Anda di halaman 1dari 4

Bakteri Acetobacterium xylinum

1. Cara Isolasi Bakteri


isolasi adalah suatu metode untuk memisahkan mikroorganisme dalam medium menjadi
sel yang individu yang disiapkan untuk mendapatkan spesies tunggal. (Atlas, 1984). Pada
prinsipnya percobaan isolasi dimulai dengan membuat suspensi bahan sebagai sumber
mikrobia. Lalu suspensi tersebut dituangkan atau digoreskan (dengan menggunakan jarum
ose steril) pada media yang sebelumnya telah disediakan terlebih dahulu.
(Hadioetomo,1993).
isolasi Acetobacterium xylinum dari media cair fermentasi nata de coco, menggunakan cara
tuang dan cara gores pada lempeng agar media selektif. Bakteri Acetobacterium xylinum
dapat diisolasi dari media cair fermentasi nata dengan menggunkan metode screening
(penapisan). Metode screening terbagi menjadi beberapa tahap, tapi umunya terbagi dalam
dua tahap yaitu tahap primer atau penduga dan tahap sekunder atau penguat. Pada tahap
primer screening dapat dilakukan dengan cara tuang (pour plate) atau cara gores (streak
plate) pada lempeng agar. Media yang digunakan untuk mengisolasi Acetobacter dapat
bersifat selektif (Glucose Yeast Extract Agar, media Hestrin & Schram, dll). Pada tahap
sekunder dilakukan pengamatan melalui mikroskop, dengan melakukan pewarnaan gram
untuk memastikan kemurnian dari isolat tersebut. Cara membuat media selektif untuk
Acetobacterium xylinum yaitu dengan memanaskan 1 L air kelapa hingga mendidih.
Kemudian ditambahkan 15 gram bataco agar, 1,5 gram ammonium sulfat, 1,5 gram asam
sitrat, yang di campur hingga pH-nya 4.

2. Media Pertumbuhan Bakteri

Bakteri Acetobacter xylinum mengalami beberapa fase pertumbuhan sel yaitu fase adaptasi,
fase pertumbuhan awal, fase pertumbuhan eksponensial, fase pertumbuhan lambat, fase
pertumbuhan tetap, dan fase kematian.

Fase pertumbuhan adaptasi dicapai pada 0-24 jam sejak inokulasi. Fase pertumbuhan awal
dimulai dengan pembelahan sel dengan kecepatan rendah. Fase ini berlangsung beberapa
jam saja. Fase eksponensial dicapai antara 1-5 hari. Pada fase ini bakteri mengeluarkan
enzim ektraselulerpolimerase sebanyak-banyaknya untuk menyusun polimer glukosa
menjadi selulosa (matrik nata). Fase ini sangat menentukan kecepatan suatu strain
Acetobacter xylinum dalam membentuk nata.

Bakteri Acetobacter xylinum akan dapat membentuk nata jika ditumbuhkan dalam
air kelapa yang sudah diperkaya dengan Karbon © dan Nitrogen (N), melalui proses yang
terkontrol. Dalam kondisi demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim
akstraseluler yang dapat menyusun zat gula menjadi ribuan rantai serat atau selulosa. Dari
jutaan renik yang tumbuh pada air kelapa tersbeut, akan dihasilkan jutaan lembar benang-
benang selulosa yang akhirnya nampak padat berwarna putih hingga transparan, yang
disebut sebagai nata.

Proses pembuatan Nata De Coco :

 Untuk pembuatan nata, air kelapa yang digunakan tidak boleh sembarangan dan harus
memenuhi ketetapan standar kualitas pembuatan. Gunakan air kelapa yang telah
matang namun tidak terlalu tua atau muda.
 Sebelum dimasukkan bakteri Acetobacter Xylinum, maka penambahan asam cuka,
nitrogen dan karbohidrat, diperlukan untuk membuat Acetobacter Xylinum dapat
bertahan hidup.
 Asam cuka yang ditamahkan pada air kelapa berperan dalam meningkatkan atau
mungkin mengurangi tingkat derajat keasaman. Asam cuka yang baik digunakan
adalah asam asetat dengan tingkat keasaman 99, 8 %.
 Pembuatan nata de coco tidak hanya menggunakan air kelapa saja melainkan dapat
pula dengan skim santan.
 Terdapatnya kandungan karbohidrat membuat bakteri Acetobacter Xylinum dapat
membentuk selulosa pada bahan baku yang satu.
 Selain itu, Acetobacter Xylinum juga dapat menghasilkan selulosa pada bekatul
karena terdapat banyak kandungan karbohidrat di dalamnya. Selulosa yang
dihasilkan melaui bekatul dapat pula dimanfaatkan dalam pembuatan kertas.
3. Sterilisasi

