Anda di halaman 1dari 15

BENTUK-BENTUK ASOSIASI BAKTERI : ANTAGONISME

( Laporan Praktikum Mikrobiologi Akuatik)

Oleh
Anisah Qulub
1614201007
Kelompok 7

PROGRAM STUDY SUMBERDAYA AKUATIK


JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2018
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktikum : Bentuk-Bentuk Asosiasi Bakteri : Antagonisme


Tanggal : 24 Oktober 2017

Tempat : Laboratorium Perikanan Fakultas Pertanian Universitas


Lampung

Nama : Anisah Qulub

NPM : 1614201007

Kelompok : 7 ( tujuh )

Program Studi : Sumberdaya Akuatik

Jurusan : Perikanan dan Kelautan

Fakultas : Pertanian

Universitas : Universitas Lampung

Bandar Lampung, 1 november 2018


Mengetahui,
Asisten

Suhariyanto
NPM.1614201006
Nilai Keterangan
BENTUK-BENTUK ASOSIASI BAKTERI : ANTAGONISME
Oleh :
Anisah Qulub
1614201007

ABSTRAK

Praktikum ini dilakukan pada hari Kamis, 24 oktober 2018 di Laboratorium


Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Praktikum ini bertujuan agar
mahasiswa mengetahui bentuk-bentuk asosiasi bakteri. Adapun prosedur kerja dalam
praktikum bentuk-bentuk asosiasi bakteri adalah: diambil satu ose Bacillus d22 secara
aseptic lalu goreskan satu arah ada media TSA, kemudian diinkubasi selama 24 jam.
Selanjutnya diambil satu ose Vibrio parahaemolyticus secara aseptic lalu goreskan
memotong koloni Bacillus d22 yang telah ditanam sebelumnya sebanyak 4 kali
goresan sejajar dan tidak berlawanan arah, kemudian diinkubasi selama 24 jam.
Diamati ada tidaknya zona terang. Terdapatnya zona terang pada metode cakram
maka bakteri itu positif antagonisme hasil semua kelompok . sebaliknya jika tidak
terbentuk zona terang maka bakteri tersebut negatif antagoonisme metode gores hasil
semua kelompok.
Kata kunci : Asosiasi, pathogen, probioti.
Bakteri dapat dibedakan menjadi

