Anda di halaman 1dari 36

LABORATORIUM TEKNIK KIMIA II

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2017/2018

MODUL : Shell and Tube Heat Exchanger (STHE)

PEMBIMBING : Ir. Herawati Budi Astuti, M.Eng., Ph,D

Tanggal Praktikum : 17 Mei 2018


Tanggal Penyerahan : 24 Mei 2018

Oleh :

Kelompok : III
Nama : Aditya Risvan Riansah 161424001
Bagus Bayu Nugroho 161424007
Rana Aulia Yupitasary 161424021
Safiirah Najiyah 161424030
Kelas : 2A-TKPB

PROGRAM STUDI D-IV TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2018
I. TUJUAN
Setelah melaksanakan praktikum modul aliran fluida ini, diharapkan mahasiswa mampu:
1.1 Memahami konsep perpindahan panas pada Shell and Tube Heat Exchanger
1.2 Menghitung efisiensi perpindahan panas pada Shell and Tube Heat Exchanger
1.3 Menghitung koefisien perpindahan panas keseluruhan pada Shell and Tube Heat
Exchanger
1.4 Menghitung konduktivitas panas dari koefisien perpindahan panas keseluruhan
II. DASAR TEORI
Perpindahan panas adalah ilmu yang berupaya untuk memprediksi
perpindahan energi yang mungkin terjadi antara material sebagai akibat dari
adanya perbedaan temperatur . Sesuai dengan hukum termodinamika ke-2 (dua),
aliran energi panas akan selalu mengalir ke bagian yang memiliki temperatur
lebih rendah. Secara umum terdapat 3 (tiga) jenis perpindahan panas yaitu
konduksi, konveksi, dan radiasi.
Banyak sekali macam Heat Exchanger berdasarkan desain konstruksi
Pengklasifikasian heat exchanger berdasarkan desain konstruksinya, menjadi
pengklasifikasian yang paling utama dan banyak jenisnya. Secara umum heat
exchanger dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok yakni
tipe tubular, tipe plat, tipe extended-surface, dan tipe regeneratif. Sebenarnya
masih ada beberapa jenis heat exchangerdengan desain lain seperti scraped
surface exchanger, tank heater, cooler cartridge exchanger, dan lain
sebagainya. Namun untuk lebih ringkasnya akan kita bahas empat tipe heat
exchanger yang utama tersebut.
2.1 Heat Exchanger Tipe Tubular

Tipe ini melibatkan penggunaan tube pada desainnya. Bentuk


penampang tube yang digunakan bisa bundar, elips, kotak, twisted, dan lain
sebagainya. Heat exchanger tipe tubular didesain untuk dapat bekerja pada
tekanan tinggi, baik tekanan yang berasal dari lingkungan kerjanya maupun
perbedaan tekanan tinggi antar fluida kerjanya. Tipe tubular sangat umum
digunakan untuk fluida kerja cair-cair, cair-uap, cair-gas, ataupun juga gas-
gas. Namun untuk penggunaan pada fluida kerja gas-cair atau juga gas-gas,
khusus untuk digunakan pada kondisi fluida kerja bertekanan dan
bertemperatur tinggi sehingga tidak ada jenis heat exchanger lain yang mampu
untuk bekerja pada kondisi tersebut. Berikut adalah beberapa jenis heat
exchanger tipe tubular:

2.2 Shell & Tube

Heat exchanger tipe shell & tube menjadi satu tipe yang paling mudah
dikenal. Tipe ini melibatkan tube sebagai komponen utamanya. Salah satu
fluida mengalir di dalam tube, sedangkan fluida lainnya mengalir di luar tube.
Pipa-pipa tube didesain berada di dalam sebuah ruang berbentuk silinder yang
disebut dengan shell, sedemikian rupa sehingga pipa-pipa tube tersebut berada
sejajar dengan sumbu shell.

Gambar1. Heat Exchanger Tipe Shell & Tube


(a) satu jalur shell, satu jalur tube
(b) satu jalur shell, dua jalur tube
Sumber : https://artikel-teknologi.com/macam-macam-heat-exchanger-alat-
penukar-panas-bagian-1

Komponen-komponen utama dari heat exchanger tipe shell & tubeadalah


sebagai berikut:
a. Tube
Pipa tube berpenampang lingkaran menjadi jenis yang paling banyak
digunakan pada heat exchanger tipe ini. Desain rangkaian pipa tube dapat
bermacam-macam sesuai dengan fluida kerja yang dihadapi.

Gambar 2. Macam-macam Rangkaian Pipa Tube Pada Heat Exchanger Shell & Tube
Sumber : https://artikel-teknologi.com/macam-macam-heat-exchanger-alat-penukar-panas-
bagian-2

b. Shell

Bagian ini menjadi tempat mengalirnya fluida kerja yang lain selain yang mengalir
di dalam tube. Umumnya shell didesain berbentuk silinder dengan penampang
melingkar. Material untuk membuat shell ini adalah pipa silindris jika diameter
desain dari shelltersebut kurang dari 0,6 meter. Sedangkan jika lebih dari 0,6
meter, maka digunakan bahan plat metal yang dibentuk silindris dan disambung
dengan proses pengelasan.
Gambar 3. Tipe-Tipe Desain Front-End Head, Shell, dan Rear-End Head
Sumber : https://artikel-teknologi.com/macam-macam-heat-exchanger-alat-penukar-
panas-bagian-3

Tipe-tipe desain dari shell ditunjukkan pada gambar di atas. Tipe E adalah yang paling
banyak digunakan karena desainnya yang sederhana serta harga yang relatif
murah. Shell tipe F memiliki nilai efisiensi perpindahan panas yang lbih tinggi dari tipe E,
karena shelltipe didesain untuk memiliki dua aliran (aliran U). Aliran sisi shellyang
dipecah seperti pada tipe G, H, dan J, digunakan pada kondisi-kondisi khusus seperti pada
kondenser dan boiler thermosiphon. Shell tipe K digunakan pada pemanas kolam air.
Sedangkan shelltipe X biasa digunakan untuk proses penurunan tekanan uap

Keuntungan shell & tube exchanger : Memiliki permukaan perpindahan panas persatuan
volume yang lebih besar Mempunyai susunan mekanik yang baik dengan bentuk yang
cukup baik untuk operasi bertekanan. Tersedia dalam berbagai bahan konstruksi Prosedur
pengopersian lebih mudah Metode perancangan yang lebih baik telah tersedia
Pembersihan dapat dilakukan dengan mudah.

