Anda di halaman 1dari 39

I.

Nama dan Kekuatan Sediaan


Nama Sediaan : PCT
Kekuatan sedian : Mengandung parasetamol 250 mg/tablet

II. Prisip Percobaan


Metode granulasi basah digunakan pada zat aktif yang memiliki sifat alir dan
kompresibilitas yang buruk, zat aktif yang stabil terhadap panas dan lembab.
Granulasi basah merupakan proses peningkatan ukuran partikel-partikel kecil menjadi
ukuran yang lebih besar dengan penambahan cairan kedalam massa serbuk dan
diaduk untuk menghasilkan granul. Ikatan antar partikel terjadi karena adanya
jembatan kristalin.

III. Tujuan
1. Dapat memahami perbedaan prinsip granulasi basah dengan granulasi kering
2. Dapat membuat granul parasetamol menggunakan granulasi basah dalam skala
laboratorium
3. Dapat memahami pengaruh konsentrasi zat pengikat (PVP) dan pelarut terhadap
kualitas granul parasetamol
4. Dapat memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil evaluasi granul
5. Dapat memperbaiki sifat alir dari parasetamol

IV. Preformulasi Zat Aktif


1. Parasetamol (Dirjen POM, 2014 hal 999 ; IAI, 2016 ; Syarif et al, 2016 hal
242).
Rumus molekul = C8H9NO2
Titik leleh = 168 – 172oC
Pemerian = Serbuk putih kristalin, tidak berwarna, rasa agak pahit
pH larutan = 5,3 – 6,5
Kelarutan = Larut dalam air mendidih dan dalam NaOH 1 N, mudah
larut dalam etanol
Stabilitas = Dapat terhidrolisis pada katalis asam dan katalis basa.
Harus terlindung dari cahaya, stabil pada suhu <45oC. Relatif stabil untuk teroksidasi,
bersifat sedikit hidroskopis pada suhu 25oC dengan kelembapan hingga 90%
Interaksi Obat = Etanol, INH, Fenobarbiturat yang diberikan terus
menerus menyebabkan peningkatan metabolisme parasetamol sehingga resiko
hepatotoksik meningkat
Indikasi = Analgetik, antipiretik
Dosis = Dewasa 1 kali 100 mg -1 g, 1 hari max 4 g
Anak 6-12 tahun 1 kali 150-300 mg, 1 hari max 1,2 g
Bayi <1 tahun 1 kali 60 mg
Mekanisme Farmakologis = Parasetamol bekerja dengan menghambat pembentukan
cox 1 dan cox 2 fungsi peroksidase dari isoenzim tersebut ini terjadi akibat
pembentukan radikal fenoksil residu tirosin yang esensial untuk aktivitas enzim
tersebut
Aturan pakai = Untuk deawasa dapat diberikan 4 – 6 kali dengan jangka
waktu untuk 4 kali diberikan tiap 6 jam sekali sedangkan untuk 6 kali pemberian,
diberikan tiap 4 jam sekali. Penggunaan maks tiap hari 4 g
Kontra indikasi = Pada orang yang hipersensitif terhadap parasetamol,
penderita hepatitis, gangguan hati, fungsi ginjal, dan alkoholisme
Efek Samping = Reaksi alergi berupa eriteria atau untikeria, demam dan
lasi pada mukosa, anterika hemditik
Penyimpanan = Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya,
simpan dalam suhu ruang, jauhkan dari kelembapan
Inkompatibilitas = Membentuk ikatan hidrogen dengan nilon dan rayon
Kategori = Obat bebas

V. Preformulasi Zat Tambahan


1. PVP (Rowe, 2009: 581-583)
Pemerian : Serbuk hablur berwarna putih, tidak berbau, higroskopis.
Kelarutan : Mudah larut dalam asam, kloroform, etanol 95%, keton,
metanol dalam air, praktis tidak larut dalam eter, hidrokation dan mineral air.
Stabilitas : Stabil pada pemanasan 110-130oC dan akan berubah warna
menjadi gelap pada suhu 150oC dengan pengurangan kelarutan dalam air.
BJ : 1,180 g/mol
Titik leleh : 150oC
Inkompatibilitas : Dapat bercampur dalam berbagai larutan dengan berbagai
garam organik, resin alami, sintesis dan bahan kimia lainnya.
Kegunaan : Pengikat (0,25-5%)
2. Magnesium Stearat (Rowe, 2009: 404-406)
Pemerian : Serbuk, mudah mengendap, putih, berbau lemah
Kelarutan : Tidak dapat larut dalam etanol, etano (95%)p, eter dalam air,
mudah larut dalam benzen panas.
Stabilitas : Sangat stabil diudara
Berat jenis : 1,092 gr/cm2
Inkompatibilitas : Dengan asam kuat alkali dan besi
Kegunaan : Sebagai pelicin
3. Amprotab (Rowe, 2009: 685-690)
Pemerian : Granul atau serbuk, putih, tidak berasa, tidak berbau
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam etanol dingin (90%) dan air dingin
Stabilitas : Dalam keadaan kering stabil terhadap bahan kimia lain
BJ : 1,478 gr/cm3
pH : 4,0-7,0
Inkompatabilitas : Dengan pengoksida kuat
Kegunaan : Penghancur
4. Talkum (Rowe, 2009: 641)
Pemerian : Serbuk, putih, tidak berasa, tidak berbau
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam larutan asam/basa, organik dan air.
Stabilitas : Stabil dan dapat disterilkan pada suhu 160°C
Inkompatabilitas : Ammonium kwartener
Kegunaan : Pelincir
5. Laktosa Monohidrat (Rowe, 2009)
Pemerian : Serbuk atau kristal putih hingga putih gelap. Tidak berbau
dan memiliki rasa agak manis
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam etanol, kloroform, eter, larut dalam
5,24 bagian air 20oC
Stabilitas : Menghasilkan warna coklat selama penyimpanan yang terjadi
karena reaksi dari panas dan gas warna stabilitas dari laktosa berbeda-beda
BJ : 1,589 g/mol
Titik Leleh : 201-202oC
Inkompatabilitas : Reaksi kondensasi mailard dengan amina primer
menyebabkan warna coklat atau kuning kecoklatan, dapat juga terjadi dengan amina
sekunder rangkaian reaksi ini akan terhenti dengan terbentuknya imine. Inkompatibel
pula dengan asam amino, ariteramin, dan liginopril
Kegunaan : Pengisi
6. Etanol 95 % (Dirjen POM, 1995 hal 63)
Pemerian : Cairan mudah menguap, jernih, tidak berwarna, bau khas dan
menyebabkan rasa terbakar pada lidah, mudah menguap walaupun pada suhu rendah,
mendidih pada suhu 78oC, mudah terbakar
Kelarutan : Bercampur dengan air dan praktis tercampur dengan pelarut
organik lainnya
BJ : 0,8119 – 0,8139 g/mol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, ditempat
sejuk, jauh dari nyala api
Kegunaan : Pelarut PVP (PVP mudah larut dalam etanol 95%)

VI. Preformulasi Wadah Kemasan


6.1. Kemasan Primer
Ditinjau dari stabilitas parasetamol yang harus disimpan dalam wadah tertutup
rapat dan terlindung dari cahaya (Dirjen POM, 1995:649), sehingga wadah primer
yang dapat digunakan adalah botol plastik berwarna putih dengan jenis polimer no 1
yaitu polyethylene terphase dalam bentuk mycro crystalized PET. Dengan adanya
mycro crystalized yang terkandung dalam botol tersebut dapat melindungi botol dari
gas/udara (Syarief, 1997). Kedalam botol tersebut dimasukan silica gel sebagai
adsorben yang dapat mencegah terjadinya kelembaban.
6.2. Kemasan Sekunder
Wadah sekunder yang dipilih atau digunakan adalah box yang terbuat dari
karton untuk melindungi wadah primer dari pengaruh cahaya dan lembab serta
memeperbaiki penampilan (Syarief, 1997).

