Anda di halaman 1dari 16

CENGKEH

Produk utama tanaman cengkeh adalah bunga, yang pada waktu dipanen kadar airnya
berkisar antara 60–70 %. Waktu yang paling baik untuk memetik cengkeh adalah sekitar 6
bulan setelah bakal bunga timbul, yaitu setelah satu atau dua bunga pada tandanya mekar dan
warna bunga menjadi kuning kemerah-merahan dengan kepala bunga masih tertutup, berisi
dan mengkilat.
Pemungutan bunga cengkeh dilakukan dengan cara memetik tangkai bunga dengan
tangan, kemudian dimasukkan kedalam kantong kain atau keranjang yang telah disiapkan,
menggunakan tangga segitiga atau galah dari bambu, serta tidak merusak daun disekitarnya
pada waktu pemetikan. Waktu panen sangat berpengaruh terhafdap rendemen dan mutu
bunga cengkeh serta miyak atsirinya.
Saat pemetikan bunga cengkeh yang tepat yaitu apabila bunga sudah penuh benar
tetapi belum mekar, pemetikan yang dilakukan saat bunga cengkeh masih muda (sebelum
bunga masak) akan menghasilkan bunga cengkeh kering yang keriput, kandungan minyak
atsirinya rendah dan berbau langu (tidak enak). Sedangkan apabila pemetikan terlambat
(bunga sudah mekar) setelah dikeringkan akan diperoleh mutu yang rendah, tanpa kepala
serta rendeman rendah.
Setelah panen dilakukan, hal berikutnya adalah perlakuan pasca panen yang meliputi
sortasi buah, pemerama, pengeringan, dan sortasi keseluruhan. Sortasi buah dilakukan dengan
memisahkan bunga dari tangkainya dan tempatkan pada tempat yang berbeda. Pemeraman
dilakukan selama 1 hari ini dilakukan untuk memperbaiki warna cengkih menjadi coklat
mengkilat. Pengeringan dapat dilakukan dengan mesin pengering yang menggunakan kayu
bakar atau bahan bakar minyak.Dapat juga dikeringkan dengan cara alami yaitu pengeringan
dengan matahari pada lantai beton agar kadar air menjadi 12-14%, dan dapat disimpan dan
aman dari jamur. Sortasi akhir Pada tahap ini cengkih dipisahkan dari kotoran dengan cara
ditampi. Kemudian cengkih yang sudah bersih dimasukan pada karung dan dijahit.

Penanganan Bunga Cengkeh

Sebelum dikeringkan, bunga cengkeh dipisahkan dari tangkai/gagang dan dikeringkan


secara terpisah. Pada tahap ini dilakukan pemisahan antara bunga cengkeh yang baik, bunga
yang terlalu tua dan yang terjatuh, setelah itu bunga cengkeh segera dikeringkan.
Pengeringan dapat dilakukan dengan menjemurnya dipanas matahari langsung atau
menggunakan pengering buatan.
- Bunga cengkeh yang akan dijemur dihamparkan pada alas tikar, anyaman bambu (giribig)
atau plastik, atau pada lantai jamur yang diberi alas plastik.
- Selama proses pengeringan cengkeh dibolak-balik agar keringnya merata.
- Proses pengeringan dianggap selesai apabila warna bunga cengkeh telah berubah menjadi
coklat kemerahan, mengkilat, mudah dipatahkan dengan jari tangan dan kadar air telah
mencapai sekitar 10–12 %.
- Lamanya waktu penjemuran dibawah sinar matahari sekitar 3–4 hari.

PENANGANAN PASCA PANEN

· Sortasi buah
Lakukan pemisahan bunga dari tangkainya dan tempatkan pada tempat yang berbeda.
· Pemeraman
Pemeraman dilakukan selama 1 hari ini dilakukan untuk memperbaiki warna cengkih
menjadi coklat mengkilat.
· Pengeringan
Pengeringan dapat dilakukan dengan mesin pengering yang menggunakan kayu bakar atau
bahan bakar minyak.Dapat juga dikeringkan dengan cara alami yaitu pengeringan dengan
matahari pada lantai beton agar kadar air menjadi 12-14%, dan dapat disimpan dan aman dari
jamur.
· Sortasi
Pada tahap ini cengkih dipisahkan dari kotoran dengan cara ditampi. Kemudian cengkih
yang sudah bersih dimasukan pada karung dan dijahit.

