Anda di halaman 1dari 17

HALAMAN JUDUL

MAKALAH

KEKERINGAN

“Disusun Untuk Memenuhi Tugas Manajemen Bencana ”

Oleh :

SILVI TRISTYA PRATIWI

J1A1 17 131

KELAS K3

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS HALU OLEO

KENDARI

2019

i
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT, berkat
rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih


kepada pihak yang telah membimbing dan memberikan bantuan sehingga
makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.

Penulis meminta maaf apabila terdapat banyak kesalahan dan kekurangan


pada pembuatan makalah ini. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan
penyusunan selanjutnya.

Kendari, Maret 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i


KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ........................................................................................................ iii
BAB I ...................................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................... 2
C. Tujuan ....................................................................................................... 2
BAB II .................................................................................................................... 3
A. Penyeba Kekeringan ................................................................................. 3
B. Dampak Kekeringan ................................................................................. 5
C. Pengelolaan Bencana ................................................................................ 7
BAB III ................................................................................................................. 12
A. Kesimpulan ............................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 13

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam
dan/ atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan
dampak psikologis. (Definisi bencana menurut UU No. 24 tahun 2007). Bencana
merupakan pertemuan dari tiga unsur, yaitu ancaman bencana, kerentanan, dan
kemampuan yang di picu oleh suatu kejadian.

Letak geografis diantara dua benua, dan dua samudra serta terletak di sekitar
garis khatulistiwa merupakan faktor klimatologis penyebab banjir dan kekeringan
di Indonesia. Posisi geografis ini menyebabkan Indonesia berada pada belahan
bumi dengan iklim monsoon tropis yang sangat sensitif terhadap anomali iklim
El-NinoSouthern Oscillation (ENSO). ENSO menyebabkan terjadinya kekeringan
apabila kondisi suhu permukaan laut di Pasifik Equator bagian tengah hingga
timur menghangat (El Nino). Berdasarkan analisis iklim 30 tahun terakhir
menunjukkan bahwa, ada kecenderungan terbentuknya pola iklim baru yang
menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Dampak terjadinya perubahan iklim
terhadap sektor pertanian adalah bergesernya awal musim kemarau yang
menyebabkan berubahnya pola tanam karena adanya kekeringan.

Kekeringan adalah keadaan kekurangan pasokan air pada suatu daerah


dalam masa yang berkepanjangan (beberapa bulan hingga bertahun-tahun).
Biasanya kejadian ini muncul bila suatu wilayah secara terus-menerus mengalami
curah hujan di bawah rata-rata. Musim kemarau yang panjang akan menyebabkan
kekeringan karena cadangan air tanah akan habis akibat penguapan (evaporasi),
transpirasi, ataupun penggunaan lain oleh manusia.

Kekeringan dapat menjadi bencana alam apabila mulai menyebabkan suatu


wilayah kehilangan sumber pendapatan akibat gangguan pada pertanian dan

1
ekosistem yang ditimbulkannya. Dampak ekonomi dan ekologi kekeringan
merupakan suatu proses sehingga batasan kekeringan dalam setiap bidang dapat
berbeda-beda. Namun demikian, suatu kekeringan yang singkat tetapi intensif
dapat pula menyebabkan kerusakan yang signifikan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa penyebab dari kekeringan?
2. Apa dampak dari kekeringan?
3. Bagaimana cara pengelolaan dari kekeringan?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui penyebab dari kekeringan.
2. Untuk mengetahui dampak dari kekeringan.
3. Untuk mengetahui cara pengelolaan dari kekeringan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Penyeba Kekeringan
Kekeringan merupakan salah satu jenis bencana alam yang terjadi secara
perlahan (slow onset disaster), berlangsung lama sampai musim hujan tiba,
berdampak sangat luas, dan bersifat lintas sektor (ekonomi, sosial, kesehatan,
pendidikan, dan lain-lain). Kekeringan merupakan fenomena alam yang tidak
dapat dielakkan dan merupakan variasi normal dari cuaca yang perlu dipahami.
Variasi alam dapat terjadi dalam hitungan hari, minggu, bulan, tahun, bahkan
abad. Dengan melakukan penelusuran data cuaca dalam waktu yang panjang, akan
dapat dijumpai variasi cuaca yang beragam, misalnya: bulan basah-bulan kering,
tahun basah tahun kering, dan dekade basah-dekade kering. Faktor penyebab
kekeringan adalah :

1. Adanya penyimpangan iklim

Penyimpangan iklim, menyebabkan produksi uap air dan awan di sebagian


Indonesia bervariasi dari kondisi sangat tinggi ke rendah atau sebaliknya. Ini
semua menyebabkan penyimpangan iklim terhadap kondisi normalnya. Jumlah
uap air dan awan yang rendah akan berpengaruh terhadap curah hujan, apabila
curah hujan dan intensitas hujan rendah akan menyebabkan kekeringan.

