Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN IMUNOSEROLOGI

PEMERIKSAAN Anti-HIV dengan METODE ELISA

Oleh :
NI MADE SUKMA WIJA YANTI
P07134017 058

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
2018/2019
Hari/Tanggal : Selasa, 14 Mei 2019

Tempat : Laboratorium Imunoserologi Jurusan Analis Kesehatan

I. Tujuan
a. Tujuan Umum
1. Mahasiswa mampu mengetahui prinsip pemeriksaan HIV pada sampel dengan
metode ELISA.
2. Mahasiswa mampu mengetahui cara pemeriksaan HIV dengan metode ELISA.
b. Tujuan Khusus
1. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan HIV dengan metode ELISA.
2. Mahasiswa mampu mengnterpretasikan hasil pemeriksaan HIV dengan metode
ELISA.

II. Metode
Metode yang digunakan yaitu metode ELISA.

III. Prinsip
Berdasarkan ELISA double sandwich immunoassay yang menggunakan
berbagai antigen HIV rekombinan, beberapa diimobilisasi didasar sumur mikrotiter dan
beberapa lainnya digabungkan horseradish peroxidase (HRP) sebagai pengenceran
konjugat. Selama pengujian antibodi HIV yang ada dalam sampel akan bereaksi dengan
antigen tersebut untuk membentuk antigen antibodi HRP immuno-complex. Setelah
bahan yang tidak terikat dicuci selama prosedur pengujian, substrat digunakan untuk
menunjukkan hasil tes. Warna ungu yang muncul disumur mikrotiter menunjukan hasil
HIV reaktif dan tidak adanya warna yang muncul menunjukkan non-reaktif dalam
spesimen.

IV. Dasar teori

Kasus HIV / AIDS sudah menyebar di seluruh dunia. Di akhir tahun 2005 tercatat ada
40 juta orang dengan HIV dengan kematian akibat AIDS sekitar 3 juta. Menurut data di Ditjen
PP & PL Kemenkes, jumlah kasus HIV di Indonesia dari Januari s/d Juni 2012 tercatat 9.883
dan kasus AIDS adalah 2.224, sedangkan di Prop. DIY secara kumulatif sejak tahun 1987
sampai dengan 2012 tercatat 1.519 kasus HIV dan 712 kasus AIDS (Anonim 1, 2012).
Tingginya kasus HIV dan mudahnya penyebaran kasus ini, membutuhkan adanya upaya-upaya
pencegahan. Beberapa hal yang telah dilakukan adalah melalui kegiatan surveilans, skrining
darah donor dan penemuan kasus HIV secara aktif. Kegiatan tersebut membutuhkan peran
laboratorium yang besar karena penderita HIV sering sekali dalam kondisi sehat. Dalam hal
ini, parameter yang diperlukan adalah pemeriksaan anti HIV (Anonim 1, 2012).

AIDS adalah suatu keadaan akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh secara bertahap
disebabkan oleh virus yang dikenal sebagai HIV (Human Immunodeficiency Virus) atau lebih
tepat yaitu Human T-Cell Lymphdenopathy Associated Virus (LAV). Human
Immunodeficiency Virus (HIV), termasuk dalam family Retroviridae, merupakan virus yang
menyebabkan Acquired Immunodeficiency Sindrom (AIDS) yang merupakan stadium akhir
pada serangkaian abnormalitas imunologis dan klinis yang yang dikenal sebagai spektrum
infeksi HIV. HIV secara langsung dan tidak langsung akan merusak sel CD4, sehingga
mengakibatkan semakin berkurangnya jumlah sel CD4, dimana sel CD4 merupakan bagian
yang penting dari sistem kekebalan tubuh manusia.Infeksi HIV bisa terjadi bila virus tersebut
atau sel-sel yang terinfeksi virus masuk ke dalam aliran darah. Berdasarkan pemeriksaan
laboratorium, penderita yang telah terinfeksi HIV, akan terinfeksi lebih lanjut dengan bakteri,
virus, atau protozoa yang menyebabkan multiplikasi AIDS virus pada penderita tersebut.
Adapun macam cara pemeriksaan yang dapat digunakan untuk mendeteksi antibodi yang
spesifik terhadap HIV yakni secara kualitatif dan kuantitatif (Harti, Agustin, & Mardiyah,
2014).

