Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH

RETORIKA ( SENI BERBICARA )

DI SUSUN OLEH
KELOMPOK 10
1. NENGSI
2. RULANI

STIK FAMIKA MAKASSAR


T.A 2017/2018
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis ucapakan atas kehadirat Allah swt. atas segala ridho dan karunia-Nya
penulis dapat menyelesaikan makalah. Shalawat serta salam penulis ucapkan kepada Nabi Muhammad
saw. yang telah membawa perubahan yang tak terhingga dalam kehidupan ini.

Tak lupa pula penulis ucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Ibu Lusi Komala Sari sebagai dosen
pembimbing pada mata kuliah Bahasa Indonesia ini yang telah memberikan bimbingan dan arahan
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini berjudul “RETORIKA (SENI BERBICARA)”. Dalam makalah penulis akan membahas mengenai
pengertian retorika, Manfaat dan tujuan mempelajari retorika, Pentingnya seni bicara (Retorika),
mengapa kita perli belajar retorika.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan. Masih banyak terdapat
kekurangan dan kesalahan. Namun demikian, penulis berharap tulisan ini dapat memberi manfaat untuk
pembaca, terutama dalam hal menambah pengetahun tentang Kalimat Efektif. Kritik dan saran yang
bersifat membangun diharapkan untuk penyempurnaan penyusunan makalah di masa yang akan datang.

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menggunakan bahasa sebagai alat berkomunikasi dengan
sesama kita baik melalui bahasa langsung (berbicara) maupun tidak langsung (bahas tulis). Ada berbagai
macam maksud yang hendak kita sampaikan seperti meyakinkan, mempengaruhi, mengajak,
memerintah dan lain-lain. Keberhasilan kita dalam berkomunikasi sangat dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya adalah logos (meyakinkan dengan logika-logika), patos (kejiwaan atau aspek
pisikologi), etos (kepercayaan atau kredibilitas).

Dalam kajian ilmu pengetahuan seni berbicara atau komunikasi ini sering disebut dengan
retorika. Orang yang menguasai ilmu retorika atau memiliki retorika yang bagus dalam berkomunikasi
maka akan lebih mudah menyampaikan maksud dan tujuan dari apa yang dibicarakannya serta terasa
enak didengarkannya dan tidak membuat bosan pendengarnya.

Retorika, bukan hanya ilmu pidato, tetapi meliputi pengetahuan sastra, gramatika, dan
logika.Karena dengan rasio tidak cukup untuk meyakinkan orang, untuk meyakinkan orang lain
memerlukan teknik-teknik memanipulasi emosi dan menggunakan prasangka untuk menyentuh hati
pendengar.

Berbicara telah membedakan manusia dari makhluklain. Dengan berbicara, manusia


mengungkapkan dirinya, mengaturlingkungannya, dan pada akhirnya menciptakan bangunan budya
insane. Lama sebelum lambang-lambang tulisan digunakan, orang sudahmenggunakan bicara sebagai
alat komunikasi. Bahkan setelah tulisan ditemukansekalipun, bicara tetap lebih banyak digunakan. Ada
beberapa kelebihan bicarayang tidak dapat digantikan dengan tulisan. Bicara lebih akrab, lebih
pribadi(personal), lebih manusiawi. Tidak menghenrankan, bila ilmu bicara telah dansedang menjadi
perhatian manusia. Kemampuan bicara bukan saja diperlukan di depan sidang parlemen, dimuka hakim
atau dihadapan massa. Kemampuan ini dihajatkan dalam hampirseluruh kegiatan manusia sehari-hari.
Penelitian membuktikan bahwa 75% waktubangun kita berada dalam kegiatan komunikasi. Kemampuan
bicara bisa merupakat bakat. Tetapi kepandaian bicara yangbaik memerlukan bicara dan latihan. Retorika
sebagai ilmu bicara sebenarnyadiperlukan setiap orang. Bagi ahli komunikasi atau komunikator retorika
adalahcondition sine qua non. Dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa hal tentang retorika
besertaperkembangannya. Dengan uraian historis ini kita ingin mengingatkan bahwaretorika adalah
bidang studi komunikasi yang telah berumur tua, disampingmenujukkan tempatnya yang layak dalam
perkembangan ilmu komunikasi.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka terdapat beberapa rumusan masalah, yaitu:

Apa pengertian retorika?

Apa Manfaat dan tujuan retorika?

