Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN TUTORIAL

MODUL 1 BLOK 11

“KARIOLOGI”

Tutor : drg. Bambang Ristiono, MMR

Kelompok : Insisivus 4
Ketua :
Sekretaris Papan : Anisa Raudhatul H (1711411009)
Sekretaris Meja : Elga Handayani (1711411017)
Anggota :
Muhammad Iqbal Amir (1711413005)
Dian syahira (1711411013)
Afifurrahman (1711412017)
Livia oktia daryulianti (1711411012)
Saskia alfina faradila (1711413011)
Nadiva damara (1711411003)
Raihan ryoza (1711413001)
Muhammad ayarel disdenata (1711412005)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ANDALAS

2019
MODUL 1

Skenario 1

Kok gigi geraham susan berlubang ?


Ibu ani membawa anaknya susan ,usia 14 tahun ke praktek dokter gigi dewi karena
melihaat beberapa gigi geraham anaknya yang berlubang. Letak lubangnya berbedabeda, ada
yang dipermukaan samping dan dipermukaan atas mahkota giginya. Waktu kecil beberapa
gigi susan juga berlubang. Ibu ani menyatakan bahwa susan paling suka makan coklat dan
permen sejak kecil. Sikat gigi sebelum tidur sebelum tidur jarang dilakukan.pada
pemeriksaan klinis, terlihat gigi 3.6,3.5,dan 4.6 mengalami karies. Lokasi dan perluasan
karies pada gigi 3.6 site 2 size 2, gigi 3.5 site 2 size 1, dan gigi 4.6 site1 size2. Dokter gigi
menjelaskan mengenai mengapa bisa terjadi karies pada gigi susan dan pencegahan yang
dapat dilakukan agar karies gigi tidak terjadi.

Ibu ani juga mengeluhkan giginya yang ngilu saat minum dingin, padahal tdak ada lubang
seperti gigi susan. Setelah gigi ibu ani diperiksa dokter gigi dewi,ternyata terdapat abrasi
pada gigi 1.5,1.4,1.3,2.3,2.4,dan 2.5. ibu ani mengaku menyikat gigi terlalu keras agar sisa
makanan yang menempel dipermukaan gigi bersih.

Bagaimana saudara menjelaskan kasus yang dialami susan dan ibu ani ?

SEVEN JUMPS
1. Langkah pertama : Mengklarifikasi Terminologi

a. Kariologi : ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang karies


b. Karies : suatu penyakit jaringan keras gigi(enamel, dentin dan sementum),
karna adanya multifaktordalam rongga mulut ditandai dengan hilangnya ion-ion
secara kronis/akut
c. Abrasi gigi : hilangnya struktur gigi akibat keausan mekanik yang abnormal,
yang disebabkan oleh gesekan terhadap gesekan gigi yang terlalu kuat pada saat
menyikat gigi

a. Langkah kedua : menentukan masalah

1. Apa etiologi karies?


2. Apa klasifikasi karies secara umum ?
3. Apa klasifikasi karies berdasarkan kedalaman?
4. Apa klasifikasi karies berdasarkan letaknya?
5. Apa klasifikasi karies berdasarkan size gigi?
6. Apa saja pencegahan untuk karies?
7. Apa saja kerusakan gigi bukan karna karies?
8. Mengapa bisa terjadi abrasi gigi?
9. Apa pencegahan abrasi ?
10. Kenapa gigi ani ngilu?

Langkah ketiga : Menganalisa masalah melalui brain stroming dengan


menggunakan prior knowledge.

1. Penyebab terjadinya karies


• Mikroorganisme : − streptococcus mutans
− lactobacillus
• Host : morfologi tiap individu berbeda beda , semakin dalam fissure
Memudahkan perekatan plak
• substrat : makanan yangmengandung gula dapat menurunkan PH dan
Memudahkan lengketnya plak
• waktu : penyakit perkembang biakan lambat dan bertahap