V. Alat dan bahan


a. Alat :
- Mikropipet 1-1000µl
- Tip
- Inkubator
- Mikrotiter well plate
- Reader
b. Bahan
- Serum
- Stop solution
- Control A dan control B
- Control positif dan control negatif
- Diluent solution

VI. Cara kerja


1. Siapkan ELISA plate sesuai dengan jenis pemeriksaan.
2. Pipet control negatif, control positif HIV-1 dan HIV-2, dan sampel :
- 50 μl Control Negatif, masukkan ke sumur A1, B1.
- 50 μl Control Positif HIV-1, masukkan ke sumur C1, D1
- 50 μl Control Positif HIV-2, masukkan ke sumur E1, F1
- 50 μl sampel, masukkan ke sumur G1 dan seterusnya
3. Ketuk plate perlahan agar cairan di sumur tercampur sempurna dan tidak ada
gelombang udara dan kemudian tutup dengan kertas seal.
4. Selanjutnya diinkubasi pada suhu 37ºC selama 60 menit pada Inkubator Instrument.
5. Cuci 5x dengan Washer Instrument.
6. Pastikan tidak ada cairan tersisa pada strip holder & strip (sumur-sumur) setelah
aspirasi cairan yang terakhir. (dapat menggunakan tissue untuk mengeringkannya)
7. Tambahkan 100 μl Enzyme Conjugate ke dalam setiap sumur yang berisi
sampel/control dan ketuk plate perlahan.
8. Tutup dengan kertas seal dan inkubasi pada suhu 37ºC selama 30 menit pada
Inkubator Instrument.
9. Cuci 5x dengan Washer Instrument.
10. Tambahkan 50 μl Color A dan 50 μl Color B ke dalam setiap sumur. Tutup dengan
kertas seal.
11. Inkubasi pada suhu 37ºC selama 30 menit pada Inkubator Instrument.
12. Tambahkan 50 μl Stop Solution ke dalam setiap sumur dan ketuk plate dengan
perlahan.
13. Baca dengan Reader Instrument pada panjang gelombang 450 dan 620 nm (dual
wavelength).
VII. Hasil pengamatan
1) Probandus 1

Nama : Ni Putu Devi Dana Anggreani

Umur : 20 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Hasil pemeriksaan : Nilai absorbansi = 0.058

2) Probandus 2

Nama : Luh Ayu Anggreni Dewi

Umur : 20 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Hasil Pemeriksaan : Nilai Absorbansi = 0.056

𝑁𝑐 1 + 𝑁𝑐 2
NCx = Cut off = Ncx . 0.1
2
0.060 +0.051
= = 0.05 . 0.1
2

= 0.05 = 0.15

Maka, kedua sampel dinyatakan non-reaktif karena memiliki nilai absorbansi lebih
kecil dibanding nilai cut off.

VIII. Pembahasan

Epidemi infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immune
Deficiency Syndrome) di Indonesia disadari sebagai masalah kesehatan masyarakat yang
penting dan memberikan dampak multifaktorial. Hal ini timbul dari permasalahan sosial
ekonomi, lingkungan, akulturasi budaya dan pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat.
Indonesia merupakan Negara yang rentan terhadap epidemi HIV / AIDS karena beberapa
faktor risiko ada di Indonesia seperti perilaku seksual berisiko tinggi, kemiskinan, prevalensi
infeksi menular seksual yang tinggi serta arus perpindahan penduduk yang tinggi (Bertozi,
Padian & Wergbeir, 2010). Infeksi HIV dapat ditularkan melalui 3 cara utama yaitu hubungan
seksual, paparan produk darah yang terinfeksi virus HIV dan penularan selama masa perinatal
termasuk pada saat menyusui. Jenis penularan mana yang mudah terjadi pada suatu kelompok
masyarakat sangat dipengaruhi oleh faktor sosial, kultural dan lingkungan yang sangat berbeda
antar beberapa negara. Namun hampir disemua negara, penularan melalui hubungan seksual
merupakan proses penularan yang paling banyak terjadi (WHO, 2009).

HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah virus yang menyerang sistem kekebalan
tubuh manusia dan kemudian menimbulkan AIDS. HIV menyerang salah satu jenis dari sel-sel
darah putih yang bertugasmencegah infeksi. Sel darah putih tersebut termasuk Limfosit yang
disebut ‘sel T-4’ atau ‘sel T-penolong’ (T-helper) atau disebut juga‘sel CD-4’. HIV (Human
Immunodeficiency Virus) disebut juga sebagai Human T-cell Lymphocytic Virus Tipe III (HTL
V-III). Adapun sifat-sifat fisikokimia HTLV-III: Termasuk familia Retroviridae, merupakan
virus protein yang antigenic, sensitif terhadap pemanasan suhu 56 ̊ C selama 30 menit,
mengandung RNA dan mempunyai enzim reverse transcriptase (RNA Dependent DNA
polymerase) untuk membuat copy dari genom RNA, dapat diinactive dengan menggunakan
eter 50%, etanol 25%, formalin 0,1%, paraformaldehid 0,5%, sodium hipochlorite 52,2 ppm,
titron x-100 0,5% dan beta proplolactone 0,1%, relatif resisten terhadap ionisasi dan radiasi
ultra violet. HIV ini sangat lemah dan mudah mati di luar tubuh manusia. Virus ini merusak
salah satu jenis sel darah putih yang dikenal sel T helper dan sel tubuh lainya, antara lain sel
otak, sel usus dan sel paru. Sel T helper merupakan titik pusat sistem pertahanan tubuh
sehingga infeksi HIV, menyebabkan daya tahan tubuh menjadi rusak. Siklus hidup dan
patogenesis HIV yakni pengikatan, terjadi infeksi, pengubahan RNA menjadi DNA, perakitan,
pelepasan protein virus (Harti et al., 2014).

Human Immunodeficiency Virus (HIV), termasuk dalam family Retroviridae, merupakan


virus yang menyebabkan Acquired Immunodeficiency Sindrom (AIDS) yang merupakan
stadium akhir pada serangkaian abnormalitas imunologis dan klinis yang yang dikenal sebagai
spektrum infeksi HIV. HIV secara langsung dan tidak langsung akan merusak sel CD4,
sehingga mengakibatkan semakin berkurangnya jumlah sel CD4, dimana sel CD4 merupakan
bagian yang penting dari sistem kekebalan tubuh manusia. Jika virus HIV membunuh sel CD4
sampai terdapat kurang dari 200 sel permikro liter darah, maka kekebalan seluler akan hilang,
sehingga akan membuat sulit bagi sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi. HIV
ditularkan (menyebar) dari satu orang ke orang lain melalui cairan tubuh tertentu (darah, air
mani, cairan kelamin, dan air susu ibu). Berhubungan seks tanpa kondom atau berbagi jarum
obat dengan orang yang terinfeksi oleh HIV adalah cara yang paling umum untuk menularkan
HIV. Kita tidak bisa mendapatkan HIV dengan berjabat tangan, memeluk, atau berciuman
mulut dengan seseorang yang mengidap HIV. Dan HIV tidak menyebar melalui benda seperti
kursi, toilet, pegangan pintu, piring, atau gelas minum yang digunakan oleh orang dengan HIV.
Seseorang terinfeksi HIV dapat menyebarkan penyakit pada setiap tahap infeksi HIV.
Mendeteksi HIV selama tahap awal infeksi dan memulai pengobatan baik sebelum gejala HIV
berkembang dapat membantu orang dengan HIV tetap sehat. Pengobatan juga dapat
mengurangi risiko penularan HIV.

Gejala-gejala dari infeksi akut HIV tidak spesifik, meliputi kelelahan, ruam kulit, nyeri
kepala, mual dan berkeringat di malam hari. AIDS ditandai dengan supresi yang nyata pada
sitem imun dan perkembangan infeksi oportunistik berat yang sangat bervariasi atau neoplasma
yang tidak umum (terutama sarcoma Kaposi). Gejala yang lebih serius pada orang dewasa
seringkali didahului oleh gejala prodormal (diare dan penurunan berat badan) meliputi
kelelahan, malaise, demam, napas pendek, diare kronis, bercak putih pada lidah (kandidiasis
oral) dan limfadenopati. Gejala-gejala penyakit pada saluran pencernaan , dari esophagus
sampai kolon merupakan penyebab utama kelemahan. Tanpa pengobatan interval antara
infeksi primer oleh HIV dan timbulnya penyakit klinis pertama kali pada orang dewasa
biasanya panjang, rata-rata sekitar 10 tahun.

