maupun di akhir pembelajaran yang bertujuan untuk mengevaluasi dan
mendiagnosa kebutuhan yang harus diperbaiki sehingga guru dan siswa mampu
meninjau, merencanakan, dan mengaplikasikan langkah-langkah yang harus
ditempuh selanjutnya untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian,

1
tujuan penilaian tidak hanya untuk pemberian skor dan pembuatan ranking, tetapi
juga upaya untuk menyediakan feedback baik kepada siswa maupun guru untuk
melakukan perbaikan belajar-mengajar sesegera mungkin untuk mencapai tujuan
bersama. Dengan kata lain, penilaian selalu menjadi bagian integral dan tak
terpisahkan dalam pembelajaran serta menjadi bagian krusial untuk membantu
siswa dan guru dalam belajar-mengajar. Mengembangkan proses penilaian di
kelas matematika berdampak pada motivasi dan pemahaman matematis siswa.
Artinya bila guru dapat mengembangkan atau mengimplementasikan penilaian
secara tepat maka akan berpengaruh pada pemahaman matematis siswa.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, maka yang menjadi fokus permasalahan
dalam makalah ini adalah Bagaimana asessement komunikasi matematika siswa?

1.3 Tujuan
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan dari makalah ini adalah Untuk
mengetahui Asassement komunikasi matematika siswa.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Komunikasi


Komunikasi secara umum dapat diartikan sebagai suatu peristiwa saling
menyampaikan pesan yang berlangsung dari satu pihak ke pihak yang lain.
Menurut Soekartawi (1988: 1) mengatakan bahwa: “Komunikasi merupakan suatu
pernyataan antarmanusia, baik secara perorangan maupun berkelompok, yang
bersifat umum dengan menggunakan lambang-lambang yang berarti, maka
tampak bahwa dengan perkembangan objek tertentu akan memerlukan
komunikasi yang lebih spesifik”. Ada dua jenis komunikasi, yaitu komunikasi
lisan dan tulisan.
Menurut Abdulhak (dalam Ansari, 2016:12) bahwa : “Komunikasi sebagai
proses penyampaian pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan melalui
saluran tertentu untuk tujuan tertentu”. Menurut Riyanto (2002:33) bahwa:
Komunikasi adalah proses dua arah yang menghasilkan perolehan
informasi dan pengertian. Proses dua arah ini merupakan dasar hakiki
dari suatu komunikasi. Komunikasi yang efektif tidak mungkin terjadi
tanpa adanya umpan balik. Oleh karena itu, dalam suatu komunikasi, hal
yang sangat penting adalah kemampuan mendengar, yaitu mendengarkan
dengan penuh simpati.

Pesan/Message

Pengirim/sender Penerima/receiver

Penerima/receiver Pengirim/sender

Umpan Balik/feedback
Gambar 2.1 Bagan Komunikasi

3
Komunikasi yang efektif, setidak-tidaknya meliputi tiga hal berikut :
(1) Pengirim pesan atau pembicara
(2) Penerima atau pendengar
(3) Pesan yang dimengerti atau diterima dengan tepat
Pesan tidak dapat diterima dengan baik oleh sipenerima, berarti belum
terjadi adanya komunikasi yang efektif (Riyanto, 2002:34-35).
Komunikasi merupakan bagian yang sangat mendasar dari matematika dan
pendidikan matematika. Yaitu cara untuk berbagi gagasan dan menjelaskan
pemahaman. Pada saat proses pembelajaran di kelas, komunikasi terjadi antara
guru dan siswa, antara siswa dan siswa, juga antara siswa dan sumber belajar
lainnya, seperti buku dan media pembelajaran. Komunikasi yang terjadi antara
siswa dengan teman sebaya dan guru, serta kesempatan bagi siswa untuk
menjelaskan, membuat dugaan, mempertahankan gagasan, baik secara lisan
maupun tulisan dapat menstimulasi pemahaman yang lebih mendalam mengenai
pengetahuan konsep-konsep matematika. Menurut Intended Learning Outcomes
(dalam Husna dkk, 2013:85) bahwa:“Komunikasi matematika adalah suatu
keterampilan penting dalam matematika yaitu kemampuan untuk
mengekspresikan ide-ide matematika secara koheren, kepada teman, guru dan
lainnya melalui bahasa lisan dan tulisan”.
Konsep komunikasi seperti yang diuraikan di atas, merupakan prinsip
pertama dalam pengajaran dan pembelajaran Cole & Chan (dalam Ansari : 2009).
Ini artinya keberhasilan program belajar mengajar salah satu di antaranya
bergantung pada bentuk komunikasi yang digunakan oleh guru, pada saat
beriteraksi dengan siswa. Di dalam komunikasi ada 5 elemen yang terlibat, yaitu
sender (pengirim informasi), receiver (penerima komunikasi), informasi,
feedback, dan media.
Hal yang harus menjadi perhatian utama dan sering kita lupa adalah
receiver (penerima informasi) adalah manusia. Oleh karena itu, sudah selayaknya
seorang pendidik memperlakukan siswanya “sebagai manusia”, jangan
memperlakukan mereka sebagai mesin atau objek yang tidak memiliki perasaan.
Pahami diri kita sebagai seorang manusia untuk kemudian posisikan diri kita ke

4
dalam posisi siswa, rasakan apa yang disenanginya, dan jauhi apa yang di
bencinya. Sudah saatnya komunikasi yang terjadi di dalam proses belajar
mengajar merupakan sebuah komunikasi berkualitas yang mengedepankan
kemanusiaan. Dengan demikian, akan tercapai sebuah kualitas dari komunikasi
yang efektif yang akan berefek pada peningkatan kualitas diri setiap orang yang
terlibat di dalamnya.

