Anda di halaman 1dari 9

ASAS-ASAS HUKUM KELUARGA

Oleh :

Kelompok 3

Adbul Wahab
Virgina Wulan Fausia
Dimas Zulhasni

Kelompok 4
Ulfah Fauziah
Riki Wibowo
Adam Ilham Ahmadi

UNIVERSITAS ISLAM MALANG


2019

i
DAFTAR ISI

SAMPUL

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PEDAHULUAN

A. Latar belakang 1

B. Rumusan masalah 1

C. Tujuan masalah 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Asas-asas hukum Keluarga 2

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan 6

B. Saran 6

DAFTAR PUSTAKA 7

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Terbentuknya suatu keluarga itu karena adanya perkawinan. Perkawinan

adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami
istri dengan tujuan membentuk sebuah keluarga (rumah tangga) yang bahagia.

Sehingga Keluarga dalam arti sempit artinya yaitu sepasang suami istri dan anak-

anak yang dilahirkan dari perkawinan itu, tetapi tidak mempunyai anak juga bisa

dikatakan bahwa suami istri merupakan suatu keluarga.

Sedangkan definisi hukum kekeluargaan secara garis besar adalah hukum

yang bersumber pada pertalian kekeluargaan. Pertalian kekeluargaan ini dapat

terjadi karena pertalian darah, ataupun terjadi karena adanya sebuah perkawinan.

Hubungan keluarga ini sangat penting karena ada sangkut paut nya dengan

hubungan anak dan orang tua, hukum waris, perwalian dan pengampuan.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Apa saja asas-asas dari hukum keluarga ?

C. Tujuan masalah

Adapun tujuan masalahnya adalah :

1. Untuk mengetahui asas-asas dari hukum keluarga

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Asas-asas Hukum Keluarga

Berdasarkan hasil analisis terhadap KUH Perdata dan UU Nomor 1 tahun

1974 dirumuskan beberapa asas yang cukup prinsip dalam Hukum Keluarga,
yaitu:

1. Asas monogamy1

Asas monogamy mengandung makna bahwa seorang pria haya boleh

mempunyai seorang istri, seorang wanita hanya boleh mempunyai seorang suami.

Monogami adalah suatu bentuk perkawinan / pernikahan dimana si suami

tidak menikah dengan perempuan lain dan si isteri tidak menikah dengan laki-laki

lain. Jadi singkatnya monogami merupakan nikah antara seorang laki dengan

seorang wanita tanpa ada ikatan pernikahan lain.

Asas Perkawinan dalam Hukum Islam adalah monogami. Ketentuan itu

terdapat dalam al-Qur’an surat an-nisa’ ayat 3, yang artinya :

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak/wanita

yang yatim (bila kamu mengawininya.). maka kawinilah wanita-wanita lain yang

kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kernudian jika kamu takut tidak akan dapat

berlaku adil, maka kawinlah seorang saja, atau budak budak yang kamu miliki.

Yang demikian itulah lebih dekat kepada tidak berbuat zalim”.

Ayat diatas mengingatkan para laki-laki jika laki-laki yang hendak melakukan

poligami tersebut khawatir atau takut tidak bisa berbuat adil terhadap wanita yang

1
Pasal 27 BW dan pasal 3 UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan

2
dinikahinya, maka laki-laki itu tidak boleh mengawini wanita tersebut. Ia wajib

kawin dengan wanita lain yang ia senangi, seorang istri sampai dengan empat.

dengan syarat ia marnpu berbuat adil terhadap istri-istrinva. Dan jika ia takut

tidak bisa berbuat adil terhadap istri-istrinya, maka ia hanya boleh beristri

seorang, dan ini pun ia tidak boleh berbuat zalim terhadap istrinya.

Asas Monogami telah diletakkan oleh Islam sejak 15 abad yang lalu sebagai

salah satu asas dalam Islam yang bertujuan untuk landasan dan modal utama guna
membina kehidupan rumah tangga yang harmonis, sejahtera dan bahagia. Karena

itu, hukum asal dalam perkawinan menurut Islam adalah monogami, sebab

dengan monogami akan mudah menetralisasi sifat cemburu, iri hati, dan suka

mengeluh dalam kehidupan keluarga yang monogamis.

2. Asas Konsensual2

asas ini mengandung makna bahwa perkawinan dapat dikatakan sah apabila

terdapat persetujuan atau consensus antara calon suami-istri yang akan

melangsungkan perkawinan.

