Anda di halaman 1dari 19

PSIKOVIDYA Vol 22, No.

1, April 2018

STIGMA INTERNAL HUBUNGANNYA DENGAN INTERAKSI SOSIAL


ORANG DENGAN HIV/AIDS DI YAYASAN TARATAK JIWA HATI PADANG
Isna Asyri Syahrina, Andre Yuda Pranata
Fakultas Psikologi Universitas Putra Indonesia “YPTK” Padang
Email : isnasyeko@gmail.com, andreyuda.pranata@yahoo.com

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stigma internal
dan interaksi sosial Orang Dengan HIV/AIDS Di Yayasan taratak Jiwa hati Padang.
Variabel Dependen pada penelitian ini adalah Stigma Internal dan Variabel independen
adalah interaksi sosial. Penelitian ini merupakan penelitian populasi dengan jumlah
sampel 40 orang dengan HIV/AIDS yang berada dalam pendampingan Yayasan Taratak
Jiwa Hati Padang. Alat ukur yang digunakan adalah skala stigma internal dan skala
interaksi sosial,. Uji validitas dan reliabilitas menggunakan teknik Alpha Cronbach.
Hasil koefisien validitas pada skala stigma internal berkisar dari 0,322 sampai dengan
0,772, dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,921. Hasil koefisien validitas pada skala
interaksi sosial berkisar dari 0,355 sampai dengan 0,867, koefisien reliabilitas sebesar
0,957. Uji hipotesis menggunakan teknik korelasi Product Moment Pearson. Hasil
analisis data menunjukkan besarnya koefisien korelasi rxy= -0,561 dengan taraf
signifikan p=0,000 (p<0,01), artinya ada hubungan yang berarah negatif antara stigma
internal dengan interaksi sosial Orang Dengan HIV/AIDS yang berada dalam
pendampingan Yayasan Taratak Jiwa Hati Padang. Sumbangan efektif stigma internal
terhadap interaksi sosial adalah 31% sisanya 69% lagi dipengaruhi oleh faktor lain.
Kata Kunci : Stigma Internal, Interaksi Sosial, Orang Dengan HIV/AIDS
Abstract: This study aims to find out the correlation between internal stigma and social
interaction of People With HIV / AIDS In Yayasan Taratak Jiwa Hati Padang.
Dependent variable in this research is Internal Stigma and independent variable is
social interaction. This study is a population study with a sample of 40 people with HIV
/ AIDS who are in the assistance of the Yayasan Taratak Jiwa Hati Padang. The
measuring tool used is the scale of internal stigma and social interaction scale. Test the
validity and reliability using Cronbach Alpha technique. The results of the validity
coefficient on the internal stigma scale ranged from 0.322 to 0.772, with a reliability
coefficient of 0.921. The results of the validity coefficient on the social interaction scale
ranged from 0.355 to 0.867, the reliability coefficient of 0.957. Hypothesis test using
Product Moment Pearson correlation technique. The result of data analysis shows that
the correlation coefficient rxy = -0,561 with significant level p = 0,000 (p <0,01),
meaning there is negative correlation relationship between internal stigma and social
interaction People with HIV / AIDS who are in accompaniment of Yayasan Taratak
Jiwa Hati Padang. The effective contribution of internal stigma to social interaction is
31% of the remaining 69% again influenced by other factors.
Keywords: Internal Stigma, Social Interaction, People With HIV / AIDS

Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

1
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

1. PENDAHULUAN Barat mencapai angka 802 kasus dan


Kasus HIV dan AIDS di Indonesia lima besar di Sumatera (www.bps.go.id,
meningkat dari tahun ke tahun. Padang 09/09/2016). Menurut Komisi
Berdasarkan laporan kemenkes RI Penanggulangan AIDS Kota Padang
(2012) dalam triwulan oktober sampai (2015) penderita HIV positif di Kota
dengan desember 2012 pertambahan Padang sebanyak 227 orang, dan
kasus HIV 6.139 kasus, sedangkan penderita AIDS sebanyak 81 orang.
AIDS 2.145 kasus. Jumlah kasus HIV Penderita HIV positif terbanyak berada
dan AIDS tahun 2012 adalah HIV di rentang umur antara 25-49 tahun, dan
dengan 21.511 kasus dan AIDS 5.686 penyumbang angka terbesar berasal dari
kasus. Berdasarkan data yang didapat kelompok LSL (Lelaki Suka Sesama
dari Badan Pusat Statistik, pada tahun Lelaki), dapat dilihat pada bagan 1
2012 kasus HIV dan AIDS di Sumatera berikut ini:

Bagan 1. Kasus HIV Positif Berdasarkan Kelompok Resiko Tahun 2015

Berdasarkan golongan umur, dengan jumlah laki-laki sebanyak 41


pengidap AIDS di kota Padang sampai orang, sedangkan perempuan sebanyak
tahun 2015 terbanyak berada di rentang 16 orang yang dapat dilihat pada bagan
usia antara 25 tahun sampai 49 tahun 2 berikut ini:

Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

2
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

Bagan 2. Kasus Aids Berdasarkan Golongan Umur Di Kota Padang Tahun 2015

Dari profil kesehatan Provinsi menjadi faktor salah satu pendukung


Sumatera Barat (2014) Dinas Kesehatan tingginya kasus HIVdan AIDS di kedua
Provinsi menyimpulkan, jika dilihat dari kota besar di Sumatera Barat tersebut.
case rate (jumlah kasus per 100.000 HIV adalah singkatan dari
penduduk), maka case rate yang “human immunodeficiency virus” yaitu
tertinggi adalah di Kota Bukittinggi sejenis retrovirus (virus yang dapat
(150.57/100.000 penduduk), diikuti Kota menggandakan dirinya sendiri pada sel-
Padang, Kota Solok, Kota Payakumbuh sel yang ditumpanginya) yang merusak
dan Kota Pariaman. Pada tahun 2014, sistem kekebalan tubuh manusia atau
jika dikelompokkan per Kabupaten Kota, sel-sel darah putih (sel darah putih juga
penyumbang kasus AIDS terbanyak disebut lifosit). Sel darah putih inilah
dilaporkan masih dari Kota Padang (116 biasanya yang menjadi bala tentara
kasus) dan Kabupaten Agam (16 kasus), untuk menyerang kuman, basil, bakteri,
diikuti Kota Bukittinggi (23 kasus), Kota virus atau penyakit yang masuk ke
Payakumbuh (20 kasus), Kabupaten dalam tubuh manusia (Suriana dan
Pesisir Selatan (11 kasus), dan Dewi, 2013). Tingkat HIV dalam tubuh
Kabupaten Agam (10 kasus). Selain dan timbulnya berbagai infeksi tertentu
jumlah penduduk yang lebih banyak merupakan tolak ukur bahwa infeksi
dibandingkan Kabupaten/Kota lainnya, HIV telah berkembang menjadi AIDS
status Kota Padang sebagai sentra (Listiana, 2013).
ekonomi, pendidikan dan pariwisata
Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

3
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

AIDS adalah singkatan dari Melihat semakin meningkatnya


acquired immuno deficiency syndrome, angka penderita HIV dan AIDS di
yang secara harfiah berarti kumpulan Indonesia dan banyaknya masalah-
gejala menurunnya kekebalan tubuh masalah yang dihadapi oleh ODHA,
yang diperoleh. Seperti kita ketahui, banyak orang yang bersimpati dan
tubuh manusia mempunyai sistem mendukung penderita HIV dan AIDS,
kekebalan untuk melindungi diri dari terbukti dengan banyaknya yayasan yang
serangan luar (kuman, virus, penyakit). didirikan oleh orang-orang yang tidak
AIDS melemahkan atau merusak sistem terinfeksi HIV dan AIDS, salah satunya
pertahanan tubuh ini, sehingga akhirnya Yayasan Taratak Jiwa Hati Padang.
berdatanganlah berbagai jenis penyakit Yayasan Taratak Jiwa Hati Padang
lain (Suriana dan Dewi, 2013). merupakan yayasan yang bergerak
AIDS menurut Listiana (2013) dalam pemberdayaan sosial terutama
diidentifikasikan berdasarkan beberapa penyandang masalah kesejahteraan
infeksi tertentu yang dikelompokkan sosial (PMKS) khususnya di Sumatera
oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) Barat. Yayasan Taratak Jiwa Hati
dalam 4 tahap yaitu : Tahap I, penyakit Padang sampai Juli 2016 sudah
HIV tidak menunjukkan gejala apapun mendampingi 366 ODHA se-Sumatera
dan tidak dikategorikan sebagai AIDS. Barat.
Tahap II, meliputi manifestasi Menurut Permenkes RI no. 21
mucocutaneous minor dan infeksi- (2013) tentang penanggulangan HIV dan
infeksi saluran pernafasan bagian atas AIDS pasal 1 ayat 4, Orang dengan HIV
yang tidak sembuh-sembuh. Tahap III, dan AIDS atau yang selanjutnya disebut
meliputi diare kronis yang tidak jelas dengan ODHA adalah orang yang telah
penyebabnya yang berlangsung lebih terinfeksi virus HIV. Pusat data dan
dari satu bulan, infeksi bakteri parah dan informasi Depkes RI (2006) penyakit ini
TBC paru-paru. Tahap IV, meliputi telah menjadi pandemi yang
Toksoplasmosis pada otak, kandidiasis mengkhawatirkan masyarakat dunia,
pada saluran paru-paru dan Sarkoma karena di samping belum ditemukan obat
Kaposis. Tahap-tahap tersebut dan vaksin untuk pencegahan, penyakit
merupakan indikator dari AIDS. ini juga memiliki “window periode” dan
Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

4
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

fase asimtomatik (tanpa gejala) yang negatif atau identitas yang diberikan
relatif panjang dalam perjalanan kepada seseorang dalam konteks atau
penyakitnya. Beberapa kelompok rawan budaya tertentu. Stigma menurut Rankin
terinfeksi HIV dan AIDS diantaranya (dalam mbonu dkk, 2009) dapat
adalah penyalahgunaan NAPZA, wanita dikategorikan menjadi eksternal atau
penjaja sex (WPS), waria atau pelaku internal. Menurut Greeff (dalam Shittu et
homoseksual, dan narapidana. al, 2014) stigma internal adalah
Selama ini penyakit HIV dan AIDS mekanisme pertahanan yang kuat untuk
dikaitkan dengan penyakit kutukan, melindungi diri dari stigma eksternal
sehingga ketika seseorang terinfeksi yang mengakibatkan perilaku penolakan
penyakit tersebut tidak jarang atau keengganan untuk mengungkapkan
masyarakat mengecap bahwa tindakan status HIV/AIDS dan keengganan untuk
yang dilakukan adalah buruk dan kadang menerima bantuan.
tidak beragama. Selain itu masyarakat Brown dkk (dalam Hasan dkk,
yang menjauh pada ODHA dengan 2012) mendefinisikan stigma internal
alasan ketakutan akan penularan sebagai rasa takut baik sungguhan
penyakit tersebut. Itulah sebabnya maupun yang diimajinasikan terhadap
mengapa ODHA cenderung menutup sikap sosial dan potensi tindak
diri atas penyakit yang diidapnya dari diskriminasi yang akan muncul sebagai
masyarakat maupun keluarganya sendiri dampak dari atribut atas penyakit yang
(Hermawati, dalam Suriana dan Dewi, tidak diinginkan (misalnya HIV) atau
2013). akibat dari asosiasi pada kelompok atau
Pengidap HIV dan AIDS sebagian perilaku tertentu. Menurut Link (dalam
besar adalah orang-orang yang Gohain dan Halliday, 2014) stigma
perilakunya secara moril bertentangan internal adalah keyakinan dan perasaan
dengan norma agama dan masyarakat, negatif ODHA yang berhubungan
sehingga menyebabkan munculnya dengan HIV dan AIDS tentang diri
stigma dimasyarakat terhadap mereka sendiri.
keberadaan ODHA (Hermawati, 2011). Sebagai makhluk sosial manusia
Goffman (dalam Levin, 2008) selalu mengadakan interaksi dengan
mendefinisikan stigma sebagai atribut manusia lainnya untuk melakukan
Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

