Anda di halaman 1dari 29

Pemeriksaan Sel LE Pada lupus eritematosus disseminata atau lupus eritematosus sistemik

(SLE), terdapat autoantibodi (faktor LE) dalam fraksi gamma globulin yang berpengaruh
terhadap leukosit yang telah mengalami kerusakan. Adanya Autoantibodi yang mengarah ke
sel LE mengikat histon pada inti sel. Selanjutnya Lekosit itu berubah menjadi massa yang
homogen dan bulat yang kemudian difagositkan oleh sel lekosit polymorfonuclear normal.
Sel LE pertama kali ditemukan pada tahun 1948 oleh hematologist klinis Amerika yang
bernama Malcolm Hargraves dan Robert Morton bersama seorang teknisi laboratorium Helen
Richmond. Mereka mengamati dua fenomena yang tidak biasa terjadi pada beberapa sediaan
sumsum tulang yang mereka sebut sebagai “sel tart” dan “sel LE”.

Pemeriksaan Sel LE ini terutama digunakan untuk mendiagnosis lupus eritematosus sistemik
(SLE). Sekitar 50% sampai 75% dari pasien dengan lupus mempunyai hasil tes yang positif.
Namun beberapa pasien dengan kondisi skleroderma , rheumatoid arthritis dan drug induced
lupus erythematosus juga memiliki tes sel LE positif juga.
Prosedur Pemeriksaan Sel LE
Pemeriksaan sel LE dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa cara, yaitu : dengan
menggunakan cara Magath dan Winkle (modifikasi dari Zimmer dan Hargraves),
caraZinkham dan Conley dan cara Mudrick.

Prosedur Kerja Pemeriksaan Sel LE dengan Cara Magath dan Winkle (modifikasi dariZimmer
dan Hargraves)

Dikumpulkan darah vena 8 - 10 ml lalu biarkan darah tersebut membeku dalam tabung kering
dan bersih. Darah tersebut dibiarkan 2 jam pada suhu kamar atau 30 menit dalam pengeram
dengan suhu 37 Derajat Celcius. Pisahkan bekuan dari serum lalu bekuan itu digerus lalu
disaring melalui saringan kawat tembaga. Kemudian Hasil saringan tersebut dimasukkan
dalam tabung Wintrobe dan dipusingkan pada kecepatan 3000 rpm selama 10 menit.
Kemudian Buang serum bagian atas dan ambil lapisan sel paling atas (buffycoat) dengan
pipet pastur lalu diteteskan di atas obyek glass dan buat sediaan apus. Selanjutnya warnai
sediaan dengan larutan pewarna Giemsa atau Wright dan mulai untuk mencari sel-sel LE di
bawah mikroskop.

Prosedur Kerja Pemeriksaan Sel LE dengan Cara Zinkham dan Conley

Dikumpulkan darah vena 8 - 10 ml dan biarkan pada suhu kamar selama 90 menit. Darah
tersebut dikocok dengan alat rotator selama 30 menit. darah dimasukkan ke dalam tabung
Wintrobe dan pusingkan selam 10 menit pada kecepatan 3000 rpm. Lalu buat sediaan apus
seperti cara di atas.

Prosedur Kerja dengan Cara Mudrick

Diambil darah kapiler lalu dimasukkan ke dalam tabung kapiler yang telah dilapisi heparin
seperti yang dipakai untuk mikrohematokrit. Kemudian Tutuplah salah satu ujung tabung
tersebut dengan dempul dan pusingkan selama 1 menit dengan menggunakan centrifuge
mikrohematokrit. Selanjutnya Masukkan kawat baja halus ke dalam tabung kapiler lalu
diputar-putarlah kawat itu untuk mencampur buffycoat dengan plasma darah serta untuk
merusak lekosit-lekosit. Lakukan Inkubasi selama 30 menit pada suhu 37 derajat celcius atau
biarkan selama 2 jam pada suhu kamar. Selanjutnya Pusingkan lagi seperti cara di atas.
Patahkan tabung kapiler dekat lapisan buffycoat lalu sentuhkan ujung tabung yang
dipatahkan tersebut ke permukaan kaca obyek dan buatlah sediaan apus. Sediaan diwarnai
dengan pewarnaan Giemsa atau Wright dan diperiksa di bawah mikroskop untuk mencari sel-
sel LE.

Sel LE tampak sebagai massa homogen yang difagositkan oleh lekosit polymorphonuclear.
Sel-sel LE ini sering tampak seperti kue tart, sehingga disebut sel tart. Adanya Massa
homogen yang dikelilingi oleh banyak se lekosit polymorphonuclear ini dikenal dengan nama
sel rosette dan sel ini dianggap sebagai sel LE yang belum sempurna atau sel pre-LE.

Pembentukan sel LE berlaku in vitro saja karena memerlukan adanya sel-sel lekosit yang
telah rusak. Teknik membuat sediaan ini sangat berpengaruh terhadap hasil laboratorium.

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Sel LE


Adanya sel LE merupakan bukti adanya autoantibodi atau faktor LE. Tidak ditemukannya
sel LE bukan berarti tidak adanya penyakit SLE pada pasien tersebut. Tes sel LE kini jarang
dilakukan karena sekarang tes yang lebih baik telah ada untuk membantu mendiagnosis
lupus.

Pada lupus eritematosus disseminata atau lupus eritematosus sistemik (SLE), terdapat
autoantibodi (faktor LE) dalam fraksi gamma globulin yang berpengaruh terhadap lekosit
yang telah rusak. Autoantibodi yang mengarah ke fenomena sel LE mengikat histon pada inti
sel. Lekosit itu berubah menjadi massa yang homogen dan bulat yang kemudian difagosit
oleh lekosit polymorfonuclear normal.

Sel LE ditemukan pertama kali pada tahun 1948 oleh hematologist klinis Amerika, Malcolm
Hargraves dan Robert Morton bersama seorang teknisi laboratorium Helen Richmond.
Mereka telah mengamati dua fenomena yang tidak biasa pada beberapa sediaan sumsum
tulang, yang mereka sebut sebagai “sel tart” dan “sel LE”.

Pengujian ini terutama digunakan untuk mendiagnosis lupus eritematosus sistemik (SLE).
Sekitar 50% sampai 75% dari pasien dengan lupus mempunyai tes positif. Namun, beberapa
pasien dengan rheumatoid arthritis, skleroderma, dan drug-induced lupus erythematosus juga
memiliki tes sel LE positif.

Prosedur

Pemeriksaan sel LE dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu : cara Magath dan Winkle
(modifikasi dari Zimmer dan Hargraves), cara Zinkham dan Conley, dan cara Mudrick.

1. Cara Magath dan Winkle (modifikasi dari Zimmer dan Hargraves)

Kumpulkan darah vena 8-10 ml dan biarkan darah itu membeku dalam tabung kering
dan bersih. Biarkan 2 jam pada suhu kamar atau 30 menit dalam pengeram dengan
suhu 37oC. Pisahkan bekuan dari serum lalu bekuan itu digerus dan disaring melalui
saringan kawat tembaga. Hasil saringan dimasukkan dalam tabung Wintrobe dan
dipusingkan dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. Buang serum bagian atas,
ambil lapisan sel paling atas (buffycoat) dengan pipet pastur lalu teteskan di atas
obyek glass dan buat sediaan apus. Warnai sediaan dengan larutan pewarna Giemsa
atau Wright dan cari sel-sel LE di bawah mikroskop.

2. Cara Zinkham dan Conley

Kumpulkan darah vena 8-10 ml, biarkan pada suhu kamar selama 90 menit. Kocok
darah tersebut dengan alat rotator selama 30 menit. Masukkan darah tersebut ke
dalam tabung Wintrobe dan pusingkan selam 10 menit dengan kecepatan 3000 rpm.
Buat sediaan apus seperti cara di atas.