Tingginya kasus HIV dan mudahnya penyebaran kasus ini, membutuhkan adanya upaya-
upaya pencegahan. Beberapa hal yang telah dilakukan adalah melalui kegiatan surveilans,
skrining darah donor dan penemuan kasus HIV secara aktif. Kegiatan tersebut membutuhkan
peran laboratorium yang besar karena penderita HIV sering sekali dalam kondisi sehat. Dalam
hal ini, parameter yang diperlukan adalah pemeriksaan anti HIV (Anonim , 2012). Pemeriksaan
anti-HIV tidak seperti pemeriksaan laboratorium lainnya. Dampak sosial dan moral terhadap
hasil pemeriksaan ini sangat mempengaruhi kehidupan seseorang. Untuk itu diperlukan suatu
strategi dan persyaratan tertentu apabila akan dilakukan suatu tes HIV pada seseorang. Hal ini
juga dipengaruhi oleh beredarnya bermacam-macam metode pemeriksaan antiHIV dengan
berbagai merk. Dengan penerapan strategi ini diharapkan dapat diperoleh hasil yang benar
benar mencerminkan kondisi individu yang melakukan pemeriksaan, apakah itu positif
maupun negatif (Ratih, 2012). Keberadaan virus HIV dalam tubuh manusia hanya dapat
diketahui melalui pemeriksaan laboratorium pada sampel cairan tubuh seperti darah, plasma
dan lainnya. Individu dengan HIV di dalam tubuhnya tidak menampakkan gejala kecuali
apabila individu tersebut masuk dalam fase AIDS. Ada tidaknya virus HIV berdampak pada
pemberian terapi anti retroviral (ARV). Dalam hal ini pemeriksaan laboratorium memegang
peranan yang sangat penting dalam program pengendalian HIV. (WHO, 2009 ; Cohen, Shaw,
McMichael, Haynes, 2011).

Semua orang yang terinfeksi HIV akan membentuk antibodi terhadap virus ini. Adanya
antibodi ini dapat dideteksi dalam waktu 30 hari dengan metode ELISA. Tetapi sebagian besar
akan terdeteksi dalam waktu 3 bulan. Pada saat antibodi ini belum terbentuk pada seseorang
yang sudah terinfeksi, maka disebut periode jendela. Pada periode ini, penularan sudah bisa
terjadi. Untuk mengetahui ada tidaknya antibodi ini maka dilakuakan pemeriksaan anti HIV.
Selain pemeriksaan anti HIV, parameter lain yang bisa dilakukan adalah pemeriksaan CD4 dan
viral load yang bertujuan untuk pemantauan terapi. Beberapa metode pemeriksaan
laboratorium anti HIV telah dikembangkan. Metode pemeriksaan antiHIV meliputi metode
cepat atau yang dikenal dengan Rapid Diagnostic Test (RDT), metode ELISA dan Metode
Westernblot. Pemeriksaan CD4 dan viral load dapat dilakukan dengan metoda flowcytometer.
(WHO-UNAIDS, 2009).

Saat ini teknik yang umum digunakan untuk deteksi antibody dalam mendiagnosa HIV
adalah Elisa dan Rapid test. Enzym Linked Immunosorbent Assay (ELISA), merupakan uji
penapisan infeksi HIV yaitu suatu tes untuk mendeteksi adanya antibody yang dibentuk oleh
tubuh terhadap virus HIV. Dalam hal ini antigen mula-mula diikat benda padat kemudian
ditambah antibody yang akan dicari. Setelah itu ditambahkan lagi antigen yang bertanda enzim,
seperti peroksidase dan fosfatase. Akhirnya ditambahkan substrat kromogenik yang bila
bereaksi dengan enzim dapat menimbulkan perubahan warna. Perubahan warna yang terjadi
seuai dengan jumlah enzim yang diikat dan sesuai pula dengan kadar antibody yang dicari.
ELISA memiliki sensitifitas yang tinggi, yaitu > 99,5%. Metode ELISA dibagi 2 jenis teknik
yaitu tehnik kompetitif dan non kompetitif.

