Anda di halaman 1dari 31

PROCTITIS

1. Etiologi

Proctitis adalah peradangan pada lapisan mukosa rektum yang dapat


terjadi secara akut maupun kronis yang umum terjadi di seluruh lapisan
masyarakat dari berbagai kelompok ekonomi dan usia.
Faktor yang mempengaruhi seseorang mendapatkan penyakit ini
adalah melakukan hubungan sex dengan sesama jenis (homosexual)
sehingga mendapat infeksi gonorrhoe (kencing nanah), Herpes Simplex
Virus, Treponema pallidum, Human Imunodefficiency Virus, Candida, dan
C. Trachomatis. Proctitis juga dapat disebabkan karena seseorang
mengkonsumsi makanan yang mengandung bakteri Giardia, Entamoeba,
Campylobacter, Shigella dan Hepatitis A. Inflammatory Bowel Diseases,
seperti penyakit Crohn’s atau colitis ulseratif (ulkus kronik yang sering
berulang pada usus besar) juga dapat menyebabkan terjadinya Proctitis.
Kondisi-kondisi seperti diversion, iskemia dan terpapar radiasi dapat
menyebabkan Proctitis. Penyebab lain yang tidak diketahui disebut juga
Proctitis idiopatik.

2. Patogenesa

Berbagai faktor yang dapat menyebabkan proctitis diantaranya


disebabkan oleh virus atau bakteri yang mnyebabkan respon imun dalam
menfagositosis dan membasmi benda asing yang masuk sehingga dapat
menyebabkan terus berlangsungnya peradangan dalam dinding rektum.
Pada permulaan penyakit, timbul edema dan kongesti mukosa. Edema dapat
mengakibatkan kerapuhan hebat sehingga dapat terjadi perdarahan akibat
trauma ringan, seperti gesekan ringan pada permukaan. Pada penyakit yang
kronis dapat menimbulkan terowongan dalam mukosa. Mukosa kemudian
terkelupas dan menyisakan daerah tidak bermukosa (tukak). Tukak mula-
mula tersebar dan dangkal tetapi pada stadium yang lebih lanjut,
permukaaan mukosa yang hilang dapat menjadi luas sehingga
mengakibatkan hilangnya jaringan, protein, dan darah dalam jumlah
banyak. Begitu pula dengan terapi radiasi pada penyakit tertentu hal ini juga
dapat menyebabkan kerusakan sel-sel mukosa rektum sehingga terjadi
iritasi rektum dan kerusakan saraf di rektum. Kerusakan saraf di rektum
dapat menimbulkan spasme sfingter otot anal dan rasa ingin defekasi yang
mendesak yg tidak dapat di kontrol, banyak kelainan patologis yang dapat
ditimbulkan.

3. Manifestasi Klinis

Gejala proctitis berbeda tergantung pada penyebabnya.

 Gejala yang paling umum adalah bahwa adanya dorongan terus untuk
buang air besar. Rektum terasa "penuh" atau bisa mengalami sembelit (tidak
dapat memiliki gerakan usus).
 Gejala ringannya seperti nyeri di daerah anus dan iritasi ringan rektum.
 Gejala yang lebih serius dapat terjadi, seperti nanah dan darah pada cairan
disertai spasme dan rasa sakit saat buang air besar.

 Jika mengalami perdarahan berat yang berhubungan dengan proctitis,


mungkin menyebabkan anemia (karena kehabisan darah). Seseorang yang
anemia biasanya memiliki kulit pucat, lekas marah, lemah, pusing , kuku
rapuh, dan sesak napas.

4. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan colok dubur (rectal toucher)

Pemeriksaan ini sangat penting untuk dapat kita peroleh informasi


penting untuk menegakan diagnosa. Tetapi pemeriksaan ini sering
terabaikan. Begitu pentingnya hingga pernah dicetuskan bahwa tidak ada
telunjuk untuk colok dubur, boleh digunakan jari kaki untuk colok dubur.
Pemeriksaan Laboratorium

1. Tes darah lengkap


Tes lengkap ini dilakukan untuk mengevaluasi kehilangan darah atau
infeksi. Orang dengan proctitis mungkin memiliki jumlah sel darah putih
tinggi yang terjadi bila ada peradangan atau tubuh memerangi infeksi. Jika
mencurigai adanya masalah pembekuan darah, mungkin dilakukan
pemeriksaan darah yang lebih spesifik.
2. Tes tinja
Tes tinja dilakukan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi bakteri yang
dapat menyebabkan penyakit dan screning PMS ( penyakit menular
seksual) yang terkait dengan proctitis. Untuk pemeriksaan sebaiknya
berasal dari defekasi spontan, jika pemeriksaan sangat diperlukan boleh
juga sampel tinja diambil dengan jari bersarung dari rectum. Untuk
pemeriksaan biasa dipakai tinja sewaktu, jarang dipakai tinja 24 jam untuk
pemeriksaan tertentu. Jika akan memeriksa tinja, pilihlah selalu sebagian
dari tinja itu yang memberi kemungkinan sebesar-besarnya untuk menemui
kelainan. Selain itu pada test tinja ini dapat dinilai warna, bau, konsistensi,
lendir dan darah. Seperti test darah samar sangat penting sekali untuk
mengetahui adanya perdarahan kecil yang tidak dpat dinyatakan secara
makroskopis atau mikroskopis.
3. Biopsi
Dokter juga dapat mengambil biopsi atau sepotong kecil jaringan dari dubur
untuk menguji penyakit atau infeksi.
Pemeriksaan Penunjang
1. Endoscopi
sebuah tabung cahaya dengan kamera dilewatkan melalui anus dan
digunakan untuk melihat permukaan dubur dan kolon gambar di
proyeksikan di layar tv dan diperbesar untuk mengidentifikasi perubahan.
• Proktoskopi
Deteksi kelainan 8 – 10 cm dari anus
• Rektosigmoidoskopi
Deteksi kelainan 20 – 25 cm dari anus
• Kolonoskopy
Dapat mencapai seluruh kolon

2. X-ray abdomen dan pelvis.


Hal ini dapat dilakukan dengan kombinasi barium enema. Dalam
proses ini, bahan kontras (barium cair) dimasukkan ke dalam kolon melalui
anus. Setelah kolon dilapisi dengan barium, radiolog mengambil gambar X-
ray dari kolon. Gambar-gambar ini, yang dapat dilihat pada monitor video,
dapat mendeteksi kelainan-kelainan dalam usus besar.

3. USG
Tes pencitraan menggunakan gelombang suara untuk menyediakan
gambar kolon. Alat ini dapat membantu dalam mengesampingkan gangguan
lain, seperti penyakit inflamasi usus. Untuk prosedur, alat yang disebut
transduser yang memancarkan gelombang suara disepanjang abdomen.
Informasi yang ditangkap oleh transduser tersebut dikirim ke komputer
yang menghasilkan gambar.
4. Abdomen Computerized Tomography (CT) scan.
Terkadang CT-Scan digunakan untuk menyingkirkan kondisi-kondisi
lain yang dapat menyebabkan gejala yang mirip dengan proctitis. Tes ini
menggunakan teknologi canggih X-ray untuk menghasilkan gambar
penampang kolon, dan mungkin dapat mendeteksi penebalan dinding kolon.