3. Cara Mudrick

Ambil darah kapiler dan masukkan ke dalam tabung kapiler yang dilapisi heparin
seperti yang dipakai untuk mikrohematokrit. Tutuplah salah satu ujung tabung
tersebut dengan dempul dan pusingkan selama 1 menit dengan centrifuge
mikrohematokrit. Masukkan kawat baja halus ke dalam tabung kapiler dan putar-
putarlah kawat itu untuk mencampur buffycoat dengan plasma dan untuk merusak
lekosit-lekosit. Inkubasi selama 30 menit pada suhu 37oC atau biarkan selama 2 jam
pada suhu kamar. Pusingkan lagi seperti di atas. Kemudian patahkan tabung kapiler
dekat lapisan buffycoat lalu sentuhkan ujung tabung yang dipatahkan itu ke
permukaan kaca obyek dan buatlah sediaan apus. Warnai sediaan dengan Giemsa atau
Wright dan periksa di bawah mikroskop untuk mencari sel-sel LE.

Sel LE tampak sebagai massa homogen yang difagosit oleh lekosit polymorphonuclear. Sel
LE sering tampak seperti kue tart, sehingga juga disebut sel tart. Massa homogen yang
dikelilingi oleh banyak se lekosit polymorphonuclear dikenal dengan nama sel rosette; sel ini
dianggap sebagai sel LE yang belum sempurna atau sel pre-LE.

Pembentukan sel LE berlaku in vitro saja karena memerlukan adanya sel-sel lekosit yang
rusak. Teknik membuat sediaan sangat berpengaruh terhadap hasil laboratorium.

Adanya sel LE merupakan bukti adanya autoantibodi atau faktor LE. Tidak menemukan sel
LE bukan berarti tidak adanya penyakit SLE pada pasien yang bersangkutan. Tes sel LE kini
jarang dilakukan karena tes yang lebih baik sekarang ada untuk membantu mendiagnosis
lupus.

Nilai Rujukan

Systemic lupus erythematosus (SLE) adalah penyakit multisistem yang disebabkan oleh
kerusakan jaringan akibat deposisi immune complex . Terdapat spektrum manifestasi klinis
yang luas dengan remisi dan eksaserbasi. Respons imun patogenik mungkin berasal dari
pencetus lingkungan serta adanya gen tertentu yang rentan.

Dari berbagai penelitian epidemiologik terlihat bahwa angka kejadian penyakit ini semakin
meningkat dengan nyata, sebagian mungkin karena bertambah baiknya pemahaman dokter
mengenai cara-cara mengdiagnosis SLE. Meskipun harapan hidup penderita SLE di negara-
negara barat semakin baik, tetapi di negara berkembang termasuk Indonesia, ternyata masih
belum memuaskan
Patogenesis SLE sampai sekarang belum dipahami secara tuntas, meski jelas hal ini
berhubungan dengan hilngnya toleransi diri (self tolerance), yang mengakibatkan
terbentuknya autoantibody dan selanjutnya menyebabkan kerusakan jaringan. Lebih jauh lagi
diketahui bahwa kerusakan jaringan itu tidak hanya diperantai oleh immune complex, tetapi
juga oleh sel T, sitokin, kemokin serta molekul radikal oxygen teraktivasi dan produk-produk
dari aktivasi komplemen.

Penatalaksanaan SLE tetap merupakan masalah karena sampai saat ini belum ada
penamganan yang menghasilkan penyembuhan secara total, dapat terjadi eksaserbasi setelah
masa stabil beberapa bulan dan juga efek samping pengobatan.

KLASIFIKASI

SLE adalah salah satu dari beberapa jenis lupus (tabel 1). Jenis lain adalah lupus kutaneus
(dikoid) kronik, lupus karena obat, lupus kutaneus subakut, dan lupus neonatal. Penderita
dengan gambaran seperti lupus, tetapi tidak memenuhikriteria biasanya didiagnosa sebagaai
undiferentiented connective tissue disease (UCTD).

Tabel 1. tipe lupus Erytematous (koopman, 2000)

1. Systemik lupus erytematous (SLE)

2. Chronik cutaneus (discoid) lupus (CLE)

3. Subacute cutaneus lupus erytematous (SCLE)

4. Drug-induced lupus erytematous (DILE)

5. Neonatal lupus erytematous

Terdapat 14 kriteria untuk SLE,diagnosa dapat ditegakkan jika mempunyai 4 kriteria atau
lebih.Pada tahun 1982, kriteria ini di revisi menjadi hanya 11 item. Tahun 1997 kriteria ini
juga mengalami revisi pada kriteria yang ke-10 yaitu adanya sel LE tidak lagi digunakan
sebagai salah satu kriteria.

Kriteria SLE dari ARA, tahun 1997:

1. 1. Malar rash.
2. 2. Discoid rashi.
3. Fotosensitivitas
4. Ulkus oral
5. Arthritis .
6. Serositis.
7. Gangguan Renal .
8. Kelainan neorologis.
9. Kelainan hematologis.
10. Kelainan imunologis.
11. Antibodi antinuclear .
Penderita dikatakan mempunyai SLE jika terdapat minimal 4 kriteria terpenuhi, baik secara
bersamaan ataupun simultan, selama observasi.

PATOGENESIS

Terjadinya SLE dimulai dengan interaksi antara gen yang rentan serta faktor lingkungan yang
menyebabkan terjadinyaa respons imun yang abnormal. Respon tersebut terdiri dari
pertolongan sel T hiperaktif pada sel B yang hiperaktif pula, dengan aktivasi poliklonal
stimulasi aantigenik spesifik padaa kedua sel tersebut. Pada penderita SLE mekanisme yang
menekan respon hiperaktif seperti itu, mengalami gangguan. Hasil dari respon imun
abnormal tersebut adalah produksi autoantibody dan pembentukan immune complex. Subset
patogen autoantibody dan deposit immune complex dijaringan serta kerusakan awal yang
ditimbulkannya merupakan karakteristik SLE.

Antigen dari luar yang akan di proses makrofag akan menyebabkan berbagai keadaan seperti
: apoptosis,aktivasi atau kematian sel tubuh,sedangkan beberapa antigen tubuh tidak
dikenal(self antigan) contoh: nucleosomes,U1RP,Ro/SS-A.Antigen tersebut diproses seperti
umumnya antigen lain oleh makrofag dan sel B.Peptida ini akan menstimulasi sel T dan akan
diikat sel B pada receptornya sehingga menghasilkan suatu antibody yang merugikan
tubuh.Antibody yang dibentuk peptida ini dan antibody yang terbentuk oleh antigen external
akan merusak target organ (glomerulus,sel endotel,trombosit).Disisi lain antibody juga
berikatan dengan antigennya sehingga terbentuk immune complex yang merusak berbagai
organ bila mengendap.

Perubahan abnormal dalam system imun tersebut dapat mempresentasikan protein


RNA,DNA dan phospolipid dalam system imun tubuh.Beberapa autoantibody dapat meliputi
trombosit dan eritrosit karena antibody tersebut dapat berikatan dengan glycoprotein II dan
III di dinding trombosit dan eritrosit.Pada sisi lain antibody dapat bereaksi dengan antigen
cytoplasmic trombosit dan eritrosit yang menyebabkan proses apoptosis.

Peningkatan immune complex sering ditemukan pada SLE dan ini menyebabkan kerusakan
jaringan bila mengendap.Immune complex juga berkaitan dengan complemen yang akhirnya
menimbulkan hemolisis karena ikatannya pada receptor C3b pada eritrosit.

Kerusakan pada endotel pembuluh darah terjadi akibat deposit immune complex yang
melibatkan berbagai aktivasi complemen ,PMN dan berbagai mediator inflamasi.

Keadaan-keadaan yang terjadi pada cytokine pada penderita SLE adalah ketidakseimbangan
jumlah dari jenis-jenis cytokine.Keadaan ini dapat meningkatkan aktivasi sel B untuk
membentuk antibody.

Berbagai keadaaan pada sel T dan sel B yang terjadi pada SLE :

Sel T :

-Lymphopenia

-Penurunan sel T suppressor

-Peningkatan sel T helper


-Penurunan memory dan CD4

-Penurunan aktivasi sel T suppressor

-Peningkatan aktivasi sel T helper

Sel B :

-Aktivasi sel B

-Peningkatan respon terhadap cytokine.

Bagian terpenting dari patogenesis ini ialah terganggunya mekanisme regulasi yang dalam
keadaan normal mencegah autoimunitas.