VII. Analisis Pertimbangan Formula


7.1. Pemilihan Zat Aktif
Parasetamol adalah obat analgetikum dan antipiretikum. Dibuat sediaan tablet
karena memiliki ketepatan dosis dalam setiap penggunaannya, lebih stabil dan tidak
mudah ditumbuhi mikroba karena dalam bentuk kering dan kadar air yang rendah,
tidak voluminous dan dapat menutupi rasanya yang pahit. Parasetamol berbentuk
serbuk hablur (Dirjen POM, 1995: 649) sehingga memiliki sifat alir yang buruk dan
mempunyai daya kompresibilitas yang kurang baik sehingga untuk mengatasi hal- hal
tersebut parasetamol dibuat dengan metode granulasi basah. Dengan metode ini dapat
meningkatkan sifat alir dan dayakompresibilitas parasetamol sehingga memudahkan
aliran granul dari hopper ke ruang kempa. Dan akan menghasilkan tablet yang baik.
Kekuatan sediaan yang beredar adalah 500 mg. Namun dalam formula yang dibuat
kekuatan sediaanya 250 mg karena ditujukan untuk pengobatan anak-anak
(IAI, 2015).
7.2. Etanol
Etanol digunakan sebagai pelarut PVP karena PVP memiliki kelarutan mudah
larut dalam etanol Dirjen POM, 1995: 63). Etanol merupakan pelarut yang aman dan
universal juga mudah menguap sehingga granul akan cepat kering (Rowe, 2009: 17).
7.3. Amprotab
Amprotab berfungsi sebagai penghancur, diipilih amprotab karena amprotab/
pati memiliki sifat hidrofilik yang mampu menyerap air dan membentuk pori-pori
dalam tablet. Hal tersebut dapat meningkatkan penetrasi air ke dalam tablet sehingga
dapat meningkatkan waktu hancur tablet (Voight, 1995). Konsentrasi yang digunakan
adalah 10% karena rentang yang diperbolehkan adalah 8-20% (Rowe, 2009: 583).
7.4. PVP
PVP berfungsi sebagai pengikat komponen granul karena memiliki
kemampuan sebagai pengikat kering sehingga cocok digunakan pada granulasi
kering, hasil granul cepat kering, memiliki sifat alir yang baik, sudut baring
minimum, menghasilkan finnes lebih sedikit dan daya kompresibilitasnya baik
(Banker & Anderdson, 1994). Konsentrasi yang digunakan adalah 5% karena rentang
yang diperbolehkan adalah 3-25% (Rowe, 2009: 583).
7.5. Magnesium Stearat
Mg-stearat berfungsi sebagai lubrikan yang berfungsi untuk mengurangi gaya
adhesi sehingga akan mempermudah saat proses ejection (pengeluaran tablet dari die)
(Voight, 1995). Konsentrasi yang dipilih adalah 1%, karena rentan konsentrasi yang
boleh digunakan adalah 0,25 – 5% (Rowe, 2009: 569 ).
7.6. Talk
Talk berfungsi sebagai glidan untuk meningkatkan sifat alir granul dari
hopper menuju die agar ketepatan dosis dapat tercapai dan penyimpangan bobot
dapat diminimalisir (Lachman, 2008). Konsentrasi penggunaannya adalah 1-10%,
sehingga dipilih 2% (Rowe, 2009: 583).
7.7. Laktosa
Laktosa digunakan sebagai pengisi yang ditambahkan untuk menggenapkan
bobot tablet sesuai dengan yang tercantum dalam formula. Selain itu laktosa
digunakan untuk menjaga kekerasan tablet, membantu memperbaiki sidat alir granul,
mempercepat proses pengeringan granul, serta tidak bereaksi dengan hampir semua
zat (Bandelin, 1989).
7.8. Perbandingan Fase Dalam dan Fase Luar
Perbandingan fase dalam 92% dan fase luar 8% dipilih karena fase dalam
terdiri dari zat aktif yang dapat menghasilkan efek terapi sehingga stabilitasnya harus
dijaga, maka dari itu konsentrasi fase dalam lebih besar, sedangkan fase luar lebih
berperan menjamin kelancaran proses granulasi dan tabletasi sehingga konsentrasinya
sangat kecil (Voight, 1995).

VIII.Formula
Kandungan Parasetamol/tablet : 250 mg
Bobot tablet : 500 mg
Jumlah tablet yang dibuat : 300 tablet

FOMULA A FORMULA B
(Pengikat : PVP cara kering) (Pengikat : PVP cara basah)
Fasa Dalam (92%) Fasa Dalam (92%)
Paracetamol 250 mg Paracetamol 250 mg
Amprotab 10% Amprotab 10%
PVP 5% PVP 5%
Etanol q.s Etanol q.s
Laktosa q.s Laktosa q.s

Fasa Luar (8%) Fasa Luar (8%)


Mg. stearat 1% Mg. stearat 1%
Talkum 2% Talkum 2%
Amprotab 5% Amprotab 5%
TEKNOLOGI SEDIAAN SOLIDA
PERHITUNGAN GRANULASI BASAH FORMULA A

Cara 1 (Tablet Utuh) Cara 2 (Fase Dalam) Cara 3 (Fase Luar)


Komponen Fungsi Komposisi
Perhitungan Jumlah Perhitungan Jumlah Perhitungan Jumlah
Fase Dalam Komponen granulat 92% 92/100 × 500 mg 460,0 mg
Fase Luar Pencetakan 8% 8/100 × 500 mg 40,0 mg
PERHITUNGAN TEORITIS (DATA FORMULA)
PCT Zat Aktif 250 mg 250 mg × 1 tablet 250,0 mg 250 mg × 1 tablet 250,0 mg
PVP Pengikat 5% 5/100 × 500 mg 25,0 mg 5/92 × 460 mg 25,0 mg
Amprotab Penghancur dalam 10% 10/100 × 500 mg 50,0 mg 10/92 × 460 mg 50,0 mg
IX.Perhitungan Dan Penimbangan

Laktosa Pengisi q.s 460,0 - (250+25+50) mg 135,0 mg 460 mg - (250+25+50) mg 135,0 mg


Pengisi untuk menggenapkan FD, bukan tablet utuh
Total Fase Dalam 460,0 mg Total Fase Dalam 460,0 mg
Amprotab Penghancur luar 5% 5/100 × 500 mg 25,0 mg 5/92 × 460 mg 25,0 mg 5/8 × 40 mg 25,0 mg
Talkum Glidan 2% 2/100 × 500 mg 10,0 mg 2/92 × 460 mg 10,0 mg 2/8 × 40 mg 10,0 mg
Mg. Stearat Lubrikan 1% 1/100 × 500 mg 5,0 mg 1/92 × 460 mg 5,0 mg 1/8 × 40 mg 5,0 mg
Total Fase Luar 40,0 mg Total Fase Luar 40,0 mg Total Fase Luar 40,0 mg
Total Fase Dalan + Luar 500,0 mg Total Fase Dalam + Luar 500,0 mg

PERHITUNGAN SEBENARNYA (DATA PERCOBAAN)


Hanya berlaku untuk fase luar, dimana faktor pengalinya dilakukan terhadap data perolehan "Massa granulat " atau "Massa slug " saat praktikum
Massa granulat (MG) 127,1034 g
Fase Luar Pencetakan 8% thd TU Kondisi teoritis, namun tidak akurat secara logika matematikanya
Fase Luar Pencetakan 8/92 thd FD Kondisi teoritis, yang akurat dan Rasional secara logika matematikanya
Fase Luar Pencetakan 8% thd FD Tidak rasional, karena besaran 100% adalah 200 mg
Fase Luar Pencetakan 8% thd MG Tidak rasional, karena besaran 182 mg bukan lagi besaran 100% (Tapi penyusutan)
Fase Luar Pencetakan 8/92 thd MG Kondisi rasional
Amprotab Penghancur luar 5% 5/92 x 127,1034 g 6,9 g
Talkum Glidan 2% 2/92 x 127,1034 g 2,76 g
Mg.Stearat Lubrikan 1% 1/92 x 127,1034 g 1,38 g
Total Fase Luar 11,04 g
PERHITUNGAN GRANULASI BASAH FORMULA B

Cara 1 (Tablet Utuh) Cara 2 (Fase Dalam) Cara 3 (Fase Luar)


Komponen Fungsi Komposisi
Perhitungan Jumlah Perhitungan Jumlah Perhitungan Jumlah
Fase Dalam Komponen granulat 92% 92/100 × 500 mg 460,0 mg
Fase Luar Pencetakan 8% 8/100 × 500 mg 40,0 mg
PERHITUNGAN TEORITIS (DATA FORMULA)
PCT Zat Aktif 250 mg 250 mg × 1 tablet 250,0 mg 250 mg × 1 tablet 250,0 mg
PVP Pengikat 5% 5/100 × 500 mg 25,0 mg 5/92 × 460 mg 25,0 mg
Amprotab Penghancur dalam 10% 10/100 × 500 mg 50,0 mg 10/92 × 460 mg 50,0 mg
Laktosa Pengisi q.s 460,0 - (250+25+50) mg 135,0 mg 460 mg - (250+25+50) mg 135,0 mg
Pengisi untuk menggenapkan FD, bukan tablet utuh
Total Fase Dalam 460,0 mg Total Fase Dalam 460,0 mg
Amprotab Penghancur luar 5% 5/100 × 500 mg 25,0 mg 5/92 × 460 mg 25,0 mg 5/8 × 40 mg 25,0 mg
Talkum Glidan 2% 2/100 × 500 mg 10,0 mg 2/92 × 460 mg 10,0 mg 2/8 × 40 mg 10,0 mg
Mg. Stearat Lubrikan 1% 1/100 × 500 mg 5,0 mg 1/92 × 460 mg 5,0 mg 1/8 × 40 mg 5,0 mg
Total Fase Luar 40,0 mg Total Fase Luar 40,0 mg Total Fase Luar 40,0 mg
Total Fase Dalan + Luar 500,0 mg Total Fase Dalam + Luar 500,0 mg