Paktor penunjang → − umur


− OH
− Pengalaman karies
− Pola makan
− Aliran saliva
− Pemberian flour

2. Klasifikasi karies
1. Pit & fissure karies : paling susah dideteksi
Tipe : small pit, bluiswhite area, open cavity, pulpitis, apical abses
2. Smooth survice karies : bagian kontak interproksimal
3. Root survice karies : rusak bagian sementem dan dentin
4. Secondary : kegagalan tumpatan menimbulkan karies baru

3. Klasifikasi karies berdasarkan kedalaman


a. Karies superfisial: karies yang hanya mengenai email, sedangkan dentin
belum terkena. Biasanya pasien belum merasa sakit.
b. Karies media: karies yang mengenai emai dan belum melebihi setengah
dentin
c. Karies profunda: karies yang mengenai lebih dari setengah dentin dan
bahkan menembus pulpa
4. Klasifikasi karies berdasarkan letaknya

• berdasarkan lokasi :

a. Karies pada permukaan licin/rata: karies yang terjadi pada permukaan yang
licin
b. Karies pada pit dan fissure: karies yang terbentuk pada gigi posterior yaitu
pada permukaan oklusal dan bukal
c. Karies pada akar gigi: karies ini berawal sebagai jaringan yang menyerupai
tulang yang membungkus permukaan akar (sementum)

Klas I : Oklusal

Klas II : Proksimal gigi posterior

Klas III : Proksimal gigi anterior tidak mencapai insisal

Klas IV : proksimal sampai tepi insisal

Klas V : Bukal/Labial mendekati CEJ

Klas IV : ujung cusp

5. klasifikasi karies berdasarkan size gigi


a. Size 0 : lesi dini.
b. Size 1 : kavitas minimal
c. Size 2 : ukuran kavitas sedang
d. Size 3 : kavitas yang berukuran lebih besar
e. Size 4 : sudah terjadi kehilangan sebagian besar struktur gigi seperti
Cups/sudut

6. Pencegahan karies
- Sikat gigi 2x sehari
- Menggunakan dental flour
- Ke drg 1x 6 bulan
- Flour pada air minum

Primer : mengurangi makanan kanogenik

Sekunder : ditambal ke drg

Tersier : dicabut

Pencegahan pada anak-anak

- Membiasakan anak tidak menghisap botol malam hari


- Pemberian asi dengan botol sampai 6 bulan
- Mengajarkan anak peduli 04

7. Kerusakan gigi bukan karna karies


- Fraktur
- Atrisi
- Abrasi
- Erosi

8. Penyebab terjadi abrasi


- Cara menyikat gigi yang salah
- Sika tgigi kasar
- Kebiasaan menggigit benda keras
- Menggunakan tusuk gigi
- Penggunaan kawat gigi yang terlalu keras

9. Pencegahan abrasi
- Pasien bisa memilih sikat gigi yang tepat, mengetahui secara keseluruhan
tentang prosedur menyikat gigi dengan tepat
- Jika dirasa kurang dapat menggunakan obat kumur
- Zat yang ada dalamm pasta gigi & flour
- Edukasi pada masyarakat

10. Kenapa gigi ani ngilu


Karna enamel menipis, adanya U pada leher gigi

Langkah keempat : Membuat skema atau diagram dari komponen-kompenen


permasalahan.

Drg. Dewi

susan
Ibu Ani

Mengalami karies
Mengalami abrasi

Kariologi

Definisi Etiologi Pencega


han
Definisi Etiologi Klasifikas Pencegahan
i
Memformulasikan tujuan pembelajaran

1. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang etiologi karies gigi


2. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang klasifikasi karies
3. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang pencegahan karies
4. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang kerusakan selain karies
5. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang patologi karies
6. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang pemeriksaan klinis karies

Mengumpulkan Informasi di Perpustakaan, Internet, dan lain-lain

Sintesa dan Uji Informasi yang Telah diperoleh

1. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang etiologi karies gigi


Karies gigi merupakan penyakit yang terdapat pada jaringan keras gigi yaitu email,
dentin dan sementum yang mengalami proses kronis regresif. Karies gigi terjadi
karena adanya interaksi antara bakteri di permukaan gigi, plak atau biofilm dan diet,
terutama komponen karbohidrat yang dapat bdifermentasikan oleh bakteri plak
menjadi asam, terutama asam laktat dan asetat. Yang ditandai dengan adanya
demineralisasi jaringan keras gigi dan rusaknya bahan organik akibat terganggunya
keseimbangan email dan sekelilingnya, menyebabkan terjadinya invasi bakteri serta
kematian pulpa bakteri dapat berkembang ke jaringan periapeks sehingga dapat
menimbulkan rasa nyeri pada gigi

