Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN TUTORIAL

BLOK 12

ESTETIKA

MODUL 4

PROSEDUR DAN KEGAGALAN PERAWATAN GIGI TIRUAN CEKAT

Oleh :

Nama : ELGA HANDAYANI

No. Bp : 1711411017

Tutor: drg. Eni Rahmi, SP.Pros

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ANDALAS

2019
MODUL 4

PROSEDUR DAN KEGAGALAN PERAWATAN GIGI TIRUAN CEKAT

Skenario 4

Jembatanku patah......

Drg. Brigette sedang melakukan prosedur perawatan untuk pembuatan


jembatan konvensional porcelain fused to metal pada kehilangan gigi 36
pasiennya yang bernama Edu (32 tahun). Sebenarnya Edu pernah menggunakan
jembatan kantilever akrilik dengan abutment hanya pada gigi 35, tetapi sekarang
jembatan tersebut terasa goyang saat makan. Dari pemeriksaan diketahui bahwa
gigi 35 mobility grade I, terdapat karies media di mesial gigi 37, serta di daerah
sekitar jembatan terdapat banyak kalkuus dan debris. Disamping itu, ternyata
konektor jembatan tersebut sudah patah sebagian.

Setelah melakukan preparasi pada gigi 37 dan memperbaiki preparasi


sebelumnya pada gigi 35, drg. Brigette memasang retraction cord di sulkus
gingival, selanjutnya melakukan pencetakan dengan bahan cetak elastomer.
Setelah pemasangan jembatan sementara selesai, drg. Brigette menjelaskan masih
ada tahapan kerja yang akan dilakukan hingga kontrol setelah pemasangan gigi
tiruan jembatan.

Bagaimana anda menjelaskan prosedur pembuatan gigitiruan jembatan


Edu?
1. Langkah pertama : Mengklarifikasi Terminologi
1) Mobility Grade 1 : Kegoyangan gigi kurang dari 1 mm dalam arah
antero posterior
2) Retraction Cord : merupakan benang yang terbuat dari bahan
kapas/polyester yang dibasahi cairan vasokonstruksi dan diletakkan
pada sulkus gingival untuk menguakkan gingiva

2. Langkah kedua : menentukan masalah


1) Apa hubungan gigi 35 goyang dengan GTC Jembatan Kantilever?
2) Apa yang menyebabkan sekitar jembatan tetap bayak kalkulus dan
debris? Dan karies pada tepi retainer?
3) Apa yang menyebabkan konektor jembatan tersebut patah?
4) Apa saja tahapan dalam pembuatan GTC?
5) Bagaimana cara pemeliharaan GTC?
6) Apa saja yang harus diperhatikan saat kontrol GTC?
7) Apa saja penatalaksanaan jaringan sebelum pencetakan?
8) Apa saja usaha pencegahan dari kegagalan GTC?
9) Bagaimana cara pemasangan retraction cord?
10) Apa fungsi dari retraction cord?