I. PENDAHULUAN bakteri autotrof dan heterotrof. Bakteri

1.1 Latar Belakang


Bakteri merupakan organisme yang heterotrof merupakan bakteri yng tidk
memiliki jumlah paling banyak dan dapata membuat makanannya sendiri,
tersebar luas dari makhluk hidup sehingga bakteri jenis ini
lainnya. Bakteri ada yang memanfaatkan dan mengambil energi
menguntungkan dan ada yang di lingkungan sekitar, sedangkan
merugikan. Bakteri memiliki ciri-ciri Bakteri autotrof merupakan bakteri
yang dapat membedakannya dengan yang dapat membuat makannya
organisme lainnya yaitu bakteri adalah sendiri. Bakteri heterotrof ini
melakukan simbiosis terhadap
organisme uniseluler dan prokariot dan inangnya.
umumnya tidak memiliki klorofil.
Dalam suatu lingkungan yang daerah untuk menghambat
kompleks yang berisi berbagai macam pertumbuhan mikroorrganisme pada
organisme. Aktivitas metabolisme media agar oleh antibiotik. Contohnya:
suatu organisme akan berpengaruh tetracycline, erytromycin, dan
terhadap lingkungannya. streptomycin. Tetracycline merupakan
Mikroorganisme seperti halnya antibiotik yang memiliki spektrum
organisme lain yang berada dalam yang luas sehingga dapat menghambat
lingkungan yang kompleks senantiasa pertumbuhan bakteri secara luas
berhubungan baik dengan pengaruh (Waluyo, 2007).
faktor biotik dan faktor biotik. Sedikit
2.2 Karakteristik Bakteri
sekali suatu mikroorganisme yang
Bakteri Vibrio sp adalah jenis bakteri
hidup di alam mampu hidup secara
yang dapat hidup pada salinitas yang
individual. Hubungan mikroorganisme
relatif tinggi. Bakteri Vibrio berpendar
dapat terjadi baik dengan sesama
termasuk bakteri anaerobic fakultatif,
mikroorganisme, hewan ataupun
yaitu dapat hidup baik dengan atau
dengan tumbuhan. Hubungan ini
tanpa oksigen. Bakteri Vibrio tumbuh
membentuk suatu pola interaksi yang
pada pH 4 - 9 dan tumbuh optimal
spesifik yang dikenal dengan simbiosis
pada pH 6,5 - 8,5 atau kondisi alkali
dengan pH 9,0.
1.2 Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah agar
Vibrio parahaemolyticus adalah salah
mahasiswa mengetahui bentuk-bentuk
satu spesies bakteri dari
asosiasi bakteri antagonisme.
family Vibrionaceae yang merupakan
bakteri Gram negatif berbentuk batang
II. TINJAUAN PUSTAKA
(curved atau straight),anaerob
2.1 Zona Terang
fakultatif , tidak membentuk spora,
Zona Hambat merupakan tempat
pleomorfik, bersifat motil dengansingle
dimana bakteri terhamabat
polar flagellum. Bakteri ini merupakan
pertumbuhannya akibat antibakteri
bakteri halofilik (tumbuh optimum
atau antimikroba. Zona hambat adalah
pada media yang berkadar garam (curved atau straight ), anaerob
3%),tidak memfermentasi sukrosa dan fakultatif, tidak membentuk spora,
laktosa, dapat tumbuh pada suhu 10- pleomorfik, bersifat motil
40℃ (optimum suhu 37℃),dimana dengansingle polar flagellum. Bakteri
waktu generasi bakteri pada fase ini merupakan bakteri
eksponensial adalah 9-13 menit di halofilik(tumbuh optimum pada media
kondisi optimum yang berkadar garam 3%), tidak
pertumbuhannya.sementara itu kisaran memfermentasi sukrosa dan laktosa,
Ph pertumbuhannya berturut-turut dapat tumbuh pada suhu 10-44oC
adalah 4.8-11 (optimum 7.8-8.6) dan (optimum suhu 37oC), dimana waktu
0.94-0.99 (optimum 0.981) (Baumann generasi bakteri pada fase
dkk dalam Yusma,2011).Beberapa eksponensial adalah 9-13 menit di
karakter Vibrio parahaemolyticus yang kondisi optimum pertumbuhannya.
membedakannya dengan spesies Sementara itu kisaran pH
Vibrio lainnya diantaranya tidak pertumbuhannya berturut-turut adalah
memfermentasi sukrosa seperti Vibrio 4.8 – 11 (optimum 7.8 – 8.6) dan 0.94
cholera dan Vibrio –0.99 (optimum 0.981) (Baumann
alginolyticus. Selain itu pada media dan Schubert, 1984; Jay et al.
padat bakteri ini tumbuh 2005; Lake et al. 2003 dalam yeni
menggunakan lateral flagella serta 2011). Vibrio merupakan bakteri
sifatnya yang halofilik dengan kisaran aquatic yang dapat ditemukan di
garam 0.5-8%, sedangkan sungai, muara sungai, kolam dan laut.
bakteri Vibrio cholerae mampu Salah satu jenis bakteri dari
tumbuh pada media tanpa garam(Holt marga vibrio yang hidup di laut dan
dan Kreig dalam Yusma,2011). merupakan pathogen yang berbahaya
bagi kesehatan manusia adalah Vibrio
Vibrio parahaemolyticus adalah salah
parahaemolyticus. (liston, 1989 dalam
satu spesies bakteri dari
widowati, 2008).
famili Vibrionaceae yang merupakan
bakteri Gram negatif berbentuk batang Identifikasi Vibrio parahaemolyticus
patogenik pada awalnya dilakukan 2.3 Macam-Macam Metode Bentuk
berdasarkan reaksi biokimiawi akan Asosiasi Bakteri
tetapi metode ini memiliki kelemahan
diantaranya waktu analisis yang 2.3. 1 Metode Gores

panjang, akurasi dan sensitivitas yang Metode gores yaitu suatu cara

rendah serta belum tersedianya metode pengisolasian bakteri yang cara

analisis untuk mengidentifikasi faktor inokulasinya dengan menggoreskan

virulen TRH. Berlandaskan alasan suspensi bahan yang mengandung

tersebut, dikembangkan metode bakteri pada permukaan medium

analisis untuk dengan kawat ose dan digoreskan

mengidentifikasi Vibrio parahaemolyti sesuai dengan petridish. Kultur media

cus patogenik. Salah satu metode analis untuk menumbuhkan atau

is yang adalah metode analisis mengisolasikan bakteri dengan metode

berdasarkan pendekatan molekuler streak merupakan suatu teknik untuk

yaitu teknik Polymerase Chain memisahkan sel bakteri secara

Reaction (PCR). Metode PCR banyak individual. Setelah inkubasi, maka

dikembangkan untuk pengujian pada bekas goresan akan tumbuh

mikrobiologi karena memiliki koloni-koloni terpisah yang mungkin

keunggulan diantaranya sensitifitas berasal dari satu sel bakteri

tinggi, ketepatan hasil uji tinggi, waktu (Dwyana,2012).