Etiologi Karies gigi

Karies gigi merupakan penyakit periodontal yang dapat menyerang seluruh lapisan
masyarakat.Etiologi karies bersifat multifaktorial, sehingga memerlukan faktor-faktor
penting seperti host, agent, mikroorganisme, substrat dan waktu.

1. Host
Untuk dapat terjadinya proses karies pada gigi diperlukan adanya faktor hostyaitu
gigi dan saliva. Struktur dari anatomi gigi terdiri dari lapisan enamel yang terdapat
pada bagian luar gigi dan lapisan dentin yang terletak dibawah lapisan enamel

.Kandungan bahan organik dan anorganik enamel dapat mempengaruhi kerentanan


permukaan gigi terhadap terjadinya karies. Apatit dankarbohidrat mengisi kurang lebih 97%
bahan anorganik,patit berperan terhadap penambahan resistensi enamel terhadap serangan
asam, sedangkan karbohidrat dapat mengurangiresistensi terhadap serangan asam.1% lainnya
terdiri dari bahan organik yang tidak dapat larut air yaitu keratin, dan dapat larut air yaitu
mukopolisakarida.

Struktur lapisan enamel pada gigi berperan dalam proses terjadinya karies. Plak yang
mengandung bakteri merupakan awal bagi terbentuknya suatu karies.Oleh karena itu
kawasan gigi yang memudahkan pelekatan plak sangat mungkin diserang karies.
Kawasan-kawasan yang mudah diserang karies tersebut adalah
a. .Pitdan fisurpada permukaan oklusal molar dan premolar ; pit bukal molar dan pit palatal
insisif.
b. Permukaan halus di daerah aproksimal sedikit dibawah titik kontak
c. .Email pada tepian didaerah leher gigi sedikit di atas tepi gingiva
d. .Permukaan akar yang terbuka, yang merupakan daerah tempat melekatnya plak pada
pasien dengan resesi ginginva karena penyakit periodontium.
e..Tepi tumpatan terutama yang kurang atau mengemper.f.Permukaan gigi yang berdekatan
dengan gigi tiruan dan jembatan

2. Agent
Faktor agent dipengaruhi oleh jumlah bakteri dan plak dalam rongga mulut. Plak
gigi berperan penting dalam proses terjadinya karies. Plak merupakan lapisan
lunak yang melekat erat pada permukaan gigi yang tidak dibersihkan, terdiri dari
kumpulan mikroorganisme beserta produk-produknya.
Streptococcus mutansdan lactobacillusmerupakan kuman kariogenik karena dapat
dengan cepat membuat asam dari karbohidrat yang diragikan.Kuman-kuman
tersebut tumbuh subur dalam suasana asam dan dapat menempel pada permukaan
gigi. Penebalan plak yang semakin menumpuk dapat menghambat fungsi saliva
dalam menetralkan pH.Penumpukan plak akan mendorong jumlah perlekaan
bakteri yang semakin banyak. Bakteri-bakteri ini banyak memproduksi asam
dengan tersedianya karbohidrat yang mudah meragi seperti sukrosa dan glukosa,
menyebabkan pH plak akan menurun sampaidibawah 5 dalam waktu 1-3 menit.
Penurunan pH yang berulang-ulang dalam waktu tertentu akan mengakibatkan
demineralisasi permukaan gigi dan dimulai proses karies

3. Substrat
Faktor substrat dapat mempengaruhi pembentukan plak karena membantu
perkembangbiakan dan kolonisasi mikroorganisme pada permukaan
enamel.Karbohidrat memiliki peran penting dalam pembuatan asam bagi bakteri
dan sintesa polisakarida ekstra sel. Sintesa polisakharida ekstra sel dari sukrosa
lebih cepat daripada glukosa, fruktosa, dan laktosa.Oleh karena itu, sukrosa
merupakan gula yang paling kariogenik. Karena sukrosamerupakan gula yang
paling banyak dikosumsi.Makanan dan minuman yang mengandung gula dapat
menurunkan pH plak dengan cepat sampai pada level yang dapat mengakibatkan
demineralisasi pada email