2.2Aspek-Aspek Komunikasi
Menurut Baroody (dalam Ansari, 2009 : 11) ada lima aspek komunikasi
yaitu representasi (representing), mendengar (listening), membaca (reading),
diskusi (discussing), dan menulis (writing).
2.2.1 Representasi
Representasi adalah: (1) bentuk baru sebagai hasil translasi dari suatu
masalah, atau ide, (2) translasi suatu diagram atau model fisik ke dalam
simbol atau kata-kata (NCTM,1989). Misalnya, representasi dapat membantu
anak menjelaskan konsep atau ide, dan memudahkan anak mendapatkan
strategi pemecahan.

2.2.2 Mendengar (listening)


Mendengar merupakan aspek penting dalam suatu diskusi. Pirie
(dalam Ansari, 2009 : 14) menyebutkan komunikasi memerlukan pedengaran
dan pembicara. Baroody (dalam Ansari, 2009 : 14) mengatakan mendengar
secara hati-hati terhadap pertanyaan teman dalam suatu grup juga dapat
membaantu siswa mengkonstruksi lebih lengkappengetahuan matematika dan
mengatur strategi jawaban yang efektif.

2.2.3 Membaca (reading)


Membaca adalah aktivitas membaca teks secara aktif untuk mencari
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun. Membaca aktif juga
berarti membaca yang difokuskan pada paragraf-paragraf yang diperkirakan
mengandung jawaban relevan dengan pertanyaan yang telah disusun. Menurut

5
teori konstruktivisme, pengetahuan dibangun atau dikonstruksi secara aktif
oleh siswa sendiri.

2.2.4 Diskusi (discussing)


Diskusi merupakan sarana untuk mengungkapkan dam merefleksikan
pikiran siswa. Gokhale (dalam Ansari, 2009 : 15) mengatakan aktivitas siswa
dalam diskusi tidak hanya meningkatkan daya tarik antar partisipan tetapi juga
dapat meningkatkan cara berfikr kritis. Baroody (dalam Ansari, 2009 : 15)
mengemukakan mendiskusikan suatu ide adalah cara yang baik bagi siswa
untuk menjauhi gap, ketidakkonsistenan, atau suatu keberhasilan kemurnian
berfikir. Diskusi dapat menguntungkan pendengar yang baik, karena
memberikan wawasan baru baginya.

2.2.5 Menulis (writing)


Menulis adalah alat yang bermanfaat dari berfikir, siswa memperoleh
pengalaman matematika sebagai suatu aktivitas yang kreatif. Rose (dalam
Ansari, 2009 : 16) menyatakan bahwa menulis dipandang sebagai proses
berpikir keras yang dituangkan di atas kertas. Manzo (dalam Ansari, 2009 :
16) mengatakan meningkatkan taraf berfikir siswa ke arah yang lebih tinggi
(higher-order-thinking).

2.3 Kemampuan Komunikasi Matematika


Komunikasi dalam matematika berkaitan dengan kemampuan dan
ketrampilan siswa dalam berkomunikasi. Kemampuan komunikasi matematika
dapat terjadi ketika siswa belajar dalam kelompok, ketika siswa menjelaskan suatu
algoritma untuk memecahkan suatu persamaan, ketika menyajikan cara unik,
untuk memecahkan masalah, ketika siswa mengkonstruk dan menjelaskan suatu
representasi grafik terhadap fenomena dunia nyata, atau ketika siswa memberikan
suatu konjektur tentang gambar-gambar geometri (dalam Ansari, 2009 : 10).
Selanjutnya Greenes dan Schulman (dalam Ansari, 2009 : 10) menyatakan bahwa:

6
Kemampuan komunikasi matematika dapat terjadi ketika siswa (1)
menyatakan ide matematikamelalui ucapan, tulisan, demonstrasi dan
melukiskannya secara visual dalam tipe yang berbeda, (2) memahami,
menafsirkan, dan menilai ide yang disajikan dalam tulisan, lisan atau
dalam bentuk visual, (3) mengkonstruk, menafsirkan dan menghubungkan
bermacam-macam repsentasi ide dan hubungannya.

Komunikasi matematika bukan hanya sekedar menyatakan ide melalui


tulisan tetapi lebih luas lagi yaitu kemampuan siswa dalam hal bercakap,
menjelaskan, menggambarkan, mendengar, menanyakan, klarifikasi, bekerja
sama, menulis, dan akhirnya melaporkan ini dipertegas oleh pernyataan Sullivan
& Mousley (dalam Ansari, 2009 : 10).

Untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematika siswa, perlu


adanya indikator untuk mengukurnya. Indikator komunikasi matematika lisan
menurut Djumhur (dalam Junaidi:2010) adalah siswa dapat melakukan hal-hal
berikut :
 Menyajikan suatu penyelesaian dari suatu masalah
 Menggunakan tabel, gambar, model dan lain-lain untuk menyampaikan
jawaban dari suatu masalah.
 Memilih cara yang paling tepat untuk menyajikan jawaban dari suatu masalah.
 Mampu menginterprestasikan dan mengevaluasi ide-ide, simbol, istilah serta
informasi matematika.
Sedangkan indikator kemampuan siswa dalam komunikasi matematika
dalam bentuk tulisan adalah sebagai berikut :
 Menggambarkan situasi masalah dan menyatakan solusi masalah
menggunakan gambar, tabel gambar, secara aljabar.
 Menyatakan hasil dalam bentuk tertulis.
 Membuat situasi matematika dengan menyediakan ide dan keterangan dalam
bentuk tertulis.
 Menggunakan bahasa dan simbol matematika dengan tepat.

