Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN IMUNOSEROLOGI

PEMERIKSAAN HbsAg dengan METODE ELISA

Oleh :
NI MADE SUKMA WIJA YANTI
P07134017 058

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2018/2019
Hari/Tanggal : Selasa, 14 Mei 2019

Tempat : Laboratorium Imunoserologi Jurusan Analis Kesehatan

I. Tujuan
a. Tujuan Umum
1. Mahasiswa mampu mengetahui prinsip pemeriksaan HIV pada sampel dengan
metode ELISA.
2. Mahasiswa mampu mengetahui cara pemeriksaan HIV dengan metode ELISA.
b. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan HIV dengan metode ELISA.
2. Mahasiswa mampu mengnterpretasikan hasil pemeriksaan HIV dengan metode
ELISA.

II. Metode
Metode yang digunakan yaitu metode ELISA.

III. Prinsip
The Advanced Kit merupakan pemeriksaan hepatitis B antigen berbasis ELISA
double sandwich immunoassay yang mana spesifik pada anti-HbsAg antibodi. Antibodi
monoklonal HbsAg akan terimobilisasi kebagian bawah dari mikrotiter well dan
poliklonal antibodi HbsAgakan berpasangan dengan HRP yag terkonjugasi pada
larutan. Selama pemeriksaan HbsAg pada spesimen akan bereaksi dengan antibodi
pada imun kompleks “antibodi-Hb-Ag-antibodi-HRP”. Setelah tahap pencucian pada
prosedur pemeriksaan substrat akan menginterpretasikan hasil tes. Variasi warna biru
pada mikrotiter akan mengindikasikan hasil reaktif HBsAg dan hasil non-reaktif tidak
terjadinya perubahan warna.

IV. Dasar teori

Hepatitis merupakan istilah umum yang mengacu pada peradangan hati. Penyakit ini dapat
disebabkan oleh berbagai penyebab, baik menular (virus, bakteri, jamur, dan organisme parasit)
maupun tidak menular (alkohol, obat-obatan, penyakit autoimun, dan penyakit metabolik).
Penyakit hepatitis paling sering disebabkan oleh virus. Virus hepatitis adalah sekelompok
penyakit menular yang mempengaruhi ratusan juta orang di seluruh dunia. Lima virus hepatitis
yang berbeda telah diidentifikasi: A, B, C, D dan E. Hepatitis B dan C dapat menyebabkan
hepatitis kronis. Dua ratus empat puluh juta orang diperkirakan terinfeksi hepatitis B kronis,
sementara 184 juta orang memiliki antibodi terhadap hepatitis C (WHO, 2012). Kelima virus
hepatitis memiliki profil epidemiologi yang berbeda dan juga bervariasi dalam hal dampak dan
lamanya masa inkubasi. Rute transmisi tergantung pada jenis virus. Rute transmisi yang
berkontribusi besar terhadap penyebaran hepatitis adalah paparan darah yang terinfeksi melalui
transfusi darah atau pelaksanaan injeksi yang tidak aman, konsumsi makanan dan minuman
yang terkontaminasi, serta penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan.
Pelaksanaan injeksi yang tidak aman, termasuk penggunaan jarum yang tidak steril dan jarum
suntik, berperan sebagai jalur utama untuk penyebaran hepatitis B dan C (Hanafiah, 2013).
Karena sifat hepatitis yang sebagian besar tanpa gejala, kebanyakan orang tidak menyadari
telah terinfeksi. Hepatitis B dan C kronis yang tidak ditangani dapat mengakibatkan sirosis hati
dan kanker hati. Berdasarkan perkiraan Global Burden of Disease, hepatitis B dan C
menyebabkan 1,4 juta kematian pada tahun 2010, termasuk kematian akibat infeksi akut,
kanker hati dan sirosis (Lozano, 2010).

Hepatitis merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang dapat
disebabkan oleh infeksi virus. Telah ditemukan lima kategori virus yang menjadi agen
penyebab, yaitu virus hepatitis A (VHA), virus hepatitis B (VHB), virus hepatitis C (VHC),
virus hepatitis D (VHD), dan virus hepatitis E (VHE). Virus-virus tersebut dapat memberikan
gejala klinik yang serupa. Hepatitis B merupakan salah satu penyakit hepatitis virus yang
paling dikenal. Virus hepatitis B merupakan agen prototipe dari famili Hepadnaviridae (Price
& Wilson, 2005).

