Anda di halaman 1dari 9

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan Kesehatan menurut Undang-Undang Nomor 25 tahun

2014 Tentang Sistem Perencanaan Pembagunan Nasional, yang bertujuan

untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi

setiap orang, supaya terwujud derajat kesehatan warga masyarakat yang

setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi membagunan SDM (Sumber Daya

Manusia) yang produktif secara sosial dan Ekonomis. Sedangkan pasal 2

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 dan pasal 1 Undang-Undang Nomor

36 tahun 2009 Tentang Kesehatan, disebutkan bahwa kesehatan adalah

keadaan yang sehat, baik fisik dan mental maupun spiritual dan sosial, yang

memungkinkan setiap orang dapat hidup prosuktif secara sosial dan ekonomis.

Salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang belum

tercapai dalam pembangunan kesehatan adalah beban ganda penyakit, yaitu

disatu pihak masih banyaknya penyakit menular yang harus ditangani, dilain

pihak semakin meningkatkan penyakit tidak menular. Pengobatan penyakit

tidak menular sering kali memakan waktu lama dan memerlukan biaya besar.

Penyakit tidak menular dikaitkan dengan berbagai faktor resiko seperti kurang

aktifitas fisik, pola makan yang tidak sehat, gaya hidup yang tidak sehat,
2

gangguan mental emosional (sters), serta perilaku yang berkaitan dengan

kecelakaan atau cidera.

Penyakit tidak menular (PTM) adalah penyebab kematian terbanyak di

Indonesia. Keadaan dimana penyakit menular masih merupakan masalah

kesehatan penting dan dalam waktu bersamaan morbiditas dan mortalitas PTM

makin meningkat. Penyakit tidak menular sering dianggap tidak berbahaya

dibandingkan penyakit menular. Padahal menurut data Dinas Kesehatan

pembunuh nomor satu justru masuk pada kategori penyakit tidak menular

seperti serangan jantung, diabetes, ginjal, gastritis dan lain-lain.

Gastritis atau secara umum dikenal dengan penyakit maag merupakan

salah satu penyakit tidak menular. Gastritis merupakan suatu keadaan

peradangan atau pendarahan mukosa lambung yang dapat bersifat akut kronis.

Gejala gastritis antara lain adalah rasa terbakar diperut bagian atas, kembung,

bersendawa, mual-mual dan muntah.

Penyebab penyakit gastritis sering disebabkan oleh meningkatnya

asam lambung. Peningkatan produksi asam lambung dapat terjadi karena,

makanan atau minuman yang merangsang lambung yaitu makanan yang pedas

atau asam, kopi dan alkohol, faktor stress, obat-obatan yang digunakan dalam

jangka waktu lama, jadwal makan yang tidak teratur. Faktor – faktor lain yang

kurang kuat berkaitan dengan sakit lambung antara lain riwayat keluarga yang

menderita sakit maag, kurangnya daya mengatasi atau adaptasi yang buruk

terhadap stress (Riyanto, 2008)


3

Badan penelitian kesehatan dunia WHO (2012), mengadakan tinjauan

terhadap beberapa negara di dunia dan mendapatkan hasil presentase dari

angka kejadian gastritis di dunia, diantaranya Inggris (22%), China (31%),

Jepang (14,5), Kanada (35%), dan Perancis (29,5%). Di Asia Tenggara sekitar

583.635 dari jumlah penduduk setiap tahunnya. Persentase dari angka kejadian

gastritis di Indonesia menurut World Health Organization (WHO) adalah

40,8%. Angka kejadian gastritis pada beberapa daerah cukup tinggi prevalensi

274,396 (Budiana, 2006). Di Banjarmasin angka kejadian gastritis 34, 330

kasus yang di peroleh dari Badan Pusat Statistik Kota Banjarmasin pada tahun

2015.