Teknik non kompetitif ini dibagi menjadi dua yaitu sandwich dan indirek. Metode
kompetitif mempunyai prinsip sampel ditambahkan antigen yang berlabel dan tidak berlabel
dan terjadi kompetisi membentuk kompleks yang terbatas dengan antibody spesifik pada fase
padat. Prinsip dasar dari sandwichassay adalah sampel yang mengandung antigen direaksikan
dengan antibody spesifik pertama yang terikat dengan fase padat. Selanjutnya ditambahkan
antibody spesifik kedua yang berlabel enzim dan ditambahkan substrat dari enzim tersebut.
Antibodi biasanya diproduksi mulai minggu ke 2, atau bahkan setelah minggu ke 12 setelah
tubuh terpapar virus HIV,sehingga kita menganjurkan agar pemeriksaan ELISA dilakukan
setelah setelah minggu ke 12 setelah seseorang dicurigai terpapar ( beresiko) untuk tertular
virus HIV,misalnya aktivitas seksual berisiko tinggi atau tertusuk jarum suntik yang
terkontaminasi. Tes ELISA dapat dilakukan dengan sampel darah vena, air liur, atau urine.

Pada praktikum imunoserologi tentang pemeriksaan anti-HCV dengan metode ELISA


digunakan 2 probandus, yaitu probandus 1 atas nama Ni Putu Devi Dana Anggreani (20)
dengan jenis kelamin perempuan dan probandus 2 atas nama Luh Ayu Anggreni Dewi (20)
dengan jenis kelamin perempuan. Kedua hasil pemeriksaan probandus tersebut menghasilkan
hasil pemeriksaan non-reaktif. Nilai cut off pada pemeriksaan ini adalah 0.15. Probandus 1
dinyatakan non-reaktif dengan nilai absorbansi yang memiliki nilai lebih kecil atau kurang dari
nilai cut off, yaitu 0.058 ˂ 0.15. Sedangkan, probandus kedua yang dinyatakan non-reaktif juga
memiliki nilai absorbansi yang lebih kecil atau kurang dari cut off, yaitu 0.056 ˂ 0.15. Oleh
karena itu, kedua probandus diatas dinyatakan negatif atau non-reaktif.

IX. Kesimpulan

Pada praktikum imunoserologi tentang pemeriksaan anti-HCV dengan metode ELISA


digunakan 2 probandus, yaitu probandus 1 atas nama Ni Putu Devi Dana Anggreani (20)
dengan jenis kelamin perempuan yang dinyatakan non-reaktif dengan nilai absorbansi 0.058 ˂
0.15, dan probandus 2 atas nama Luh Ayu Anggreni Dewi (20) dengan jenis kelamin
perempuan yang juga dinyatakan non-reaktif dengan nilai absorbansi 0.056 ˂ 0.15 Kedua hasil
pemeriksaan probandus tersebut menghasilkan hasil pemeriksaan non-reaktif. Dengan begitu
dapat dinyatakan bahwa kedua sampel probandus diatas tidak memiliki antibodi HIV di dalam
tubuhnya.
DAFTAR PUSTAKA

1) Anonim 1, 2012. Statistik Kasus HIV / AIDS di Indonesia. Available at :


http://spiritia.or.id/Stats/Stat.curr.pdf diakses tanggal 17 April 2019.
2) Anonim 2., 2012. Pelatihan Pemeriksaan Terkait HIV bagi Petugas Laboratorium.
Dirjen P2PL. Kemenkes R.I.
3) Cohen, M.S., Shaw,G.M., McMichael, A.J., Haynes,B.F., 2011. Acute HIV-1
Infection. Review Article, NEJM , 364 (20)
4) Harti, A. S., Agustin, A., & Mardiyah, S. (2014). PEMERIKSAAN HIV 1 DAN 2
METODE IMUNOKROMATOGRAFI RAPID TEST SEBAGAI SCREENING
TEST DETEKSI AIDS.
5) Ratih, W. U. M. I. (2012). STRATEGI PEMERIKSAAN LABORATORIUM
ANTIHIV WORO UMI RATIH Balai Laboratorium Kesehatan Yogyakarta, 9(2), 98–
103.
6) WHO, 2009. Guidelines for HIV Diagnosis and Monitoring of Antirtroviral Therapy.
WHO Regional Office of South –East Asia.
7) WHO-UNAIDS, 2009. Guidelines for Using HIV Testing Technologies in
Surveillabce; Selection, Evaluation and Implementation. Avalaible at :
//http:www.who.int/hiv/pub/surveillance/hiv_testing. Diakses tgl 19 Mei 2019

Anda mungkin juga menyukai