4. Waktu
Karies merupakan suatu penyakit kronis progresif yang membutuhkan waktu
beberapa bulan bahkan tahun untuk dapat berkembang

Faktor Risiko Terjadinya Karies Gigi

Faktor risiko karies gigi adalah faktor-faktor yang memiliki hubungan sebab akibat terjadinya
karies gigi atau faktor yang mempermudah terjadinya karies gigi. Beberapa faktor yang
dianggap sebagai faktor risiko adalah pengalaman karies gigi, kurangnya penggunaan fluor,
oral higiene yang buruk, jumlah bakteri, saliva serta pola makan dan jenis makanan
(Sondang, 2008).

1. Pengalaman Karies Gigi


Penelitian epidemiologis telah memberikan bukti adanya hubungan antara
pengalaman karies dengan perkembangan karies di masa mendatang. Prevalensi
karies pada gigi desidui dapat memprediksi karies pada gigi permanen (Sondang,
2008).
2. Kurangnya Penggunaan Fluor
Ada berbagai macam konsep mengenai mekanisme kerja fluor berkaitan dengan
pengaruhnya pada gigi, salah satunya adalah pemberian fluor secara teratur dapat
mengurangi terjadinya karies karena dapat meningkatkan remineralisasi. Tetapi,
jumlah kandungan fluor dalam air minum dan makanan harus diperhitungkan pada
waktu memperkirakan kebutuhan tambahan fluor karena pemasukan fluor yang
berlebihan dapat menyebabkan fluorosis (Farsi, 2007).
3. Oral Hygiene yang Buruk
Kebersihan mulut yang buruk akan mengakibatkan persentase karies lebih tinggi.
Untuk mengukur indeks status kebersihan mulut, digunakan Oral Hygiene Index
Simplified (OHI-S) dari green dan vermillon. Indeks ini merupakan gabungan yang
menetukan skor debris dan deposit kalkulus baik untuk semua atau hanya untuk
permukaan gigi yang terpilih saja. Debris rongga mulut dan kalkulus dapat diberi skor
secara terpisah. Salah satu komponen dalam terjadinya karies adalah plak bakteri pada
gigi. Peningkatan oral hygiene dapat dilakukan dengan teknik flossing untuk
membersihkan plak yang dikombinasikan dengan pemeriksaan gigi yang teratur,
merupakan suatu hal yang penting dalam meningkatkan kesehatan gigi. Selain itu
penggunaan pasta gigi yang mengandung fluor dapat mencegah terjadinya karies.
Pemeriksaan gigi yang teratur tersebut dapat membantu mendeteksi dan memonitor
masalah gigi yang berpotensi menjadi karies. Kontrol plak yang teratur dan
pembersihan gigi dapat membantu mengurangi insidens karies gigi. Bila plaknya
sedikit, maka pembentukan asam akan berkurang dan karies tidak dapat terjadi
(Ireland, 2006).
4. Jumlah Bakteri
Segera setelah lahir, terbentuk ekosistem oral yang terdiri atas berbagai jenis bakteri.
Bayi yang telah memiliki S.mutans dalam jumlah yang banyak saat berumur 2 dan 3
tahun akan mempunyai risiko karies yang lebih tinggi untuk mengalami karies pada
gigi desidui (Sondang, 2008).
5. Saliva
Selain memiliki efek buffer, saliva juga berguna untuk membersihkan sisa-sisa
makanan di dalam mulut. Aliran ratarata saliva meningkat pada anak-anak sampai
berumur 10 tahun. Namun setelah dewasa hanya terjadi sedikit peningkatan. Pada
individu yang berkurang fungsi salivanya, maka aktivitas karies akan meningkat
secara signifikan (Sondang, 2008). Selain itu saliva berperan dalam menjaga
kelestarian gigi. Banyak ahli menyatakan, bahwa saliva merupakan pertahanan
pertama terhadap karies, ini terbukti pada penderita Xerostomia (produksi ludah yang
kurang) dimana akan timbul kerusakan gigi menyeluruh dalam waktu singkat
(Behrman, 2002).

2. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang klasifikasi karies

A. berdasarkan kedalamannya :
a. Karies superfisial: karies yang hanya mengenai email, sedangkan dentin
belum terkena. Biasanya pasien belum merasa sakit.
b. Karies media: karies yang mengenai emai dan belum melebihi setengah
dentin
c. Karies profunda: karies yang mengenai lebih dari setengah dentin dan
bahkan menembus pulpa

B. berdasarkan keparahannya :
a. Karies ringan : Kasusnya disebut ringan jika serangan karies hanya pada gigi
yang paling rentan
b. Karies sedang : Kedalaman karies sudah mengenai lapisan
dentin (hiperemi pulpa).
c. Karies berat/Parah : Kasusnya dikatakan berat jika serangan juga meliputi
gigi anterior yang biasanya bebas karies

C. G. V. Black

Yang pertama adalah klasifikasi karies dari G. V. Black. Beliau


mengklasifikasikan karies ke dalam enam kelas (klas 1, 2, 3, 4, 5, 6).
1. Klas I. Karies yang melibatkan permukaan oklusal, oklusal + 2/3 bukal dan
lingual gigi posterior, atau pada pit lingual gigi anterior.
2. Klas II. Karies yang melibatkan permukaan proksimal gigi posterior.
3. Klas III. Karies yang melibatkan permukaan proksimal gigi anterior, namun tidak
sampai ke tepi insisal.
4. Klas IV. Karies proksimal yang melibatkan tepi insisal pada gigi anterior.
5. Klas V. Karies pada bukal atau labial mendekati dentino-enamel junction atau
cemento-enamel junction.
6. Klas VI. Karies pada ujung cusp gigi posterior, atau pada tepi insisal gigi
anterior.

d. ICDAS
0 : gigi yang sehat.
1 : perubahan awal pada email yang tampak secara visual. Biasa dilihat
dengan cara mengeringkan permukaan gigi, dan tampak adanya lesi putih di gigi
tersebut.
2 : perubahan pada email yang jelas tampak secara visual. Terlihat lesi putih
pada gigi, walau gigi masih dalam keadaan basah.
3 : kerusakan email, tanpa keterlibatan dentin (karies email).
4 : terdapat bayangan dentin (tidak ada kavitas pada dentin). Karies pada
tahap ini sudah menuju dentin, berada pada perbatasan dentin dan email (dentino-
enamel junction).
5 : kavitas karies yang tampak jelas dan juga terlihatnya dentin (karies sudah
mencapai dentin).
6 : karies dentin yang sudah sangat meluas (melibatkan pulpa).

e. G. J. Mount

Site 1. Defek pada pit, fisur dan email pada permukaan oklusal gigi posterior atau
permukaan halus lainnya (aku artiin mungkin bisa jadi restorasinya).
Site 2. Area proksimal email gigI
Site 3. Bagian sepertiga servikal email, atau jika terjadi resesi, bagian akar yang
tampak tersebut.
G.J. Mount juga mengklasifikasi ukuran besarnya suatu kavitas karies, ada 5 size
semuanya, size 0, 1, 2, 3, 4.
Size 0. Merupakan lesi awal demineralisasi. Perawatannya dengan mengeliminasi
penyebab dan tidak memerlukan perawatan lanjutan .
Size 1. Kavitas pada permukaan yang minimal, tidak melibatkan dentin. Perawatan
dengan remineralisasi, dan dapat digunakan bahan restorasi untuk mencegah
akumulasi plak lanjutan.

f. lasifikasi berdasarkan WHO


klasifikasi ini berdasarkan bentuk dan kedalaman lesi karies dan dibagi
dalam 4 skala :
1. D1 : secara klinis dideteksi lesi email
2. D2 : kavitas pada email
3. D3 : kavitas mengenai dentin
4. D4 : lesi meluas kepulp

3. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang pencegahan karies

Cara Mencegah Terjadinya Karies Gigi

a. Menyikat gigi
Sikat gigi setidaknya dua kali sehari terutama setelah makan. Gunakan pasta gigi yang
mengandung fluoride dan gunakan pula benang gigi untuk membersihkan sisa
makanan yang menempel di sela-sela gigi
b. Kurangi konsumsi camilan dan minuman selain air putih
Camilan yang mengandung karbohidrat atau tinggi gula akan menciptakan kondisi
asam di mulut, yang dapat merusak gigi. Dampak yang sama juga berasal dari
kebiasaan mengonsumsi minuman selain air putih, misalnya minuman manis dalam
kemasan.
c. Periksa gigi secara teratur
Memeriksakan gigi secara teratur dapat menjaga gigi tetap sehat.Keberadaan karies
gigi juga dapat terdeteksi sejak dini dan bisa segera ditangani.Jadi, jangan tunda lagi,
periksa gigi secara teratur.

Pencegahan karies gigi dapat didasarkan pada faktor penyebab terjadinya karies gigi.
Menurut Leavel & Clark upaya pencegahan dapat dibagi dalam tiga tahap :

1. Pertama : Pencegahan primer/utama berusaha untuk mencegah agar penyakit sama


sekali tidak terjadi dengan cara pemeliharaan oral higiene / kebersihan mulut / plak
kontrol. Tindakan yang dapat dilakukan contohnya seperti dental health education
(DHE), pemeliharaan kesehatan gigi, pemeriksaan gigi teratur, pencegahan karies
dengan fluor, dan profilaktik odontotomi atau fissure sealant.

2. Kedua : pencegahan sekunder tindakan yang dilakukan untuk mencegah


berlanjutnya penyakit. Tindakan yang dilakukan adalah menegakkan diagnosa yang
dini serta melakukan perawatan yang tepat terhadap penyakit yang telah
terjadi.Misalnya : pembatasan cacat / penyakit yang terjadi dengan melakukan
restorasi pada gigi karies atau perawatan ortodonti jika terdapat maloklusi.

3. Ketiga : Pencegahan tersier tindakan yang dilakukan jika penyakit sudah berlanjut
dan sudah menimbulkan cacat. Tindakan ini untuk mencegah meluasnya penyakit gigi
dan mulut.Misalnya : pada keadaan terjadinya abses periodontal, sehingga terpaksa
dilakukan pencabutan dini pada gigi penyebab maka harus dibuatkan space maintainer
untuk mencegah terjadinya maloklusi

4. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang kerusakan selain karies

Berdasarkan Gambaran Klinis dan Etilogi

Abrasi
Abrasi adalah kerusakan pada jaringan gigi akibat benda asing, seperti
sikat gigi dan pasta gigi yang mengandung bahan abrasive (Gambar 7).
Gambaran klinis abrasi adalah sebagai berikut:
a. Biasanya terdapat pada daerah servikal gigi
b. Lesi cenderung melebar daripada dalam
c. Gigi yang sering terkena P dan C

Terjadinya abrasi gigi telah dimulai sejak menggunakan sikat gigi setelahgigi permanen
tumbuh dan baru terlihat akibatnya setelah dewasa. Penelitian di Swedia melaporkan
prevalensi abrasi pada orang dewasayaitu 30% dari 818 orang dan ditemukan adanya
hubungan yang bermakna antaraabrasi dengan penyikatan gigi (teknik penyikatan horizontal,
pasta gigi abrasif dankekerasan bulu sikat). Abrasi yang disebabkan oleh penyikatan gigi
dengan arah horizontal dan
dengan penekanan berlebihan adalah bentuk yang paling sering ditemukan. Efek
abrasive dari pasta gigi juga merupakan penyebab terbesar terjadinya keausan
gigi. Beberapa penelitian menunjukkan besarnya kerusakan yang dapat terjadi
pada permukaan email karena menyikat gigi terlalu keras dengan pasta gigi.
Penggunaan sikat gigi tanpa pasta gigi tidak menyebabkan keausan yang nyata.
Abrasi akibat penyikatan gigi lebih jelas pada gigi geligi yang letaknya
menonjol, seperti kaninus atau gigi-gigi di dekat daerah tidak bergigi.