V. Alat dan bahan


a. Alat :
- Mikropipet 1-1000µl
- Tip
- Inkubator
- Mikrotiter well plate
- Reader
b. Bahan
- Serum
- Stop solution
- Control A dan control B
- Control positif dan control negatif
- Diluent solution

VI. Cara kerja


1. Siapkan ELISA plate sesuai dengan jenis pemeriksaan.
2. Tambahkan 20 μl Speciment Diluent ke masing-masing sumur.
3. Pipet control negatif, control positif HIV-1 dan HIV-2, dan sampel :
- 100 μl Control Negatif, masukkan ke sumur A1, B1.
- 100 μl Control Positif masukkan ke sumur C1, D1
- 100 μl sampel, masukkan ke sumur E1, dan seterusnya
4. Selanjutnya diinkubasi pada suhu 37ºC selama 60 menit pada Inkubator Instrument.
5. Tambahkan 50 μl Enzyme Conjugate ke dalam setiap sumur yang berisi
sampel/control
6. Diinkubasi pada suhu 37ºC selama 30 menit pada Inkubator Instrument
7. Cuci 5x dengan washer instrument
8. Pastikan tidak ada cairan tersisa pada strip holder & strip (sumur-sumur) setelah
aspirasi cairan yang terakhir. (dapat menggunakan tissue untuk mengeringkannya)
9. Tambahkan 50 μl Color A dan 50 μl Color B ke dalam setiap sumur.
10. Ketuk plate perlahan agar cairan di sumur tercampur sempurna dan tidak ada
gelembung udara
11. Inkubasi pada suhu 37ºC selama 30 menit pada Inkubator Instrument.
12. Tambahkan 50 μl Stop Solution ke dalam setiap sumur dan ketuk plate dengan
perlahan.
13. Baca dengan Reader Instrument pada panjang gelombang 450 dan 620 nm (dual
wavelength).
VII. Hasil pengamatan
1) Probandus 1

Nama : Ni Putu Devi Dana Anggreani

Umur : 20 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Hasil pemeriksaan : Nilai absorbansi = 0.042

2) Probandus 2

Nama : Luh Ayu Anggreni Dewi

Umur : 20 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Hasil Pemeriksaan : Nilai Absorbansi = 0.048

Nilai Kontrol : 0.159 (Tidak memenuhi standar)

0.057 (Memenuhi standar)

NCx = 0.057 Cut off = Ncx . 2.1

= 0.057 . 2.1

= 0.1197

Maka, kedua sampel dinyatakan non-reaktif karena memiliki nilai absorbansi lebih
kecil dibanding nilai cut off.

VIII. Pembahasan

Infeksi hepatitis B sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan dunia. Penyakit ini
adalah penyakit terbesar ke-10 penyebab kematian di dunia. Dua miliar penduduk dunia
diperkirakan pernah terinfeksi virus hepatitis B. Sekitar 350 juta orang diantaranya terinfeksi
VHB secara kronis. Indonesia merupakan negara ketiga Asia dengan penderita hepatitis B
kronis yang paling banyak, yaitu mencapai 5-10% dari total penduduk atau 13,5 juta penderita
(Rosalina, 2012). Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2008,
bahwa prevalensi antigen permukaan hepatitis B (Hepatitis B surface antigen/ HBsAg) di
Indonesia tinggi yaitu sebanyak lebih dari 8% pada data tahun 2006. Sekitar 25 40% penderita
hepatitis B akut diperkirakan sangat beresiko mengalami sirosis dan karsinoma hepatoselular.
Setiap tahun, lebih dari 4 juta kasus infeksi VHB secara akut, dan sekitar 25% diantaranya
setiap tahun meninggal akibat hepatitis kronis aktif, sirosis, atau kanker hati (WHO, 2012).

