Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang sedang hadapi saat
ini dalam pembangunan kesehatan adalah beban ganda penyakit, yaitu disatu pihak masih
banyaknya penyakit menular yang harus ditangani, dilain pihak semakin meningkatkan
penyakit tidak menular. Pengobatan penyakit tidak menular seringkali memakan waktu
lama dan memerlukan biaya besar. Penyakit tidak menular dikaitkan dengan berbagai
factor resiko seperti kurang aktifitas fisik, pola makan yang tidak sehat, gaya hidup yang
tidak sehat, gangguan mental emosional (sters), serta perilaku yang berkaitan dengan
kecelakaan atau cidera. Menurut Hirlan tahun 2005, gastritis adalah proses inflamasi pada
mukosa dan submukosa lambung atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh factor
iritasi dan infeksi.

Penyakit tidak menular (PTM) adalah penyebab kematian terbanyak di Indonesia.


Keadaan dimana penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan penting dan
dalam waktu bersamaan morbiditas dan mortalitas PTM makin meningkat. Penyakit tidak
menular sering dianggap tidak berabahaya dibandingkan penyakit menular. Padahal
menurut data Dinas Kesehatan pembunuh nomor satu justru masuk pada kategori
penyakit tidak menular seperti serangan jantung, diabetes, ginjal dan lain-lain. Gastritis
merupakan gangguan yang sering terjadi dengan karakteristik adanya anorexia, rasa
penuh, dan tidak enak pada epigastrium, mual, dan muntah. Gastritis disebabkan oleh
adanya peradangan pada mukosa lambung akibat tingginya produksi asam lambung.
Akibatnta, sejumlah keluhan akan dialami oleh penderitanta, diantaranta meliputi rasa
perih di sekitar area ulu hati, perut kembung, bersendawa, sesak nafas, mual, bahkan
muntah-mutah. Penyakit gastritis termasuk penyakit yang dapat menular. Penularannya
terjadi dikarenakan kontak yang begitu dekat antar individu. Biasanya terjadi dari mulut
ke mulut (otp-oral) karena bakteri H. Pilory ini sering berada di dalam mulut.

Badan penelitian kesehatan dunia WHO (2012), mengadakan tinjauan terhadap


beberapa Negara di dunia dan mendapatkan hasil presentase dari angka kejadian gastritis
di dunia, diantaranya Inggris (22%), China (31%), Jepang (14,5), Kanada (35%), dan
Perancis (29,5%). Di Asia Tenggara sekitar 583.635 dari jumlah penduduk setiap
tahunnya. Persentase dari angka kejadian gastritis di Indonesia menurut World Health
Organization (WHO) adalah 40,8%. Angka kejadian gastritis pada beberapa daerah
cukup tinggi prevalensi 274,396 ( Budiana, 2006). Di Banjarmasin angka kejadian
gastritis 34, 330 kasus yang di peroleh dari badan pusat statistic kota Banjarmasin pada
tahun 2015.

Berdasarkan penelitian dan pengamatan yang dilakukan oleh Deoartemen


Kesehatan RI, angka kejadian gastritis pada tahun 2012-103 di beberapa kota di
Indonesia ada yang tinggi mencapai 91,6% yaitu Medan, Surabaya 31,4%, Denpasar
$6%, Jakarta 50%, Bandung 30,5%, Palembang 35,5%, Pontianak 31,5%, hal tersebut
disebabkan oleh pola makan yang kurang serat. Presentase dari angka kejadian penyakit
asam lambung di Indonesia menurut WHO tahun 2014 adaah 45,5%. Angka kejadian
penyakit asam lambung (gastritis) [ada beberapa daerah di Indonesia cukup tinggi
prevalensi 274.396 kasus dari 238.452.952 jiwa penduduk (WHO, 2014). Berdasar profil
kesehatan Indonesia tahun 2014 penyakit asam labung merupakan salah satu penyakit di
sepuluh besar penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di rumah sakit di Indonesia
dengan jumlah 45,154 (5,6%) (Depkes RI, 2014).

Berdasarkan survei pengkajian data reka medik rawat inap pada Rumah Sakit
Idaman Banjarbaru di dapatkan bahawa kasus gastritis dari bulan januari 2018 sampai
dengan bulan juni 2018, kasus gastritis terus terus ada dengan data pada bulan Januari ( 3
orang), Februari (5 orang), Maret ( 62 orang), April (60 orang), Mei (49 orang), Juni (31
orang).