5. Penatalaksanaan

Perawatan Medis

Pengobatan proctitis tergantung pada penyebab penyakit.


 Karena penyebab paling umum dari proctitis tetap penyakit menular seksual
pemberian antibiotik penting untuk membunuh organisme. Kehadiran satu
jenis infeksi juga menunjukkan adanya jenis-jenis penyakit menular
seksual, sehingga antibiotik pengobatan dapat diarahkan pada 2 atau lebih
organisme menular pada saat yang sama. Beberapa obat dapat diberikan
dalam suntikan tunggal.

Pembedahan
Jika penyakit timbul dari penyakit kronis, pembedahan mungkin
diperlukan atau rujuk kedokter spesialis.
Follow – Up
Follow up merupakan bagian dari terapi proctitis. Pemberian
antibiotik harus diselesaikan. Tidak melakukan hubungan seksual selama
terapi dan mengunjungi dokter setelah 1-2 minggu setelah peradangan
membaik atau melanjutkan terapi jika gejala bertambah buruk.

6. Differensial Diagnosa ( DD)


 Diverticulitis
Penyakit Diverticulitis adalah penyakit usus besar dimana muncul
kantong-kantong gelembung diluar usus besar. Gejala penyakit ini pasien
sering mengalami demam, diare, dan juga perut kembung. Penyebab dari
Diverticulitis adalah tekanan pada usus besar dan kurangnya makan
makanan berserat. Pada kasus Diverticulitis yang akut, harus dilakukan
pemotongan usus besar dan dibuat stoma pada permukaan perut.
Diverticulitis sering terjadi pada orang tua, namun juga bisa terjadi di usia
muda.

 Fisura anal
Fisura Anal adalah retak atau robeknya jaringan sensitif pada dubur
yang disebabkan oleh keluarnya feses (tinja) yang keras dan besar.
Gejalanya dapat berupa rasa nyeri ketika mengeluarkan feses yang keras
atau besar, ada bercak darah di kertas toilet atau celana dan gatal disekitar
dubur. Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur namun paling sering
terjadi pada bayi, anak-anak dan orang dewasa di atas 60 tahun dan lebih
sering terjadi pada perempuan dari pada laki-laki.

7. Komplikasi
 Severe bleeding
 Anemia
 Recto – vaginal fistulas ( women )
 Anal fistula
HEMOROID

A. Definisi

Hemoroid adalah pelebaran vena di dalam pleksus hemoroidalis


yang tidak merupakan keadaan patologik, hanya apabila hemoroid ini
menyebabkan keluhan atau peenyulit, maka diperlukan tindakan.

Hemoroid normalnya terdapat pada individu sehat dan terdiri dari


bantalan fibromuskular yang sangat bervaskularisasi yang melapisi saluran
anus. Hemoroid diklasifikasikan menjadi dua yaitu hemoroid eksterna
hemoroid interna.

1. Hemoroid eksterna merupakan pelebaraan dan penonjolan pleksus


hemoroidalis inferior, terdapat di sebelah distal garis mukokutan di dalam
jaringan di bawah epitel anus.

Ada 3 bentuk hemoroid eksterna yang sering dijumpai :

a. Bentuk hemoroid biasa tapi letaknya distal linea pectinea.

b. Bentuk trombosis atau benjolan hemoroid yang terjepit

c. Bentuk skin tags.

2. Hemoroid interna adalah kondisi dimana pleksus v. hemoroidalis


superior di atas garis mukutan dan ditutupi oleh mukosa. Hemoroid interna
ini merupakan bantalan vaskuler di dalam jaringan sub mukosa pada rektum
sebelah bawah. Hemoroid interna terdapat pada tiga posisi primer, yaitu
kanan depan (jam 11), kanan belakang (jam 7) dan lateral kiri (jam 3), yang
oleh Miles disebut “Three Primary Haemorrhoidal Areas”. Hemoroid yang
lebih kecil tedapat di antara ketiga letak primer tersebut dan kadang juga
sirkuler.

Hemoroid interna dibagi menjadi 4 derajat yaitu :

1. Derajat I :
 Terdapat perdarahan merah segar pada rectum pasca defekasi
 Tanpa disertai rasa nyeri
 Tidak terdapat prolaps
 Pada pemeriksaan anoskopi terlihat permulaan dari benjolan hemoroid yang
menonjol ke dalam lumen
2. Derajat II :
 Terdapat perdarahan/tanpa perdarahan sesudah defekasi
 Terjadi prolaps hemoroid yang dapat masuk sendiri (reposisi spontan)

Hemorrhoid Grade II
3. Derajat III :
 Terdapat perdarahan/tanpa perdarahan sesudah defekasi.
 Terjadi prolaps hemoroid yang tidak dapat masuk sendiri jadi harus didorong
dengan jari (reposisi manual)
4. Derajat IV :
 Terdapat perdarahan sesudah defekasi
 Terjadi prolaps hemoroid yang tidak dapat didorong masuk (meskipun
sudah direposisi akan keluar lagi)
Hemorrhoid Grade IV

B. Etiologi

Penyebab hemoroid tidak diketahui, konstipasi kronis dan mengejan


saat defekasi mungkin penting. Mengejan menyebabkan pembesaran dan
prolapsus sekunder bantalan pembuluh darah hemoroidalis. Jika mengejan
terus menerus, pembuluh darah menjadi berdilatasi secara progresif dan
jaringan sub mukosa kehilangan perlekatan normalnya dengan sfingter
internal di bawahnya, yang menyebabkan prolapsus hemoroid yang klasik
dan berdarah.

Selain itu faktor penyebab hemoroid yang lain yaitu : kehamilan,


obesitas, diet rendah serat dan aliran balik venosa.

C. Gejala dan Tanda

1. Perdarahan
Perdarahan umumnya merupakan tanda pertama hemoroid interna
akibat trauma oleh feces yang keras. Darah yang keluar adalah darah segar
yang tidak bercampur dengan feces (hematochezia), dengan kuantitas yang
bervariasi, kadang menetes tapi kadang juga memancar deras. Bila
perdarahan ini terjadi berulang-ulang dapat menyebabkan anemia.

2. Nyeri hebat
3. Benjolan
Bila hemoroid semakin besar maka dapat menonjol keluar, mula-mula
hanya waktu defekasi dan setelah selesai defekasi benjolan tersebut dapat
masuk sendiri secara spontan (derajat II). Tahap berikutnya setelah keluar
waktu defekasi tidak dapat masuk sendiri dan harus dimasukan secara
manual (derajat III). Kemudian hemoroid dapat berlanjut menjadi bentuk
yang mengalami prolaps menetap dan tidak dapat didorong masuk lagi.
(derajat IV)
4. Keluarnya Mukus dan Feces pada pakaian dalam
5. Pruritus ani

D. Pemeriksaan

1. Inspeksi
Pada inspeksi, hemoroid eksterna mudah terlihat apalagi sudah
mengandung trombus. Hemoroid interna yang prolaps dapat terlihat sebagai
benjolan yang tertutup mukosa. Untuk membuat prolaps dapat dengan
menyuruh pasien untuk mengejan.
2. RT
Pada colok dubur, hemoroid interna biasanya tidak teraba dan juga
tidak sakit. Dapat diraba bila sudah ada trombus atau sudah ada fibrosis.
Trombus dan fibrosis pada perabaan padat dengan dasar yang lebar.
3. Anoskopi
Dengan cara ini kita dapat melihat hemoroid interna. Penderita
dalam posisi litotomi. Anaskopi dengan penyumbatnya dimasukkan dalam
anus sedalam mungkin, penyumbat diangkat dan penderita disuruh bernafas
panjang. Benjolan hemoroid akan menonjol pada ujung anaskop. Bila perlu
penderita disuruh mengejan supaya benjolan dapat kelihatan sebesar-
besarnya.
Pada anaskopi dapat dilihat warna selaput lendir yang merah
meradang atau perdarahan, banyaknya benjolan, letaknya dan besarnya
benjolan.
4. Proktosigmoidoskopi
Pemeriksaan ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa keluhan
bukan disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat
yang lebih tinggi (rektum/sigmoid), karena hemoroid merupakan keadaan
fisiologik saja atau tanda yang menyertai.
5. Pemeriksaan Feces
Diperlukan untuk mengetahui adanya darah samar (occult
bleeding).

E. Diagnosa Banding

 Carcinoma kolorektal
 Divertikulitis
 Kolitis ulserosa
 Polip adenomatosa

F. Komplikasi
1) Perdarahan akut dan banyak dapat menyebabkan syok hipovolemik,
sedangkan perdarahan kronis berulang dapat menyebabkan anemia.
2) Hemoroid interna yang mengalami prolaps dapat menjadi irreponibel,
terjadi inkarserasi, dapat berlanjut menjadi trombosis melingkar dan dapat
menyebabkan nekrosis mukosa dan kulit yang menutupinya.
3) Emboli septik dapat terjadi melalui sistem portal dan dapat menyebabkan
abses hati.
4) Proktitis dapat berkembang menjadi abses, ini seringkali berlanjut menjadi
fistel ani.
5) Fisura ani yaitu koreng di saluran anus, berbentuk lonjong mulai dari linea
dentata sampai ke pinggir anus.

G. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan hemoroid tergantung pada macam dan derajat hemoroidnya.

1. Hemoroid Eksterna

Hemoroid eksterna atau skin tags biasanya tetap asimptomatik sampai


terjadi trombosis (hematom perianal). Kadang pasien mengeluh pruritus,
yang sebagian besarnya dapat diterapi dengan perbaikan higiene anus dan
krim kortikosteroid.
Hemoroid eksternal yang mengalami trombosis tampak sebagai
benjolan yang nyeri pada anal verge. Jika pasien membaik dan hanya
mengeluh nyeri ringan, pemberian analgesik, sitz baths, dan pelunak feses.
Tetapi jika pasien mengeluh nyeri yang parah, maka eksisi di bawah
anestesi lokal dianjurkan. Pengobatan secara bedah menawarkan
penyembuhan yang cepat, efektif dan memerlukan waku hanya beberapa
menit dan segera menghilangkan gejala.
Penatalaksanaan secara bedah yaitu pasien berbaring dengan posisi
menghadap ke lateral dan lutut di lipat (posisi seems), dasar hematom
diinfiltrasi dengan anestetik lokal. Bagian atas bokong didorong untuk
memaparkan trombosis hemoroid. Kulit dipotong berbentuk elips
menggunakan gunting iris dan forsep diseksi; hal ini dengan segera
memperlihatkan bekuan darah hitam yang khas di dalam hemoroid yang
dapat dikeluarkan dengan tekanan atau diangkat keluar dengan forsep. Pada
umumnya hanya ada sedikit perdarahan yang dapat dikontrol dengan
pemakaian pembalut gamgee (pembalut bedah dengan selapis tipis kapas
penyerap diantara dua lapis kasa penyerap) steril. Pasien dianjurkan untuk
mencucinya dengan larutan garam 2 kali sehari sampai sembuh sempurna.
Selain itu pasien dianjurkan kontrol untuk meyakinkan bahwa daerah
tersebut mengalami granulasi tanpa “roofing-over”, yang dapat merupakan
sumber masalah kekambuhan. Jika terlihat adanya proses “roofing” ini
maka dengan menekankan jari dengan hati-hati pada daerah tersebut akan
dapat meratakan jaringan granulasi dan memungkinkan terjadinya
penyembuhan normal.

2. Hemoroid Interna
Pengobatan hemoroid interna tergantung dari derajat hemoroidnya.

Hemoroid derajat I dan II


 Kebanyakan pasien hemoroid derajat I dan II dapat ditolong dengan
tindakan lokal yang sederhana disertai nasehat tentang makan. Makanan
sebaiknya terdiri atas makanan berserat tinggi, misalnya sayuran dan buah-
buahan. Bioflavonoid yang terdapat dalam varietas buah jeruk (citrus fruit),
berry, cherry, anggur, pepaya, melon kantalop (cantaloupe melon), prem
(plums) dan tomat, substansi tersebut diterapkan untuk penyembuhan
kerapuhan pembuluh darah kapiler (capilarity fragility), varises, dan
hemoroid. Makanan berserat tinggi ini membuat gumpalan isi usus menjadi
besar namun lunak, sehingga mempermudah defekasi dan mengurangi
keharusan mengedan secara berlebihan.
 Sclerosing therapy yaitu penyuntikan 5% penol dalam minyak nabati.
Penyuntikan diberikan ke submukosa di dalam jaringan areola yang longgar
di bawah hemoroid interna dengan tujuan menimbulkan peradangan steril
yang kemudian menjadi fibrotik dan meninggalkan parut.
 Bila krioprob tersedia, pengobatan krioterapi yang memuaskan dari
hemoroid derajat I dan II dapat diperoleh. Krioprob dikenakan ke hemoroid
dan dibiarkan 2 menit untuk membekukan.
 Foto-koagulasi infra-merah adalah salah satu cara yang paling sederhana,
paling aman dan paling cepat. Elektrokoagulasi jarang digunakan tetapi
dapat diterapkan untuk hemoroid derajat I, II bahkan III. Arus diaplikasikan
langsung ke dasar tiap hemoroid, menyebabkan destruksi jaringan.

Hemoroid Derajat III dan IV


Pengobatan dengan krioterapi pada derajat III dilakukan jika
diputuskan tidak perlu dilakukan hemoroidektomi.
Pengobatan dengan criyosurgery (bedah beku) dilakukan pada
hemoroid yang menonjol, dibekukan dengan CO2 atau NO2 sehingga
mengalami nekrosis dan akhirnya fibrosis. Tidak dipakai secara luas karena
mukosa yang dibekukan (nekrosis) sukar ditentukan luasnya.
Hemoroidektomi dilakukan pada pasien yang mengalami hemoroid
yang menahun dan mengalami prolapsus besar (derajat III dan IV). Ada 3
prinsip dalam melakukan hemoroidektomi yaitu pengangkatan pleksus dan
mukosa, pengangkatan pleksus tanpa mukosa, dan pengangkatan mukosa
tanpa pleksus.

Teknik pengangkatan dapat dilakukan menurut 2 metode :


 Metode Langen-beck : yaitu dengan cara menjepit radier hemoroid interna,
mengadakan jahitan jelujur klem dengan catgut crhomic No. 00,
mengadakan eksisi di atas klem. Sesudah itu klem dilepas dan jahitan
jelujur di bawah klem diikat, diikuti usaha kontinuitas mukosa. Cara ini
banyak dilakukan karena mudah dan tidak mengandung risiko pembentukan
jaringan parut sirkuler yang biasa menimbulkan stenosis.

 Metode whitehead : yaitu mengupas seluruh v. hemoroidalis dengan


membebaskan mukosa dari sub mukosa dan mengadakan reseksi sirkuler
terhadap mukosa daerah itu, sambil mengusahakan kontinuitas mukosa
kembali.

 Metode stapled : yaitu dengan cara mengupas mukosa rektum. Metode ini
lebih unggul dan lebih banyak dipakai karena perdarahannya dan nyeri post
operasinya berkurang dibandingkan dengan metode yang lain.
 Dalam melakukan operasi diperlukan narkose yang dalam karena sfingter
ani harus benar-benar lumpuh.

Hemorroidektomi Stappler
Tehnik operasi terbaru untuk hemoroid / wasir. Tindakan operasi ini
adalah tindakan yang amat minimal invasif. Dan dari penelitian yang
dilakukan, setelah operasi memakai tehnik ini rasa nyeri nya amat sangat
sedikit serta masa rawat inap nya lebih pendek dibandingkan tehnik operasi
yang konvensional. Meskipun banyak faktor juga yang mempengaruhi tapi
secara garis besar tehnik operasi ini lebih baik dibandingkan tehnik operasi
terdahulu dengan catatan hanya untuk kasus yang betul-betul
direkomendasikan untuk memakai tehnik ini. Sisa jaringan yang di eksisi
akan tetap berada seanatomis mungkin, artinya tidak banyak jaringan sehat
yang ikut rusak.

H. Diagnosa Banding (5,6)

Perdarahan juga dapat terjadi pada :

 Carcinoma kolorektal
 Divertikulitis

 Kolitis ulserosa
 Polip adenomatosa

Bila dicurigai penyakit-penyakit tersebut, maka perlu sigmoidoskopi atau


kolonoskopi Benjolan juga dapat terjadi pada :
 Ca. Anorektal
 Prolaps rekti (procidentia)

FISSURA ANI

Fissura ani adalah robeknya bagian superfisial anoderma secara


linier yang dapat disebabkan karena pelebaran jalan keluar akibat feses
yang mengeras. Robekan ini berada dibagian distal linea dentate. Fisura ani
merupakan salah satu gangguan anorektal yang banyak ditemukan baik
pada anak-anak maupun orang dewasa.
Fistula ani merupakan suatu peradangan saluran diantara anal kanal
dan kulit. Fistula dapat dibagi kedalam 4 kategori berdasarkan hubungan
fistula dengan otot sphincter, yaitu: intersphincteric, transsphincteric,
suprasphincteric, dan extrasphincteric.

A. Patofisiologi
 Keighley membagi fissura ani menjadi:

1. Fissura ani primer


- Akut
- Kronis
2. Fissura ani sekunder
Fissura ani primer tampak sebagai suatu superficial ulcer pada mukosa
anal di bawah linea dentata,apabila letaknya lebih ke proksimal hampir
dapat dipastikan merupakan fissura ani sekunder akibat penyakit lain.
Apabila feces yang keras melewati anal canal →akan terjadi perenggangan
dan merobek mucosa anal.

Fissura ani biasanya terjadi pada bagian anterior dan posterior, diduga
daerah ini merupakan daerah lemah. Ketika feses melewati anal canal,
massa akan disalurkan ke bagian anterior dan posterior oleh karena adanya
otot pada bagian lateral.Fissura akan meningkatkan kontraksi internal anal
sphincter dan meningkatkan tekanan istirahat pada anal canal. Peningkatan
tekanan menyebabkan iskemia pada area disekitar fissura. Adanya spasme
yang berulang pada anal canal dan adanya iskemia yang berlanjut akan
menyebabkan fissura menjadi kronis oleh karena ulkus yang tidak
dapatsembuh.

Dasar fissura ani akut merupakan suatu lapisan tipis putih yang melapisi
jaringan ikat submucosa dan otot longitudinal,yang menyebar dari
intersphinteric groove kemudian melapisi otot sirkular sphincter interna.
Sedangkan dasar dari fissura ani kronis tampak serat otot sphincer interna.
Pada fissura ani akut ulkus tampak berbatas tegas,tidak terdapat
indurasi,odema atau kavitasi. Pada fissura ani kronik tampak tepi ulkus
mengalami indurasi dan apabila proses berlanjut ulkus akan bertambah luas
dan bagian luar tampak odematous oleh karena adanya obstruksi
lymphatik,skin tag dan hypertropi papila anus dapat di temukan dalam
keadaan fissura ani kronis.

Infeksi dapat terjadi dan dapat menyebar ke atas menimbulkan abses


submukosa atau intersphincteric abses atau ke bawah menjadi perianal
abses di bawah skin tag. Adanya perianal abses yang persisten dapat
menimbulkan fistula superficial yang berjalan dari bagian bawah fissura
dan keluar pada skin tag. Fissura ani sekunder disebabkan krena beberapa
kelainan patologis seperti Crohn’s disease, tuberkulosa anus, AIDS, atau
setelah tindakan operasi pada daerah anus. Fissura ani akibat komplikasi
Crohn’s disease atau tuberkulosa biasanya tidak terasa nyeri.

B. Manifestasi Klinik
1. Anamnesis
 Nyeri didaerah rektum, biasanya digambarkan seperti rasa terbakar, rasa
terpotong, atau seperti terasa robekan.
 Nyeri sejalan dengan kontraksi usus; spasme anus perlu dicurigai terjadinya
fissura ani.
 Buang air besar berdarah :
- Khas, ditemukannya darah warna merah terang pada permukaan feses.
Darah biasanya tidak bercampur dengan feses.
- Kadang-kadang, darah ditemukan pada tisue toilet saat membersihkan anus.
 Mucoid discharge
 Pruritus
 Penderita fistula ani mengeluh timbul bau busuk dari bagian perianal,
pruritus, absces berulang, demam, atau nyeri didaerah perianal.
- Nyeri kadang hilang dengan sendirinya sejalan dengan terbukanya abses
atau terbentuknya saluran baru.
- Nyeri dirasakan saat duduk, bergerak, buang air besar, atau bahkan saat
batuk.
- Nyeri biasanya makin lama makin meningkat dan dapat dirasakan
sepanjang hari.
C. Pemeriksaan Fisik
1. Diawali dengan memposisikan penderita secara optimal; posisikan pasien
dalam posisi lateral decubitus dengan lutut ditekuk menempel pada nagian
dada.
2. Periksa pasien secara hati-hati untuk menghindari rasa nyeri. Saat
pemeriksaan dapat juga digunakan zat analgetik topikal seperti lidokain
jelly, sebelum dilakukan pemeriksaan rektal toucher.
3. Kebanyakan fissura ani dapat terlihat dari luar saat terjadi pergerakan usus.
4. Perhatikan dalamnya fissura dan posisinya dari garis tengah,
5. Robekan kebanyakan ditemukan dibagian posterior dari garis tengah.
6. Pemeriksaan rektum terkadang sulit dilakukan karena rasa sakit dan spasme
sphincter.
7. Fissura ani akut terlihat eritem dan mudah berdarah.
8. Fissura ani khronik ditandai dengan tiga gejala klasik sebagai berikut :
 Ulkus yang dalam
 Sentinel pile, dimana terbentuk saat bagian dasar fissura mengalami edema
dan hipertropi
 Papilla anal membesar
9. Pemeriksaan rektum pada penderita fistula ani dapat memperlihatkan
saluran dari fistula tersebut.
 Fistula dapat diidentifikasi sebagai lingkaran kecil granulasi jaringan,
dimana akan mengeluarkan pus saat ditekan.
 Saluran fistula yang terbuka dapat terlihat dengan bantuan anoskopi.
 Kelenjar getah bening inguinal dapat membesar dan sakit.
10. Pada fistula akut yang mengalami abses, tanda pasti inflamasi; rubor, dolor,
calor, dan tumor dapat ditemukan.
11. Lokasi abses pada fistula ani :
o Perianal(60%)
o Ischiorectal(20%)
o Intersphincteric(5%)
o Supralevator(4%)
o Submucosal(1%)

D. Terapi
Tindakan yang dapat dilakukan :
1. Penggunaan WASH regimen dalam menangani fissura ani.
 Warm water (air hangat)
 Analgesic
 Stool softener (melunakan feses)
 High-fiber diet (diet tinggi serat)
2. Fissura ani khronik sering memerlukan tindakan pembedahan. Kebanyakan
prosedur pembedahan biasanya dilakukan dengan melebarkan atau
memotong sphincter bagian dalam. Prosedur pembedahan yang sering
dilakukan adalah lateral internal sphincterotomy. Botulinum toxin juga
dapat digunakan sebagai alat terapi fissura ani.
3. Terapi fistula ani tergantung pada (1) keadaan penderita, (2) ada sepsis atau
abses yang besar, atau (3) tidak ditemukan hal yang membahayakan pada
pemeriksaan fisik.
4. Dapat diberikan antibiotik intravena, antipyretic, dan analgesic.
5. Obat-Obatan :
Antibiotik mungkin diperlukan dalam penanganan fistula ani, khususnya
pada penderita yang memperlihatkan tanda-tanda gejala sistemik.
1. Laxative/Zat pelunak
 Psyllium (Fiberall, Metamucil, Konsyl)
Dewasa : 1-2 wafers, 1-2 packets, or 1-2 sendok teh diencerkandalam 240
mL cairan 3x1
2. Muscle relaxant
 Diazepam (Valium) 5 mg/kg/d PO tid prn spasm 5-10 mg slow IV/IM
3. Antibiotics
 Metronidazole (Flagyl) Loading dose 1 g atau 15 mg/kg IV, kemudian 500
mg atau 7.5
mg/kg IV/PO q6h
 Ampicillin and sulbactam (Unasyn) 1.5-3 g IV/IM q6-8h
 Ticarcillin and clavulanate potassium (Timentin) 3.1 g IV q6h

DIVERTIKULOSIS

Penyakit divertikular (atau diverticulosis) merupakan keadaan di


mana terdapat banyak penonjolan mukosa yang menyerupai kantong
(divertikula) yang tumbuh dalam usus besar, khususnya kolon sigmoid
tanpa adanya inflamasi. Peradangan akut dari divertikulum menyebabkan
divertikulitis.

I. ETIOLOGI
Penyebab terjadinya divertikulosis ada 2 yaitu :
1. Peningkatan tekanan intralumen
Diet rendah serat menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan
intralumen kolon sehingga menyebabkan herniasi mukosa melewati lapisan
dinding otot kolon yang menebal dan memendek (sebuah kondisi yang
disebut-mychosis).
2. Kelemahan otot dinding kolon
Penyebab lain terjadinya divertikulosis adalah terdapat daerah yang
lemah pada dinding otot kolon dimana arteri yang membawa nutrisi
menembus submukkosa dan mukosa. Biasanya pada usia tua karena proses
penuaan yang dapat melemahkan dinding kolon.

II. PATOGENESIS
Divertikel saluran cerna paling sering ditemukan di kolon, khususnya
di sigmoid. Divertikel kolon adalan divertikel palsu karena terdiri dari
mukosa yang menonjol melalui mukosa otot seperti hernia kecil. Divertikel
sejati jarang ditemukan di kolon. Divertikel ini disebut divertikel pulsi
karena disebabkan oleh tekanan tinggi di usus bagian distal ini. Besarnya
dapat beberapa millimeter hinga dua sentimeter; leher divertikel atau
pintunya biasanya sempit, tetapi mungkin lebar. Kadang terbentuk fekolit
(batu feses) didalamnya.5
Divertikulosis sigmoid sering disertai obstipasi yang dipengaruhi oleh
diet, terutama makanan kurang berserat. Patogenesis dipengaruhi tekanan
intralumen dan defek dinding sigmoid. Tekanan intralumen bergantung
pada kepadatan feses yang meningkat bila kekurangan serat.5
Dikenal 3 gambaran anatomi penyakit divertikular yang khas : 3,9
- Penyakit Predivertikular :
Menunjukkan hipertrofi dari kedua otot sirkular dan longitudinal
(taenia coli) dengan tanpa disertai dengan penonjolan kantong yang dapat
diperlihatkan. Menebalnya taenia sering menyebabkan pemendekan dan
pengerutan dinding kolon yang bersangkutan.
- Divertikulosis :
Adanya penonjolan kantung dengan diameter 1mm sampai dengan
beberapa sentimeter yang menonjol ke dalam jaringan lemak perikolik atau
appendices epiploicae. Kelainan ini khususnya terdapat di antara taenia
mesenterika dan antimesenterika, jarang di taenia antimesenterium.
Secara histologist, dinding kantong hanya terdiri dari mukosa dan
submukosa dan biasanya tanpa lapisan otot sama sekali dan tanpa disertai
dengan inflamasi. Sering kantong berisi feses yang mungkin tidak dapat
segera dikeluarkan sebab leher divertikel lebih sempit dari kantongnya.

(a) (b)
Gambar 6. (a) Gambaran makroskopis divertikulosis
(b) Gambaran mikroskopis divertikulosis.
Dikutip dari kepustakaan no 10

- Divertikulitis :
Merupakan peradangan sekunder dari satu atau lebih divertikel yang
terjadi bila feses yang ada di dalam kantong mengalami pemadatan dan
kemudian disertai dengan infeksi sekunder e. coli dan organism enteric
lainnya. Sering terjadi perforasi kecil pada kantong.Sebuah divertikulum
merupakan penonjolan pada titik-titik yang lemah, biasanya pada titik
dimana pembuluh nadi (arteri) masuk ke dalam lapisan otot dari usus besar.
Kejang (spasme) diduga menyebabkan bertambahnya tekanan dalam usus
besar, sehingga akan menyebabkan terjadinya lebih banyak divertikula dan
memperbesar divertikula yang sudah ada.
Divertikulosis terbentuk bila mukosa dan lapisan submukosa kolon
mengalami herniasi sepanjang dinding muskuler yang mengalami
kelemahan yaitu pada titik tempat masuknya arteri ke dalam usus akibat
tekanan intraluminal yang tinggi, volume kolon yang rendah (isi kurang
mengandung serat), dan penurunan kekuatan otot dalam dinding kolon
(hipertrofi muskuler akibat massa fekal yang mengeras). Divertikulum
menjadi tersumbat dan kemudian terinflamasi bila obstruksi terus berlanjut.
Inflamasi cenderung menyebar ke dinding usus sekitar, mengakibatkan
timbulnya kepekaan dan spastisitas kolon. Abses dapat terjadi,
menimbullkan peritonitis, sedangkan erosi pembuluh darah (arterial) dapat
menimbulkan perdarahan.Divertikulanya sendiri tidak berbahaya, tetapi
tinja yang terperangkap di dalamnya bukan saja bias menyebabkan
perdarahan, tetapi juga menyebabkan peradangan dan infeksi sehingga
timbul diverticulitis.

(a) (b)
Gambar 7. (a) Diverticulosis yang berkembang menjadi diverticulitis
(dikutip dari kepustakaan no 15)
(b) Divertikel dengan tinja yang terperangkap di dalamnya
(dikutip dari kepustakaan no 16)

III. GEJALA KLINIS


Kebanyakan penderita divertikulosis tidak menunjukkan gejala. Tetapi
beberapa ahli yakin bila bahwa seseorang mengalami nyeri kram, diare, dan
gangguan pencernaan lainnya, yang tidak diketahui penyebabnya, bias
dipastikan penyebabnya adalah divertikulosis. Gejala klinis yang bisa
ditemukan 1,3,9,11,12
- Sebagian besar asimptomatik
- Divertikulosis yang nyeri :
a. Nyeri pada fossa iliaka kiri
b. Konstipasi
c. Diare.
- Divertikulosis akut :
a. Malaise
b. Demam
c. Nyeri dan nyeri tekan pada fossa iliaka kiri dengan atau tanpa teraba massa.
d. Distensi abdomen
- Perforasi : Peritonitis + gambaran diverticulitis
- Obstruksi usus besar :
a. Konstipasi absolute
b. Distensi
c. Nyeri kolik abdomen
d. Muntah
- Fistula : ke kandung kemih, vagina, atau usus halus
- Perdarahan saluran cerna bagian bawah : spontan dan tidak nyeri

IV. DIAGNOSIS
Anamnesis yang cermat sering sudah dapat menentukan diagnosis, harus
ditanyakan tentang perubahan pola defekasi, frekuensi, dan konsistensi
feses.Dalam anamnesis tentang nyeri perut perlu dibedakan antara nyeri
kolik dan nyeri menetap, serta hubungannya dengan makan dan dengan
defekasi. Perlu pula ditanyakan warna tinja, terang atau gelap, bercampur
lender atau darah, dan warna darah segar atau tidak. Juga perlu ditanyakan
apakah terdapat rasa tidak puas setelah defekasi, bagaimana nafsu makan,
adakah penurunan nafsu makan, dan rasa lelah.
Gejalan dan tanda yang sering ditemukan pada kelainan kolon adalah
dyspepsia, hematokezia, anemia, benjolan, dan obstruksi karena radang dan
keganasan. Pada divertikulosis 80% penderita tidak bergejala
(asimptomatik). Keluhan lain yang bias didapat adalah nyeri, obstipasi, dan
diare oleh karena adanya gangguan motilitas dari sigmoid.5
Pada pemeriksaan fisis didapatkan nyeri tekan local ringan dan sigmoid
sering dapat diraba sebagai struktur padat. Tidak ada demam maupun
leukositosis bila tidak ada radang. Bisa teraba tegang pada kuadran kiri
bawah, dapat teraba massa seperti sosis yang tegang pada sigmoid yang
terkena. Pada pemeriksaan fisis dilakukan rectal touché ke dalam rectum
untuk mengetahui adanya nyeri tekan, penyumbatan, maupun darah.
Didapatkan juga keadaan umum tidak terganggu dan tanda sistemik juga
tidak ada.
Pada foto roentgen, barium tampak divertikel dengan spasme local dan
penebalan dinding yang menyebabkan penyempitan lumen.
Gejala Klinis Diverticulosis Gejala Klinis Diverticulitis

Konstipasi Nyeri akut pada kuadran kri


bawah (93-100%)

Nyeri Abdomen : akibat Demam (57-100%)


kontraksi segmental yang
berlebihan dari kolon

Tanda-tanda divertikulosis Nausea, Vomiting


akut : Iregularitas usus dan
interval diare, nyeri dangkal
dan kram pada kuadran kiri
bawah dari abdomen dan
demam ringan

Pada inflamasi local Teraba Massa


diverticula berulang, usus
besar menyempit pada
striktur fibrotic, yang
menimbulkan kram, feses
berukuran kecil-kecil, dan
peningkatan konstipasi.

Perdarahan samar dapat Konstipasi


terjadi, menimbulkan
anemia defisiensi besi

Malaise Diare

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang pada divertikulosis adalah Barium Enema dan
Kolonoskopi. Sensitivitas barium enema sangat tinggi, bahkan polip kecil
saja dapat terdeteksi. Pemeriksaan barium enema dapat menilai kolon
secara keseluruhan terutama jika terdapat suatu patologi di kolon bagian
distal yang menghalangi masuknya kolonoskop retrograde. Sedangkan
manfaat utama kolonoskopi adalah dimungkinkannya pemeriksaan maupun
intervensi kolon secara menyeluruh. Pada saat ditemukan suatu tumor
ataupun polip, dapat dilakukan biopsy juga.
(A) (B)
Gambar 8. (A) Barium Enema with Extensive Sigmoid Diverticulosis.
(B) Colonoscopy view of Diverticula
Dikutip dari kepustakaan no 7.

Barium Enema juga dapat menunjukkan adanya spasme segmental


dan penebalan otot yang mempersempit lumen dan memberikan gambaran
saw-toothed appearance. Namun pemeriksaan barium enema kontraindikasi
dilakukan pada fase akut diverticulitis. Selain itu USG Abdomen memiliki
sensitivitas sekitar 69-89% dan spesifisitas sekitar 75-100% dimana pada
pemeriksaan USG Abdomen dapat ditemukan gambaran penebalan dinding
kolon dan massa kistik. USG Abdomen juga sangat berguna untk
menyingkirkan kelainan pada pelvis dan ginekologi

Gambar 9. Gambaran USG Abdomen pada kasus diverticulitis : Findings reveal


an outpouching arising from the descending kolon, with thickened wall, and a
echogenic halo around it.
Dikutip dari kepustakaan 17
Gambar 10. Hasilpemeriksaan kolonoskoopi pada divertikulosis dan diverticulitis
Dikutip dari kepustakaan no 16

CT-Scan dapat memberikan gambaran yang lebih definitive dengan


evaluasi keadaan usus dan mesenterium yang lebih baik dibandingkan
pemeriksaan lainnya. Pada pemeriksaan CT scan dapat ditemukan
penebalan kolon, streaky mesenteric fat dan tanda abses/phlegmon.Tetapi
CT-Scan tidak memungkinkan untuk melakukan intervensi seperti saat
dilakukannya kolonoskopi.

