Anda di halaman 1dari 10

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/296704567

Meningkatkan Profesionalisme Guru: Sebuah Harapan

Article · January 2004


DOI: 10.21831/jep.v1i2.665

CITATIONS READS
3 8,855

1 author:

Ali Muhson
Universitas Negeri Yogyakarta
14 PUBLICATIONS   58 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Create new project "Meningkatkan Profesionalisme Guru: Sebuah Harapan" View project

Create new project "KOPERASI SEKOLAH SEBAGAI WADAH PENGEMBANGAN KARAKTER SISWA" View project

All content following this page was uploaded by Ali Muhson on 04 March 2016.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


Meningkatkan Profesionalisme Guru: Sebuah Harapan-- Ali Muhson

MENINGKATKAN PROFESIONALISME GURU:


SEBUAH HARAPAN

Oleh: Ali Muhson


(Staf Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta)

The teacher professionalism had to be improved because the


teacher had the important roles to improve human resources quality.
The several efforts can be done by the teacher is understanding the
minimum standard of the profession, completing the teacher
qualifications and competencies, creating the good partnership,
improving the service-based working, and improving the creativity in
use the very latest information and communication technologies. The
improving of the teacher welfare supported the several efforts to
improve the teacher professionalism.
Key Words: Teacher Professionalism, Teacher Welfare

A. Latar Belakang Masalah atas Indonesia, seperti Filipina (urutan


Pembangunan ekonomi yang telah 77), Thailand (urutan 70), Malaysia
digalakkan selama ini tidak akan mampu (urutan 59), Brunei Darussalam (urutan
berjalan dengan lancar bila kualitas 32), dan Singapura (urutan 25). HDI
sumber daya manusia yang ada tidak adalah indeks campuran yang
memadai. Betapa pun banyaknya merupakan ukuran rata-rata prestasi
kekayaan alam yang dimiliki suatu penting atas tiga dimensi dasar dalam
negara bila sumber daya yang dimilikinya pengembangan atau pembangunan
tidak mampu memanfaatkan kekayaan manusia, yaitu a long and healthy life,
tersebut maka pertumbuhan negara pengetahuan (knowledge), dan
tersebut tidak akan dapat berjalan kelayakan standar hidup (a decent
dengan optimal. Untuk itu pembangunan standard of living) (Kompas, 1 Mei 2003).
sumber daya manusia menjadi penentu Guna meningkatkan sumber daya
utama dalam mendukung pembangunan manusia, pendidikan memiliki peran dan
nasional. tugas yang sangat strategis. Melalui
Posisi kualitas sumber daya manusia pendidikan manusia akan belajar
Indonesia bila dibandingkan dengan memahami hidup dan mampu
negara lain cukup memprihatinkan. merencanakan hidupnya di masa yang
Menurut Laporan Pengembangan akan datang dengan matang. Driyarkara
Manusia (Human Development Report) (1980: 87) mengemukakan bahwa
UNDP tahun 2002 mengungkapkan pendidikan pada hakikatnya adalah suatu
bahwa nilai Human Development Index perbuatan fundamental dalam bentuk
(HDI) untuk Indonesia tahun 2000 komunikasi antarpribadi, dan dalam
adalah 0,684 yang menempati ranking komunikasi tersebut terjadi proses
110 di bawah Vietnam. Negara-negara pemanusiaan manusia, muda, dalam arti
ASEAN lain mendapatkan urutan jauh di proses hominisasi (proses menjadikan

