Anda di halaman 1dari 10

RANTAI MAKANAN

Oleh :
Muhammad Alif Rois N B1A016019
Yosi Herliani B1A016023
Wafi Dwi Santoso B1A016024
Iqra Latifah B1A016032
Bunga Arya Samantha B1A016050
Bagus Saputra B1A016122
Chesa Ekani Maharesi B1A016144

Kelompok :2
Rombongan : II
Asisten : Siti Ruqoyah

LAPORAN PRAKTIKUM PENGENDALIAN HAYATI

KEMENTERIAN RISET, TEKONOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal
balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa
dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap
unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem merupakan
penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik
antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu
struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan
anorganisme (Balvanera, 2005).
Istilah rantai makanan dalam ekologi sudah dikenal. Rantai makanan
merupakan lintasan konsumsi makanan yang terdiri dari beberapa spesies organisme.
Bagian paling sederhana dari suatu rantai makanan berupa interaksi dua spesies yaitu
interaksi antara spesies mangsa (prey) dengan pemangsa (predator). Interaksi tiga
spesies, kehadiran predator kedua berpengaruh pada jumlah predator pertama dan
prey sehingga dalam rantai makanan setiap komponennya saling memberikan
pengaruh (Pratikno, 2010).
Rantai makanan merupakan perpindahan materi dan energi melalui proses
makan dan dimakan dengan urutan tertentu. Tiap tingkat dari rantai makanan disebut
tingkat trofi atau taraf trofi. Karena organisme pertama yang mampu menghasilkan
zat makanan adalah tumbuhan maka tingkat trofi pertama selalu diduduki tumbuhan
hijau atau produsen. Tingkat selanjutnya adalah tingkat trofi kedua, terdiri atas
hewan pemakan tumbuhan yang biasa disebut konsumen primer. Hewan pemakan
konsumen primer merupakan tingkat trofi ketiga, terdiri atas hewan-hewan
karnivora. Jaring- jaring makanan, yaitu rantai-rantai makanan yang saling
berhubungan satu sama lain sedemikian rupa sehingga membentuk seperi jaring-
jaring. Jaring-jaring makanan terjadi karena setiap jenis makhluk hidup tidak hanya
memakan satu jenis makhluk hidup lainnya (Andrewarta, 1984).

B. Tujuan

Tujuan praktikum kali ini adalah untuk mengetahui rantai makanan pada suatu
ekosistem pertanian.
II. TELAAH PUSTAKA

Ekosistem alami dalam kurun waktu tertentu dapat menjaga sifat-sifatnya


dengan cukup konstan, terutama karena desakan-desakan yang dibuat oleh
lingkungan fisik bersama sama dengan lingkungan timbal balik baik intra maupun
antarspesies. Salah satu mekanisme tersebut adalah predasi (peristiwa mangsa
memangsa). Sifat mangsa-memangsa tersebut akan terus berlangsung dalam
kehidupan dan dalam ekositem dan disebut dengan rantai makanan. Rantai makanan
tersebut akan berlansung sepanjang masa, antara herbivora (pemakan tanaman) dan
karnivora (musuh alami). Tanaman juga disebut dengan produsen dan pemakan
produsen disebut sebagai konsumen (Aprilizah, 2006).
Rantai makanan menghasilkan gas (GHG) emisi gas rumah kaca di semua
tahapan dalam siklus hidupnya, mulai dari proses pertanian dan inputnya, melalui
untuk memproduksi, distribusi, pendinginan, ritel, makanan persiapan dalam
pembuangan rumah dan limbah. Pada tahap pertanian, GRK dominan adalah nitrous
oksida (N2O) dari tanah dan ternak proses (kotoran, urin dan aplikasi pupuk
nitrogen) dan metana (CH4) dari pencernaan ruminansia, beras budidaya dan tanah
anaerob (Garnett, 2011). Faktor yang berperan dalam menentukan laju pemangsaan
oleh suatu predator terhadap mangsanya diantaranya adalah preferensi terhadap
mangsa, kerapatan mangsa, kualitas makanan (mangsa) dan adanya mangsa alternatif
(Taulu, 2001). Pengelolaan agroekosistem dapat mempengaruhi keanekaragaman
musuh alami dan kelimpahan atau kerapatan populasi hama (Herlinda. 2000).
Predator umum biasanya mengonsumsi setiap mangsa yang ditanganinya (Winasa,
2001). Predator penghuni tajuk maupun penghuni tanah memberikan tekanan
pemangsaan yang tinggi terhadap hama kedelai. Pada ekosistem padi, keeratan
hubungan antara kerapatan populasi P. pseudoannulata dengan kerapatan populasi
wereng cenderung tinggi bila kerapatan populasi wereng tidak terlalu tinggi
(Herlinda, 2000). Penelitian Kartohardjono (1988), melaporkan bahwa kerapatan
predator yang dijumpai pada rumpun padi yaitu Cyrtorhinus sp., Paederus sp.,
Coccinella, Ophionea dan laba-laba Tetragnatha, Lycosa, Oxyopes, Callitrichia
meningkat pada saat kerapatan wereng coklat meningkat.

