Anda di halaman 1dari 8

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyebab kematian nomor

tiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran

pernapasan (ISPA) pada semua golongan umur. TB paru juga

penyebab penyakit nomor satu pada kelompok penyakit menular atau

penyakit infeksi. (WHO, 2011)

Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatan

yang menjadi perhatian bagi bangsa indonesia dan dunia. Tuberkulosis

adalah suatu infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri

Mycobacterium Tuberculosis, yang dapat menyerang berbagai organ,

terutama paru-paru. Penyakit ini bila tidak diobati atau pengobatannya

tidak tuntas dapat menimbulkan komplikasi berbahaya hingga

kematian. World Health Organization dalam Global Tuberculosis Report

2015 menyatakan terdapat 22 negara dinyatakan sebagai high-burden

countries terhadap TB, termasuk indonesia. (WHO, 2015)

Di seluruh dunia, TB adalah salah satu dari 10 penyebab utama

kematian. Penyebab utama dari agen infeksi tunggal (di atas

HIV/AIDS). Jutaan orang terus jatuh sakit dengan TB setiap tahun.

(WHO, 2018).
2

Menurut World Health Organization Pada tahun 2017, jumlah

terbesar kasus TB baru terjadi di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik

Barat, dengan 62% kasus baru, diikuti oleh wilayah Afrika, dengan 25%

dengan kasus baru. Jumlah 87% kasus TB baru terjadi di 30 negara

dengan TB tinggi. Delapan negara menyumbang dua pertiga dari kasus

TB baru: India, Cina, Indonesia, Filipina, Pakistan, Nigeria, Bangladesh,

dan Afrika Selatan. Diperkirakan 10,4 juta orang jatuh sakit dengan TB

di Indonesia 2016: 90% adalah orang dewasa, 65% adalah pria, 10%

adalah orang-orang hidup dengan HIV. (WHO, 2017)

TB paru adalah tantangan kesehatan masyarakat di seluruh

dunia. Di atas 90% kasus kematian TB global terjadi di Negara

berkembang dimana juga 75% kasus berada dalam kelompok usia

produktif 15-54 tahun. (Cherinet Gugssa Boru. 2017)

Propinsi Sulawesi Selatan menduduki peringkat ketujuh

dengan jumlah penemuan kasus baru TB di Indonesia di bawah Jawa

Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Banten

dan Sumatera Selatan dengan jumlah 8.508 (4.910 laki-laki, 3.598

wanita) kasus, dengan penderita TB paru BTA positif sebanyak 4.314

kasus (2.529 laki-laki, 1.785 wanita). (Kemenkes RI, 2017). Pada

tahun 2015 jumlah kasus TB BTA positif di propinsi Sulawesi Selatan

terbanyak terdapat di Kota Makassar sebesar 1.928 kasus yaitu 1.205

(62,5%) pada laki-laki dan 723 (37,5%) pada wanita. Sedangkan jumlah

seluruh kasus TB di Kota Makassar sebesar 3.639 kasus yaitu 2.192


3

(60,24%) pada laki-laki dan 1.447 (39,76%) pada wanita. Kasus TB

pada anak umur 0-14 tahun di Kota Makassar sebesar 210 kasus.

Angka kesembuhan (Cure Rate) Kota Makassar sebesar 1.214

(73,09%) dari 1.661 pasien TB BTA positif yang diobati (Profil

Kesehatan Sulawesi Selatan, 2015).

