Anda di halaman 1dari 10

KEANEKARAGAMAN ORGANISME DALAM SISTEM

PERTANIAN

Oleh :
Muhammad Alif Rois N B1A016019
Yosi Herliani B1A016023
Wafi Dwi Santoso B1A016024
Iqra Latifah B1A016032
Bunga Arya Samantha B1A016050
Bagus Saputra B1A016122
Chesa Ekani Maharesi B1A016144

Kelompok :2
Rombongan : II
Asisten : Siti Ruqoyah

LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN HAYATI

KEMENTERIAN RISET, TEKONOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keanekaragaman jenis merupakan karakteristik tingkatan dalam komunitas


berdasarkan organisasi biologisnya. Suatu komunitas dikatakan mempunyai
keanekaragaman yang tinggi jika komunitas tersebut disusun oleh banyak spesies
dengan kelimpahan spesies yang sama dan hampir sama. Sebaliknya jika suatu
komunitas disusun oleh sedikit spesies dan jika hanya sedikit spesies yang dominan
maka keanekaragaman jenisnya rendah (Umar, 2012).
Suatu organisme tidak dapat hidup menyendiri, tetapi harus hidup bersama-
sama dengan organisasi sejenis atau dengan yang tidak sejenis. Berbagai organisme
yang hidup di suatu tempat, baik yang besar maupun yang kecil, tergabung dalam
suatu populasi yang disebut komunitas biotik. Suatu komunitas adalah suatu unit
fungsional dan mempunyai struktur yang pasti. Keanekaragaman hayati dapat terjadi
pada berbagai tingkat kehidupan, mulai dari organisme tingkat rendah sampai
organisme tingkat tinggi. Misalnya dari makhluk bersel satu hingga makhluk bersel
banyak dan tingkat organisasi kehidupan individu sampai tingkat interaksi kompleks,
misalnya dari spesies sampai ekosistem (Rososoedarmo, 1990).
Dalam suatu ekosistem, seringkali dapat terjadi fluktuasi atau grafik naik
turunnya secara teratur. Fluktuasi tersebut dapat terjadi karena adanya saling kontrol
terhadap populasi konsumen biotik dalam suatu ekositem tersebut. Proses itu akan
terus berjalan secara berkesinambungan dan tanpa menimbulkan goncangan
ekosistem. Proses fluktuasi tersebut terjadi selama lingkungan tersebut berada dalam
keadaan seimbang (Wolf, 1992). Keberadaan serangga hama dalam suatu ekosistem
pertanaman akan memengaruhi kegiatan budidaya karena secara langsung akan
menurunkan kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan dan jika kegiatan
pengendalian tidak dilakukan maka kegiatan budidaya akan mengalami kerugian.
Kerugian yang akan dihadapi merupakan berbagai faktor yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan tanaman seperti tinggi rendahnya serangan hama, oleh karena itu
pengendalian hama penting untuk dilakukan (Susanto et al., 2018).
B. Tujuan
Tujuan praktikum kali ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman
organisme dalam sistem pertanian.
II. TELAAH PUSTAKA