Sterilisasi adalah proses pemanasan yang dilakukan untuk mematikan semua


bentuk organisme (Purnawijayanti, 2001). Suatu benda yang steril, dipandang dari sudut
mikrobiologi, artinya bebas dari mikroorganisme hidup yang tidak diinginkan. Peranan
sterilisasi pada bidang mikrobiologi diantaranya adalah untuk mencegah pencemaran
organisme luar, untuk mempertahankan keadaan aseptis, sedangkan pada pembuatan
makanan dan obat-obatan, sterilisasi berfungsi untuk menjamin keamanan terhadap
pencemaran oleh mikroorganisme (Gupte, 1990).
Adapun alat yang digunakan dalam sterilisasi salah satunya adalah autoklaf.
Autoklaf adalah alat pemanas tertutup yang digunakan untuk mensterilisasi suatu benda
menggunakan uap bersuhu dan bertekanan tinggi (1210C, 15 lbs). Jadi tekanan yang
bekerja ke seluruh permukaan benda adalah 15 pon tiap inchi2 (15 Psi = 15 pounds per
square inch). selama kurang lebih 15 menit Penurunan tekanan pada autoklaf tidak
dimaksudkan untuk membunuh mikroorganisme, melainkan meningkatkan suhu dalam
autoklaf. Suhu yang tinggi inilah yang akan membunuh microorganisme. Autoklaf
terutama ditujukan untuk membunuh endospora, yaitu sel resisten yang diproduksi oleh
bakteri, sel ini tahan terhadap pemanasan, kekeringan, dan antibiotik. Pada spesies yang
sama, endospora dapat bertahan pada kondisi lingkungan yang dapat membunuh sel
vegetatif bakteri tersebut. Endospora dapat dibunuh pada suhu 100 °C, yang merupakan
titik didih air pada tekanan atmosfer normal. Pada suhu 121 °C, endospora dapat dibunuh
dalam waktu 4-5 menit, dimana sel vegetatif bakteri dapat dibunuh hanya dalam waktu 6-
30 detik pada suhu 65 °C.
Perhitungan waktu sterilisasi autoklaf dimulai ketika suhu di dalam autoklaf
mencapai 121 °C. Jika objek yang disterilisasi cukup tebal atau banyak, transfer panas pada
bagian dalam autoklaf akan melambat, sehingga terjadi perpanjangan waktu pemanasan
total untuk memastikan bahwa semua objek bersuhu 121 °C untuk waktu 10-15 menit.
Medium yang akan disterilkan ditempatkan di dalam autoclave selama 15-20 menit, hal ini
bergantung pada banyak sedikitnya barang yang perlu disterilkan. Medium yang akan
disterilkan ditempatkan dalam beberapa botol yang agak kecil daripada dikumpul dalam
satu botol yang besar. Setelah pintu autoclave ditutup rapat, barulah kran pada pipa uap
dibuka dan temperatur akan terus-menerus naik sampai 121oC (Dwidjoseputro, 1990).
Perpanjangan waktu juga dibutuhkan ketika cairan dalam volume besar akan diautoklaf
karena volume yang besar membutuhkan waktu yang lebih lama untuk mencapai suhu
sterilisasi. Performa autoklaf diuji dengan indicator biologi, contohnya Bacillus
stearothermophilus. Lamanya sterilisasi tergantung dari volume dan jenis. Alat-alat dan air
disterilkan selama 1 jam, tetapi media antara 20-40 menit tergantung dari volume bahan
yang disterilkan. Sterilisasi media yang terlalu lama menyebabkan :
 Penguraian gula
 Degradasi vitamin dan asam-asam amino
 Inaktifasi sitokinin zeatin riboside
 Perubahan pH yang berakibatkan depolimerisasi agar