2. Adanya gangguan keseimbangan hidrologis

Gangguan keseimbangan hidrologis, kekeringan juga dipengaruhi oleh


adanya gangguan hidrologis seperti: 1) terjadinya degradasi Daerah Aliran Sungai
(DAS) terutama bagian hulu mengalami alih fungsi lahan dari bervegetasi menjadi
non vegetasi yang menyebabkan terganggunya sistem peresapan air tanah; 2)
kerusakan hidrologis daerah tangkapan air bagian hulu menyebabkan waduk dan
saluran irigasi terisi sedimen, sehingga kapasitas tampung air menurun tajam;3)
rendahnya cadangan air waduk yang disimpan pada musim penghujan akibat

3
pendangkalan menyebabkan cadangan air musimkemarau sangat rendah sehingga
memicu terjadinya kekeringan

3. Kekeringan agronomis

Kekeringan agronomis, terjadi sebagai akibat kebiasaan petanimemaksakan


menanam padi pada musim kemarau denganketersediaan air yang tidak
mencukupi.

Kekeringan diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya, baik akibat alamiah


dan akibat ulah manusia.

1. Akibat Alamiah
a. Kekeringan Meteorologis

Berkaitan dengan tingkat curah hujan dibawah normal dalam satu musim.
Pengukuran kekeringan meteorologis merupakan indikasi pertama adanya
kekeringan.

b. Kekeringan Hidrologis

Berkaitan dengan kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah.


Kekeringan ini diukur berdasarkan elevasi muka air sungai, waduk, danau, dan
elevasi muka air tanah. Terdapat tenggang waktu mulai berkurangnya hujan
sampai menurunnya elevasi muka air sungai, waduk, danau, dan elevasi muka air
tanah.Kekeringan hidrologis bukan merupakan indikasi awal adanya kekeringan.

c. Kekeringan Pertanian

Berhubungan dengan kekurangan lengas tanah (kandungan air dalam tanah),


sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu pada periode waktu
tertentu pada wilayah yang luas. Kekeringan pertanian ini terjadi setelah gejala
kekeringan meteorologi.

4
d. Kekeringan Sosial Ekonomi

Berkaitan dengan kekeringan yang memberi dampak terhadap kehidupan


sosial ekonomi, seperti rusaknya tanaman, peternakan, perikanan, berkurangnya
tenaga listrik dari tenaga air, terganggunya kelancaran transportasi air, dan
menurunnya pasokan air baku untuk industri domestik dan perkotaan.

e. Kekeringan Hidrotopografi

Berkaitan dengan perubahan tinggimuka air sungai antara musim hujan dan
musim kering dan topografilahan.

2. Akibat Ulah Manusia

Kekeringan akibat manusia terjadi karena:

a. kebutuhan air lebih besar daripada pasokan yang direncanakan akibat


ketidak taatan penguna terhadap pola tanam atau pola penggunaan air.
b. Kerusakan kawasan tangkapan air dan sumber-sumber air akibat
perbuatan manusia

B. Dampak Kekeringan
1. Fisik
a. Kerusakan terhadap habitat spesies ikan dan binatang.
b. Erosi-erosi angin dan air terhadap tanah.
c. Kerusakan spesies tanaman.
d. Pengaruh-pengaruh terhadap kualitas air (salinisasi).
e. Pengaruh-pengaruh terhadap kualitas udara (debu, polutan,
berkurangnya daya pandang).
f. Kekeringan juga menjadikan tanah menjadi mengeras dan retak-retak,
sehingga sulit untuk dijadikan lahan pertanian.
g. Keadaan suhu siang hari pada saat kekeringan akibat musim kemarau
menjadikan suhu udara sangat tinggi dan sebaliknya pada malam hari
suhu udara sangat dingin. Perbedaan suhu udara yang berganti secara