Berdasarkan penelitian dan pengamatan yang dilakukan oleh

Departemen Kesehatan RI, angka kejadian gastritis pada tahun 2012-2013 di

beberapa kota di Indonesia ada yang tinggi mencapai 91,6% yaitu Medan,

Surabaya 31,4%, Denpasar $6%, Jakarta 50%, Bandung 30,5%, Palembang

35,5%, Pontianak 31,5%, hal tersebut disebabkan oleh pola makan yang

kurang serat. Presentase dari angka kejadian penyakit asam lambung di

Indonesia menurut WHO tahun 2014 adaah 45,5%. Angka kejadian penyakit

asam lambung (gastritis) ada beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi

prevalensi 274.396 kasus dari 238.452.952 jiwa penduduk (WHO, 2014).

Berdasar profil kesehatan Indonesia tahun 2014 penyakit asam lambung

merupakan salah satu penyakit di sepuluh besar penyakit terbanyak pada

pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia dengan jumlah 45,154 (5,6%)

(RI, 2014).
4

Berdasarkan survei pengkajian data rekam medik rawat inap pada

Rumah Sakit Idaman Banjarbaru di dapatkan bahawa kasus gastritis dari bulan

januari 2018 sampai dengan bulan juni 2018, kasus gastritis terus terus ada

dengan data pada bulan Januari ( 3 orang), Februari (5 orang), Maret ( 62

orang), April (60 orang), Mei (49 orang), Juni (31 orang).

Dampak dari penyakit gastritis dapat mengganggu aktifitas pasien

sehari-hari karena munculnya berbagai keluhan seperti rasa sakit di ulu hati,

rasa terbakar, mual, muntah, lemas, tidak nafsu makan dan keluhan-keluhan

lainnya. Bila penyakit ini tidak ditangani secara optimal dan di biarkan hingga

kronis, gastritis akan berkembang menjadi ulkus peptikus yang pada akhirnya

mengalami komplikasi pendarahan, perforasi gaster, peritonitis dan bahkan

kematian (Vallen dalam zakaria 2013).

Untuk mencegah penyakit gastritis sebaiknya pasien memilih makan

yang seimbang sesuai kebutuhan dan jadwal makan yang teratus, memilih

makanan yang lunak, mudah dicerna, makan dalam porsi kecil tapi sering,

hindari stress dan tekanan emosi yang berlebihan serta menghindari makanan

yang menaikan asam lambung (Muttaqin, 2011).

Pola makan adalh cara atau perilaku yang ditempuh seseorang atau

sekelompok orang dalam memilih, menggunakan bahan makanan dalam

konsumsi pangan setiap hari yang meliputi frekuensi makan, porsi makan, dan

jenis makan yang berdasarkan faktor-faktor sosial, budaya dimana mereka

hidup (Hudha, 2006).


5

Kepatuhan diet yang dijalankan oleh pasien dipengaruhi oleh beberapa

faktor salah satunya adalah faktor pendidikan yang ditempuh oleh pasien.

Pasien yang memiliki latar pendidikan yang berbeda sehingga setiap pasien

memiliki beragam sudut pandang, pola berfikir dalam memutuskan suatu hal

dan penerimaan akan terapi diet yang dijalani selama proses penyembuhan.

Pendidikan ini sangat mempengaruhi seseorang dalam menerima suatu

informasi tentang gizi atau pengetahuan gizi, adanya pendidikan gizi ini

diharapkan semua orang dapat mengetahui dan memahami pentingnya

makanan yang dikonsumsi memiliki kandungan gizi yang baik sehingga

mampu bersikap dan bertindak sesuai norma-norma gizi yang ada (Supariasa,

2007).

Alasan peneliti memilih lokasi ini adalah karena berbagai alasan

diantaranya adalah sebagai berikut : lebih dekat dengan tempat tinggal, mudah

dijangkau dan ekonomis. Selain itu penelitian dilakukan pada RSUD Idaman

Banjarbaru karena pada data rekam medik yang di dapatkan gastritis

mengalami peningkatan jumlah pasien dari bulan Januari sampai Juni 2018

dari hasil pendataan terakhir.