Keanekaragaman yang tinggi menunjukkan bahwa suatu komunitas memiliki


kompleksitas yang tinggi. Komunitas yang tua dan stabil akan mempunyai
keanekaragaman jenis yang tinggi. Sedangkan suatu komunitas yang sedang
berkembang pada tingkat suksesi mempunyai jumlah jenis rendah daripada
komunitas yang sudah mencapai klimaks. Komunitas yang memiliki
keanekaragaman yang tinggi lebih tidak mudah terganggu oleh pengaruh lingkungan.
Jadi dalam suatu komunitas dimana keanekaragamannya tinggi akan terjadi interaksi
spesies yang melibatkan transfer energi, predasi, kompetisi dan niche yang lebih
kompleks (Umar, 2012).
Setiap tingkatan biologi sangat penting bagi kelangsungan hidup spesies dan
komunitas alami, dan kesemuanya penting bagi manusia. Keanekaragaman spesies
mewakili aneka ragam adaptasi evolusi dan ekologi suatu spesies pada lingkungan
tertentu. Keanekaragaman spesies menyediakan bagi manusia sumber daya
alternatifnya. Contohnya, hutan hujan tropik dengan aneka variasi spesies yang
menghasilkan tumbuhan dan hewan yang dapat digunakan untuk makanan, tempat
bernaung dan obat-obatan. Keanekaragaman hayati yang ada pada ekosistem
pertanian seperti persawahan dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi
tanaman, yaitu dalam sistem perputaran nutrisi, perubahan iklim mikro, dan
detoksifikasi senyawa kimia. Serangga sebagai salah satu komponen
keanekaragaman hayati juga memiliki peranan penting dalam jaring makanan yaitu
sebagai herbivor, karnivor, dan detrivor (Umar, 2012).
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keanekaragaman tanaman dapat
menurunkan populasi serangga herbivora,semakin tinggi keragaman ekosistem dan
semakin lama keragaman ini tidak diganggu oleh manusia, semakin banyak pula
interaksi internal yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan stabilitas serangga.
Stabilitas komunitas serangga selain bergantung pada keragamannya, juga pada
kepadatan tingkat tropik secara alami (Southwood and Way, 1970). Hasil studi
interaksi tanaman-gulma-serangga diperoleh bahwa gulma mempengaruhi
keragaman dan keberadaan serangga herbivora dan musuh-musuh alaminya dalam
sistem pertanian. Bunga gulma tertentu (kebanyakan Umbelliferae, Leguminosae,
dan Compositae) memegang peranan penting sebagai sumber pakan parasitoid
dewasa yang dapat menekan populasi serangga hama (Altieri, 1996).
III. MATERI DAN METODE

A. Materi

Lokasi yang digunakan pada praktikum kali ini adalah areal persawahan
kampus Karangwangkal, Universitas Jenderal Soedirman perkebunan jagung.
Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini, yaitu berbagai jenis hewan
dan tumbuhan yang hidup di ekosistem persawahan.
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini, yaitu loop, tali rafia,
penggaris, gunting, kamera, dan alat tulis.

B. Metode

Metode yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :


1. Petakan dibuat 2X2 m2 pada areal sawah.
2. Setiap jenis hewan yang ditemukan di areal persawahan kampus Karangwangkal,
Unsoed dan kebun jagung ditempat yang sama, baik menggunakan mata telanjang
maupun loop dimati.
3. Hewan ditemukan di areal persawahan dicatat.
4. Hewan yang anda peroleh didokumentasikan.
5. Hewan yang diperoleh diidentifikasi.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Keanekaragaman organisme pada sistem pertanian


Peran
Nama Lokal Nama Ilmiah
Hama Musuh Alami Lain-lain
Belalang Coklat Melanoplus differentialis 9 - -
Belalang Hijau Oxya chinensis 4 - -
Capung Neurothemis sp. - 3 -
Jangkrik Coklat Gryllus sp 8 - -
Semut Dolichoderus sp - - 11
Cacing Pheretima sp - - 6
Wereng Nilaparvata lugens 2 - -
Jangkrik Merah Gryllus mitratus 4 - -
Nyamuk Aedes aegypti - - 1
Total 48

Melanoplus

Gambar 4.1 Melanoplus differentialis Gambar 4.2 Oxya chinensis Gambar 4.3 Neurothemis sp.

Gryllus sp

Gambar 4.4 Gryllus sp Gambar 4.5 Dolichoderus sp Gambar 4.6 Pheretima sp


Gambar 4.7 Nilaparvata lugens Gambar 4.8 Gryllus mitratus Gambar 4.9 Aedes aegypti
B. Pembahasan