Menurut Anwar (1990), dilihat dari jenis makanannya hewan dapat


dikelompokkan ke dalam 3 golongan:
1. Hewan herbivora, adalah hewan pemakan tumbuhan. Contohnya: kambing,
kelinci, sapi dan sebagainya.
2. Hewan predator, adalah hewan pemakan hewan lain. Hewan predator terbagi
atas:
a. Karnivor yaitu binatang buas pemakan hewan berdaging. Contohnya:
harimau, singa dan sebagainya.
b. Insectivor yaitu binatang pemakan serangga. Contohnya: cecak, katak dan
sebagainya.
3. Hewan omnivor adalah binatang pemakan segala (tumbuhan dan daging).
Contohnya ayam, tikus dan sebagainya.
III. MATERI DAN METODE

A. Materi
Lokasi yang digunakan pada praktikum kali ini adalah areal persawahan
kampus Karangwangkal, Universitas Jenderal Soedirman perkebunan jagung.
Bahan yang digunakan dalam praktikum kali ini, yaitu berbagai jenis hewan
dan tumbuhan yang hidup di ekosistem persawahan.
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum kali ini, yaitu loop, tali rafia,
penggaris, gunting, kamera, dan alat tulis.

B. Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah :
1. Setiap jenis hewan yang ditemukan di areal persawahan kampus Karangwangkal,
Unsoed dan kebun jagung ditempat yang sama, baik menggunakan mata telanjang
maupun loop diamati.
2. Hewan ditemukan di areal persawahan dicatat.
3. Serangga yang ditemukan dtangkap menggunakan jarring serangga.
4. Pergunakan aspirator apabila ditemukan tungau baik pada daun-daun tanaman
padi maupun gulma disekitar tanaman padi.
5. Data yang diperoleh pada acara 1 dibuat rantai makanannya sesuai dengan
referensinya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 1. Tingkat Rantai Makanan


Tingkatan Trofik
No Nama Ilmiah Fauna Peran dalam Rantai Makanan
I II III IV
1 Rumput Produsen √
2 jangkrik Konsumen 1 √
3 Belalang Konsumen 1 √
4 wereng Konsumen 1 √
5 capung Konsumen 2 √
6 Laba-laba Konsumen 3 √
7 cacing Dekomposer √

Diagram Rantai Makanan

Konsumen I Konsumen II Konsumen III


Jangkrik Capung

Belalang
Dekomposer
Rumput Kutu daun Laba-laba Cacing

wereng

Walang sangit

B. Pembahasan
Rantai makanan adalah perpindahan energi dari organisme pada suatutingkat
trofik ke tingkat trofik berikutnya dalam peristiwa makan dan dimakandengan
urutan tertentu. Rantai makanan secara konseptual terstruktur dalam tingkatan trofik.
Sebuah tingkatan trofik mencakup semua organisme atau spesies dengan posisi yang
sama dalam rantai makanan. Tingkatan trofik terendah adalah produsen yang tidak
memakan organisme lain, tetapi dia bisa berfungsi sendiri sebagai makanan,
misalnya tanaman. Puncak tertinggi dalam tingkatan trofik ditepati oleh predator
yang hampir tidak mungkin dimakan oleh organisme lain. Panjang tingkatan trofik
dalam rantai makanan ditentukan oleh kompleksitas suatu ekosistem, namum
umumnya banyaknya tingkatan trofik tidak jauh berbeda tiap ekosistem (Kalshoven,
1981). Peran dan fungsi satwa pada suatu ekosistem amatlah penting karena satwa
merupakan mahluk yang diciptakan sebagai penyeimbang siklus ekosistem dalam
rantai makanan dan membantu dalam proses permudaan secara alamiah (Nurrani et
al., 2014).
Tingkat trofik adalah tingkatan dalam rantai makanan dimana suatu organisme
memperoleh energi. Tingkatan trofik paling bawah adalah produsen, tingkatan kedua
adalah herbivora dan tingkatan selanjutnya adalah karnivora. Tingkatan paling bawah
mempunyai populasi lebih besar dibandingkan tingkat diatasnya. Berdasarkan ukuran
populasi sensitifitas tingkat trofik paling atas relatif lebih sensitif terhadap
kepunahan. Pengelompokan semua spesies dalamkelompok-kelompok fungsional
yang berbeda atau tingkat trofik dapat membantu menyederhanakan dan memahami
hubungan antara spesies (Campbell, 2004).
Tiap tingkat dari rantai makanan dalam suatu ekosistem disebut tingkat trofik.
Pada tingkat trofik pertama adalah organisme yang mampu menghasilkan zat
makanan sendiri yaitu tumbuhan hijau atau organisme autotrof dengan kata lain
sering disebut produsen. Organisme yang menduduki tingkat tropik kedua disebut
konsumen primer (konsumen I). Konsumen I biasanya diduduki oleh hewan
herbivora. Organisme yang menduduki tingkat tropik ketiga disebut konsumen
sekunder (Konsumen II), diduduki oleh hewan pemakan daging (karnivora) dan
seterusnya. Organisme yang menduduki tingkat tropik tertinggi disebut konsumen
puncak (Kurniawan, 2008).