5
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

aktivitas-aktivitas dalam kehidupannya. Interaksi Sosial


Interaksi sosial menurut Soekanto (2010) Menurut Walgito (dalam Fatnar,
merupakan hubungan-hubungan sosial 2014), interaksi sosial adalah hubungan
yang dinamis yang menyangkut antara individu satu dengan yang lain,
hubungan antara orang-perorangan individu satu dapat mempengaruhi
dengan kelompok manusia. Interaksi individu lain atau sebaliknya, jadi
sosial pada penderita HIV dan AIDS terdapat adanya hubungan yang saling
atau ODHA sangat penting, karena timbal balik. Interaksi sosial merupakan
dengan berinteraksi akan membangun salah satu cara individu untuk
kepercayaan diri dan optimisme dalam memelihara tingkah laku sosial individu
menghadapi hidup di masa yang akan tersebut sehingga individu tetap dapat
datang serta meningkatkan kualitas bertingkah laku sosial dengan individu
hidup mereka (Hermawati, 2011). lain. Selanjutnya menurut Santoso
Dari wawancara ditemukan bahwa (2010), interaksi sosial dapat pula
ODHA yang didampingi menghindari meningkatkan jumlah atau kuantitas
kontak dengan lingkungannya, tidak mau mutu atau kualitas dari tingkah laku
berkomunikasi dengan orang lain serta sosial individu sehingga individu makin
masih berkembang stigma yang kuat matang dalam bertingkah laku sosial
baik dari masyarakat, petugas kesehatan, dengan individu lain di dalam situasi
keluarga, bahkan dari ODHA itu sosial.
sendiri,. Stigma yang berkembang Menurut H. Bonner (dalam
mengenai HIV dan AIDS merupakan Hermawati, 2011) interaksi sosial adalah
penyakit yang sangat hina, memalukan suatu hubungan antara dua individu atau
dan sangat tabu untuk diketahui oleh lebih, dimana kelakuan individu yang
orang lain, sehingga mereka merasa satu mempengaruhi, mengubah atau
tidak layak berada ditengah-tengah memperbaiki kelakuan individu yang
masyarakat, dan mereka memilih lain atau sebaliknya. Sedangkan menurut
menutup diri dengan membatasi kontak Narwoko (2013) yang dimaksud dengan
di lingkungan sosialnya. interaksi sosial adalah proses dimana
antara individu dengan individu,
individu dengan kelompok, atau
Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

6
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

kelompok dangan kelompok komunikasi adalah bahwa seseorang


berhubungan satu dengan yang lain. memberikan tafsiran pada perilaku orang
Menurut Soekanto (2013) suatu lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-
interaksi tidak akan mungkin terjadi gerak badaniah dan sikap), perasaan-
apabila tidak memenuhi dua syarat perasaan apa yang ingin disampaikan
utama, yaitu adanya kontak sosial oleh orang tersebut. Orang yang
(Social Contact) dan komunikasi. bersangkutan kemudian memberikan
Kontak sosial adalah suatu hubungan reaksi terhadap perasaan yang ingin
antara satu pihak dengan pihak lain, disampaikan oleh orang lain.
yang memberikan informasi kepada Komunikasi tidak dapat dipisahkan dari
masing-masing pihak tentang kehadiran kontak sosial dalam mewujudkan suatu
pihak lain, sehingga masing-masing interaksi sosial apabila hanya terjadi
pihak tersebut dapat mengetahui dan kontak tanpa adanya komunikasi, maka
sadar akan kedudukan masing-masing interaksi sosial pun tidak akan terjadi.
dan siap untuk mengadakan interaksi Dengan demikian apabila dihubungkan
sosial, maka kontak merupakan tahap dengan interaksi sosial kontak tanpa
pertama dari terjadinya “kontak” atau komunikasi tidak mempunyai arti apa-
hubungan antara suatu pihak dengan apa.
pihak yang lain. Suatu kontak dapat Berlangsungnya suatu proses
bersifat primer dan sekunder. Kontak interaksi sosial menurut Soekanto (2013)
primer terjadi apabila yang mengadakan didasarkan pada pelbagai faktor, yaitu :
hubungan langsung bertemu dan a. Faktor imitasi, dapat mendorong
berhadapan muka, sedangkan kontak seseorang untuk mematuhi kaidah-
yang sekunder memerlukan suatu kaidah dan nilai-nilai yang berlaku,
perantara, seperti telepon, telegram, faktor imitasi juga bisa berdampak
radio dan sebagainya. Komunikasi, negatif yaitu ketika yang ditiru
adalah tindakan seseorang merupakan tindakan-tindakan yang
menyampaikan pesan kepada orang lain menyimpang.
dan orang lain itu memberikan tafsiran b. Faktor sugesti, berlangsung apabila
atas pesan tersebut dan mewujudkan seseorang memberi suatu pandangan
dalam perilaku. Arti penting dari atau suatu sikap yang berasal dari
Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