3. Langkah ketiga : Menganalisa masalah melalui brain stroming dengan


menggunakan prior knowledge.
1) Apa hubungan gigi 35 goyang dengan GTC Jembatan Kantilever?
Karna kontak prematur dan tekanan yang berlebihan pada gigi
antagonis sehingga gigi menjadi goyang
2) Apa yang menyebabkan sekitar jembatan tetap bayak kalkulus dan
debris? Dan karies pada tepi retainer?
 Pinggiran restorasi tidak tepat
 OH yang buruk
 Keausan dan kerusakan pada retainer
 Semen pada tepi dari jembatan terbuka sehingga terbentuk
akumulasi plak yang menyebabkan karies
 Pemolesan kurang sempurna sehingga menyebabkan retensi
makanan yang menyebabkan terjadinya akumulasi plak
3) Apa yang menyebabkan konektor jembatan tersebut patah?
 Karna dipengaruhi oleh ukuran, bentuk, dan posisi
 Konektor bisa jadi kecil
 Tekanan yang besar pada gigi abutment
4) Apa saja tahapan dalam pembuatan GTC?
 Preparasi gigi abutment
 Gigi abutment dilindungi dengan mahkota sementara untuk
 Melindungi gigi dari rangsang mekanis, kemis, suhu
 Mencegah terjadinya elongasi dan migrasi
 Melindungi gusi daerah servikal
 Memelihara estetis
 Membuat modul kerja
 Pemendaman dan pemasangan GTC
 Try in
 Insersi
5) Bagaimana cara pemeliharaan GTC?
Pasien diinstruksikan untuk
 Konsumsi makanan yang berserat dan tidak terlalu keras
 Cara menyikat gigi yang benar dan pembersihan daerah
GTC dengan dental floss
 Kontrol secara periodik
6) Apa saja yang harus diperhatikan saat kontrol GTC?
Kontrol dilakukan 1 minggu setelah pemasangan tetap
a) Subjektif
b) Objektif
 OH
 Oklusi
c) Inflamasi perkusi dan palpasi
7) Apa saja pen atalaksanaan jaringan sebelum pencetakan?
 Keadaan gigi geligi harus diperhatikan
 Pemeriksaan jaringan pendukung gigi
 Tepi servikalnya harus rapi
 Batas gingiva preparasi harus tampak (saat mencetak)

8) Apa saja usaha pencegahan dari kegagalan GTC?


 Distribusi beban kunyah
 Jaga oral hygiene
 Dokter harus memahami prosedur pembuatan GTC yang baik
 Dokter melakukan perawatan menyeluruh (complete dentistry)
 Pemilihan bahan yang sesuai dengan kasus
 Pemakaian konektor rigid
 Pengecekan setelah preparasi
9) Bagaimana cara pemasangan retraction cord?
a. Isolasi gigi
b. Potong benang
c. Masukkan benang ke larutan astrigent
d. Lingkarkan benang ke gigi
e. Tekan mulai dari mesio-proksimal terus ke palatal dan distal
f. Kembali ke bkal samoai proksimal
g. Potong kelebihan benang
h. Setelah 5-10 menit, benang diambil. Lihat ruangan yang
terbentuk

10) Apa fungsi dari retraction cord?


 Untuk retraksi gingiva
 Untuk menguak sulkus gingiva agar dihasilkan cetakan
yang akurat

4. Langkah keempat : Membuat skema atau diagram dari komponen-


kompenen permasalahan

Edu (32 thn)

Ke drg. Brigette

Pemeriksaan

- Jembatan kantilever goyang


Klasifikasi
- Gigi 35 mobility grade I
Mobility
- Karies gigi 37
- Banyak kalkulus dan debris
- Konektor bridge patah Kegagalan
GTC

Ligamen
Pembuatan Gigi Tiruan Cekat
Periodontal

Prosedur Pencetakan Insersi Kontrol


Pembuatan

Perawatan
Penatalaksanaan Jembatan
Jaringan sementara
5. Memformulasikan tujuan pembelajaran
1. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang Prosedur Pembuatan GTC
2. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang Jembatan Sementara
3. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang Kontrol GTC
4. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang Kegagalan GTC

6. Mengumpulkan Informasi di Perpustakaan, Internet, dan lain-lain


7. Sintesa dan Uji Informasi yang Telah diperoleh

1. MAHASISWA MAMPU MENJELASKAN TENTANG PROSEDUR


PEMBUATAN GTC

Kunjungan ke-1 :

 Pemeriksaan klinis,
 Pemeriksaan penunjang (rontgen foto periapikal dan bite wing
 Pencetakan anatomis

Kunjungan ke-2 :