7
Sejalan dengan itu NCTM ( dalam Herdian: 2010) menyebutkan indikator
kemampuan siswa dalam komunikasi matematik pada pembelajaran matematika
dapat dilihat dalam tabel berikut :
Tabel 2.1 Indikator Komunikasi Matematika Siswa
No INDIKATOR KOMUNIKASI MATEMATIKA
1 Kemampuan mengekspresikan ide-ide matematika melalui lisan,
tertulis, dan mendemonstrasikannya serta menggambarkannya
secara visual
2 Kemampuan memahami, menginterpretasikan, dan mengevaluasi
ide-ide matematika baik secara lisan maupun dalam bentuk
visual lainnya
3 Kemampuan dalam menggunakan istilah-istilah, notasi-notasi
matematika dan struktur-strukturnya untuk menyajikan ide,
menggambarkan hubungan-hubungan dan model-model situasi.

Dengan mencermati indikator-indikator kemampuan komunikasi dapat


disimpulkan bahwa ciri-ciri dari instrumen penilaian yang utamanya melatih dan
mengukur kemampuan komunikasi adalah instrumen penilaian yang menuntut
siswa melakukan kegiatan menyelidiki/memeriksa kebenaran suatu pernyataan,
menemukan, membuktikan, menyimpulkan (berdasar pernyataan-pernyataan yang
diketahui), memanipulasi (fakta, konsep, prinsip, skill), menduga, memberi alasan
logis. Selanjutnya tuntutan itu dikomunikasikan dengan cara lisan atau tertulis
atau melalui tabel/diagram/grafik. Dalam hal ini yang penting adalah bagaimana
cara bertanya atau memberi perintah sehingga siswa melakukan hal-hal seperti
yang diuraikan pada indikator-indikator kemampuan komunikasi di atas.

Oleh karena itu, penekanan pengajaran matematika pada kemampuan


komunikasi menurut NCTM (dalam Ansari, 2009 : 11) bermanfaat dalam hal :
1. Guru dapat menginventarisasi dan konsolidasi pemikiran matematikasiswa
melalui komunikasi.
2. Siswa dapat mengkomunikasikan pemikiran matematikasecara terurut dan
jelas pada teman, guru, dan lainnya,
3. Guru dapat menganalisis dan menilai pemikiran matematikasiswa serta
strategi yang digunakan.

8
4. Siswa dapat menggunakan bahasa matematikauntuk mengungkapkan ide
matematikayang tepat.

2.4 Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Komunikasi Matematika


Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan kemampuan kemampuan
komunikasi matematika seperti yang dinyatakan Ansari (2009 : 22), antara lain:
2.4.1 Pengetahuan prasyarat
Pengetahuan prasyarat merupakan pengetahuan yang telah dimiliki
siswa sebagai akibar proses belajar sebelumnya. Hasil belajar siswa tentu saja
bervariasi sesuai kemampuan dari siswa itu sendiri. Ada siswa
berkemampuan diatas rata-rata ada juga dibawah rata-rata, oleh karena itu
kemampuan prasyarat ini sangat menentukan hasil pembelajaran siswa.
Namun dalam komunikasi matematikakemampuan awal siswa kadang-
kadang tidak dapat dijadikan standar untuk meramalkan kemampuan
kominikasi lisan maupun tulisan. Ada siswa yang mampu dalam komunikasi
tulisan, tetapi tidak mampu dalam komunikasi lisan, dan sebaliknya ada
siswa yang mampu berkomunikasi lisan dengan baik tapi tidak mampu
memberikan penjelasan dari tulisannya.

2.4.2 Kemampuan membaca, diskusi, dan menulis.


Membaca merupakan aspek penting dalam pencapaian kemampuan
komunikasi siswa. Membaca memiliki peran sentral dalam pembelajaran
matematikakarena kegiatan membaca mendorong siswa belajar bermakna
secara aktif. Apabila siswa diberi tugas membaca, mereka akan melakukan
elaborasi (pengembangan) apa yang telah dibaca. Ini berarti mereka
memikirkan gagasan, contoh-contoh, gambaran, dan konsep-konsep lain yang
berhubungan.
Diskusi berperan dalam melatih siswa untuk meningkatkan
keterampilan komunikasi lisan. Untuk meningkatkan kemampuan
komunikasi lisan, dapat dilakukan latihan teratur seperti presentasi di kelas

9
oleh siswa, berdiskusi dalam kelompok, dan menggunakan permainan
matematika.
Menulis adalah proses bermakna karena siswa secara aktif
membangun hubungan antara yang dipelajari dengan apa yang sudah
diketahui. Menulis membantu siswa menyampaikan ide-ide dalam pikirannya
ke dalam bentuk tulisan.
Diskusi dan menulis adalah dua aspek penting dari komunikasi untuk
semua level,hal ini disebabkan karena melalui diskusi seorang mampu
mendapatkan pengetahuan-pengetahuan yang baru dari teman-temannya.

2.4.3 Pemahaman Matematika (Mathematical Knowledge)


Pemahaman matematika adalah salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi kemampuan komunikasi matematika. Pemahaman matematika
dapat diartikan sebagai kemampuan dalam menguasai suatu konsep
matematika yang mana ditunjukan dengan adanya pengetahuan terhadap
konsep, penerapan dan hubungannya dengan konsep lain. Pemahaman
matematika setiap orang berbeda-beda, hal ini disebabkan karena beberapa
faktor, antara lain: kemampuan membaca, menulis sserta faktor lingkungan
tempat ia berada. Oleh karena itu, pemahaman matematika dapat di tingkatkan
melalui proses pembelajaran.