III. ALAT DAN BAHAN


3.1 Shell and Tube Heat Exchanger

Gambar 4. Rangkaian Shell and Tube Heat Exchanger


Sumber : https://www.dreamstime.com

3.2 Sumber Listrik


3.3 Fluida berupa air
IV. PROSEDUR KERJA
4.1 Start Up

MMemastikan semua alat akan MMemastikan valve awal tertutup dan


bekerja dengan baik tombol utama dalam keadaan off

Menghidupkan tombol power Mengisi tangki B1 dengan air


pemanas W1 dalam tangki B1
dan memastikan bahwa
settpoint pada pengaturan suhu
80oC Membiarkan suhu air pada tangki air
panas 60oC
4.2 Shut Up

Menutup sumber air dingin Mematikan pemanas air dan dan


membiarkan air menjadi dingin

Menguras air dalam tangki dan Mematikan pompa P1 dan mematikan


aliran proses tombol utama dan sumber listrik

Melepaskan penghubung air


pendingin dengan pipa air. Menutup semua valve
4.3 Co-Current dan Counter Current

Melakukan start up Memeriksa sambungan pada


posisi Co-Current atau
Counter Current

Membuka valve untuk aliran


air dingin
Membuka valve V2 dan V5
lalu menghidupkan pompa P1

Membiarkan sistem dalam


Membuka dan mengatur valve
keadaan steady state selama
V3 dan V4 untuk memperoleh
waktu proses 10 menit.
laju alir yang diinginkan untuk
aliran air panas dan dingin
secara berturut-turut.

Mengulang langkah
Mencatat TTO3, TTO4, TTO5,
sebelumnya untuk laju alir
dan TTO6 pada masukan dan
berbeda, setelah selesai
keluaran suhu masing-masing lakukan shut down.
aliran.

V. KESELAMATAN KERJA
5.1 Memakai jas lab, sarung tangan, sepatu tertutup saat melaksanakan praktikum;
5.2 Bekerja dengan SOP alat agar tidak terjadi kerusakan
5.3 Pastikan dengan benar-benar settpoin menunjukkan angka 50
5.4 Jangan biarkan tangki umpan air dingin penuh dan tumpah ke lantai
5.5 Pastikan selang tersusun rapid an tidak kemana-mana
5.6 Bekerja dengan hati-hati pada alat STHE
5.7 Bertanya pada pembimbing apabila ada yang kurang jelas
5.8 Tidak bercanda di dalam laboratorium saat pratikum berlangsung
5.9 Bersihkan kembali semua peralatan apabila praktikum selesai dilakukan.
VI. DATA PENGAMATAN

Keliling Luar Shell : 16 cm


Ketebalan Shell : 3 mm
Panjang shell and tubes : 25 cm

d=K/π
d= 16 cm / 3.14
d= 5.095 cm

Maka diameter dalam shell adalah:


diameter dalam = 5.095 cm – 0.3 cm
= 4.795 cm

A = π. d. L

A = 3.14 x 4.795 cm x 25 cm

A = 376.4075 cm2

Keliling Luar tubes : 2 cm


Ketebalan tubes : 1 mm
Jumlah tubes : 7 buah

d=K/π
d= 2 cm / 3.14
d= 0.637 cm

Maka diameter dalam shell adalah


Diameter dalam = 0.637 cm – 0.1 cm
= 0.537 cm

A = π. d. L

A = 3.14 x 0.537 cm x 7 x25 cm

A = 295.0815 cm2

Total Luas Permukaan (A) = 376.4075 cm2 + 295.0815 cm2

= 671.489 cm2
1.1 Co – Current

1.1.1 Laju Alir Panas Tetap (FT01) , Laju Alir Dingin Berubah (FT 02)

t Laju Laju Fluida Suhu (°C)


(menit) Fluida dingin
panas (L/min) Hot Water Hot Water Cold Water Cold Water
(L/min) Inlet (TT 03) Outlet (TT 04) Inlet (TT 05) Outlet (TT 06)

2 1 0,3 50,6 47,4 26,6 33

4 1 0,3 50 47 26,7 33,1

6 1 0,3 50,4 47,4 26,7 33,3

8 1 0,3 50,1 47,1 26,7 33,3

10 1 0,3 50,4 47,4 26,8 33,5

2 1 0,6 50 46,6 26,4 31,8

4 1 0,6 50,6 47,1 26,5 32

6 1 0,6 50 46,7 26,5 32

8 1 0,6 50,3 47 26,5 32,1

10 1 0,6 50,1 46,9 26,6 32,3

2 1 0,9 50,4 46,5 26,2 30,3

4 1 0,9 50,1 46,3 26,2 30,4

6 1 0,9 50,2 46,4 26,2 30,5

8 1 0,9 50,3 46,6 26,2 30,7

10 1 0,9 50,1 46,4 26,3 30,7

2 1 1,2 50,2 46 26 29,2

4 1 1,2 50,5 46,3 26,1 29,4

6 1 1,2 50 45,9 26,1 29,4

8 1 1,2 50,4 46,3 26,1 29,6

10 1 1,2 50 46 26,1 29,6

2 1 1,5 50,4 45,8 25,7 28,2

4 1 1,5 50,1 45,5 25,6 28,1

6 1 1,5 50,6 46 25,6 28,2

8 1 1,5 49,9 45,4 25,6 28,2

10 1 1,5 50,5 45,9 25,7 28,4


1.1.2 Laju Alir Panas berubah (FT01) , Laju alir dingin tetap (FT02)

t Laju Laju Fluida Suhu (°C)


(menit) Fluida dingin
panas (L/min) Hot Water Hot Water Cold Water Cold Water
(L/min) Inlet (TT 03) Outlet (TT 04) Inlet (TT 05) Outlet (TT 06)

2 0,7 1 50,2 44,4 25,9 29

4 0,7 1 49,7 44,1 25,5 29

6 0,7 1 50 44,3 25,5 29

8 0,7 1 49,9 44,3 25,9 29,2

10 0,7 1 49,8 44,3 25,9 29,3

2 1,4 1 50,3 46,3 25,9 30,7

4 1,4 1 50,1 46,2 25,9 30,8

6 1,4 1 50,3 46,3 25,9 30,8

8 1,4 1 50,2 46,3 26 30,9

10 1,4 1 50,2 46,3 26 30,9

2 2,1 1 50,6 47,6 25,9 31,1

4 2,1 1 50,7 47,8 26 31,6

6 2,1 1 50,6 47,9 26,1 32,1

8 2,1 1 50,7 48 26,1 32,2

10 2,1 1 50,2 47,5 26,1 32

2 2,8 1 50,4 47,8 26,1 31,9

4 2,8 1 50,6 48,1 26,2 32,3

6 2,8 1 50,4 48 26,2 32,4

8 2,8 1 50,5 48 26,2 32,7

10 2,8 1 50,4 48,1 26,3 32,8

2 3,5 1 50,2 47,9 26,1 32

4 3,5 1 50,5 48,2 26,1 32,1

6 3,5 1 50,3 48,1 26,1 32,2

8 3,5 1 50,3 48,1 26,1 32,2

10 3,5 1 50,4 48,2 26,5 32,8


1.2 Counter – Current
a. Laju Alir Panas berubah (FT01) , Laju alir dingin tetap (FT02)

Laju Suhu (°C)