GEJALA KLINIS

Onset penyakit dapat spontan atau didahului factor presipitasi seperti kontak dengan sinar
matahari,infeksi,obat,penghentian kehamilan,trauma fisik/psikis.Setiap serangan biasanya
didahului gejala umum seperti demam,malise,kelemahan,anorexia,berat badan
menurun,iritabilitas.Demam ialah manifestasi yang paling menonjol kadang-kadang dengan
menggigil.

Manifestasi kulit berupa butterfly appearance.Manifestasi kulit yang lain berupa lesi
discoid,erythema palmaris,periungual erythema,alopecia.Mucous membran lession cenderung
muncul pada periode exacerbasi.pada 20% penderita juga didapatkan fenomena Raynaud.

Manifestasi gastrointestinal berupa nausea,diare,GIT discomfort.Gejala menghilang dengan


cepat bila manifestasi sistemiknya diobait dengan adekuat.Nyeri GIT mungkin disebabkan
peritonitis sterildan arteritis pembuluh darah kecil mesenterium dan usus yang
mengakibatkan ulserasi usus.Arteritis juga dapat menimbulkan pancreatitis.

Manifestasi muskuloskeletal berupa athralgia,myalgia,myopathi.

Joint symptoms dengan atau tanpa aktif sinovitis ada pada 90% penderita.Atritis cenderung
menjadi deformasi,dan gambaran ini hampir selalu tidak didapatkan pada pemeriksaan
radiografi.

Manifestasi ocular ,termasuk conjungtivitis,fotofobia,transient atau permanent monooculr


blindness dan pandangan kabur.Pada pemeriksaan fundus dapat juga ditemukan cotton-wool
spots pada retina(cytoid bodies).

Pleurisi , pleural effusion , bronchopneumonia , pneumonitis sering dijumpai.Pleural effusion


unilateral ringan lebih sering dijumpai daripada bilateral.Mungkin didapatkan sel LE pada
cairan pleura.Pleural effusion menghilang dengan terapi yang adekuat.Restriktif pulmonary
disease juga mungkin dijumpai.

Manifestasi di jantung dapat berupa cardiac failure akibat dari micarditis dan
hipertensi.Cardiac aritmia juga sering dijumpai.Valvular incompetence yang sering dijumpai
adalah mitral regurgitasi.
Vasculitis pada percabangan mesenterica sering muncul dan dihubungkan dengan
polyarteritis nodusa ,termasuk ditemukan adanya aneurysma pada
percabangannya.Abdominal pain (setelah makan),illeus,peritonitis,perforasi dapat terjadi.

Komplikasi neurologis bermanifestasi sebagai perifer dan central berupa


psikosis,epilepsi,sindroma otak organik ,periferal dan cranial neuropathies,transverse
myelitis,stroke.Depresi dan psikosis dapat juga akibat induksi dari obat
kortikosteroid.Perbedaan antara keduanya dapat diketahui dengan menurunkan atau
menaikan dosis steroid.Psikosis lupus membaik bila dosis steroid dinaikan,dan pada psikosis
steroid membaik bila dosisnya diturunkan.

Komplikasi renal berupa glomerulonefritis dan gagal ginjal kronik.Manifestasi yang paling
sering berupa proteinuria.Histopatologi lesi renal bervariasi mulai glomerulonefritis fokal
sampai glomerulonfritis membranoploriferatif difus.Keterlibatan renal pada SLE mungkin
ringan dan asimtomatik sampai progresif dan mematikan.Karena kasus yang ringan semakin
sering dideteksi ,insidens yang bermakna semakin menurun.Ada 2 macam kelainan patologis
pada renal berupa nefritis lupus difus dan nefritis lupus membranosa.Nefritis lupus difus
merupakan manifestasi terberat.Klinis berupa sebagai sindroma nefrotik,hipertensi,gagal
ginjal kronik.

Adenopathi menyeluruh dapat ditemukan,terutama pada anak-anak,dewassa muda,dan kulit


hitam.Splenomegali terjadi pada 10% penderita.Secara histologis lien menunjukan fibrosis
periarterial(onion skin lesion).

Hepatomegali mungkin juga dapat ditemukan ,tetapi jarang disertai icterus.

Kelenjar parotis dapat membesar pada 6% kasus SLE.

Pada Drug Induce Lupus Erythematosus kelainan pada ginjal dan SSP jarang ditemukan.Anti
Ds-DNA,hipocomplementemia serta complex immune juga jarang ditemukan.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan :

1.Hematologi

Ditemukan anemia,leukopenia,trombocytopenia.

2.Kelainan imunologi

Ditemukan ANA,Anti-Ds-DNA,rheumatoid factor,STS false positive,dan lain-lain.

ANA sensitive tapi tidak spesifik untuk SLE.Antibody double-stranded DNA(Anti-Ds DNA)
dan anti-Sm spesifik tapi tidak sensitive.Depresi pada serum complement(didapatkan pada
fase aktif)dapat berubah menjadi normal pada remisi.Anti-Ds DNA juga berhubungan dengan
aktivitas daripada perjalanan penyakit SLE ,tetapi anti-Sm tidak.
Suatu varietas antibody antinuclear lain dan juga anticytoplasmic (Ro,La,Sm,RNP,Jo-
1)berguna secara diagnostik pada penyakit jaringan ikat dan kadang ditemukan pada SLE
dengan negatif ANA.

Serologi Tes Siphillis false positive dapat ditemukan 5-10% penderita.Mereka disertai
antikoagulan lupus,yang manifestasi sebagai perpanjangan Partial Thrombiplastin(PTT).

Kadar complemen serum menurun pada fase aktif dan paling rendah kadarnya pada SLE
dengan nefritis aktif.

Urinalisis dapat normal walaupun telah terjadi proses pada ginjal.Untuk menilai perjalanan
SLE pada ginjal dilakukan biopsy ginjal dengan ulangan biopsy tiap 4-6 bulan.Adanya
silinder eritrosit dan silinder granuler menandakan adanya nefritis yang aktif.

Berikut tabel dibawah, jenis autoantibody yang berperan dalam SLE dan prevalensinya.

Autoantibody pada penderita SLE.

Incidence % Antigen detected Clinical importance

Antinuclear 98 Multiple nuclear Substrat sel manusia lebih sensitive dari


antibodies murine. Pemeriksaan negatif yang
berturut-turut menyingkirkan SLE.

Anti-DNA 70 DNA(ds) Spesifik untuk SLE;Anti-ssDNA tidak.Titer


yang tinggi berkorelasi dengan nephritis
dan tingkat aktivitas SLE.

Anti-Sm 30 Protein complexed Spesifik untuk SLE.


to 6 species or
small nuclear RNA

Anti-RNP 40 Protein complexed Titer tinggi pada sindrom dengan


to U1RNA manifestasi
polimyositis,scleroderma,lupus dan
mixed connective tissue disease.Jika +
tanpa anti-DNA,resiko untuk nephritis
rendah.

Anti-Ro(SS-A) 30 Protein complexed Berhubungan dengan Sjorgen’s


to y1-y5 RNA. Syndrome,subacute cutaneus
lupus,inherited C’ deficiencies,ANA-
negative lupus,lupus in eldery,neonatal
lupus,congenital heart block.Dapat
menyebabkan nephritis.

Anti-La(SS-B) 10 Phosphoprotein Selalu berhubungan dengan anti-


Ro.Resiko nephritis rendah bila
+.Berhubungan dengan Sjorgen’s Synd.

Antihistone 70 Histones Lebih banyak pada drug induced


lupus(95%) daripada spontaneous lupus.

Antiphospholipid 50 Phospholipid 3 tipe- lupus


anticoagulan(LA),anticardiolipin(aCL),dan
false-positive test for syphilis(BFP).LA
dan aCL berhubungan dengan
clotting,fetal
loss,thrombocytopenia,valvular heart
disease.Antibodi pada β2-glycoprotein I
bagian dari grup ini.

Antierythrocyte 60 Erythrocyte Jumlah sedikit dari antibody ini dapat


mrnnyebabkan hemolisis.