2.5 Tes Kemampuan Komunikasi

Menurut Anne Anastasi (dalam Sudijono. 2003 : 66) menyatakan


bahwa:”Tes adalah alat pengukur yang mempunyai standar yang objektif sehingga
dapat digunakan secara meluas, serta dapat betul-betul digunakan untur mengukur
dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah laku individu”. Tes yang
digunakan adalah tipe uraian, agar proses berfikir siswa dapat dievaluasi dan
untuk menghindari siswa menjawab secara menebak. Tes ini digunakan untuk
mengukur adanya peningkatan kemampuan komunikasi matematik siswa. Tes ini
terdiri dari tes awal dan tes kemampuan komunikasi siswa. Data yang didapat dari
pelaksanaan tes awal digunakan sebagai acuan dalam pengelompokkan siswa

10
dengan kriteria siswa kemampuan komunikasi tinggi, sedang dan rendah.
Pemilihan bentuk tes uraian bertujuan untuk mengungkapkan kemampuan
komunikasi matematik siswa secara menyeluruh terhadap materi ligkaran di SMP.

2.6 Asassement Kemampuan Komunikasi Matematika


Penilaian merupakan salah satu faktor yang penting dalam menentukan
keberhasilan proses dan hasil belajar, sehingga guru dapat meningkatkan mutu
pembelajaran siswa. Guru perlu menjadikan penilaian sebagai fase penting dalam
pembelajaran, sehingga melalui proses penilaian tidak hanya berguna untuk
menguji sejauh mana pemahaman siswa, tetapi juga melatih siswa untk
mengaplikasikan kemampuan yang dimilikinya atau yang baru saja dimilikinya
selama pembelajaran. Dengan demikian kemampuan yang dimiliki akan terasah,
dan guru juga akan dapat dengan jelas mengidentifikasi kemampuan siswa dan
tindakan apa yang harus diberikan kepada siswa.
Herman (Mulya: 2017) mengatakan beberapa teknik penilaian yang dapat
memudahkan guru untuk mengukur kemampuan komunikasi matematik siswa,
ada beberapa teknik penilaian pada assessment yang dapat digunakan guru yaitu
observasi, bertanya, wawancara, tugas, asesmen diri, sampel kerja siswa, jurnal,
tes, dan portfolio Sedangkan Ani (Mulya: 2017) menyebutkan beberapa teknik
assesmen yaitu obeservasi, penilaian diri, penilaian antar siswa, jurnal, tes
praktek, projek, portfolio, tes tulis, tes lisan, penugasan. Dari pendapat diatas
penulis memaparkan teknik-teknik yang digunakana pada assesment dapat
digunakan untuk mengukur indikator komunikasi matematik tertentu.
1. Observasi dilakukan secara berkesinambungan baik secara langsung maupun
tidak langsung mengenai perilaku siswa. Observasi adalah teknik penilaian
paling awal yang dilakukan. Guru-guru memonitor siswa-siswanya untuk
mengukur kemajuan yang diperoleh. Melalui observasi guru akan memperoleh
gambaran mengenai sikap siswa terhadap matematika. Catatan hasil
obeservasi akan sangat berguna bukan hanya sebagai anecdital record
keperluan asesmen dan perencanaan pembelajaran, namun juga diperlukan
dalam menentukan tindakan apa yang harus dilakukan segera ketika guru

11
mempresentasikan konsep baru. Melalui observasi guru dapat mengukur
kekuatan, kelemahan, interes, dan sikap siswa termasuk pada kemampuan
komunikasi matematiknya. Sehingga dapat memberikan feed back untuk
perbaikan baik pada proses pembelajaran dan berusaha meningkatkan
kemampuan siswa. Oleh karena itu penting bagi guru untuk menjadikan
observasi sebagai bagian sistematik penilaian, dan selalu menentukan fokus
tentang apa yang ingin diketahui dari siswa dan terakhir tidak lupa membuat
dokumen atau mencatat hasil obervasi dan memberikan feed back kepada
siswa yang membutuhkan.
2. Penilaian diri, yaitu meminta siswa mengemukakan kelebihan dan
kekurangan dirinya dalam pencapaian kompetensi. Penilaian diri sendiri (self
assessment) menghendaki siswa menilai partisipasi, proses dan produknya
sendiri. Secara tidak lansung penilaian diri akan mendorong siswa untuk
berusaha agar lebih baik pada kompetensi berikutnya. Dengan penilaian diri
siswa akan merasa bertanggung jawab atas kegiatan belajar yang
dilakukannya. Misalnya saat siswa mengecek pekerjaannya benar atau salah,
mengevaluasi atau menganalisis strategi yang digunakannya sudah tepat atau
belum dan membandingkan strategi yang digunakannya dengan yang
digunakan oleh temannya sehingga siswa dapat menimbang strategi mana
yang lebih tepat untuk menyelesaikan masalah yang diberikan.
3. Penilaian antar siswa yaitu siswa saling menilai terkait dengan pencapaian
kompetensi. Penilaian antar siswa secara tak sengaja sebenarnya sudah terjadi
di setiap kelas ketika siswa saling memperhatikan hasil karya teman-
temannya.Cara yang lain adalah penilaian keterampilan dalam kerja kelompok
dan sumbangan setiap siswa terhadap kelompoknya. Pada teknik penilaian ini
guru dapat dengan mudah untuk menilai indikator komunikasi matematik
yaitu kemampuan siswa untuk mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang
matematika juga kemampuan mengungkapkan kembali suatu uraian atau
paragraf matematika dalam bahasa sendiri.
4. Tes praktek, penilaian ini menuntut respons berupa perilaku yang sesuai
dengan tuntutan kompetensi. Pada teknik ini guru dapat mengukur