Laju Fluida
t Fluida
dingin Hot Water Hot Water Outlet Cold Water Cold Water
(menit) panas
(L/min) Inlet (TT 03) (TT 04) Inlet (TT 05) Outlet (TT 06)
(L/min)

2 0,7 1 50 45 25,3 28,7

4 0,7 1 50 44,9 25,4 28,8

6 0,7 1 50,2 45,2 24,5 28,8

8 0,7 1 49,8 44,9 24,5 26,8

10 0,7 1 50,1 45,1 24,5 28,9

2 1,4 1 50,4 46,8 25,4 29,7

4 1,4 1 50,3 46,7 25,4 29,8

6 1,4 1 50,3 46,7 25,5 29,8

8 1,4 1 50,4 46,8 25,5 30

10 1,4 1 50,2 46,7 25,4 29,9

2 2,1 1 50,5 47,4 25,4 30,8

4 2,1 1 50,6 47,5 25,5 31

6 2,1 1 50,4 47,4 25,5 31,1

8 2,1 1 50,5 47,6 25,5 31,3

10 2,1 1 50,4 47,5 25,6 31,4

2 2,8 1 50,4 47,8 25,6 31,9

4 2,8 1 50,5 47,9 25,6 32

6 2,8 1 50,5 47,9 25,6 32

8 2,8 1 50,4 47,8 25,6 32

10 2,8 1 50,5 48 25,6 32,2

2 3,5 1 50,3 47,9 25,6 32,1

4 3,5 1 50,4 48 25,6 32,1

6 3,5 1 50,3 48 25,6 32,1

8 3,5 1 50,3 48 25,7 32,1

10 3,5 1 50,2 47,9 25,7 32,2


VII. PENGOLAHAN DATA

7.1 Co – Current

7.1.1 Laju Alir Panas Tetap (FT01) , Laju alir dingin berubah (FT02)

a. Perhitungan △T1 dan△T2

Laju
Suhu (oC)
Fluida △T1 = T hot out – △T2 = T hot in
dingin T hot T hot T cold T cold T cold out – T cold in
(L/min) inlet outet inlet outet
50,4 47,4 26,8 33,5
0,3 13,9 23,6
50,1 46,9 26,6 32,3
0,6 14,6 23,5
50,1 46,4 26,3 30,7
0,9 15,7 23,8
50 46 26,1 29,6
1,2 16,4 23,9
50,5 45,9 25,7 28,4
1,5 17,5 24,8

b. Perhitungan △𝑇𝑙mtd

Laju Fluida △Tlmtd = [ln


Dingin △T1 - △T2 ln (△T1/△T2) (△T1/△T2)] / △T1 -
(L/min) △T2
0,3 -9,7 -0,5294 0,0546

0,6 -8,9 -0,4760 0,0535

0,9 -8,1 -0,4160 0,0514

1,2 -7,5 -0,3766 0,0502

1,5 -7,3 -0,3486 0,0478


c. Mencari Harga FT dapat diperoleh dari kurva dibawah

Laju Fluida Tco- Y = (Tco-Tci) / Z = (Thi - Tho)


Thi-Tci Thi - Tho
Dingin (L/min) Tci (Thi-Tci) / (Tco-Tci)

0,3 6,7 23,6 0,2839 3,0 0,4478

0,6 5,7 23,5 0,2426 3,2 0,5614

0,9 4,4 23,8 0,1849 3,7 0,8409

1,2 3,5 23,9 0,1464 4,0 1,1429

1,5 2,7 24,8 0,1089 4,6 1,7037

d. Perhitungan △Tm

△Tlmtd = [ln
Laju Fluida
(△T1/△T2)] / △T1 - ∆Tm = △Tlmtd. FT
dingin FT
△T2 (oC)
(L/min)
(oC)
0,0546 0,0546
0,3 1
0,0535 0,0535
0,6 1
0,0514 0,0514
0,9 1
0,0502 0,0502
1,2 1
0,0478 0,0478
1,5 1
e. Perhitungan Q dan U

 Perhitungan Q
Q = m.Cp. △T

Laju Laju
Fluida Fluida △T △T Cp 1
ρ1 ρ2 Cp 2 ṁ1 ṁ2
Dingin Panas cold hot (kJ/kg.C
(kg/m3) (kg/m3) (kJ/kg.C) (kg/min) (kg/min)
(L/min (L/min (oC) (oC) )
) )
1 6,7 3,0 995,419 993,4162 4,1805 4,1755 0,2986 0,9934
0,3
1 5,7 3,2 995,592 993,4883 4,1810 4,1757 0,5974 0,9935
0,6
1 4,4 3,7 995,823 993,5604 4,1816 4,1759 0,8962 0,9936
0,9
1 3,5 4,0 995,982 993,6180 4,1820 4,1760 1,1952 0,9936
1,2
1 2,7 4,6 996,155 993,6324 4,1824 4,1761 1,4942 0,9936
1,5
ṁ = F. Ρ

Laju FluidaDingin Laju Fluida Q panas Q dingin η


(L/min) Panas (L/min) (kJ) (kJ) (%)
12,4441 8,3644 67,21567
0,3 1
13,2753 14,2359 107,2363
0,6 1
 15,3513 16,4898 63,6928
0,9 1

16,5976 17,4936 68,8699
 1,2 1
 1,5 1
19,0877 16,8735 79,2040

Grafik Q vs Laju Alir


40
35
30
Q (KJ/min)

25
20
15
10
5
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
Laju alir (LPM)

Qpanas(KJ/min) Qdingin (KJ/min)


 Perhitungan U
𝑸
U= 𝑨.△𝑻
𝒎

Laju
Q rata-rata
FluidaDingin A (cm2) △Tm U(kJ/m2.0C)
(kJ)
(L/min)