Antiplatelet 30 Platelet surface + Berhubungan dengan thrombocytopenia


cytoplasma pada 15% penderita.

Antilymphocyte 70 Lymphocyte surface Kemungkinan berhubungan dengan


leukopenia dan abnormal fungsi sel T.

Antiribosomal 20 Ribosomal P protein Berhubungan dengan psikosis atau


depresi dengan CNS SLE.

ANA Anti- Rheumatoid Anti- Ani- Anti- Anti Anti Anti- ANCA
Native Factor Sm SS-A SS-B SCL-70 Centromere Jo-1
DNA

Rheumatoid Arthritis 30-60 0-5 72-85 0 0-5 0-2 0 0 0 0

SLE 95-100 60 20 10-25 15-20 5-20 0 0 0 0-1

Sjorgen Syndrome 95 0 75 0 60-70 60-70 0 0 0 0

Diffuse scleroderma 80-95 0 25-33 0 0 0 33 1 0 0

Limited 80-95 0 33 0 0 0 20 50 0 0
scleroderma(CREST
syndrome)

Polymiositis 80-95 0 33 0 0 0 0 0 20-30 0

Wegener’s 0-15 0 50 0 0 0 0 0 0 93-96


granulomatosis

ANA = Antinuclear antibody , ANCA = Anticytoplasmic antibody


Semua angka diatas menunjukan frekwansi dalam %.

Frekwensi pemeriksaan abnormal yang didapatkan pada pemeriksaan laboratorium pad SLE.

Anemia 60%

Leukopenia 45%

Trombocytopenia 30%

False test for syphilis 25%

Lupus anticoagulant 7%

Anti-cardiolipin antibody 25%

Direct coomb test positive 30%

Proteinuria 30%

Hematuria 30%

Hypocomplementemia 60%

ANA 95-100%

Anti-native DNA 50%

Anti-Sm 20%

___________________________________________________________

Beberapa obat dapat menyebabkan ANA tes positf dan kadang-kadang sindroma mirip
lupus.Gejala menghilang jika obat dihentikan segera.

Obat-obat yang dapat memicu timbulnya SLE terhadap orang dengan predisposisi genetic.

Definite ascociation

Chlorpromazine Methyldopa

Hydralazine Procainamide

Isoniazid Quinidine

Possible ascociation

Beta-blocker Methimazole

Captopril Nitrofurantion
Carbamazepine Penicillinamine

Cimetidine Phenitoin

Ethosuximide Propylthiouracil

Hydrazine Sulfasalazine

Levodopa Sulfonamide

Lithium Trimethadione

Unlikely ascociation

Allopurinol Penicillin

Chlortalidone Phenylbutazone

Gold salt Reserpine

Griseofulvin Streptomycin

Methysergide Tetracycline

Oral contraceptive

__________________________________________________________

DIAGNOSIS

Diagnosis SLE harus dipikirkan pada :

1.Wanita muda

2Didapatkan lesi pada area yang terekspose matahari

3.Manifestasi sendi

4.Depresi dari hemoglobin,sel darah putih,sel darah merah,trombosit

5.Tes serologi ynag positif(ANA,anti-native DNA,serum complemen yang rendah).

Diagnosis pasti dapat ditegakan bila 4 atau lebih dari 11 kriteria ARA terpenuhi.

Kriteria SLE dari ARA, tahun 1997:

1.Malar rash

erythema yang fixed,datar/meninggi.Letaknya pada malar,biasanya tidak mengenai lipatan


nasolabial.
2.Discoid rash

Lesi erythemetous yang meninggi dengan squama keratotic.Kadang tampak scar yang atofi.

3.Fotosensitivitas.

Diketahui melalui anamnesa dan pemeriksaan fisik.

4.Ulkus oral

Ulserasi dimulut atau nasofaring,biasanya tidak nyeri.

5.Arthritis

nonerosive arthritis melibatkan 2 atau lebih dari sendi perifer. Ditandai dengan
nyeri,bengkak,atau efusi.

6.Serositis

Pada pleuritis didapatkan riwayat nyeri pleural,pleural friction rub,efusi pleura.Pada


pericarditis tampak pada ECG,gesekan pericard,efusi pericard.

7.Gangguan Renal

proteinuria >0,5 g/hari atau >3+,atau cellular cast berupa eritrosit,hemoglobin


granular,tubular,atau campuran.

8.Kelainan neorologis

psikosis,kejang-kejang (tanpa sebab yang jelas).

9.Kelainan hematologis

anemia hemolitic

leukopenia(<4000/μL)

limfopenia (<1500/μL)

trombositopenia (<100.000/μL).

10.Kelainan imunologis

Anti ds-DNA , Anti-Sm(antibody terhadap antigen otot polos) ,Antifosfolipid antibody,STS


false positve.

11.Antibodi antinuclear

ANA test +.
Penderita dikatakan mempunyai SLE jika terdapat minimal 4 kriteria terpenuhi, baik secara
bersamaan ataupun simultan, selama observasi.

DIAGNOSIS BANDING

-Rheumatoid arthritis dan penyakit jaringan konektif lainnya.

-Endokarditis bacterial subacute.

-Septikemia oleh Gonococcus/Meningococcus disertai dengan arthritis ,lesi kulit.

-Drug eruption.

-Limfoma.

-Leukemia.

-Trombotik trombositopeni purpura.

-Sarcoidosis.

-Lues II

-Bacterial sepsis.

PROGNOSIS

Bervariasi ,tergantung dari komplikasi dan keparahan keradangan.Perjalanan SLE kronis dan
kambuh-kambuhan seringkali dengan periode remisi yang lama.

Dengan pengendalian yang baik pada fase akut awal prognosis dapat baik.

TATALAKSANA

Penderita SLE tidak dapat sembuh sempurna(sangat jarang didapatkan remisi yang
sempurna).Meskipun begitu dokter bertugas untuk memanage dan mengkontrol supaya fase
akut tidak terjadi.Tujuan pengobatan selain untuk menghilangkan gejala,juga memberi
pengertian dan semangat kepada penderita untuk dapat bekerja dan melakukan kegiatan
sehari-hari.

Terapi terdiri dari terapi suportif yaitu diit tinggi kalori tinggi protein dan pemberian vitamin.

Beberapa prinsip dasar tindakan pencegahan eksaserbasi pada SLE,yaitu:

1.Monitoring teratur

2.Penghematan energi dengan istirahat terjadwal dan tidur cukup

3.Fotoproteksi dengan menghindari kontak sinar matahari atau dengan pemberian sun screen
lotion untuk mengurangi kontak dengan sinar matahari
4.Atasi infeksi dengan terapi pencegahan pemberian vaksin dan antibiotik yang adekuat.

5.Rencanakan kehamilan/hindari kehamilan .

Berikut adalah beberapa terapi medikamentosa pada penderita SLE.

1. NonSteroid Anti-Inflamatory Drug (NSAID):

NSAID berguna karena kemampuannya sebagai analgesik, antiperitik dan antiinflamasi. Obat
ini berguna untuk mengatasi SLE dengan demam dan arthralgia/arthritis. Aspirin adalah salah
satu yang paling banyak diteliti kegunaannya. Ibuprofen dan indometasin cukup efektif untuk
mengobaati SLE dengan arthritis dan pleurisi, dalam kombinasi dengan steroid dan
antimalaria. Keterbatasan obat ini adalah efeksamping pada saluran pencernaan terutama
pendarahan dan ulserasi. Cox2 dengan efek samping yang lebih sedikit diharapkan dapat
mengatasi hal ini, sayang belum ada penelitian mengenai efektivitasnya pada SLE. Efek
samping lain dari OAINS adalah : reaksi hipersensitivitas, gangguan renal, retensi cairan,
meningitis aseptik.