12
kemampuan komunikasi matematik siswa pada indikator melukiskan atau
merepresentasikan benda nyata, gambar, dan diagram dalam bentuk ide dan
atau simbol matematika, pada indikator menjelaskan ide, situasi dan relasi
matematik, secara lisan dan tulisan dengan menggunakan benda nyata, gabar,
grafik dan ekspresi aljabar, pada indikator menyatakan peristiwa sehari-hari
dalam bahasa atau simbol matematika atau menyusun model matematika suatu
peistiwa; juga pada indikator mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang
matematika;
5. Portofolio, berupa kumpulan seluruh karya siswa yang bersifat reflektif-
integratif Portofolio pada dasarnya kumpulan karya-karya terpilih individual
siswa yang menggambarkan keterampilan, ide-ide, minat, dan prestasinya
pada mata pelajaran tertentu dalam kurun waktu tertentu. Pada portofolio akan
tergambar kemajuan belajar siswa. Dengan adanya penilaian protofolio akan
memotifasi siswa untuk terus melakukan perbaikan pada tugas berikutnya.
Tugas portofolio yang biasanya diberikan dalam bentuk tertulis akan
meningkatkan kemampuan komunikasi tertulis siswa sehingga juga akan
berdampak ada kemampuan komunikasi matematiknya.
6. Tes tulis baik berupa pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah,
menjodohkan dan uraian. Pada teknik ini guru dapat mengukur kemampuan
komunikasi matematik siswa pada semua indikator.
7. Tes lisan dapat berupa wawancara, pertanyaan singkat atau meminta siswa
mempresentasikan hasil kerjanya di depa kelas. Teknik ini sangat membantu
guru untuk mengukur kemampuan komunikasi matematik siswa, guru dapat
mengukur indikator komunikasi matematik pada menjelaskan ide, situasi dan
relasi matematik, secara lisan dan tulisan dengan menggunakan benda nyata,
gabar, grafik dan ekspresi aljabar, juga indikator mengungkapkan kembali
suatu uraian atau paragraf matematika dalam bahasa sendiri. melalui tes lisan
akan memberi sumbangan pada kemampuan siswa untuk memahami
matematika dan saat siswa menggunakan argumen mereka sendiri justru akan
menguatkan pemahaman mereka.

13
8. Penugasan yaitu berupa pekerjaan rumah dan proyek yang dapat dikerjakan
individual maupun kelompok sesuai dengan karakteristik tugas. Dalam teknik
penugasan guru dapat menggunakan indikator serupa dengan tes tulis. Namun
bila penugasan berupa proyek maka indikator dapat serupa dengan indikator
pada tenik projek.

14
BAB III
KESIMPULAN

3.1.Kesimpulan
Komunikasi matematik merupakan kemampuan yang hasrus dimiliki
oleh seluruh siswa yaitu kemampuan yang dimiliki seseorang untuk
menginterpretasikan dan menjelsakan fenomena atau informasi yang
diketahuinya dalam bentuk grafik, simbol dan kata-kata serta dalam bentuk
matematika. Kemampuan komunikasi matematik merupakan kemampuan
matematik esensial yang tercantum dalam kurikulum matematika sekolah
menengah. Tak hanya proses pembelajaran, penilaian atau asesmen juga
memiliki peranan dalam menentukan tinggi rendahnya kualitas kemampuan
siswa. Mengembangkan proses penilaian yang tepat di kelas matematika akan
berdampak pada motivasi dan pemahaman matematis siswa. Artinya bila guru
dapat mengembangkan atau mengimplementasikan penilaian secara tepat
maka akan berpengaruh pada pemahaman matematis siswa termasuk pada
kemampuan komunikasi matematik. Jenis penilaian yang diharapkan
dilakukan oleh guru dalam menerapkan kurikulum 2013 adalah Authentic
assessment yaitu asesmen yang dilakukan menggunakan beragam sumber,
pada saat pembelajaran berlansung, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan
dari pembelajaran. Beberapa teknik authentic assesmen yaitu obeservasi,
penilaian diri, penilaian antar siswa, jurnal, tes praktek, projek, portfolio, tes
tulis, tes lisan, penugasan. Adanya pemetaan pada teknik authentic assesmen
terhadap indikator komunikasi matematik, diharapkan guru dapat
menggunakan teknik penilaian yang tepat untuk mengukur indikator
komunikasi matematik tertentu, agar hasil dari penilaian akan terarah sehingga
guru dapat melakukan perbaikan pada pembelajaran atau memberi penguatan
pada indikator kemampuan komunikasi matematik yang siswa mengalami
kesulitan. Dengan menilai kemampuan komunikasi matematik secara teliti,
guru dapat memilih penguatan apa atau pembelajaran yang bagaimana untuk
meningkatkan kemampuan komunikasi matematik siswa.

15
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, H.I, & Suratno J. 2015. Pengaruh Pendekatan Pembelajaran


Berbasis Masalah Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa.
Jurnal Pengajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPMIPA).
Vol.20.2.

Ansari, Bansu. (2009). Komunikasi Matematik : Konsep dan Aplikasi, Pena,


Banda Aceh

Herdian, (2010) http://herdy07.wordpress.com/2010/05/27/. Kemampuan-


komunikasi-matematika (diakses 16 February 2019).

Husna dkk.2013. Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Dan Komunikasi


Matematis Siswa Sekolah Menengah Pertama Melalui Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS). Jurnal Peluang.
vol.1 No.2. Banda Aceh: Unsyiah.

Mulya, Nana. 2017. Authentic Assessment untuk Menilai Kemampuan Komunikasi


Matematik. Seminar Matematika dan Pendidikan Matematika UNY.

Soekartawi. (1988). Prinsip Dasar Komunikasi Pertanian, Universitas


Indonesia (UI-Press), Jakarta.

Sudijono, Anas. (2003). Pengantar Evaluasi Pendidikan, PT Raja Grafindo


Persada, Jakarta.