7
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

dirinya yang kemudian diterima menempel pada pribadi seseorang karena


oleh pihak lain. pengaruh lingkungannya. Menurut Jones
c. Faktor identifikasi, merupakan dkk (dalam Hermawati, 2011) proses
kecendrungan-kecendrungan atau stigmatisasi terkait dengan kondisi
keinginan-keinginan dalam diri pelabelan karena kurang dipercaya atau
seseorang untuk menjadi sama menyimpang pada seseorang yang
dengan pihak lain. Identifikasi dianggap aneh oleh orang lain. Istilah
sifatnya lebih mendalam dari pada stigma menurut Butt et al (2010)
imitasi, karena kepribadian didefinisikan sebagai perbedaan-
seseorang dapat terbentuk atas dasar perbedaan yang nilainya berkurang yang
proses ini. Identifikasi berlangsung dari sisi pandang sosial mendiskreditkan
dengan sendirinya (secara tidak orang tertentu, dan dikaitkan dengan
sadar), maupun dengan disengaja berbagai stereotype negative.
karena seringkali seseorang Menurut Goffman (dalam Levin,
memerlukan tipe-tipe ideal tertentu 2008) stigma sebagai atribut negatif atau
didalam proses kehidupannya. identitas yang diberikan kepada
d. Faktor simpati, merupakan suatu seseorang dalam konteks atau budaya
proses dimana seseorang merasa tertentu. Crocker (dalam Hermawati,
tertarik pada pihak lain. Didalam 2011) mendefinisikan stigma yaitu
proses ini perasaan memegang menempatkan beberapa sifat atau ciri
peranan yang sangat penting, khas, yang menyampaikan identitas
walaupun dorongan utama pada sosial yang bertujuan merendahkan diri
simpati adalah keinginan untuk seseorang dalam konteks sosial tertentu.
memahami pihak lain dan untuk Stigma menurut Rankin (dalam
bekerja sama dengannya. Mbonu dkk, 2009) dapat dikategorikan
menjadi eksternal atau internal. Stigma
Stigma eksternal mengacu pada pengalaman
Stigma adalah satu cacat atau cela aktual diskriminasi. Sedangkan stigma
pada karakter seseorang (Chaplin, 2006). internal adalah rasa malu terkait HIV
Menurut Green (dalam Hermawati, dan AIDS dan ketakutan ODHA dari
2011) stigma adalah ciri negatif yang diskriminasi. Stigma internal merupa-
Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

8
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

kan mekanisme pertahanan diri yang sebagai rasa takut baik sungguhan
ditujukan untuk melindungi diri dari maupun yang diimajinasikan terhadap
stigma yang melekat pada HIV dan sikap sosial dan potensi tindak
AIDS dan sering mengakibatkan pikiran diskriminasi yang akan muncul sebagai
atau perilaku seperti penolakan atau dampak dari atribut atas penyakit yang
keengganan untuk mengungkapkan tidak diinginan (misalnya HIV) atau
status HIV positif, penolakan HIV dan akibat dari asosiasi pada kelompok atau
AIDS dan keengganan untuk menerima perilaku tertentu. Menurut Link (dalam
bantuan, serta keengganan untuk Gohain dan Halliday, 2014) stigma
menghadapi hal yang berkaitan dengan internal adalah keyakinan dan perasaan
seksualitas. negatif ODHA yang berhubungan
dengan HIV dan AIDS tentang diri
Stigma Internal mereka sendiri. Jacobi (dalam Gohain
Brouard dan Wills (2006) dan Halliday, 2014) mengatakan stigma
mengatakan stigma internal adalah rasa internal HIV sangat umum ditemukan di
malu pribadi yang berhubungan dengan kalangan ODHA di Kamerun,
HIV/AIDS dan takut akan diskriminasi Bangladesh, dan Amerika Serikat.
karena penyakit tersebut. Menurut Menurut Greeff ( dalam
Liamputtong (2013) stigma internal Liamputtong, 2013) dimensi stigma
adalah dukungan keyakinan dan internal yaitu:
perasaan negatif terkait stigma dari a. Negative Perception of the self :
orang-orang. Greeff (dalam Shittu et al, ODHA memiliki perasaan negatif
2014) mendefenisikan stigma internal bahwa mereka telah mengecewakan
adalah mekanisme pertahanan yang kuat orang lain dan mempermalukan
untuk melindungi diri dari stigma keluarga dan komunitas mereka.
eksternal yang mengakibatkan perilaku Mereka merasa bersalah,
penolakan atau keengganan untuk menyalahkan diri sendiri, dan
mengungkapkan status HIV/AIDS dan menderita karena berstatus HIV-
keengganan untuk menerima bantuan. positif. Mereka merasa diri mereka
Brown dkk (dalam Hasan dkk, ternoda dan takut menulari orang
2012) mendefinisikan stigma internal lain.
Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