pengujian relatif cepat dan dapat


digunakan untuk pengujian komponen 2.3. 2 Gores Sinambung

yang jumlahnya sangat sedikit Prosedur kerjanya adalah inokulum

(Yuwono, 2006 dalam yeni, 2011). loop (ose) disentuhkan pada koloni

Identifikasi V. parahaemolyticus bakteri dan gores secara kontinyu

patogenik menggunakan metode PCR sampai setengah permukaan agar. Lalu

dilakukan dengan cara petridish diputar 180o dan dilanjutkan

mengamplifikasi sekuen nukleotida goresan sampai habis. Goresan

berdasarkan keberadaan gen sinambung umumnya digunakan

penyandi tdh dan trh. bukan untuk mendapatkan koloni


tunggal, melainkan untuk peremajaan bakteri dilakukan pada hari kamis, 24
ke cawan atau medium Oktober 2018 pukul 13.00 sampai
baru(Dwyana,2012). dengan selesai di Laboratorium
Perikanan, Fakultas Lampung,
2.3. 3 Gores T Universitas Lampung.
Prosedur kerjanya adalah petridish
3.2 Alat Dan Bahan
dibagi menjadi 3 bagian menggunakan
Alat dan bahan yang digunakan dalam
spidol dan daerah tersebut diinokulasi
praktikum bentuk-bentuk asosiasi
dengan streak zig-zag. Ose dipanaskan
bakteri adalah: laminar airflow, tabung
dan didinginkan, lalu distreak zig-zag
reaksi, cawan petri, mikropipet,
pada daerah berikutnya
bacillus sp., media TSA dan antibiotic.
(Dwyana,2012).
3.3 Prosedur Kerja
2.3. 4 Gores Kuadran Adapun prosedur kerja dalam
Hampir sama dengan goresan T, praktikum bentuk-bentuk asosiasi
namun berpola goresan yang berbeda bakteri adalah: diambil satu ose
yaitu dibagi empat. Daerah 1 Bacillus d22 secara aseptic lalu
merupakan goresan awal sehingga goreskan satu arah ada media TSA,
masih mengandung banyak sel kemudian diinkubasi selama 24 jam.
mikroorganisma. Goresan selanjutnya Selanjutnya diambil satu ose Vibrio
dipotongkan atau disilangkan dari parahaemolyticus secara aseptic lalu
goresan pertama sehingga jumlah goreskan memotong koloni Bacillus
semakin sedikit dan akhirnya terpisah- d22 yang telah ditanam sebelumnya
pisah menjadi koloni tunggal sebanyak 4 kali oresan sejajar dan
(Dwyana,2012). tidak berlawanan arah, kemudian
diinkubasi selama 24 jam. Diamati ada
III. MATERI DAN METODE tidaknya zona terang.
3. 1 Waktu Dan Tempat
Praktikum bentuk-bentuk asosiasi
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan

Kel Bakteri Gambar Hasil D(cm) Metode


.
1,3
Ada zona
1 Metode
hambat/
cakram
Bacillus D22 dan bening 1

1 Vibrio
parahaemolyticus Tidak ada
Metode
zona hambat/ -
gores
bening

1,1
Ada zona
0,6 Metode
hambat/
cakram
Bacillus D22 dan bening 0,9

2 Vibrio
parahaemolyticus Tidak ada
Metode
zona hambat/ -
gores
bening

0,6

Bacillus D22 dan ada zona 0,5


Metode
3 Vibrio hambat/
cakram
parahaemolyticus bening 0,5
Tidak ada
Metode
zona hambat/ -
gores
bening

0,9
ada zona
0,7 Metode
hambat/
cakram
Bacillus D22 dan bening 0,8

4 Vibrio
parahaemolyticus Tidak ada
Metode
zona hambat/ -
gores
bening

0,9
ada zona
0,6 Metode
hambat/
cakram
bening 1
Bacillus D22 dan
5 Vibrio
parahaemolyticus Tidak ada
Metode
zona hambat/ -
gores
bening