5
cepat antara siang dan malam menyebabkan terjadinya pelapukan batuan
lebih cepat.
2. Non fisik
a. Ekonomi
1) Kerugian-kerugian produksi tanaman pangan, susu, ternak, kayu, dan
perikanan.
2) Kerugian pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
3) Kerugian pendapatan petani dan lain-lain yang terkena secara
langsung.
4) Kerugian-kerugian dari bisnis turisme dan rekreasi.
5) Kerugian pembangkit listrik tenaga air dan meningkatkan biaya-biaya
energi.
6) Kerugian-kerugian yang terkait dengan produksi pertanian.
7) Menurunya produksi pangan dan meningkatnya harga-harga pangan.
8) Pengangguran sebagai akibat menurunnya produksi yang terkait
dengan kekeringan.
9) Kerugian-kerugian pendapatan pemerintah dan meningkatnya
kejenuhan pada lembaga-lembaga keuangan.
b. Sosial Budaya
1) Saat terjadi kekeringan, tanah menjadi kering dan pasir lembut atau
debu mudah terbawa angin. Hal ini menyebabkan debu ada dimana,
sehingga menimbulkan banyak gejala penyakit yang berhubungan
dengan pernafasan. Banyak orang yang akan sakit flu dan batuk.
2) Pengaruh-pengaruh kekurangan pangan ( kekurangan gizi, kelaparan).
3) Hilangnya nyawa manusia karena kekurangan pangan atau kondisi-
kondisi yang terkait dengan kekeringan.
4) Konflik di antara penggunan air.
5) Masalah kesehatan karena menurunnya pasokan air.
6) Ketidakadilan dalam distribusi akibat dampak-dampak kekeringan dan
bantuan pemulihan.
7) Menurunnya kondisi-kondisi kehidupan di daerah pedesaan.

6
8) Meningkatnya kemiskinan, berkurangnya kualitas hidup.
9) Kekacauan social, perselisihan sipil.
10) Pengangguran meningkat, karena yang tadinya bertani kehilangan
mata pencaharian.
11) Migrasi penduduk untuk mendapatkan pekerjaan atau bantuan
pemulihan,banyaknya TKI (tenaga kerja indonesia) yang memilih
keluar negeri.
c. Politik
Pemerintah harus bekerja keras untuk membuat kebijakan penanggulangan
bencana kekeringan. Badan khusus penanggulangan bencana juga harus dibentuk,
seperti yang sudah dibentuk di Indonesia yaitu BNPB (Badan Nasional
Penanggulangan Bencana).

C. Pengelolaan Bencana
Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana
1. Penyusunan peraturan pemerintah tentang pengaturan sistem pengiriman
data iklim dari daerah ke pusat pengolahan data.
2. Penyusunan PERDA untuk menetapkan skala prioritas penggunaan air
dengan memperhatikan historical right dan azas keadilan.
3. Pembentukan pokja dan posko kekeringan pada tingkat pusat dan daerah.
4. Penyediaan anggaran khusus untuk pengembangan/perbaikan jaringan
pengamatan iklim pada daerah-daerah rawan kekeringan.
5. Pengembangan/perbaikan jaringan pengamatan iklim pada daerah-daerah
rawan kekeringan.
Jika lebih dirincikan, tahap mitigasi bencana kekeringan adalah sebagai
berikut:
1. Pra bencana
a. Memanfaatkan sumber air yang ada secara lebih efisien dan efektif.
b. Memprioritaskan pemanfaatan sumber air yang masih tersedia sebagai
air baku untuk air bersih.
c. Menanam pohon dan perdu sebanyak-banyaknya pada setiap jengkal
lahan yang ada di lingkungan tinggal kita.
d. Membuat waduk (embung) disesuaikan dengan keadaan lingkungan
e. Memperbanyak resapan air dengan tidak menutup semua permukaan
dengan plester semen atau ubin keramik.