PERHITUNGAN SEBENARNYA (DATA PERCOBAAN)


Hanya berlaku untuk fase luar, dimana faktor pengalinya dilakukan terhadap data perolehan "Massa granulat " atau "Massa slug " saat praktikum
Massa granulat (MG) 125, 065 g
Fase Luar Pencetakan 8% thd TU Kondisi teoritis, namun tidak akurat secara logika matematikanya
Fase Luar Pencetakan 8/92 thd FD Kondisi teoritis, yang akurat dan Rasional secara logika matematikanya
Fase Luar Pencetakan 8% thd FD Tidak rasional, karena besaran 100% adalah 200 mg
Fase Luar Pencetakan 8% thd MG Tidak rasional, karena besaran 182 mg bukan lagi besaran 100% (Tapi penyusutan)
Fase Luar Pencetakan 8/92 thd MG Kondisi rasional
Amprotab Penghancur luar 5% 5/92 x 125,065 g 6,797 g
Talkum Glidan 2% 2/92 x 125,065 g 2,718 g
Mg.Stearat Lubrikan 1% 1/92 x 125,065 g 1,259 g
Total Fase Luar 10,33 g
PERHITUNGAN GRANULASI BASAH FORMULA B

Cara 1 (Tablet Utuh) Cara 2 (Fase Dalam) Cara 3 (Fase Luar)


Komponen Fungsi Komposisi
Perhitungan Jumlah Perhitungan Jumlah Perhitungan Jumlah
Fase Dalam Komponen granulat 92% 92/100 × 500 mg 460,0 mg
Fase Luar Pencetakan 8% 8/100 × 500 mg 40,0 mg
PERHITUNGAN TEORITIS (DATA FORMULA)
PCT Zat Aktif 250 mg 250 mg × 1 tablet 250,0 mg 250 mg × 1 tablet 250,0 mg
PVP Pengikat 5% 5/100 × 500 mg 25,0 mg 5/92 × 460 mg 25,0 mg
Amprotab Penghancur dalam 10% 10/100 × 500 mg 50,0 mg 10/92 × 460 mg 50,0 mg
Laktosa Pengisi q.s 460,0 - (250+25+50) mg 135,0 mg 460 mg - (250+25+50) mg 135,0 mg
Pengisi untuk menggenapkan FD, bukan tablet utuh
Total Fase Dalam 460,0 mg Total Fase Dalam 460,0 mg
Amprotab Penghancur luar 5% 5/100 × 500 mg 25,0 mg 5/92 × 460 mg 25,0 mg 5/8 × 40 mg 25,0 mg
Talkum Glidan 2% 2/100 × 500 mg 10,0 mg 2/92 × 460 mg 10,0 mg 2/8 × 40 mg 10,0 mg
Mg. Stearat Lubrikan 1% 1/100 × 500 mg 5,0 mg 1/92 × 460 mg 5,0 mg 1/8 × 40 mg 5,0 mg
Total Fase Luar 40,0 mg Total Fase Luar 40,0 mg Total Fase Luar 40,0 mg
Total Fase Dalan + Luar 500,0 mg Total Fase Dalam + Luar 500,0 mg

PERHITUNGAN SEBENARNYA (DATA PERCOBAAN)


Hanya berlaku untuk fase luar, dimana faktor pengalinya dilakukan terhadap data perolehan "Massa granulat " atau "Massa slug " saat praktikum
Massa granulat (MG) 125, 065 g
Fase Luar Pencetakan 8% thd TU Kondisi teoritis, namun tidak akurat secara logika matematikanya
Fase Luar Pencetakan 8/92 thd FD Kondisi teoritis, yang akurat dan Rasional secara logika matematikanya
Fase Luar Pencetakan 8% thd FD Tidak rasional, karena besaran 100% adalah 200 mg
Fase Luar Pencetakan 8% thd MG Tidak rasional, karena besaran 182 mg bukan lagi besaran 100% (Tapi penyusutan)
Fase Luar Pencetakan 8/92 thd MG Kondisi rasional
Amprotab Penghancur luar 5% 5/92 x 125,065 g 6,797 g
Talkum Glidan 2% 2/92 x 125,065 g 2,718 g
Mg.Stearat Lubrikan 1% 1/92 x 125,065 g 1,259 g
Total Fase Luar 10,33 g
X. Prosedur Pembuatan

10.1 Pembuatan Larutan PVP


Ditimbang sejumlah PVP yang diperlukan dan dilarutkan dalam sejumlah
etanol berdasarkan data kelarutan PVP dalam etanol. Larutan diaduk hingga
homogen.
10.2 Granulasi
Pengikat Ditambahkan dengan Cara Basah
Ditimbang seluruh bahan sesuai dengan yang dibutuhkan. Dicampur
paracetamol, amprotab, dan laktosa hingga homogen. Ditambahkan larutan PVP
yang sudah dibuat sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga terbentuk massa
granulat basah yang sesuai untuk dibuat granul (massa harus dapat dikepal namun
dapat dipatahkan). Larutan PVP dimasukkan semuanya agar persentase pengikat
sesuai yang diinginkan. Massa basah diayak dengan ayakan mesh 10. Granul basah
dikeringkan dalam oven dengan suhu 60oC selama kurang lebih 30 menit atau hingga
granul mengering (kandungan lembab kurang dari 2%). Granul yang telah kering
diayak kembali dengan ayakan mesh 16. Granul kering ditimbang dan dilakukan
evaluasi.
Pengikat Ditambahkan dengan Cara Kering
Ditimbang seluruh bahan sesuai dengan yang dibutuhkan. Paracetamol,
amprotab, PVP, dan laktosa dicampur hingga homogen. Pelarut pengikat etanol
ditambahkan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga terbentuk massa basah yang
sesuai untuk dibuat granul. Massa basah diayak dengan ayakan mesh 10. Granul
basah dikeringkan dalam oven dengan suhu 40oC selama kurang lebih 30 menit atau
hingga granul mengering (kandungan lembab kurang dari 2%). Granul yang telah
kering diayak kembali dengan ayakan mesh 16. Granul kering ditimbang dan
dilakukan evaluasi.
XI. Evaluasi dan Data Pengamatan
11.1 Evaluasi
A. Evaluasi Granul
1. Kelembaban
Granul ditimbang sebanyak 0,5 g. Kemudian dimasukkan kedalam alat
moisture analyzer, kemudian alat ditara. Granul dipanaskan pada suhu 60-70° sampai
skala pada alat tidak berubah (stabil). Lalu dibaca kadar air tertera pada skala (%).
2. Kecepatan alir
a. Metoda corong
Sejumlah 50 g granul/serbuk dimasukkan kedalam corong dengan ukuran
tertentu. Katup pada bagian bawah corong dibuka sambil dihitung waktu massa
kempa mengalir dengan menggunakan stopwatch. Kemudian dibaca waktu yang
diperlukan untuk mengalirkan seluruh granul/serbuk keluar dari corong. Kecepatan
aliran dihitung dengan membagi bobot granul/serbuk (50 g) dengan waktu yang
diperlukan granul/serbuk untuk melewati corong (g/detik).
b. Metoda sudut baring
50 g serbuk yang tertampung pada milimeter blok diukur ketinggian dan jari-
jari nya dengan menggunakan penggaris besi. kemudian dihitung sudut istirahat
(sudut atara lereng granul/serbuk dengan bidang datar).
c. Bobot Jenis
- Bobot Jenis Nyata
30 gram granul ditimbang dan dimasukkan ke dalam gelas ukur. Lalu,
dicatat volumenya.
𝑊
P= 𝑉

- Bobot Jenis Mampat


30 gram granul ditimbang dan dimasukkan ke dalam gelas ukur. Lalu,
dicatat volumenya (V0). gelas ukur diketuk sebanyak 10, 500, dan 750 kali.
dicatat volumenya (V10, V500, dan V750).
𝑊
Pn = 𝑉n