16
LAMPIRAN

A. ASASMENT KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS ASPEK


TULISAN
1) Indikator Kemampuan Komunikasi Matematis
Indikator kemampuan komunikasi matematis peserta didik dalam
pembelajaran matematika adalah sebagai berikut:
NO INDIKATOR
1. Kemampuan menghubungkan benda nyata ke dalam ide-ide matematika.
Pada penelitian ini siswa dapat menuliskan informasi yang diketahui dan
ditanyakan atau tujuan dari permasalahan.
2. Kemampuan menyatakan peristiwa sehari-hari dengan simbol-simbol
matematika dalam menyajikan ide-ide matematik secara tertulis. Pada
penelitian ini siswa dapat menggunakan simbol-simbol metematika saat
menuliskan informasi yang diperoleh dari soal dan saat menyelesaikan
permasalahan.
3. Kemampuan menjelaskan ide, situasi sehari-hari dan relasi matematik,
secara tertulis dengan gambar. Pada penelitian ini siswa dapat
menggambarkan lingkaran.
4. Kemampuan memahami dan mengevaluasi ide-ide matematik dalam
menyelesaikan permasalahan sehari-hari secara tertulis. Pada penelitian
ini siswa dapat menuliskan konsep rumus yang digunakan dalam
menyelesaikan permasalahan, dapat menggunakan langkah-langkah
penyelesaian dengan baik serta dapat melakukan perhitungan dengan
benar.
5. Kemampuan mengkomunikasikan kesimpulan jawaban permasalah
sehari-hari sesuai hasil pertanyaan. Pada penelitian ini siswa dapat
menuliskan simpulan hasil penyelesaian yang sesuai dengan tujuan dari
permasalahan

17
2) Tes Kemampuan Komunikasi Matematis
Berikut ini soal tes kemampuan komunikasi matematis yang diberikan
kepada siswa:
1. Sebuah lingkaran diketahui panjang OP = 28 cm dan busur PQ = 17,6 cm.
Hitunglah luas juring POQ.
2. Sebuah lingkaran jika diketahui besar AOC = 108 dan panjang busur BC =
16 cm, maka berapakah panjang busur AC ?
3. Ban sebuah sepeda berjari-jari 14 cm. Ban tersebut menggelinding di lintasan
lurus sebanyak 100 putaran. Tentukan jarak yang ditempuh oleh sepeda
tersebut.
4. Sebuah lintasan berbentuk lingkaran memilki diameter 56 meter. Untuk
menempuk jarak 902 meter maka banyak putaran yang dilakukan pelari
tersebut?

3) Kisi-kisi Kemampuan Komunikasi Matematis


Adapun kisi-kisi tes kemampuan matematis siswa dari soal diatas
disajikan pada table berikut ini:
Bentuk
Materi Aspek yang diukur
Soal
1. Kemampuan menghubungkan benda nyata,
gambar, dan diagram ke dalam ide-ide matematik
2. Kemampuan menyatakan peristiwa sehari-hari
dengan simbol-simbol matematik dan istilah-istilah
matematik dalam menyajikan ide-ide matematik
secara tertulis.
3. Kemampuan menjelaskan ide, situasi sehari-hari
Lingkaran dan relasi matematik, secara tertulis dengan Uraian
gambar.
4. Kemampuan memahami dan mengevaluasi ide-ide
matematik dalam menyelesaikan permasalahan
sehari-hari secara tertulis.
5. Kemampuan mengkomunikasikan kesimpulan
jawaban permasalahan sehari-hari seseuai dengan
pertanyaan

18
4) Pedoman penskoran tes kemampuan komunikasi matematis
Aspek
Skor
No Penyelesaian yang
Maksimum
diukur
1. Peserta didik menjelaskan situasi secara tertulis 1,2 4
yaitu siswa menuliskan apa yang diketahui dan
ditanyakan dari permasalahan dengan
menggunakan simbol-simbol matematik, yaitu:
Diketahui:
Panjang OP (p) = 28 cm
Panjang Busur PQ = 17,6 cm
Ditanya : luas juring POQ ? (𝐿𝑗𝑢𝑟𝑖𝑛𝑔 )
Peserta didik dapat menggambarkan lingkaran 3 6
sesuai dengan soal

Peserta didik mengevaluasi konsep yang akan 2,4 10


digunakan dengan menuliskan langkah-langkah
penyelesaian dan konsep rumus yang akan
digunakan, yaitu:
1) Luas lingkaran

𝐿 = 𝑟 2
2) Keliling lingkaran

K = 2r
3) Mencari sudut POQ
∠𝑃𝑂𝑄 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑃𝑄
= 𝑘𝑒𝑙𝑖𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑙𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛
∠1 𝑙𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛
4) Luas Juring POQ
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑗𝑢𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑃𝑂𝑄 ∠𝑃𝑂𝑄
= ∠1 𝑙𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑙𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛
Langkah 1-4 merupakan proses evaluasi
konsep dan rumus yang digunakan.
5) Perhitungan
22
 L. lingkaran = 𝑟 2 = (28)2 =
7
22
(784) = 2624 cm
7