KELAPA SAWIT
A. Identifikasi Tanaman Siap Panen
Dalam budidaya kelapa sawit panen merupakan salah satu kegiatan penting dan
merupakan saat-saat yang ditunggu oleh pemilik kebun, karena saat panen adalah indikator
akan dimulainya pengembalian inventasi yang telah ditanamkan dalam budidaya. Melalui
pemanenan yang dikelola dengan baik akan diperoleh produksi yang tinggi dengan mutu
yang baik dan tanaman mampu bertahan dalam umur yang panjang.
Berbeda dengan tanaman semusim, pemanenan kelapa sawit hanya akan
mengambil bagian yang paling bernilai ekonomi tinggi yaitu tandan buah yang menghasilkan
minyak kelapa sawit dan inti kelapa sawit dan tetap membiarkan tanaman berproduksi secara
terus menerus sampai batas usia ekonomisnya habis. Secara umum batas usia ekonomis
kelapa sawit berkisar 25 tahun, dan dapat berkurang bergantung dari tingkat pemeliharaan
yang dilakukan termasuk cara pemananen.
Pemanen kelapa sawit yang salah akan mengakibatkan rendahnya produksi dan
pendeknya usia ekonomis. Oleh karena itu, pemanenan harus dilakukan dengan tepat agar
tanaman tetap berproduksi baik dan diperoleh mutu yang baik. Selain itu setelah panen harus
segera dilakukan penanganan pasca panen menginggat tandan buah kelapa sawit akan cepat
mengalami penurunan mutu dalam waktu 24 jam setelah panen.
Kelapa Sawit sudah mulai berbunga, tetapi tandan buah segar yang dihasilkan belum
mencapai 3 kg sehingga tanaman belum dapat dikategorikan sebagai tanaman menghasilkan.
Bilamana performa/penampilan bonggol batang belum cukup kekar tetapi sudah berbunga,
maka pada tanaman tersebut harus diablasi yaitu pembuangan bunga untuk membuang tandan
kecil (kurang dari 3 kg) pada tanaman baru berbuah dan untuk mendorong pertumbuhan
tanaman agar diperoleh pertumbuhan tanaman yang seragam. Secara normal kelapa sawit
yang tumbuh subur sudah dapat menghasilkan buah serta siap dipanen pertama pada umur
sekitar 3,5 tahun jika dihitung mulai dari penanaman biji kecambah di pembibitan. Namun
jika dihitung mulai penanaman di lapangan maka tanaman berbuah dan siap panen pada umur
2,5 tahun.
B. Identifikasi Tandan Buah Masak
Tanaman kelapa sawit rata-rata menghasilkan buah 20-22 tandan/tahun. Pada tanaman
yang semakin tua produktivitasnya semakin menurun menjadi 12 14 tandan/tahun.
Banyaknya buah yang terdapat dalam satu tandan tergantung pada faktor genetik, umur,
lingkungan dan teknik budidaya. Jumlah buah pertandan pada tanaman yang cukup tua
mencapai 1600 buah. Matang panen kelapa sawit dapat dilihat secara visual dan secara
fisiologi. Secara visual dapat dilihat dari perubahan warna kulit buah menjadi merah jingga,
sedangkan secara fisiologi dapat dilihat dari kandungan minyak yang maksimal dan
kandungan asam lemak bebas yang minimal.
Pada saat matang tersebut dicirikan pula oleh membrondolnya buah. Kriteria tandan buah
yang masak pada tanaman muda dan tanaman menghasilkan sedikit berbeda. Pada tanaman
muda yang baru pertama kali dipanen, kriteria matang tandan matang panen berupa 1-2
brondolan per tandan perlu digunakan mengingat tandan masih kecil dan cepat masak.
Standar ini harus disesuaikan berdasarkan kondisi iklim setempat dan pengalaman pekerja.
Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang
beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya
10 kg atau lebih.
Ciri-ciri lain yang digunakan adalah apabila sebagian buah sudah membrondol (jatuh di
piringan). Secara alamiah dan bobot rata-rata tandan sudah mencapai 3 kg. Jumlah brondolan
buah inilah yang dijadikan dasar untuk memanen tandan buah, yaitu tanaman dengan umur
kurang dari 10 tahun, jumlah brondolan kurang lebih 10 butir dan tanaman dengan umur
lebih 10 tahun, jumlah brondolan sekitar 15-20 butir. Namun secara praktis digunakan kriteria
umum yaitu pada setiap 1 kg tandan buah segar (TBS) terdapat 2 brondolan.
Kriteria panen yang diharapkan adalah bila tingkat kematangan buah sudah mencapai
fraksi kematangan 1–3 dimana persentase buah luar yang jatuh sekitar 12,5 %-75 %. Ada dua
jenis sistem panen, yaitu sistem giring dan sistem tetap.
C. Persiapan Panen
Teknik panen yang baik bertujuan untuk memperoleh jumlah minyak maksimum dengan
kualitas yang paling baik. Untuk mencapai maksud ini perlu kematangan buah yang
optimum, selang panen yang tepat, metode pengumpulan buah, dan pengangkutan hasil yang
baik ke pabrik pengolahan buah sawit.
Aspek yang paling penting diperhatikan dalam panen dan pengangkutan buah adalah hal-hal
yang mempengaruhi kualitas akhir dari minyak sawit, khususnya menyangkut kadar asam
lemak bebas. Jadi, untuk mendapatkan hasil panen yang berkualitas tinggi sebaiknya dibuat
persiapan panen yang baik.
Tanaman kelapa sawit mulai berbunga dan membentuk buah setelah umur 2-3 tahun. Buah
akan menjadi masak sekitar 5-6 bulan setelah penerbukan. Agar panenan berjalan lancar,
tempat pengumpulan hasil (TPH) harus dipersiapkan dan jalan pengangkutan hasil (pasar
pikul) diperbaiki untuk memudahkan pengangkutan hasil panen dari kebun ke pabrik. Para
pemanen juga harus mempersiapkan peralatan yang akan digunakan. Pemanenan kelapa sawit
perlu memperhatikan beberapa ketentuan umum agar tandan buah segar (TBS) yang dipanen
sudah matang, sehingga minyak kelapa sawit yang dihasilkan bermutu baik.
D. Kriteria Tanaman Menghasilkan
Agar tanaman belum menghasilkan (TBM) dapat digolongkan menjadi tanaman
menghasilkan (TM), maka perlu diperhatikan kriteria berikut:
a) Kerapatan panen telah mencapai 60% atau lebih.
b) Bobot tandan rata-rata lebih berat daripada 3 kg.
c) Angka sebaran panen lebih banyak daripada 5.
1. Kerapatan
Kerapatan panen adalah angka persentase jumlah pohon yang memiliki tanda buah
yang sudah matang panen dalam suatu areal pertanaman belum menghasilkan (TBM). Untuk
mengetahui kerapatan panen tersebut, maka dilakukan pemeriksaan dan pencatatan jumlah
pohon yang sudah memiliki tandan buah matang panen dari setiap petak tanaman yang
terdapat dalam areal TBM tersebut. Bila terdapat lebih dari 60% atau lebih pohon yang
mempunyai tandan matang panen, maka petak tersebut dinyatakan menjadi tanaman
menghasilkan (TM).
2. Bobot rata-rata tandan
Setiap tandan yang sudah matang panen diambil secara acak dari setiap hektar
tanaman kemudian ditimbang. Jika rata-rata bobot telah lebih dari 3 kg maka panenan dapat
dilakukan dan diteruskan dengan pemeriksaan penyebaran panen. Bila bobot rata-rata tandan
masih di bawah 3 kg, panen harus ditangguhkan, karena tandan kecil secara teknik tidak
dapat diolah pabrik sehingga tidak mempunyai nilai ekonomis.
Kriteria matang panen yang dijadikan patokan di perkebunan kelapa sawit adalah bila
sudah ada 2 brondolan (buah yang lepas dari tandannya) untuk tiap kilogram tandan yang
beratnya kurang dari 10 kg atau satu brondolan untuk tiap kilogram tandan beratnya lebih
dari 10 kg. Melihat adanya brondolan yang jatuh ke piringan, maka panenan dapat dilakukan.
3. Kerapatan sebaran panen
Kerapatan sebaran panen adalah angka yang menyatakan jumlah pohon yang telah
memiliki tandan matang panen dalam baris tanaman pada satu petak (blok) tanaman sawit.
Angka ini penting diketahui untuk efisiensi pemanenan, karena menyangkut jarak (ruang) dan
waktu yang dibutuhkan untuk memanen.
E. Derajat Kematangan Buah
Mutu minyak buah biasanya dinyatakan sebagai persentase minyak tandan. Untuk tujuan
praktis disebut rendemen minyak atau nisbah ekstraksi. Rendemen minyak (RM) yang
diperoleh di pabrik sangat dipengaruhi oleh standar kematangan buah yang mana buah
berubah warna dari hitam menjadi merah oranye hingga terjadi kematangan penuh.
1. Kriteria matang panen
Faktor yang vital adalah konversi karbohidrat menjadi minyak di mesokrap
berlangsung pada stadia akhir perkembangan buah. Seminggu sebelum masak hanya 80%
minyak dari potensi total minyak dalam mesokrap, sintesis minyak berlangsung terus
sebelum buah tanggal dari tandan (membrondol). Penurunan atau peningkatan yang nyata
dari kandungan minyak setelah buah membrondol dan sebelum membusuk ditandai oleh
perubahan ciri-ciri jaringan mesokrap.