- Bobot Jenis Sejati


Alat : Piknometer
Ditimbang piknometer kering (a). Beberapa gram granul dimasukan ke
dalam piknometer lalu ditimbang (b). Beberapa gram granul dimasukan ke
dalam piknometer, lalu dimasukkan cairan pendispersi, kemudian ditimbang
(c). Cairan pendispersi dimasukkan sampai penuh ke dalam piknometer lalu
ditimbang (d).
(𝑏−𝑎)𝑥 𝐵𝐽 cairan pendispersi
BJSejati = (𝑏+𝑑)−(𝑎+𝑐)

- Kadar Kemampatan
Prosedur : sama dengan BJ mampat.
V0−𝑣500
Kp = x 100%
V0

- Perbandingan Haussner
Prosedur : sama dengan pada prosedur BJ mampat
𝐵𝐽 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑝emampatan
Angka Haussner = 𝐵𝐽 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑝emampatan

- Persen Kompresibilitas (%K)


Prosedur : sama pada prosedur BJ mampat dan BJ nyata.
BJ mampat –BJ nyata
%K = BJ mampat
x 100%

d. Granulometri
Ditimbang 100 gram granul, granul diletakan pada pengayak paling atas. Mesin
digetarkan selama 5-30 menit. Ditimbang granul yang tertahan pada tiap- tiap
pengayak. Dihitung persentase granul pada tiap- tiap pengayak.
11.2 Data Pengamatan
1. Kelembaban
Granul ditimbang sebanyak 0,5 g. Kemudian dimasukkan kedalam alat
moisture analyzer, kemudian alat ditara. Granul dipanaskan pada suhu 60-70° sampai
skala pada alat tidak berubah (stabil). Lalu dibaca kadar air tertera pada skala (%).
Tabel 1. Data pengamatan kadar air

Formula Kadar Air (%)


A 1,38%
B 1,86%
Penafsiran hasil : Kadar air yang baik < 3% (Depkes RI,1995)
Hasil : Kadar air formula A dan B memenuhi syarat karena < 3 %.
2. Kecepatan alir
a. Metoda corong
Sejumlah 50 g granul/serbuk dimasukkan kedalam corong dengan ukuran
tertentu. Katup pada bagian bawah corong dibuka sambil dihitung waktu massa
Granul mengalir dengan menggunakan stopwatch. Kemudian dibaca waktu yang
diperlukan untuk mengalirkan seluruh granul/serbuk keluar dari corong. Kecepatan
aliran dihitung dengan membagi bobot granul/serbuk (50 g) dengan waktu yang
diperlukan granul/serbuk untuk melewati corong (g/detik).
Tabel 2. Data pengamatan laju alir
Formula Bobot (g) Waktu (s) Kecepatan alir (g/s)
A 50 4,15 50 𝑔
⁄4,15 𝑠

B 50 3,1 50 𝑔
⁄3,1 𝑠

Penafsiran hasil :
Aliran granul/serbuk baik adalah 100 𝑔⁄10 𝑠 (Lachman,1989).
Hasil :
Kecepatan alir formula A dan B memenuhi syarat karena < 5 detik (untuk 50g
massa granul)
b. Metoda sudut baring
50 g serbuk yang tertampung pada milimeter blok diukur ketinggian dan jari-
jari nya dengan menggunakan penggaris besi. kemudian dihitung sudut istirahat
(sudut atara lereng granul/serbuk dengan bidang datar).
Tabel 3. Data pengamatan sudut baring

Formula h (cm) r (cm) α (o) Arc tan (o)


A 3 12,3 0,243 13,66
B 3,3 11,6 0,284 15,85
𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖 (ℎ)
Rumus : tan a = 𝑗𝑎𝑟𝑖−𝑗𝑎𝑟𝑖 (𝑟)

Penafsiran hasil :
α 25-30o = Granul sangat mudah mengalir
α 30-38o = Granul mudah mengalir
α >38o = Granul kurang mengalir (Lachman,1989).
Kesimpulan
Kedua formula memenuhi syarat granul sangat mudah mengalir karena sudut
baringnya < 25 o

3. Uji Densitas
- Bobot Jenis Nyata
30 gram granul ditimbang dan dimasukkan ke dalam gelas ukur. Lalu,
dicatat volumenya.
𝑊
P= 𝑉

Tabel 4. Data pengamatan bobot jenis nyata


Formula W (g) Vo (ml) 𝑷 (g/ml)
A 50 72 0,4167
B 50 75 0,4

- Bobot Jenis Mampat


30 gram granul ditimbang dan dimasukkan ke dalam gelas ukur. Lalu, dicatat
volumenya (V0). gelas ukur diketuk sebanyak 10, 500, dan 750 kali. dicatat
volumenya (V10, V500, dan V750).
𝑊
Pn = 𝑉n
Tabel 5. Data pengamatan bobot jenis mampat
Formula Jumlah Ketuk W (g) Vn (mL) Pn (g/mL)
10 30 69 0,434
A
500 30 62 0,483
750 30 62 0,483
10 30 73 0,410
B 500 30 63 0,476
750 30 63 0,476
Formula A Formula B

𝑊 30 𝑊 30
Pn10 = 𝑉10 = 69
= 0,434 g/mL Pn10 = 𝑉10 = 73 = 0,410 g/mL

𝑊 30 𝑊 30
Pn500 = 𝑉500 = 62 = 0,483 g/mL Pn500 = 𝑉500 = 63 = 0,476 g/mL

𝑊 30 𝑊 30
Pn750 = 𝑉750 = 62 = 0,483 g/mL Pn750 = 𝑉750 = 63 = 0,476 g/mL

- Bobot Jenis Sejati


Alat : Piknometer
Ditimbang piknometer kering (a). Beberapa gram granul dimasukan ke dalam
piknometer lalu ditimbang (b). Beberapa gram granul dimasukan ke dalam
piknometer, lalu dimasukkan cairan pendispersi, kemudian ditimbang (c). Cairan
pendispersi dimasukkan sampai penuh ke dalam piknometer lalu ditimbang (d).
(𝑏−𝑎)𝑥 𝐵𝐽 cairan pendispersi
BJSejati = (𝑏+𝑑)−(𝑎+𝑐)

Tabel 6. Data pengamatan bobot jenis sejati


Formula a (g) b ( g) c (g) d (g) BJ g/ml
A 17,742 18,925 27,186 26,819 1,261
B 15,843 16,844 24,968 24,629 1,142
Formula A

(𝒃−𝒂)𝒙 𝑩𝑱 𝒄𝒂𝒊𝒓𝒂𝒏
BJ = (𝒃+𝒅)−(𝒂+𝒄)

(18,925−17,742)𝒙 𝟎,𝟖𝟕
= (18,925+26,819)−(17,742+27,186)

𝟏,𝟏𝟖𝟑 𝒙 𝟎,𝟖𝟕
= 𝟎,𝟖𝟏𝟔

= 1,261 g/mL

Formula B

(𝒃−𝒂)𝒙 𝑩𝑱 𝒄𝒂𝒊𝒓𝒂𝒏
BJ = (𝒃+𝒅)−(𝒂+𝒄)

(16,844−15,843)𝒙 𝟎,𝟖𝟕
= (16,844+24,629)−(15,843+24,868)

𝟏,𝟎𝟎𝟏 𝒙 𝟎,𝟖𝟕
= 𝟎,𝟕𝟔𝟐

= 1,142 g/mL
- Kadar Kemampatan
Prosedur : sama dengan BJ mampat.
V0−𝑣500
Kp = x 100%
V0
Tabel 7. Data pengamatan kadar pemampatan

Formula Jumlah Ketuk V0 (mL) Vn (mL) % Kp


A 500 72 62 13,88 %

B 500 75 63 16,00 %
Formula A Formula B
72−62 75−63
Kp = x 100% Kp = x 100%
72 75

Kp = 13,88 % Kp = 16,00 %
Penafsiran hasil:
Granul memenuhi syarat jika Kp < 20% (Depkes RI,1995).
Hasil : Kedua formula memenuhi syarat karena < 20%.
- Perbandingan Haussner
Prosedur : sama dengan pada prosedur BJ mampat
𝐵𝐽 𝑠𝑒𝑡𝑒𝑙𝑎ℎ 𝑝emampatan
Angka Haussner = 𝐵𝐽 𝑠𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝑝emampatan

Tabel 8. Data pengamatan perbandingan haussner

Formula Jumlah Ketukan BJ sebelum BJ setelah H


A 500 0,4167 0,47 1,127
B 500 0,40 0,45 1,125
Formula A
0,47
Angka Haussner = 0,42 = 1,127

Formula B
0,45
Angka Haussner = 0,40 = 1,125

Penafsiran hasil:
Granul memenuhi syarat jika angka Haussner = 1 (Depkes RI,1995).
Hasil : Kedua formula tidak memenuhi syarat karena angka haussner >1.
- Persen Kompresibilitas (%K)
Prosedur : sama pada prosedur BJ mampat dan BJ nyata.
BJ mampat –BJ nyata
%K = x 100%
BJ mampat