Melihat data dan keterangan di atas maka hal ini menunjukkan bahwa

permasalahan gastritis memiliki tingkat keseriusan yang cukup tinggi dalam

dunia kesehatan masyarakt khususnya di kota Banjarbaru. Untuk itu maka

peneliti tertarik mengetahui “ apakah ada hubungan pola makan dan

kepatuhan diet dengan kejadian gastritis pada pasien rawat inap RSUD

Idaman Banjarbaru”.
6

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas yang menjadi perumusan masalah

dalam penelitian ini adalah peneliti ingin mengkaji: “Apakah Ada Hubungan

Pola Makan Dan Kepatuhan Diet Dengan Kejadian Gastritis Pada Pasien

Rawat Inap RSUD Idaman Banjarbaru?”

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum :

Untuk menghetahui Hubungan Pola Makan Dan Kepatuhan Diet

Dengan Kejadian Gastritis Pada Pasien Rawat Inap RSUD Idaman

Banjarbaru 2019.

2. Tujuan Khusus :

a. Mengetahui karakteristik Usia dan Jenis Kelamin pada pasien dewasa

rawat inap RSUD Idaman Banjarbaru.

b. Mengetahui kejadian gastritis pada pasien dewasa rawat inap di RSUD

Idaman Banjarbaru

c. Mengetahui pola makan pasien gastritis pada pasien dewasa rawat inap

RSUD Idaman Banjarbaru.

d. Mengetahui kepatuhan diet pasien gastritis dewasa rawat inap RSUD

Idaman Banjarbaru.

e. Menganalisis hubungan pola makan dengan kepatuhan diet gastritis.

f. Menganalisis hubungan kepatuhan diet dengan kejadian gastritis pada

pasien dewasa rawat inap RSUD Idaman Banjarbaru.


7

D. Manfaat penelitian

1. Manfaat Teoritis

Sebagai sumber informasi mengenai bagaimana pola konsumsi dan

kepatuhan diet pada pasien gastritis di ruang rawat inap RSUD Idaman

Banjarbaru.

2. Manfaat Bagi Ahli Gizi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber bacaan dan belajar

bagi para ahli gizi sebagai acuan atau pedoman dalam praktik pemberian

terapi diet untuk mengurangi kejadian gastritis.

3. Manfaat Bagi Responden

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada

responden yaitu pasien yang mengalami gastritis dan keluarga mengikuti

anjuran diet yaitu mengontrol asupan makanan.

4. Manfaat Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan

pengetahuan bagi peneliti selanjutnya sehingga dapat dijadikan bahan

perbandingan dan evaluasi untuk lebih mengembangkan variable yang

berhubungan dengan diet pasien gastritis.


8

E. Keaslian penelitian

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

No
Metode
Peneliti Judul Penelitian Variabel Penelitian Analisa Penelitian
. Penelitian

1. Hubungan Pola Makan - Stratified - Variable bebas : - Subyek : Santri Pondok


Dengan Gastritis Pada random pola makan Pesantren Daar El- Qolam
Wahyu pratiwi
Remaja Di Pondok Pesantren sampling - Variable terikat : Gintung, Jayati,
(2013)
Daar El_Qolam Gintung, gastritis Tanggerang.
Jayanti, Tanggerang. - Instrument : Kuesioner.
2. Hubungan Antara Dukungan - Deskriptif - Variablel bebas : - Subyek : pasien klinik
Keluarga Dengan Kepatuhan korelatif dukungan amanah medika kaliapit
Endang Sri Diit Gastritis Di Klinik pendekatan keluarga dengan gondang rejo karanganyar
Mulyani, dkk Amanah Medika Kaliapit cross sectional kepatuhan diet - Instrument : kuesioner
(2016) Godangrejo Karanganyar - Variable terikat : - Analisis : univariat dan
gastritis bivariate yaitu korelasi
Spearman’s rho
3. Hubungan Tingkat - Cross - Variable bebas : - Subyek : 24 pasien gastritis
Pendidikan Dan Dukungan sectional tingkat rawat inap di RSUD
Keluarga Terhadap pendidikan, Sukoharjo.
Novianti
Kepatuhan Diet Pada Pasien dukungan - Instrument : kuesioner
Kusumaningru
Gastritis Rawat Inap Di keluarga, dan
m (2017)
RSUD Sukoharjo kepatuhan diet
- Variable terikat :
gastritis
9