Anda di halaman 1dari 11

KESADARAN HUKUM PENGGUNA DAN PENYEDIA MANGA

SCANLATION TERHADAP HAK CIPTA

A. Latar Belakang Masalah


Manga merupkan istilah komik dari negara Jepang yang memiliki
perbedaan corak dari komik yang berasal dari Amerika, bangsa Jepang sendiri
mengeja Man-Ga atau Ma-ng-ga atau secara harfiah diartikan sebagai “Gambar
yang aneh”.1 Keberadaan manga sangat digemari oleh para fansnya baik dari
kalangan anak-anak maupun sampai kalangan yang sudah dewasa, hingga tidak
jarang di setiap kota-kota besar di Indonesia memiliki komunitas manga yang sering
membuat event regional seperti cosplay vestifal anime dan manga. Sejarah panjang
manga yang berasal dari abad ke- 16 dan nilai ekonomi yang diberikan, membuat
manga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam budaya dan menjadi nilai
perekonomian Jepang. 2
Dalam berkembanya manga di indonesia, para fansnya mempunyai 2
karakter, yang pertama ada yang fans dengan niat dengan sengaja untuk membeli
komik original dan ada pula yang lebih memili membaca lewat web yang
memberikan kebebasan untuk membaca manga dengan secara gratis melalui
website cotohnya mangaku.in, komikid.com, mangacanblog dan lain-lain.

Keberadaan manga dalam bentuk digital memang telah mempermudah


kebutuhan penggemar manga terpenuhi. Apalagi dengan adanya manga
scanlantion3, manga translation merupakan proses scanning “memindai” dan
translation “menerjemahkan” kedalam bahasa yang dibutuhkan oleh para

“sejarah manga (Komik Jepang) diakses dari http://duniagrafiskita.blogspot.com/2012/03/sejarah-


1

manga-komik-jepang.html, pada 30 April 2019, pukul 22.00 WIB.

2
Yonash Asher dan Yoko Sola.”The Manga Phonemenom”, World Intelectual Property
Organization, diakses dari https://www.wipo.int/wipo_magazine/en/2011/05/article_0003.html,
pada 30 April, pukul 22.WIB.
3
Inside scanlation, diakses dari https://www.insidescanlation.com/history/index.html, pada tanggal
30 April 2019 pukul 22 WIB.

1
penggemar di seluruh dunia tampa mengurangi makna dalam bahasa aslinya yang
dapat diakses secara gratis melalui internet. Sayangnya keberadaan manga
scanlation justru sering digunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,
dengan mengedarkan manga di situs-situs tersebut seringkali tidak disertai dengan
kehendak atau perijinan dari mangaka (pengarang). Sebagaimana sifat dan akibat
pembajakan ciptaan, peredaran manga yang telah melalui proses scanning,
translating, dan editing tersebut dapat menimbulkan cidera terhadap hak cipta yang
akan menimbulkan kerugian bagi pengarang dan hanya menguntungkan pemilik
situs serta pembaca saja.

Maraknya peredaran manga didigital melalui situs website tertentu


merupakan suatu fenomena yang lumrah di Indonesia. Pemerintah bahkan telah
mengeluarkan peraturan berupa Undang-Undang Hak Cipta nomor 28 tahun 2014
dan menyantumkan ketentuan pidana yang tegas dalam pasal 113 ayat (1), (2), (3)
dan (4). Walaupun sudah diatur sedemikian rupa dalam undang-undang, faktanya
pelanggaran hak cipta masih marak terjadi dan sulit diatasi. Berdasarkan latar
belakang ini penulis ingin membahas mengenai kesadaran masyarakat terhadap
peredaran manga scanplation di Indonesia dari segi sosiologi hukum.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana kesadaran hukum masyarakat terhadap peredaran manga scanlation?
C. Pembahasan
Kesadaran hukum merupakan kesadaran dalam diri sendiri tanpa tekanan,
paksaan, atau perintah dari luar untuk tunduk pada hukum yang berlaku. kesadaran
yang ada pada setiap manusia tentang apa itu hukum seharusnya itu, kesadaran
hukum merupakan faktor dalam penemuan hukum, Dengan seiringnya kesadaran
hukum di masyarakat maka hukum perlu menjatuhkan sanksi hanya berlaku bagi
masyarakat yang benar-benar melakukan terbukti melanggar hukum. Hukum berisi
tentang perintah dan larangan. Hukum memberikan kepada kita mana yang
bertentangan dengan hukum yang bila dilakukan akan mendapatkan ancaman
berupa sanksi hukum. Terhadap perbuatan yang bertentangan dengan hukum tentu