0,3 671.489 10,4043 0,0546 0,28392

0,6 671.489 13,7556 0,0535 0,383039


7.1.2
0,9 671.489 14,7788 0,0514 0,428516

1,2 671.489 20,9080 0,0502 0,620095

1,5 671.489 25,2130 0,0478 0,786190

Grafik U vs Laju Alir y = 0.4139x + 0.1279


R² = 0.9527
1

0.8
Q (KJ/min)

0.6

0.4

0.2

0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 1.6
Laju alir (LPM)

U (KJ/m2.0C Linear (U (KJ/m2.0C)


7.1.3 Laju Alir Panas Berubah (FT01) , Laju alir dingin tetap (FT02)
a. Perhitungan △T1 dan△T2

Laju
Suhu (oC)
Fluida △T1 = T hot out – △T2 = T hot in
panas T hot T hot T cold T cold T cold out – T cold in
(L/min) inlet outet inlet outet
49,8 44,3 25,9 29,3 15 23,9
0,7
50,2 46,3 26 30,9 15,4 24,2
1,4
50,2 47,5 26,1 32 15,5 24,1
2,1
50,4 48,1 26,3 32,8 15,3 24,1
2,8
50,4 48,2 26,5 32,8 15,4 23,9
3,5

b. Perhitungan △𝑇𝑙m

△Tlmtd = [ln
Laju Fluida
△T1 - △T2 ln (△T1/△T2) (△T1/△T2)] / △T1 -
Panas (L/min)
△T2
-8,9 -0,4658 0,0523
0,7
-8,8 -0,4520 0,0514
1,4
-8,6 -0,4414 0,0513
2,1
-8,8 -0,4544 0,0516
2,8
-8,5 -0,4395 0,0517
3,5

c. Mencari Harga FT dapat diperoleh dari kurva dibawah

Laju Fluida Tco- Y = (Tco-Tci) / Z = (Thi - Tho)


Thi-Tci Thi - Tho
Panas (L/min) Tci (Thi-Tci) / (Tco-Tci)

0,7 3,4 23,9 0,1423 5,5 1,6176

1,4 4,9 24,2 0,2025 3,9 0,7959

2,1 5,9 24,1 0,2448 2,7 0,4576

2,8 6,5 24,1 0,2697 2,3 0,3538

3,5 6,3 23,9 0,2636 2,2 0,3492


d. Perhitungan △Tm

△Tlmtd = [ln
Laju Fluida
(△T1/△T2)] / △T1 - FT ∆Tm = ∆Tlmtd . FT
Panas (L/min)
△T2
0,0523 0,0523
0,7 1
0,0514 0,0514
1,4 1
0,0513 0,0513
2,1 1
0,0516 0,0516
2,8 1
0,0517 0,0517
3,5 1

e. Perhitungan Q dan U

 Perhitungan Q
Q = m.Cp. △T

ṁ = F. Ρ

Laju Laju
△T △T ṁ2
Fluida Fluida ρ1 ρ2 Cp 1 Cp 2 ṁ1
cold hot (kg/mi
Panas Panas (kg/m3) (kg/m3) (kJ/kg. oC ) (kJ/kg. oC ) (kg/min)
(oC) (oC) n)
(L/min) (L/min)
1 3,4 5,5 996,025 993,8631 4,1821 4,1767 0,9960 0,6957
0,7
1 4,9 3,9 995,794 993,5748 4,1815 4,1759 0,9958 1,3910
1,4
1 5,9 2,7 995,636 993,4018 4,1811 4,1755 0,9956 2,0861
2,1
1 6,5 2,3 995,520 993,3153 4,1808 4,1753 0,9955 2,7813
2,8
1 6,3 2,2 995,520 993,3009 4,1808 4,1753 0,9955 3,4766
3,5

Laju Fluida Panas Laju Fluida Q panas Q dingin η


(L/min) Dingin (L/min) (kJ) (kJ) (%)
15,9814 14,1625 88,61835
0,7 1
22,6541 20,4031 90,06362
1,4 1
 23,5189 24,5608 204,8661
2,1 1

26,7091 27,0535 310,1638
 2,8 1
 3,5 1
31,9341 26,2211 463,5386

Grafik Q vs Laju Alir
35
30
25

Q (KJ/min)
20
15
10
5
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
Laju alir (LPM)

Qpanas(KJ/min) Qdingin (KJ/min)

 Perhitungan U
𝑸
U= 𝑨.△𝑻
𝒎

Laju Fluida Q rata-rata


A (cm2) △Tm U(kJ/m2.0C)
Panas (L/min) (kJ)

0,7 671.489 15,0720 0,0523 0,42884

1,4 671.489 21,5286 0,0514 0,624217

2,1 671.489 24,4536 0,0513 0,709574

2,8 671.489 26,9323 0,0516 0,776816

3,5 671.489 26,1036 0,0517 0,751815

Grafik U vs Laju Aliry = 0.1141x + 0.4187


R² = 0.8048
1

0.8
Q (KJ/min)

0.6

0.4

0.2

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
Laju alir (LPM)

U (KJ/m2.0C Linear (U (KJ/m2.0C)


7.2 Counter Current
Laju Alir Panas Berubah (FT01) , Laju alir dingin tetap (FT02)

a. Perhitungan △T1 dan△T2

Laju
Suhu (oC)
Fluida △T1 = T hot out – △T2 = T hot in
panas T hot T hot T cold T cold T cold out – T cold in
(L/min) inlet outet inlet outet
50,1 45,1 24,5 28,9 16,2 25,6
0,7
50,2 46,7 25,4 29,9 16,8 24,8
1,4
50,4 47,5 25,6 31,4 16,1 24,8
2,1
50,5 48 25,6 32,2 24,9 24,9
2,8
50,2 47,9 25,7 32,2 15,7 24,5
3,5

b. Perhitungan △𝑇𝑙m

△Tlmtd = [ln
Laju Fluida
△T1 - △T2 ln (△T1/△T2) (△T1/△T2)] / △T1 -
Panas (L/min)
△T2
-9,4 -0,4576 0,0487
0,7
-8 -0,3895 0,0487
1,4
-8,7 -0,4320 0,0497
2,1
-9,1 -0,4549 0,0500
2,8
-8,8 -0,4450 0,0506
3,5

c. Mencari Harga FT dapat diperoleh dari kurva dibawah

Laju Fluida Tco- Y = (Tco-Tci) / Z = (Thi - Tho)


Thi-Tci Thi - Tho
Panas (L/min) Tci (Thi-Tci) / (Tco-Tci)