7
f. Kampanye hemat air, gerakan hemat air, perlindungan sumber air.
g. Perlindungan sumber-sumber air pengembangannya.
h. Panen dan konservasi air
Panen air merupakan cara pengumpulan atau penampungan air hujan atau
air aliran permukaan pada saat curah hujan tinggi untuk digunakan pada waktu
curah hujan rendah. Panen air harus diikuti dengan konservasi air, yakni
menggunakan air yang sudah dipanen secara hemat sesuai kebutuhan. Pembuatan
rorak merupakan contoh tindakan panen air aliran permukaan dan sekaligus juga
tindakan konservasi air.
Daerah yang memerlukan panen air adalah daerah yang mempunyai bulan
kering (dengan curah hujan < 100 mm per bulan) lebih dari empat bulan berturut-
turut dan pada musim hujan curah hujannya sangat tinggi (> 200 mm per bulan).
Air yang berlebihan pada musim hujan ditampung (dipanen) untuk digunakan
pada musim kemarau. Penampungan atau 'panen air' bermanfaat untuk memenuhi
kebutuhan air tanaman, sehingga sebagian lahan masih dapat berproduksi pada
musim kemarau serta mengurangi risiko erosi pada musim hujan.
1. Rorak
Rorak adalah lubang kecil berukuran panjang/lebar 30-50 cm dengan
kedalaman 30-80 cm, yang digunakan untuk menampung sebagian air aliran
permukaan. Air yang masuk ke dalam rorak akan tergenang untuk sementara dan
secara perlahan akan meresap ke dalam tanah, sehingga pengisian pori tanah oleh
air akan lebih tinggi dan aliran permukaan dapat dikurangi.
Rorak cocok untuk daerah dengan tanah berkadar liat tinggi-di mana daya
serap atau infiltrasinya rendah—dan curah hujan tinggi pada waktu yang pendek.
2. Saluran buntu
Saluran buntu adalah bentuk lain dari rorak dengan panjang beberapa meter
(sehingga disebut sebagai saluran buntu). Perlu diingat bahwa dalam pembuatan
rorak atau saluran buntu, air tidak boleh tergenang terlalu lama (berhari-hari)
karena dapat menyebabkan terganggunya pernapasan akar tanaman dan
berkembangnya berbagai penyakit pada akar.
3. Lubang penampungan air (catch pit)
Bibit yang baru dipindahkan dari polybag ke kebun, seharusnya dihindarkan
dari kekurangan air. Sistem 'catch pit' merupakan lubang kecil untuk menampung
air, sehingga kelembaban tanah di dalam lubang dan di sekitar akar tanaman tetap
tinggi. Lubang harus dijaga agar tidak tergenang air selama berhari-hari karena
akan menyebabkan kematian tanaman.

8
4. Embung
Embung adalah kolam buatan sebagai penampung air hujan dan aliran
permukaan. Embung sebaiknya dibuat pada suatu cekungan di dalam daerah
aliran sungai (DAS) mikro. Selama musim hujan, embung akan terisi oleh air
aliran permukaan dan rembesan air di dalam lapisan tanah yang berasal dari
tampungan mikro di bagian atas/hulunya. Air yang tertampung dapat digunakan
untuk menyiram tanaman, keperluan rumah tangga, dan minuman ternak selama
musim kemarau.
Embung cocok dibuat pada tanah yang cukup tinggi kadar liatnya supaya
peresapan air tidak terlalu besar. Pada tanah yang peresapan airnya tinggi, seperti
tanah berpasir, air akan banyak hilang kecuali bila dinding dan dasar embung
dilapisi plastik atau aspal. Cara ini akan memerlukan biaya tinggi.
5. Bendungan Kecil (cek dam)
Cek dam adalah bendungan pada sungai kecil yang hanya dialiri air selama
musim hujan, sedangkan pada musim kemarau mengalami kekeringan. Aliran air
dan sedimen dari sungai kecil tersebut terkumpul di dalam cekdam, sehingga pada
musim hujan permukaan air menjadi lebih tinggi dan memudahkan pengalirannya
ke lahan pertanian di sekitarnya. Pada musim kemarau diharapkan masih ada
genangan air untuk tanaman, air minum ternak, dan berbagai keperluan lainnya.
6. Panen air hujan dari atap rumah
Air hujan dari atap rumah dapat ditampung di dalam bak atau tangki untuk
dimanfaatkan selama musim kemarau untuk mencuci, mandi, dan menyiram
tanaman. Untuk minum sebaiknya digunakan air dari mata air karena pada awal
musim hujan, air hujan mengandung debu yang cukup tinggi.
Antisipasi penanggulangan kekeringan dapat dilakukan melalui dua tahapan
strategi yaitu perencanaan jangka pendek dan perencanaan jangka panjang.
1. Perencanaan jangka pendek (satu tahun musim kering):
a. Penetapan prioritas pemanfaatan air sesuai dengan prakiraan
kekeringan.
b. Penyesuaian rencana tata tanam sesuai dengan prakiraan kekeringan.
c. Pengaturan operasi dan pemanfaatan air waduk untuk wilayah sungai
yang mempunyai waduk.
d. Perbaikan sarana dan prasarana pengairan.
e. Penyuluhan/sosialisasi kemungkinan terjadinya kekeringan dan
dampaknya.
f. Penyiapan cadangan pangan.
g. Penyiapan lapangan kerja sementara (padat karya) untuk meringankan
dampak.