Tabel 9. Data pengamatan persen kompresibilitas


Formula BJ Mampat rata-rata BJ Nyata Rata-Rata %K
A 0,47 0,4167 11,34
B 0,45 0,40 11,11
Formula A
0,47− 0,4167
%K = x 100% = 11,34%
0,47

Formula B
0,45− 0,40
%K = x 100% = 11,11%
0,45

Penafsiran hasil :
% K : 5 – 10 % aliran sangat baik
11 – 15 % aliran baik
16 – 20 % aliran cukup baik
21 - 25 % aliran agak baik
>26 % aliran buruk (Depkes RI,1995).
Hasil : Kedua formula memenuhi syarat aliran baik karena % kompresibilitas
berada dalam rentang 11-15%.
4. Granulometri
Ditimbang 100 gram granul, granul diletakan pada pengayak paling atas.
Mesin digetarkan selama 5-30 menit. Ditimbang granul yang tertahan pada tiap- tiap
pengayak. Dihitung persentase granul pada tiap- tiap pengayak.
Tabel 10. Data pengamatan distribusi ukuran partikel

Formula Mesh W (g) (%) Formula Mesh W (g) (%)


16 11,17 13,96% 16 18,70 18,70%
20 57,19 71,48% 20 55,43 55,43%
40 15,10 18,87% 40 14,70 14,70%
60 4,46 5,57% 60 4,03 4,03%
A 80 2,77 3,46% B 80 2,39 2,39%
100 0,04 0,05% 100 0,10 0,10%
120 1,72 2,15% 120 1,50 1,50%
140 0,22 0,275% 140 0,02 0,02%
200 1,95 2,43% 200 2,02 2,02%
Penafsiran Hasil :
Memenuhi syarat apabila sampel tersebut >40% pada ayakan mesh no. 40 dan
60 (Ansel, 2011).
Hasil : Kedua formula bukan granul yang baik, karena pada mesh 20 terdapat
granul yang melebih 40%, sehingga granul terlalu besar

XII. Pembahasan
Granul merupakan wujud awal pembentukan tablet sesuai dengan
pengertiannya, granul adalah gumpalan-gumpalan dari partikel-partikel yang lebih
kecil (serbuk) umumnya berbentuk tidak merata atau berbentuk kebulat-bulatan dan
menjadi seperti partikel tunggal yang lebih besar dengan maksud untuk meningkatkan
kemampuan mengalir (Hadisoewignyo dan Fudholi, 2013). Pada praktikum kali ini
dilakukan pembuatan granulat dengan metode granulasi basah, granulasi basah adalah
suatu proses campuran zat aktif dan eksipien menjadi partikel yang lebih besar
dengan menambahkan cairan pengikat dalam jumlah yang tepat sehingga diperoleh
massa yang lembab yang dapat digranulasi. Metode ini digunakan untuk zat aktif
tahan lembab dan panas (Chaerunissa, 2009 : 83).
Prinsip dari metode granulasi basah adalah membasahi massa tablet dengan
larutan pengikat tertentu sampai mendapat tingkat kebasahan tertentu pula, kemudian
massa basah tersebut digranulasi. Tujuan percobaan ini adalah untuk memahami
prinsip pembuatan granulasi basah, menentukan pengaruh jenis pengikat terhadap
sediaan tablet dengan teknik granulasi basah dengan zat aktif parasetamol, dan
menentukan evaluasi terhadap granul dan sediaan tablet yang dibuat.

Pada percobaan kali ini zat aktif yang digunakan adalah paracetamol sebagai
zat aktif dengan efek farmakologis sebagai antipiretik dan analgesik, alasan
paracetamol ini dibuat dengan metode granulasi basah karena parasetamol
mempunyai sifat alir dan kompresibilitas yang buruk, sehingga digunakan metode
granulasi untuk memperbaiki sifat alir dan kompresibilitasnya. Selain itu, dilihat dari
titik lebur Parasetamol yaitu 169˚-172˚C, sehingga terbilang bahwa parasetamol
stabil terhadap pemanasan (Dirjen POM, 1995).

Pada metode granulasi basah terdapat proses penambahan pengikat dan


pembasahan, tujuan ditambahkannya pengikat yaitu agar meningkatkan kekuatan
ikatan antar bahan-bahan dalam tablet atau granul. Ada dua cara penambahan
pengikat yaitu penambahan pengikat secara kering dan penambahan pengikat secara
basah. Pada praktikum kali ini digunakan metode penambahan pengikat dengan cara
kering dan cara basah dengan menggunakan pengikat yang sama yaitu PVP dengan
konsentrasi yang sama yaitu 5%, Hal ini bertujuan untuk membandingkan PVP lebih
efektif menggunakan cara basah atau cara kering. PVP digunakan pada konsentrasi
5% dalam etanol karena dapat memperbaiki kompresibilitas dan dapat menghasilkan
tablet yang kuat serta memiliki disolusi yang baik. (Rowe, 2009). Pada cara kering,
PVP secara langsung dimasukkan kedalam campuran lalu diaduk hingga homogen,
sedangkan pada cara basah, PVP dilarutkan terlebih dahulu dengan etanol, setelah itu
dimasukkan kedalam campuran lalu diaduk hingga homogen.
Pada formula A digunakan metode penambahan pengikat dengan cara kering,
dengan parasetamol sebagai zat aktif, PVP 5% sebagai pengikat, amprotab 10%
sebagai penghancur, laktosa sebagai pengisi dicampurkan kedalam satu wadah lalu
diaduk. Sedangkan pada formula B digunakan metode penambahan pengikat dengan
cara granulasi basah dengan formulasi yang sama seperti formula A. Kemudian, pada
pengerjaan masing-masing, ditambahkan etanol sedikit demi sedikit. Fungsi etanol
adalah sebagai pelarut PVP dimana etanol juga bisa melarutkan parasetamol, karena
parasetamol memiliki kelarutan larut dalam 7 bagian etanol. Etanol juga pelarut yang
aman dan universal juga mudah menguap hingga granul akan cepat kering pada saat
proses pencampuran dan membentuk massa basah.

Kekurangan cara kering ini adalah sulit menentukan berapa banyak pembasah
atau etanol yang harus ditambahkan agar tidak berlebih sehingga tidak menghasilkan
campuran yang mengandung banyak cairan pembasah. Selain itu, pada saat
pemberian tidak boleh terlalu cepat karena etanol dan PVP akan membentuk ikatan
yang sangat kuat sehingga jika diteteskan secara cepat maka akan membentuk mata
granul yang akan menghasilkan granul besar yang keras dan tidak lolos pengayak.
Sehingga perlu dipertimbangkan berapa etanol yang ditambahkan kedalam campuran,
pertimbangan tersebut dilihat dari hasil orientasi atau data kelarutan pada PVP.
Kelarutan PVP dalam etanol pada praktikum ini yaitu 1:9 sehingga perlu disiapkan
etanol sekitar 67,5 mL dengan jumlah bobot PVP 7,5 gram untuk membuat 300 tablet
pada kedua formula. Pada pelaksanaan praktikum kami melakukan metode cara
kering terlebih dahulu agar dapat mengetahui berapa banyak etanol yang digunakan
untuk melarutkan PVP pada cara basah. banyak etanol yang digunakan untuk
melarutkan PVP pada cara kering yaitu 36 mL, sementara banyak etanol yang
digunakan untuk melarutkan PVP pada cara basah yaitu 30 mL.

Setelah terbentuk massa granul yang dapat dikepal, kemudian granul diayak
menggunakan mesh dengan nomor mesh 10. Tujuannya adalah agar granul lebih
berkonsolidasi, meningkatkan luas permukaan untuk memudahkan pengeringan.
Selanjutnya, granul basah dikeringkan dengan suhu 40˚C selama 15 menit.
Digunakan suhu tersebut bertujuan karena etanol bersifat mudah menguap sehingga
digunakan suhu yang tidak terlalu tinggi untuk pengeringan karena ditakutkan dapat
menyebabkan granul terlalu kering sehingga menyebabkan granul atau tablet yang
diperoleh nanti akan rapuh. Setelah terbentuk massa granul yang kering selanjutnya
diayak kembali dengan ukuran pengayak yang lebih kecil menggunakan pengayak
nomor 16. Granulasi ulang ini bertujuan agar massa yang dibentuk untuk menjadi
tablet jauh lebih mudah untuk dikempa. Selain itu dikarenakan sebelum pencetakan
tablet diharuskan juga melakukan uji-uji tertentu untuk menentukan baik atau
tidaknya granul yang sudah didapat.