0,7 4,4 25,6 0,1719 5 1,1364

1,4 4,5 24,8 0,1815 3,5 0,7778

2,1 5,8 24,8 0,2339 2,9 0,5000

2,8 6,6 24,9 0,2651 2,5 0,3788


3,5 6,5 24,5 0,2653 2,3 0,3538

d. Perhitungan △Tm

△Tlmtd = [ln
Laju Fluida
(△T1/△T2)] / △T1 - FT ∆Tm = ∆Tlmtd . FT
Panas (L/min)
△T2
0,0487 0,0487
0,7 1
0,0487 0,0487
1,4 1
0,0497 0,0497
2,1 1
0,0500 0,0500
2,8 1
0,0506 0,0506
3,5 1

e. Perhitungan Q dan U

 Perhitungan Q
Q = m.Cp. △T

ṁ = F. Ρ

Laju Laju
△T △T
Fluida Fluida ρ1 ρ2 Cp 1 Cp 2 ṁ1 ṁ2
cold hot
Panas Panas (kg/m3) ( kg/m3) (kJ/kg.oC) (kJ/kg.oC) (kg/min) (kg/min)
(oC) (oC)
(L/min) (L/min)
1 4,4 5 996,082 993,7477 4,1822 4,1764 0,9961 0,6956
0,7

1 4,5 3,5 995,938 993,5171 4,1818 4,1758 0,9959 1,3909


1,4

1 5,8 2,9 995,722 993,4018 4,1813 4,1755 0,9957 2,0861


2,1

1 6,6 2,5 995,607 993,3297 4,1810 4,1753 0,9956 2,7813


2,8

3,5 6,5 2,3 995,607 993,3441 4,1810 4,1754 0,9956 3,4767

Laju Fluida Panas Laju Fluida Q panas Q dingin η


(L/min) Dingin (L/min) (kJ) (kJ) (%)
14,5259 18,3296 126,1858
0,7 1
20,3287 18,7419 92,19405
1,4 1
25,2610 24,1478 95,59323
2,1 1
29,0323 27,4735 94,63076
2,8 1
33,3879 27,0572 81,03896
3,5 1

Grafik Q vs Laju Alir


40
35
30
Q (KJ/min)

25
20
15
10
5
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
Laju alir (LPM)

Qpanas(KJ/min) Qdingin (KJ/min)

 Perhitungan U
𝑸
U= 𝑨.△𝑻
𝒎

Laju Fluida Q rata-rata


A (cm2) △Tm U(kJ/m2.0C)
Panas (L/min) (kJ)

0,7 671.489 16,4278 0,0487 0,5026

1,4 671.489 19,5353 0,0487 0,5976

2,1 671.489 24,7044 0,0497 0,7409

2,8 671.489 28,2529 0,0500 0,8418

3,5 671.489 30,2226 0,0506 0,8900


Grafik U vs Laju Alir y = 0.1456x + 0.4089
R² = 0.9771
1

0.8

Q (KJ/min)
0.6

0.4

0.2

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
Laju alir (LPM)

U (KJ/m2.0C Linear (U (KJ/m2.0C)


VIII. PEMBAHASAN

1. ADITYA RISVAN R. (161424001)


Praktikum Shell and Tube Heat Exchanger bertujuan untuk mengetahui dan
memahami cara kerja dari alat penukar panas ini, menghitung koefisien pindah panas
keseluruhan menggunakan persamaan neraca energi dan persamaan empiris,
menghitung efisiensi pindah panas dari kalor yang dilepas dan kalor yang diterima
fluida, dan pengaruh laju alir fluida terhadap koefisien pindah panas keseluruhan.
Untuk mengetahui pengaruh laju alir fluida terhadap koefisien pindah panas, pada
praktikum kali ini pengamatan dilakukan dengan variasi laju alir.
Pada praktikum ini jenis aliran yang digunakan adalah co-current dimana dua
fluida mengalir dengan temperature awal yang berbeda pada kondisi masukan dan
keluaran yang searah dengan variasi laju alir panas tetap (1 LPM), perubahan laju alir
dingin (0.3LPM , 0.6 LPM, 0.9 LPM,1.2 LPM,1.5 LPM) dan laju alir dingin tetap (1
LPM), perubahan laju alir panas (0.7LPM, 1.4LPM, 2.1 LPM, 2.8 LPM, 3.5 LPM) serta
jenis aliran counter currrent dimana dua fluida mengalir dengan temperature awal yang
berbeda pada kondisi masukan dan keluaran yang berlawanan. Fluida panas mengalir
melalui shell sedangkan fluida dingin mengalir sepanjang tube. Variasi yang digunakan
adalah laju alir dingin tetap (1 LPM), perubahan laju alir panas (0.7LPM, 1.4LPM, 2.1
LPM, 2.8 LPM, 3.5 LPM). Setelah dilakukan perhitungan didapat data sebagai berikut
Pada variasi laju air panas berubah dengan laju alir dingin tetap, kurva antara laju
alir air panas dan koefisien perpindahan panas keseluruhan menunjukkan bahwa
semakin besar laju alir air panas, semakin besar pula koefisien perpindahan panas.
Artinya panas yang diberikan semakin banyak. Hal ini sesuai dengan teori (Geankoplis,
2003). Lalu, berdasarkan literatur (Kern), nilai U untuk laju alir panas dan laju alir
dingin berupa larutan air nilainya berkisar antara 200-500 Btu/h.ft2.oF dan dari hasil
perhitungan jika nilai U dikonversi ke dalam satuan British nilai tersebut berada pada
rentang tersebut yang berarti hasil praktikum kali ini sesuai dengan literatur. Jika
dianalisis, grafik koefisien perpindahan panas (U) terhadap Laju Alir dapat dijelaskan
di bawah ini.
Grafik U vs Laju Alir Grafik U vs Laju Alir Grafik U vs Laju Alir
1 1 1
0.8 0.8 0.8

Q (KJ/min)
Q (KJ/min)