Hepatitis B merupakan penyakit inflamasi dan nekrosis dari sel-sel hati yang disebabkan
oleh virus hepatitis B. Hepatitis B adalah suatu penyakit radang hati yang disebabkan oleh virus
Hepatitis B, dapat dalam bentuk akut maupun kronik. Bentuk kronik aktif dapat mengakibatkan
terjadinya serosis, kanker hati sampai kematian. Hepatitis B sulit dikenali karena gejala-
gejalanya tidak langsung terasa dan bahkan ada yang sama sekali tidak muncul. Karena itulah,
banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya telah terinfeksi. Virus ini biasanya
berkembang selama 1-5 bulan sejak terjadi pajanan terhadap virus sampai kemunculan gejala
pertama.Virus hepatitis B merupakan jenis virus DNA untai ganda, famili hepadnavirus dengan
ukuran sekitar 42 nm yang terdiri dari 7 nm lapisan luar yang tipis dan 27 nm inti di dalamnya.
Masa inkubasi virus ini antara 30-180 hari rata-rata 70 hari. Virus hepatitis B dapat tetap
infektif ketika disimpan pada 30-32°C selama paling sedikit 6 bulan dan ketika dibekukan pada
suhu -15°C dalam 15 tahun (WHO, 2012).

Virus ini memiliki tiga antigen spesifik, yaitu antigen surface, envelope, dan core. Hepatitis
B surface antigen (HBsAg) merupakan kompleks antigen yang ditemukan pada permukaan
VHB, dahulu disebut dengan Australia (Au) antigen atau hepatitis associated antigen (HAA).
Adanya antigen ini menunjukkan infeksi akut atau karier kronis yaitu lebih dari 6 bulan.
Hepatitis B core antigen (HbcAg) merupakan antigen spesifik yang berhubungan dengan 27
nm inti pada VHB. Antigen ini tidak terdeteksi secara rutin dalam serum penderita infeksi VHB
karena hanya berada di hepatosit. Hepatitis B envelope antigen (HBsAg) merupakan antigen
yang lebih dekat hubungannya dengan nukleokapsid VHB. Antigen ini bersirkulasi sebagai
protein yang larut di serum. Antigen ini timbul bersamaan atau segera setelah HBsAg, dan
hilang bebebrapa minggu sebelum HBsAg hilang. Antigen ini ditemukan pada infeksi akut dan
pada beberapa karier kronis (WHO, 2012).
World Health Organitation (WHO) membagi prevalensi pengidap virus Hepatitis di seluruh
dunia dalam 3 kelompok yaitu prevalensi tinggi (HbsAg positif 8-20%), prevalensi sedang
(HbsAg positif 2-7%), dan prevalensi rendah (HbsAg 0,2-1,5%)Di dunia, virus hepatitis telah
menyerang hingga dua miliar penduduk dan saat ini di perkirakan 400 juta penduduk sedang
terinfeksi oleh Hepatitis B dan sekitar 170 menderita Hepatitis C. Dimana 360 juta orang
diantaranya mengalami infeksi kronis serta 240 juta orang terdapat di Asia, termasuk
Indonesia.Berdasarkan pemeriksaan HBsAg pada kelompok donor darah di Indonesia,
prevalensi hepatitis B berkisar antara 2,5% 36,17%. Di Indonesia infeksi virus hepatitis B
terjadi pada bayi dan anak, diperkirakan 25% - 45% karena infeksi perinatal. Hal ini berarti
bahwa Indonesia merupakan daerah endemis (Siampa, 2012).

Infeksi Hepatitis B merupakan masalah kesehatan utama di dunia. Lebih dari dua milyar
penduduk dunia terinfeksi oleh Virus Hepatitis B (VHB). Diperkirakan 400-450 juta
diantaranya merupakan pengidap hepatitis B yang selanjutnya dapat menderita hepatitis B
kronis, sirosis hati atau kanker hati. 65 juta kematian pada pengidap hepatitis B diakibatkan
oleh sirosis atau karsinoma hepatoselular (Aspinal, 2011; Zubir, 2013; Oakes, 2014).
Prevalensi infeksi hepatitis B kronik bervariasi di beberapa tempat didunia, dan usia orang
terinfeksi juga berbeda. Prevalensi tertinggi, 8-15% terdapat di Asia Tenggara, Afrika,
Kepulauan Pasifik, Amazon Basin. Di Amerika Timur, Utara dan Selatan, infeksi menyerang
lebih dari 60% anak anak kecil. Prevalensi terendah, kurang dari 2%, terdapat pada populasi
Eropa, dimana infeksi VHB ini lebih banyak menginfeksi kelompok dewasa. Indonesia
menempati peringkat ketiga untuk jumlah penderita hepatitis B, setelah China dan India. Ahli
Kesehatan dari Divisi Hepatologi Departemen Penyakit Dalam Universitas Indonesia,
Sulaiman dalam penelitiannya pada tahun 2000 menyebutkan bahwa kurang lebih 13 juta
penduduk Indonesia mengidap HBV. Sampai saat ini belum ada laporan mengenai kejadian
Hepatitis B di Indonesia, yang ada baru pendataan di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dari
berbagai kota besar, seperti penelitian Yulius dan Hanif di RSUP.DR.M.Djamil pada tahun
1973, ternyata infeksi VHB lebih banyak ditemukan pada usia 12-30 tahun dengan kejadian
berbeda antara laki-laki dan perempuan (Hadi, 2012).