9
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

b. Social Withdrawal: Merupakan 2) Homophobia


isolasi yang dibebankan pada dirinya Fenomena homoseksual baik gay
sendiri oleh ODHA, menyebabkan maupun lesbian diintegrasikan
mereka untuk menarik diri dari dengan sikap yang negatif dan
hubungan interpersonal dan bermasalah dengan orientasi
mengindari beragam setting sosial. seksual mereka.
c. Self-Exclusion : ODHA memilih 3) Membina perasaan tidak bersalah
untuk menarik diri dari berbagai dan rasa bersalah
pelayanan dan kesempatan yang ada Bagaimana seseorang
meliputi jasa yang diberikan klinik memperoleh HIV (seks bebas,
kesehatan, support group, dan transfusi darah, pemakaian
program bantuan materil karena narkoba suntik, kecelakaan
status HIV-positif yang dimiliki. medis, keturunan, dll) mungkin
d. Fear of disclosure : ODHA merasa memiliki dampak pada bentuk
sulit untuk mengungkapkan status stigma internal mereka.
mereka karena merasa takut 4) Ras dan kasta
terhadap penilaian dan penolakan Kelompok seseorang di
dari masyarakat sekitar. masyarakat juga dapat
Menurut Bouard dan Wills (2006) mempengaruhi stigma internal
terdapat beberapa faktor yang mereka.
mempengaruhi stigma internal pada b. Faktor konteks
ODHA yaitu : 1) Lingkungan yang mendukung
a. Faktor sosial Salah satu faktor penting adalah
1) Gender lingkungan dimana ODHA
Stigma HIV sangat dekat berdomisili, keluarga, teman, dan
hubungannya dengan prasangka kelompok yang mendukung.
budaya, apabila wanita terinfeksi 2) Kekuatan hubungan
HIV atau telah berkembang Kekuatan hubungan ODHA
menjadi AIDS maka mereka dipengaruhi oleh teman, atau
akan mendapat perlakuan yang keluarga akan mempengaruhi
berbeda dari masyarakat. stigma internalnya.
Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

10
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

3) Kondisi hidup Stigma internal dipengaruhi


Situasi kehidupan dimana ODHA ketehanan seseorang mengatasi
miskin atau bergantung akan masalahnya, ketahanan dapat
menurunkan kontrol diri dan dikatakan seperti kepribadian,
meningkatkan dtigma internal dan kualitas instrinsik seseorang.
pada mereka.
2. METODE
c. Faktor diri sendiri
Populasi pada penelitian ini adalah
1) Status kesehatan
semua ODHA yang berada di bawah
Stigma internal mungkan akan
pendampingan Yayasan Teratak Jiwa
lebih mudah dihilangkan apabila
Hati Padang yang berjumlah 40 Orang.
dalam kondisi baik.
Penelitian ini merupakan penelitian
2) Penerimaan diri
populasi, dimana menurut Arikunto
Penerimaan Status ODH|A sangat
(2010) bahwa apabila subjek kurang dari
penting untuk menghilangkan
100 lebih baik diambil semua sehingga
stigma internal, namun masih
penelitiannya merupakan penelitian
banyak ODHA yang menyangkal
populasi.
status mereka.
Alat ukur yang digunakan berupa
3) Spiritualitas
skala model likert yang mengukur
ODHA yang memiliki
stigma internal dan interaksi sosial.
spiritualitas baik terbukti lebih
Menurut Azwar (2012), skala adalah
baik dalam mengatasi masalah
daftar pernyataan yang akan
dan lebih bahagia.
mengungkap performansi yang menjadi
4) Tingkat pendidikan
karakter tipikal pada subjek yang diteliti,
Harga diri dan efikasi diri
yang akan dimunculkan dalam bentuk
dikaitkan dengan tingkat
respon-respon terhadap situasi yang
pendidikan seaseorang, lebih
dihadapi. Skala dalam penelitian ini
tinggi pendidikan seseorang
memiliki format respon dengan empat
maka lebih baik harga diri dan
alternatif jawaban, kemudian dianalisis
efikasi diri orang tersebut.
dengan menggunakan teknik korelasi
5) Ketahanan / resiliasi
Product Moment Pearson, yang

Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

11
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

merupakan salah satu teknik untuk dipercaya dan diandalkan (Azwar,


mencari derajat keeratan atau 2012). Apabila suatu alat dapat dipakai
keterkaitan pengaruh antara variabel dua kali untuk pengukuran yang sama,
independen dengan variabel dependen dan hasil pengukuran itu relatif
(Azwar 2012). konsisten, maka alat ukur tersebut
Skala penelitian akan melewati dikatakan reliabel. Reliabilitas harus
berbagai tahap analisis yaitu uji menunjukkan konsistensi atau suatu alat
normalitas digunakan untuk mengetahui ukur dalam mengukur alat ukur yang
apakah populasi data terdistribusi normal sama (Azwar, 2012). Koefisien validitas
atau tidak. Uji normalitas menggunakan dilambangkan dengan rix. Reliabilitas
uji kolmogorov-Smirnov. Uji linearitas dinyatakan oleh koefisien reliabilitas
bertujuan untuk mengetahui apakah dua (rxx) yang angkanya berkisar antara 0
variabel mempunyai hubungan yang sampai dengan 1,00.
linear atau tidak. Dua variabel dikatakan
mempunyai hubungan yang linier bila 3. HASIL DAN PEMBAHASAN
signifikansi (linearity) kurang dari 0,05 Hasil
Selain itu juga dilakukan uji Koefisien Validitas pada skala
validitas, sejauh mana instrumen itu stigma internal dengan nilai corrected
mengukur apa yang seharusnya diukur item-total correlation berkisar antara
(Azwar, 2012). Sebuah instrumen 0,322 sampai dengan 0,772, sedangkan
dikatakan valid, apabila mampu koefisian reliabilitas sebesar 0,921. Pada
mengukur apa yang diinginkan atau skala interaksi sosial corrected item-total
dapat mengungkapkan data dari variabel correlation berkisar antara 0,355 sampai
yang diteliti secara tepat. Uji dengan 0,867, sedangkan koefisien
Reliabilitas adalah derajat ketepatan, reliabilitas sebesar 0,957. Untuk uji
ketelitian, atau keakuratan yang normalitas pada skala stigma internal
ditunjukkan oleh instrumen pengukuran. dengan interaksi sosial dapat dilihat pada
Sejauh mana suatu alat ukur dapat tabel 1 berikut:

Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

12
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

Tabel 1. Uji Normalitas Skala Stigma Internal dengan Interaksi Sosial


Variabel N KSZ P Sebaran

Stigma Internal 40 1,05 0,26 Normal

Interaksi Sosial 40 1,28 0,07 Normal

Berdasarkan tabel 1 di atas, maka nilai signifikansi sebesar p = 0,074


diperoleh nilai signifikansi pada skala dengan KSZ = 1,284 hasil tersebut
stigma internal sebesar p = 0,255 menunjukkan bahwa nilai p>0,05,
dengan KSZ = 1,045, hasil tersebut artinya sebaran skala interaksi sosial
menunjukan bahwa nilai p>0,05, artinya terdistribusi secara normal. Selanjutnya
sebaran skala stigma internal uji linieritas diperoleh hasil pada tabel 2
terdistribusi secara normal, sedangkan berikut:
untuk skala interaksi sosial diperoleh

Tabel 2. Uji Linieritas Skala Stigma Internal dengan Interaksi Sosial


N Df Mean Square F Sig

40 1 0,315 19,087 0
signifikansi p = 0,000, maka dapat
Berdasarkan tabel 2 di atas,
disimpulkan bahwa terdapat hubungan
diperoleh nilai F = 19,087 dengan
yang signifikan antara stigma internal
signifikansi sebesar p = 0,000 (p<0,05),
dengan interaksi sosial pada ODHA
artinya varians pada skala interaksi
yang berada dibawah dampingan
sosial dengan stigma internal tergolong
Yayasan Taratak Jiwa Hati Padang
linier.
dengan arah hubungan negatif. Hal ini
Dari hasil pengolahan data
berarti jika stigma internal ODHA yang
penelitian tentang hubungan antara
berada dibawah dampingan Yayasan
stigma internal dengan interaksi sosial
Taratak Jiwa Hati Padang tinggi, maka
pada penderita ODHA yang mengikuti
interaksi sosial akan rendah dan
pendampingan Yayasan Taratak Jiwa
sebaliknya jika stigma internal ODHA
Hati Padang dengan sampel penelitian
yang berada dibawah dampingan
sebanyak 40 orang, maka diperoleh
Yayasan Taratak Jiwa Hati Padang
hasil rxy=-0,561 dengan taraf
Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

xiii
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

rendah, maka interaksi sosial cenderung Interaksi Sosial berdasarkan mean


akan tinggi. empirik.
Berikut tabel deskriptif statisitik
dari variabel Stigma Internal dengan

Tabel 3. Descriptive Statistic Skala Stigma Internal dengan Interaksi Sosial


Variabel N Mean Std.Deviation Minimum Maximum

Stigma Internal 40 70,55 12,123 52 98

Interaksi Sosial 40 103,08 11,62 78 135

Berdasarkan nilai mean empirik, kelompok-kelompok yang terpisah


maka dapat dilakukan pengelom-pokan secara berjenjang menurut suatu
yang mengacu pada kriteria kontinum berdasarkan atribut yang
pengkategorisasian dengan tujuan diukur (Azwar, 2013), dengan ketentuan
menempatkan individu kedalam pada tabel 4 berikut :

Tabel 4. Norma Kategorisasi


Norma Kategorisasi

X < (µ - 1,0 σ) Rendah

(µ - 1,0 σ) ≤ X < (µ + 1,0 σ) Sedang

(µ + 1,0 σ) ≤ X Tinggi
Keterangan :
X : Skor mentah sampel
µ : Mean atau rata-rata
σ : Standar Deviasi
pada variabel stigma internal dengan
Berdasarkan norma di atas, maka interaksi sosial pada tabel 5 sebagai
diperoleh kategorisasi subjek penelitian berikut:

Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

xiii
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

Tabel 5. Kategori Stigma Internal dengan Interaksi Sosial


Variabel Skor Jumlah Persentase (%) Kategori
X < 59 4 10% Rendah
Stigma Internal 59 ≤ X ≤ 82 31 77,50% Sedang
X > 82 5 12,50% Tinggi
X < 93 5 12,50% Rendah
Interaksi Sosial 93 ≤ X ≤ 112 30 75% Sedang
X > 112 5 12,50% Tinggi

Berdasarkan tabel 5 di atas Padang yang memiliki interaksi sosial


didapatkan gambaran bahwa 4 orang yang tinggi. Adapun sumbangan efektif
(10%) ODHA yang berada dibawah (R Square) dari variabel stigma internal
dampingan Yayasan Taratak Jiwa Hati terhadap variabel interaksi sosial dapat
Padang memiliki stigma internal yang ditentukan dengan menggunakan rumus
rendah, 31 orang (77,5%) ODHA yang koefisien determinan. Koefisien
berada dibawah dampingan Yayasan determinan adalah kuadrat dari koefisien
Taratak Jiwa Hati Padang memiliki korelasi yang dikali dengan 100%
stigma internal yang sedang dan 5 orang (Nugroho, 2008). Derajat koefisien
(12,5 %) ODHA yang berada dibawah determinan dapat ditentukan dengan
dampingan Yayasan Taratak Jiwa Hati mengguna-kan rumus koefisien
Padang memiliki stigma internal yang determinan sebagai berikut :
tinggi. Sementara itu terdapat 5 orang KP = r2 x 100 %
(12,5%) ODHA yang berada dibawah = -0,5612 x 100 %
dampingan Yayasan Taratak Jiwa Hati = 0,3147 x 100 %
Padang memiliki interaksi sosial yang = 31 %
rendah, 30 orang (75%) ODHA yang Keterangan:
KP = Nilai Koefisien Determinan
berada dibawah dampingan Yayasan r = Nilai Koefisien Korelasi