Q (KJ/min)
0.6 0.6 0.6
0.4 0.4 0.4
0.2 0.2 0.2
0 0 0
0 1 2 3 4 0 1 2 3 4 0 1 2 3 4
y = 0.1774x + 0.1279 Laju alir (LPM) y = 0.1141x + 0.4187 Laju alir (LPM) y = 0.1456x + 0.4089 Laju alir (LPM)
R² = 0.9527 R² = 0.8048 R² = 0.9771
Co-current Perubahan Laju Dingin Co-current Perubahan Laju Panas Counter current Perubahan Laju Panas
Pada grafik U vs Laju Alir di atas, nilai U maksimum terdapat pada kurva dengan
jenis aliran counter current dengan nilai U=0.89 KJ/min.m2.oC pada saat laju alir 3.5
LPM. Terlihat dari tiga grafik tersebut bahwa grafik memiliki trendline yang naik
dimana nilai U semakin besar seiring kenaikan laju alir.
Jika dilihat dari trend linear nya, jenis aliran counter current memiliki trend yang
paling baik dengan nilai R2=0.9771. Grafik hasil percobaan telah sesuai dengan teori
yang ada, yaitu nilai U sebanding dengan nilai laju alir.
Jika diamati dari perubahan laju alir terhadap perpindahan panas, dengan laju alir
panas dan dingin tetap. Dari data yang diperoleh menunjukkan bahwa semakin tinggi
laju alir panas, panas yang diberikan/dilepas fluida panas dan panas yang
diterima/diserap fluida dingin semakin tinggi juga, namun panas yang dilepas selalu
lebih besar dibandingkan dengan panas yang diserap, atau dengan kata lain ada energi
yang hilang, sedangkan menurut teorinya atau idealnya energi yang diberikan dalam
perpindahan panas harus sama dengan energi yang diterima. Hal ini dapat disebabkan
oleh faktor yang belum diketahui oleh penulis.
Dengan meningkatnya laju alir air panas, didapatkan heat loss (%) semakin
meningkat juga dan efisiensi heat exchanger semakin menurun. Hal tersebut dapat
diakibatkan karena peralatan shell and tube heat exchanger yang digunakan tidak
dilengkapi isolator dibagian luar sehingga mempermudah terjadinya heat loss sehingga
efisiensinya berkurang.
Berdasarkan literatur, penukar panas jenis co-current, temperatur fluida dingin
yang keluar dari alat penukar panas tidak dapat melebihi temperatur fluida panas yang
keluar dari alat penukar panas, sehingga diperlukan media pendingin/pemanas yang
banyak. Sedangkan jenis aliran counter current, temperatur fluida dingin yang keluar
dari penukar panas lebih tinggi dibandingkan temperatur fluida panas yang keluar dari
penukar kalor, sehingga dianggap lebih baik dari aliran searah. Berarti data hasil
praktikum menunjukkan kebenaran jika jenis aliran counter current lebih baik dari pada
aliran co-current. Hal ini disebabkan pada aliran counter current panas yang diserap
fluida dingin akan semakin banyak dibanding pada aliran co current.

2. BAGUS BAYU NUGROHO (161424007)

Konsep dalam praktikum STHE pada dasarnya merupakan proses perpindahan


panas yang bertujuan agar praktikan mampu mengetahui dan memahami cara kerja dari
alat penukar panas jenis shell and tube ini, lalu mampu menghitung koefisien pindah
panas keseluruhan menggunakan persamaan neraca energi dengan persamaan yang ada,
menghitung efisiensi pindah panas yang dilepas dan panas yang diterima oleh fluida
yang dalam hal ini ialah air, juga yang terakhir yaitu mengenai pengaruh laju alir fluida
terhadap koefisien perpindahan panas keseluruhan. Dalam hal ini variasi laju alir
dilakukan untuk mengetahui pengaruh laju alir fluida terhadap koefisien perpindahan
panas (kalor).
Pada keadaan co-current dua fluida mengalir dengan suhu awal yang berbeda
pada dimana masukan dan keluaran searah dengan variasi laju alir panas tetap sebesar 1
LPM, dengan perubahan laju alir dingin sebesar 0.3LPM, 0.6 LPM, 0.9 LPM, 1.2 LPM,
1.5 LPM dan laju alir dingin tetap sebesar 1 LPM diikuti perubahan laju alir panas
sebesar 0.7LPM, 1.4LPM, 2.1 LPM, 2.8 LPM, 3.5 LPM. Hal tersebut juga dilakukan
pada posisi Counter Current dimana variasi yang digunakan adalah laju alir dingin
tetap sebesar 1 LPM, dengan perubahan laju alir panas sebesar 0.7 LPM, sampai 3.5
LPM.

Grafik U vs Laju Alir


0.9
0.8
0.7
0.6
Q (KJ/min)

0.5
0.4
0.3
0.2 y = 0.1141x + 0.4187
0.1 R² = 0.8048
0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4
Laju alir (LPM)
U (KJ/m2.0C Linear (U (KJ/m2.0C)
Saat variasi berjalan kurva menunjukkan bahwa semakin besar laju alir air panas
yang telah di setting maka, semakin besar pula koefisien perpindahan panas yang ada.
Hal tersebut berarti kalor yang dikeluarkan semakin banyak dalam prosesnya. Dalam
hal ini praktikum yang telah dilakukan sesuai dengan literature yang ada dan grafik
perpindahan panas terhadap Laju Alir pada Co Current (1 sampel) di bawah ini :

koefisien Selain itu praktikan bias membandingkan dengan grafik pada counter current
dengan nilai melihat trend linear nyamaka dari itu jenis counter current memiliki trend
yang paling baik dengan nilai R2=0.9771. Grafik hasil percobaan telah sesuai dengan
teori yang ada, yaitu nilai U berbanding lurus dengan nilai laju alir, adapun grafiknya di
bawah ini :

Data menunjukkan bahwa semakin tinggi laju alir air panas, panas yang diberikan
atau dilepas oleh fluida panas dan panas yang diterima/diserap fluida dingin juga
semakin tinggi, namun dalam hal ini kalor yang dilepas selalu menunjukkan nilai yang
lebih besar dibandingkan dengan panas yang diserap atau diterima, itu artinya masih
terdapat energi yang hilang, sedangkan teori mengatakan idealnya energi yang
diberikan dalam perpindahan panas harus sama atau minimal mendekati dengan energi
yang diterima. Praktikan berhipotesa adanya factor lain yang terlibat dalam ini.
Adanya peningkatan laju alir air panas, maka didapat heat loss (%) semakin
meningkat dengan efisiensi dari heat exchanger semakin turun. Dalam hal ini praktikan
ingin menyarankan untuk adanya penambahan isolator pada STHE bukan hanya pada
tangki air panas saja sebagai safety agar heat loss tidak terjadi dengan nilai yang besar.
Pada jenis aliran counter current, suhu fluida atau air dingin yang keluar dari heat
exchanger lebih tinggi dibandingkan suhu fluida panas yang keluar dari penukar panas,
berdasarkan data hasil praktikum menunjukkan kebenaran jika jenis aliran counter
current lebih baik dari pada aliran co-current. Hal tersebut bias saja disebabkan pada
aliran counter current kalor yang diserap fluida dingin akan semakin banyak dibanding
pada aliran co-current sehingga proses pertukaran panas bias dikatakan baik atau
dikatakan optimal, dan di industri kelak praktikan terbiasa dengan alat STHE skala
besar karena teori telah tersampaikan dalam skala laboratorium.

