Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Setiap tahun di seluruh dunia, kasus autisme mengalami peningkatan.


Dalam penelitian yang dirangkum Synopsis of Psychiatry awal 1990-an, kasus
autisme masih berkisar pada perbandingan 1 : 2.000. Angka ini meningkat di
tahun 2000 dalam catatan Sutism Research Institute di Amerika Serikat sebanyak
1 dari 150 anak punya kecenderungan menderita autis. Di Inggris, datanya lebih
mengkhawatirkan. Di sana berdasarkan data International Congress on Autism
tahun 2006 tercatat 1 dari 130 anak punya kecenderungan autis.

Di Indonesia sering kali cukup sulit mendapatkan data penderita auitis, ini
karena orangtua anak yang dicurigai mengidap autisme seringkali tidak menyadari
gejala-gejala autisme pada anak. Akibatnya, mereka merujuknya ke pintu lain di
RS. Misalnya ke bagian THT karena menduga anaknya mengalami gangguan
pendengaran dan ke Poli Tumbuh Kembang Anak karena mengira anaknya
mengalami masalah dengan perkembangan fisik. Yang bisa dilacak adalah faktor
yang terkait dengan autisme, misalnya genetis dan biologis. Secara biologis, ada
kemungkinan autisme berkaitan dengan gangguan pencernaan, alergi, gangguan
kandungan, maupun polusi.

Autisme didapatkan pada sekitar 20 per 10.000 penduduk, dan pria lebih
sering dari wanita dengan perbandingan 4:1, namun anak perempuan yang terkena
akan menunjukkan gejala yang lebih berat. Beberapa penyakit sistemik, infeksi
dan neurologis menunjukkan gejala-gejala seperti-austik atau memberi
kecendrungan penderita pada perkembangan gejala austik. Juga ditemukan
peningkatan yang berhubungan dengan kejang

BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi.
Autisme masa kanak-kanak dini adalah penarikan diri dan kehilangan
kontak dengan realitas atau orang lain. Pada bayi tidak terlihat tanda dan gejala.
(Sacharin, R, M, 1996 : 305)
Autisme Infantil adalah Gangguan kualitatif pada komunikasi verbal dan
non verbal, aktifitas imajinatif dan interaksi sosial timbal balik yang terjadi
sebelum usia 30 bulan. (Behrman, 1999: 120)
Autisme menurut Rutter 1970 adalah Gangguan yang melibatkan
kegagalan untuk mengembangkan hubungan antar pribadi (umur 30 bulan),
hambatan dalam pembicaraan, perkembangan bahasa, fenomena ritualistik dan
konvulsif. (Sacharin, R, M, 1996: 305)
Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat
masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau
komunikasi yang normal

2.2 ETIOLOGI
Penyebab autis belum diketahui secara pasti. Beberapa ahli menyebutkan
autis disebabkan karena multifaktorial. Beberapa peneliti mengungkapkan
terdapat gangguan biokimia, ahli lain berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh
gangguan psikiatri/jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autisme disebabkan oleh
karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-
zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan
masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis.

 Penyebab Autisme diantaranya :


1) Genetik (80% untuk kembar monozigot dan 20% untuk kembar dizigot)
terutama pada keluarga anak austik (abnormalitas kognitif dan kemampuan
bicara).
2) Kelainan kromosom (sindrom x yang mudah pecah atau fragil).
3) Neurokimia (katekolamin, serotonin, dopamin belum pasti).
4) Cidera otak, kerentanan utama, aphasia, defisit pengaktif retikulum, keadaan
tidak menguntungkan antara faktor psikogenik dan perkembangan syaraf,
perubahan struktur serebellum, lesi hipokompus otak depan.
5) Penyakit otak organik dengan adanya gangguan komunikasi dan gangguan
sensori serta kejang epilepsi.
6) Lingkungan terutama sikap orang tua, dan kepribadian anak.
7) Gambaran Autisme pada masa perkembangan anak dipengaruhi oleh
Pada masa bayi terdapat kegagalan mengemong atau menghibur anak, anak
tidak berespon saat diangkat dan tampak lemah. Tidak adanya kontak mata,
memberikan kesan jauh atau tidak mengenal. Bayi yang lebih tua
memperlihatkan rasa ingin tahu atau minat pada lingkungan, bermainan
cenderung tanpa imajinasi dan komunikasi pra verbal kemungkinan
terganggu dan tampak berteriak-teriak.
8) Pada masa anak-anak dan remaja, anak yang autis memperlihatkan respon
yang abnormal terhadap suara anak takut pada suara tertentu, dan
tercengggang pada suara lainnya. Bicara dapat terganggu dan dapat
mengalami kebisuan. Mereka yang mampu berbicara memperlihatkan
kelainan ekolialia dan konstruksi telegramatik. Dengan bertumbuhnya anak
pada waktu berbicara cenderung menonjolkan diri dengan kelainan intonasi
dan penentuan waktu. Ditemukan kelainan persepsi visual dan fokus
konsentrasi pada bagian prifer (rincian suatu lukisan secara sebagian bukan
menyeluruh). Tertarik tekstur dan dapat menggunakan secara luas panca
indera penciuman, kecap dan raba ketika mengeksplorais lingkungannya.