90 Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2004


Meningkatkan Profesionalisme Guru: Sebuah Harapan-- Ali Muhson

seseorang sebagai manusia) dan meningkatkan profesionalitas guru agar


humanisasi (proses pengembangan mampu meningkatkan kualitas sumber
kemanusiaan manusia). Dengan daya manusia Indonesia.
demikian, pendidikan harus membantu
orang agar seseorang secara tahu dan B. Konsep Profesionalisme
mau bertindak sebagai manusia dan Profesionalisme merupakan paham
bukan hanya bertindak secara instinktif yang mengajarkan bahwa setiap
saja. pekerjaan harus dilakukan oleh orang
Guru sebagai pihak yang terlibat yang profesional. Orang yang profesional
langsung dalam proses pembelajaran di itu sendiri adalah orang yang memiliki
kelas, memiliki peran yang sangat vital profesi. Muchtar Luthfi (1984: 44)
dalam meningkatkan kualitas anak menyebutkan bahwa seseorang disebut
didiknya. Keberhasilan proses pendidikan memiliki profesi bila ia memenuhi kriteria
dapat dikatakan sangat tergantung pada sebagai berikut:
peran guru di sekolah. Oleh karena itu 1. Profesi harus mengandung keahlian,
kita tidak dapat mengabaikan begitu saja artinya suatu profesi itu mesti
peran dan arti penting guru dalam ditandai oleh suatu keahlian yang
meningkatkan kualitas sumber daya khusus untuk profesi itu. Keahlian itu
manusia Indonesia. diperoleh dengan cara mempelajari
Melihat peran dan posisi strategis secara khusus karena profesi
yang dihadapi guru dalam meningkatkan bukanlah sebuah warisan.
kualitas sumber daya manusia tersebut, 2. Profesi dipilih karena panggilan hidup
maka sudah selayaknya jika guru dan dijalani sepenuh waktu. Profesi
senantiasa meningkatkan kemampuan juga dipilih karena dirasakan sebagai
profesionalnya dalam menjalankan tugas kewajiban sepenuh waktu,
dan kewajibannya. Artinya agar kualitas maksudnya bukan bersifat part time.
anak didiknya meningkat, kualitas guru 3. Profesi memiliki teori-teori yang baku
juga perlu ditingkatkan. Akan tetapi secara universal. Artinya, profesi itu
kenyataan menunjukkan bahwa kualitas dijalani menurut aturan yang jelas,
guru yang ada cenderung kurang dikenal umum, teori terbuka dan
memuaskan. Rendahnya kompetensi dan secara universal pegangannya itu
kualifikasi guru diungkapkan oleh diakui.
Muhammad Ali dengan menunjukkan 4. Profesi adalah untuk masyarakat,
sejumlah angka. Pada jenjang SD negeri, bukan untuk diri sendiri.
misalnya, dari satu juta lebih guru, masih 5. Profesi harus dilengkapi dengan
ada yang berlatar belakang pendidikan kecakapan diagnostik dan
SLTP. Untuk tingkat SLTP negeri, dari kompetensi aplikatif. Kecakapan dan
hampir 300.000 guru, separuhnya di kompetensi itu diperlukan untuk
bawah sarjana. Adapun SMK negeri, 50 meyakinkan peran profesi itu
persen gurunya juga di bawah sarjana. terhadap kliennya.
Kondisi sekolah-sekolah swasta jauh 6. Pemegang profesi memiliki otonomi
lebih parah (Kompas, 13 November dalam melakukan tugas profesinya.
2003). Melihat kondisi tersebut perlu Otonomi ini hanya dapat diuji atau
dilakukan upaya-upaya yang nyata dalam dinilai oleh rekan-rekannya seprofesi.

Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2004 91


Meningkatkan Profesionalisme Guru: Sebuah Harapan-- Ali Muhson

7. Profesi mempunyai kode etik yang harus didahului oleh diagnosis. Jadi,
disebut dengan kode etik profesi. kecakapan diagnostik memang tidak
8. Profesi harus mempunyai klien yang dapat dipisahkan dari kewenangan
jelas, yaitu orang yang aplikatif, seseorang yang tidak mampu
membutuhkan layanan. mendiagnosis tentu tidak berwenang
Berdasarkan kriteria tersebut, maka melakukan apa-apa terhadap kliennya.
tidak semua pekerjaan dapat dikatakan Keenam, pemegang profesi memiliki
sebagai sebuah profesi. Pekerjaan dapat otonomi dalam melakukan profesinya.
dikatakan sebagai sebuah profesi jika Otonomi ini hanya dapat dan boleh diuji
memenuhi 10 kriteria profesi. Pertama, oleh rekan-rekan seprofesinya, tidak
profesi harus memiliki suatu keahlian boleh semua orang berbicara dalam
yang khusus, keahlian tidak dimiliki oleh semua bidang. Maksudnya bukan tidak
profesi lain dan harus diperoleh dengan boleh berbicara sama sekali, akan tetapi
cara mempelajari secara khusus. Kedua, yang tidak dapat dibicarakan oleh semua
profesi harus diambil sebagai pemenuhan orang adalah teori-teorinya.
panggilan hidup. Oleh karena itu profesi Ketujuh, profesi hendaknya
dikerjakan sepenuh waktu. mempunyai kode etik. Gunanya adalah
Ketiga, profesi memiliki teori-teori untuk dijadikan pedoman dalam
yang baku secara universal. Artinya melakukan tugas profesi. Kode etik ini
profesi itu dijalani menurut teori- tidak akan bermanfaat bila tidak diakui
teorinya. Teori harus baku maksudnya oleh pemegang profesi dan juga oleh
teori itu bukan teori sementara. Jika masyarakat. Kode artinya aturan, etis
teorinya tidak baku maka kita dapat artinya kesopanan. Akan tetapi dalam
mengatakan bahwa "profesi" itu belum penerapannya kode etik tidak hanya
memenuhi syarat untuk disebut profesi. berfungsi sebagai aturan kesopanan.
Keempat, profesi adalah untuk Pelanggaran kode etik dapat dituntut ke
masyarakat, bukan untuk diri sendiri. pengadilan.
Maksudnya ialah profesi itu merupakan Kedelapan, profesi harus mempunyai
alat dalam mengabdikan diri kepada klien yang jelas. Klien di sini maksudnya
masyarakat, bukan untuk kepentingan adalah pemakai jasa profesi. Pemakai
diri sendiri seperti untuk mengumpulkan jasa profesi kedokteran adalah orang
uang atau mengejar kedudukan. sakit atau orang yang tidak ingin sakit.
Kelima, profesi harus dilengkapi Klien guru adalah siswa.
dengan kecakapan diagnostik dan Kesembilan, profesi memerlukan
kompetensi aplikatif. Kecakapan organisasi profesi. Gunanya adalah untuk
diagnostik sudah jelas kelihatan pada keperluan meningkatkan mutu profesi itu
profesi kedokteran. Akan tetapi kadang sendiri. Organisasi ini perlu menjalin
kala ada profesi yang kurang jelas kerja sama, umpamanya dalam bentuk
kecakapan diagnostiknya. Hal ini tentu pertemuan profesi secara periodik,
disebabkan oleh belum berkembangnya menerbitkan media komunikasi seperti
teori dalam profesi itu. Kompetensi jurnal, majalah, buletin, dan sebagainya.
aplikatif adalah kewenangan Melalui media itu teori-teori baru
menggunakan teori-teori yang ada di dikomunikasikan kepada rekan seprofesi.
dalam keahliannya. Penggunaan itu Banyak hal yang dapat dan sebaiknya