Selanjutnya, setelah diperoleh massa granul yang kering, dilakukan tahapan


evaluasi terhadap granul yang diperoleh. Tujuan dilakukannya evaluasi granul adalah
untuk menjamin granul tersebut memenuhi semua persyaratan yang baik, sehingga
akan menghasilkan tablet yang baik. Dengan tahapan evaluasi meliputi uji
kelembaban granul, uji kecepatan alir, uji distribusi ukuran partikel (granulometri),
dan uji bobot jenis/kerapatan.

Pertama, dilakukan uji kelembaban granul. Uji kelembaban granul adalah


menguji banyaknya air yang terkandung dalam zat atau banyaknya air yang terserap
dalam zat. Alat yang digunakan yaitu moisture analyzer balance, prinsip alat ini yaitu
perubahan wujud cair menjadi uap. Untuk mengukur kadar air granul, moisture
analyzer balance cukup diset pada temperatur 60-700˚C untuk mencegah ikut
menguapnya air kristal yang terkandung dalam bahan yang digunakan dalam
pembuatan granul. Semakin banyak air yang terkandung, maka akan semakin buruk
sediaan yang akan dibuat. Granul dapat dikategorikan baik apabila kadar air yang
terkandung hanya sekitar 1-2% dan dapat dikategorikan kurang baik apabila kadar
airnya < 1%. Karena air yang terkandung pun dapat berfungsi sebagai pengikat
sehingga terlalu rendahnya kadar air akan menyebabkan tablet yang akan dicetak
lebih mudah hancur atau rapuh. Sedangkan jika kadar air terlalu tinggi maka tablet
yang akan diperoleh akan lengket. Pada uji ini diperoleh hasil yaitu pada formula A
diperoleh sebesar 1,38% sedangkan pada formulasi B diperoleh sebesar 1,86%. Hasil
dari kedua formula tersebut dikategorikan memenuhi persyaratan karena kurang dari
2%.

Selanjutnya dilakukan evaluasi uji kecepatan alir. Pengukuran laju alir


dilakukan dengan alat flow tester dimana terdapat 2 metode yaitu metode corong dan
metode sudut baring. Metode corong mempunyai prinsip menetapkan jumlah granul
yang mengalir melalui alat selama waktu tertentu. Sedangkan metode sudut baring
mempunyai prinsip pengukuran sudut yang terbentuk. Dari sini dapat diukur diameter
lingkaran gunung serbuk yang terbentuk, tinggi puncak serbuk dan sudut istirahat dan
dihitung apakah laju alir granul yang digunakan itu baik atau tidak. Karena jika
granul yang digunakan tidak baik maka kemungkinan pada saat pencetakan tablet
hasil tablet akan berbeda keseragaman bobotnya. Dengan metode corong yaitu
penafsiran hasil dilihat dari aliran granul yang baik jika waktu yang diperlukan untuk
mengalir 100 gram granul ≤ 10 detik. Granul yang ditimbang yaitu 30 gram pada
masing-masing formula. Hasil yang diperoleh dari formula A yaitu 50 gram dengan
waktu 4,15 detik sehingga hasil kecepatan alir 50 gram/ 4,15 detik dan hasil formula
B yaitu 50 gram dengan waktu 3,1 detik sehingga kecepatan alir 50 gram/3.1 detik.
Hasil kecepatan alir dari kedua formula tersebut tidak memenuhi persyaratan, karena
seharusnya 50 gram granul dapat mengalir dalam waktu 5 detik sedangkan kedua
formula menghasilkan waktu dibawah 5 detik sehingga nilai perhitungan yang
diperoleh kecepatan alir yang baik.

Selanjutnya, dilakukan penentuan bobot jenis untuk penentuan kompresibilitas


dari granul sehingga dapat ditentukan bagaimana sifat alir dari granul. Ada tiga jenis
bobot jenis granul yang penting dalam penentuan kompresibilitas granul yaitu bobot
jenis nyata, bobot jenis mampat dan bobot jenis sejati. Bobot jenis nyata merupakan
bobot jenis yang mengandung udara atau granul dengan pori-pori, bobot jenis nyata
bukan bobot jenis yang sebenarnya dikarenakan volume granul yang terlihat pada
gelas ukur masih terdapat udara yang mengisi ruang kosong dari gelas ukur tersebut.
Bobot jenis mampat merupakan bobot jenis yang tidak mengandung pori-pori karena
dalam prosesnya dilakukan proses pemampatan untuk mengusir udara yang mengisi
ruang kosong pada gelas ukur tersebut. Bobot jenis sejati merupakan bobot jenis yang
dihasilkan karena tidak adanya bobot selain granul, pada pengujiannya ditambahkan
pelarut pendispersi yang tidak melarutkan granul seperti paraffin, karena paraffin
dapat mengusir udara yang terdapat pada pori-pori granul sehingga bobot jenis yang
terbaca merupakan bobot jenis yang sebenarnya. Evaluasi mengenai bobot jenis ini
dilakukan untuk mengetahui bobot jenis dari massa tablet yang akan dibuat dan untuk
meramalkan sifat alir dan kompresibilitasnya.

Uji bobot jenis nyata dilakukan untuk mengetahui bobot jenis granul tanpa
dilakukan perlakuan, karena hal ini akan berpengaruh terhadap proaes pencetakan
tablet dan sediaan yang dihasilkan. Bobot jenis nyata granul merupakan
pendistribusian partikel, bentuk partikel dan kecenderungan partikel untuk menempel
pada partikel lain. Pada bobot jenis nyata masih terdapat ruang kosong antar partikel
sehingga volume pada bobot jenis nyata akan lebih besar dibandingkan dengan bobot
jenis mampat dan menghasilkan granul yang ringan dengan bobot jenis yang rendah.
Pada praktikum ini, bobot jenis nyata yang dihasilkan adalah 0,41 g/mL (Formula A)
dan 0,4 g/mL (Formula B).

Uji bobot jenis mampat dilakukan untuk mengetahui bobot granul yang telah
dimampatkan, sehingga dapat diketahui kemampuan granul membentuk susunan
mampat pada saat dicetak menjadi tablet. Uji bobot jenis mampat dapat dilakukan
menggunakan alat tap density tester. Tap density tester (tap volumeter) adalah suatu
alat yang digunakan untuk menentukan kerapatan serbuk atau granul dengan metode
pengetapan. Digunakan alat tap volumeter yang terdiri dari gelas ukur, penahan gelas
ukur silinder, penahan, landasan, dan poros (sumbu) penggerak, alat dapat digerakkan
secara mekanis sedemikian rupa dengan hentakan yang dapat dihitung. Pada
pengujian ini, ruang antar partikel akan terisi oleh partikel sehingga bobot jenis akan
meningkat dibandingkan bobot jenis nyata. Pada uji pemampatan dilakukan tiga kali
pemampatan dengan bobot granul sebanyak 30 gram, untuk pemampatan yang
pertama dilakukan 10 kali ketukan menghasilkan volume 69 mL dan bobot jenis
mampat 0,43 g/mL untuk formula A serta volume 73 mL dan bobot jenis mampat
0,41 g/mL untuk formula B. Sedangkan pada pemampatan kedua dilakukan 500 kali
ketukan menghasilkan volume 62 mL dan bobot jenis mampat 0,48 g/mL untuk
formula A serta volume 63 mL dan bobot jenis nyata 0,47 g/mL untuk formula B.
Pada pemampatan yang terakhir dilakukan 750 kali ketukan dengan hasil volume 62
mL untuk formula A serta volume 63 mL dan bobot jenis mampat 0,47 g/mL untuk
formula B.

Uji bobot jenis sejati adalah perbandingan massa dengan volume bodi padat
tanpa pori-pori dan ruang rongga, bobot jenis sejati dilakukan untuk mengetahui
bobot jenis granul sesungguhnya. Bobot jenis sejati dapat dilakukan menggunakan
alat piknometer. Dalam percobaan ini didapatkan bobot jenis sejati granul yaitu 1,261
g/mL (formula A) dan 1,142 g/mL (formula B).

Kompresibilitas merupakan kemampuan suatu bahan untuk berkurang


volumenya pada saat mendapatkan tekanan. Kompresibilitas merupakan salah faktor
penting dalam menentukan kemampuan serbuk atau granul untuk menjadi bentuk
yang lebih stabil jika mendapatkan tekanan, yaitu mudah menyusun diri pada saat
memasuki ruang cetak kemudian mengalami perubahan bentuk menjadi bentuk
mampat dan akhirnya menjadi massa yang kompak dan stabil (Lachman, dkk., 2008).
Kompresibilitas ini berhubungan dengan sifat alir granul sehingga granul akan
memiliki keseragaman bentuk dan kandungannya, semakin besar persen
kompresibilitas maka aliran granul semakin buruk. Pada persen kompresibiltas
dilakukan untuk mengetahui sifat alir dari suatu massa granul. Hal ini akan
berpengaruh terhadap pencetakan dan tablet yang dihasilkan karena apabila sifat alir
bagus maka proses pembuatan tablet akan baik dan tablet yang dihasilkan akan
sesuai. Parameter yang dilihat dari persen kompresibilitasnya yaitu :
% K=5-15% aliran sangat baik, % K=16-25% aliran baik, dan % K=lebih dari 25%
maka alirannya buruk.