Gastritis atau secara umum dikenal dengan penyakit maag merupakan salah satu
penyakit tidak menular. Gastritis merupakan suatu keadaan peradangan atau pendarahan
mukosa lambung yang dapat bersifat akut kronis. Gejala gastritis antara lain adalah rasa
terbakar diperut bagian atas, kembung, bersendawa, mual-mual dan muntah.

Dampak dari penyakit gastritis dapat mengganggu aktifitas pasien sehari-hari


karena munculnya berbagai keluhan seperti rasa sakit di ulu hati, rasa terbakar, mual,
muntah, lemas, tidak nafsu makan dan keluhan-keluhan lainnya. Bila penyakit ini tidak
ditangani secara optimal dan di biarkan hingga kronis, gastritis akan berkembang menjadi
ulkus peptikus yang pada akhirnya mengalami komplikasi pendarahan, perforasi gaster,
peritonitis dan bahkan kematian (Vallen dalam zakaria 2013).

Untuk mencegah penyakit gastritis sebaiknya pasien meilih makan yang seimbang
sesuai kebutuhan dan jadwal makan yang teratus, memilih makanan yang lunak, mudah
dicerna, makan dalam porsi kecil tapi sering, hindari stress dan tekanan emosi yang
berlebihan serta menghindari makanan yang menaikan asam lambung (Muttaqin, 2011).

Salah satu factor pemicu gastritis adalah konsumsi tinggi protein dalam menu
harian. Hal ini dikarenakan pola makan tinggi protein dapat menicu tingginya sekresi
asam labung. Factor asam lambung sangat berperan pada penyakit gastritis. Penyakit ini
timbul akibat penyakit gastritis.Penyakit ini timbul akibat akibat ketidak seimbangan
asam lambung sebagai factor agresif dan mukosa labung sebagai factor protektif.Factor
agresif lebih dominan sehingga mengakibatkan terjadinya iritasi mukosa pada dinding
lambung. Dengan demikian konsumsi makanan dan minuman yang memicu tingginya
sekresi asam lambung adalah penyebab penting terjadinya gastritis. Selain konsumsi
protein tinggi pada orang dewasa yang menyebabkan gastritis, kebiasaan mengkonsumsi
makanan pedas dan minum kopi juga memicu terjadinya gastritis. Hal ini disebabkan
makanan pedas bersifat merangsang organ pencernaan dan dapat menimbulkan iritasi
pada lapisan mukosa lambung.Sedangkan kandungan kafein pada kopi dapat
meningkatkan aktivitas produksi asam lambung. Produksi asam lambung berlebihan
inilah yang mengakibatkan terjadinya gastritis karena peradangan pada dinding lambung.
Kepatuhan diet yang dijalankan oleh pasien dipengaruhi oleh beberapa faktor
salah satunya adalah faktor pendidikan yang ditempuh oleh pasien. Pasien yang memiliki
latar pendidikan yang berbeda sehingga setiap pasien memiliki beragam sudut pandang,
pola berfikir dalam memutuskansuatu hal dan penerimaan akan terapi diet yang dijalani
selama proses penyembuhan. Pendidikan ini sangat mempengaruhi seseorang dalam
menerima suatu informasi tentang gizi atau pengetahuan gizi, adanya pendidikan gizi ini
diharapkan semua orang dapat mengetahui dan memahami pentingnya makanan yang
dikonsumsi memiliki kandungan gizi yang baik sehingga mampu bersikap dan bertindak
sesuai norma-norma gizi yang ada (Supariasa, 2007)
Melihat data dan keterangan di atas maka hal ini menunjukkan bahwa
permasalahan gastritis memiliki tingkat keseriusan yang cukup tinggi dalam dunia
kesehatan masyarakt khususnya di kota Banjarbaru. Untuk itu maka peneliti tertarik
mengetahui “ apakah ada hubungan pola makan dan kepatuhan diet dengan kejadian
gastritis pada pasien rawat inap RSUD Idaman Banjarbaru”

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas yang menjadi perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah peneliti ingin mengkaji: “Apakah Ada Hubungan Pola Makan Dan
Kepatuhan Diet Dengan Kejadian Gastritis Pada Pasien Rawat Inap RSUD Idaman
Banjarbaru?”