0,8
Bacillus D22 dan ada zona
0,8 Metode
6 Vibrio hambat/
cakram
parahaemolyticus bening 0,8
Tidak ada
Metode
zona hambat/ -
gores
bening

0,8
ada zona
0,6 Metode
hambat/
cakram
Bacillus D22 dan bening 0,6

7 Vibrio
parahaemolyticus Tidak ada
Metode
zona hambat/ -
gores
bening

1
ada zona 0,9 Metode
hambat/
cakram
Bacillus D22 dan bening 0,8

8 Vibrio
parahaemolyticus Tidak ada
Metode
zona hambat/ -
gores
bening

Bacillus D22 dan 1


Ada zona
Vibrio 1,3 Metode
9 hambat/
parahaemolyticus cakram
bening 1
Tidak ada
Metode
zona hambat/ -
gores
bening

0,8
Ada zona
0,9 Metode
hambat/
cakram
bening 0,7
Bacillus D22 dan
10
Vibrio farenheii
Tidak ada
Metode
zona hambat/ -
gores
bening

4. 1 Pembahasan saling berkaitan (secara alamiah) dan


Antagonisme dapat terjadi antara akan terbentuk (asosiasi ini) ketika
mikroba ada yang bersifat terjadi persaingan komunitas
menguntungkan dan mikroba yang menyebutkan, asosiasi ini ditunjukkan
bersifat pathogen. Mikroba antagonis dengan adanya interaksi antara 2
merupakan suatu jasad renik yang spesies yang saling merusak satu sama
dapat menekan, menghambat dan lain. Dalam hal ini, suatu mikroba
memusnahkan mikroba lainnya. mensekresikan substansi kimia tertentu
Mikroba antagonis ini dapat berupa ke lingkungan sekitar yang dapat
bakteri, jamur atau cendawan, menghambat atau menghancurkan
actinomycetes atau virus (Kusnadi, mikroba lain di habitat yang sama
2003). (Waluyo, 2007).

Antagonisme merupakan suatu bentuk


Patogenitas Bakteri, Banyak bakteri
asosiasi antara spesies yang tidak
patogen yang dapat menyerang seluruh
bagian tubuh inang, meskipun pada hambat yang mengindikasikan bahwa
akhirnya akan berkoloni di suatu bakteri sensitif terhadap antibiotik.
tempat saja. Bakteri mengeluarkan amoxylin bekerja dengan menghambat
toksin berupa eksotoksin dan sintesis dinding sel yaitu dengan
endotoksin. Eksotoksin merupakan menyerang peptidoglikan dan mampu
protein bakteri yang diproduksi dan melakukan penetrasi pada bakteri gram
dikeluarkan ke lingkungan selama positif dan gram negatif. Hal ini
pertumbuhan bakteri patogen. Ada disebabkan keberadaan gugus amino
beberapa cara eksotoksin untuk dapat pada amoxylin, sehingga membuatnya
menimbulkan penyakit. Pertama mampu menembus membran terluar
eksotoksin dikeluarkan ke makanan, (outer membran) pada bakteri.
akibatnya manusia terserang penyakit Percobaan yang dilakukan telah sesuai
asal makanan. Kedua, eksotoksin dengan teori yang menyebutkan bahwa
dikeluarkan ke permukaan mukosa semakin tinggi konsentrasi dari
menyerang sel inang atau dapat antibiotika maka akan semakin besar
terbawa ke sistem peredaran darah zona jernih yang terbentuk
untuk menyerang jaringan yang rentan. (Dwidjoseputro., 2003).
Ketiga, bakteri patogen membentuk
abses (luka) dan mengeluarkan amoxylin termasuk antibiotik yang
eksotoksin untuk merusak jaringan bersifat bakterisidal dan memiliki
sehingga mempermudah pertumbuhan mekanisme kerja yang secara umum
bakteri (Irianto, 2006). menyebabkan kerusakan dinding sel
bakteri. Mekanisme kerja antibiotik
Dalam percobaan uji resistensi ini, tersebut antara lain: Penghambatan
antibiotik yang digunakan adalah sintesis dinding sel bakteri dengan
amoxylin yang didapatkan zona menghambat transpeptidasi sintesis
hambat/zona bening. Hal tersebut peptidoglikan pada aksi enzim
menunjukan bahwa bakteri sensitif transpeptidase bakteri. Transpeptidase
terhadap antibiotik, dapat dilihat merupakan enzim yang bekerja dalam
dengan adanya zona jernih/zona proses cross-linking dari rantai peptida
dalam membentuk senyawa antagonisme Vibrio farenheii. Menurut
peptidoglikan yang terjadi pada tahap (Noviani, 2009) menyatakan bahwa
akhir pembentukan dinding sel aktivitas mikroba ditandai dengan
(Essack, 2001; Chamber, 2004). adanya zona bening disekitar kertas
Proses Cross linking tersebut cakram.
digunakan dalam integritas struktur
dinding sel bakteri. Fungsi penambahan bacillus d22 pada
praktikum bentuk asosiasi bakteri yaitu
Bentuk-bentuk asosiasi yang untuk menghambat pertumbuhan
digunakan yaitu bentuk asosiasi bakteri pathogen.
antagonisme, dimana suatu bakteri
bersifat antagonisme terhadap bakteri Faktor kegagalan dalam praktikum ini
lain. Pada semua kelompok dengan mungkin dikarenakan praktikan tidak
metode cakram menunjukkan hasil melakukan praktikum sesuai dengan
negatif, artinya tidak terbentuknya prosedur atau saat melakukan
zona terang disekitar kertas cakram, praktikum, praktikan kurang steril baik
yang menandakan tidak adanya bahan maupun alat yang digunakan,
aktivitas bakteri probiotik Bacillus d22 sehingga terdapat hasil yang berbeda
dan antibiotic terhadap bakteri natara dua kelompok yang
antagonisme Vibrio farenheii. menggunakan bakteri yang sama.
Sedangkan semua kelompok dengan
metode gores didapatkan hasil yang IV. KESIMPULAN
positif yang menggunakan bakteri
antagonis berupa Vibrio farenheii dan Adapun kesimpulan yang didapat yaitu