Pada usia dini mempunyai pergerakan khusus yang dapt menyita


perhatiannya (berlonjak, memutar, tepuk tangan, menggerakan jari tangan).
Kegiatan ini ritual dan menetap pada keaadan yang menyenangkan atau
stres. Kelainann lain adalh destruktif , marah berlebihan dan akurangnya
istirahat.
Pada masa remaja perilaku tidak sesuai dan tanpa inhibisi, anak
austik dapat menyelidiki kontak seksual pada orang asing

2. 3 MANIFESTASI KLINIS
1. Gangguan dalam komunikasi verbal maupun nonverbal
Meliputi kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau
sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata kata tanpa
menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan.Berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam
waktu singkat. Kata-kata yang tidak dapat dimengerti orang lain (“bahasa
planet”). Tidak mengerti atau tidak menggunakan kata-kata dalam konteks
yang sesuai. Ekolalia (meniru atau membeo), menirukan kata, kalimat atau
lagu tanpa tahu artinya. Bicaranya monoton seperti robot. Bicara tidak
digunakan untuk komunikasi dan imik datar.

2. Gangguan dalam bidang interaksi sosial


Meliputi gangguan menolak atau menghindar untuk bertatap muka.
Tidak menoleh bila dipanggil, sehingga sering diduga tuli. Merasa tidak
senang atau menolak dipeluk. Bila menginginkan sesuatu, menarik tangan
tangan orang yang terdekat dan berharap orang tersebut melakukan sesuatu
untuknya. Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain. Saat bermain bila
didekati malah menjauh. Bila menginginkan sesuatu ia menarik tangan
orang lain dan mengharapkan tangan tersebut melakukan sesuatu
untuknya.

3. Gangguan dalam bermain


Diantaranya adalah bermain sangat monoton dan aneh misalnya
menderetkan sabun menjadi satu deretan yang panjang, memutar bola pada
mainan mobil dan mengamati dengan seksama dalam jangka waktu lama.
Ada kelekatan dengan benda tertentu seperti kertas, gambar, kartu atau
guling, terus dipegang dibawa kemana saja dia pergi. Bila senang satu
mainan tidak mau mainan lainnya. Tidak menyukai boneka, tetapi lebih
menyukai benda yang kurang menarik seperti botol, gelang karet, baterai
atau benda lainnya Tidak spontan, reflek dan tidak dapat berimajinasi
dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat
memulai permainan yang bersifat pura pura. Sering memperhatikan jari-
jarinya sendiri, kipas angin yang berputar atau angin yang bergerak.
Perilaku yang ritualistik sering terjadi sulit mengubah rutinitas sehari hari,
misalnya bila bermain harus melakukan urut-urutan tertentu, bila
bepergian harus melalui rute yang sama.

4. Gangguan perilaku
Dilihat dari gejala sering dianggap sebagai anak yang senang kerapian
harus menempatkan barang tertentu pada tempatnya. Anak dapat terlihat
hiperaktif misalnya bila masuk dalam rumah yang baru pertama kali ia
datang, ia akan membuka semua pintu, berjalan kesana kemari, berlari-lari
tak tentu arah. Mengulang suatu gerakan tertentu (menggerakkan
tangannya seperti burung terbang). Ia juga sering menyakiti diri sendiri
seperti memukul kepala atau membenturkan kepala di dinding. Dapat
menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam), duduk diam
bengong dengan tatap mata kosong. Marah tanpa alasan yang masuk akal.
Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun
orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke
orang lain atau dirinya sendiri. Gangguan kognitif tidur, gangguan makan
dan gangguan perilaku lainnya.

5. Gangguan perasaan dan emosi


Dapat dilihat dari perilaku tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah
tanpa sebab nyata. Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum),
terutama bila tidak mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Sering
mengamuk tak terkendali (temper tantrum)bila keinginannya tidak
didapatkannya, bahkan bisa menjadi agresif dan merusak.. Tidak dapat
berbagi perasaan (empati) dengan anak lain.

6. Gangguan dalam persepsi sensoris


Meliputi perasaan sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan,
penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat. Menggigit,
menjilat atau mencium mainan atau benda apa saja. Bila mendengar suara
keras, menutup telinga. Menangis setiap kali dicuci rambutnya. Meraskan
tidak nyaman bila diberi pakaian tertentu. Tidak menyukai rabaan atau
pelukan, Bila digendong sering merosot atau melepaskan diri dari pelukan.