2. Antimalaria

Efektivitas antimalaria terhadap SLE yang mengenai kulit dan sendi telah lama diketahui, dan
obat initelah dianggap sebagai obat pilihan pertama untuk SLE kulit terutama LE diskoid dan
LE kutaneus subakut. Obat ini bekerja dengan cara mengganggu pemrosesan antigen di
makrofag dan sel penyaji antigen yang lain dengan meningkatkan pH di dalam vakuola
lisosomal. Juga menghambat fagositosis, migrasi netrfil, dam metabolisme membran
fosfolipid. Antimalaria dideposit didalam kulit dan mengabsorbsi sinar UV. Hidrosiklorokuin
menghaambat reaksi kulit karena sinar UV. Bebrapa penelitian melaporkan bahwa
antimalaria dapat menurunkan koSLEterol total, HDL dan LDL, pada penderita SLE yang
menerima steroid maupun yang tidak.

Terdapat 3 obat antimalaria yang tersedia : hidroksiklorokuin (dosis 200-400mg/hari),


klorokuin (250mg/hari), kuinarkrin (100mg/hari). Hidroksiklorokuin lebih efektif daripada
klorokuin, dan efek sampingnya lebih ringan. Efek samping antimalaria yang paling sering
adalah efek pada saluran pencernaan, kembung, mual, dan muntah; efk sam ping lain adalah
timbulnya ruam, toksisitas retin, daan neurologis (jarang).

3. Kortikosteroid

Cara kerja steroid pada SLE adalah melalui mekaanisme antiinflamasi dan amunosuprefit.
Dari berbagai jenis steroid, yang paling sering digunakan adalah prednison dan
metilprednisolon.

Pada SLE yang ringan (kutneus, arthritis/arthralgia) yang tidak dapat dikontrol oleh NSAID
dan antimalaria, diberikan prednison2,5 mg sampai 5 mg perhari. Dosis ditingkatkan 20%
tiap 1 sampai 2 minggu tergantung dari respon klinis. Pada SLE yang akut dan mengancam
jiwa langsung diberikan steroid, NSAID dan antimalaria tidak efektif pada keadaan itu.
Manifestasi serius SLE yang membaik dengan steroid antara lain : vaskulitis, dermatitis berat
ataau SCLE, poliarthritis, poliserosistis, myokarditis, lupus pneumonitis, glomeruloneftritis
(bentuk proliferatif), anemia hemolitik, neuropati perifer dan krisis lupus.
Pada SLE aktif dan berat, terdapat beberapa regimen pemberian steroid:

1. Regimen I: daily oral short acting (prednison, prednisolon, metilprednisolon), dosis: 1-2
mg/kg BB/hari dimulai dalam dosis terbagi, lalu diturunkaan secara bertahap (tapering)
sesuai dengan perbaikan klinis dan laboratoris. Regimen ini sangat cepat mengontrol
penyakit ini, 5-10 hari untuk manifestasi hemotologis atau saraf, serositis, atau vaskulitas; 3-
10 minggu untuk glomerulonephritis.

1. Regimen II : methylprednisolone intravena, dosis: 500-1000 mg/hari, selama 3-5 hari atau 30
mg/kg BB/hari selam 3 hari. Regimen ini mungkin dapat mengontrol penyakit lebih cepat
dari pada terapi oral setiaap hari, tetapi efek yang menguntungkan ini hanya bersifat
sementara, sehingga tidak digunakan untuk terapi SLE jangka lama.
2. Regimen III: kombinasi regimen 1 atau 2 dengan obat sitostatik azayhioprine atau
cyclophosphamide.

Setelah kelaainan klinis menjadi tenang dosis diturunkan dengan kecepatan 2,5-5 mg/minggu
sampai dicapai maintenance dose.

4. Methoreksat

Methoreksat adaalah antagonis folat yang jika diberikan dalam dosis untuk penyaakit rematik
efek imunosupresifnya lebih lemah daripada obat alkilating atauazathrioprin. Methorekxate
dosis rendah mingguan, 7,5-15 mg, eektif sebagai “steroid sprring agent” dan dapat diterima
baik oleh penderita, terutama pada manifestsi kulit dan mukulosketetal. Gansarge dkk.
Melakukan percobaan dengan memberikan Mtx 15 mg/minggu pada kegagalan steroid dan
antimalaria.

Efek samping Mtx yang paling sering dipakai adalah:lekopenia, ulkus oral, toksisitas
gastrointestinal, hepatotoksisitas.untuk pemantauan efek samping diperlukan pemeriksaan
darah lengkap,tes fungsi ginjal dan hepar.pada penderita dengan efek samping
gastrointestinal,pemberian asam folat 5 mg tiap minggu akan mengurangi efek tersebut.

5. Imunosupresan atau sitostatik yang lain.

Azathhioprine (Imuran AZA)

Cylophosphamide (chitokxan, CTX)

Chlorambucil (leukeran, CHL)

Cyclosporine A

Tacrolimus (FK506)

Fludarabine

Cladribine

Mycophenolate mofetil
6. Terapi hormonal

Dehidroxyepiandrosterone Sulfate (DHEAS)

Danazol

7. Pengobatan Lain

Dapsone

Dapsone, atau 4.4’- diaminophenylsulphone, bekerja dengan cara mengganggu metabolisme


folat dan menghambat asam para aminobenzoat, dan menghambat jalur alternative
komplemen serta sitotoksisitas netrofil. Tersedia sejak lebih dari 50 tahun yang lalu untuk
pengobatan lepra. Dapson ternyata efektif untuk pengobatan Lupus eritematosus kutaneus.
Leukopenia, dan trombositopenia pada SLE, dengan dosis 50-150 mg/hr. hampir semua
penderita yang menerima dapsone akan mengalami anemia hemolitik ringan yang biasanya
berhubungan dengan dosis.

Clofazimine (Lamprene)

Clofazimine adalah anti leprosi juga yang telah terbukti untuk LE kutaneus yang refrakter.
Digunakan dengan dosis antara 100 sampai 200 mg/hr. efek samping yang terutama adalah
warna kulit yang berubah menjadi pink atau coklat gelap, dan menjadi kering.

Thalidomide

Thalidomide dengan dosis50 sampai 100 mg/hr serta dosis pemeliharaan 25 sampai 5o mg/hr,
efektif untuk LE kutaneus refrakter. Obat ini bekerja dengan menghambat TNF alfa. Obat ini
dikontraindikasikan pada kehamilan karena banyak laporan mengenai terjadinya malformasi
janin (fokomelia).

Immunoglobulin intravena

Immunoglobulin intravena (IVIg) bekerja dengan menghambat reseptor Fc reikuloendotelial.


Terapi ini berguna untuk mengatasi trombositopenia iun, dan pada keadaan mengamcam
jiwa, dengan dosis 2 k/kgBB/hari. 5 hari berturut-turut setiap bulan. IVIg sangat mahal, oleh
karena itu hanya digunakan pada SLE yang resisten terhadap terapi standar, atau pada
keadaan SLE yang berat.

External Device

Terdapat beberapa teknik eksternal yang kegunaannya pada SLE agak terbatas, yaitu:
plasmapheresis, photopheresis, immunoadsorption, UVA1light (panjang gelombang: 340-
400nm), and iradiasi limfoid total.

8. Transplantasi Sumsum Tulang

Hanya diberikan pada kasus SLE yang paling agresif dan rekfrakter. Terapi ini masih
merupakan ekspwrimental untuk saat ini.
Pengobatan Terhadap Komplikasi

Pada komplikasi gagal ginjal dipertimbangkan pemberian diuretic,anti hipertensi,mungkin


juga dilakukan dialysis serta transplantasi ginjal.

Terhadap kejang-kejang dapat diberikan antikonvulsan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Symposium National Immunology Week 2004,Surabaya 9-10 Oktober 2004;hal201-213.

2. Current Medical Diagnosis and Treatment 2004;Chapter 20;Arthritis and Musculosceletal


disorder ;page 805-807.

3. Harrisson’s Principle of Internal Medicine 15th Edition;Volume 2;page 1922- 1928.

4. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid I,Edisi ketiga;hal 150-159.