bacillus d22, ditandai dengan adanya terdapatnya zona terang maka bakteri

zona bening di sekitar media. Adanya itu positif antagonisme pada metode

zona bening ini disekitar kertas cakram cakram, sebaliknya jika tidak

ini menandakan adanya aktivitas terbnentuk zona terang maka bakteri

bakteri probiotik Bacillus d22 dan tersebut negatif antagoonisme pada

antibiotic terhadap bakteri metode garis.


DAFTAR PUSTAKA Pratiwi, Sylvia t. 2008. Mikrobiologi
Farmasi. Erlangga. Jakarta.
Djide M, Natsir. 2008. Dasar-dasar
Mikrobiologi. Makassar. Univers Subroto. 2000. Pengenalan Alat di
itas Hasanuddin. Laboratorium. Erlangga, Jakarta.

Dwijaseputro. 1987. Dasar-Dasar Suratni, Ratnasari. 2000. Mikrobiologi


Mikrobiologi. Universitas Dasar Dalam Praktek.
Brawijaya. Malang: Djambatan. Gramedia, Jakarta.

Dwyana Z,.Abdullah.2012. Penuntun Suriawira, Unus. 2000. Pengantar


Praktikum Mikrobiologi. Mikrobiologi Umum. Angkasa,
Universitas Hasanuddin, Bandung.
Makassar.
Waluyo, L. 2007. Mikrobiologi Umum.
UMM Press. Malang, p: 61-67.
Effendi, I. 2002. Probiotics for Marine
Organism Disease Protection. Widanarni. 2002. Studi mekanisme
Fakultas Perikanan dan Ilmu pelekatan Vibrio sp. pada larva
KelautanUniversitas Riau, udang windu untuk penapisan
Pekanbaru. bakteri biokontrol. Rajawali
Entjang, Indan. 2003. Mikrobiologi Press, Jakarta.
dan Parasitologi. PT Citra
Aditya Bakti : Bandung

Fardiaz, Srikandi. 2001. Mikrobiologi


Pangan I. Gramedia, Jakarta
.
Irianto, Koes. 2006. Mikrobiologi
Menguak Dunia
Mikroorganisme. Wyrama
Widya .Bandung

Kusnadi, dkk. 2003. Mikrobiologi.


Bandung: JICA

Noviani. R, Siti Nurbetty, dan Ajuk


Sapar. 2009. Aktivitas Anti
Mikroba Ekstrak Metanol
Bakteri Berasosiasi Spons Dari
Pulau Lemukutuan, Kalimantan
Barat. Pontianak. Universitas
Tanjung Pura