Ekosistem pertanian adalah berbagai unit dasar aktivitas pertanian yang terkait
secara ruang dan fungsi, yang mencakup komponen biotik dan abiotik dan
interaksinya. Sebuah ekosistem pertanian dapat dipandang sebagai bagian dari
ekosistem kovensional. Ekosistem pertanian merupakan faktor penting dalam
mendukung pemenuhan kebutuhan pangan. Ekosistem pertanian (agroekosistem)
memegang faktor kunci dalam pemenuhan kebutuhan pangan suatu bangsa.
Keanekaragaman hayati (biodiversity) yang merupakan semua jenis tanaman, hewan,
dan mikroorganisme yang ada dan berinteraksi dalam suatu ekosistem sangat
menentukan tingkat produktivitas pertanian, namun demikian dalam kenyataannya
pertanian merupakan penyederhanaan dari keanekaragaman hayati secara alami
menjadi tanaman monokultur dalam bentuk yang ekstrim (Altieri, 1996).
Berdasarkan organisme yang diperoleh, maka organisme tersebut dalam
digolongkan ke dalam tiga kelompok besar hewan berdasarkan fungsinya menurut
Tobing et al. (2006) yaitu sebagai berikut:
1. Hama, merupakan kelompok yang memakan bagian tanaman atau mengisap
cairan tanaman sehingga menimbulkan kerusakan dan kerugian secara ekonomi.
Contohnya adalah jangkrik, kutu loncat, belalang, tungau, dan tikus.
2. Musuh alami, merupakan kelompok hewan yang memakan hewan lain termasuk
juga memakan hama. Contohnya adalah kepik, capung, kumbang, semut rangrang,
burung, dan laba-laba.
3. Lain-lain, merupakan kelompok yang memakan makanan yang tersedia di suatu
lahan atau kebun tanpa menimbulkan kerusakan pada tanaman. Contohnya adalah
lalat, lebah, semut, kutu buku, dan cacing tanah.
Musuh alami adalah organisme hidup yang memangsa atau menumpang
dalam atau pada hama dan dianggap sebagai musuh dari hama yang terdapat di alam.
Musuh alami dibedakan menjadi tiga golongan yaitu predator, parasitoid, patogen.
Predator merupakan organisme pemakan organisme lain, setiap organisme pemakan
hama. Pada umumnya ukuran lebih besar dari pemangsanya. Predator menggunakan
alat mulut untuk menggigit dan mengunyah mangsanya, seperti mantidae, capung,
dan kumbang buas. Lainnya seperti Hemiptera, larva Neuroptera, lalat dan tungau
tertentu, menggunakan alat mulut pencucuk dan pengisap untuk mengkonsumsi
cairan tubuh mangsa. Sebagian predator nampak gesit, pemburu yang rakus, secara
aktif mencari mangsa di tanah atau pada vegetasi, seperti dilakukan oleh kumbang
buas, serangga sayap jala (lacewing) dan tungau, atau menangkap mangsa ketika
terbang seperti dilakukan oleh capung (dragonfly) dan lalat perompak (robberfly).
Kebanyakan spesies bersifat predator pada stadia muda maupun dewasa, namun ada
yang menjadi predator pada stadia larva saja, sedangkan imago mengkonsumsi madu
atau lainnya (Arifin, 2004).
Hama adalah oraganisme yang merusak tanaman dan menyebabkan kerugian
secara ekonomis. Organisme yang selalu ada atau selalu muncul pada musim
tanaman dan merusak tanaman tersebut dengan populasinya yang selalu tinggi
sehingga menyebabkan kerugian secara ekonomis, maka organisme tersebut
dikatakan sebagai hama penting. Salah satu cara merusak ialah dengan mengambil
pakan baik dalam bentuk padat maupun cair menggunakan alat mulutnya. Tanda dan
gejala serangan ini sangat penting dalam pekerjaan monitoring hama, karena tanda
serangan tiap jenis hama khas atau spesifik sehingga keadaan suatu hama pada suatu
saat dapat diketahui dengan pasti dan benar (Wagiman, 2003).
Hubungan antara hama dan musuh alami, musuh alami sebagai pengendali
hama bekerja bergantung kepada kepadatan, sehingga keaktifannya ditentukan pula
oleh kehidupan dan perkembangan hama yang bersangkutan. Menurut Brook et al
(2012) Pengendalian dengan predator tidak hanya mengurangi indeks puncak
kelimpahan tetapi juga dapat memodifikasi perilaku hama. Oleh karena itu, indikator
selain kelimpahan, seperti pola perilaku, harus dipertimbangkan saat memperkirakan
kapasitas predator untuk efektif berinteraksi dengan serikat trofik yang lebih rendah.
Perubahan perilaku predator puncak dapat terbatas pada perilaku mesopredators,
memberikan peningkatan akses ke sumber daya dan mangsa.
Hasil dari praktikum kali ini adalah terdapat keanekargaman organisme
dalam sistem pertanian yaitu terdapat belalang coklat, belalang hijau, jangkrik coklat,
wereng, dan jangkrik merah berperan sebagai hama. Capung berperan sebagai musuh
alami. Semut, cacing dan nyamuk masuk kedalam lain-lain. Dengan mempelajari
struktur ekosistem seperti komposisi jenis-jenis tanaman, hama, musuh alami, dan
kelompok biotik lainya, serta interaksi dinamis antar komponen biotik, dapat
ditetapkan strategi pengelolaan yang mampu mempertahankan populasi hama pada
suatu aras yang tidak merugikan (Susanto et al., 2018)
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:


1. Organisme dalam sistem pertanian yaitu belalang coklat, belalang hijau, jangkrik
coklat, wereng, jangkrik merah, capung, nyamuk, cacing, dan semut. Organisme
tersebut dalam digolongkan ke dalam tiga kelompok besar hewan berdasarkan
fungsinya, yaitu hewan sebagai hama, musuh alami, dan lain-lain. Hewan yang
tergolong hama yaitu, belalang coklat, belalang hijau, jangkrik coklat, wereng,
dan jangkrik merah, sedangkan hewan yang berfungsi sebagai musuh alami atau
agen pengendali adalah capung. Hewan yang tergolong lain-lain yaitu cacing
nyamuk dan semut.

B. Saran

Saran dari praktikum ini adalah sebaiknya dalam pelaksanaan praktikum


kenekaragaman organisme dalam sistem pertanian tidak hanya di lahan sawah
belakang Fakultas Biologi Unsoed supaya hewan yang didapat lebih bervariasi.
DAFTAR REFERENSI

Altieri, M. A., C. I. Nicholls, & M. S. Wolfe., 1996. Biodiversity a central concept in


organic agriculture: Restraining pests and diseases. In: Fundamentals of
Organic Agriculture. T.V. Ostergard, Editor. IFOAM. Copenhagen,
Denmark.

Arifin., 2004. Identifikasi Beberapa Spesies Predator Lalat Buah (Bactrocera dor-
salis) dan Uji Kemampuan Memang-sanya pada Pertanaman Cabai Besar
(Capsicum annum). Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Perta-
nian dan Kehutanan. Makassar : Universitas Hasanuddin.
Brook, L., Christopher N., Johnson., & Ritchie, E. G., 2012. Effects of predator
control on behaviour of an apex predator and indirect consequences for
mesopredator suppression. Journal of Applied Ecology, 49, pp. 1278–1286.
Resosoedarmo & Soedjiran., 1990. Pengantar Ekologi. Jakarta: PT Remaja
Rosdakarya.

Southwood., T. R. E., & M. J. Way., 1970. Ecological background to pest


management R.L. Rabb, F.E. Guthrie (Eds.), Concepts of Pest Management:
Proceedings of a Conference, held at North Carolina State University, 25–
27 March 1970, North Carolina State University, Raleigh, North Carolina
(1970), pp. 6–29.
Susanto, A., Supriyadi, Y., Tohidin, T., & Iqbal, M., 2018. Keragaman Serangga
Hama pada Tanaman Asparagus (Asparagus officinalis L.) di Sentra Budidaya
Tanaman Agroduta Lembang Jawa Barat. Agrikultura, 29(1), pp. 48-54.
Tobing, M. C., Bakti, D., Sutanto, A., & Saragih, H., 2006. Uji Penggunaan
Perangkap Feromon Dan Jala Untuk Pengendalian Oryctes rhinoceros
(Coleoptera: Scarabaeidae) Pada Tanaman Kelapa Sawit. Dept. HPT Fakultas
Pertanian USU. 65(8), pp. 89-92.
Umar, M. Ruslan., 2012. Penuntun Praktikum Ekologi Umum, Laboratorium Ilmu
Lingkungan dan Kelautan, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam. Makassar: Universitas Hasanuddin.
Wagiman, F. X., 2003. Hama Tanaman: Cermin Morfologi, Biologi dan Gejala
Serangan. Jurusan Hama Penyakit Tanaman, Fakultas Pertanian. Yogyakarta
: Universitas Gadjah Mada.

Wolf, L., 1992. Ekologi Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.