Kunci sukses penanggulangan tuberkulosis adalah

menemukan penderita dan mengobati penderita sampai sembuh. World

Health Organization (WHO) telah merekomendasikan upaya diagnosis

melalui pemeriksaan dahak langsung dan pengobatan menggunakan

Obat Anti Tuberkulosisj (OAT), serta metode pengobatan pasien

dengan pola rawat jalan. Pada tahun 1977 mulai diperkenalkan

pengobatan jangka pendek (6 bulan) dengan menggunakan panduan

Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Atas dasar keberhasilan uji coba yang

ada, mulai tahun 1995 secara nasional strategi Directly Observed

Treatment Short Course (DOTS) diterapkan bertahap melalui

puskesmas

Berdasarkan data awal yang diperoleh di Puskesmas Kaluku

Bodoa pada tahun 2016 jumlah pasien sebanyak 133 orang dan tahun

2017 sebanyak 211 pasieb nenderita TB paru. Hal ini menunjukkan

bahwa terjadi peningkatan kasus TB. Terdapat pula pasien yang drop

out (DO) pada tahun ada 10 orang yang putus berobat dan ditahun

2017 sebanyak 16 orang.


4

TB paru dapat disembuhkan dengan program pengobatan.

Pengobatan ini bertujuan menyembuhkan pasien dan memperbaiki

produktivitas serta kualitas hidup, mencegah terjadinya kematian,

mencegah terjadinya kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan

mencegah terjadinya penularan TB resistan obat (Kemenkes RI, 2014).

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit dengan risiko

penularan yang tinggi. Salah satu penentu keberhasilan

penatalaksanaan terapi tuberkulosis yaitu kepatuhan pasien terhadap

terapi. (Sari et al, 2016). Kepatuhan tersebut dipengaruhi oleh beberapa

faktor seperti penderita merasa bosan dengan program pengobatan

yang lama, penderita merasa tidak nyaman dengan efek samping yang

ditimbulkan oleh obat tersebut, penderita lupa membawa obat saat

bepergian jauh, penderita malas saat pengambilan obat karena lokasi

puskesmas yang terlalu jauh dari rumah penderita, dan penderita

merasa dirinya telah sembuh karena tidak ada gejala yang timbul

sehingga memutuskan untuk tidak meminum obat. Selain itu, juga

terdapat 3 responden mengatakan bahwa sering mengalami kesulitan

bila meminum obat setiap hari, adanya perasaan tidak mampu

menjalani pengobatan selama 6 bulan. Hal ini dapat berujung pada

ketidakpatuhan minum obat bahkan putus obat. (Novitasari, 2017).

Kepatuhan dipengaruhi oleh 5 dimensi sebagaimana yang

dijelaskan dalam buku panduan WHO tahun 2003 mengenai

pengobatan jangka lama, yaitu : faktor sosial dan ekonomi; kemiskinan,


5

kondisi kehidupan yang tidak stabil, jarak ke tempat pengobatan, dan

budaya kepercayaan terhadap sakit dan pengobatan), faktor penderita;

pengetahuan dan kepercayaan penderita tentang penyakit mereka,

motivasi untuk mengatur pengobatan, dan harapan terhadap

kesembuhan penderita dapat mempengaruhi perilaku kepatuhan

penderita, faktor terap; komplektisitas regimen obat, durasi pengobatan,

kegagalan pengobatan sebelumnya, kesiapan terhadap adanya efek

samping, dan ketersediaannya dukungan tenaga kesehatan terhadap

penderita, faktor kondisi; keparahan gejala, tingkat kecacatan, progres

penyakit, adanya pengobatan yang efektif, faktor pemberi layanan

kesehatan; kurangnya pengembangan sistem kesehatan yang dibiayai

oleh asuransi, kurangnya sistem distribusi obat, dan ketidakmampuan

membangun dukungan komunitas dan manajemen penderita.

Menurut Gouhg (dalam Novitasari, 2017), ketidakpatuhan

juga akan meningkatkan terjadinya drug resistance, dimana bakteri

basil tidak akan sensitif terhadap antibiotik tertentu. Apabila hal ini

terjadi pada beberapa obat maka terjadi Multi Drug Resistance pada

seorang penderita yang membuat pengobatan akan lebih sulit.

Pengobatan dan perawatan TB menjadi suatu proses panjang dimana

pasien memerlukan strategi untuk mengelola penyakitnya. Menurut Lev

dan Owen (1998) dalam Kara & Alberto (2006) menyebutkan pasien

yang memiliki rasa percaya diri terhadap kemampuan mereka dalam

melakukan perilaku perawatan diri akan lebih mungkin untuk benar-


6

benar melakukan tugas tersebut. Oleh karena itu individu dengan

efikasi diri yang lebih tinggi akan lebih mampu untuk mengelola

penyakitnya

Peterson & Bredow (2004) tentang teori sosial kognitif

menjelaskan bahwa efikasi diri adalah keyakinan seseorang terhadap

kemampuannya dalam mengatur dan melaksanakan suatu tindakan

yang ingin dicapai. Keyakinan tentang efikasi diri akan memberikan

dasar motivasi, kesejahteraan dan prestasi seseorang. Bandura (1994)

menjelaskan efikasi diri adalah keyakinan seseorang tentang

kemampuan mereka untuk mencapai suatu tingkat kinerja yang

mempengaruhi setiap peristiwa dalam hidupnya.

Permatasari (dalam Sapiq, 2015) menyebutkan Efikasi diri

memberikan konstribusi terhadap pemahaman yang lebih baik dalam

proses perubahan perilaku kesehatan sehingga efikasi diri sangat

penting untuk meningkatkan pengetahuan, perilaku, dan keterampilan.

Selain itu, ia juga menyatakan bahwa individu dengan efikasi diri tinggi

akan cenderung mengalami peningkatan yang signifikan terhadap

kepatuhan pengobatan, diet rendah garam, terlibat dalam aktivitas fisik,

tidak merokok, dan melakukan manajemen berat badan. Berdasarkan

uraian ersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait

hubungan antara self efficacy dengan kepatuhan minum obat pada

pasien TB paru.

B. Rumusan Masalah
7

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dirumuskan masalah

sebagai berikut:

1. Bagaimana mengidentifikasi self efficacy pada penderita TB paru

yang menjalani pengobatan TB di puskesmas Kaluku Bodoa?

2. Bagaimana mengidentifikasi kepatuhan minum obat pada pasien TB

paru yang menjalani pengobatan TB di puskesmas Kaluku Bodoa?

3. Bagaimana menganalisa hubungan self efficacy dengan kepatuhan

minum obat pada pasien TB paru yang menjalani pengobatan TB di

puskesmas Kaluku Bodoa?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Tujuan umum dari penelitian adalah untuk mengetahui

hubungan Self Efficacy dengan kepatuhan minum obat pada

penderita TB paru di puskesmas Kaluku Bodoa

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui. self efficacy pada penderita TB paru yang menjalani

pengobatan TB di puskesmas Kaluku Bodoa.

b. Mengetahui kepatuhan minum obat pada pasien TB paru yang

menjalani pengobatan TB di puskesmas Kaluku Bodoa

c. Mengetahui hubungan self efficacy dengan kepatuhan minum obat

pada pasien TB paru yang menjalani pengobatan TB di

puskesmas Kaluku Bodoa.

D. Manfaat Penelitian
8

1. Bagi Peneliti

Hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan dan

menambah wawasan mengenai hubungan self efficacy dengan

kepatuhan minum obat pada pasien TB paru.

2. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat

meberikan informasi dan menjadi referensi tentang self efficacy dan

kepatuhan dalam minum obat penderita TB paru dalam

meningkatkan kepatuhan agar proses pengobatan jangka panjang

bisa tercapai serta angka kesembuhan dapat optimal.

3. Bagi Praktis

a. Bagi pasien penderita tuberkulosis sebagai gambaran tentang

pentingnya kepatuhan minum obat dalam program pengobatan

jangka waktu panjang untuk mencapai kesembuhan.

b. Bagi keluarga diharapkan dengan dukungan yang posistif dapat

meningkatkan kepatuhan dalam minum obat sehingga tujuan

dalam pengobatan dapat tercapai.

c. Bagi pihak medis khususnya di Puskesmas Kaluku Bodoa hasil

penelitian ini dapat dijadikan informasi yang objektif mengenai

hubungan self efficacy dengan kepatuhan minum obat pada

penderita TB paru.