7. Intelegensi
Dengan uji psikologi konvensional termasuk dalam retardasi secara
fungsional. Kecerdasan sering diukur melalui perkembangan non-verbal,
karena terdapat gangguan bahasa. Didapatkan IQ di bawah 70 dari 70%
penderita, dan dibawah 50 dari 50%. Namun sekitar 5% mempunyai IQ di
atas 100. Anak autis sulit melakukan tugas yang melibatkan pemikiran
simbolis atau empati. Namun ada yang mempunyai kemampuan yang
menonjol di suatu bidang, misalnya matematika atau kemampuan memori.
Sekitar seperlima anak autis berdeteriorasi bidang kognitifnya pada usia
remaja.

 Ciri yang khas pada anak yang austik :


1) Defisit keteraturan verbal
2) Abstraksi, memori rutin dan pertukaran verbal timbal balik
3) Kekurangan teori berfikir (defisit pemahaman yang dirasakan atau
dipikirkan orang lain).
Menurut Baron dan kohen 1994 ciri utama anak autisme adalah:
a) Interaksi sosial dan perkembangan sossial yang abnormal
b) Tidak terjadi perkembangan komunikasi yang normal
c) Minat serta perilakunya terbatas, terpaku, diulang-ulang, tidak fleksibel
dan tidak imajinatif.
Ketiga-tiganya muncul bersama sebelum usia 3 tahun.

 Tanda autis berbeda pada setiap interval umurnya :


1) Pada usia 6 bulan sampai 2 tahun anak tidak mau dipeluk atau menjadi
tegang bila diangkat ,cuek menghadapi orang tuanya, tidak bersemangat
dalam permainan sederhana (ciluk baa atau kiss bye), anak tidak
berupaya menggunakan kat-kata. Orang tua perlu waspada bila anak
tidak tertarik pada boneka atau binatan gmainan untuk bayi, menolak
makanan keras atau tidak mau mengunyah, apabila anak terlihat tertarik
pada kedua tangannya sendiri.

2) Pada usia 2-3 tahun dengan gejala suka mencium atau menjilati benda-
benda, disertai kontak mata yang terbatas, menganggap orang lain
sebagai benda atau alat, menolak untuk dipeluk, menjadi tegang atau
sebaliknya tubuh menjadi lemas, serta relatif cuek menghadapi kedua
orang tuanya.

3) Pada usia 4-5 tahun ditandai dengan keluhan orang tua bahwa anak
merasa sangat terganggu bila terjadi rutin pada kegiatan sehari-hari.
Bila anak akhirnya mau berbicara, tidak jarang bersifat ecolalia
(mengulang-ulang apa yang diucapkan orang lain segera atau setelah
beberapa lama), dan anak tidak jarang menunjukkan nada suara yang
aneh, (biasanya bernada tinggi dan monoton), kontak mata terbatas
(walaupun dapat diperbaiki), tantrum dan agresi berkelanjutan tetapi
bisa juga berkurang, melukai dan merangsang diri sendiri.

2. 4 PATOFIOLOGI
Sel saraf otak (neuron) terdiri atas badan sel dan serabut untuk
mengalirkan impuls listrik (akson) serta serabut untuk menerima impuls
listrik (dendrit). Sel saraf terdapat di lapisan luar otak yang berwarna
kelabu (korteks). Akson dibungkus selaput bernama mielin, terletak di
bagian otak berwarna putih. Sel saraf berhubungan satu sama lain lewat
sinaps.

Sel saraf terbentuk saat usia kandungan tiga sampai tujuh bulan.
Pada trimester ketiga, pembentukan sel saraf berhenti dan dimulai
pembentukan akson, dendrit, dan sinaps yang berlanjut sampai anak
berusia sekitar dua tahun. Setelah anak lahir, terjadi proses pengaturan
pertumbuhan otak berupa bertambah dan berkurangnya struktur akson,
dendrit, dan sinaps. Proses ini dipengaruhi secara genetik melalui sejumlah
zat kimia yang dikenal sebagai brain growth factors dan proses belajar
anak.

Makin banyak sinaps terbentuk, anak makin cerdas. Pembentukan


akson, dendrit, dan sinaps sangat tergantung pada stimulasi dari
lingkungan. Bagian otak yang digunakan dalam belajar menunjukkan
pertambahan akson, dendrit, dan sinaps. Sedangkan bagian otak yang tak
digunakan menunjukkan kematian sel, berkurangnya akson, dendrit, dan
sinaps. Kelainan genetis, keracunan logam berat, dan nutrisi yang tidak
adekuat dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada proses – proses
tersebut. Sehingga akan menyebabkan abnormalitas pertumbuhan sel saraf.