 Persiapan untuk preparasi gigi penyangga


 Preparasi gigi, penghalusan.finsihing, pemeriksaan hasil preparasi.
a. Anastesi local
b. Buat guiding groove untuk permukaan oklusal sedalam 1,5 – 2 mm dengan
round end tapered bur pada fossa sentral,mesial dan distal bidang oklusal
c. Pengasahan permukaan oklusal dari mesial ke distal
d. Cek oklusi sentrik, tidak bersudut
e. Persiapan untuk preparasi bidang axial gigi penyangga
Pasang matrix band dan retainer untuk melindungi permukaan enamel gigi di
sebelah abutment
f. Preparasi bidang axial
g. Penghalusan/ finishing
h. Pemeriksaan hasil preparasi
Pengecekan hasil preparasi, Paralisme dinding aksial :
Makin paralel makin kuat
Pengerucutan preparasi dinding aksial 5-6 derajat
Bila sudut > 6 derajat makin mudah lepas
Bila sudut < 5 pada waktu penyemenan semen tidak dapat keluar
Pengecekan sudut preparasi dilihat dg 1 mata
 Retraksi gingival
a. Bersihkan gigi dengan water spray dan air spray
b. Pasang benang retraksi dengan bantuan pinset dan plastis instrument. Benang
retraksi dicelupkan dlaam larutan aluminium klorida 25 %/ ephinephrineagak
benang agak lunak dan tidak melukai gingival
c. Potong benang 5 cm, bentuk seperti huruf U
d. Lingkarkan mengelilingi gigi yang telah dipreparasi
e. Tekan benang ke dalam celah gusi dengan plastis instrument
f. Penekanan dari mesio-proksimal  palatal  distal  mesioproksimal
g. Potong kelebihan benang.
h. Diamkan selama 5 sampai 10 menit
i. Keluarkan benang dari sulkus.

 Mencetak fungsional/fisiologis
Pembuatan cetakan dari gigi yang telah dipreparasi untuk mendapatkan model
kerja
Caranya:
1. Bahan cetak double impression dengan tenik one stage/ phase (direct)
- Putty (kotak) : aduk bahan putty, letakkan didasar sendok cetak yang
tujuannya untuk menstabilkan kedudukan sendok cetak didalam mulut, ambil
perbandingan 1:1 rubber base : katalis lalu aduk hingga warna berubah hijau, lalu
letakkan pada dasar sendok cetak dan pada daerah yang telah dipreparasi harus
dicekungkan untuk menyediakan bahan yang kedua.
- Aduk light body, setelah homogen, masukkan kedalam injeksi kemudian
injeksikan ke gigi yang telah dipreparasi pada mulut pasien, sisanya pada bagian
yang dicekungkan tadi.
- Kemudian cetakkan kedalam mulut pasien
- Cor cetakan dengan hard stone.
2. Bahan double impression dengan teknik two phase
- Aduk bahan putty sampai homogen letakkan ke sendok cetak, setelah rata
masukkan ke dalam mulut pasien tanpa melepas crown sementara. Pada bagian
anterior gigi yang dipreparasi tidak perlu dicekungkan. Setelah mengeras ambil
sendok cetak tersebut dari mulut pasien, kemudian aduk light body yang terdiri
dari basa dan katalis, setelah homogen masukan ke dalam injeksi kemudian
injeksikan ke gigi yang telah dipreparasi tadi. Masukkan cetakan putty tadi ke
dalam mulut. Setelah keras keluarkan dari mulut pasien.
 Penentuan warna dengan shade guide

Pemilihan warna gigi : sesuai dengan warna gigi tetangga dengan bantuan pedoman
warna (shade guide) untuk menentukan value (tingkat warna gelap ke terang),
chroma(kepekatan warna), hue (merah atau kuning)
 Pembuatan model kerja (lab)
 Pembuatan catatan gigitan
 Pembuatan mahkota sementara

2 cara : Direct dan indirect


Direct : Teknik membuat jembatan sementara langsung pad agigi yang dipreparasi

- Mencetak anatomis dengan elastomer jenis putty pada sendok cetak sebagian
sebelum preparasi
- Preparasi gigi penyangga
- Pembuatan direct provisory
Setelah gigi dipreparasi, ulasi gigi dengan bahan separasi/vaselin/CMS. Kemuadian
hasil cetakan negative sebelum gigi dipereparasi diberi self curing acrylic. Posisikan
sendok cetak kebali ke dalam model anatomi sesuai posisi semuladan menutupi gigi
yang telah dipreparasi. Setelah resin mengeras, akrilik dikeluarkan dari abutment
kemudian bridge dipoles.