5. Medical Journal : Cermin Dunia Kedokteran no.142,2004 ; hal.27-30.

6. The Merck Manual Edisi 16 ,Jilid 2 ; hal.878-830.

Iklan

Sukai ini:

PEMBUATAN DAN PEWARNAAN SEDIAAN APUS

A. Pra Analitik

 Persiapan pasien: tidak memerlukan persiapan khusus

 Persiapan sampel:

- Darah kapiler segar akan memberikan morfologi dan hasil pewarnaan yang optimal pada sediaan
apus

- Darah EDTA (etilen diamin tetra asetat). EDTA dapat dipakai karena tidak berpengaruh terhadap
morfologi eritrosit dan lekosit serta mencegah trombosit bergumpal. Tes sebaiknya dilakukan dalam
waktu kurang dari 2 jam. Tiap 1 ul EDTA digunakan untuk 1 ml darah vena
 Prinsip tes:

Prinsip sediaan apus: dibuat apusan darah pada kaca objek.

Prinsip pewarnaan didasarkan pada sifat kimiawi dalam sel. Zat warna yang bersifat asam akan
bereaksi dengan komponen sel yang bersifat alkalis, demikian pula sebaliknya. Pewarnaan sediaan
apus menggunakan prinsip Romanosky yaitu menggunakan dua zat warna yang berbeda yang terdiri
dari Azure B (trimethylthionin)yang bersifat basa dan eosin Y (tetrabromoflourescein) yang bersifat
asam seperti yang dianjurkan oleh the International Council for Standardization in Hematology, dan
pewarnaan yang dianjurkan adalah Wright-Giemsa dan May Grunwald-Giemsa (MGG).

 Alat dan bahan

Alat:

a. Kaca Objek 25x75 mm

b. Batang gelas

c. Rak kaca objek

d. Pipet Pasteur

Bahan/reagen :

1. Metanol absolut dengan kadar air kurang dari 4%, disimpan dalam botol yang tertutup rapat untuk
mencegah masuknya uap air dari udara .

2. Zat warna Wright

Zat warna Wright ………….. 1 gr

Methanol absolut …………….600 ml

Penambahan alkohol sedikit demi sedikit, sambil dikocok dengan baik dengan bantuan 10–20 butir
gelas. Tutup rapat untuk mencegah penguapan dan disimpan ditempat yang gelap selama 2 – 3
mg, dengan sering-sering dikocok, saring sebelum dipakai.

3. Larutan dapar pH 6,4

Na2HPO4 2,56 g
KH2PO4 6,63 g

Air suling 1 L

Sebagai pengganti larutan dapar, dapat dipakai air suling yang pHnya diatur dengan penambahan
tetes demi tetes larutan Kalium bikarbonat 1% atau larutan HCl 1% sampai indikator Brom Thymol
Blue ( larutan 0,04 % dalam air suling ) yang ditambahkan mencapai warna biru.

4. Zat warna Giemsa

Zat warna giemsa 1g

Methanol absolut 10 ml

Hangatkan campuran ini sampai 50°C dan biarkan selama 15 menit, kemudian disaring. Sebelum
dipakai, campuran ini diencerkan sebanyak 20 x dengan larutan dapar pH 6,6. Untuk mencari parasit
malaria, dianjurkan menggunakan larutan dapar pH 7,2

5. Zat warna May - Grunwald

Methylene blue dalam methanol

1% eosin dan 1 % methylene blue

B. Analitik

Cara Membuat Sediaan Apus


1. Dipilih kaca objek yang bertepi rata untuk digunakan sbg “ kaca peng-apus “ sudut kaca objek yang
dipatahkan, menurut garis diagonal untuk dapat menghasilkan sedian apus darah yang tidak
mencapai tepi kaca objek

2. Satu tetes kecil darah diletakkan pada ± 2 –3 mm dari ujung kaca objek.Kaca penghapus diletakkan
dengan sudut 30 – 45 derajat terhadap kaca objek didepan tetes darah.

3. Kaca pengapus ditarik kebelakang sehingga tetes darah , ditunggu sampai darah menyebar pada
sudut tersebut.

4. Dengan gerak yang mantap , kaca penghapus didorong sehingga terbentuk apusan darah sepanjang
3 – 4 cm pada kaca objek. Darah harus habis sebelum kaca penghapus mencapai ujung lain dari kaca
objek. Apusan darah tidak bolah terlalu tipis atau terlalu tebal, ketebalan ini dapat diatur dengan
mengubah sudut antara kedua kaca objek dan kecepatan menggeser. Makin besar sudut atau makin
cepat menggeser, maka makin tipis apusan darah yang dihasilkan.

5. Apusan darah dibiarkan mengering di udara. Identitas pasien ditulis pada bagian tebal apusan
dengan pensil kaca.

Sediaan Yang Baik Mempunyai Ciri – ciri :

1. Tidak melebar sampai tepi kaca objek, panjangnya setengah sampai dua pertiga panjang kaca

2. Mempunyai bagian yang cukup tipis untuk diperiksa, pada bagian itu eritrosit terletak berdekatan
tanpa bertumpukan.

3. Rata , tidak berlubang-lubang dan tidak bergaris-garis

4. Mempunyai penyebaran lekosit yang baik, tidak berhimpun pada pinggir-pinggir atau ujung-ujung
sediaan

Cara Mewarnai Sediaan Apus

I. Pewarnaan Wright

1. Letakkan sediaan apus pada dua batang gelas

2. Fiksasi sediaan apus dengan metanol absolut 2 – 3 menit.

3. Genangi sediaan apus dengan zat warna Wright biarkan 3 – 5 menit.


4. Tambahkan larutan dapar tercampur rata dengan zat warna. Biarkan selama 5 – 10 menit.

5. Bilas dengan air ledeng, mula-mula dengan aliran lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan
menghilangkan semua kelebihan zat warna. Letakkan sediaan hapus dalam rak dalam posisi tegak
dan biarkan mengering.

II. Pewarnaan Giemsa

1. Letakkan sediaan apus pada dua batang gelas di atas bak tempat pewarnaan.

2. Fiksasi sediaan apus dengan metanol absolut 2 – 3 menit.

3. Genangi sediaan apus dengan zat warna Giemsa yang baru diencerkan. Larutan Giemsa yang dipakai
adalah 5%, diencerkan dulu dengan larutan dapar. Biarkan selama 20 – 30 menit.

4. Bilas dengan air ledeng, mula-mula dengan aliran lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan
menghilangkan semua kelebihan zat warna. Letakkan sediaan hapus dalam rak dalam posisi tegak
dan biarkan mengering.

III. Pewarnaan May Grunwald – Giemsa (MGG)

1. Letakkan sediaan apus yang telah difiksasi diatas rak pewarnaan

2. Genangi sediaan apus dengan zat warna May Grunwald yang telah siap pakai, biarkan 2 menit

3. Tambahkan larutan buffer pH 6.4 sama banyak dengan larutan MGG yang telah diberikan
sebelumnya. Tiup agar larutan dapat tercampur rata dengan zat warna. Biarkan selama 2 menit

4. Bilas dengan air (buang kelebihan zat warna)

5. Genangi dengan larutan Giemsa 5% (larutan buffer pH 6.4 10 ml + Giemsa 0,5 ml) biarkan selama 10-
15 menit.

6. Bilas dengan air ledeng , mula-mula dengan aliran lambat kemudian lebih kuat dengan tujuan
menghilangkan semua kelebihan zat warna. Letakkan sedian dalam sikap vertikal dan biarkan
mengering sendiri.

Sumber Kesalahan
1. Kesalahan dalam persiapan penderita, pengambilan dan penyimpanan bahan pemeriksaan
2. Sediaan apus terlalu biru memungkinkan disebabkan oleh apusan yang terlampau tebal , pewarnaan
terlalu lama , kurang pencucian , zat warna atau larutan dapar yang alkalis.

3. Sediaan apus terlalu merah mungkin disebabkan oleh sat warna sediaan atau larutan dapar yang
asam. Larutan dapar yang terlalu asam dapat menyebabkan lekosit hancur.

4. Bercak-bercak zat warna pada sediaan apus dapat disebabkan oleh zat warna tidak disaring sebelum
dipakai atau pewarnaan terlalu lama sehingga zat warna mengering pada sedian.

5. Morfologi sel yang terbaik adalah bila menggunakan darah tepi langsung tanpa anti koagulan. Bila
menggunakan anti koagulan sediaan apus harus dibuat segera, tidak lebih dari satu jam setelah
pengambilan darah. Penggunaan antikogulan heparin akan menyebabkan latar belakang berwarna
biru dan lekosit menggumpal

6. Sediaan hapus yang tidak rata dapat disebabkan oleh kaca pengapus yang tidak bersih atau
pinggirannya tidak rata atau oleh kaca objek yang berdebu, berlemak atau bersidik jari.