Pada pemeriksaan darah bayi-bayi yang baru lahir, diketahui


pertumbuhan abnormal pada penderita autis dipicu oleh berlebihnya
neurotropin dan neuropeptida otak (brain-derived neurotrophic factor,
neurotrophin-4, vasoactive intestinal peptide, calcitonin-related gene
peptide) yang merupakan zat kimia otak yang bertanggung jawab untuk
mengatur penambahan sel saraf, migrasi, diferensiasi, pertumbuhan, dan
perkembangan jalinan sel saraf. Brain growth factors ini penting bagi
pertumbuhan otak.
Peningkatan neurokimia otak secara abnormal menyebabkan
pertumbuhan abnormal pada daerah tertentu. Pada gangguan autistik
terjadi kondisi growth without guidance, di mana bagian-bagian otak
tumbuh dan mati secara tak beraturan. Pertumbuhan abnormal bagian otak
tertentu menekan pertumbuhan sel saraf lain. Hampir semua peneliti
melaporkan berkurangnya sel Purkinye (sel saraf tempat keluar hasil
pemrosesan indera dan impuls saraf) di otak kecil pada autisme.
Berkurangnya sel Purkinye diduga merangsang pertumbuhan akson, glia
(jaringan penunjang pada sistem saraf pusat), dan mielin sehingga terjadi
pertumbuhan otak secara abnormal atau sebaliknya, pertumbuhan akson
secara abnormal mematikan sel Purkinye. Yang jelas, peningkatan brain
derived neurotrophic factor dan neurotrophin-4 menyebabkan kematian sel
Purkinye.

Gangguan pada sel Purkinye dapat terjadi secara primer atau


sekunder. Bila autisme disebabkan faktor genetik, gangguan sel Purkinye
merupakan gangguan primer yang terjadi sejak awal masa kehamilan.
Degenerasi sekunder terjadi bila sel Purkinye sudah berkembang,
kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan kerusakan sel Purkinye.
Kerusakan terjadi jika dalam masa kehamilan ibu minum alkohol
berlebihan atau obat seperti thalidomide.

Penelitian dengan MRI menunjukkan, otak kecil anak normal


mengalami aktivasi selama melakukan gerakan motorik, belajar sensori-
motor, atensi, proses mengingat, serta kegiatan bahasa. Gangguan pada
otak kecil menyebabkan reaksi atensi lebih lambat, kesulitan memproses
persepsi atau membedakan target, overselektivitas, dan kegagalan
mengeksplorasi lingkungan.

Pembesaran otak secara abnormal juga terjadi pada otak besar


bagian depan yang dikenal sebagai lobus frontalis. Kemper dan Bauman
menemukan berkurangnya ukuran sel neuron di hipokampus (bagian depan
otak besar yang berperan dalam fungsi luhur dan proses memori) dan
amigdala (bagian samping depan otak besar yang berperan dalam proses
memori).
Penelitian pada monyet dengan merusak hipokampus dan amigdala
mengakibatkan bayi monyet berusia dua bulan menunjukkan perilaku
pasif-agresif. Mereka tidak memulai kontak sosial, tetapi tidak
menolaknya. Namun, pada usia enam bulan perilaku berubah. Mereka
menolak pendekatan sosial monyet lain, menarik diri, mulai menunjukkan
gerakan stereotipik dan hiperaktivitas mirip penyandang autisme. Selain
itu, mereka memperlihatkan gangguan kognitif.

Faktor lingkungan yang menentukan perkembangan otak antara


lain kecukupan oksigen, protein, energi, serta zat gizi mikro seperti zat
besi, seng, yodium, hormon tiroid, asam lemak esensial, serta asam folat.

Adapun hal yang merusak atau mengganggu perkembangan otak


antara lain alkohol, keracunan timah hitam, aluminium serta metilmerkuri,
infeksi yang diderita ibu pada masa kehamilan, radiasi, serta ko kain.

2. 5 JENIS- JENIS AUTISME

Autisme dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental


Disorder R-IV merupakan salah satu dari lima jenis gangguan dibawah
lingkup PDD (Perpasive Development Disorder) di luar ADHD (Attention
Deficit Hyperactivity Disorder) dan ADD (Attention Deficit Disorder).