2
saja dianggap melanggar hukum sehingga mendapat sanksi hukum. Krabbe
menyatakan bahwa sumber segala hukum adalah kesadaran hukum. Dengan begitu
maka yang disebut hukum hanyalah yang memenuhi kesadaran hukum kebanyakan
orang, maka undang-undang yang tidak sesuai dengan kesadaran hukum
kebanyakan orang akan kehilangan kekuatan mengikat.4
Kesadaran hukum menurut Soerjono Soekamto adalah kesadaran hukum
sebenarnya merupakan kesadaran atau nilai-nilai yang terdapat di dalamm diri
manusia tentang hukum yang ada atau tentang hukum yang diharapkan ada.
Sebenarnya yang ditekankan adalah nilai-nilai tentang fungsi hukum dan bukan
suatu penilaian hukum terhadap kejadian-kejadian yang kongkrit dalam masyarakat
yang bersangkutan.5
Adapun menurut Sudikno Mertokusumo sendiri dalam buku Bunga Rampai
Ilmu Hukmum mengatakan : kesadaran hukum adalah kesadaran tentang apa yang
seyogyanya kita lakukan atau perbuat atau yang seyogyanya tidak kita lakukan
atau perbuat terutama terhadap orang lain. Kesadaran hukum mengandung sikap
toleransi.6 Dalam hal ini dapat kita simpulan bahwa kesadaran hukum merupakan
cara pandang masyarakat terhadap suatu hukum, dan suatu sikap akan tindakan
hukum itu sendiri, serta penghormatan terhadap hak hak orang lain.
Paul Scholten juga berpendapat bahwa kesadaran hukum adalah suatu kesadaran
yang ada pada tiap-tiap manusia mengenai apa itu hukum serta apa seharusnya
hukum tersebut. Scholten lebih lanjut berpendapat bahwa kesadaran hukum ini
adalah katagori tertentu dari jiwa kita dalam membedakan antara hukum dan bukan
hukum (onrecht)7

4
Laurensius Arliman S, 2015, Penegakan Hukum Dan Kesadaran Masyarakat, (Yogyakarta:
deepublish), hlm 219.

5
Soejono Soekamto, 1982, Kesadaran Hukum Dan Kepatuhan Hukum, Edisi Pertama, (Jakarta:
Rajawali), hlm. 182

6
Laurensius Arliman hlm 219.
7
Apa itu kesadaran hukum, diakses dari https://brainly.co.id/tugas/3494546, pada tanggl 1 mei 2019
pukul 17.30 WIB

3
Ada sementara anggapan yang menyatakan, bahwa kesadaran hukum bukan
merupakan suatu penilaian hukum terhadap peristiwa-peristiwa kongkrit.
Kesadaran hukum merupakan suatu penilaian terhadap apa yang dianggap sebagai
hukum yang baik dan atau hukum yang tidak baik. Penilaian terhadap hukum
tersebut meliputi penilaian apakah hukum tersebut adil atau tidak adil. Jadi,
kesadaran hukum tersebut merupakan suatu proses pshikis yang terdapat dalam diri
manusia, yang mungkin timbul dan mungkin pula tidak timbul, akan tetapi tentang
azaz kesadaran hukum itu terdapat pada setiap manusia, oleh karena itu manusia
mempunyai rasa keadilan.8 Adapun kesadaran hukum dibagi menjadi dua macam
kesadaran hukum, yaitu:
a. Legal conscious as within the law, kesadaran hukum sebagai kekuatan
hukum, berada dalam hukum, sesuai dengan aturan hukum, yang
disadari atau dipahami;
b. Legal consciousness as agains the law, kesadaran hukum dalam wujud
menentang hukum atau melanggar hukum
Didalam kenyataan ketaatan terhadap hukum tidaklah sama dengan ketaatan
sosial lainnya, ketaatan hukum merupakan kewajiban yang harus ditaati dan apabila
tidak dilaksanakan akan timbul sanksi. Ketaatan sendiri menurut H. C Kelman
dalam buku Ahmad Ali “Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori
Peradilan (Judical Prudence) Termasuk Interprestasi Undang-Undang
(Legisprudence)” dapat dibedakan menjadi tiga jenis :9
a. Ketaatan yang bersifat compliance, yaitu jika seseorang menaati suatu
aturan, hanya karena takut terkena sanksi. Kelemahan ketaatan jenis ini,
karena membutuhkan pengawasan yang terus menerus.
b. Ketaatan yang bersifat identification, yaitu jika seseorang menantaati
suatu aturan, hanya karena takut hubungan baiknya dengan pihak lain
menjadi rusak.