Indirect :Teknik membuat restorasi sementara di luar rongga mulut dengan panduan kerja

- Hasil preparasi dicetak dengan alginate


- Hasil cetakan diisi gips sehingga didapat model kerja
- Buat model malam pada daerah edentulous dan abtment
- Cek oklusi dengan gigi antagonis
- Cetak model kerja dan pola malam dengan alginate
- Buata adonan akrilik
- Masukkan ke hasil cetakan
- Permukaan preparasi gigi diolesi silicon grease dan segera posisikan sendok cetak
berisi alginate pada model
 Pemasangan model kerja di articulator (lab).
 Pembuatan pola lilin

Kunjungan ke-3 : Try in pola lilin

- Pemendaman pola lilin dalam kuvet (lab)


- Pengisian akrilik (lab)
- Curing dan finishing (lab)

Kunjungan ke-4 : Penyemenan sementara (klinik)

Menggunakan semen zinc oxide eugenol yang cukup tebal. Dicampur sedikit vaselin
untuk mengurangi kekuatan semen dan akan mempermudah pembongkaran kembali
nantinya. Setelah penyemenan selesai, sisa-sisa semen dihilangkan karena dapat
mengiritasi jaringan lunak.
Kunjungan ke-5  Penyemenan

Kunjungan ke-6  control

2. Prosedur laboratoris pembuatan jembatan

Pembuatan Die : bagian dari model kerja yang slicing untuk dapat dibuka dan
dipasangkan lagi pada model yang bertujuan untuk membuat mahkota terutama bagian
proksimal.

Cara Kerja :
1. Pencetakan gigi yang telah dipreparasi dengan bahan rubber base (silicon).
2. Penentuan letak pin.
- Tandai lebar masing-masing gigi.
- Tusukkan jarum pentul pada posisi bukkal atau labial dan palatal atau lingual gigi
yang telah dipreparasi dengan posisi tegak lurus, tandai lebar gigi (bagian proximal)
3. Pengisian gips keras (sampai linggir alveolar).
4. Penanaman pin (bentuk retensi lingkaran).
- Setelah gips keras, tanamkan pin. Posisi harus sejajar dengan jarum pentul.
- Sisa gips dibuat bulatan-bulatan kecil
- Gips mengeras, lepaskan jarum pentul dengan menggunakan bur bulat, buat
lekukan setengah lingkaran.
- Ambil wax merah (bulatkan), letakkan pada ujung pin.
- Olesi permukaan gigi dengan vaselin menggunakan kuas kecil.
5. Boxing dan pembuatan basis
- Dengan menggunalan base plate wax setelah cetakan di boxing.
6. Penggergajian
- Buat pola : garis dengan pensil pada model di sisi mesial dan distal gigi yang
diperbaiki
- Gergaji sampai batas gips keras
7. Trimming die
- Menggunakan bur bulat, trimming tepat di bawah servikal dengan kedalaman
1mm.

Pembuatan Model/ pola malam mahkota/ bridge & pembuatan pontik:


Pembuatan pola malam (retainer dan pontik) dengan memperhatikan:
1. Kontak oklusal merata dengan gigi lawan
2. Pengurangan dimensi buko-palatal untu mengurangi beban kunyah (long span
bridge)
- Pembuatan pontik : dengan jenis ridge lap pontik dengan bahan kombinasi
metal keramik (porselen fused to metal), lalu siapkan kontak bentuk garis antara logam
dengan mukosa labial/bukal berbentuk cembung atau lurus, sifatnya self cleansing
Cara kerja :
1. Oleskan permukaan preparasi pada die dengan air sabun, tunggu sampai kering.
2. Panaskan malam.
3. Gunakan lekron untuk mengukir mahkota atau bridge.
4. Pada bridge bentuk pola pontik sesuai dengan bentuk anatomis gigi yang
digantikan.
5. Lepaskan pola malam dari dai, letakkan pada model kerja. Pada bridge, dengan
bantuan sonde, sambungkan pontik dengan gigi penyangga.
6. Periksa hubungan dengan gigi tetangga, pola malam harus mencapai kontak yang
baik.
7. Jika pola malam berkontak berlebihan maka untuk koreksinya taburkan bedak.
Prossesing Mahkota dan Bridge
1. Penanaman dalam Kuvet (Flasking)
Cara kerja :
- Model malam atau die ditanamkan di tengah kuvet bawah yang telah diisi gips
putih dengan bagian labial menghadap ke atas.
- Permukaan gips dihaluskan.
- Permukaan gips dan model malam diolesi vaselin sebagai separating medium.
- Olesi model malam dengan gips menggunakan kuas, tunggu keras.
- Pasang kuvet atas dan isi dengan gips, dipres agar tidak lepas.
2. Mengeluarkan malam (Wax Elimination)
Cara kerja :
- Kuvet direbus utnuk mengeluarkan malam atau kuvet yang dipres dan gips sudah
mengeras, dibuka lalu wax dihilangkan dengan mengalirkan air panas.
- Setelah kuvet dibuka, wax harus sudah tidak ada lagi dalam permukaan gips.
- Dinginkan permukaan kuvet.
3. Pengisian aklirik (Packing)
- Ruangan cetakan model malam (mould) dan sekitarnya diolesi Could Mould Seal
(CMS) tunggu kering.
- Pengisian aklirik yang sudah diaduk, sambil mengetok kuvet.
- Tutup bagian atas aklirik dengan selopan atau plastic, tutup dengan kuvet atas,
press lalu buka dan potong kelebihan aklirik dengan pisau model.
- Pasang dan tutup kuvet atas lalu press.
4. Pengisian akrilik (Prossesing)
- Kuvet dalam keadaan dipress dimasukkan ke dalam wadah perebusan
- Polimerisasi dengan cara direbus 1 jam
5. Membuka kuvet (Deflasking)
- Keluarkan model (dai) dengan tang potong gips atau gergaji kecil.
- Gips yang masih melekat dibersihkan dengan brush.
6. Finishing
- Membersihkan sisa aklirik dengan bur protesha (cardide bur, disc bur) dan kertas
pasir.
7. Polishing
- Menghaluskan, melicinkan, dan mengkilatkan mahkota (stone bur, rubbercup,
wool bur dengan bubuk pumis)
2. MAHASISWA MAMPU MENJELASKAN TENTANG JEMBATAN
SEMENTARA
Prosedur pembuatan mahkota atau jembatan sementara dapat dilakukan dengan metode