92 Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2004


Meningkatkan Profesionalisme Guru: Sebuah Harapan-- Ali Muhson

dilakukan oleh organisasi tersebut untuk profesi yang sarat dengan unsur
kepentingan profesi mereka. pengabdian belaka, sehingga dipandang
Kesepuluh, mengenali hubungan kurang layak untuk menuntut
profesinya dengan bidang-bidang lain. penghargaan-penghargaan yang lain.
Sebenarnya tidak ada aspek kehidupan Namun di sisi lain, guru juga seorang
yang hanya ditangani oleh satu profesi. manusia yang memiliki kebutuhan,
Profesi pengobatan bersangkutan erat keluarga, dan tanggung jawab yang lain.
dengan masalah-masalah Mereka juga membutuhkan biaya untuk
kemasyarakatan, ekonomi, agama, dapat hidup dengan "wajar" di tengah-
bahkan dengan politik. Oleh karena itu, tengah lingkungan masyarakatnya. Untuk
dokter harus mengetahui kaitan itu sudah selayaknya bila kesejahteraan
profesinya dengan profesi lain tersebut. guru juga perlu mendapatkan perhatian
Kecenderungan spesialisasi agar mereka mampu bekerja secara
hendaknya dibatasi pada pendalaman profesional sebagaimana yang dituntut
untuk meningkatkan teori-teori dalam oleh sebuah profesi.
profesinya. Hal ini tidak diartikan "hanya
berkewajiban mengetahui teori-teori C. Guru dan Masalahnya
dalam profesinya". Spesialisasi yang tidak Guru adalah suatu profesi yang titik
mengenal apa-apa yang ada di beratnya berfungsi sebagai sumber dan
lingkungannya bukanlah profesi karena orang yang menyediakan pengetahuan
spesialisasi seperti itu tidak akan mampu bagi anak didiknya. Oleh sebab itu
melayani kliennya. Kliennya adalah objek bagaimana seorang guru memainkan
yang tidak terlepas dari lingkungannya peranan penuh dengan memberikan
(Ahmad Tafsir, 1992: 108-112). pengetahuan atau keterampilan, agar
Suatu pandangan yang lebih praktis pengetahuan atau keterampilan yang
menyatakan bahwa seorang yang dimilikinya tersebut dapat ditransferkan
profesional dalam suatu profesi tertentu kepada anak didiknya. Dalam arti logika
menghasilkan pemikiran-pemikiran anak didiknya memiliki pengetahuan
tertentu dan karya yang kuat didasarkan yang dimiliki gurunya. Hal tersebut
pada suatu sistem pengetahuan yang tergantung pada berhasil tidaknya
telah dibakukan oleh dunia ilmu seorang guru menunaikan tugas dan
pengetahuan, atau masyarakat ilmiah kewajibannya.
dalam bidang studi tertentu (Gema Salah satu keberhasilan guru dalam
Pendidikan: 1993: 1). mengajar ditentukan oleh keberhasilan
Mengacu pada kriteria dan murid-muridnya dalam studi berupa
persyaratan-persyaratan di atas, guru prestasi belajarnya. Guru dapat
juga dapat dikatakan sebagai sebuah dipandang sebagai sutradara sekaligus
profesi. Namun demikian keberadaan sebagai pemain dan penonton. Sebagai
profesi guru dibandingkan dengan profesi sutradara guru hendaknya mampu
lainnya sungguh memprihatinkan, menyusun skenario dan rencana yang
khususnya jika dilihat sisi penghargaan akan dilaksanakan sendiri di saat
yang diterima guru dalam bentuk materi. bertugas sebagai pemain. Sebagai
Memang hal ini cukup ironis, karena di pemain, guru berkewajiban
satu sisi profesi guru dianggap sebagai melaksanakan rencana yang dibuatnya,

Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2004 93


Meningkatkan Profesionalisme Guru: Sebuah Harapan-- Ali Muhson

berinteraksi dalam situasi belajar sesuai dengan aturan pada setiap


mengajar. Sebagai penonton, guru saat.
berkewajiban mengevaluasi proses dan 6. Guru yang baik selalu konsisten.
hasil belajar (MD. Dahlan, 1982: 14). Guru yang baik tidak pernah merasa
Pengertian guru secara etimologi tinggi, rendah, tidak pernah lupa
adalah orang yang pekerjaannya (mata atau membuat kesalahan, tidak
pencahariannya, profesinya) mengajar. pernah menunjukkan sebagian-
Guru dalam arti profesi mempunyai tugas sebagian dan tidak pernah beraneka
mengajar dan mendidik dalam konteks ragam.
pendidikan (belajar-mengajar) sebab 7. Guru yang baik selalu tahu jawaban.
sementara ada guru yang mengajar Guru yang baik mempunyai
menganggap sebagai pekerjaan yang pengetahuan yang lebih banyak
menyenangkan, menyebalkan, dan dibandingkan dengan murid-
menjemukan sehingga perlu dikaji muridnya.
mengenai hakikat guru yang sebenarnya 8. Guru yang baik selalu membantu
(Imam Syafi'ie, 1992: 30). satu sama lain, selalu menjadi
Thomas Gordon, dalam rangka barisan dalam menghadapi anak-
memahami masalah yang dihadapi guru, anak tanpa memperhitungkan
mengemukakan definisi "guru ideal" yang perasaan nilai atau hukuman.
kebanyakan dianut para guru, yaitu Dari kedelapan mitos tersebut, bila
diambil dari mitos umum tentang guru disimpulkan guru yang baik adalah harus
dan pengajaran. Ia mengembangkan 8 lebih baik, lebih mengerti, lebih memiliki
mitos guru yang dianggapnya baik. ilmu pengetahuan, lebih sempurna dari
Kedelapan mitos tersebut adalah: pada anak didiknya. Orang yang
1. Guru yang baik adalah guru yang menganut mitos ini berarti guru dituntut
kalem, tidak pernah berteriak, selalu untuk mengatasi kelemahan manusia itu
bertemperamen baik, selalu tenang, sendiri. Guru dituntut untuk berbuat
dan tidak pernah menunjukkan sesuai dengan idealismenya, sehingga ia
emosi yang tinggi. akan berperan pura-pura sebagai
2. Guru yang baik tidak pernah seorang yang ideal di satu sisi, dan di sisi
berprasangka buruk. Guru yang baik lain ia harus berperan sebagai pribadi
tidak pernah membeda-bedakan ada adanya (Imam Syafi'I, 1992: 32).
anak atas dasar suku, ras dan lain Pandangan lain tentang guru yang
jenis. baik juga dikemukakan oleh Winarno
3. Guru yang baik menyembunyikan Surakhmad (1973: 60). Menurutnya guru
perasaan yang sesungguhnya kepada yang baik dan disukai adalah guru yang
murid-muridnya. mempunyai sifat ramah dan bersedia
4. Guru yang baik menerima semua memahami setiap orang, bersifat sabar
anak dengan pandangan yang sama. dan suka membantu memberi perasaan
Guru yang baik tidak pernah punya tenang, bersifat adil dan tidak memihak
favorit dan tidak pilih kasih. namun tegas, cerdas dan mempunyai
5. Guru yang baik menyediakan minat yang berbagai ragam (luas),
lingkungan belajar yang menarik, memiliki rasa humor dan kesegaran
merangsang, tenang, bebas, dan