8
Soerjono Soekamto, 1989, Suatu Tinjauan Sosiologi Terhadap Masalah-Masalah Sosial,
(Bandung : PT. Citra Aditya Bakti,), hlm, 197
9
Baso Madiong, 2014, Sosiologi Hukum (Suatu Pengantar), Makassar : CV Sah Media Makassar),
hlm,91

4
c. Ketaatan yang bersifat Internalization, yaitu jika seseorang menaati
suatu aturan, benar-benar karena merasa bahwa aturan sesuai dengan
nilai-nilai intristik.
Kesadaran hukum pada masyarakat bukanlah merupakan proses yang sekali jadi
melaikan merupakan suaru rangkaian proses yang terjadi tahap demi tahap sebagai
berikut :10
1. Tahap pengetahuan hukum
Dalam tahap ini merupakan pengetahuan seseorang berkenaan dengan
prilaku tertentu yang diatur oleh hukum tertulis, yakni tentang apa yang
dilarang atau apa yang dibolehkan
2. Tahap pemahaman hukum
Yang dimaksud adalah seseorang mengenai isi dari aturan hukum
(tertulis), yakni mengenai isi, tujuan, dan manfaat dari peraturan
tersebut.
3. Tahap sikap hukum (legal attitude)
Merupakan suatu kecenderungan untuk menerima atau menolak hukum
karena adanya penghargaan atau keinsyafan bahwa hukum tersebut
bermanfaat atau tidak bermanfaat bagi kehidupan manusia. Dalam hal
ini sudah ada elemen apresisi terhadap aturan hukum
4. Tahap pola prilaku hukum
Yang dimaksud adalah tentang berlakunya atau tidaknya suatu aturan
hukum dalam masyarakat. Jika berlaku suatu aturan hukum, sejauh
mana berlakunya dan sejauh mana masyarakat mematuhinya.

Kesadaran hukum berlaku juga terhadap berbagai isu hukum salah satunya
mengenai hak cipta. Dalam hak cipta dikenal ada dua hak, yaitu hak ekonomi
(economic right) dan hak moral (moral right). Hak ekonomi adalah hak untuk
mendapatkan segala kemanfaatan secara ekonomis atas ciptaan serta produk hak

Ellya Rosana’,Kepatuhan Hukum Sebagai Wujud Kesadaran Hukum Masyarakat, Jurnal TAPIs
10