Pada hasil percobaan diperoleh persen kompresibilitas 11,34% (formula A)


dan 11,11% (formula B). Maka dapat diketegorikan bahwa formula A dan formula B
memiliki aliran yang baik karena % kompresibilitasnya berada direntang 11-20%.

Penentuan perbandingan haussner dan kadar pemampatan memiliki prosedur


yang sama dengan BJ mampat, pengujian angka haussner bertujuan untuk mencegah
voluminous (granul mudah terbang), angka haussner yang baik yakni 1 karena pada
saat dimampatkan volume granul tidak berkurang dari volume sebelum dimampatkan
hal ini tidak ada ruang kosong antar granul yang diisi oleh udara. Kadar pemampatan
dan berat jenis dapat menilai aliran dari granul kadar pemampatan yang baik ≤ 20%
hal itu menunjukan granul memiliki kompresibilitas yang baik sehingga tidak
berubah saat diberi tekanan (Lachman, dkk., 2008).

Uji kadar pemampatan dinyatakan dengan volume granul sebelum


pemampatan dikurangi volume granul pada 500 kali ketukan dibagi volume granul
sebelum pemampatan. Kadar pemampatan yang baik adalah ≤ 20%. Pada percobaan
ini didapatkan hasil kadar pemampatan yaitu pada ketukan 500 adalah 13,88%
(formula A) dan 16% (formula B). Hasil menunjukkan kedua formula memenuhi
syarat karena % kadar pemampatan yang baik adalah ≤ 20%.

Perbandingan Haussner merupakan evaluasi selanjutnya, bilangan ini


dinyatakan dengan membagi bobot jenis mampat dan bobot jenis nyata. Nilai angka
haussner memenuhi syarat jika angkanya 1. Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui
karakteristik suatu zat atau bahan obat sehingga akan diketahui kemurnian suatu zat.
Pada percobaan ini didapatkan hasil perhitungan angka haussner adalah 1,127
(formula A) dan 1,125 (formula B). Dapat disimpulkan bahwa kedua formula tidak
memenuhi syarat angka haussner karena angka haussner > 1.
Evaluasi selanjutnya yaitu uji distribusi partikel. Pada pengujian uji distribusi
partikel dilakukan dengan menggunakan Granulometri. Granulometri adalah analisis
ukuran dan repartisi granul (penyebaran ukuran-ukuran granul). Dalam melakukan
analisis granulometri digunakan susunan pengayak dengan berbagai ukuran. Mesh
terbesar diletakkan paling atas dan dibawahnya disusun pengayak dengan mesh yang
makin kecil. Tujuan dilakukan granulometri adalah untuk melihat keseragaman dari
ukuran granul. Diharapkan ukuran granul tidak terlalu berbeda. Granulometri
berhubungan dengan sifat aliran granul. Jika ukuran granul berdekatan, aliran akan
lebih baik. Diharapkan ukuran granul mengikuti kurva distribusi normal.

Pada pengujian granulometri yang dilakukan dapat disimpulkan ukuran


partikel yang dihasilkan oleh kedua formula tidak memenuhi syarat karena granul
banyak tertampung pada mesh 20 yaitu 71,48% untuk formula A dan 55,43% untuk
formula B sehingga bentuknya berupa granul yang terlalu besar. Granul yang baik
yaitu jika bobot granul > 40% pada ayakan mesh 60-100, hal tersebut menunjukan
bahwa ukuran granul seragam, tidak terlalu halus dan tidak terlalu besar.

Berdasarkan evaluasi-evaluasi granul yang telah dilakukan, dapat disimpulkan


bahwa formula A dan formula B memiliki hasil persyaratan yang relatif sama. Akan
tetapi, jika berdasarkan teori, pengikat PVP cara basah (Formula B) merupakan
pengikat PVP yang lebih efektif digunakan untuk metode granulasi basah
dibandingkan dengan pengikat PVP cara kering (Formula A), karena PVP cara basah
akan mengubah serbuk-serbuk halus menjadi granul yang mudah mengalir (Lachman,
dkk., 2008).

Penggunaan wadah primer untuk granul zat aktif Parasetamol berdasarkan


aturan simpan harus dalam wadah tertutup rapat dan terlindungi dari cahaya. Maka
digunakan wadah botol plastik karena memiliki karakteristik yang sesuai dengan
aturan simpan. Kemasan sekunder terbuat dari box berbahan karton agar terlindungi
dari cahaya dan kemasan menjadi lebih menarik.
XIII. Kesimpulan
Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan bahwa formula Parasetamol dengan
metode granulasi basah dengan pengikat PVP cara kering dan pengikat PVP cara
basah keduanya merupakan formula yang kurang baik karena dilihat dari evaluasi uji
distribusi partikel dan perbandingan Haussner yang tidak memenuhi syarat.