19
22
 K.lingkaran = 2r = 2 ( 7 ) 28 = 176 cm
 ∠𝑃𝑂𝑄
∠𝑃𝑂𝑄 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑃𝑄
= 𝑘𝑒𝑙𝑖𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑙𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛
∠1 𝑙𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛
∠𝑃𝑂𝑄 17,6 𝑐𝑚
=
3600 176 𝑐𝑚
17,6 𝑐𝑚
∠𝑃𝑂𝑄 = × 3600
176 𝑐𝑚
0
∠𝑃𝑂𝑄 = 36
 𝐿𝑗𝑢𝑟𝑖𝑛𝑔 POQ
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑗𝑢𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑃𝑂𝑄 ∠𝑃𝑂𝑄
= ∠1 𝑙𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑙𝑖𝑛𝑔𝑘𝑎𝑟𝑎𝑛
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑗𝑢𝑟𝑖𝑛𝑔 𝑃𝑂𝑄 360
= 3600
2624 𝑐𝑚
𝐿𝑗𝑢𝑟𝑖𝑛𝑔 POQ = 0,1 × 2624 cm
𝐿𝑗𝑢𝑟𝑖𝑛𝑔 POQ = 246,4 cm2
Jadi, 𝐿𝑗𝑢𝑟𝑖𝑛𝑔 POQ adalah 246,4 cm2 5 4
2. Peserta didik menjelaskan situasi secara tertulis 1,2 4
yaitu siswa menuliskan apa yang diketahui dan
ditanyakan dari permasalahan dengan
menggunakan simbol-simbol matematik, yaitu
Diketahui:
Besar sudut AOC (∠𝐴𝑂𝐶) = 108
Panjang busur BC (Pbusur) = 16 cm.
Ditanya: Berapakah panjang busur AC ? (Pbusur)
Peserta didik dapat menggambarkan lingkaran 3 6
sesuai dengan soal

Peserta didik mengevaluasi konsep yang akan 2,4 10


digunakan dengan menuliskan langkah-langkah
penyelesaian dan konsep rumus yang akan
digunakan, yaitu:
1) Sudut AOC dan sudut BOC merupakan
sudut berpelurus sehingga jumlah keduanya
adalah 180. Maka dengan demikian berlaku
hubungan:
AOC + BOC

20
2) Panjang busur lingkaran, untuk gambar di
atas berlaku hubungan perbandingan yaitu:
𝐴𝐶 ∠𝐴𝑂𝐶
= ∠𝐵𝑂𝐶
𝐵𝐶
3) ∠𝐴𝑂𝐶 + ∠𝐵𝑂𝐶 = 1800
1080 + ∠𝐵𝑂𝐶 = 1800
∠𝐵𝑂𝐶 = 1800 − 1080
∠𝐵𝑂𝐶 = 720
4) Panjang busur lingkaran (p)
𝐴𝐶 ∠𝐴𝑂𝐶
= ∠𝐵𝑂𝐶
𝐵𝐶
∠𝐴𝑂𝐶
𝐴𝐶 = ∠𝐵𝑂𝐶×𝐵𝐶
1080
𝐴𝐶 = 720 ×16
30
𝐴𝐶 = 2×16
𝐴𝐶 = 24 𝑐𝑚
Jadi, Panjang busur AC adalah 24 cm. 5 4
3. Peserta didik menjelaskan situasi secara tertulis 1,2 4
yaitu siswa menuliskan apa yang diketahui dan
ditanyakan dari permasalahan dengan
menggunakan simbol-simbol matematik, yaitu:
Diketahui:
Jari-jari (r) = 14 cm , banyaknya putaran 100
kali.
Ditanya: jarak yang ditempuh oleh sepeda= … ?
Peserta didik dapat menggambarkan lingkaran 3 6
dengan jari-jari 14 cm

Peserta didik mengevaluasi konsep yang akan 2,4 12


digunakan dengan menuliskan langkah-langkah
penyelesaian dan konsep rumus yang akan
digunakan, yaitu:
1) Untuk menentukan jarak yang ditempuh,
terlebih dahulu tentukan keliling ban.
K = 2 x x r
2) Jarak yang ditempuh oleh sepeda.
K x banyaknya putaran

21
Langkah 1-2 merupakan proses evaluasi konsep
dan rumus yang digunakan
3) Perhitungan
22
K = 2 x  x r = 2× × 14 = 88 cm
7
Jarak yang ditempuh = K x banyaknya putaran
= 88 x 100
= 8800 cm
= 88 m
Jadi, jarak yang ditempuh sepeda adalah 88 m 5 4
4. Peserta didik menjelaskan situasi secara tertulis 1,2 4
yaitu siswa menuliskan apa yang diketahui dan
ditanyakan dari permasalahan dengan
menggunakan simbol-simbol matematik, yaitu
Diketahui:
Diameter (d) = 56 m
Jarak = 902 m
Ditanya: banyak putaran ?
Peserta didik dapat menggambarkan lingkaran 3 6
dengan diameter 56 m

Peserta didik mengevaluasi konsep yang akan 2,4 12


digunakan dengan menuliskan langkah-langkah
penyelesaian dan konsep rumus yang akan
digunakan, yaitu:
1) Keliling (K)
K = d
2) Banyak putaran
Jarak yang ditempuh : keliling lingkaran
3) Perhitungan
22
K = d= x 56 = 176 cm
7
Banyak putaran
= Jarak yang ditempuh : keliling lingkaran
= 902 : 176
= 5,125

22
1
= 5 8 putaran

Jadi, banyak putaran yang dilakukan pelari 5 4


1
adalah 5 8 putaran.
Jumlah 100

𝐍𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐝𝐢𝐝𝐚𝐩𝐚𝐭


𝐍𝐢𝐥𝐚𝐢 = × 𝟏𝟎𝟎
𝐍𝐢𝐥𝐚𝐢 𝐌𝐚𝐤𝐬𝐢𝐦𝐚𝐥

5) Kisi-Kisi Pedoman Wawancara kemampuan Komunikasi Matematis

No. Indikator Kemampuan Komunikasi Matematis Butir


Kemampuan menuliskan apa yang diketahui dan
1 1, 2, 3
ditanyakan sesuai permasalahan
Kemampuan menuliskan jawaban sesuai dengan maksud
2 4
soal
Kemampuan menuliskan alasan-alasan dalam menjawab
3 5
soal.
4 Kemampuan membuat gambar yang relevan dengan soal 6, 7
Kemampuan menuliskan istilah-istilah dan simbol-simbol
5 8, 9
matematika
Kemampuan membuat kesimpulan secara tertulis
6 10, 11
menggunakan bahasa sendiri.