Vol.10 No.1, juni 2014, hlm,7

5
terkait. Hak moral adalah hak yang melekat pada diri pencipta atau pelaku yang
tidak dapat dihilangkan atau dihapus dengan alasan apapun walapun hak cipta atau
terkait tersebut telah dialihkan. Dalam hak cipta terdapat hak ekslusif yang berarti
bahwa hak tersebut hanya diberikan kepada pencipta dan tidak diberikan selain
kepada pecipta. Hak-hak tersebut meliputi :
a. Hak untuk mengumumkan
b. Hak untuk memperbanyak
Dari prinsip ekslusif tersebut maka pihak lain yang melaksanakan ciptaan dan
mengambil manfaat ekonomi dari ciptaan tersebut harus mendapatkan izin yang
bersangkutan. Oleh karena itu, para pelaku manga scanlation harus mempunyai
lisensi sebagai penyebar informasi digital yang berisikan konten manga yang telah
mempunyai hak cipta.
Dengan maraknya keberadaan manga scanlation menurut CODA (Conten
Overseas Distribution Association) alias asosiasi yang mengurus soal sirkulasi
konten digital di luar Jepang, mereka telah melapor ke pemerintahan Jepang kalau
antara bulan September 2017 hingga Februari 2018 saja, nilai kerusakan yang
disebabkan oleh pembajakan manga digital mencapai nominal tidak kurang dari
400 miliar Yen atau sekitar US$ 3,72 miliar, kalau di rupiahkan sampai Rp 41 ribu
triliun.11
Manga scanlation merupakan pembajakan yang memiliki keunikan tersendiri
dibandingkan pembajakan konvensional, barang yang dihasilkan pembajakan
manga scanlation di internet bukan berupa barang fisik nyata (intangible),
melainkan hanya merupakan serangkaian informasi atau data yang hanya dapat
diakses dan dinikmati melalui perangkat komputer. Keuntungan dari pembajakan
manga scanlation bukanlah berupa barang-barang yang diperoleh berupa uang
tunai atau melalui proses jual beli seperti barang-barang hasil pembajakan secara
konvensional. Keuntungan ekonominya didapat oleh pelaku pembajakan melalui

11
Pemerintah Jepang mengambil langkah keras untuk mengatasi pembajakan produk manga di
internet dengan melibatkan penyedia jasa jaringan internet, diakses dari
https://www.brilio.net/creator/atasi-pembajakan-manga-pemerintah-jepang-gandeng-provider-
internet-23ea63.html pada 1 mei pukul 24.00 WIB

6
display advertising12 yang mereka pasang pada situs-situs mereka.13 Oleh sebab itu
tidak heran apabila beredarnya situs-situs manga translation sangat marak kita
jumpai, ditambah lagi dengan kemudahan dan selalu up to date membuat pembaca
sangat gemar untuk membaca manga secara ilegal di internet.

Berdasarkan empat tahap dari teori kesadaran hukum (Pengetahuan,


Pemahaman, Sikap hukum, Pola prilaku) dalam wawancara dengan beberapa
pengguna situs manga scan di website “Mangaku” mereka sudah memahami akan
tindakan bahwa itu merupakan kegiatan ilegal, Meskipun negara sudah mengatur
Hak Cipta didalam undang undang 28 tahun 2014, namun pengguna manga scan
masih tetap menggunakannya karena tidak ada sanksi yang jelas mengenai mereka
seccara langsung sehingga pembaca merasa “aman” sehingga tidak ragu-ragu untuk
melakukan kegiatan yang ilegal. Dalam kondisini ini menunjukkan jika sikap
hukum dan pola prilaku masih sangat diabaikan oleh masyarakat sehingga pola
prilaku hukum menjadi tidak teratur.
Maraknya manga scan di beberapa situs di intenet menurut penulis disebabkan
oleh tiga faktor (1) faktor hukum, (2) faktor budaya, dan (3) faktor ekonomi. Segi
faktor hukum pada dasarnya untuk melindungi kepentingan masyarakat pada
keseluruhan. Namun faktanya dalah UU Hak Cipta masih belum bisa melindunngi
seluruh kepentingan masyarakat itu sendiri, hal itu dapat dilihat dari sifatnya UU
Hak Cipta itu sendiri merupakan berbentuk “delik aduan” yang mana dijelaskan
dalam pasal 120 yang berbunyi “tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam
Undang-Undang ini merupakan delik Aduan”, yang mana memberikan
konsekuensi bahwa hukum ini dapat di tindak lanjuti apabila dari pihak pemilik
cipta ini mengadu, apabila ia tidak mengadu maka hukum tidak dapat ditindak

12
Display ad adalah bemtuk periklanan yang menampilkan objek visual seperti teks, logo, foto,
gambar dan vidio, diakses dari http://blog.idkeyword.com/mengenal-apa-itu-display-advertising/
pada tanggal 1 mei pukul 23.30 WIB.

13
Andika Satyakusuma B, skripsi: “Legal Eksistensi Manga-Scanlation “One Piece” Dan
Perlindungan Hak Cipta Yang Diberikan Terhadap Komik “One Piece” Terbitan PT Elex Media
Komputindo Ditinjau Dari Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014” (yogyakarta: UGM
Yogyakarta, 2016), hlm. 4.

7
lanjuti. Sehingga menyebabkan pihak aparat tidak bisa menjerat para pelaku
pelanggaran dalam Hak Cipta.
Segi faktor budaya, penulis telah meneliti dari beberapa narasumber pembaca
manga scan, mereka mengaku lebih suka menanti terbitan terbaru setiap mingguan
dari pada harus menunggu hasil cetak dari manga yang bisa 6 bulan sekali baru bisa
menikmati bentuk cetakan yang resmi. Dengan beredarnya manga scan di website
meraka merasa ada kepuasan tersendiri yang membantu mereka bisa selalu up to
date dari penggemar-penggemar yang lainnya. Masyarakat disini banyak yang
telah sadar akan perbuatan ilegalnya namun lebih memilih untuk
mengenyampingkan peraturan demi tercapai kepuasan untuk mengikuti trend
dalam komunitas pecinta manga.
Segi faktor ekonomi dapat dilihat dari adanya hak ekslusif dari UU Hak Cipta
yakni pencipta berhak mendapatkan segala kemanfaatan secara ekonomis atas
ciptaan serta produk hak terkait, oleh sebab itu pelaku manga translation tidak
berhak untuk mendapatkan keuntungan dari situs website yang mereka gunakan
untuk penggandaan satu salinan ciptaan untuk mendapatkan suatu manfaat
ekonomis dari hasil cipta tersebut tampa perizinan dari penciptanya. Dan untuk
pembaca situs website dari manga scan sangat diutungkan karena mereka mungkin
hanya mendapatkan iklan dari display advertising yang berada di website yang bisa
mereka skip untuk melanjutkan membaca manga kegemaran mereka dengan gratis
tanpa dipungut biaya sepersenpun. Ketiga faktor di atas saling berhubungan satu
sama lain dan memberikan kontribusi bagi bekerjanya hukum itu sendiri di mana
akibat ketiga faktor ini pembajakan digital hak cipta terjadi. Apabila pelanggaran
telah terjadi maka yang harus menjadi perhatian kemudian adalah bagaimana
penegakan hukum bekerja untuk memperbaiki keadaan ini.
Penegakan hukum dapat terlaksana dengan baik jika sistem hukumnya
berjalan dengan baik. Adapun unsur sistem hukum yang harus terpenuhi menurut
Lawrence Friedman14 terdiri dari (1) struktur hukum (legal structure), (2) substansi
hukum (legal substance), dan (3) budaya hukum (legal culture). UU Hak Cipta

14
Ahmad Muliadi, Politik Hukum, (Padang : Akademia Permata, 2013), hlm. 100

8
sebagai bentuk penegakan hukum atas pelanggaran Cipta dalam penerapannya
harus memperhatikan ketiga unsur tersebut. (1) Secara substansi, dalam UU Hak
Cipta terdapat pasal yang belum mencerminkan kepastian terhadap pihak yang
terlibat dalam pembajakan digital. Tidak adanya pengaturan mengenai ketentuan
sanksi terhadap pengguna manga scan di website menjadi salah satu contohnya.
Kemudian Pasal 120 yang mengatur mengenai delik aduan juga merugikan cipta
yang tidak melapor karena tidak tahu cara mengatasi pembajakan digital dan
mengetahui dimana keberadaan pembajak digital tersebut (2) Secara struktur
hukum, para penegak hukum sebagai bagian dari kelembagaan hukum yang
bertugas melindungi hak-hak pemilik cipta harus mampu menjalankan fungsinya
dengan baik sehingga memberikan rasa aman dan puas bagi pemilik resmi suatu
cipta. (3) Budaya Hukum berkaitan dengan pandangan, kebiasaan masyarakat,
perilaku, dan tanggapan masyarakat terhadap hukum. Sampai saat ini faktanya
masyarakat masih belum menyadari sepenuhnya mengenai penggunaan manga
scan adalah tindakan yang melanggar hukum dan merugikan pihak tertentu yang
seharusnya memperoleh hak-haknya. Ketaatan masyarakat akan beredarnya
pembajakan digital melalui website masih belum bisa diterapkan, dikarenakan
masih belum ada sanksi yang jelas sehingga pelaku menjadi jera. Sehingga dari
ketiga jenis ketaatan (bersifat compliance,bersifat identification, bersifat
internalization) ketaatan masih belum bisa tercapai sehingga UU Hak Cipta masih
belum bisa menjalankan tugasnya untuk melindungi hak hak lainnya.
D. Kesimpulan
Berdasarkan uraian pembahasan yang penulis jabarkan sebelumnya, penulis
membuat suatu kesimpulan bahwa kesadaran hukum masyarakat terhadap
peredaran manga scanlation di website online adalah legal consticious as
against the law, yaitu keadaan di mana masyarakat memahami keberadaan UU Hak
Cipta dan mengetahuai bahwa manga scan merupakan perbuatan yang ilegal namun
cenderung tidak menaati aturan mengenai Hak Cipta yang telah diatur dalam UU
Cipta. Dalam kesadaran hukum ini, masyarakat cenderung mengabaikan hukum
yang ada (UU Cipta). Agar kesadaran hukum masyarakat dapat ditingkatkan
menjadi positif maka dibutuhkan kesadaran dari dalam diri masyarakat untuk