Abfraksi
Abfraksi juga dapat menyebabkan terkikisnya email (Gambar 8). Beda
dengan kerusakan gigi lainnya, abfraksi merupakan kerusakan permukaan gigi
pada daerah servikal akibat tekanan tensile dan kompresif selama gigi mengalami
flexure atau melengkung.
Gambaran klinis abfraksi adalah sebagai berikut:
a. Kelainan ditemukan pada daerah servikal labial/bukal gigi
b. Berupa parit yang dalam dan sempit berbentuk huruf V
c. Pada umumnya hanya terjadi pada satu gigi yang mengalami tekananeksentrik pada oklusal
yang berlebihan atau adanya halangan yangengganggu oklusi

Erosi
Erosi adalah kerusakan yang parah pada jaringan keras gigi akibat dari proses
kimia tetapi tidak disebabkan oleh aktivitas bakteri. Erosi gigi berbeda dengan karies.
Karies terjadi secara terlokalisir dengan kerusakan ke dalam dan memerlukan waktu
yang lama, sedangkan erosi gigi terjadi secara merata pada permukaan gigi. (Gambar
5 dan 6). Gigi yang sering terkena erosi adalah gigi insisivus sentralis (RA dan RB)
gambaran klinis erosi adalah sebagai berikut:
a. Bentuk lesi cekung yang luas dan permukaan email yang licin.
b. Permukaan oklusal yang melekuk (insisal yang beralur) dengan
permukaan dentin yang terbuka.
c. Meningkatnya translusensi pada insisal (Gambar 5).
d. Rusaknya karakteristik email pada gigi anak- anak.
e. Sering ditemui email “cuff” atau ceruk pada permukaan servikal

5. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang patologi karies

Dimulai dengan adanya plak di permukaan gigi, sukrosa (gula) dari sisa
makanan dan bakteri berproses menempel pada waktu tertentu yang berubah menjadi
asam laktat yang akan menurunkan pH mulut menjadi kritis (5,5) yang akan
menyebabkan demineralisasi email berlanjut menjadi karies gigi (Suryawati, 2010).
Secara perlahan-lahan demineralisasi interna berjalan ke arah dentin melalui lubang
fokus tetapi belum sampai kavitasi (pembentukan lubang). Kavitasi baru timbul bila
dentin terlibat dalam proses tersebut. Namun kadang-kadang begitu banyak mineral
hilang dari inti lesi sehingga permukaan mudah rusak secara mekanis, yang
menghasilkan kavitasi yang makroskopis dapat dilihat.
Pada karies dentin yang baru mulai yang terlihat hanya lapisan keempat (lapisan
transparan, terdiri atas tulang dentin sklerotik, kemungkinan membentuk rintangan
terhadap mikroorganisme dan enzimnya) dan lapisan kelima (lapisan opak/ tidak
tembus penglihatan, di dalam tubuli terdapat lemak yang mungkin merupakan gejala
degenerasi cabang-cabang odontoblas). Baru setelah terjadi kavitasi, bakteri akan
menembus tulang gigi.
Pada proses karies yang amat dalam, tidak terdapat lapisan-lapisan tiga (lapisan
demineralisasi, suatu daerah sempit, dimana dentin partibular diserang), lapisan empat
dan lapisan lima (Suryawati, 2010).
6. Mahasiswa Mampu Memahami dan Menjelaskan tentang pemeriksaan klinis karies