Bagaimana pentingnya berbicara retorika?

Mengapa kita perlu belajar retorika?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah dengan judul Bahasa Indonesia Dewasa ini dan diksi adalah:

Memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia dari dosen yang bersangkutan

Untuk mengetahui apa itu retorika.

Untuk mengetahui Manfaat dan tujuan retorika.

Untuk mengetahui Mengapa kita perlu belajar retorika.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Retorika

Kata retorika merupakan konsep untuk menerangkan tiga seni penggunaan bahasa persuasi yaitu
:etos,patos, dan logos.Dalam artian sempit, retorika dipahami sebgai konsep yang berkaitan dan seni
berkomunikasi lisan berdasarkan tata bahasa, logika, dan dialektika yang baik dan benar untuk
mempersuasi public dengan opini.Dalam artian luas, retorika berhubungan dengan diskursus komunikasi
manusia.

Para pakar retorika lainnya adalah Isocrates dan Plato yang kedua-duanya dipengaruhi Georgias dan
Socrates.Mereka ini berpendapat bahwa retorika berperan penting bagi persiapan seseorang untuk
menjadi pemimpin.Plato yang merupakan murid utama dari Socrates menyatakan bahwa pentingnya
retorika adalah sebagai metode pendidikan dalam rangka mencapai kedudukan dalam pemerintahan dan
dalam rangka upaya mempengaruhi rakyat.

Menurut Plato, retorika adalah seni para retorikan untuk menenangkan jiwa pendengar. Menurut
Aristoteles, retorika adalah kemampuan retorikan untuk mengemukakan suatu kasus tertentu secara
menyeluruh melalui persuasi.

Dari simpulan diatas, retorika didefinisikan sebagai seni membangun argumentasi dan seni berbicara
(the art of constructing arguments and speechmaking). Dalam perkembangannya retorika juga
mencakup proses untuk “menyesuaikan ide dengan orang dan menyesuaikan orang dengan ide melalui
berbagai macam pesan”.

B. Tujuan Retorika

Tujuan retorika adalah persuasi, yang dimaksudkan dalam persuasi dalam hubungan ini adalah
yakinnya pendengar akan kebenaran gagasan hal yang dibicarakan pembicara. Artinya bahwa tujuan
retorika adalah membina saling pengertian yang mengembangkan kerjasama dalam menumbuhkan
kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat lewat kegiatan bertutur
Pentingnya Seni Berbicara (Retorika)

Terkadang kita sering tidak sadar seberapa pentingkah berbicara dalam kehidupan kita. Banyak orang
berbicara semaunya, seenaknya tanpa memikirkan apa isi dari pembicaraan mereka tersebut.
Sebenarnya berbicara mempunyai artian mengucapkan kata atau kalimat kepada seseorang atau
sekelompok orang, untuk mencapai tujuan tertentu (misalnya memberikan informasi atau memberi
motivasi). Tapi sering kali kita mengalami kesulitan dalam mengungkapakan maksud dan isi pikiran kita
kepada orang lain. Bahkan sering pula maksud yang kita sampaikan berbeda dengan yang ditangkap oleh
pendengar.

Oleh karena itu berbicara sangatlah penting karena yang membedakan manusia dari hewan
maupun makhluk lainnya adalah kesanggupan berbicara. Manusia adalah makhluk yang sanggup
berkomunikasi lewat bahasa dan berbicara. Tetapi yang lebih mencirikan hakikat manusia sebagai
manusia penuh adalah kepandaian dan keterampilan dalam berbicara. Pengetahuan bahasa saja belum
cukup! Kebesaran dan kehebatan seseorang sebagai manusia juga ditentukan oleh kepandaiannya dalam
berbahasa, oleh keterampilannya dalam mengungkapkan pikiran secara tepat dan meyakinkan. Seni
keterampilan berbicara sering disebut dengan Retorika.