7. Fiksasi yang tidak baik menyebabkan perubahan morfologi dan warna sediaan. Ini mungkin terjadi
apa bila fiksasi dilakukan menggunakan methanol yang tidak absolut karena telah menyerap uap air
akibat penyimpanan yang tidak baik.

8. Fiksasi yang tidak dilakukan segera setelah sediaan apus kering dapat mengakibatkan perubahan
morfologi lekosit.

 Nilai Rujukan:

Evaluasi Eritrosit

Yang perlu diperhatikan dalam mengevaluasi eritrosit adalah morfologi, perhatikan:

- Ukuran (size):

Diameter eritrosit yang normal (normositik) adalah 6 – 8 µm atau kurang lebih sama dengan inti
limposit kecil

- Bentuk (shape):

Bentuknya bikonkaf bundar dimana bagian tepi lebih merah daripada bagian sentralnya

- Warna (staining):
Bagian sentral lebih pucat disebut akromia sentral yang luasnya antara 1/3 -1/2 kali diameter
eritrosit

- Benda-benda inklusi (structure intracel):

- Distribusi : merata

Evaluasi Lekosit

Lekosit adalah sel berinti. Dalam darah tepi yang paling banyak ditemukan adalah sel
polimorfonuklear netrofil (PMN). Jenis lekosit yang normal yang ditemukan dalam darah tepi adalah
eosinofil (1% - 3%), bisafil (0-1%), netrofil batang (2%-6%), netrofil segmn atau sel PMN (50%-70%),
limfosit (20%-40%) dan monosit (2%-8%). Dalam keadaan normal diperkirakan terdapat 1 lekosit per
500 eritrosit

Evaluasi Trombosit

Diameter trombosit adalah 1-3 µm, tidak berinti, mempunyai granula dan bentuknya reguler.
Perkiraan jumlah trombosit dalam keadaan normal diperkirakan terdapat 1 trombosit per 15 – 20
eritrosit atau 5 – 15 per lapangan pandang imersie

C. Pasca Analitik

Evaluasi Eritrosit

Dengan pemeriksaan ini dapat ditemukan berdasarkan morfologi yakni

- Anemia Mikrositik Hipokrom misalnya pada penderita defisiensi Fe.

- Anemia Normositik Normokrom misalnya pada pendarahan akut.

- Anemia Mikrositik misalnya pada defisiensi Vit. B12 dan asam folat.

Bentuk eritrosit hemolisis :

- Morfologi secara umum adalah polikromatofilik, makrosit, dansel eritrosit berinti. Bentuk morfologi
khusus bervariasi tergantung etiologi kerusakan eritrosit:

 Akantosit pada abetalipoproteinemia, sirosis, uremia, Haemolytic Uremic Syndrome (HUS), anemia
hemolitik.
 Ekinosit pada abetalipoproteinemia, sirosis, uremia HUS,

 Sel Target pada Hb C atau E, penyakit hati, ikterus obstruktif, talasemia, pasca splenektomi.

 Sel tetes Air Mata pada mielofibrosis, talasemia, anemia hemolitik, mieloftisis.

 Sickle Cell pada sickle cell anemia.

 Sferosit pada hemolisis didapat maupun herediter.

 Ovalosit pada ovalositosis herediter.

 Sistosit pada talasemia, anemia hemolitik, mikroangiopati.

Distribusi abnormal eritrosit

Rouleaux formation pada multipel mieloma, makroglobulinemia Waldenstorm.

Benda-benda inkuilis dalam eritrosit

- Normoblast pada pendarahan akut, hemolisis berat mielofibrosis, asplenia, leukimia, mieloftsis.

- Basophilic Stippling anemia sindroma Mielodisplasia.

- Howell Jolly Bodies pada anemia megaloblastik, asplenia, hemolisis berat.

- Cabot’s, Ring pada hemolisis berat.

- Heinz Bodies pada talasemia, anemia hemolitik karena obat, leukemia

- Parasit : plasmodium malaria, biasanya disertai dengan tanda-tanda hemolitik.

Evaluasi Lekosit

Pada apusan ditemukan tanda infeksi seperti persentase jumlah netrofil, limfosis meningkat,
hipersegmentasi, granulasitoksis, dan vacuolisasi sitoplasma.

Evaluasi Trombosit

Trombositosis dapat ditemukan pada

Mieloproliferatif, pendarahan akut, infeksi, penyakit inflamasi, Hodgkin, trombosis vena, post
splenektomi.

Trombositopenia dapat ditemukan pada :


Radiasi eritroleukimia, anemia megaloblastik, giant hemangioma,Thrombotic Purpura (TTP),
Disseminated Intravasucular oagulation (DIC), purpura trombositopenia karena obat, pasca tranfusi,
SLE, Immunologic, Thrombocytopenia Purpura (ITP)

Trombosit besar dapat ditemukan pada: May Hegglin anomaly, Sindroma Mielodisplasia, AML.

Uji laboratorium

1. ANA positif pada lebih dari 95% pasien lupus. Pemeriksaan ini dilakukan untuk
mengetahui adanya antibody yang mampu menghancurkan inti dari sel-sel tubuh
sendiri. Selain mendeteksi adanya ANA, juga berguna untuk mengevaluasi pola dari
ANA dan antibody spesifik. Pola ANA diketahui dari pemeriksaan preparat dibawah
sinar UV. Pemeriksaan ini berguna untuk membedakan SLE dari tipe-tipe gangguan
lainnya.
2. antibody terhadap dsDNA merupakan uji spesifik untuk SLE. Gangguan reumatologik
lain dapat menyebabkan ANA positif, tetapi antibody anti DNA jarang ditemukan
kecuali pada SLE.
3. laju enap darah pada pasien SLE biasanya meningkat. Ini adalah uji nonspesifik untuk
mengukur peradangan dan tidak berkaitan dengan tingkat keparahan penyakit.
4. uji factor LE. Sel LE dibentuk dengan merusak beberapa leukosit pasien sehingga sel-
sel tersebut mengeluarkan nukleoproteinnya. Protein ini bereaksi dengan IgG, dan
kompleks ini difagositosis oleh leukosit normal yang masih ada.
5. urin diperiksa untuk mengetahui adanya protein, laukosit, dan eritrosit. Uji ini
dilakukan untuk mengetahui adanya komplikasi ginjal dan untuk memantau
perkembangan penyakit.

Sel LE

 Imuno Serologi

Deskripsi:

Sel-sel darah kecuali sel LE dihancurkan melalui proses pemanasan 37°C dalam waktu
tertentu dan penggerusan diatas saringan kawat. Dengan proses sentrifugasi pada kecepatan
dan waktu tertentu maka sel-sel darah akan dimampatkan. Sel LE yang terdapat dalam
lapisan Buffycoat dibuat preparat, dicat dengan Wright Giemsa kemudian dilihat secara
mikroskopik.
Manfaat Pemeriksaan:

Untuk menilai penyakit autoimun, khususnya Systemic Lupus Erithematosus (SLE),


mendukung diagnosa "lupoid" hepatitis (hepatitis kronis). Beberapa pasien Rheumatoid
Artritis (RA), scleroderma, dan yang resisten obat juga terkadang akan memberikan hasil
yang poitif.

Sel LE

Pada lupus eritematosus disseminata atau lupus eritematosus


sistemik (SLE), terdapat autoantibodi (faktor LE) dalam fraksi gamma globulin yang
berpengaruh terhadap lekosit yang telah rusak. Autoantibodi yang mengarah ke fenomena sel
LE mengikat histon pada inti sel. Lekosit itu berubah menjadi massa yang homogen dan bulat
yang kemudian difagosit oleh lekosit polymorfonuclear normal.

Sel LE ditemukan pertama kali pada tahun 1948 oleh hematologist klinis Amerika, Malcolm
Hargraves dan Robert Morton bersama seorang teknisi laboratorium Helen Richmond.
Mereka telah mengamati dua fenomena yang tidak biasa pada beberapa sediaan sumsum
tulang, yang mereka sebut sebagai “sel tart” dan “sel LE”.