Infeksi kronis lebih sering dialami bayi dan anak-anak dibanding orang dewasa. Mereka
yang tertular dengan kronis bisa menyebarkan virus hepatitis B pada orang lain, sekalipun jika
mereka tidak tampak sakit. Hingga 1,4 juta penduduk Amerika mungkin menderita infeksi
Hepatitis B yang kronis. Pada tahun 2009, sekitar 38.000 orang tertular hepatitis B (Mustofa &
Kurniawaty, 2013). Virus hepatitis B mudah tersebar melalui kontak dengan darah atau cairan
tubuh lainnya dari orang yang tertular. Angka infeksi dan karier lebih tinggi pada kelompok
tertutup di mana darah atau cairan tubuh lainnya disuntikkan, ditelan, atau dipajankan ke
membran mukosa. Jadi, anak-anak dalam panti cacat mental, pasien hemodialisis, dan penyalah
guna obat intravena akan memiliki angka karier lebih tinggi (5-20%). Wabah dapat terjadi
dalam kelompok ini serta melalui ahli bedah dan dokter gigi yang terinfeksi. Prevalensi infeksi
VHB secara kronis di dunia terbagi menjadi tiga area, yaitu tinggi (lebih dari 8%), intermediet
(2-8%), dan rendah (kurang dari 2%). Asia Tenggara merupakan salah satu area endemik
infeksi VHB kronis yang tinggi. Sekitar 70-90% dari populasi terinfeksi VHB sebelum usia 40
tahun, dan 8-20% lainnya bersifat karier (WHO, 2012). Indonesia termasuk negara endemik
hepatitis B dengan jumlah yang terjangkit antara 2,5% sampai 36,17% dari total jumlah
penduduk (Hazim, 2010).

Indonesia merupakan negara dengan pengidap hepatitis B nomor 2 terbesar setelah


Myanmar diantara negara-negara anggota WHO SEAR (South East Asian Region).
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2014), studi dan uji saring darah donor
PMI maka diperkirakan 1 di antara 100 orang Indonesia, 10 di antaranya telah terinfeksi
Hepatitis B atau C. Sehingga saat ini diperkirakan terdapat 28 juta penduduk Indonesia yang
terinfeksi Hepatitis B dan C, 14 juta di antaranya berpotensi untk menjadi kronis, dan dari yang
kronis tersebut 1,4 juta orang berpotensi untuk menderita kanker hati (Kemenkes RI, 2014).

Cara penularan VHB pada anak-anak, remaja, dan orang dewasa dapat terjadi melalui
beberapa cara, yaitu kontak dengan darah atau komponen darah dan cairan tubuh yang
terkontaminasi melalui kulit yang terbuka seperti gigitan, sayatan, atau luka memar. Virus
dapat menetap di berbagai permukaan benda yang berkontak dengannya selama kurang lebih
satu minggu, seperti ujung pisau cukur, meja, noda darah, tanpa kehilangan kemampuan
infeksinya. Virus hepatitis B tidak dapat melewati kulit atau barier membran mukosa, dan
sebagian akan hancur ketika melewati barier. Kontak dengan virus terjadi melalui benda-benda
yang bisa dihinggapi oleh darah atau cairan tubuh manusia, misalnya sikat gigi, alat cukur, atau
alat pemantau dan alat perawatan penyakit diabetes. Resiko juga didapatkan pada orang yang
melakukan hubungan seks tanpa pengaman dengan orang yang tertular, berbagi jarum saat
menyuntikkan obat, dan tertusuk jarum bekas (WHO, 2012; Mustofa & Kurniawaty, 2013).