3. RANA AULIA YUPITASARY (161424021)

Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan pada suatu alat Shell and Tube
Heat Exchanger. Bahan yang digunakan adalah fluida dingin yang sumbernya berasal
dari air kran. Pada praktikum ini dapat diketahui prinsip kerja dari Shell and Tube,
pengaruh aliran tube dan shell terhadap koefisien perpindahan panas serta efisiensi
perpindahan panas.

Shell and tube Heat Exchanger memiliki komponen utama yaitu baffle,
,nozzle, shell dan tube. Untuk baffle memiliki tujuan yaitu untuk mengarahkan aliran
sehingga distribusi perpindahan panas merata dan juga sebagai penopang komponen
tube. Nozzle berfungsi sebagai pengatur aliran fluida. Tube merupakan suatu tabung
berisi cairan yang ingin dipanaskan atau didinginkan. Fluida dalam shell merupakan
cairan yang berfungsi untuk memanaskan atau mendinginkan sehingga dapat
memberikan panas atau menyerap panas yang dibutuhkan.

Pada praktikum kali ini diinginkan air yang keluar dari tube berupa air yang
lebih dingin dari suhu aliran masuk ke tube. Aliran panas yang masuk ke tube
dilakukan setting suhu sebesar ±50°C dan suhu aliran yang digunakan untuk
mendinginkan / yang masuk ke shell bersuhu ±25°C. Untuk tipe aliran yang
digunakan ialah Co-Current dan Counter Current. Faktor faktor yang mempengaruhi
perpindahan panas pada alat STHE ini adalah perbedaan temperatur antara kedua
fluida yang digunakan, luas permukaan perpindahan panas, dan laju alir fluida yang
digunakan.
Pada faktor laju alir, laju alir dapat menyebabkan perbedaan waktu kontak
antara fluida panas dan fluida dingin pada alat STHE. Selain itu akan mempengaruhi
besar kecilnya kalor yang dilepaskan dan diterima oleh fluida. Untuk membuktikan
hal ini, maka dilakukan 2 variasi terhadap laju alir, dimana pada percobaan Co-
Current pertama dilakukan variasi laju alir fluida panas yang dibuat menjadi sebesar
0,7 LPM; 1,4LPM; 2,1 LPM; 2,8 LPM; 3,5 LPM sedangkan laju alir fluida dingin
dibuat konstan sebesar 1 LPM. Pada percobaan kedua laju alir yang divariasikan
adalah laju alir fluida dingin yang dibuat sebesar 0,3LPM; 0,6 LPM; 0,9 LPM; 1,2
LPM; 1,5 LPM sedangkan laju alir fluida panas dibuat konstan sebesar 1 LPM.
Sedangkan untuk counter-current dilakukan variasi laju alir fluida panas yang dibuat
menjadi sebesar 0,7 LPM; 1,4LPM; 2,1 LPM; 2,8 LPM; 3,5 LPM sedangkan laju alir
fluida dingin dibuat konstan sebesar 1 LPM.

a. Co-current

Ketika laju alir fluida panas dinaikan dengan laju alir fluida dingin tetap,
diperoleh bahwa kenaikan koefisien perpindahan panas (U) akan bertambah
seiring dengan kenaikan laju alir fulida panas. Hal ini mengakibatkan bahwa,
efisiensi panas yang diterima fluida dingin makin bertambah. Menurut teori
(Geankoplis, 2003) “Panas yang diberikan semakin banyak.” Lalu, berdasarkan
literatur (Kern), nilai U untuk laju alir panas dan laju alir dingin berupa larutan air
nilainya berkisar antara 200-500 Btu/h.ft2.oF.

Berikut ini adalah tabel berdasarkan hasil percobaan diatas:

 Ketika Fluida Panas Berubah dan Fluida Dingin Tetap :

Laju Fluida Q rata-rata U


Panas (L/min) (kJ) (kJ/m2.0C)
0,7 15,0720 0,428840
1,4 21,5286 0,624217
2,1 24,4536 0,709574
2,8 26,9323 0,776816
3,5 26,1036 0,751815

Pada saat laju alir fluida dingin tetap dan laju alir fluida panas
berubah terjadi kenaikan koefisien perpindahan panas, hal tersebut
terjadi karena laju alir fluida panas yang tinggi mengakibatkan suhu
yang dihasilkan pun semakin tinggi. Akibatnya, panas yang diterima
oleh fluida dingin pun semakin besar.

 Ketika Fluida Panas Tetap dan Fluida Dingin Berubah:

Laju Fluida
Q rata-rata U
Dingin
(kJ) (kJ/m2.0C)
(L/min)
0,3 10,4043 0,283920
0,6 13,7556 0,383039
0,9 14,7788 0,428516
1,2 20,9080 0,620095
1,5 25,2130 0,786190

Pada saat fluida panas tetap dan fluida dingin berubah terjadi
kenaikan koefisien perpindahan panas ketika salah satu laju alir fluida
dingin dinaikkan. Artinya kapasitas fluida dingin untuk menerima
panas bertambah karena laju alirnya dibuat tinggi.

b. Counter-current

Pada counter-current laju alir fluida panas dan laju alir fluida dingin dibuat
berlawanan arah, diperoleh koefisien perpindahan panas semakin bertambah
seiring dengan kenaikan laju alir fluida panas. Berikut ini adalah tabel berdasarkan
hasil percobaan diatas:

Laju Fluida Q rata-rata U


Panas (L/min) (kJ) (kJ/m2.0C)

0,7 16,4278 0,5026

1,4 19,5353 0,5976

2,1 24,7044 0,7409

2,8 28,2529 0,8418

3,5 30,2226 0,8900


c. Perbandingan Efisiensi

Pada counter-current efisiensi terjadi kenaikan dan penurunan karena


fluida panas mengalami kehilangan panas akibat kontak dengan lingkungan
(pipa). Serta faktor lain yang tidak diketahui penulis.
Pada co-current terjadi kenaikan dan penurunan karena fluida panas
mengalami kehilangan panas akibat kontak dengan lingkungan (pipa). Serta
faktor lain yang tidak diketahui penulis. Pada laju fluida dingin berubah
diperoleh efisiensi terbesar sebesar 107,2363% saat 0,6LPM. Akan tetapi pada
saat laju alir fluida panas berubah terjadi kenaikan didapatkan efisiensi yang
meningkat seiring dengan bertambahnya laju alir fluida panas.

Berdasarkan data hasil praktikum menunjukkan kebenaran jika jenis aliran


counter current lebih baik dari pada aliran co-current. Hal ini disebabkan pada aliran
counter current panas yang diserap fluida dingin akan semakin banyak dibanding
pada aliran co current.