Gangguan perkembangan perpasiv (PDD) adalah istilah yang dipakai


untuk menggambarkan beberapa kelompok gangguan perkembangan di
bawah lingkup PDD, yaitu:
1) Autistic Disorder (Autism) Muncul sebelum usia 3 tahun dan
ditunjukkan adanya hambatan dalam interaksi sosial, komunikasi dan
kemampuan bermain secara imaginatif serta adanya perilaku stereotip
pada minat dan aktivitas.
2) Asperger’s Syndrome Hambatan perkembangan interaksi sosial dan
adanya minat dan aktivitas yang terbatas, secara umum tidak
menunjukkan keterlambatan bahasa dan bicara, serta memiliki tingkat
intelegensia rata-rata hingga di atas rata-rata.
3) Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified (PDD-
NOS) Merujuk pada istilah atypical autism, diagnosa PDD-NOS
berlaku bila seorang anak tidak menunjukkan keseluruhan kriteria pada
diagnosa tertentu (Autisme, Asperger atau Rett Syndrome).
4) Rett’s Syndrome Lebih sering terjadi pada anak perempuan dan jarang
terjadi pada anak laki-laki. Sempat mengalami perkembangan yang
normal kemudian terjadi kemunduran/kehilangan kemampuan yang
dimilikinya; kehilangan kemampuan fungsional tangan yang digantikan
dengan gerakkan-gerakkan tangan yang berulang-ulang pada rentang
usia 1 – 4 tahun.
5) Childhood Disintegrative Disorder (CDD) Menunjukkan perkembangan
yang normal selama 2 tahun pertama usia perkembangan kemudian
tiba-tiba kehilangan kemampuan-kemampuan yang telah dicapai
sebelumnya.

2. 7 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Autisme sebagai spektrum gangguan maka gejala-gejalanya dapat
menjadi bukti dari berbagai kombinasi gangguan perkembangan. Bila tes-
tes secara behavioral maupun komunikasi tidak dapat mendeteksi adanya
autisme, maka beberapa instrumen screening yang saat ini telah
berkembang dapat digunakan untuk mendiagnosa autisme:

 Childhood Autism Rating Scale (CARS): skala peringkat autisme


masa kanak-kanak yang dibuat oleh Eric Schopler di awal tahun 1970
yang didasarkan pada pengamatan perilaku. Alat menggunakan skala
hingga 15; anak dievaluasi berdasarkan hubungannya dengan orang,
penggunaan gerakan tubuh, adaptasi terhadap perubahan, kemampuan
mendengar dan komunikasi verbal.

 The Checklis for Autism in Toddlers (CHAT): berupa daftar


pemeriksaan autisme pada masa balita yang digunakan untuk
mendeteksi anak berumur 18 bulan, dikembangkan oleh Simon Baron
Cohen di awal tahun 1990-an.

 The Autism Screening Questionare: adalah daftar pertanyaan yang


terdiri dari 40 skala item yang digunakan pada anak dia atas usia 4
tahun untuk mengevaluasi kemampuan komunikasi dan sosial mereka.
 The Screening Test for Autism in Two-Years Old: tes screening autisme
bagi anak usia 2 tahun yang dikembangkan oleh Wendy Stone di
Vanderbilt didasarkan pada 3 bidang kemampuan anak, yaitu;
bermain, imitasi motor dan konsentrasi.

2. 8 PENATALAKSANAAN MEDIS.

Umumnya terapi yang diberikan ialah terhadap gejala, edukasi dan


penerangan kepada keluarga, serta penanganan perilaku dan edukasi bagi
anak. Manajemen yang efektif dapat mempengaruhi outcome. Intervensi
farmakologis, yang saat ini dievaluasi, mencakup obat fenfluramine,
lithium, haloperidol dan naltrexone. Terhadap gejala yang menyertai.

Terapi anak dengan autisme membutuhkan identifikasi dini.


Intervensi edukasi yang intensif, lingkungan yang terstruktur, atensi
individual, staf yang terlatih baik, peran serta orang tua dapat
meningkatkan prognosis.

Terapi prilaku sangat penting untuk membantu para anak autis


untuk lebih bisa menyesuaikan diri dalam masyarakat. Bukan saja guru
yang harus mnerapkan terapi prilaku pada saat belajar, namun setiap
anggota keluarga di rumah harus bersikap sama dan konsisten dalam
menghadapi anak autis. Terapi prilaku terdiri dari terapi wicara, terapi
okupasi, dan menghilangkan prilaku yang asosial.

Dalam terapi farmakologi dinyatakan belum ada obat atau terapi


khusus yang menyembuhkan kelainan ini. Medikasi (terapi obat) berguna
terhadap gejala yang menyertai, misalnya haloperidol, risperidone dan
obat anti-psikotik terhadap perilaku agresif, ledakan-ledakan perilaku,
instabilitas mood (suasana hati). Obat antidepresi jenis SSRI dapat
digunakan terhadap ansietas, kecemasan, mengurangi stereotip dan
perilaku perseveratif dan mengurangi ansietas dan fluktuasi mood.
Perilaku mencederai diri sendiri dan mengamuk kadang dapat diatasi
dengan obat naltrexone.
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
PADA ANAK AUTIS

3.1 Pengkajian
a. Riwayat gangguan psikiatri/jiwa pada keluarga.
b. Riwayat keluarga yang terkena autisme.
c. Riwayat kesehatan ketika anak dalam kandungan.
 Sering terpapar zat toksik, seperti timbal.
 Cedera otak
d. Status perkembangan anak.
 Anak kurang merespon orang lain.
 Anak sulit fokus pada objek dan sulit mengenali bagian tubuh.
 Anak mengalami kesulitan dalam belajar.
 Anak sulit menggunakan ekspresi non verbal.
 Keterbatasan Kongnitif.
e. Pemeriksaan fisik
 Tidak ada kontak mata pada anak.
 Anak tertarik pada sentuhan (menyentuh/disentuh).
 Terdapat Ekolalia.
 Tidak ada ekspresi non verbal.
 Sulit fokus pada objek semula bila anak berpaling ke objek lain.
 Anak tertarik pada suara tapi bukan pada makna benda tersebut.
 Peka terhadap bau.

3. 2 Diagnosa, Intervensi, dan Rasional

1. Risiko tinggi cidera : menyakiti diri berhubungan dengan kurang


pengawasan.
Tujuan : Klien tidak menyakiti diriya.
INTERVENSI RASIONAL

1. Alihkan prilaku menyakiti diri 1. Menghindari penyebab yang


yang terjadi akibat respon dari menimbulkan kecemasan .
peningkatan kecemasan.
2. Menghindari penyebab yang
2. Alihkan perhatian dengan menimbulkan kecemasan.
hiburan/aktivitas lain untuk
3. Mencegah terjadinya cidera pada
menurunkan tingkat kecemasan.
anak
4. Memperhatikan lingkungan rumah
3. Lindungi anak ketika prilaku
yang dapat mencederai anak.
menyakiti diri terjadi.

4. Pertahankan lingkungan yang


aman.

2. Kelemahan interaksi sosial berhubungan dengan ketidakmampuan untuk


percaya pada orang lain.
Tujuan : Klien mau memulai interaksi dengan pengasuhnya

INTERVENSI RASIONAL

1. Tunjukan rasa kehangatan/ Memberikan kasih sayang tanpa


keramahan dan penerimaan pada membedakan kecacatan fisik seorang
anak. anak.
Mengajak anak untuk berinteraksi
2. Motivasi anak untuk berhubungan
sosial.
dengan orang lain.
3. Hambatan komunikasi verbal dan non verbal berhubungan dengan ransangan
sensori tidak adekuat, gangguan keterampilan reseptif dan ketidakmampuan
mengungkapkan perasaan.
Tujuan : Klien dapat berkomunikasi dan mengungkapkan perasaan kepada
orang lain.

INTERVENSI RASIONAL

1. Gunakan kalimat sederhana dan 1. Mengajarkan kepada anak cara


lambang/maping sebagai media. berkomunikasi dlm bentuk
lambang atau media.

2. Memberikan anak hadiah sebagai


2. Validasi tingkat pemahaman anak
pembangkit semangat anak dalam
tentang pelajaran yang telah
belajar.
diberikan.
3. Mengukur sebatas mana
3. Berikan reward pada keberhasilan kemampuan anak untuk
anak. menerima pelajaran yang
diberikan.

DAFTAR PUSTAKA

Sacharin, r.m, 1996, Prinsip Keperawatan Pediatrik Edisi 2, EGC, Jakarta


Behrman, Kliegman, Arvin, 1999, Ilmu Kesehatan Anak Nelson Edisi 15, Alih
Bahasa Prof. DR. Dr. A. Samik Wahab, Sp. A (K), EGC, Jakarta
Yupi Supartini, 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta: EGC.
http://kumpulanmaterikeperawatan.blogspot.com/2010/04/askep-autisme.html

ASUHAN KKEPERAWATAN KELUARGA PADA An”I”


DENGAN KASUS AUTISME
TINJAUAN KASUS

I. PENGKAJIAN

a. Indentitas Klien

Nama/Inisia : An”I”
Umur : 6 Th
Pendidikan : TK (Terapi)
Agaama : Islam
Alamat : Sukabangun

b. Data anggota keluarga yang tinggal serumah

Hub.
No Nama Umur Agama Dengan Pendidikan
keluarga

1. Ibu emilia 43 Islam Istri SMA


Th

2. M.Irwansyah 6 Th Islam Anak TK (Terapi)

c. Genogram

Keterangan :
=Perempuan

Laki-Laki ( sakit )