94 Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2004


Meningkatkan Profesionalisme Guru: Sebuah Harapan-- Ali Muhson

pergaulan, dan memperlihatkan tingkah 6. dapat menentukan strategi, teknik,


laku dan lahiriyah yang menarik. metode, taktik yang tepat
Guru pada dasarnya harus 7. dapat memilih waktu, instrumen
mempunyai idealisme dan kepribadian penelitian yang tepat
yang baik, sebab diharapkan guru 8. dapat memilih waktu dan cara
mampu menjadi suri tauladan dalam remidiasi yang mengenai
semua tindakannya. Adapun hakikat guru 9. selalu mengadakan revisi, inovasi
adalah seorang yang memberikan ilmu dan penyesuaian diri dengan
pengetahuan atau keterampilan kepada tuntutan perkembangan teknologi
orang lain dan harus mempunyai dan sains
kepribadian yang baik serta mampu 10. mampu mengelola kelas secara aktif
menjalankan tugas dan kewajibannya Adapun yang termasuk dimensi social
secara baik. adalah kepemimpinan, tanggung jawab
Prawoto (1992: 14) mengemukakan social, kesadaran bermasyarakat,
bahwa guru sebagai pengembang adaptasi, menyatu dan luluh, toleran,
pendidikan mempunyai profil kompetensi dan kebinneka-tunggalikaan, dan
yang lengkap. Mengingat bahwa sebagainya. Inilah beberapa aspek yang
penampilan yang baik tidak menjamin harus dimiliki seorang guru agar kegiatan
terjawabnya tuntutan dunia pendidikan belajar mengajar berhasil sesuai dengan
maka orang harus merumuskan bahwa yang diharapkan.
kompetensi adalah penampilan yang
rasional yang memenuhi syarat. D. Upaya Peningkatan
Beberapa dimensi kompetensi yang harus Profesionalisme Guru
dimiliki oleh guru yang profesional adalah Disadari atau tidak tugas guru di
dimensi kepribadian, dimensi masa depan akan semakin berat. Guru
penguasaan materi dan keterampilan tidak hanya bertugas mentransfer ilmu
menyajikannya, dan dimensi sosial. pengetahuan, keterampilan dan teknologi
Dimensi kepribadian menuntut guru saja, melainkan juga harus mengemban
harus memiliki sifat percaya pada diri tugas yang dibebankan masyarakat
sendiri, sikap terbuka, peka akan kepadanya. Tugas tersebut meliputi
perubahan, tanggung jawab, toleran, mentransfer kebudayaan dalam arti luas,
mempunyai konsep diri yang positif, keterampilan dalam menjalani hidup (life
integritas tinggi, rendah hati, cermat, skills), dan nilai serta beliefs (Purwanto,
dan penuh gairah. Sedangkan dimensi 2004).
penguasaan materi dan keterampilan Melihat tugas yang demikian berat
menyajikannya menuntut agar guru: tersebut, maka sudah selayaknya bila
1. dapat membedakan fakta, konsep kemampuan profesional guru juga terus
dan prinsip ditingkatkan agar mereka mampu
2. mampu melakukan generalisasi menjalankan tugasnya dengan baik.
3. mampu menyusun peta konsep Terkait dengan hal ini guru sendiri harus
4. mampu melakukan interaksi personal mau membuat penilaian atas kinerjanya
yang efektif sendiri atau mau melakukan otokritik di
5. mampu menganalisis situasi belajar samping harus pula memperhatikan
berbagai pendapat dan harapan

Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2004 95


Meningkatkan Profesionalisme Guru: Sebuah Harapan-- Ali Muhson

masyarakat. Menurut Purwanto (2004), memperoleh akses terhadap inovasi-


dalam rangka meningkatkan inovasi di bidang profesinya.
profesionalismenya, guru harus selalu Keempat, mengembangkan etos kerja
berusaha untuk melakukan lima hal. atau budaya kerja yang mengutamakan
Pertama, memahami tuntutan standar pelayanan bermutu tinggi kepada
profesi yang ada. Hal ini harus kostituen. Di zaman sekarang ini, semua
ditempatkan pada prioritas yang utama bidang dan profesi dituntut untuk
karena: memberikan pelayanan prima. Guru pun
1. Persaingan global sekarang harus memberikan pelayanan prima
memungkinkan adanya mobilitas kepada konstituennya yaitu siswa, orang
guru lintas negara. tua dan sekolah sebagai stakeholder.
2. Sebagai profesional seorang guru Terlebih lagi pelayanan pendidikan
harus mengikuti tuntutan adalah termasuk pelayanan publik yang
perkembangan profesi secara global, didanai, diadakan, dikontrol oleh dan
dan tuntutan masyarakat yang untuk kepentingan publik. Oleh karena
menghendaki pelayanan yang lebih itu guru harus
baik. mempertanggungjawabkan pelaksanaan
Cara satu-satunya untuk memenuhi tugasnya kepada publik.
standar profesi ini adalah dengan belajar Kelima, mengadopsi inovasi atau
secara terus menerus sepanjang hayat, mengembangkan kreativitas dalam
dengan membuka diri yakni mau pemanfaatan teknologi komunikasi dan
mendengar dan melihat perkembangan informasi mutakhir agar senantiasa tidak
baru di bidangnya. ketinggalan dalam kemampuannya
Kedua, mencapai kualifikasi dan mengelola pembelajaran. Guru dapat
kompetensi yang dipersyaratkan. Dengan memanfaatkan media dan ide-ide baru
dipenuhinya kualifikasi dan kompetensi bidang teknologi pendidikan seperti
yang memadai maka guru memiliki posisi media presentasi, komputer (hard
tawar yang kuat dan memenuhi syarat technologies) dan juga pendekatan-
yang dibutuhkan. Peningkatan kualitas pendekatan baru bidang teknologi
dan kompetensi ini dapat ditempuh pendidikan (soft technologies).
melalui in-service training dan berbagai Beberapa upaya di atas tentu saja
upaya lain untuk memperoleh sertifikasi. tidak akan dapat berjalan jika tidak
Ketiga, membangun hubungan dibarengi dengan upaya yang nyata
kesejawatan yang baik dan luas untuk menjadikan guru menjadi sebuah
termasuk lewat organisasi. Upaya profesi yang menjanjikan artinya
membangun hubungan kesejawatan kesejahteraan guru memang harus
yang baik dan luas dapat dilakukan guru ditingkatkan. Mengapa harus
dengan membina jaringan kerja atau kesejahteraan guru yang harus
networking. Guru harus berusaha ditingkatkan? Hal ini mengandung
mengetahui apa yang telah dilakukan implikasi yang sangat luas. Di satu sisi,
oleh sejawatnya yang sukses. Sehingga dengan kesejahteraan guru yang
bisa belajar untuk mencapai sukses yang memadai akan mampu mendukung
sama atau bahkan bisa lebih baik lagi. kinerja guru secara optimal. Guru tidak
Melalui networking inilah guru lagi memikirkan bagaimana mencari