PEDOMAN WAWANCARA
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara tak terstrukutur
untuk mendalami kemampuan komunikasi matematis subjek
penelitian. Wawancara dilakukan setelah diketahui hasil tes komunikasi
matematis peserta didik.

23
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti
tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara
sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya (Sugiyono, 2013: 320).
Oleh sebab itu, pedoman yang digunakan dalam penelitian ini hanya berupa
garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.

Petunjuk Melakukan Wawancara:


1. Pertanyaan wawancara yang diajukan disesuaikan dengan
kemampuan komunikasi matematis subjek penelitian yang ditunjukkan
pada hasil tes komunikasi matematis.
2. Pertanyaan yang diberikan tidak harus sama, tetapi memuat pokok soal
yang sama.
3. Apabila subjek penelitianmengalami kesulitan dengan pertanyaan
tertentu, siswa akan diberikan pertanyaan yang lebih sederhana tanpa
menghilangkan inti persoalan.

PelaksanaanWawancara:
Subjek penelitianmendapatkan pengalaman belajar, dan di pertemuan
akhir subjek penelitiandiberi tesuntuk mengukur kemampuan komunikasi
matematis. Soal dikerjakan dalam waktu 40 menit. Setelah beberapa waktu,
subjek penelitiandiwawancara berkaitan pengerjaan soal tersebut dengan
pertanyaan sebagai berikut.
1. Apa saja informasi yang diketahui dari soal?
2. Apa saja yang ditanyakan?
3. Apakah kamu merasa kesulitan untuk menemukan dan menuliskan
informasi yang diketahui dan yang ditanyakan pada soal? Jelaskan.
4. Berdasarkan apa yang diketahui dan yang ditanyakan, bagaimana cara
kamu menjawab soal?
5. Ketikamengerjakan soal, apakah kamu selalu memberi alasan pada
setiap langkah yang kamu buat? Jelaskan.
6. Coba jelaskan gambar yang kamu buat!

24
7. Apakahkamu merasa kesulitan untuk membuat gambar yang relevan
dengan soal? Jika iya, mengapa? Jika tidak, bagaimana cara kamu
untuk membuat gambar yang relevan dengan soal?
8. Coba jelaskan makna istilah-istilah dan simbol-simbol yang kamu tulis
dalam lembar jawabmu!
9. Apakahkamu merasa kesulitan untuk menuliskan istilah-istilah dan
simbol-simbol matematikadalam mengerjakan soal?
10. Setelah mengerjakan soal, apa simpulanmu?
11. Apakah setelah mengerjakan soal, kamu selalu membuat simpulan
dengan bahasamu sendiri? Jika tidak, mengapa? Jika iya, bagaimana
cara kamu membuat simpulan dengan bahasamu sendiri?

6) Penilaian Aspek Representasi dalam Komunikasi Matematis


Untuk mengukur skor terhadap soal – soal komunikasi matematis yang
menggunakan representasi, Helmaheri (Dewi, 2006) mengemukakan alternatif
acuan pemberian skor menurut aturan Hollistic Scoring Rubrics seperti dalam
tabel berikut :
Skor Menulis Menggambar Membentuk model
(written text) (drawing) (math expressions)
0 Tidak ada jawaban, Tidak ada jawaban, Tidak ada jawaban,
kalaupun ada hanya kalaupun ada hanya kalaupun ada hanya
memperlihatkan tidak memperlihatkan tidak memperlihatkan tidak
memahami konsep memahami konsep memahami konsep
sehingga informasi sehingga informasi sehingga informasi
yang diberikan tidak yang diberikan tidak yang diberikan tidak
berarti apa - apa berarti apa - apa berarti apa – apa
1 Hanya sedikit dari Hanya sedikit dari Hanya sedikit dari
penjelasan yang gambar, diagram, model matematika
benar atau tabel yang benar yang benar
2 Penjelasan secara Melukiskan diagram, Membuat model
matematis masuk gambar, atau tabel matematika dengan
akal namun hanya namun kurang benar, kemudian
sebagian lengkap dan lengkap dan benar melakukan
benar perhitungan atau

25
mendapatkan solusi
namun kurang lengkap
dan benar.
3 Penjelasan secara Melukis diagram, Membuat model
matematis masuk gambar, atau tabel matematika dengan
akal dan benar secara lengkap dan benar, kemudian
meskipun tidak benar. melakukan
tersusun secara logis perhitungan atau
atau terdapat sedikit mendapatkan solusi
kesalahan bahasa. secara lengkap dan
benar

B. ASASMENT KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS ASPEK


LISAN

1) Penilaian Tes Lisan


Dari permasalahan yang telah didiskusikan dalam kelompok akan dinilai
berdasarkan aspek berikut:
Skor
No Aspek yang dinilai
Maksimal
Kemampuan menjelaskan apa yang diketahui dan
1 5
ditanyakan sesuai permasalahan.
Kemampuan menjelaskan jawaban sesuai dengan
2 5
maksud soal.
Kemampuan membuat gambar yang relevan dengan
3 5
soal
Kemampuan menjelaskan istilah-istilah dan simbol-
4 5
simbol matematika
5 Kemampuan membuat kesimpulan dengan tepat 5
TOTAL 25

Nilai Akhir = Jumlah Skor Perolehan Peserta Didik x 100


Jumlah Skor Maksimum

26