d. Data keluarga yang meninggal


Tidak ada keluarga yang meninggal

II. SETATUS KESEHATAN KELUARGA

N Penyakit yang di
Nama Penderita
o derita

1 An” I” Autis

III. POLA KEBIASAAN KELUARGA SEHAT


1. Pola Makan
Makanan pokok kelurga sehari-hari : Nasi dan Frekuensinya 2x
sehari.Penyajian makanan bervariasi .Menu makaanan terdiri dari : Nasi,
sayur,kadang-kadang Daging dan menu khusus.
2. Pola istirahat & Tidur
Keluarga ibu emilia biasanya tidur siang 1 jam , dan jika malam Anggota
keluarga tidur + 8 jam dan tergantung dengan anak nya.
3. Pola komunikasi keluarga
Dalam menghadapi masalah yang mengambil keputusaan adalah bapak
sebagai kepala keluarga dan dalam pngambilan keputusan selalu di
musyawarahkan dengan anggota keluarga.
4. Pola rekreasi dan hiburan
Rekreasi yang biasa dilakukan oleh keluarga yaitu berenang, jalan-jalan
dan yang lebih sering dilakukan adalah nonton Tv di waktu senggang.
VI. DATA KESEHATAN KELUARGA
a. Perumahan
Keluarga tinggal di rumah sendiri, Semi permanen, Komposisi rumah
terdiri dari ruang tamu, kamar tidur, kamar tidur dan tempat bermain,
kamar mandi, Wc didalam rumah, Luas bangunan + 4x7 meter persegi,
penerangan listrik, Ventilasi rumah cukup, Lantai keramik, Kebersihan &
kerapian baik.
b. Sarana sanitasi lingkungan
Sumber air minum, mencuci, mandi berasal dari PAM , Keadaan air tidak
berwarna (bersih), Penggunaan air minum dimasak terlebih dahulu ,
pembuangan kotoran BAB dan BAK di WC sendiri, Sampah di buang di
kotak sampah.

V. PEMANFAATAN SARANA KESEHATAN


Jika ada anggota keluarga yang sakit diberi obat, Jika tidak sembuh baru
dibawa ke dokter.

VI. FASILITAS YANG DI MILIKI KELUARGA


Keluarga mempuyai kendaraan bermotor, Fasilitas komunikasi yang di miliki
yaitu televise, Hp, radio, dan kelurga tidak berlangganan Koran / tabloid.

VII. POLA PERSONAL HYGIENE


Kebersihan rambut semua anggota keluarga cukup bersih, kebiasaan keluarga
mencuci rambut 2 hari 1x, kebersihan mulut dan gigi bersih, dan menggosok
gigi dilakukan ketika mandi dengan pasta gigi, Kebersihan kulit : cukup
bersih , Mandi 2x sehari menggunakan sabun mandi dan mengganti pakaian
setiap kali setelah mandi . Keadaan kuku cukup bersih .

VIII. DATA SOCIAL DAN SPIRITUAL


Penghasilan keluarga perhari + Rp. 3.000.000/bulan

ANALISA DATA
Masalah
No Data
keperawatan

1  An”I”  Resiko tinggi  Kelemahan


berumur 6 cidera : interaksi
thn.An”I” menyakiti sosial.
kesulitan diri b.d
dalam kurang
komunika pengawasan.
si verbal
dan non
verbal.  Gangguan  Gangguan
rangsangan komunikasi
 An”I”
sensori tidak verbal dan non
kesulitan
adekuat. verbal.
dalam
berinterak
si sosial.

 An”I”
 Kurang
mengalam
pengawasan
i kesulitan
dari orang
dalam
tua.
bermain.
 Resiko tinggi
 Ny.E
cidera :
mengataka
menyakiti diri.
n “Anak
saya
memiliki
gangguan
perilaku,
seperti
sering
menyakiti
dirinya
sendiri.

Penentuan Prioritas

Berdasarkan masalah keperawatan yang ada, penulis menentukan


prioritas masalah dari perbandingan skore yang di per oleh.

1. Dp I : Kelemahan interaksi sosial b.d kurangnya pengetahuan


keluarga mengenai gangguan kesehatan pada anggota keluarga yang
sakit.

No Kriteria Perhitungan skore Pembenaran

An”I”
mengalami
1 Sifat masalah 2/3x1 0,6
kesulitan
interaksi sosial

Masalah dapat di
ubah dengan kita
Kemungkinan memotivasi anak
2 masalah dapat 2/2x2 2 untuk
di ubah berhubungan
dengan orang
lain.

Potensi
Potensi masalah
3 masalah dapat 3/3x1 1
tinggi
di cegah
4 Menonjol nya 0/2x1 0 Masalah tidak
masalah dirasakan.

Jumlah
3,6

2. Dp II : Gangguan komunikasi verbal dan non verbal b.d gangguan


rangsangan sensori tidak adekuat.

No Kritera Perhitungan skore Pembenaran

An”I”
mengalami
kesulitan
1 Sifat masalh 3/3x1 1
komunikasi
verbal dan non
verbal.