C. Fungsi Retorika

a. Membimbing penutur mengambil keputusan yang tepat.

b. Membimbing penutur secara lebih baik memahami masalah kejiwaan manusia pada umumnya dan
kejiwaan penanggap tutur yang akan dan sedang dihadapi.

c. Membimbing penutur menemukan ulasan yang baik.

d. Membimbing penutur mempertahankan diri serta mempertahankan kebenaran dengan alasan yang
masuk akal.
D. SEJARAH PERKEMBANGAN RETORIKA

Objek studi retorika adalah kehidupan manusia. Kefasihan bicara mungkin pertama kali dipertunjukkan
dalam upacara adat: kelahiran, kematian, lamaran, perkawinan, dan sebagainya. Pidato (retorika)
disampaikan oleh orang yang mempunyai status tinggi. Lewis Copeland dalam kata pengantar bukunya
tentang pidato tokoh-tokoh besar dalam sejarah, mengatakan bahwa”penting sekali diperhatikan adalah
catatan peristiwa yang dramatis, yang seringkali disebabkan oleh para orator hebat.

Uraian sistematis retorika yang pertama diletakkan oleh orang Syracuse, sebuah koloni Yunani di Pulau
Sicilia. Bertahun-tahun koloni itu diperintah para tiran. Tiran, di mana pun dan pada zaman apa pun,
senang menggusur tanah rakyat. Kira-kira tahun 465 SM, rakyat melancarkan revolusi. Diktator
ditumbangkan dan demokrasi ditegakkan. Pemerintah mengembalikan lagi tanah rakyat kepada
pemiliknya yang sah. Untuk mengambil haknya, pemilik tanah harus sanggup meyakinkan dewan juri di
pengadilan. Waktu itu, tidak ada pengacara dan tidak ada sertifikat tanah. Setiap orang harus
meyakinkan mahkamah dengan pembicaraan saja. Sering orang tidak berhasil memperoleh kembali
tanahnya, hanya karena ia tidak pandai bicara. Untuk membantu orang memenangkan haknya di
pengadilan, Corax menulis makalah retorika, yang diberi nama Techne Logon (Seni Kata-kata). Walaupun
makalah ini sudah tidak ada, dari para penulis sezaman, kita mengetahui bahwa dalam makalah itu ia
berbicara tentang “teknik kemungkinan”. Bila kita tidak dapat memastikan sesuatu, mulailah dari
kemungkinan umum. Seorang kaya mencuri dan dituntut di pengadilan untuk pertama kalinya. Dengan
teknik kemungkinan, kita bertanya, “Mungkinkah seorang yang berkecukupan mengorbankan
kehormatannya dengan mencuri? Bukankah, sepanjang hidupnya, ia tidak pernah diajukan ke pengadilan
karena mencuri”. Sekarang, seorang miskin mencuri dan diajukan ke pengadilan untuk kedua kalinya. Kita
bertanya, “la pernah mencuri dan pernah dihukum. Mana mungkin ia berani melakukan lagi pekerjaan
yang sama”. Akhirnya, retorika memang mirip “ilmu silat lidah”.

tahun 427 SM Gorgias dikirim sebagai duta ke Athena. Negeri itu sedang tumbuh sebagai negara yang
kaya. Kelas pedagang kosmopolitan selain memiliki waktu luang lebih banyak, juga terbuka pada
gagasan-gagasan baru. Di Dewan Perwakilan Rakyat, di pengadilan, orang memerlukan kemampuan
berpikir yang jernih dan logis serta berbicara yang jelas dan persuasif. Gorgias memenuhi kebutuhan
“pasar” ini dengan mendirikan sekolah retorika. Gorgias menekankan dimensi bahasa yang puitis dan
teknik berbicara impromtu (kita bahas pada Bab II). Ia meminta bayaran yang mahal; sekitar sepuluh ribu
drachma ($ 10.000) untuk seorang murid saja. Bersama Protagoras dan kawan-kawan, Gorgias berpindah
dari satu kota ke kota yang lain. Mereka adalah “dosen-dosen terbang”.
Sebagaimana Anda ketahui, silogisme terdiri atas tiga premis: mayor, minor, dan kesimpulan. Semua
manusia mempunyai perasaan iba kepada orang yang menderita (mayor). Anda manusia (minor). Tentu
Anda pun mempunyai perasaan yang sama (kesimpulan). Ketika saya ingin mempengaruhi Anda untuk
mengasihi orang-orang yang menderita, saya berkata, “Kasihanilah mereka. Sebagai manusia, Anda pasti
mempunyai perasaan iba kepada orang yang menderita “. Ucapan yang ditulis miring menunjukkan
silogisme, yang premis mayornya dihilangkan. Di samping entimem, contoh adalah cara lainnya. Dengan
mengemukakan beberapa contoh, secara induktif Anda membuat kesimpulan umum. Sembilan
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN