Anda di halaman 1dari 2

TUGAS KHIR 4

Nama : Sandi Riswana, S.Pd


No. Peserta : 19021222010379
Guru : PJKR

PERTANYAAN :

1. Pendidikan Jasmani dapat meningkatkan stabilitas sosial-psikologis dan memainkan


peran dalam menggairahkan hidup sehari-hari, demikian juga jika Pendidikan Jasmani
dilakukan secara aktif dapat mengatasi kecemasan dan keteganggan mental dalam
menjalani kehidupan ditengah masyarakat modern saat ini yang serba kompetitif.
Bagaimana implementasi yang harus diwujudkan oleh guru PJOK dalam tantangan
tersebut dalam tugasnya sehari-hari?

2. Olahraga yang terkelola secara baik atau paripurna mampu berperan bukan hanya
sebagai bagian dari budaya tetapi juga sebagai media pengembangan budaya luhur
masyarakat, meningkatkan kepercayaan diri, mengembangkan etika, menepis
diskriminasi gender, serta menekan kecemasan dan membangkitkan motivasi diri.
Berikan argumentasi secara singkat, jelas dan lugas kenapa hal tersebut dapat terjadi
dan bagaimana cara melakukannya?

PENJELASAN :

1. Kegairahan, ketegangan, dan kecemasan merupakan suatu kondisi yang terjadi dalam
kehidupan dan tidak terhindarkan pula pada suatu aktifitas jasmani dan olahraga. Dalam
olahraga kompetitif kegairahan, ketegangan, dan kecemasan memegang peranan penting
terhadap penampilan atlet. Kegairahan memiliki kecenderungan positif dan ketegangan
serta kecemasan memiliki kecenderungan yang negatif.
Para pelaku olahraga seperti pelatih, atlet, guru pendidikan jasmani, penonton olahraga
harus mengetahui teori – teori yang berhubungan dengan kegairahan, ketegangan, dan
kecemasan sehingga dapat mencari dan menemukan solusi yang dibutuhkan untuk
mencapai penampilan yang terbaik. Guru harus mampu memberikan Kondisi psikologis
yang menunjang untuk berprestasi diantaranya: motivasi tinggi, aspirasi kuat, ketahanan
mental, kematangan pribadi. Guru juga harus mampu mengatasi kondisi psikologis yang
dapat mengganggu penampilan atau prestasi diantaranya kecemasan, motivasi rendah,
obsesi, gangguan emosional, keraguan

Kecemasan (stress) adalah tekanan atau sesuatu yang terasa menekan dalam diri
seseorang. Perasaan tertekan ini timbul karena banyak faktor yang berasal dari dalam diri
sendiri atau dari luar. Kecemasan adalah reaksi situasional terhadap berbagai rangsang
stress (ketegangan). Rasa cemas yang dialami siswa atau atlet ketika berada di dalam
kompetisi olahraga merupakan peristiwa yang tidak dapat dihindari. Atlet yang
mengalami Rasa cemas yang dialami siswa atau atlet ketika berada di dalam kompetisi
olahraga merupakan peristiwa yang tidak dapat dihindari. Atlet yang mengalami
kecemasan, motivasi rendah, obsesi, gangguan emosional, keraguan. Kondisi psikologis
yang mengganggu penampilan seorang atlet diantaranya kecemasan. Sumber kecemasan
dapat dibedakan atas dua macam yaitu:

(1) Sumber kecemasan dari dalam diri,


(2) sumber kecemasan dari luar diri.
Teknik untuk mengatasi atau mengurangi rasa kecemasan tersebut
penjelasannya sebagai berikut; pemusatan perhatian (Centering), pengaturan
pernapasan, relaksasi otot secara progresif, pencarian sumber kecemasan,
pembiasaan dan teknik penanganan individu

2. Tinjauan Olahraga Pada Aspek Etika dan Isu Diskriminasi Gender

 Tinjauan Olahraga Pada Aspek Etika :


Lima aspek penting yang memunculkan nilai etika dan moral dalam kegiatan olahraga:
(1) justice and aquality (keadilan dan persamaan),
(2) self -respect (penghormatan pada diri sendiri),
(3) respect for others (penghormatan pada orang lain),
(4) respect for rulesand authority (penghormatan pada peraturan dan atasan), dan
(5) a sense of perspective or relative values (kesadaran akan sudut pandang nilai atau
nilai terkait) (Freeman, 1982)

 Isu Diskriminasi Gender


Isu diskriminasi gender dalam olahraga hakekatnya berakar dari sistem patriarchat.
Mitos-mitos fisiologi diatas sebenarnya tidak beralasan bagi wanita untuk tidak
berpartisipasi dalam aktivitas olahraga. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang semakin pesat sekarang ini memungkinkan seluruh bentuk aktivitas olahraga yang
selama ini dimainkan oleh kaum laki-laki juga dapat dimainkan oleh wanita.
Contohnya :
Dalam permainan sepak bola sekarang ini bukan hanya dilakukan oleh kaum laki-laki
akan tetapi oleh kaum wanita bahkan dinegara kita pun permainan tersebut masuk dalam
kompetisi ajang internasional. Hal ini menggambarkan bahwa diskriminasi gender ini
hanyalah sebagai mitos fisiologi saja.