C. Tujuan Penelitian
a. Tujuan Umum :

Untuk menghetahui apakah ada Hubungan Pola Makan Dan Kepatuhan Diet

Dengan Kejadian Gastritis Pada Pasien Rawat Inap RSUD Idaman Banjarbaru 2019.

b. Tujuan Khusus :
1) Mengetahui frekuensi kejadian gastritis pada pasien dewasa rawat inap di RSUD
Idaman Banjarbaru.
2) Mengetahui hubungan pola makan (frekuensi makan, jenis makanan, porsi makan)
dengan kejadian gastritis pada pasien dewasa rawat inap di RSUD Idaman
Banjarbaru.
3) Mengetahui kepatuhan menjalani diet gastritis terhadap kepatuhan diet gastritis.
4) Menganalisis hubungan pola makan terhadap kepatuhan diet gastritis.
D. Manfaat penelitian

1. Manfaat Teoritis

Sebagai sumber informasi mengenai bagaimana pola konsumsi dan kepatuhan


diet pada pasien gastritis di ruang rawat inap RSUD Idaman Banjarbaru.

2. Manfaat Praktisi

a. Manfaat Bagi Peneliti


Penelitian ini diharapkan dapat menambahkan wawasan terkait bagaimana
hubungan antara pola konsumsi dan yang mempengaruhi kepatuhan diet pada pasien
gastritis rawat inap di RSUD Idaman Banjarbaru.Serta sebagai media pengembangan
kopentensi diri sesuai dengan keilmuan yang diperoleh selama perkuliahan.

b. Manfaat Bagi Ahli Gizi

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber bacaan dan belajar bagi para
ahli gizi sebagai acuan atau pedoman dalam praktik pemberian terapi diet untuk
mengurangi kejadian gastritis.

c. Manfaat Bagi Responden

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada responden yaitu


pasien yang mengalami gastritis dan keluarga mengikuti anjuran diet yaitu
mengontrol asupan makanan.

d. Manfaat Bagi Peneliti Selanjutnya

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan bagi


peneliti selanjutnya sehingga dapat dijadikan bahan perbandingan dan evaluasi untuk
lebih mengembangkan variable yang berhubungan dengan diet pasien gastritis.

e. Ruang Lingkum Penelitian

Penelitian ini dilakukan di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah
Idaman Banjarbaru tahun 2019, bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan
(frekuensi, jenis, porsi) dan kepatuhan diet dengan kejadian gastritis pada pasien
dewasa rawat inap.
E. Keaslian penelitian

Metode
Peneliti Judul Penelitian Variabel Penelitian Analisa Penelitian
Penelitian
Hubungan Pola Makan - Stratified - Variable bebas : - Subyek : Santri Pondok Pesantren Daar El-
Dengan Gastritis Pada random pola makan Qolam Gintung, Jayati, Tanggerang.
- Variable terikat : - Instrument : Kuesioner.
Wahyu pratiwi Remaja Di Pondok sampling
gastritis
(2013) Pesantren Daar El_Qolam
Gintung, Jayanti,
Tanggerang.
Hubungan Antara - Deskriptif - Variablel bebas : - Subyek : pasien klinik amanah medika
Dukungan Keluarga Dengan korelatif dukungan keluarga kaliapit gondang rejo karanganyar
Endang Sri - Instrument : kuesioner
Kepatuhan Diit Gastritis Di pendekatan dengan kepatuhan
Mulyani, dkk - Analisis : univariat dan bivariate yaitu
Klinik Amanah Medika cross sectional diet
(2016) korelasi Spearman’s rho
- Variable terikat :
Kaliapit Godangrejo
gastritis
Karanganyar
Hubungan Tingkat - Cross - Variable bebas : - Subyek : 24 pasien gastritis rawat inap di
Pendidikan Dan Dukungan sectional tingkat pendidikan, RSUD Sukoharjo.
Novianti - Instrument : kuesioner
Keluarga Terhadap dukungan keluarga,
Kusumaningru
Kepatuhan Diet Pada Pasien dan kepatuhan diet
m (2017) - Variable terikat :
Gastritis Rawat Inap Di
gastritis
RSUD Sukoharjo