3. Asas persetujuan bulat

Asas persetujuan bulat, yakni suatu asas dimana antara suami-istri terjadi
persatuan harta benda yang dimilikinya.3

4. Asas proporsional

Asas Proporsional, suatu asas di mana hak dan kedudukan istri adalah

seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan

di dalam pergaulan masyarakat .4

2
Pasal 28 KUHPerdata dan pasal 6 UU No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan
3
Pasal 119 KUH Perdata
4
Pasal 31 UU Nomor 1 Tahun 1974

3
5. Asas tidak dapat di bagi-bagi

Asas tak dapat dibagi-bagi,yaitu suatu asas yang menegaskan bahwa dalam

tiap perwalian hanya terdapat seorang wali. Pengecualian dari asas ini adalah :

1. Jika perwalian itu dilakukan oleh ibu sebagai orang tua yang hidup lebih
lama maka kalau ia kawin lagi, suaminya menjadi wali serta/wali peserta.5

2. Jika sampai ditunjuk pelaksana pengurusan yang mengurus barang-barang


dari anak di bawah umur di luar Indonesia.6
6. Asas prinsip calon suami istri harus telah matang jiwa raganya.7

7. Asas Monogami terbuka/poligami terbatas

Asas monogamy terbuka/poligami terbatas, asas yang mengandung makna

bahwa seorang suami dapat beristri lebih dari seorang dengan izin dari pengadilan

setelah mendapat izin dari istrinya dengan dipenuhhinya syarat-syarat yang ketat.8

Mahkamah Konstitusi (MK) menyatakan bahwa ketentuan-ketentuan yang

tercantum dalam UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan)

yang menyatakan bahwa asas perkawinan adalah monogami, dan poligami

diperbolehkan dengan alasan, syarat, dan prosedur tertentu tidak bertentangan

dengan ajaran islam dan hak untuk membentuk keluarga, hak untuk bebas
memeluk agama dan beribadat menurut agamanya, dan hak untuk bebas dari

perlakuan yang bersifat diskriminatif sebagaimana diatur dalam UUD 1945.

hal-hal yang telah dipahami Rasulullah, sahabat-sahabatnya, tabi’in, dan jumhur

ulama muslimin tentang hukum-hukum berikut:

1. Boleh berpoligami paling banyak hingga empat orang isteri.

5
Pasal 351 KUHPerdata
6
Salim, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), (Jakarta: Sinar Grafika,2008)
7
Pasal 7 UU No.1 Tahun 1974
8
Pasal 3 ayat (2) jo Pasal 4 dan 5 UU No.1 Tahun 1974

4
2. Disyariatkan dapat berbuat adil diantara isteri-isterinya. Barangsiapa yang

belum mampu memenuhi ketentuan diatas, dia tidak boleh mengawini wanita

lebih dari satu orang. Seorang laki-laki yang sebenarnya meyakini dirinya

tidak akan mampu berbuat adil, tetapi tetap melakukan poligami, dikatakan

bahwa akad nikahnya sah, tetapi dia telah berbuat dosa.

3. Keadilan yang diisyaratkan oleh ayat diatas mencakup keadilan dalam tempat

tinggal, makan dan minum serta perlakuan lahir batin.


4. Kemampuan suami dalam hal nafkah kepada isteri kedua dan anak-anaknya.

8. Asas perkawinan agama

Asas perkawinan agama, asas yang mengandung makna suatu perkawinan

hanya sah apabila dilaksanakan sesuai dengan hukum agama dan kepercayaannya

masing-masing.9

9. Asas perkawinan sipil

Asas perkawinan sipil, asas yang mengandung makna bahwa perkawinan

adalah sah apabila dilaksanakan dan dicatat oleh pegawai pencatat sipil (kantor

catatan sipil), perkawinan secara agama belum berakibat sahnya suatu

perkawinan.10

9
Pasal 31 UUNo.1 Tahun 1974 tentang perkawinan
10
Zulfa Djoko Basuki,Kompilasi Bidang Hukum Kekeluargaan,( Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Hukum dan
HAM RI, Jakarta:2009)

5
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun asas-asas hokum keluarga adalah sebagai berikut :

1. Asas monogamy

2. Asas konsensual

3. Asas persetujuan bulat


4. Asas proporsional

5. Asas tidak dapat dibagi-bagi

6. Asas prinsip calon suami istri harus telah matang jiwa raganya

7. Asas monogamy terbuka atau poligami terbatas

8. Asas perkawinan agama

9. Asas perkawinan sipil

B. Saran

Semoga makalah ini dapat bermanfaat kita, terutama dalam memahami

hokum keluarga islam khususnya “asas-asas hokum keluarga”. Namun kami

menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi bahasa,
sistematika penulisan, dan lain lain. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik

dan saran yang membangun dari para pembaca.

Kami mohon maaf atas semua kekurangan dan keterbatasan. Terima kasih

atas kerjasama dan saran dari pembaca semua. Wassalam.

6
DAFTAR PUSTAKA

Pasal 27 BW dan pasal 3 UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan

Pasal 28 KUHPerdata dan pasal 6 UU No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan

Pasal 119 KUH Perdata

Pasal 31 UU Nomor 1 Tahun 1974

Pasal 351 KUHPerdata

Salim, Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), (Jakarta: Sinar Grafika,2008)


Pasal 7 UU No.1 Tahun 1974

Pasal 3 ayat (2) jo Pasal 4 dan 5 UU No.1 Tahun 1974

Pasal 31 UUNo.1 Tahun 1974 tentang perkawinan

Zulfa Djoko Basuki,Kompilasi Bidang Hukum Kekeluargaan,( Badan Pembinaan

Hukum Nasional Departemen Hukum dan HAM RI, Jakarta:2009)