Gambar 11. Gambar CT Scan yang menunjukkan diverticulitis


Dikutip dari kepustakaan no 16

VI. PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa
a. Nyeri dan Asimptomatik
Diet tinggi serat (buah, sayuran, roti gandum, kulit padi)
Tingkatkan asupan cairan
b. Divertikulitis akut
Antibiotik dan istirahatkan usus
Drainase yang dipandu radiologi untuk abses local
Pada kasus divertikulosis asimptomatik diberikan modifikasi diet
berupa makanan atau suplemen tinggi serat untuk mencegah konstipasi dan
diberikan intake cairan yang cukup. Pemberian tambahan serat sekitar 30-
40 gram/hari atau pemberian laktulosa yang dapat meningkatkan massa
feses (sebagai osmotic laksatif pada divertikulosis simptomatik yaitu
2x15ml/hari.
Pada kasus diverticulitis, usus diistirahatkan dengan menunda
asupan oral, memberikan cairan intravena, dan melakukan pemasangan
NGT bila ada muntah atau distensi abdomen, memperbanyak makan sayur
dan buah-buahan, mengurangi makan daging dan lemak, antispasmodic
seperti propantelin bromide (Pro-Banthine) dan oksifensiklimin (daricon)
dapat diberikan, dan antibiotic spectrum luas diberikan selama 7-10 hari.
2. Pembedahan
Pasien yang memerlukan operasi segera adalah yang menunjukkan
tanda-tanda peritonitis atau obstruksi loop tertutup. Dilakukan dengan cara
reseksi segmen usus yang sakit, biasanya kolon sigmoid, dan pengangkatan
kolon (kolostomi) tepat di sebelah proksimal titik reseksi. Rektum biasanya
ditutup dengan stapler.
Pembedahan elektif kolon sebelah kiri tanpa peritonitis : reseksi
segmen yang terlibat dan sambungkan ujung-ujungnya (anastomosis
primer). Pembedahan darurat kolon sebelah kiri dengan peritonitis difus :
reseksi segmen yang terlibat, tutup usus distal (yaitu rectum bagian atas)
dan keluarkan usus proksimal sebagai ujung kolostomi (prosedur
Hartmann). Pada pembedahan darurat pada kasus divertikulosis dengan
komplikasi seperti abses yang luas, peritonitis, obstruksi komplit, dan
perdarahan berat. Pada kasus ini dilakukan pembedahan 2 kali dimana pada
operasi pertama dilakukan pembersihan cavum peritoneum, reseksi segmen
kolon yang terkena, dan dilakukan kolostomi temporer kemudian beberapa
bulan dilakukan operasi kedua dan pada operasi ini dilakukan
penyambungan kembali kolon (re-anastomosis).

Pembedahan darurat kolon sebelah kiri dengan peritonitis minimal


atau tanpa peritonitis: Reseksi segmen yang terlibat dan sambungkan ujung-
ujungnya (anastomosis primer). Pada kasus divertikulosis raksasa,
dilakukan reseksi divertikula yang dilanjutkan dengan reseksi segmen kolon
yang terlibat Pada beberapa kasus dapat dilakukan reseksi divertikula saja
yang disebut diverticulectomy. Namun tindakan ini tidak dianjurkan karena jika
terdapat suatu massa pada kolon, akan memicu suatu reaksi inflamasi dan
pengangkatan seluruhnya dari sumber inflamasi yang akan menyebabkan
komplikasi adalah hal yang terpenting.

VII. DIFERENSIAL DIAGNOSIS


a. Sindrom Usus Iritatif (Irritable bowel syndrome)18
Merupakan suatu penyakit gastrointestinal fungsional dengan gejala
nyeri perut, distensi abdomen, gangguan pola defekasi tanpa adanya
gangguan organik. Banyak faktor yang menyebabkan sindrom ini antara
lain: gangguan motilitas usus, intoleransi makanan, abnormal itas sensoris,
hipersensitifitas visceral, paska infeksi usus, dan abnormalitas dari interaksi
aksis brain-gut Diagnosis IBS sendiri didasarkan pada konsensus yang
tervaiidasi dan tidak ada pemeriksaan khusus untuk menegakkan diagnosis

dari IBS tersebut Saat ini yang digunkan adalah Kriteria Rome II yang
didasarkan pada adanya keluhan berupa:
 Rasa tidak nyaman atau nyeri yang teiah berlangsung selama 12 minggu
(tidak perlu berurutan) dan telah berlangsung dalam 12 bulan terakhir dan
tidak bisa dijelaskan oleh adanya abnormalitas secara kelainan struktur
maupun biokimiawi.
 Terdapat 2 dari 3 hal berikut:
- Nyeri hilang setelah defekasi
- Perubahan frekuensi dari defekasi (diare atau konstipasi)
- Perubahan bentuk feses.

Kriteria lain yang digunakan untuk diagnosis IBS adalah Kriteria


Manning dimana criteria ini telah dibandingkan dengan algoritma
diagnosis IBS yang lain seperti Kriteria Rome I, Kriteria Rome II dan
Kriteria Kruis. Adapun Kriteria Manning untuk diagnosis IBS antara
lain:

1. Onset nyeri berhubungan dengan perubahan frekuensi BAB


2. Keluhan BAB berlendir berhubungan dengan onset nyeri abdomen
3. Nyeri berkurang setelah BAB
4. Perut kembung (abdominal bloating)
5. Sensasi tidak puas saat BAB lebih dari 25% massa BAB
6. Diare disertai mukus lebih dari 25% pada waktu tersebut

b. Penyakit Inflamasi Usus (Inflamatory Bowel disease)


Merupakan penyakit inflamasi yang melibatkan saluran cerna dengan
penyebab pastinya sampai saat ini belum diketahui. Secara garis besar, IBD
terdiri dari 3 jenis:
- Kolitis ulseratif
- Penyakit Crohn (Crohn's Disease)
- Indeterminate colitis
Gejala klinis yang paling umum adalah: Diare kronis yang disertai
dengan atau tanpa nyeri perut dan hematokezia. Untuk membedakan
dengan divertikulosis, dapat dilakukan pemeriksaan kolonoskopi. Pada
kolonoskopi didapatkan: lesi inflamasi pada kolon (hiperemis, ulserasi, dll),
lesi mudah berdarah, ada keterlibatan rektum, dll.

c. Karsinoma Kolorektal
Karsinoma kolorektal umumnya juga teijadi pada usia di atas 50
tahun. Adapun keluhan yang paling sering adaiah berupa: perubahan pola
BAB, heraatokezia, dan konstipasi. Pada kasus karsinoma kolorektal yang
perkembangannya lamban, keluhan dan tanda-tanda fisik yang timbul
seperti gejala obstruksi. Pada obstruksi parsiaJ awalnya ditandai dengan
nyeri abdomen, namun pada obstruksi total dapat menyebabkan nausea,
vomiting, distensi abdomen, dan obstipasi. Untuk membedakan dengan
divertikulosis, periu dilakukan pemeriksaan kolonoskopi.