9
mematuhi hukum tanpa harus selalu diawasi dan para penegak hukum hendaknya
melakukan pembaharuan hukum atas peraturan yang belum dapat melindungi hak-
hak masyarakat sepenuhnya.

DAFTAR PUSTAKA

Buku
Arliman S, Laurensius. 2015. Penegakan Hukum Dan Kesadaran
Masyarakat. Yogyakarta: deepublish.

Madiong, Baso. 2014. Sosiologi Hukum (Suatu Pengantar). Makassar : CV


Sah Media Makassar.

Muliadi, Ahmad. 2013. Politik Hukum. Padang : Akademia Permata

Soekamto, Soejono. 1982. Kesadaran Hukum Dan Kepatuhan Hukum,


Edisi Pertama. Jakarta: Rajawali.

Soekamto, Soerjono. 1989. Suatu Tinjauan Sosiologi Terhadap Masalah-


Masalah Sosial. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti.

SKRIPSI

Andika Satyakusuma B. 2016. Skripsi. “Legal Eksistensi Manga-Scanlation


“One Piece” Dan Perlindungan Hak Cipta Yang Diberikan Terhadap Komik “One
Piece” Terbitan PT Elex Media Komputindo Ditinjau Dari Undang-Undang
Nomor 28 Tahun 2014”. Yogyakarta: UGM Yogyakarta.

INTERNET JURNAL
Ellya Rosana’. 2014. Jurnal. Kepatuhan Hukum Sebagai Wujud Kesadaran
Hukum Masyarakat, Jurnal TAPIs

10
INTERNET

Berliyanto. 2014. Mengenal Apa itu Display Adversiting di Dunia Online.


Diambil dari: http://blog.idkeyword.com/mengenal-apa-itu-display-advertising/ . (1
Mei 2019)

Brainly, Apa itu kesadaran hukum. diakses dari:


https://brainly.co.id/tugas/3494546, (1 mei 2019)

Brilio.net, Pemerintah Jepang mengambil langkah keras untuk mengatasi


pembajakan produk manga di internet dengan melibatkan penyedia jasa jaringan
internet, diakses dari :https://www.brilio.net/creator/atasi-pembajakan-manga-
pemerintah-jepang-gandeng-provider-internet-23ea63.html (1 mei 2019)

Inside scanlation. diakses dari:


https://www.insidescanlation.com/history/index.html, pada tanggal (30 April 2019)

Otaku Ngeblog, Sejarah manga (Komik Jepang). 2012. diakses dari:


http://duniagrafiskita.blogspot.com/2012/03/sejarah-manga-komik-jepang.html.
(30 April 2019)
Yonash Asher dan Yoko Sola. 2011. ”The Manga Phonemenom”, World
Intelectual Property Organization. diakses dari:
https://www.wipo.int/wipo_magazine/en/2011/05/article_0003.html, (30 April
2019)

11