Taratak Jiwa Hati Padang memiliki


Pembahasan
interaksi sosial yang sedang dan 5 orang
Berdasarkan hasil uji korelasi
(12,5%) ODHA yang berada dibawah
Product Moment (Pearson) di mana level
dampingan Yayasan Taratak Jiwa Hati
of significant (α) 0,01 dan diperoleh nilai
Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

xiii
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

koefisien korelasi (r) = -0,561. Hasil bunuh diri. Orang yang tertular
penelitian tersebut sesuai dengan HIV/AIDS sering marah kepada kalangan
hipotesis yang diajukan yaitu terdapat medis karena ketidak berdayaan mereka
hubungan yang signifikan antara stigma menemukan obat atau vaksin penangkal
internal dan interaksi sosial ODHA di HIV/AIDS. Mereka juga jengkel terhadap
Yayasan Taratak Jiwa Hati Padang. Arah masyarakat luas yang mendiskrimi-
hubungan berarah negatif, maksudnya nasikan penderita HIV/AIDS.
Jika ODHA memiliki stigma internal Aulia, Arwina dan Alfitri, 2014)
yang tinggi, maka ODHA akan memiliki menyebutkan stigma HIV dan AIDS yang
interaksi sosial yang renadah, demikian berkembang masih sangat kuat tidak
juga sebaliknya apabila ODHA memiliki hanya dari masyarakat, petugas
stigma internal yang rendah, maka kesehatan, keluarga, bahkan dari diri
ODHA tersebut akan mempunyai sendiri. Stigma yang berkembang
interaksi sosial yang tinggi. Hal ini mengenai HIV dan AIDS merupakan
sejalan dengan pendapat Waluyo dan penyakit yang sangat hina, memalukan
Rosakawati (2007) yang mengatakan dan sangat tabu untuk diketahui oleh
bahwa karena kurang diterimanya orang lain, sehingga mereka merasa tidak
penderita HIV dan AIDS di tengah- layak berada ditengah-tengah masyarakat,
tengah masyarakat serta macam-macam dan mereka memilih menutup diri dengan
stigma yang diberikan masyarakat membatasi kontak di lingkungan
membuat ODHA tidak terbuka. sosialnya. Hidup dengan HIV/AIDS
Rendahnya pemahaman terhadap HIV mengakibatkan masalah serius dalam
menyebabkan munculnya stigma baik interaksi sosial yang sering menimbulkan
dari masyarakat maupun dari diri ODHA penolakan, pemutusan hubungan, dan
sendiri. Menurut Hutapea (dalam penghindaran dari lingkungan.
Hermawati, 2011)) seorang yang Selanjutnya Varas-Diaz and colleagues
menderita HIV/AIDS sering mengalami (dalam Liamputtong, 2013) penelitian
masalah-masalah psiko-logis, terutama terkait AIDS dan interaksi sosial ODHA
kecemasan, depresi, rasa bersalah (akibat di Puerto Rico, dilaporkan bahwa stigma
perilaku seks dan penyalahgunaan obat), negatif mempengaruhi interaksi sosial
marah dan dorongan untuk melakukan dengan keluarga, teman, pasangan
Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

14
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

seksual, rekan kerja, dan petugas interaksi sosial dengan arah negatif dan
kesehatan. signifikan pada ODHA yang berada
Dilihat dari penilaian deskriptif dibawah dampingan Yayasan Taratak
terhadap 40 orang sampel, ternyata Jiwa Hati Padang, semakin tinggi tingkat
stigma internal ODHA sebagian berada stigma internal yang dimiliki ODHA
pada kategori tinggi, yaitu sebesar yang berada di bawah dampingan
12,50% atau 5 orang, kategori sedang Yayasan Taratak Jiwa Hati Padang, maka
sebesar 77,50% atau 31 orang, dan semakin rendah interaksi sosialnya begitu
kategori rendah sebesar 10% atau 4 pula sebaliknya, semakin rendah tingkat
orang. Begitu juga dengan interaksi sosial stigma internal yang dimiliki ODHA
ODHA sebagian berada pada kategori yang berada dibawah dampingan Yayasan
tinggi, yaitu sebesar 12,50% atau 5 orang, Taratak Jiwa Hati Padang maka semakin
kategori sedang sebesar 75% atau 30 tinggi interaksi sosialnya.
orang, dan kategori rendah sebesar
12,50% atau 5 orang. Saran
Adapun sumbangan efektif (R Ada beberapa saran yang dapat
Square) stigma internal dengan interaksi dikemukakan terkait dengan hasil
sosial pada ODHA di Yayasan Taratak penelitian, yaitu:
Jiwa Hati Padang adalah sebesar 31% ini 1). Bagi Subjek Penelitian disaran-kan
berarti bahwa stigma internal memiliki untuk lebih membuka diri dan aktif
pengaruh terhadap inetraksi sosial dalam kegiatan-kegiatan positif yang
ODHA, dan sisanya sebesar 69% diadakan oleh komunitas, LSM dan
dipengaruhi faktor lain yaitu imitasi, organisasi-organisasi yang bergerak
sugesti, identifikasi, dan faktor simpati dibidang HIV dan AIDS agar dapat
(Soekanto, 2013). menghilangkan stigma HIV dan
AIDS terutama stigma internal
4. Kesimpulan dan Saran ODHA itu sendiri, sehingga interaksi
Kesimpulan sosial ODHA dapat menjadi lebih
Berdasarkan hasil penelitian dapat baik.
ditarik kesimpulan bahwa terdapat 2). Bagi pihak yang terkait disaran-kan
hubungan antara stigma internal dengan untuk dapat lebih membantu ODHA
Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