Virus dapat diidentifikasi di dalam sebagian besar cairan tubuh seperti saliva, cairan semen,
ASI, dan cairan rongga serosa merupakan penyebab paling penting misalnya ascites.
Kebanyakan orang yang terinfeksi tampak sehat dan tanpa gejala, namun bisa saja bersifat
infeksius (WHO, 2012). Virus hepatitis B adalah virus yang berukuran besar dan tidak dapat
melewati plasenta sehingga tidak menginfeksi janin kecuali jika telah ada kerusakan atau
kelainan pada barier maternal-fetal seperti pada amniosintesis. Namun wanita hamil yang
terinfeksi VHB tetap dapat menularkan penyakit kepada bayinya saat proses kelahiran. Bila
tidak divaksinasi saat lahir akan banyak bayi yang seumur hidup terinfeksi VHB dan banyak
yang berkembang menjadi kegagalan hati dan kanker hati di masa mendatang (WHO, 2012).

Gejala dan tanda penderita hepatitis B kronis tidak khas, seperti mual, muntah, hilang nafsu
makan, sakit kepala, dan penyakit kuning (Lok et al., 2009). Gejala Hepatitis B sangat mirip
dengan flu, dimana 1 sampai 2 minggu kemudian barulah timbul kuning pada seluruh badan
penderita. Saat ini biasanya penderita sudah pergi berobat karena merasa ada kelainan pada
tubuhnya yang berwarna kuning. Warna kuning ini diikuti oleh perubahan fungsi hati (biasanya
meningkat) pada pemeriksaan laboratorium. Fungsi hati biasanya digambarkan oleh kenaikan
SGOT dan SGPT. Satu sampai lima hari sebelum badan kuning, keluhan kencing seperti teh
pekat dan warna buang air besar yang pucat seperti diliputi lemak juga dirasakan oleh
penderita. Namun, kebanyakan penderita terlihat sehat dan tidak ada gejala penyakit, padahal
dapat bersifat infeksius. Infeksi secara kronis terjadi pada 90% bayi saat kelahiran, 25-50%
pada anak usia 1-5 tahun, dan sekitar 1-5% pada anak usia lebih besar dan dewasa (WHO,
2012). Penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti sirosis hati, gagal hati, dan
kanker hepatoselular dan menyebabkan 500-750 ribu orang bisa meninggal dunia (Rosalina,
2012). Kasus asimptomatik dapat dideteksi dengan pemeriksaan biokimia atau serologi
terhadap spesifik virus. Hal tersebut dapat merupakan silent-carriers dan menyebabkan
penderita tersebut dapat menularkan virusnya ke orang lain. Kebanyakan pasien dewasa
mengalami perbaikan secara tuntas dari infeksi VHB, namun sekitar 5-10% dapat tidak tuntas
dan berkembang menjadi karier asimptomatik atau hepatitis B kronis dan pada akhirnya dapat
menjadi sirosis dan/atau kanker hati (WHO, 2012).
Penanda imunologi Hepatitis B adalah dengan mendeteksi antigen dan antibodi spesifik
virus hepatitis B. Antigen pertama yang muncul adalah antigen surface (HBsAg). Antigen ini
muncul dua minggu sebelum timbul gejala klinik, menandakan bahwa penderita dapat
menularkan VHB ke orang lain, dan biasanya menghilang pada masa konvalesen dini. Apabila
virus aktif bereplikasi di hepatosit, maka penanda yang selanjutnya muncul adalah antigen
envelope (HBeAg). Terdeteksinya antigen ini menandakan bahwa orang tersebut dalam
keadaan sangat infeksius dan selalu ditemukan pada semua infeksi akut. Titer HbeAg
berkorelasi dengan kadar DNA VHB. Antigen lain yaitu antigen core (HBcAg) yang hanya
ada di dalam hepatosit sehingga tidak dapat dideteksi dalam serum. Namun yang bisa dideteksi
yaitu antibodi terhadap antigen tersebut. Antibodi ini dapat terdeteksi segera setelah timbul
gambaran klinis hepatitis dan menetap untuk seterusnya. Antibodi ini merupakan penanda
kekebalan yang paling jelas didapat dari infeksi VHB, bukan dari vaksinasi. Antibodi ini
terbagi menjadi fragmen IgM dan IgG yang merupakan penanda untuk mendeteksi infeksi baru
atau infeksi yang sudah lama. IgM anti-HBc terlihat pada awal infeksi dan bertahan lebih dari
6 bulan. Sedangkan adanya predominansi antibodi IgG anti-HBc menunjukkan kesembuhan
dari infeksi VHB secara alamiah di masa yang sudah lama (6 bulan) atau infeksi VHB kronis.

Antibodi terhadap HBeAg (anti-Hbe) muncul pada hampir semua infeksi VHB dan
berkaitan dengan hilangnya virus-virus yang bereplikasi dan menurunnya daya tular. Antibodi
terhadap HBsAg (anti-HBs) akan terjadi setelah infeksi alamiah atau dapat ditimbulkan oleh
imunisasi. Antibodi ini timbul setelah infeksi membaik dan berguna untuk memberikan
kekebalan jangka panjang. Hepatitis akut memiliki window periode, yaitu saat HBsAg sudah
tidak terdeteksi namun anti-HBs belum terbentuk. Antibodi anti-HBs mulai dihasilkan pada
minggu ke-32, sedangkan HBsAg sudah tidak ditemukan sejak minggu ke-24.

Sumber : (Roche Diagnostic, 2011)


Metode pemeriksaan VHB antara lain adalah Immunochromatography (ICT), Enzym
Linked Imunosorbent Assay (ELISA), Enzym Imunosorbent Assay (EIA) Radio Immunoassay
(RIA), dan Chemiluminescent microparticle Immunoassay (CMIA). Sedangkan untuk
mendeteksi DNA virus dapat digunakan PCR (Lin et al., 2008; Rahman et al, 2009). Metode
EIA dan PCR tergolong mahal dan hanya tersedia pada laboratorium yang memiliki peralatan
lengkap. Metode yang sering digunakan dan direkomendasikan oleh Kemenkes RI (2012)
untuk pemeriksaan Anti-HBs adalah ELISA. Enzym Linked Imunosorbent Assay adalah suatu
teknik biokimia yang digunakan dalam bidang imunologi untuk mendeteksi kehadiran antibody
atau antigen dalam suatu sampel (Rahman et al, 2009). Berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Elise, RIA merupakan metode deteksi HBsAg yang paling sensitif dan paling spesifik
pada tahun 1977. Seiring perkembangan teknologi, dilakukan penelitian dalam mendeteksi
HBsAg menggunkan ELISA yang dibandingkan hasilnya dengan RIA. Didapatkan bahwa
ELISA memiliki peralatan yang lebih murah, tidak menggunakan radioisotop, dan reagennya
stabil dengan sensitifitas yang cukup baik jika dibandingkan dengan RIA (Winata, 2017).

Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA) adalah suatu teknik biokimia yang


digunakan dalam bidang Imunologi untuk mendeteksi kehadiran antibodi atau antigen dalam
suatu sampel (Rahman et al, 2009). ELISA secara khusus memiliki reporter dan substrat yang
menghasilkan beberapa bentuk perubahan warna yang dapat diamati untuk mengetahui
kehadiran antigen (Leng et al, 2009). Kelebihan teknik ELISA adalah cukup sensitive, reagen
mempunyai half life yang lebih panjang dibandingkan reagen RIA, dapat menggunakan
spektofotometer biasa dan mudah dilakukan automatisasi, dan yang paling penting adalah tidak
mengandung bahaya radioaktif (Boedina, 2010). Prinsip dari pemeriksaan ELISA adalah reaksi
antigen-antibodi (Ag-Ab) dimana setelah penambahan konjugat yaitu antigen atau antibodi
yang dilabel enzim da substrat akan terjadi perubahan warna. Saat cahaya dengan panjang
gelombang tertentu disinarkan pada suatu sampel, kompleks antigen atau antibodi akan
berfluoresensi sehingga sejumlah antigen pada sampel dapat disimpulkan berdasarkan
besarnya fluoresensi. Perubahan warna akan diukur intensitasnya dengan alat pembaca yang
disebut spektrofotometer atau ELISA reader dengan menggunakan panjang gelombang
tertentu (Primadharsini dan WIbawa, 2013). Hasil dari proses ELISA terdiri dari di bentuk
yaitu kualitatif dan kuantitatif. Hasil secara kualitatif adalah perubahan warna pada well plate
yang mengindikasikan bahwa terjadi reaksi yang spesifik antara antigen dengan antibodi.
Perubahan warna tersebut dihasilka oleh reaksi antara substrat dengan enzim yang terdapat di
antigen dan antibody. Hasil secara kuantitatif berupa besaran konsentrasi dan nilai absorbansi
pada sampel. Dari penelitian Rini 2015 menunjukkan ELISA memiliki sensitifitas 100%,
spesifisitas 92%.