9
h. Persiapan tindak darurat.
i. Pembuatan sumur pantek atau sumur bor untuk memperoleh air.
j. Penyediaan air minum dengan mobil tangki.
k. Penyemaian hujan buatan di daerah tangkapan hujan.
l. Penyediaan pompa air.
2. Sedangkan perencanaan jangka panjang meliputi antara lain:
a. Pelaksanaan reboisasi atau konservasi untuk meningkatkan retensi dan
tangkapan di hulu.
b. Pembangunan prasarana pengairan (waduk, situ, embung).
c. Pengelolaan retensi alamiah (tempat penampungan air sementara) di
wilayah sungai.
d. Penggunaan air secara hemat
e. Penciptaan alat sanitasi hemat air.
f. Pembangunan prasarana daur ulang air.
g. Penertiban pengguna air tanpa ijin dan yang tidak taat aturan.
3. Saat terjadi Bencana
Sasaran penanggulangan kekeringan ditujukan kepada ketersediaan air dan
dampak yang ditimbulkan akibat kekeringan. Untuk penanggulangan kekurangan
air dapat dilakukan melalui:
a. Pembuatan sumur pantek atau sumur bor untuk memperoleh air.
b. Penyediaan air minum dengan mobil tangki.
c. Penyemaian hujan buatan di daerah tangkapan hujan.
d. Penyediaan pompa air.
e. Pengaturan pemberian air bagi pertanian secara darurat (seperti gilir
giring).
Untuk penanganan dampak, perlu dilakukan secara terpadu oleh sektor terkait
antara lain dengan upaya:
a. Dampak Sosial
1) Penyelesaian konflik antar pengguna air.
2) Pengalokasian program padat karya di daerah-daerah yang
mengalami kekeringan.
b. Dampak Ekonomi:
1) Peningkatan cadangan air melalui pembangunan waduk-waduk
baru, optimalisasi fungsi embung, situ, penghijauan daerah
tangkapan air, penghentian perusakan hutan, dll.
2) Peningkatan efisiensi penggunaan air melalui gerakan hemat air,
daur ulang pemakaian air.

10
3) Mempertahankan produksi pertanian, peternakan, perikanan, dan
kayu/ hutan melalui diversifikasi usaha.
4) Meningkatkan pendapatan petani, dan perdagangan hasil pertanian
melalui perbaikan sistem pemasaran.
c. Dampak Keamanan:
1) Mengurangi kriminalitas melalui penciptaan lapangan pekerjaan.
2) Mencegah kebakaran dengan meningkatkan kehati-hatian dalam
penggunaan api.
d. Dampak Lingkungan:
1) Mengurangi erosi tanah melalui penutupan tanah (land covering).
2) Mengurangi beban limbah sebelum dibuang kesumber air.
3) Membangun waduk-waduk baru untuk menambah cadangan air
pada musim kemarau.
4) Mempertahankan kualitas udara (debu, asap, dll) melalui
pencegahan pencemaran udara dengan tidak melakukan kegiatan
yang berpotensi menimbulkan kebakaran yang menimbulkan
terjadinya pencemaran udara.
5) Mencegah atau mengurangi kebakaran hutan dengan pengolahan
lahan dengan cara tanpa pembakaran.
4. Pasca Bencana
Kegiatan pemulihan mencakup kegiatan jangka pendek maupun jangka
panjang akibat bencana kekeringan antara lain:
a. Bantuan sarana produksi pertanian.
b. Bantuan modal kerja.
c. Bantuan pangan dan pelayanan medis.
d. Pembangunan prasarana pengairan, seperti waduk, bendung karet,
saluran pembawa, dll.
e. Penggunaan air secara hemat dan berefisiensi tinggi.
f. Penciptaan alat-alat sanitasi yang hemat air.
Kejadian kekeringan mempengaruhi sistem sosial, disamping sistem fisik
dan sistem lingkungan, sehingga manajemen kekeringan merupakan suatu
tanggung jawab sosial, yang pada dasarnya terarah pada upaya pasokan air dan
mengurangi/meminimalkan dampak (Yevjevich-1978).

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Kekeringan disebabkan karena adanya penyimpangan iklim, gangguan
keseimbangan hidrologis, dan kekeringan agronomis. Diklasifikasikan
berdasarkan penyebabnya, yaitu akibat alam dan akibat ulah manusia.
2. Dampak kekeringan dapat di kelompokkan berdasarkan fisik, dan non
fisik.
3. Pengelolaan kekeringan dapt dilakukan pada saat pra bencana, saat terjadi
bencana, dan pasca bencana.

12
DAFTAR PUSTAKA
Admin. Dampak kekeringan dan upaya penganggulangannya untuk pertanian.
https://www.academia.edu/14943078/Dampak_kekeringan_dan_upaya_pen
ganggulangannya_untuk_pertanian. [7 Maret 2019]

Evy, Sulfiani. 2016. Contoh makalah kekeringan.


http://sulfiani87.blogspot.com/2016/04/contoh-makalah-kekeringan.html.
[7 Maret 2019]

13
14