15
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

dalam berinteraksi dengan Azwar, Saifuddin. 2012. Penyusunan


skala psikologi. Yogyakarta : Pustaka
mengadakan kegiatan, pelatihan dan
Pelajar.
semacamnya agar ODHA lebih baik , . 2013. Metode Penelitian.
Yogyakarta : Pustaka Belajar
dalam berinteraksi dengan
Brouard, Pierre, Caroline Wills. 2006. A
lingkungan sosial, dan stigma Closer Look : The Internalization of
Stigma Related to HIV. Pennsylvania;
mengenai HIV dan AIDS dapat
USAID
berkurang termasuk stigma dari diri Chaplin, J.P. 2006. Kamus Lengkap
Psikologi. Jakarta; Rajawali Press.
ODHA itu sendiri.
Fatnar, Virgia Ningrum. 2014.
3). Bagi peneliti selanjutnya yang Kemampuan Interaksi Sosial Antara
Remaja Yang Tinggal Di Pondok
berminat mengadakan penelitian
Pesantren Dengan Yang Tinggal
dengan topik yang sama, diharapkan Bersama Keluarga. Jurnal Fakultas
Psikologi Vol. 2, No 2, Desember
mempertimbangkan variabel-variabel
2014.
lain yang lebih berkaitan dengan Gohain, Zoengpari, dan Mary Ann L.
Halliday. 2014. “Internalized HIV-
interaksi sosial ODHA agar dapat di
Stigma, Mental Health, Coping and
kaitkan dengan variabel-variabel lain Perceived Social Support among
People Living with HIV/AIDS in
diantaranya yang berkaitan dengan
Aizawl District—A Pilot Study”.
faktor dari dalam diri ODHA seperti Department of Psychology, Mizoram
University, Aizawl, India.
penerimaan diri, dan harga diri,
Hasan, Md. Tanvir, et al. 2012.
maupun faktor-faktor yang berasal “Internalized HIV/AIDS-related
Stigma in a Sample of HIV-positive
dari luar diri ODHA seperti, peran
People in Bangladesh”. Healt Popul
KDS (kelompok dukungan sebaya), Nutr 2012 mar,30(I).
Hermawati, Pian. 2011. Hubungan
dan dukungan keluarga.
Persepsi ODHA Terhadap Stigma
HIV/AIDS Masyarakat Dengan
DAFTAR RUJUKAN Interaksi Sosial Pada ODHA. Skripsi.
Universitas Islam Negeri Syarif
Aulia, Yudhi, Dkk. 2014. Hubungan
Hidayatullah Jakarta.
Antara Harga Diri dengan Interaksi
Levin, Shana, Colette Van Laar. 2008.
Sosial pada Orang dengan HIV AIDS
Stigma and Group Inequality: “Social
di Yayasan Lantera Minangkabau
Psychological Perspectives”. New
Support. NERS JURNAL
Jersey; Lawrence Erlbaum
KEPERAWATAN Volume 10, No 1,
Associates.
Maret 2014: 31-40.
Liamputtong, Pranne. 2013. Stigma,
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur
Discrimination, and living with
Penelitian : Suatu pendekatan
HIV/AIDS: “A Cross-cultural
Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.
perspective”. Melbroune; Springer
Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

16
PSIKOVIDYA Vol 22, No. 1, April 2018

Listiana. 2013. Kehidupan Sosial Dan


Interaksi Orang. Sosiologi Reflektif,
Volume 8, No. 1, Oktober 2013.
Mbonu, C. Ngozi, et, al. 2009. “Stigma of
People with HIV/AIDS in Sub-
Saharan Africa” A Literature
Review. Journal of Tropical
Medicine Volume 2009, Article ID
145891.
Permenkes RI. 2013. “Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 21 Tahun 2013” Tentang
Penanggulangan Hiv Dan Aids
Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha
Esa Menteri Kesehatan Republik
Indonesia. Jakarta.
Shittu, R.O, et al. 2014. Correlates and
consequences of internalized stigma
of mental illness among people living
with HIV/AIDS in Nigeria, West
Africa. Journal of AIDS and HIV
Research.
Soekanto, Sarjono. 2010. Sosiologi Suatu
Pengantar. Jakarta; Rajawali Press.
Suriana, Atik, dan Dinar Sari Eka Dewi.
2013. Penelitian tentang self
disclosure Pasien ODHA RSUD
Banyumas”. Jurnal PSYCHO IDEA,
Tahun 11 No.1, Februari 2013 ISSN
1693-1076
Waluyo, A. Nurachmah, E. Rosakawati.
2007. Persepsi Pasien HIV/AIDS dan
Keluarganya Tentang HIV/AIDS dan
Stigma Masyarakat Terhadapnya.
Staf FIK –UI dan Staf RSK
Dharmais

Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Wisnuwardhana Malang

17