Pada praktikum imunoserologi tentang pemeriksaan anti-HCV dengan metode ELISA


digunakan 2 probandus, yaitu probandus 1 atas nama Ni Putu Devi Dana Anggreani (20)
dengan jenis kelamin perempuan dan probandus 2 atas nama Luh Ayu Anggreni Dewi (20)
dengan jenis kelamin perempuan. Kedua hasil pemeriksaan probandus tersebut menghasilkan
hasil pemeriksaan non-reaktif. Nilai cut off pada pemeriksaan ini adalah 0.1197. Probandus 1
dinyatakan non-reaktif dengan nilai absorbansi yang memiliki nilai lebih kecil atau kurang dari
nilai cut off, yaitu 0.042 ˂ 0.1197. Sedangkan, probandus kedua yang dinyatakan non-reaktif
juga memiliki nilai absorbansi yang lebih kecil atau kurang dari cut off, yaitu 0.048 ˂ 0.1197.
Oleh karena itu, kedua probandus diatas dinyatakan negatif atau non-reaktif.

IX. Kesimpulan

Pada praktikum imunoserologi tentang pemeriksaan anti-HCV dengan metode ELISA


digunakan 2 probandus, yaitu probandus 1 atas nama Ni Putu Devi Dana Anggreani (20)
dengan jenis kelamin perempuan yang dinyatakan non-reaktif dengan nilai absorbansi 0.042 ˂
0.1197, dan probandus 2 atas nama Luh Ayu Anggreni Dewi (20) dengan jenis kelamin
perempuan yang juga dinyatakan non-reaktif dengan nilai absorbansi 0.048 ˂ 0.1197. Kedua
hasil pemeriksaan probandus tersebut menghasilkan hasil pemeriksaan non-reaktif. Dengan
begitu dapat dinyatakan bahwa kedua sampel probandus diatas tidak memiliki antigen HBS di
dalam tubuhnya.
DAFTAR PUSTAKA

1) Hidayat, Sarah Unic; Aini, K., & Bahari, F. R. I. (2017). EFEKTVITAS METODE
RAPID TES HBsAg DALAM MENDETEKSI PENYAKIT HEPATITIS B. Jakarta:
EGC; 2010.Hidayati, W. “Prevalensi HBsAg dan HbsAb pada mahasiswa Fakultas
Kedokteran Universitas Udayana Pre Klinis Tahun 2009”. Denpasar : Universitas
Udayana; Skripsi. 2010.
2) Kemenkes RI. (2014) . Pusat Data dan Informasi.Jakarta Selatan.Hal.1.
3) Lin YH, Wang Y, Loua A, Day GJ, Qiu Y, Allain JP, et al. 2009. Evaluation of a new
hepatitis B virus surface antigen rapid test with improved sensitivity. J Clin Micobiol.
46(10):3319.
4) Prof. dr. David Handojo Muljono PD, Sp. PD , dkk. Pedoman Pengendalian Hepatitis
Virus: Direktorat Jenderal PP & PL Kementrian Kesehatan RI; 2012.
5) WHO | Hepatitis [Internet]. WHO. [cited 2017 May 24]. Available from:
http://www.who.int/hepatitis/en/
6) Winata, A. (2017). IDENTIFIKASI HASIL Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg )
PADA PERAWAT YANG BEKERJA DI RUANG INFEKSI RUMAH SAKIT
UMUM BAHTERAMAS PROVINSI SULAWESI TENGGARA.
7) World Health Organization (WHO). Prevention and control of viral hepatitis infection:
framework for global action. Geneva. 2012. Diunduh dari :
http://www.who.int/entity/csr/ disease/hepatitis/GHP_Framework_En.pdf?ua= 1.

Anda mungkin juga menyukai