direct atau indirect
a. Metode direct
1) Self curing acrylic putih
 Cetak gigi yang akan dipreparasi dengan alginat
 Preparasi gigi yang akan dipasangkan GTC
 Olesi gigi yang telah dipreparasi dengan separating agent
 Isi cetakan gigi alginat tadi dengan self curing acrylic di bagian gigi yang
dipreparasi
 Cetakan alginat berisi acrylic tadi dimasukkan kembali pada mulut pasien
 Kelebihan akrilik diambil dengan bur hingga gigi tiruan sementara sesuai
dengan bentuk gigi sebelum dipreparasi
 Lalu lekatkan atau pasang GT sementara tersebut ke gigi yang telah
dipreparasi dengan semen atau fletcher
2) Buatan pabrik
Mahkota buatan pabrik memiliki bentuk dan ukuran bermacam-macam. Biasanya
untuk bagian anterior terbuat dari akrilik dan untuk bagian posterior terbuat dari
logam. Cara kerja :
 Cari bentuk dan ukuran yang sesuai
 Preparasi gigi
 Oleskan gigi yang akan dipasangkan mahkota dengan separating agent
 Mahkota sementara diisi dengan self curing acrylic lalu pasangkan perlahan-
lahan pada posisinya
 Ambil kelebihan akrilik
 Bagian palatal/oklusal diambil agar tidak menggangu oklusi/artikulasi
 Poles bagian yang kasar
b. Mahkota indirect
 Jika mahkota gigi mengalami kerusakan karena gigi fraktor atau karies besar.
Perbaiki terlebih dahulu dengan wax merah pada model duplikat dari metode
studi(sebelum gigi dipreparasi)
 Lakukan pencetakan dengan bahan cetak alginat pada model gigi yang akan
dipreparasi dengan sendk cetak parsial. Hasil cetakan negatif disimpan dalam
wadah tertutup dan letakkan kapas lembab di sekeliling cetakan
 Preparasi gigi
 Olesi gigi yang telah dipreparasi dan jaringan lunak sekitarnya dengan
separating agent
 Siapkan cetakan negatif dengan memberi tanda dengan pensil/spidol pada
regio yang akan dibuat mahkota sementara, untuk memudahkan reposisi
kedudukan cetakan negatif pada model rahang
 Buat adonan self curing acrylic sewarna gigi yang homogen dengan jumlah
secukupnya pada deppen glass
 Masukkan akrilik secara merata secukupnya kedalam cetakan negatif gigi
yang bersangkutan menggunakan spatula
 Posisikan kembali sendok cetak pada model rahang sesuai posisi semula.
Fiksasi dengan jari tangan sampai sisa adonan akrilik medekati keras
 Lepaskan cetakan negatif
 Buang kelebihan akrilik dengan pisasu ukir/lecron/bur, dimulai dari daerah
proksimal, lalu labial dan palatal, kemudian lepaskan mahkota tiruan
sementara dengan crownremover/sickle scaler, lakukan dengan cepat dan tepat
 Lakukan penghalusan dengan stone pengasah lalu poles
 Pemasangan dilakukan dengan semen sementara (zinc oxide eugenol atau
tanpa eugenol seperti nogenol atau freegenol)
Pembuatan Jembatan Sementara
Preparasi abutment->cetak->buat pola lilin pada abutment dan pontik->cetak->tahap
selanjutnya sama dengan pembuatan mahkota sementara