96 Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2004


Meningkatkan Profesionalisme Guru: Sebuah Harapan-- Ali Muhson

"pekerjaan sampingan" untuk professional adalah guru yang benar-


mempertahankan dan membiayai benar ahli dalam bidangnya dan mampu
kehidupan keluarganya, melainkan melaksanakan tugasnya dengan baik
mampu terfokus pada pelaksanaan tugas sekaligus memiliki kompetensi dan
dan tanggung jawabnya dalam membina komitmen yang tinggi dalam
anak didiknya. Sementara itu, di sisi lain, menjalankan tugas dan tanggung
dengan kesejahteraan guru yang jawabnya.
menjanjikan, maka guru akan menjadi Beberapa upaya peningkatan
sebuah profesi yang banyak dikejar oleh profesionalisme guru yang dapat
generasi mendatang, terutama generasi dilakukan di antaranya adalah Pertama,
muda yang memiliki potensi dan memahami tuntutan standar profesi yang
termasuk dalam kategori unggul. Dengan ada, Kedua mencapai kualifikasi dan
adanya 'bibit unggul' tersebut maka guru kompetensi yang dipersyaratkan, Ketiga,
di masa depan bukanlah dimiliki oleh membangun hubungan kesejawatan
orang-orang yang 'terpaksa' atau yang baik dan luas termasuk lewat
'dipaksa' untuk menjadi guru, melainkan organisasi profesi. Keempat,
dimiliki oleh orang-orang yang benar- mengembangkan etos kerja atau budaya
benar memiliki kualitas dan kompetensi kerja yang mengutamakan pelayanan
yang tinggi. Dengan demikian, kata kunci bermutu tinggi kepada konstituen,
dari upaya peningkatan profesionalisme Kelima, mengadopsi inovasi atau
guru adalah peningkatan kesejahteraan mengembangkan kreativitas dalam
guru. pemanfaatan teknologi komunikasi dan
informasi mutakhir agar senantiasa tidak
E. Kesimpulan ketinggalan dalam kemampuannya
Profesionalisme adalah suatu keahlian mengelola pembelajaran. Semua upaya
yang dimiliki seseorang dalam suatu di atas tidak akan berjalan jika tidak
bidang tertentu dan telah dapat dibarengi dengan upaya peningkatan
memberikan sumbangan keprofesiannya kesejahteraan guru.
(ilmu pengetahuan) kepada masyarakat
yang membutuhkan. Guru yang

Daftar Pustaka

Ahmad Tafsir. (1992). Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya
Anonim. (2003). "Gaji Khusus Tak Jamin Profesionalisme Guru". Kompas, 13
November 2003. Diambil dari http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0311/13/
dikbud/686476.htm pada tanggal 16 Oktober 2004
Driyarkara, N. (1980). Tentang Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius
Imam Syafi'ie. (1992). Konsep Guru Menurut Al-Ghazali, Pendekatan Filosofis
Pedagogis. Yogyakarta: Duta Pustaka

Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2004 97


Meningkatkan Profesionalisme Guru: Sebuah Harapan-- Ali Muhson

MD Dahlan. (1982). "Ciri-ciri Kepribadian Siswa SPG Negeri di Jawa Barat Dikaitkan
dengan Sikapnya Terhadap Jabatan Guru". Disertasi. Bandung
Prawoto. (1992). Microteaching. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta
Purwanto. (2004). Profesionalisme Guru. Diambil dari http://www.pustekkom.go.id/
teknodik/t10/10-7.htm pada tanggal 16 Oktober 2004.
Tonny D. Widiastono. (2003). "Wajah Stress Pendidikan Kita". Kompas, 1 Mei 2003.
Diambil dari http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0305/01/PendDN/285470.
htm pada tanggal 16 Oktober 2004
Winarno Surakhmad. (1973). Dasar dan Teknik Interaksi Mengajar dan Belajar.
Bandung: Tarsito

98 Jurnal Ekonomi & Pendidikan, Volume 2, Nomor 1, Agustus 2004

View publication stats