Masalah dapat
dicegah hanya
Kemungkinan sebagian dengan
2 masalah dapat 2/2x2 1 mengajarkan
di ubah bicara
menggunakan
tangan .

Potensi Potensi masalah


3 masalah dapat 3/3x1 1 untuk dicegah
di cegah tinggi.

Menonjol nya Masalah perlu


4 2/2x1 1
masalah segera ditangani.
Jumlah 4

3. Dp III : Resiko tinggi cidera : menyakiti diri b.d kurangnya


pengawasan dari orang tua.

No kreteria Perhitungan skor Pembenaran

An”I” sering
1 Sifat masalah 3/3x1 1 menyakiti dirinya
sendiri

Selalu
2 Kemungkinan mengawasi
masalah dapat 2/2x2 2 perilaku anak.
di ubah

Potensi Potensi masalah


3 masalah dapat 3/3x1 1 untuk dicegah
di cegah tinggi.

Menonjol nya
masalah Masalah berat
4 2/2x1 1
harus ditanggani

Jumlah 5

Prioritas masalah

Setelah di laksanakan skala prioritas maka dapat di simpulkan urutan perawatan:

1. Resiko tinggi cidera : menyakiti diri b.d kurangnya pengawasan dari orang
tua.

2. Gangguan komunikasi verbal dan non verbal b.d gangguan rangsangan


sensori yang tidak adekuat
3. Kelemahan interaksi sosial b.d kurangnya pengetahuan keluarga mengenai
gangguan kesehatan pada anggota keluarga yang sakit.
Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga ( Intervensi ) pada anak autis :

Perencanaan

N Masalah Sasaran Tujuan Intervensi Rasionalisasi Kriteria Standar


o keperawatan Evaluasi Evaluasi

1. An “I” Keluarga An “I” tidak Memberikan Mengetahui Respon Keluarga


An “I” menyakiti penyuluhan tentang autis. verbal mampu
 Menyakiti
Diri dirinya lagi. kepada menjelaska
keluarga. n tentang
autis
( definisi,
tanda dan
gejala,
Menghindari
perawatan,
penyebab yang
dan jenis-
menimbulkan
jenis
kecemasan .
autis ).

Menghindari
penyebab yang
Alihkan prilaku
menyakiti diri menimbulkan Ketenangan
yang terjadi kecemasan . anak dalam
Anak
akibat respon sehari-hari.
sudah
dari
tidak
peningkatan
Mencegah menyakiti
kecemasan.
terjadinya dirinya
cidera pada sendiri.
anak
Alihkan
perhatian
dengan
hiburan/aktivita
s lain untuk
menurunkan Mengamati
Memperhatik ketenangan
tingkat
an anak.
kecemasan
lingkungan
Lindungi anak rumah yang
ketika prilaku dapat
menyakiti diri mencederai
terjadi. anak.

Pertahankan Inspeksi
lingkungan terhadap
yang aman. tubuh anak,
terdapat
cidera atau
tidak.

Pengkajian
lingkungan.

2. An “I” Keluarga Anak mau Tunjukan rasa Memberikan Melihat dari Anak
An “I” memulai kehangatan/keramaha kasih sayang kedekatan sudah mau
 Kelemaha
n Interaksi interaksi n dan penerimaan tanpa antara anak berinteraks
Sosial dengan semua pada anak. membedakan dengan i social
orang. kecacatan orang denga
fisik seorang tuanya. semua
anak. orang.
Motivasi anak untuk
berhubungan dengan
orang lain.
Mengajak
anak untuk
berinteraksi
sosial.
Interaksi
anak dengan
kami
sebagai
tamu.

3. An “I” Keluarga Anak dapat Anjurkan kepada orang Mengajarkan Mengajak Anak lebih
An “I” berkomunikas tua atau pengasuh kepada anak anak aktif dalam
 Hambatan
komunika i dan Gunakan kalimat cara berkomunik berkomuni
si verbal mengungkapk sederhana dan berkomunika asi dalam kasi verbal
dan non
verbal. an perasaan lambang/maping si dlm bentuk bentuk dan non
kepada orang sebagai media. lambang atau lambing atau verbal.
lain. media. media.
Berikan reward Memberikan
pada keberhasilan anak hadiah
anak. Melihat
sebagai
hadiah yang
pembangkit
telah
semangat
diberikan
anak dalam
orang tua
belajar.
atas
validasi tingkat
keberhasilan
pemahaman anak anaknya
Mengukur
tentang pelajaran dalam
sebatas mana
yang telah diberikan. belajar.
kemampuan
anak untuk
menerima
Menguji
pelajaran
anak dengan
yang
komunikasi
diberikan.
yang telah
diajarkan.