3. MAHASISWA MAMPU MENJELASKAN TENTANG KONTROL GTC


Pemeriksaan dijadwalkan satu atau dua minggu setelah pemasangan gigitiruan cekat
untuk mengevaluasi prosedur oral hygiene telah dilakukan secara benar oleh pasien,
mengevaluasi fungsi, oklusi, kenyamanan gigitiruan, dan memastikan tidak terdapat sisa
semen pada sulkus ginggiva yang mungkin tidak terdeteksi sebelumnya. Pemeriksaan kedua
dijadwalkan satu minggu setelah pemeriksaan pertama untuk memastikan bahwa tidak ada
koreksi lebih lanjut yang diperlukan.

Pemeriksaan berkala sebaiknya dijadwalkan dalam interval waktu 6 bulan dan


pemeriksaan radiografik dilakukan 1 tahun setelah pemasangan gigitiruan cekat untuk
mengevaluasi kondisi apikal gigi penyangga dan selanjutnya pemeriksaan radiografik secara
rutin setiap 4 tahun untuk mendeteksi kematian pulpa dan infeksi apikal gigi penyangga.

Evaluasi secara umum pada gigi tiruan meliputi:

- Kecekatan ( fitness/self retention ). GTC harus memiliki kecekatan yang


maksudnya saat dipasangkan bisa pas dan tidak jatuh saat dipasang di gigi hasil
preparasi dan mampu melawan gaya-gaya ringan yang berlawanan dengan arah
insersi tanpa sementasi.
- Marginal fitness & integrity. Diperiksa pada bagian tepi servikal restorasi
menggunakan sonde half- moon; apakah ada bagian yang terlalu pendek atau
terbuka serta dilakukan pemeriksaan mengelilingi servikal. Kemudian dilihat juga
kondisi gusi, apakah mengalami kepucatan (menandakan tepi servikal yang terlalu
panjang sehingga menekan gusi). Disini perlu dilakukan pengurangan panjang
namun jangan sampai terlalu pendek yang dapat berakibat terbukanya tepi restorasi.
- Kontak proksimal. Kontak tidak boleh terlalu menekan, overhanging, atau
overkontur (terlalu ke labial atau lingual atau oklusal). Perhatikan juga efek dari
ACF karena gaya ini sangat berpengaruh terhadap kondisi inklinasi gigi. Pengecekan
dilakukan dengan menggunakan benang gigi dan dilewatkan di proksimal gigi
tetangga ataupun antar GTC. Disini benang harus mengalami hambatan ringan
namun tidak sampai merobek benang.
- Stabilitas dan adaptasi ke mukosa gingiva. Merupakan kedudukan pada gigi
penyangga harus tetap dan tepat, sehingga tidak goyang, memutar, ataupun terungkit
meskipun tidak diberi gaya. Untuk masalah faktor ungkit umumnya diperiksa
dengan menekan salah satu gigi penyangga. Adaptasi mukosa tentu perlu karena
nantinya GTJ akan menekan gusi meskipun ringan namun tetap tidak boleh
membuat perubahan warna pada gusi yang dapat berujung pada resesi serta untuk
memaksimalkan efek self cleansing pada daerah embrasurnya.
- Penyesuaian oklusal. Pemeriksaan dilakukan menggunakan kertas artikulasi dan
diletakan di titik kontak dan titi oklusi dan suruh pasien menggigit kertas tersebut
dalam kondisi oklusi sentris. Hasil yang baik adalah tidak adanya tanda pada hasil
restorasi yang menandakan bahwa oklusi sudah nyaman dan tidak ada yang
mengganjal atau ketidaknyamanan saat beroklusi. Hal ini perlu karena
ketidaknyamanan ini dapat berujung pada gangguan sistem mastikasi.
- Estetika. Syarat estetis selalu menjadi poin utama dalam setiap restorasi, khususnya
pada masa kini dimana pasien menginginkan restorasinya sewarna gigi dan seideal
mungkin, maka pada bagian yang terlihat saat tersenyum (anterior dan sebagian
kecil posterior) maka restorasi harus sewarna gigi tetangganya dan harus mengikuti
kontur, anatomi, dan bentuk normal gigi tersebut.

4. MAHASISWA MAMPU MENJELASKAN TENTANG KEGAGALAN GTC


Desain gigitiruan yang tidak memenuhi syarat dapat menimbulkan pengaruh buruk pada

beberapa jaringan di rongga mulut, terutama pada jaringan gingiva, misalnya :

a. Tidak adanya rest, dan rest yang jelek atau patah karena preparasi yang tidak cukup,

umumnya dapat mengakibatkan migrasi dari komponen-komponen logam ke apikal

sehingga terjadi gingivitis hiperplasia. Jika migrasi dibiarkan berlanjut, maka dapat

terjadi dehiscence dan penetrasi akar..11

b. Celah antara lengan cengkram dan tepi gingiva menyebabkan makanan terperangkap dan

meningkatkan kemungkinan besar pembusukan makanan dan gingivitis.11

c. Penempatan cengkram atau konektor yang terlalu cepat ke tepi gingiva.11

d. Adanya penimbunan sisa makanan diantara pinggiran basis gigitiruan dan gigi alami.

Timbunan sisa makanan akan mendorong tepi gingiva keluar dari perlekatannya terhadap

inflamasi jaringan akibat toksin yang dibentuk oleh mikroorganisme yang berinkubasi.11

e. Penekanan atau penutupan basis yang terlalu menekan pada tepi gingiva dapat

mengakibatkan trauma mekanik, respon inflamasi dan jika dalam keadaan kronik, dapat

mempercepat terbentuknya poket.11

f. Kontrol plak yang kurang dari pasien11

g. Kurangnya perawatan di rumah, baik pada kebersihan gigitiruan cekat maupun

kebersihan mulut yang menyebabkan respon tidak menguntungkan karena makanan

terperangkap. Dengan berkurangnya perawatan di rumah, maka masalah jaringan

periodontal sering mengikuti gingivitis dan karies gigi.11


DAFTAR PUSTAKA
Taringan, Slamat. 2006. Ilmu gigi tiruan cekat : Departemen Prostodonsia FKG USU
Rosenstiel. Contemporary Fixed Prosthodontics Fourth Edition

Machmud E. Desain preparasi gigitiruan cekat mempengaruhi kesehatan jaringan


periodontal. Jurnal Kedokteran Gigi Dentofasial 2008;7(1):13-4.