CARA MENDIAGNOSA KARIES


Mendiagnosis karies sebetulnya tidak mudah. menentukan adanya kavitas ini
umumnya terjadi pada karies pada ceruk dan fisur, karies di bagian aproksimal dan leher gigi,
serta karies sekunder. Untuk ceruk dan fisur telah dikembangkan pengguanaan alat-alat
modern yang ditujukan untuk menentukannya dengan lebih tepat.
Umumnya cara mendiagnosis karies secara klinis memerlukan penerangan yang baik
dan alat standar kedokteran gigi, terutama sonde.
Mendignosis karies sebetulnya tidak hanya mencatat adanya kavitas, lokasi,
keparahan, dan gambaran kliniknya. Kidd dan Smith (1996) menyatakan bahwa seharusnya
perlu diketahui pula apakah pada pasien dapat terjadi karies kembali dan karies yang ada
dapat menjadi aktif atau terhenti
Adapun yang harus dilakukan pendekatan yang sistematik secara vertahap dalam
menegakkan diagnosis dan membuat rencana perawatan :
1. Tentukan keluhan utamanya
2. Tentukan informasi penting yang berkaitan dengan riwayat medis dan riwayat
kesehatan gigi pasien.
3. Lakukan pemeriksaan subjektif, objektif dan radiografis yang teliti
4. Lakukan analisis data yang diperoleh
5. Formulasikan diagnosis dan rencana perawatan yang tepat.
Keluhan utama pada umumnya merupakan informasi pertama yang dapat diperoleh.
Keluhan ini berupa gejala atau masalah yang diutrakan pasien dengan bahasa sendiri
yang berkaitan dengan kondisi yang membuatnya cepat-cepat dating mencari perawatan.
Riwayat kesehatan umum, memeriksa secara tuntas kesehatan umum pasien baru dan
menelaah ulang serta memperbaharui data riwayat kesehatan umum pasien lama
merupakan langkah awal penegakan diagnosa.
Penegakan diagnosis dan rencana perawatan merupakan hal yang sangat penting
dilakukan oleh dokter gigi karena hal tersebut akan mempengaruhi ketepatan dan
keberhasilan perawatan yang dilakukan terhadap pasien. Dalam menegakkan diagnosis
dan membuat rencana perawatan maka terdapat 4 tahap yang dapat dilakukan oleh
seorang dokter gigi, disingkat dengan SOAP.
A.Pemeriksaan subjektif
a. Identitas pasien/ data demografis
b. Keluhan utama
c. Present illness (PI)
d. Riwayat medic
e. Riwayat dental
f. Riwatyat keluarga
g. Riwayat social
B. Pemeriksaan objektif

a. Pemeriksaan ekstra oral yang bertujuan untuk melihat penampakan secara umum
dari pasien, misalnya pembengkakan di muka dan leher, dll.
b. Pemeriksaan intra oral merupakan pemeriksaan yang dilakukan dalam rongga mulut.
Pemeriksaan intra oral berkaitan dengan gigi dan jaringan sekitar. 12
Pemeriksaan objektif pada gigi dapat ditempuh dengan beberapa cara, antara lain sebagai
berikut 1. Inspkesi : memeriksa dengan mengamati objek (gigi) seperti warna, ukuran,
bentuk, permukaan karies, dll
2. Sondasi : dengan menggunakan sonde atau eksplores dapat diketahui kedalaman
kavitas, dan reaksi pasien.
3. Perkusi : dilakukan dengan mengetukkan jari atau instrument kea rah jaringan untuk
mengetahui adanya peradangan pada jaringan periodontal atau tidak.
4. Palpasi : dengan cara menekan jaringan ke arah tulang untuk mengetahui adanya
pembengkakan dengan fluktuasi atau tanpa fluktuasi.
5. Tes mobilitas : gigi di mobilisasi untuk memeriksa ada tidaknya luksasi.
6. Tes suhu : tes yang dilakukan dengan iritan dingin atau panas, untuk mengetahui
vitalitas gigi.
7. Tes elektrik : pemakaian alat pulp tester untuk mengetahui vitalitas gigi.
8. Transluminasi : menggunakan illuminator dari arah palatal atau lingual, untuk
mengetahui adanya karies di lingual palatal, membedakan gigi nekrosis dan gigi vital.
C. Pemeriksaan penunjang
a. Radiografi
b. Pemeriksaan laboratorium
c. Prognosis yaitu prakiraan tentang jalannya penyakit
d. Assessment/ penilaian terhadap status yang diperlukan pasien berupa status gigi dan
jaringan mulut apakah bisa dirawat atau tidak
e. Rencana perawatan
PUSTAKA

1. Jurnal kedokteran gigi universitas indonesia


2. Digilib.unila.ac.id
3. Eprints.undip.ac.id

Anda mungkin juga menyukai