XIV. Informasi Obat Standar


Parasetamol (Acethaminophen)
Parasetamol (asetaminofen) merupakan turunan senyawa sintesis dari p-
aminofenol yang memberikan efek analgesia dan antipretika. Senyawa ini
mempunyai nama kimia N-asetil-p-aminofenol atau p-asetamidofenol. paracetamol
termasuk golongan obat bebas dengan logo berwarna hijau dengan tepi berwarna
hitam. Parasetamol sebagai obat penurun panas sekaligus pereda nyeri. Pada
penggunaan per oral Parasetamol diserap dengan cepat melalui saluran cerna. Kadar
maksimum dalam plasma dicapai dalam waktu 30 menit sampai 60 menit setelah
pemberian. Parasetamol diekskresikan melalui ginjal, kurang dari 5% tanpa
mengalami perubahan dan sebagian besar dalam bentuk terkonjugasi. Karena
Parasetamol memiliki aktivitas antiinflamasi (antiradang) rendah, sehingga tidak
menyebabkan gangguan saluran cerna maupun efek kardiorenal yang tidak
menguntungkan. Karenanya cukup aman digunakan pada semua golongan usia
(Freddy W.P., 1995).
a. Indikasi
Meredakan gejala demam dan nyeri pada berbagai penyakit seperti demam
dengue, tifoid, dan infeksi saluran kemih. Pada pasien anak, paracetamol digunakan
saat suhu > 38,5 C. Paracetamol juga dapat digunakan pada keluhan osteoarthritis,
nyeri punggung belakang, nyeri kepala, nyeri pasca operasi, dan nyeri pada gigi
(Hoan Tjay,T.2013).
b. Kontraindikasi pada pasien
Obat parasetamol tidak boleh digunakan pada orang dengan kondisi sebagai
berikut (Hoan Tjay,T.2013) :
 Alergi parasetamol atau acetaminophen
 Gangguan fungsi hati dan penyakit hati
 Gangguan fungsi ginjal serius
 Shock
 Overdosis Acetaminophen
 Gizi buruk
c. Mekanisme kerja
Mekanisme kerja dari Paracetamol yaitu mengurangi rasa sakit dengan
cara menurunkan produksi zat dalam tubuh yang disebut prostaglandin. Prostaglandin
adalah unsur yang dilepaskan tubuh sebagai reaksi terhadap kerusakan jaringan atau
infeksi, yang memicu terjadinya peradangan, demam, dan rasa nyeri. Paracetamol
menghalangi produksi prostaglandin, sehingga rasa sakit dan demam berkurang
(Wilmana PF, Gan S, 2007).
d. Dosis
Dosis Parasetamol Dewasa untuk Demam dan Nyeri:
 Pedoman umum: 325-650 mg diminum setiap 4 sampai 6 jam atau 1000
mg setiap 6 sampai 8 jam.
 Paling sering adalah Paracetamol 500mg tablet: 500 mg tablet oral setiap
4 sampai 6 jam.
Dosis Parasetamol Anak untuk Demam dan Nyeri:
Untuk mengukur dosis parasetamol anak dengan tepat maka kita harus mengetahui
berat badan dan umur anak, karena ini akan menjadi pertimbangan.
 < = 1 bulan: 10-15 mg/kg BB/dosis setiap 6 sampai 8 jam sesuai
kebutuhan.
 1 bulan – 12 tahun: 10 – 15 m /kg BB/dosis setiap 4 sampai 6 jam sesuai
kebutuhan (maksimum: 5 dosis dalam 24 jam).
Obat parasetamol tidak dianjurkan melebihi dosis yang direkomendasikan. Jumlah
maksimum untuk orang dewasa adalah 1 gram (1000 mg) per dosis dan 4 gram (4000
mg) per hari. Penggunakan parasetamol yang berlebihan dapat menyebabkan
kerusakan hati.
Pada anak-anak, gunakanlah sediaan sirup atau suppositoria. Hati-hati dan selalu ikuti
petunjuk dosis pada label obat. Jangan memberikan paracetamol untuk anak di bawah
usia2 tahun tanpa nasihat dari dokter (Hoan Tjay,T.2013).
 Berhenti menggunakan paracetamol dan hubungi dokter jika:
 Selama 3 hari penggunaan masih demam.
 Selama 7 hari penggunaan masih terasa sakit (nyeri belum teratasi) atau 5
hari pada anak-anak.
 Terjadi reaksi alergi seperti ruam kulit, sakit kepala terus menerus, atau
kemerahan atau bengkak.
e. Efek Samping
Walaupun efek samping parasetamol jarang, namun jika itu terjadi maka
ditandai dengan (Cemani, Itheng.2010):
 Ruam atau pembengkakan – ini bisa menjadi tanda dari reaksi alergi.
 Hipotensi (tekanan darah rendah) ketika diberikan di rumah sakit dengan
infus.
 Kerusakan hati dan ginjal, ketika diambil pada dosis lebih tinggi dari yang
direkomendasikan (overdosis).
Dalam kasus ekstrim kerusakan hati yang dapat disebabkan oleh overdosis
parasetamol bisa berakibat fatal. Maka carilah bantuan medis darurat jika anda
memiliki salah satu dari tanda-tanda reaksi alergi parasetamol seperti: gatal-gatal,
kesulitan bernapas, pembengkakan wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan. Berhenti
menggunakan obat ini dan hubungi dokter apabila mengalami efek samping
parasetamol yang serius seperti (Cemani, Itheng.2010):
 Mual, sakit perut, dan kehilangan nafsu makan
 Air seni berwarna gelap, tinja berwarna tanah liat
 Jaundice (menguningnya kulit atau mata).
 Diare
 Keringat berlebihan
 Kehilangan nafsu makan
 Mual atau muntah
 Kram perut atau nyeri
 Pembengkakan, atau nyeri di perut atau perut daerah atas
f. Pencegahan dan Peringatan:
Pada saat memutuskan untuk menggunakan obat, risiko dan manfaat dari obat
harus dipertimbangkan. Ini adalah keputusan bersama dari Anda dan dokter Anda.
Untuk obat ini, hal-hal berikut harus dipertimbangkan (Hoan Tjay,T.2013):
1. Alergi
Beritahu dokter apabila Anda pernah mengalami reaksi tidak biasa atau
reaksi alergi terhadap oba t ini atau obat lain. Beritahu penyedia layanan
kesehatan Anda apabila Anda memiliki alergi lain seperti alergi makanan,
pewarna makanan, pengawet, atau hewan. Untuk produk non-resep, baca
komposisi pada label atau kemasan dengan baik.
2. Anak-anak
Penelitian yang telah dilakukan hingga hari ini belum menunjukkan
masalah spesifik yang membatasi kegunaan acetaminophen pada anak-
anak. Meskipun demikian, jangan berikan produk nonresep pada anak-
anak di bawah 2 tahun kecuali apabila dianjurkan oleh dokter.
3. Lansia
Penelitian yang telah dilakukan hingga hari ini belum menunjukkan
masalah spesifik yang membatasi kegunaan acetaminophen pada
lansia.
 Harap berhati-hati bagi penderita gangguan ginjal, gangguan hati,
malanutrisi, dehidrasi, dan bagi orang yang sering mengonsumsi
minuman keras (alkohol) dalam jangka lama.
 Untuk orang dewasa, jangan mengonsumsi lebih dari 4 gram per
24 jam.
 Untuk anak-anak, pastikan dosis diberikan sesuai dengan umur.
 Jika terjadi alergi atau overdosis, segera hubungi dokter.
g. Interaksi
Jika dikonsumsi bersamaan dengan obat-obatan lain, paracetamol bisa
menimbulkan reaksi berupa peningkatan efek samping atau justru mengurangi
efektivitas paracetamol itu sendiri. Untuk menghindarinya, jangan mengonsumsi
paracetamol dengan obat-obatan di bawah ini (Wilmana PF, Gan S, 2007) :
 Warfarin (obat yang biasanya digunakan untuk mencegah pembekuan
darah).
 Carbamazepine (obat yang biasanya digunakan untuk mengobati epilepsi).
 Phenobarbital, phenytoin, atau primidone (obat-obatan yang biasanya
digunakan untuk mengontrol kejang).
 Colestyramine (obat yang biasanya digunakan untuk mengurangi rasa
gatal pada gangguan ginjal).
 Metoclopramide (obat yang biasanya digunakan untuk meredakan rasa
mual dan muntah).
 Imatinib atau busulfan (obat-obatan yang biasanya digunakan untuk
mengobati kanker jenis tertentu.
 Lixisenatide (obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi diabetes tipe
2).
 Ketoconazole (salah satu jenis obat antijamur).
h. Nama Generik: Paracetamol (Acetaminophen)
i. Merek Dagang
Cetapain, Dumin/Dumin RT, Farmadol, Fevrin, Ikacetamol, Kamolas/Kamolas
Forte, Moretic, Naprex, Nofebril, Ottopan, Pamol, Panadol (biru, merah, hijau),
Panadol Anak-Anak, Pehamol, Piosfen/Piosfen Forte, Pireta, Praxion, Progesic,
Pyridol, Sanmol Child Tab Kunyah/, Sanmol Infus Sanmol Infu, Sanmol/Sanmol
Forte, Sumagesic, Tempra/Tempra Forte, Xepamol Drops, Alphagesic, Alphamol,
Biogesic, Bodrex Forte, Calapol Calapol/Calapol, Calorex Drops, Contratemp
Contratemp/Co, Cupanol, Erphamol, Fasgo, Fasgo Forte, Grafadon Grafadon/Grafad,
Itamol, Lanamol, Maganol, Nasamol, Nufadol dan paracetamol-acetaminophen-obat.

XV. Wadah dan Kemasan


1. Wadah
Dalam wadah tertutup rapat tidak tembus cahaya.
2. Kemasan
DAFTAR PUSTAKA

Bandelin, F.J., (1989), Compressed Tablet by Wet Granulation in Lieberman, H.A.,


Kanig, J.L (Eds), Pharmaceutical Dosage Forms; Tablets, Vol. I, Marcell
Dekker, New York

Banker, G.S., dan Anderson, N., (1994), Tablet In the Theory and Practice of
Industrial Pharmacy, Edisi III, Diterjemahkan oleh Siti Suyatmi, UI Press,
Jakarta.
Cemani, Itheng.,(2010). ,Parasetamol dan Toksisitasnya, Bumi Persada, Jakarta.
Chaerunnisa, Anis, dkk., (2009), Farmasetika Dasar: Konsep Teoritis dan Aplikasi
Pembuatan Obat. Widya Padjajaran, Bandung.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III,


Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1995), Farmakope Indonesia, Edisi IV,


Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan, (2014), Farmakope Indonesia


Edisi V. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.
Freddy W.P., (1995), Analgesik - Antipiretik, Analgesik Anti -lnflamasi Nousteroid
dan obat Pirai, dalam Farmakologi dan Terapi, edisi IV, Jakarta, UI Press,
Hal. 207 – 215
Hadisoewignyo L. dan Fudholi A., (2013), Sediaan Solida, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta
Hoan Tjay, T . (2013). Obat-Obat Penting. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Ikatan Apoteker Indonesia, (2015), ISO: Informasi Spesialite Obat Indonesia, PT.
ISFI Penerbitan, Jakarta.
Lachman L., Herbert, A. L. & Joseph, L. K. (2008). Teori dan Praktek Industri
Farmasi Edisi III. Jakarta: Universitas Indonesia.
Rowe, C Raymond, et. Al, (2009), Hand Book Of Pharmaceutical Excipients 6th ,
Syarief, R., dkk, (1997), Teknologi Pengemasan Obat, IPB, Jakarta. The
Pharmaceutical Press, London.
Voight, Rudolf, (1995), Buku Pelajari Teknologi Farmasi. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.

Wilmana PF, Gan S, (2007). Analgesik-Antipiretik, Analgesik Anti-Inflamasi dan


Obat Gangguan Sendi Lainnya. Dalam: Farmakologi dan Terapi. Editor
Gunawan SG, Nafrialdi RS dan Elysabeth. Departemen Farmakologi dan
Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.