VIII. KOMPLIKASI
Berikut komplikasinya yang dapat muncul pada divertikulosis adalah :
 Perdarahan rektum (hematokezia)
Perdarahan merupakan komplikasi yang jarang teijadi, dilaporkan
sekitar 3-5% penderita dengan divertikulosis mengalami perdarahan rektum
Jika sebuah divertikula mengalami perdarahan, maka dapat muncul
hematokezia. Perdarahan bisa bersifat berat, tetapi juga bisa berhenti
dengan sendirinya dan tidak memerlukan penanganan khusus. Perdarahan
terjadi karena sebuah pembuluh darah yang kecil di dalam sebuah
divertikula menjadi lcmah dan akhirnya pecah.
 Abses, Perforasi, dan Peritonitis
Infeksi yang menyebabkan tcrjadinya divertikulitis seringkali
mereda dalam beberapa hari setelah antibiotik diberikan. Divertikulitis
paling umum teijadi pada kolon sigmoid (95%). Hal ini telah diperkirakan
bahwa kira-kira 20% pasien dengan divertikulosis mengalami divertikulitis
pada titik yang sama. Divertikulitis paling umum teijadi pada usia lebih dari
60 tahun. Insidensnya kira- kira 60% pada individu dengan usia lebih dari
80 tahun. Predisposisi kongenital dicurigai bila terdapat gangguan pada
individu yang berusia di bawah 40 tahun.

Patogenesis pasti dari divertikulitis masih belum pasti, diduga akibat


adanya obstruksi dan statis pada pseudodivertikulum yang mengalami
hipertrofi menjadi media yang baik untuk pertumbuhan bakteri dan teijadi
iskemik lokal pada jaringan kolon. Adapun bakteri penyebab divertikulitis
seperti bakteri- bakteri anaerob antara lain: bakteroides,
peptostreptokokkus, klostridium, dan fusobakterium sp., dan beberapa
bakteri aerob gram negatif lainnya seperti E.coli, dan streptokokus.

Stadium Divertikulitis Menurut Hinchey's criteria :


- Stadium 1: Abses perikolika ukuran < 4 cm atau abses mesenterium tanpa
peritonitis
- Stadium 2: Abses perikolika ukuran > 4 cm atau abses mesenterium dengan
keterlibatan organ pelvis.
- Stadium 3: Divertikulitis dengan perforasi akibat ruptur abses
peridivertikular dan menyebabkan peritonitis purulen
- Stadium 4: Ruptur divertikulum tanpa inflamasi, atau ruptur divertikulum
tanpa obstruksi ke dalam cavum peritoneum disertai dengan kontaminasi
feses
Divertikulitis dapat terjadi pada serangan akut atau mungkin
menetap sebagai infeksi yang kontinyu dan lama. Jika infeksi semakin
memburuk, maka akan terbentuk abses di dalam kolon. Abses merupakan
suatu daerah terinfeksi yang berisi nanah (abses perikolika) dan bisa
menyebabkan pembengkakan serta kerusakan jaringan. Kadang divertikula
yang terinfeksi akan membentuk lubang kecil, yang disebut perforasi.
Perforasi ini memungkinkan mengalirnya nanah dari kolon dan masuk ke
dalam cavum peritoneum. Jika absesnya kecil dengan ukuran < 4 cm dan
terbatas di dalam kolon (Hinchey stadium 1), maka dengan terapi konservatif
atau pemberian antibiotik, abses ini akan mereda. Jika setelah pemberian
antibiotik, absesnya menetap, maka perlu dilakukan tindakan drainase yaitu
dengan drainase perkutaneus. Drainase perkutaneus dilakukan pada
divertikulosis stadium 2 yaitu abses perikolika dengan ukuran > 4 cm tanpa
peritonitis. Drainase perkutaneus ditujukan untuk mengurangi nyeri, kontrol
leukositosis, dan perbaikan dapat terlihat setelah beberapa hari post
drainase.
Abses yang besar akan menimbulkan masalah yang serius jika
infeksinya bocor dan mencemari daerah di luar kolon. Infeksi akan
menyebar ke dalam rongga perut sehingga menyebabkan peritonitis.
Peritonitis dapat disebabkan oleh ruptur abses peridivertikular atau berasal
dari ruptur kantung divertikulum. Sekitar 1-2% kasus pasien dengan
divertikulosis dapat menagalami peritonitis. Peritonitis memerlukan
tindakan pembedahan darurat untuk membersihkan cavum abdome dan
membuang bagian kolon yang rusak. Tanpa pembedahan, peritonitis bisa
berakibat fatal.

 Fistula
Fistula merupakan hubungan jaringan yang abnormal di anlara 2
organ atau di antara organ dan kulit Jika pada suatu infeksi jaringan yang
roengalami kerusakan bersinggungan satu sama lain, kadang kedua jaringan
tersebut akan menempel, sehingga terbentuklah fistula. Jika infeksi karena
diverticulitis menyebar keluar kolon, maka jaringan kolon bisa menempel
ke jaringan di dekatnya. Organ yang paling sering terkena adalah kandimg
kemih membentuk fistula kolovesika, kemudian usus halus dan kulit Fistula
yang paling sering terbentuk adalah fistula di antara kandung kemih dan
kolon (fistula kolovesika) dan fistula antara kolon dan vagina (fistula
kolovagina). Fistula kolovesika lebih sering ditemukan pada pria. Fistula ini
menyebabkan infeksi saluran kemih (sistitis) yang berat dan menahun.
Kelainan ini bisa diatasi dengan pembedahan untuk mengangkat fistula dan
bagian kolon yang terkena.
 Obstruksi Usus
Jaringan fibrosis akibat infeksi bisa menyebabkan penyumbatan
kolon parsial maupun total. Jika hal ini teijadi, maka kolon tidak mampu
mendorong isi usus secara normal. Obstruksi dapat juga disebabkan karena
pembentukan abses atau edema, akibat striktur kolon setelah serangan
divertikulitis rekurens. Obstruksi pada usus halus juga umum teijadi
khususnya pada keadaan dimana terbentuk abses peridivertikular yang
berukuran besar. Obstruksi total memerlukan tindakan pembedahan segera.
Obstruksi usus hanya teijadi pada sekitar 2% kasus divertikulosis. Obstruksi
usus biasanya dapat sembuh sendiri dan berespon terhadap terapi
konservatif.

DAFTAR PUSTAKA

Sjamsuhidajat, Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed. Revisi. Jakarta : EGC.
Bickley, Lynn S. 2009. Buku Ajar Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan Best.
Jakarta:EGC.
Gleadle, Jonathan. At a Glance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta : Erlangga.
Price, Sylvia Anderson dan Wilson, Lorraine M. 2005. Patofisiologi Volume 1
Edisi 6. Jakarta : EGC.
R. Gandrasoebrata. 1967. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta: Dian Rakyat.
Syamsuhidayat R, dkk. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.
Swartz, Mark H. 1995. Buku Ajar Diagnostik Fisik. Jakarta : EGC.
Lindeth,GN. 2006. Gangguan Usus Besar dalam Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit Vol. 1 Ed 6. Jakarta : EGC.
Grace P., Borley NR. 2005. At a Glance : ILMU BEDAH Edisi ke3.
Jakarta : EMS.
Akil, H.A.M., Penyakit Divertikular dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1
ed IV. Jakarta : FKUI.
Soekamto S, Suparman, dkk. 2004. Penyakit Divertikular dalam Buku Ajar
Patologi II ed 4. Robbins, S.L. Eds. Jakarta : EGC.