Hewan yang didapat pada praktikum kali ini yaitu ada jangkrik, belalang,
wereng, kutu daun, kedudukannya di rantai makanan sebagai konsumen 1. Rumput
kedudukannya sebagai produsen. Capung kedudukannya sebagai konsumen 2. Laba-
laba kedudukannya sebagai konsumen 3. Cacing kedudukannya sebagai pengurai.
menurut Haddad et al., (2011) keragaman tanaman meningkatkan keragaman
konsumendan struktur habitat, sehingga dapat meningkatkan jumlah interaksi
potensial serta potensi mangsa melarikan diri dari predator, sehingga dapat
menurunkankonektivitas jaringan makanan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:


1. Organisme yang terdapat dalam ekosistem sawah yaitu rumput, semut,
nyamuk, wereng, capung, belalang, cacing, jangkrik, laba-laba, kutu daun, dan
cacing.
2. Rantai makanan yang terbentuk, dimana yang berperan sebagai produsen
adalah rumput. Jangkrik, kutu daun, belalang, dan wereng berperan sebagai
konsumen tingkat I. Capung sebagai konsumen tingkat II. Cacing sebagai
dekomposer.

B. Saran
Sebaiknya praktikum rantai makanan dilakukan dengan waktu yang cukup
sehingga hewan-hewan atau organisme yang berada disekitar dapat tercatat
semua.

DAFTAR REFERENSI
Andrewartha, H., G., & Birch., 1984. The ecological. The University of Chicago.
Anwar, A., & Pakpahan., 1990. The Problem of Sawah-Land Conversion to Non-
Agricultural Uses in Indonesia. Indonesian Journal of Tropical Agriculture,
1(2). pp. 101-108.
Aprilizah., 2006. Pengaruh Kepadatan Predator Terhadap Pemangsaan Larva
Spodoptera litura F. Skripsi. Bogor: IPB.
Balvanera, P., C. Kremen., & M., Martinez., 2005. Applying community structure
analysis to ecosystem function: examples from pollination and carbon storage.
Ecological Applications. 15: 360-375.
Campbell, N. A., 2004. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Haddad, N. M., Gregory. M. C., Kevin G., Haarstad .J., Tilman. D. 2011. Plant
diversity and the stability of foodwebs. Ecology Letters. (14), pp. 42–46.
Herlinda, S., 2000. Analisis komunitas artropoda predator penghuni lanskap
persawahan di daerah Cianjur, Jawa Barat [disertasi]. Bogor: IPB Bogor.
Kartohardjono, Arifin, M., 1990. Spesies ulat grayak dan musuh alaminya pada
kedelai. Di dalam: Prosiding Simposium Keanekaragaman Hayati Artropoda
pada Sistem Produksi Pertanian. Bogor: Perhimpunan Entomologi Indonesia.
Kurniawan, A., 2008. Biology Insight “Mengkaji Kehidupan, Memupuk Keimanan”.
Jawa Tengah: Hamudha Prima Media Publishing.
Nurrani, L., Bismark, M., & Tabba, S., 2014. Tipologi Penggunaan Lahan Oleh
Masyarakat pada Zona Penyangga Taman Nasional Aketajawe Lolobata di
Kabupaten Halmahera Timur. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi
Kehutanan. 11(3), pp. 223-235.

Pratikno. 2010. Model Dinamis Rantai Makanan Tiga Spesies. Jurnal Matematika,
13(3), pp. 151-158.
Taulu, L. A., 2001. Kompleks artropoda predator penghuni tajuk kedelai dan
peranannya dengan perhatian utama pada Paederus fuscipes (Curt.)
(Coleoptera: Staphylinidae). Bogor: IPB.
Winasa, I. W., 2001. Artropoda predator penghuni permukaan tanah di pertanaman
kedelai: kelimpahan pemangsaan dan pengaruh praktek budidaya tanaman
[disertasi]. Bogor: IPB.