Pengujian ini terutama digunakan untuk mendiagnosis lupus eritematosus sistemik (SLE).
Sekitar 50% sampai 75% dari pasien dengan lupus mempunyai tes positif. Namun, beberapa
pasien dengan rheumatoid arthritis, skleroderma, dan drug-induced lupus erythematosus juga
memiliki tes sel LE positif.

Prosedur

Pemeriksaan sel LE dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu : cara Magath dan Winkle
(modifikasi dari Zimmer dan Hargraves), cara Zinkham dan Conley, dan cara Mudrick.

1. Cara Magath dan Winkle (modifikasi dari Zimmer dan Hargraves)Kumpulkan darah
vena 8-10 ml dan biarkan darah itu membeku dalam tabung kering dan bersih.
Biarkan 2 jam pada suhu kamar atau 30 menit dalam pengeram dengan suhu 37oC.
Pisahkan bekuan dari serum lalu bekuan itu digerus dan disaring melalui saringan
kawat tembaga. Hasil saringan dimasukkan dalam tabung Wintrobe dan dipusingkan
dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit. Buang serum bagian atas, ambil lapisan
sel paling atas (buffycoat) dengan pipet pastur lalu teteskan di atas obyek glass dan
buat sediaan apus. Warnai sediaan dengan larutan pewarna Giemsa atau Wright dan
cari sel-sel LE di bawah mikroskop.
2. Cara Zinkham dan ConleyKumpulkan darah vena 8-10 ml, biarkan pada suhu kamar
selama 90 menit. Kocok darah tersebut dengan alat rotator selama 30 menit.
Masukkan darah tersebut ke dalam tabung Wintrobe dan pusingkan selam 10 menit
dengan kecepatan 3000 rpm. Buat sediaan apus seperti cara di atas.
3. Cara MudrickAmbil darah kapiler dan masukkan ke dalam tabung kapiler yang
dilapisi heparin seperti yang dipakai untuk mikrohematokrit. Tutuplah salah satu
ujung tabung tersebut dengan dempul dan pusingkan selama 1 menit dengan
centrifuge mikrohematokrit. Masukkan kawat baja halus ke dalam tabung kapiler dan
putar-putarlah kawat itu untuk mencampur buffycoat dengan plasma dan untuk
merusak lekosit-lekosit. Inkubasi selama 30 menit pada suhu 37oC atau biarkan
selama 2 jam pada suhu kamar. Pusingkan lagi seperti di atas. Kemudian patahkan
tabung kapiler dekat lapisan buffycoat lalu sentuhkan ujung tabung yang dipatahkan
itu ke permukaan kaca obyek dan buatlah sediaan apus. Warnai sediaan dengan
Giemsa atau Wright dan periksa di bawah mikroskop untuk mencari sel-sel LE.

Sel LE tampak sebagai massa homogen yang difagosit oleh lekosit polymorphonuclear. Sel
LE sering tampak seperti kue tart, sehingga juga disebut sel tart. Massa homogen yang
dikelilingi oleh banyak se lekosit polymorphonuclear dikenal dengan nama sel rosette; sel ini
dianggap sebagai sel LE yang belum sempurna atau sel pre-LE.

Pembentukan sel LE berlaku in vitro saja karena memerlukan adanya sel-sel lekosit yang
rusak. Teknik membuat sediaan sangat berpengaruh terhadap hasil laboratorium.

Adanya sel LE merupakan bukti adanya autoantibodi atau faktor LE. Tidak menemukan sel
LE bukan berarti tidak adanya penyakit SLE pada pasien yang bersangkutan. Tes sel LE kini
jarang dilakukan karena tes yang lebih baik sekarang ada untuk membantu mendiagnosis
lupus.

Nilai Rujukan

Hasil normal : Negatif


Perubahan imunologik pada infeksi dengue terdiri atas perubahan imunologik
humoral dan selular. Perubahan humoral dapat dibuktikan dengan terbentuknya antibodi IgG
dan IgM yang dapat dideteksi dengan pemeriksaan serologis. Beberapa peneliti menilai
perubahan respons imun selular dengan ditemukan limfosit atipik yang khas untuk infeksi
dengue, yaitu limfosit plasma biru (LPB) yang bermanfaat sebagai alat bantu diagnosis dini
dengan sensitivitas dan spesifisitas yang cukup tinggi.
Infeksi virus dengue menyebabkan aktivasi sistem imun. Gangguan respons imun
seperti inversi rasio CD4/CD8 tidak hanya mengganggu kemampuan sistem imun untuk
membersihkan virus, tetapi juga menyebabkan produksi sitokin berlebih yang akan
mempengaruhi limfosit T untuk berdiferensiasi menjadi limfosit atipik khususnya LPB.
Pemeriksaan LPB merupakan pemeriksaan yang sederhana, murah, dan dapat
dilakukan di Puskesmas. Pemeriksaan tersebut dapat membantu menegakkan diagnosis
terutama di daerah dengan fasilitas laboratorium yang sederhana. Cara pengecatan sediaan
darah tepi berdasar WHO-DANIDA (1985) adalah dengan Giemsa. Jumlah LPB dihitung per
100 leukosit. Limfosit plasma biru adalah limfosit dengan sitoplasma biru tua dan berukuran
lebih besar. Sitoplasma lebar dengan vakuolisasi halus sampai sangat nyata, dan dijumpai
daerah perinuklear yang jernih. Inti terletak pada salah satu tepi sel, berbentuk bulat oval atau
berbentuk ginjal. Kromatin inti kasar dan kadangkadang di dalam inti terdapat nukleoli. Pada
sitoplasma tidak ada granula azurofilik. Daerah yang berdekatan dengan eritrosit tidak
melekuk dan tidak bertambah biru.
Jika nilai limfosit plasma biru seseorang mencapai ≥ 4%, maka dapat dipastikan
bahwa orang tersebut terinfeksi virus dengue. Jumlah rata-rata LPB pada pasien demam
dengue (DD) dan demam berdarah dengue (DBD) mengalami puncak pada hari keenam sakit.
Pasien sindrom syok dengue (SSD) mempunyai jumlah LPB tertinggi pada saat syok. Jumlah
LPB untuk setiap tipe klinis memiliki perbedaan yang bermakna dan jumlah LPB semakin
tinggi sesuai dengan beratnya spektrum klinis. Semakin berat respons imun yang terjadi maka
semakin berat pula spektrum klinis yang dialami. Secara teoritis respons imunologi terhadap
limfosit terjadi lebih besar pada DBD dibanding dengan DD. Hal lain yang dapat
menjelaskan mengapa jumlah LPB pada SSD jauh lebih tinggi daripada DBD karena pada
SSD monosit yang terinfeksi virus lebih banyak yang mengakibatkan sel limfosit
berdiferensiasi berubah menjadi limfosit atipik yang khas (LPB) menjadi lebih banyak.
Jumlah LPB pasien DD pada saat kedatangan dapat menjadi prediktor tingkat
keparahan penyakit karena pada pasien yang akhirnya mengalami DBD secara signifikan
memiliki jumlah LPB saat kedatangan lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang tetap
mengalami DD. Apabila pasien DD saat kedatangan mempunyai jumlah LPB 6 per 100
leukosit maka pasien tersebut memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami
perubahan menjadi DBD dibanding pasien DD yang memiliki LPB lebih rendah.
Bagi para klinisi pemeriksaan LPB pada anak yang mengalami infeksi dengue
sebaiknya dilakukan pada semua spektrum klinis, yaitu pada saat pasien datang dan
dilakukan secara periodik pada hari ke-5, ke-6, dan ke-7 sakit sehingga dapat dicegah
terjadinya gejala klinis yang fatal, khususnya syok. Bila ditemukan jumlah LPB pasien DD
pada saat kedatangan 6 per 100 leukosit, hendaknya dilakukan pemantauan yang lebih ketat
dan tindakan lebih agresif karena risiko untuk mengalami perubahan menjadi DBD lebih
tinggi.