4. SAFIIRAH NAJIYAH (161424030)

Pada praktikum ini dilakukan proses perpindahan panas menggunakan STHE.


Proses perpindahan panas dilakukan dengan aliran co-current dan counter current
dengan 5 variasi laju alir pada setiap prosesnya. Praktikum perpindahan panas ini
dilakukan pada suhu 50oC. Ketika laju fluida dingin tetap sebesar 1 LPM, laju alir
fluida panas yang digunakan yaitu 0.7 LPM, 1.4 LPM, 2.1 LPM, 2.8 LPM dan 3.5
LPM. Saat laju fluida panas tetap sebesar 1 LPM, laju fluida dingin yang diguanakan
yaitu 0.3 LPM, 0.6 LPM, 0.9 LPM, 1.2 LPM dan 1.5 LPM

Dari hasil praktikum, pada aliran Co – Current semakin besar laju alir fluida panas
yang digunakan, hasil koefiensi perpindahan panas semakin besar juga, dapat dilihat
dari grafik dibawah.
Grafik U vs Laju Alir
1
0.8

Q (KJ/min)
0.6
0.4
0.2 y = 0.1141x + 0.4187
0 R² = 0.8048
0 1 2 3 4
U (KJ/m2.0C Laju alir (LPM)
Linear (U (KJ/m2.0C)

Dengan meningkatnya koefiensi perpindahan panas yang diperoleh, hal tersebut


menunjukkan bahwa semakin besar laju fluida panas, maka semakin banyak kalor
yang terlepas dari fluida panas sehingga kalor yang diserap oleh fluida dingin akan
semakin banyak.hasil tersebut sudah sesuai dengan teori. Dari hasil praktikum, Untuk
aliran Co – current, efisiensi yang diperoleh semakin besar dengan meningkatnya laju
alir. Sama hasilnya dengan co curent variasi laju fluida dingin, semakin besar laju
fluida yang digunakan, maka koefisien perpindahan panas akan semakin besar juga.
Juga efisiensi yang diperoleh semakin meningkat.
Pada aliran Counter Current, semakin besar laju fluida panas, hasil koefisiensi
perpindahan panas akan semakin besar dapat dilihat dari grafik dibawah.

Sama halnya dengan keadaan Co – Current, semakin besar laju fluida panas
maka akan semakin banyak kalor yang dilepaskan sehingga kalor yang diserap fluida
dingin akan semakin banyak, sehingga nilai koefiensi perpindahan panas yang
diperoleh juga akan semakin besar. Hasil tersebut sudah sesuai dengan teori.
Berbanding terbalik dengan Co – Current, semakin besar laju alir fluida panas
yang digunakan, hasil efisiensi pada counter current semakin menurun. Hal ini
disebabkan energi yang hilang semakin banyak dengan bertambahnya laju alir,
sehingga efisiensi yang dihasilkan akan menurun
Untuk nilai Q baik pada aliran Co – Current maupun Counter current, semakin
besar laju alir maka Q yang dihasilkan akan semakin besar juga. Hasil koefisiensi
perpindahan panas pada Counter current lebih besar dibandingkan dengan Co-
current, hal tersebut menunjukkan bahwa fuida dingin pada counter current lebih
banyak menyerap kalor dibandingkan di co – current
IX. KESIMPULAN

1. Konsep perpindahan panas pada Shell and Tube Heat Exchanger adalah
perpindahan panas dari fluida panas ke fluida dingin melalui shell and tube,
sehingga perpindahan panasnya lebih efisien dibandingkan Plate Heat Exchanger.

2. Efisiensi yang diperoleh adalah sebagai berikut :


a. Co-current

Laju Air Fluida


Efisiensi
Panas Laju Air
(%) Fluida Efisiensi
(L/min)
88,61835 Dingin (%)
0,7 (L/min)
90,06362 67,21567
1,4 0,3
Laju Alir
Fluida Dingin 204,8661 107,2363
2,1 Laju Alir 0,6
Tetap Laju Alir
Fluida Panas
Fluida Panas 310,1638 63,6928
2,8 Tetap Laju Alir 0,9
Berubah
Fluida Dingin
68,8699
463,5386 Berubah 1,2
3,5
79,2040
1,5

b. Counter-current

Laju Air
Efisiensi
Fluida Panas
(%)
(L/min)
126,1858
0,7
92,19405
1,4
Laju Alir Fluida
Dingin Tetap Laju 95,59323
2,1
Alir Fluida Panas
Berubah 94,63076
2,8
81,03896
3,5

Dari Tabel efisiensi diatas, efisiensi terbaik diperoleh pada kondisi aliran co-
current dengan laju alir fluida panas berubah dan laju alir fluida dingin tetap.
3. Konduktivitas panas yang diperoleh adalah sebagai berikut :
a. Co-current

Laju Air Koefisien


Fluida Perpindahan Laju Air Koefisien
Panas panas (kJ/m2 Fluida Perpindahan
(L/min) .0C) Dingin panas (kJ/m2
0,42884 (L/min) .0C)
0,7 0,28392
0,3
0,624217
1,4 0,383039
Laju Alir Fluida 0,6
Dingin Tetap 0,709574 Laju Alir Fluida
2,1 Panas Tetap Laju 0,428516
Laju Alir Fluida 0,9
Panas Berubah 0,776816 Alir Fluida
2,8 Dingin Berubah 0,620095
1,2
0,751815
3,5 0,786190
1,5

b. Counter-current

Laju Air
Koefisien
Fluida Panas
Perpindahan
panas (kJ/m2
(L/min)
.0C)
0,5026
0,7

0,5976
1,4
Laju Alir Fludia
Dingin Tetap Laju 0,7409
2,1
Alir Fluida Panas
Berubah 0,8418
2,8

0,8900
3,5

Dari Tabel diatas dapat disimpulkan, semakin besar laju alir air panas,
semakin besar pula koefisien perpindahan panas. Artinya panas yang diberikan
semakin banyak
DAFTAR PUSTAKA

Artono Koestoer, Raldi .”Perpindahan Kalor”. Salemba Teknika. Jakarta 2002

Holman, JP. Alih bahasa E.Jasifi. “Perpindahan Kalor”. Penerbit


Erlangga.Jakarta.1995

MC. Cabe, W.L, Smith, JC, Harriot, P, “ Unit Operation of Chemical


Enginering”, 4th ed, Mc.Graw-Hill, New York, 1985, Chapter 11, 12, 15

Tim Dosen Teknik Kimia Polban. 2018. Modul Praktikum Labtek-2. Bandung
: Polban