Tabel. Tingkatan TBS yang dipanen:


Tingkat Jumlah Brondolan Kematangan
1-12,5% buah luar membrondol
0. Mentah
12,5-25% buah luar membrondol
1. Kurang matang
25-50% buah luar membrondol
2. Matang I
50-75% buah luar membrondol
3. Matang II
75-100% buah luar membrondol
4. Lewat matang I
Buah dalam juga membrondol, dan
5. Lewat matang II
ada buah yang busuk
Sumber: Pusat Penelitan Marihat, 1983
Jadi, berdasarkan tingkat TBS yang dipanen tersebut di atas, maka derajat kematangan
yang baik adalah jika tandan-tandan yang dipanen berada tingkat 1,2, dan 3.
Secara ideal dengan mengikuti ketentuan dan kriteria matang panen dan terkumpulnya
brondolan serta pengangkutan yang lancar, maka dalam suatu panenan akan diperoleh
komposisi tingkat tandan segar sebagai berikut:
1) Jumlah brondolan di pabrik sekitar 25% dari berat tandan seluruhnya.
2) Tandan yang terdiri atas tingkat kematangan 2 dan 3 minimal 65% dari jumlah tandan.
3) Tandan yang terdiri atas tingkat kematangan 1 maksimal 20% dari jumlah tandan.
4) Tandan yang terdiri atas tingkat kematangan 4 dan 5 maksimal 15% dari jumlah tandan.
Untuk memperoleh tingkat kematangan tandan perlu diatur frekuensi panen atau
putaran panen di suatu kebun. Dalam keadaan yang tidak terhindarkan, dapat saja hasil
panenan dari tingkat kematangan tandan yang lebih tinggi, sehingga komposisi tandan buah
segar (TBS) dengan tingkat kematangan (3 dan 4) : 65%, mulai matang (2) : 20%, dan lewat
matang (5) : 15%. Dengan komposisi demikian akan diperoleh produksi minyak maksimum
dengan biaya minimum dan asam lemak bebas (ALB) masih berada di bawah 5%.
2. Frekuensi panen
Untuk memperoleh keseragaman kematangan pada standar yang dikehendaki, maka
suatu areal pertanaman harus dipanen setiap hari. Karena hal seperti ini tidak ekonomis, maka
perlu diadakan putaran atau rotasi panen.
F. Pengolahan Hasil Panen
Hasil panen dari kebun merupakan tandan buah segar (TBS) yang harus segera diangkut
ke pabrik pengolahan untuk mendapatkan hasil minyak kelapa sawit yang bermutu tinggi.
Proses pengolahan hasil panen ini berlangsung cukup panjang, dimulai dari pengangkutan
TBS dari lahan pertanaman ke pabrik pengolahan sampai menghasilkan minyak kelapa sawit
dan hasil sampingannya.
Hasil olahan utama TBS pada pabrik pengolahan adalah:
1) Minyak sawit yang merupakan hasil pengolahan daging buah,
2) Minyak inti sawit yang dihasilkan dari ekstraksi inti sawit.
G. Pengangkutan TBS ke Pabrik Pengolahan
Tandan buah segar (TBS) yang baru dipanen harus segera diangkut ke pabrik dapat
segera diolah. Buah yang tidak dapat segera diolah akan mengalami kerusakan atau akan
menghasilkan minyak dengan kadar asam lemak bebas tinggi, sehingga sangat berpengaruh
tidak baik terhadap kualitas minyak yang dihasilkan.
Salah satu upaya untuk menghindari terbentuknya asam lemak bebas adalah
pengangkutan buah dari kebun ke pabrik harus dilakukan secepatnya dan menggunakan alat
angkut yang baik, seperti lori, traktor gandengan, atau truk. Sebaiknya dipilih alat angkut
yang besar, cepat, dan tidak terlalu banyak membuat guncangan selama dalam perjalanan.
Hal ini untuk menjaga agar perlukaan pada buah tidak terlalu banyak.
Segera setelah sampai di pabrik, pengolahan harus secepatnya ditimbang dulu,
kemudian memasuki tahap-tahap pengelolaan selanjutnya. Tandan buah segar yang diterima
dari kebun harus ditimbang dengan cermat yang nantinya perlu di dalam proses pengendalian
mutu, rendemen hasil yang diperoleh.
TBS yang sudah diterima dari kebun dan sudah ditimbang harus secepat mungkin
masuk pengolahan tahap pertama agar gradasi mutu dapat ditekan sekecil mungkin, yaitu
tahap perebusan atau sterilisasi tandan buah.

KARET
Persiapan Panen
Pemungutan hasil panen karet disebut penyadapan karet. Biasanya penyadapan
dilakukan pada saat pagi hari hingga pukul 07.30. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari
terjadinya koagulasi pada lateks. Penyadapan pada umur + 5 tahun, dan dapat dilakukan
selama 25-35 tahun.
Pembuatan tempat penampungan hasil (TPH)
TPH dibuat untuk menampung hasil lateks dari kebun sebelum diangkut ke pabrik.
Satu TPH biasanya digunakan untuk menampung latek dari luasan areal sadap 20 sampai 30
hektar. Pada lokasi TPH disediakan bak/tangki penampung yang diletakan di atas, sehingga
lateks yang ditampung dapat langsung dimasukkan ke truk pengangkut.
Pembuatan jalan panen. Pembuatan jalan panen biasanya dibuat pada saat pekerja
hendak melakukan penyadapan. Biasanya jalan panen di perkebunan hanya sederhana dan
berupa jalan setapak, sehingga yang dibutuhkan hanyalah parang atau sabit untuk memotong
rumput atau gulma yang mengganggu jalan yang akan dibuat.
Alat-alat panen
Alat-alat panen yang perlu dipersiapkan adalah pisau sadap, mangkok sadap, talang
sadap, ember dan pengasah pisau. Pisau sadap, ember dan pengasah pisau hanya disediakan
untuk masing-masing tenaga penyadap, sedangkan mangkok dan talang sadap harus
disediakan untuk setiap tanaman.
Kebutuhan tenaga panen
Kebutuhan tenaga penyadap diperhitungkan dengan cara menghitung luas lahan yang
disadap per hari (tergantung frekuensi sadap yang digunakan). Pada umumnya luas yang
disadap per hari adalah 1/3 dari luas TM. Untuk kebutuhan tenaga penyadap dapat dihitung
dengan memperhatikan kemampuan seorang penyadap dalam melakukan penyadapan dalam
satu hari. Untuk lahan datar 1 orang penyadap mampu menyadap seluas 1 hektar.

Pelaksanaan Panen
Kriteria matang sadap
Kriteria matang sadap pada tanaman karet ditentukan oleh dua syarat yaitu:
· lilit batang (lingkar batang 1 meter di atas pertautan lebih besar dari 45 cm.
· 60% dari populasi memenuhi syarat nomor 1. Biasanya masa ini akan dicapai setelah
tanaman berumur 5 tahun.
Hanca panen
Hanca panen atau luas yang dipanen per hari sangat tergantung dari rotasi eksploitasi
yang digunakan. Pada umumnya tanaman karet disadap 3 hari sekali, sehingga luas panen per
hari kurang lebih 1/3 dari total luas tanaman menghasilkan (TM). Untuk lahan yang datar, 1
orang penyadap mampu menyadap seluas 1 hektar.
Rotasi panen
Lamanya rotasi panen dilakukan tergantung luasan hanca panen. Semakin luas hanca
panen, maka rotasi panen semakin lama. Rotasi panen juga tergantung pada berapa kali dalam
seminggu dilakukan penyadapan.
Aturan teknis panen
Setiap penyadap biasanya sudah berada di kebun pada pukul 05.00 untuk melakukan
persiapan-persiapan seperti : pembagian lokasi sadap, pengecekan peralatan dan pengecekan
kehadiran tenaga penyadap. Setiap penyadap akan melakukan penyadapan pada hancanya
sendiri (setiap penyadap memiliki lokasi penyadapan masing-masing). Penyadapan dilakukan
dengan memotong kulit karet (setelah melepas lateks yang membeku pada alur sadap) pada
alur sadap yang telah ada serta memasang mangkok dan pemberian anti koagulan (2 tetes)
pada mangkok sadap. Anti koagulan ini berfungsi untuk mencegah terjadinya pembekuan
lateks sebelum sampai di pabrik. Setelah seluruh hanca sadap di sadap (selesai pada pukul
07.30) maka lateks ditunggu mengalir hingga pukul 11.00 dan selanjutnya lateks
dikumpulkan di TPH. Pada setiap penyadap akan dicatat volume lateks yang terkumpul pada
hari itu dan akan digunakan sebagai salah satu penentu besarnya upah yang akan diterima.
Pengangkutan Hasil Panen
Setelah lateks hasil sadapan terkumpul seluruhnya, selanjutnya lateks dari tangki
penerimaan/pengumpulan yang berada di lokasi tempat pengumpulan hasil di kebun,
kemudian diangkut dengan tangki pengangkut ke pabrik. Tangki pengangkut ada yang ditarik
dengan traktor, dan ada pula yang terpasang pada truk-truk tangki. Dalam pengangkutan
lateks ke pabrik harus dijaga agar lateks tidak terlalu tergoncang dan terlalu kepanasan karena
dapat berakibat terjadinya prakoagulasi di dalam tangki. Dalam keadaan tertentu, lateks
dalam tangki tersebut perlu diberi obat anti koagulan.
Sarana angkutan. Sarana angkutan yang digunakan untuk pengangkutan lateks dari
kebun ke pabrik adalah truk tangki dengan kapasitas biasanya antara 2.000 sampai 3.000 liter.
Tangki dibuat dari bahan alumunium dan dirancang sedemikian rupa sehingga mudah
dipasang dan dilepas dari alat penarik (truk/taktor) dan dengan mudah dibersihkan. Jumlah
truck yang diperlukan tergantung dari tingkat produksi lateks yang dihasilkan per hari.
Sedapat mungkin harus diusahakan semua lateks dapat diangkut ke pabrik pusat agar
dapat dilakukan pencampuran lateks dari semua bagian kebun dalam satu atau beberapa bak
pencampur di pabrik, sehingga dapat diharapkan hasil yang seragam. Jika keadaan tempat
memaksa untuk dilakukan koagulasi di kebun, jumlah lateks yang dikoagulasi sedapat
mungkin harus dibatasi. Prasarana jalan yang digunakan untuk pengangkutan lateks dari
kebun harus cukup baik. Hal ini untuk menghindari terjadinya goncangan-goncangan selama
pengangkutan yang dapat meningkatkan proses prakoagulasi. Oleh karena itu TPH biasanya
diletakkan/berada di pinggir-pinggir jalan produksi.

TEH
Panen dan pasca panen teh
Teh di hasilkan dari pengolahan yang tanpa proses fermentasi setelah di petik dengan
tahap-tahap pengolahan yaitu : pelayuan, penggulungan, pengeringan dan sortasi. Proses
pengolahan tanpa proses fermentasi di kenal dengan pelayuan.
Pengolahan teh :
1. Daun teh yang di petik di tebarkan diata lantai serambi agar kadar airnya berkurang dan
menjadi layu ± 2 hari.
2. Daun yang sudah layu digoreng pada suhu 900C.( di bolak balik agar tidak gosong) ± 10
menit.
Proses pelayuan ini hanya mengatur aktivitas enzim dalam daun.Enzim itu aktiv tinggi pada
suhu 80-900 F(26,67-32,220C)dan berkurang pada suhu kurang dari 600 F(15,560 C)
sedangkan pada suhu 1200 F (48,890 c) enzim akan inakatif selama 2-3 menit dan suhu
tersebut yang digunakan dalam pelayuan.
3. Daun yang sudah lemas di angkat dari penjemuran kemudian didinginkan diatas meja.
4. Daun yang sudah dingin kemudian digulung dengan tangan atau alat berbentuk bola terbuat
dari kayu, diatas arang kayu yang membara.
5. Jika sudah kering kemudian didinginkan diatas nyiru.
Proses pengeringan tersebut memerlukan waktu 6-10 menit. Dan hasilnya, kadar air
daun teh sebanyak 5-8%. Sortasi dilakukan dengan memisahkan daun teh yang rusak tangkai
daunnya, biasanya untuk 1 kg teh kering ,dibutuhkan pucuk daun teh sebanyak 4,5kg.

KOPI
Tanaman kopi yang terawat dengan baik dapat mulai berproduksi pada umur 2,5-3
tahun tergantung dari lingkungan dan jenisnya. Tanaman kopi robusta dapat berproduksi
mulai dari 2,5 tahun, sedangkan arabika pada umur 2,5-3 tahun.
Jumlah kopi yang dipetik pada panen pertama relatif masih sedikit dan semakin
meningkat sejalan dengan meningkatnya umur tanaman sampai mencapai puncaknya pada
umur 7-9 tahun. Pada umur puncak tersebut produksi kopi dapat mencapai 9-15 kuintal kopi
beras/ha/tahun untuk kopi robusta dan 5-7 kuintal kopi beras/ha/tahun untuk kopi arabika.
Namun demikian, bila tanaman kopi dipelihara secara intensif dapat mencapai hasil 20
kuintal kopi beras/ha/tahun.
1. Pemanenan buah kopi dilakukan secara manual dengan cara memetik buah yang telah masak.
Ukuran kematangan buah ditandai oleh perubahan warna kulit buah. Kulit buah berwarna
hijau tua ketika masih muda, berwarna kuning ketika setengah masak dan berwarna merah
saat masak penuh dan menjadi kehitam-hitaman setelah masak penuh terlampaui (over ripe).
2. Kematangan buah kopi juga dapat dilihat dari kekerasan dan komponen senyawa gula di
dalam daging buah. Buah kopi yang masak mempunyai daging buah lunak dan berlendir serta
mengandung senyawa gula yang relatif tinggi sehingga rasanya manis. Sebaliknya daging
buah muda sedikit keras, tidak berlendir dan rasanya tidak manis karena senyawa gula masih
belum terbentuk maksimal. Sedangkan kandungan lendir pada buah yang terlalu masak
cenderung berkurang karena sebagian senyawa gula dan pektin sudah terurai secara alami
akibat proses respirasi.
3. Tanaman kopi tidak berbunga serentak dalam setahun, karena itu ada beberapa cara
pemetikan :
a. Pemetikan selektif dilakukan terhadap buah masak.
b. Pemetikan setengah selektif dilakukan terhadap dompolan buah masak.
c. Secara lelesan dilakukan terhadap buah kopi yang gugur karena terlambat pemetikan.
d. Secara racutan/rampasan merupakan pemetikan terhadap semua buah kopi yang masih hijau,
biasanya pada pemanenan akhir.

Proses Pasca Panen Sortasi

a. Sortasi buah dilakukan untuk memisahkan buah yang superior (masak, bernas, seragam) dari
buah inferior (cacat, hitam, pecah, berlubang dan terserang hama/penyakit). Kotoran seperti
daun, ranting, tanah dan kerikil harus dibuang, karena dapat merusak mesin pengupas.
b. Biji merah (superior) diolah dengan metoda pengolahan basah atau semi-basah, agar
diperoleh biji kopi HS kering dengan tampilan yang bagus. Sedangkan buah campuran
hijau,kuning, merah diolah dengan cara pengolahan kering.
c. Hal yang harus dihindari adalah menyimpan buah kopi di dalam karung plastik atau sak
selama lebih dari 12 jam, karena akan menyebabkan pra-fermentasi sehingga aroma dan
citarasa biji kopi menjadi kurang baik dan berbau busuk (fermented).

Pengolahan Cara kering Metoda pengolahan cara kering banyak dilakukan mengingat
kapasitas olah kecil, mudah dilakukan, peralatan sederhana dan dapat dilakukan di rumah
petani.

1. Pengeringan
a. Kopi yang sudah di petik dan disortasi harus sesegera mungkin dikeringkan agar tidak
mengalami proses kimia yang bisa menurunkan mutu. Kopi dikatakan kering apabila waktu
diaduk terdengar bunyi gemerisik.
b. Beberapa petani mempunyai kebiasaan merebus kopi gelondang lalu dikupas kulitnya,
kemudian dikeringkan. Kebiasaan merebus kopi gelondong lalu dikupas kulit harus dihindari
karena dapat merusak kandungan zat kimia dalam biji kopi sehingga menurunkan mutu.
c. Apabila udara tidak cerah pengeringan dapat menggunakan alat pengering mekanis.
d. Tuntaskan pengeringan sampai kadar air mencapai maksimal 12,5%.
e. Pengeringan memerlukan waktu 2-3 minggu dengan cara dijemur.
f. Pengeringan dengan mesin pengering tidak diharuskan karena membutuhkan biaya mahal.
2. Pengupasan kulit (Hulling)
a. Hulling pada pengolahan kering bertujuan untuk memisahkan biji kopi dari kulit buah, kulit
tanduk dan kulit arinya.
b. Hulling dilakukan dengan menggunakan mesin pengupas (huller). Tidak dianjurkan untuk
mengupas kulit dengan cara menumbuk karena mengakibatkan banyak biji yang pecah.
Beberapa tipe huller sederhana yang sering digunakan adalah huller putar tangan (manual),
huller dengan pengerak motor, dan hummermill.
3. Pengolahan Cara Basah (Fully Washed)
Tahapan pengolahan kopi cara basah dapat dilihat pada skema berikut :
a. Pengupasan Kulit Buah
Pengupasan kulit buah dilakukan dengan menggunakan alat dan mesin pengupas kulit buah
(pulper). Pulper dapat dipilih dari bahan dasar yang terbuat dari kayu atau metal. Air dialirkan
kedalam silinder bersamaan dengan buah yang akan dikupas. Sebaiknya buah kopi
dipisahkan atas dasar ukuran sebelum dikupas.
b. Fermentasi
· Fermentasi umumnya dilakukan untuk pengolahan kopi Arabika, bertujuan untuk
meluruhkan lapisan lendir yang ada dipermukaan kulit tanduk biji kopi. Selain itu, fermentasi
mengurangi rasa pahit dan mendorong terbentuknya kesan “mild” pada citarasa seduhan kopi
arabika.
· Fermentasi ini dapat dilakukan secara basah dengan merendam biji kopi dalam genangan air,
atau fermentasi cara kering dengan cara menyimpan biji kopi HS basah di dalam wadah
plastik yang bersih dengan lubang penutup dibagian bawah atau dengan menumpuk biji kopi
HS di dalam bak semen dan ditutup dengan karung goni.
· Agar fermentasi berlangsung merata, pembalikan dilakukan minimal satu kali dalam sehari.
· Lama fermentasi bervariasi tergantung pada jenis kopi, suhu, dan kelembaban lingkungan
serta ketebalan tumpukan kopi di dalam bak. Akhir fermentasi ditandai dengan meluruhnya
lapisan lendir yang menyelimuti kulit tanduk. Waktu fermentasi berkisar antara 12 sampai 36
jam.

c. Pencucian
· Pencucian bertujuan menghilangkan sisa lendir hasil fermentasi yang menempel di kulit
tanduk.
· Untuk kapasitas kecil, pencucian dikerjakan secara manual di dalam bak atau ember,
sedangkan kapasitas besar perlu dibantu mesin.
d. Pengeringan
· Pengeringan bertujuan mengurangi kandungan air biji kopi HS dari 60 – 65 % menjadi
maksimum 12,5 %. Pada kadar air ini, biji kopi HS relatif aman dikemas dalam karung dan
disimpan dalam gudang pada kondisi lingkungan tropis.
· Pengeringan dilakukan dengan cara penjemuran, mekanis, dan kombinasi keduanya.
· Penjemuran merupakan cara yang paling mudah dan murah untuk pengeringan biji kopi.
Penjemuran dapat dilakukan di atas para-para atau lantai jemur. Profil lantai jemur dibuat
miring lebih kurang 5–7 dengan sudut pertemuan di bagian tengah lantai.
· Ketebalan hamparan biji kopi HS dalam penjemuran sebaiknya 6–10 cm lapisan biji.
Pembalikan dilakukan setiap jam pada waktu kopi masih basah. Pada areal kopi Arabika,
yang umumnya didataran tinggi, untuk mencapai kadar air 15 -17 %, waktu penjemuran
dapat berlangsung 2–3 minggu.
· Pengeringan mekanis dapat dilakukan jika cuaca tidak memungkinkan untuk melakukan
penjemuran. Pengeringan dengan cara ini sebaiknya dilakukan secara berkelompok karena
membutuhkan peralatan dan investasi yang cukup besar dan tenaga pelaksana yang terlatih.
e. Pengupasan kulit kopi HS
· Pengupasan dimaksudkan untuk memisahkan biji kopi dari kulit tanduk yang menghasilkan
biji kopi beras.
· Pengupasan dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pengupas (huller).
· Sebelum dimasukkan ke mesin pengupas (huller), biji kopi hasil pengeringan didinginkan
terlebih dahulu (tempering) selama minimum 24 jam.

Pengolahan Cara kering

Metoda pengolahan cara kering banyak dilakukan mengingat kapasitas olah kecil, mudah
dilakukan, peralatan sederhana dan dapat dilakukan di rumah petani.
1. Pengeringan
a. Kopi yang sudah di petik dan disortasi harus sesegera mungkin dikeringkan agar tidak
mengalami proses kimia yang bisa menurunkan mutu. Kopi dikatakan kering apabila waktu
diaduk terdengar bunyi gemerisik.
b. Beberapa petani mempunyai kebiasaan merebus kopi gelondang lalu dikupas kulitnya,
kemudian dikeringkan. Kebiasaan merebus kopi gelondong lalu dikupas kulit harus dihindari
karena dapat merusak kandungan zat kimia dalam biji kopi sehingga menurunkan mutu.
c. Apabila udara tidak cerah pengeringan dapat menggunakan alat pengering mekanis.
d. Tuntaskan pengeringan sampai kadar air mencapai maksimal 12,5%.
e. Pengeringan memerlukan waktu 2-3 minggu dengan cara dijemur.
f. Pengeringan dengan mesin pengering tidak diharuskan karena membutuhkan biaya mahal.
2. Pengupasan kulit ( Hulling)
a. Hulling pada pengolahan kering bertujuan untuk memisahkan biji kopi dari kulit buah, kulit
tanduk dan kulit arinya.
b. Hulling dilakukan dengan menggunakan mesin pengupas (huller). Tidak dianjurkan untuk
mengupas kulit dengan cara menumbuk karena mengakibatkan banyak biji yang pecah.
Beberapa tipe huller sederhana yang sering digunakan adalah huller putar tangan (manual),
huller dengan pengerak motor, dan hummermill.
TEBU
PANEN DAN PASCA PANEN

Lebih dari separuh produksi tebu di dunia dipanen secara manual dengan tangan,khususnya yang
dilakukan di negara-negara yang berkembang. Pemanenan cara ini diawalidengan pembakaran
lahan. Api yang menyebar cepat akan membakar daun-daun, tetapimeninggalkan batang-batang yang
kaya air dan akar juga tidak rusak. Para pemanenkemudian memotong batang tepat di atas
tanah dengan parang. Pemanen tebu yang sudahterlatih dapat memotong 500 kg tebu dalam
satu jam. Panen dilakukan satu kali di akhir musim tanam dengan kriteria dan cara panen sebagai
berikut :

1. Ciri dan Umur PanenUmur panen tergantung dari jenis tebu:


a). Varitas genjah masak optimal pada < 12 bulan.
b).Varitas sedang masak optimal pada 12-14 bulan.
c). Varitas dalam masak optimal pada > 14 bulan.
2. Cara Panen
Ø Mencangkul tanah di sekitar rumpun tebu sedalam 20 cm.
Ø Pangkal tebu dipotong dengan arit jika tanaman akan ditumbuhkan kembali.Batang dipotong
dengan menyisakan 3 buku dari pangkal batang.
Ø Mencabut batang tebu sampai ke akarnya jika kebun akan dibongkar. Potongakar batang dan 3
buku dari permukaan pangkal batang.
Ø Pucuk dibuang.
Ø Batang tebu diikat menjadi satu (30-50 batang/ikatan) untuk dibawa ke pabrik untuk segera
digiling.

RENDEMEN TEBU
Proses kemasakan tebu merupakan proses yang berjalan dari ruas ke ruas yang tingkat
kemasakannya tergantung pada ruas yang yang bersangkutan. Tebu yang sudah mencapai
umur masak, keadaan kadar gula di sepanjang batang seragam, kecuali beberapa ruas di
bagian pucuk dan pangkal batang. Usahakan agar tebu ditebang saat rendemen pada posisi
optimal yaitu sekitar bulan Agustus atau tergantung jenis tebu. Tebu yang berumur 10 bulan
akan mengandung saccharose 10 %, sedang yang berumur 12 bulan bisa mencapai 13 %.
KAKAO
Penanganan pasca panen kakao
Buah dipanen » dikumpulkan » dikelompokan menurut kelas kematanganya » buah dipecah
kulitnya tanpa melukai biji » biji di tampung dalam wadah.
Pengolahan
1. Fermentasi
Dilakukan untuk meningkatkan aroma dan rasa, melepas pulp selama 4-6 hari dan di balik
tiap hari dan kemudian dicuci selama 2 jam.
2. Pengeringan
Pengeringan dilakukan selama 32 jam dengan suhu 65-68˚C dengan sinar matahari dan di
balik setiap 3 jam, jika menggunakan pengeringan buatan selama 24 jam dengan suhu 46-
50˚C yang dimasukan kedalam peti pengeringan, sehingga berat menjadi berkurang sampai
37%.
3. Sortasi dan Penyimpanan
· Sortasi biji, kemurnian, warna, bahan ikutan, jamur.
· Biji yang bermutu baik beratnya ≥ 1 gram.
· Kelas A : 90-100 butir setiap 100 gram contoh.
· Kelas B : 100-110 butir100 gram contoh.
· Kelas C : 110-120 butir setiap 100 gram contoh.
· Berat maksimal setiap karung 60 kg.

LADA
Tanaman lada mulai dipanen pada umur 3 tahun, dengan interval dari mulai berbunga
sampai buah siap panen pada usia 9 bulan setelah penyerbukan. Ciri buah lada mulai dapat
dipanen apabila dalam satu tangkai ada yang masak (buah berwarna merah 3–5 butir). cara
memanennya yaitu dengan memetik tangkai dan seluruh buahnya. Waktu panen pagi hari.
Tahap Pemanenan Lada
Ø Ciri dan Umur Panen
Panen pertama umur tiga tahun atau kurang. Ciri-ciri: tangkainya berubah agak kuning dan
sudah ada buah yang masak (berwarna kuning atau merah).
Ø Cara Panen
Pemetikan dari buah bagian bawah hingga buah bagian atas, dengan mematahkan persendian
tangkai buah yang ada diketiak dahan.
Ø Periode Panen
Periode panen sesuai iklim setempat, jenis lada yang ditanam dan intensitas pemeliharaan.

TEMBAKAU
Panen dan Pascapanen
Waktu panen dan cara penanganan pasca panen tembakau sangat tergantung pada
jenis tembakaunya. Berikut diuraikan pemanenan dan penanganan pasca panen beberapa
jenis tembakau yang diusahakan di Indonesia.
Tembakau Burley BAT Bondowoso
Umur Panen
Kriteria waktu panen tembakau dapat dilihat dari gejala tingkat kematangan daun di pohon
sebagai berikut

· Daun bawah (3-4 lembar) mendekati kehijau-hijauan dan gagangnya keputih-


putihan.

· Daun tengah (4-6 lembar) berwarna “kuning kenanga”.

· Daun atas (6-9 lembar) dan daun pucuk (4-7 lembar) telah matang benar.

Cara Pemetikan
Pemetikan daun tembakau Burley dilakukan dengan dua cara yaitu petik biasa
(reaping) dan tebang batang ( stalk cutting). Reaping dilakukan dengan memetik daun-daunya
saja, sedangkan stalk cutting dilakukan dengan menebang batang tembakau beserta daunnya
tepat pada pangkal batang.
Untuk mendapatkan hasil yang tinggi tembakau burley biasanya diperlakukan reaping
paling banyak dua kali dan selanjutnya stalk cutting. Pemetikan pertama daun tembakau
Burley dilakukan pada saat tanaman berumur 65-70 har, dengan jumlah daun yang dipetik 2-
3 lembar. Stalk cutting dilakukan apabila daun pucuk kelihatan sudah cukup tua (berwarna
kuning) dengan umur tanaman 90-100 HST.
Saat pemetikan (pagi, siang dan sore) berpengaruh terhadap kualitas daun tembakau.
Saat pemetikan tembakau burley yang baik adalah pada pagi hari.
Sortasi Pendahuluan
Sortasi pendahuluan dilakukan terhadap daun hijau tembakau Burley untuk
memisahkan daun yang agak muda (immature), daun kurang tua (unripe), daun tua (ripe) dan
daun yang rusak. Sortasi ini dilakukan dengan tujuan untuk memudahkan proses
pengeringan, memudahkan grading setelah pengeringan, memudahkan penentuan harga jual
dan memudahkan pemasaran.
Pengeringan (Curing)
Dalam pengeringan dilakukan penurunan kadar air dari 80 – 90%. Selama
pengeringan terjadi proses aging yaitu pembentukan warna dan pengeringan. Pengeringan
dilakukan di dalam Los. Tembakau Burley ini termasuk ke dalam jenis pengeringan air cured.
Pengeringan dilakukan selama ± 22 hari sampai diperoleh krosok yang baik. Setelah itu
krosok diunting (diikat beberapa lembar krosok) kemudian dipak/dibal dengan bobot 1 bal 50
– 60 kg dan dibungkus dengan tikar.
Tembakau Cerutu Vorstenlanden
Pemetikan
Pemetikan daun dilakukan secara bertahap, kriteria tanaman siap dipanen yaitu
setelah tanaman berumur 50 hari, 60 – 70% dari populasi telah membentuk kuncup bunga,
warna daun “menongo bener” (hijau seperti bunga kenanga), sudut daun telah melebar atau
merunduk daun mudah dipetik dan tanaman dalam kondisi segar. Jenis dan banyaknya daun
yang akan dipetik terdiri dari : 2 lembar daun tanah/pasir (DT), 6 lembar daun koseran
pertama (DKP) 10 lembar daun koseran atas (DKA), 4 lembar daun madya pertama (DMP) 6
lembar daun madya tengah (DMT) dan 4 lembar daun madya atas (DMA).
Pemetikan dilakukan pada pukul 06.00 – 08.00 pagi secara manual, pemetikan pada
pagi hari akan menghasilkan krosok yang berwarna lebih cerah daripada sore hari.
Pengeringan
Pengeringan tembakau cerutu Vorstenlanden pada prinsipnya menggunakan sistem air
curing. Tembakau dikeringkan di dalam Los dengan tinggi bangunan sekitar 12 m. Pada
bagian atap dan dinding terdapat jendela yang berfungsi untuk mengatur kelembaban udara di
dalamnya. Pada malam hari bila kelembaban udara terlalu tinggi, jendela ditutup dan
dilakukan pengomprongan (pengeringan buatan dengan bahan sekam, kayu, atau briket
batubara). Pada siang hari jendela dibuka agar kelembaban dalam ruang pengering tersebut
turun. 1 Los (bangunan pengering) terdiri dari 30 kamar yang mampu menampung 2.100
dolok (1 dolok terdiri dari 50 lembar daun). Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam Los
pengering adalah sortasi, sunduk, pendolokan dan penyusunan daun, penaikan dan pelolosan.
Setelah pengeringan dilakukan fermentasi yaitu proses biokimiawi yang melibatkan
sejumlah enzim yang terdapat dalam krosok terhadap sulfat atau senyawa protein dan
polisakarida. Dalam proses fermentasi terjadi perubahan-perubahan seperti penurunan berat
6-18 %, pembebasan tanah, penyerapan udara, pembebasan CO2, Pembebasan NH3 dan
penurunan kadar air 14 – 20 %. Fermentasi juga menyebabkan terbentuknya aroma, warna
krosok menjadi lebih gelap dan merata serta teksturnya lebih halus. Setelah fermentasi krosok
kemudian disusun dalam tumpukan atau stapel berukuran 4 m x 5 m dengan berat 2 -2,5 ton.
Stapel kemudian ditutup rapat sampai suhunya mencapai 42 – 430C. Selanjutnya krosok
dipak dalam satu bal dengan berat 80 kg dengan ukuran panjang 100 cm lebar 70 cm dan
tinggi 22 cm. Untuk penyimpanan di gudang dilakukan fumigasi untuk mencegah serangan
serangga gudang dengan insektisida Phostoxin dengan dosis 0,75 tablet/m3 setiap 40 hari
sekali.

Tembakau Rajangan Temanggung


Panen dilakukan secara bertahap, pemetikan daun sebanyak 5 – 8 kali tergantung
kemasakan dan jumlah daun. Saat panen biasanya dimulai apabila sudah ada berita tentang
dimulainya pembelian tembakau rajangan oleh pabrik rokok atau gudang mulai buka. Panen
daun tembakau dilakukan 10 – 15 hari sebelum awal pembelian tembakau rajangan.
Pemetikan daun dimulai dari bawah, dipetik 2 – 3 lembar daun setiap kali petik. Daun yang
siap panen ditandai oleh perubahan warna daun, dari hijau menjadi kuning kehijauan, warna
tulang daun putih/hijau terang, tepi daun mengering, permukaan daun agak kasar dan tangkai
daun mudah dipatahkan. Waktu panen pagi hari setelah embun menguap sampai siang hari.
Apabila waktu panen turun hujan, maka daun yang cukup matang segera dipetik atau ditunda
6-8 hari. Daun yang telah dipetik segera diproses atau diolah menjadi tembakau rajangan.
Pengolahan tembakau rajangan terdiri dari 3 tahap kegiatan, yaitu Pemeraman, perajangan
dan penjemuran.
Sebelum diperam, daun tembakau disortasi agar diperoleh daun hijau yang ukurannya
seragam. Pemeraman dilakukan dengan cara mengatur daun, yaitu didirikan di rak
pemeraman. Lamanya pemeraman tergantung dari posisi daun pada batang. Daun koseran
( daun bawah), lama pemeraman 1-2 malam (24 – 48 jam) dengan warna daun peraman hijau-
kekuningan. Daun tengah memerlukan waktu peraman 3 – 5 malam (72-120 jam) dengan
warna peraman hijau kekuningan sampai kuning merata. Sedangkan daun tengah yang tebal
dan daun atas memerlukan waktu peraman 4 – 7 malam (96 – 168 jam) dengan warna daun
peraman kuning merata sampai kuning kemerahan.
Setelah daun tembakau diperam, selanjutnya dilakukan perajangan. Perajangan
dimulai pada tengah malam sampai pagi dengan tujuan hasil rajangan dapat segera dijemur
pada pagi harinya. Tebal irisan (rajangan) daun tembakau temanggung antara 1.5 mm – 2.0
mm, pisau yang digunakan untuk merajang harus selalu tajam agar hasil rajangannya baik
dan seragam. Setelah daun tembakau dirajang, kemudian tembakau rajangan dicampur merata
(digagrak) dan diratakan di atas “widig” atau “rigen” untuk dijemur.
Penjemuran hasil rajangan harus kering dalam 2 hari, tergantung panas matahari. Pada
hari pertama rajangan di balik apabila lapisan atas sudah cukup kering, pekerjaan ini
dilakukan kira-kira pukul 10.00 – 11.00. Pada malam harinya, rajangan diembunkan untuk
memperoleh warna hitam. Pada hari kedua, penjemuran dimulai pada siang hari sampai
rajangan tembakau lemas kembali. Setelah rajangan tersebut kering, kemudian dimasukkan
kedalam keranjang bambu. Di dalam satu keranjang berisi tembakau rajangan yang sama
mutunya. Selanjutnya tembakau rajangan siap dijual ke “gudang perwakilan pabrik rokok”
atau kepada “tengkulak pengumpul”.